Rabu, 06 Agustus 2014
‘The Parrot’: Gereja yang Tersembunyi di Kalverstraat
Rabu, 06 Agustus 2014 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti

utrip.com
Sebelumnya :
***
Terjepit
di antara puluhan toko di tengah-tengah Amsterdam Kalverstraat, area
pedestrian pertokoan sibuk, kita akan menemukan fasad bangunan gaya
Neo-Gothic dari Gereja Katolik Petrus dan Paulus, yang selanjutnya
lebih dikenal sebagai Gereja “burung beo” ( The Papegaai ).
Ini yang aku katakan di artikel sebelumnya ….. Ternyata, di area
pedestrian perbelanjaan Kalverstraat ini mampunyai beberapa komunitas
yang tidak terpikirkan sebelumnya. Salah satunya adalah “burung beo”
atau papegaai atau dalam bahasa Inggris adalah The Parrot.
Mengapa Gereja The Parrot ini sedikit ‘aneh’ dan mengapa juga Gereja ini benar2 tersembunyi?
Ya,
diantara toko2 mahal dan modern, Gereja ini tersembul. Jika kita tidak
memperhatikannya, kita tidak akan ‘melihatnya’. Secara tampak depan,
bangunan tua Neo-Gothic hampir sama dengan bangunan2 klasik Amsterdam di
sekitarnya. Warna bangunan yang kusam klasik, membuat mata kita ‘kabur’
untuk mengenalinya.


Bayangkan, Kalverstraat yang ramai denga toko2 modern dan mewah, tersembul sebuah Gereja ….. bagaimana tidak dikatakan ‘tersembunyi?’

Aku dan Dennis di depan ‘The Parrot’
Aku katakan ‘aneh’ karena Gereja The Parrot secara tampak depan, hanya sekitar 5 meter lebar, selebar ruko, dengan tinggi bangunan seperti bangunan2 di kanan kirinya. Tetapi ketika Arie mengajak kami masuk ke dalam The Parrot, ternyata besar Gereja itu sangat luas! Sangat besar, kelihatnya sebesar Gereja Kathedral Jakarta! Sangat menakjubkan!
Sebuah Gereja yang sepertinya sangat kecil di deretan toko2 di
Kalverstraat, ternyata Gereja itu merupakan ‘jalur dan jalan
tersembunyi’ untuk bisa mencari Tuhan …..
Mengapa tersembunyi?
Sejarahnya memang sangat panjang. Arie menceritakan secara detail, tetapi aku tidak terlalu mengerti karena berhubungan dengan tahun2 serta bahasa Inggris yang cukup sulit, berhubungan dengan sejarah. Tetapi ada sebagian yang aku catat di otakku tentang “tersembunyi” nya sebuah Gereja cantik!
*Eh,
Arie memintakan buku tentang sejarahnya khusus untukku, dan tidak di
jual di toko2 buku lho.. Cukup tebal, dan aku akan membacanya secara
detail untuk mencari tahu apa yang aku ingin ketahui Ternyata, Arie kenal baik dengan Pastornya …..

Buku ‘The Parrot’, kenang2an dan hadiah dari Arie, yang dimintakan oleh Pastor disana …..
The Parrot bukan satu2nya Gereja “tersembunyi” di Eropa. Selain di Holland ( bukan hanya di Amsterdam lho! ), ada beberapa Gereja “tersembunyi” di Perancis. “The Hidden Church”, namanya yang lebih di kenal di dunia.
Seperti kita tahu, Gereja Roma Katolik dahulu cukup mengundang
kontroversi di dunia, dengan banyak hal. Bukan agamanya, tetapi orang2
didalamnya yang membuat kontroversi. Sehingga, orang2 yang awalnya
beragama Roma Katolik, berbelok menjadi beberapa aliran2 Kristen baru.
Dan ketika Gereja Roma Katolik mulai dilarang untuk beribadah, mereka
membangun Gereja2 kecil yang benar2 tersembunyi! Jika mereka ingin
beribadah, dengan takut2 mereka akan masuk ke Gereja mereka, yang
biasanya “disembunyikan” diantara bangunan2 yang tidak terpikirkan, ada
Gereja Roma Katolik di lingkungannya …..

Bagian belakang The Parrot, tampak seperti sebuah rumah biasa, tidak terdapat detail Gereja
Sampai
sekarang “The Hidden Church”, termasuk The Parrot, tetap mempertahankan
budaya “tersembunyi” nya dan justru sekarang merupakan salah satu
keunikan Holland, khususnya Amsterdam ……
Dibangun sekitar 1700, itu adalah Gereja Roma Katolik, dan sebagai tempat rahasia untuk ibadah selama jaman Reformasi.
Di pintu The Parrot - Petrus dan Gereja Paulus, sebenarnya cukup
mengundang orang lewat untuk mengabdikan beberapa menit untuk “melihat”
Tuhan, dengan sebentar masuk dan berdoa pada NYA.
Menurut Arie, siapapun, terlepas dari keyakinan agama mereka, dipersilahkan untuk masuk ke dalam untuk beberapa refleksi tenang dan meditasi.
Ketika
kami masuk kesana, suasana ‘magis’ sebuah Gereja besar, tua dan klasik
membuat tubuhku sedikit meremang! Betapa tidak! Suasana dan interiornya
sangat klasik, gelap dengan sedikit lampu2 berpijar kuning dan sebagian
besar cahayanya adalah dari lilin2 kecil yang berpijar.
Di beberapa titik di The Parrot memang untuk berdoa di depan Bunda
Maria dan Yesus. Dan banyak sekali lilin2 berpijar, itulah yang membuat
Gereja ini terang dengan suasana klasik yang sedikit ‘mendirikan’ bulu
roma ……
Di kursi2 nya, beberapa orang dari banyak warga negara, hanya duduk,
bersemedi dan berdoa. Di titik yang lain, ada sekelompok orang2 yang
bernyanyi2 ala Gregorian. Syahdu. Elegan. Dan sangat ‘klasik!’
Orang2 yang berdoa di kursi2 tengah, sangat terlihat dari beberapa
warga negara. Mungkin mereka termasuk turis asing. Bebetapa dari mereka
berbicara pelan. Tetapi karena Gereja ini sepi dan besar, gaungnya
sampai ke telingaku.
Ada yang berbahasa Inggris, Belanda, Perancir, Jerman serta Spanyol dan
beberapa bahasa yang aku tidak bisa mendeteksinya, bahasa dari negara
mana? Mereka terlihat khusyuk. Diam. Dan tanganku semakin meremang!
Teringat di film2 klasik, tentang kehidupan pada jaman Gereja2 cantik
ini mulai berkembang …..
Mengapa dinamai ‘The Parrot?’
Gereja ini di dedikasikan untuk Santo Petrus dan Paulus. Dijuluki sebagai “De Papegaai” atau burung beo ( The Parrot ) karena awalnya tersembunyi di sebuah taman di belakang pelataran reguler milik pedagang burung.


Façade
depan, terdapat patung Santo Petrus dengan burung beonya Memang tidak
tampak sama sekali detail khas Gereja jaman Neo-Gothic. Hanya patung
Santo Petrus saja, yang mungkin orang akan berpikir tentang sebuah
Gereja kecil, jika pun mereka sempat berpikir ( karena Gereja ini berada
dalam himpitan toko2 modern Kalverstraat ) ……
Seperti
yang aku tuliskan di artikelku sebelumnya, Kalverstraat dahulu kala
bukan berjualan barang2 fashion seperti sekarang. Mereka dulu berjualan
barang2 kebutuhan hidup. Seperti sayur mayur, daging, keju bahkan
burung. Dan ketika agama Roma Katolik sedang “disembunyikan”,
Gereja ini
menjadi tempat berteduh umat Roma Katolik yang tidak ‘ikut2an’. Dan The
Parrot sudah diabadikan sebagai Gereja yang dibangun di pelataran
seorang pedagang burung, dan 2 ekor burung beo bertengger di façade (
tampak depan ) Gereja ini …..
Tetapi ternyata juga, The Parrot menjadi ‘kata sandi’ atau password
untuk orang2 yang ingin mencari Tuhannya, untuk melewati banyak
permasalahan di luar sana, pada waktu itu.
***
Menurut Arie, misa di The Parrot dibawakan oleh Pastor local, teman baik
dari Arie, dengan bahasa Latin. Nyanyian2nya pun sangat klasik. Musik2
Gregorian akan selalu membahana di setiap sudut Gereja ini.
Oya, Gereja ini sepertinya kedap suara. Sama sekali tidak terdengar
keluar, suara2 Misa : nyanyian atau kotbah. Tetapi ketika kami masuk ke
dalamnya, suara nyanyian membahana mendirikan bulu roma. Pintu masuknya
kecil dan double.
Fungsinya ada beberapa :
1. 1. Menghadang hawa dingin menusuk di musim gugur, apalagi di musim dingin.
2. 2. Menangkap
suara dari dalam Gereja dan dari jalan ramai, sehingga ketika kita
berada di ‘foyer’ antara pintu itu, kita tetap tidak mebdengar apa2, dab
hawa dingin dari luar mulai ‘meleleh’ sebelum masuk ke ruang ibadah
utama.
Meskipun
interior tidak semegah gereja-gereja Katolik lainnya di wilayah itu (
menurutku sih sudah cukup ‘wah’, bahkan semegah Gereja Karhedral Jakarta
), The Parrot mampu menyedot banyak hal :
1. 1. Kepedulian tentang sejarah bangsa.
2. 2. Kepedulian tentang bangunan2 cantik bersejarah, sebagai ‘kota tua’.
3. 3. Kepedulian
tentang perwatan dan tata kota klasik, yang bisa menjadikan kotanya
lebih bersahaja ( jangan maunya membangun bangunan2 super modern dan
mengalahkan atau menghancurkan bangunan2 cantik bersejarah ).
The
Parrot menurutku adalah sebuah simbol ‘kepedulian’ negeri ini. Sebuah
negara maju tetapi tetap berusaha untuk menjadikan negara tersebut
sebagai ‘incaran’ dunia, salah satunya di bidang pariwisata serta
sejarah dunia …..
Sekali lagi, terima kasih Arie, yang sudah menunjukan banyak hal yang tidak akan aku perkirakan sebelumnya …..
The Parrot
Kalverstraat 58
1012 PG AMSTERDAM
020 623 1889


Tentang Saya:

Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Responses to “‘The Parrot’: Gereja yang Tersembunyi di Kalverstraat”
Posting Komentar