Artikel Terakhir
Home » Posts filed under Medis
Tampilkan postingan dengan label Medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medis. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Agustus 2014
Sabtu, 02 Agustus 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

ergonomicsmadeeasy.com
Terima kasih atas doanya dalam tulisan Ketegaran Tiada Akhir Seorang Christie Damayanti oleh mba Aulia Gurdi ……
Sungguh, aku sangat terharu, ketika seorang temanku bbm aku untuk memberitahukan bahwa ada seorang teman yang menulis tentang aku. Tersentak aku mencoba membuka Facebook aku, tetapi siang ini internet sangat lelet, sehingga aku benar2 tidak bisa membuka internet, apalagi membaca tulisan itu …..
Hari ini, Rabu 1 Agustus 2012, aku mulai masuk kantor lagi, setelah sekitar 10 hari aku dirawat. Selama 3 hari di rawat di rumah sakit, dan sisanya harus beristirahat di rumah. Dalam tulisanku tentang ….., diagnosaku memang merupakan serangan stroke berulang. Dan hasilnya, selain memang kemungkinan stroke berulang, ternyata ditemukan sebuah syaraf di pergelangan tangan kiriku yang ternyata ini yang membuat jari2 tangan kiriku sering kesemutan bahkan kebas / kebal.
Menurut referensi dari terapistku, pak Seman, syaraf di pergelanganku ( Nevus Medianus ) tertekan dalam sebuah ‘terowongan’ ( Carpale Tunnel ), sehingga syaraf yang memang berhubungan dengan jari2 tangan, tidak bisa mencapai jari2 tangan tersebut, sehingga terjadi kesemutan, bahkan kebas. Biasanya, terjadi karena trauma ( kecelakaan, jatuh atau tertekuk berat ) atau juga karena ‘aus’ dan terlalu banyak dipakai, pada pergelangan tangan kiriku.
Aku tersentak. Pikiranku menerawang. Sangat benar sekali, setelah aku stroke 2,5 tahun lalu, aku hanya memakai tangan kiriku untuk melakukan segala hal dalam hidupku. SEGALANYA! Jadi jika pergelangan tangan kiriku ternyata ‘aus’ karena kegiatanku, adalah sangat masuk akal! Dan ternyata juga, Nevus Medianus-ku juga berhubungan dengan beberapa syaraf yang berhubungan dengan genetik.
Aku di diagnosis detail tentang jari2 tangan kiriku yang selalu kesemutan serta kebas sebagai ‘Carpale Tunnel Syndrome’ …… astagaaaaa ….. apa pula itu? Ada apa lagi dengan tubuhku?
Setelah dari rumah sakit dengan papaku, kemarin seperti biasa aku langsung berkomunikasi dengan Valen. Aku butih kekuatan. Aku butuh dukungan, walau aku tahu, papaku sangat mendukungku. Aku sms dan Valen langsung tahu, bahwa aku sedang gundah …..

Tangan kiriku di bebat dengan sebuah ‘wrap wrist’ yang mempunyai besi di dalamnya sehingga pergelangan tangan kiriku tidak bergerak. Yang ada, hanya jari2ku saja yang bisa digerakkan …..
Sahabat,
Apakah bisa dibayangkan, ketika tangan kanan kita yang sedang tidak bisa dipakai untuk berkegiatan karena sakit, dan tangan kiri kita justru juga diserang penyakit dengan nama yang mengerikan? Bagaimana jadinya, ketika kedua tangan kita tidak bisa digunakan sama sekali?
Itu aku, sahabat! Itu aku, seorang insan pasca stroke dengan kelumpuhan tubuh kesebelah kanan, dan sekarang terserang penyakit yang mengerikan ( untukku ) dan tangan kiriku juga tidak bisa ( sulit berkegiatan ) melakukan apapun ( paling tidak sering sulit berkeiatan karena sering kesemutan dan bahkan kebas ) ……
Galau ….. aku manusia biasa, sahabat …… aku bukan malaikat ….. aku bukan Yesus dan aku hanya seorang insan pasca stroke ……
Aku tetap percaya dan yakin bahkan ini adalah yang terbaik untukku, sahabat. Tuhan sangat sayang padaku. Aku tahu itu ….. Dan justru cinta NYA kepadaku, DIA ingin aku terus bergumul dengan keinginanku untukmengikut NYA ….. aku tidak tahu ….. aku tidak mengerti ….. dan yang jelas, aku tidak ingin mempertanyakan, mengapa ini terjadi padaku ……
Aku duduk di depan dalam mobil. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang melihat, bahwa mataku beraca2 … tidak juga papaku yang duduk di belakang ….. hatiku hancur, walau aku tetap tersenyum ketika papaku mengajak aku mengobrol, seperti biasanya. Kegalauanku memang tidak aku tunjukkan, karena jika demiian, aku pasti menjadi depresi, dan hasilnya akan lebih tidak baik untukku …..
Sepanjang perlajanan dari rumah sakitku menuju pulang ke rumahku, kegalauanku sedikit terobati dengan sms2 dari Valentino. Dia sangat menghiburku setelah dia mengirim berita tentang Carpale Tunnel Syndrom lewat sms. Dikatakan bahwa :
“Carpale Tunnel Syndrome ( CTS ) adalah penyakit dipergelangan tangan karena penggunaan berulang. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti tetapi dapat dianggap sebagai syaraf yang tertekan oleh ‘Carpal Tunnel’.
Umumnya diturunkan secara genetis.
Bahwa gejalanya adalah kaku atau kesemutan, bahkan kebas di jari2 tangan. Bila tidak ditangani CTS dapat menyebabkan kerusakan syaraf”.

allstop.com
Gejala2 itu memang benar adanya. Dan sedikit pemeriksaan pribadi, memang di pergelangan tangan kiriku sangat sakit jika tertekan, dan jika tertekan jari2 tangan kiriku akan langsung terasa kesemutan. Jadi, sedikit terapi dilakukan oleh terapistku, dengan membebat tangankiriku, sehingga pergelangan tangan kiriku tidak bisa bergerak ….. sebuah bebat import dengan besi panjang, membebatku dari telapak tangan sampai sekitar 25 cm dibawah pergelangan tangan kiriku …..
Sahabat,
Apaah bisa dibayangkan? Bahwa tangan kanaku tidak bisa untuk berkegiatan sama sekali, dan tangan kiriku dibebat de ngan besi dan hanya jari2ku saja yang bisa digerakkan? Untuk sanitariku pun bebat nya harus di buka dulu, dan setelahnya di pasang lagi. Ber bbm, pun aku tiak bisa kerka aku tidak bisa ( sulit ) memegang bb. Jadi jika aku sms / bbm, bb ku diletakkan di atas bidang datar, lalu aku mencoba menekan apa yang aku inginkan. Tidak mudah. Sering bb tergeser bahkan berbalik arah, sehingga sangat lama untuk ber-sms atau bbm dengan teman2ku, termasuk Valentino …..
Seharian setelah tangan kiriku di bebat, aku berusaha berlatih mengetik lagi, seperti ketika aku berlatih menulis dan mengetik memakai tangan kiri. Cukup sulit, tetapi aku berusaha untuk tidak terpuruk. Menurutku, jika keadaanku memang demikian, mau diapakan? Toh Tuhan sudah mengijinkan aku untuk menjalankan itu, jadi buat apa aku terpuruk? Buat apa aku bersedih? Seperti ketika aku terserang stroke 2,5 tahun lalu, buat apa aku menangis dan depresi? Tuhan tidak mau itu, Tuhan mau aku tetap tegar dan Tuhan mau aku terus bersabar dan tetap memegang janji Tuhan bahwa masa depanku akan sangat luar biasa ……
Sahabat,
Ijinkan aku untuk memohon doa untuk keadaanku. Ijinkan aku untuk memohon dukungan untuk keadaanku. Bolehkah???
Terima kasih Tuhan Yesusku, yang sudah mengijinkan aku mengalami masalah2 berat seperti ini, karena aku yakin bahwa jika aku bersabar dan tetap mengandalkan MU, aku akan terselamatkan dan jiwaku akan aman di tangan Tuhan …..
Terima kasih, sahabat ….. doa kalian akan terus mendukungku untuk terus bisa menjalankan hidupku dalam keterbatasanku ……
Salamku dan Tuhan memberkati kita semua …..


Rabu, 30 April 2014
Rabu, 30 April 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
www.facebook.com
Ketika air liur menetes, sebenarnya
bukan untuk kita, orang dewasa dan sopan di hadapan orang lain. Waktu
kita kecil, air liur kita sering menetes karena mereka belum bisa
mengendalikannya. Atau karena mereka makan tanpa terkendali, atau juga
karena makan sambil berbicara, sering kali air liur kita menetes, tanpa
kita sadari.
Mungkin karena tidur dan mulut kita terbuka, sering kali juga air liur kita menetes dan kita tersentak bangun …..
Itu sebagian besar, mengapa air liur
kita menetes, dengan atau tanpa kita sadari, sehingga ketika kita tahu
bahwa banyak hal menjadi batas kesopanan, misalnya tentang air liur yang
menetes, kita akan berusaha untuk mengendalikannya.
Orang2 dewasa yang tahu sopan santun,
akan mengendalikan batas2 kesopanan yang ada di masyarakat. Pengendalian
itu termasuk dalam bermasyarakat, karena jika tidak mereka akan men-cap
‘kita tidak sopan’. Tetapi ternyata tidak untukku!
Aku tidak tahu, bagaimana sahabat2 insan
pasca stroke ( IPS ) yang lain. Ketika aku mengalami stroke berat 4
tahun 5 bulan yang lalu dan mendapatkan aku lumpuh separuh tubuh
kananku, pada kenyataannya kelumpuhan tubuh kananku itu termasuk fungsi2
jaringan mulutku sampai jika aku menelanpun, kerongkongan dan
tenggorokanku pun mengalami kelumpuhan.
Mulutku, misalnya. Mungkin orang melihat
aku normal2 saja. Seperti orang1 yang sehat, walau mereka juga tahu
bahwa aku adalaj IPS. Ya, semua orang baru sadar kalau aku IPS jika aku
berjalan, dengan tubuh kananku yang harus berusaha untuk berjalan dan
menggandeng seseorang.
Lidahku, gigiku atau bibirku mampu untuk
menjalankan fungsinya. Tapi tahukah, bahwa separuh dari bagian2 mulutku
ini separuhnya juga tidak berasa / kebas?
Jika aku mengunyah, aku sebenarnya bisa
mengunyah di semua bagian mulutku. Tetapi khusus di sebelah kanan, aku
mengunyah dengan gigi2ku sebenarnya hampir tidak merasakan sesuai.
Gigi2ku hanya bertindak otomatis dalam mengerjakan tugasnya, tanapa si
empunya gigi ( yaitu aku ), merasakan sebagai manusia normal! Yang
sebelah kanan lho!
Sehingga, sering kali jika sudah
tertelan, banyak sisa2 ( biasanya daging atau yang susah di kunyah )
terselip bukan hanya di gigi saja, melainkan di sela2 antara gusi dan
pipi. Aku harus membersihkannya langsung dengan tangan kiriku, karena
jika hanya dengan lidah, sama saja bohong! Tetap saja tertinggal disana!
Dalam mengunyah di sebelah kanan dalam
mulutku, tanpa berasa atau kebas, air liurku tanpa sengaja mengetes
keluar, dan aku terus mengunyah seperti tidak terjadi apa2! Ya, aku
memang tidak merasakannya, karena jika air liur ku menetes lewat sela2
bibirku dan mengalir daguku pun, aku tidak merasakannya! Kebas! Hehehe
….. parah kan?
Orang tua dan anak2ku sudah terbiasa
untuk mengambil tissue untukku jika berada dekat dariku.
Jika tidak,
mereka akan memanggilku dan tangan mereka hanya menunjuk di mulutku,
bahwa ada ’sesuatu’ disana! Entah kerna ada ‘tamu’ atau air liurku
menetes.
Mulanya, aku malu, bahkan dihadapan
keluargaku. Apalagi ketika aku benar2 baru belajar untuk mengunyah,
beberapa hari setelah serangan stroke. Bukan hanya air liurku saja yang
menetes, tetapi juga mulutku menyemburkan makananku seperti bayi, karena
masih susah untuk mengunyah …..
Tetapi lama kelamaan aku juga harus
mengendalikannya. Mencari akal untuk apapun yang aku lakukan ( hampir )
sama dengan orang sehat dan normal.
Hmmmm …..
Ya, aku berusaha jika untuk mengunyah makanan jangan di bagian mulut sebelah kanan! Supaya air liurku tidak menetes!
Tetapi ternyata tidak terlalu mudah.
Karena tubuh kananku lumpuh, sehingga aku tidak merasakan sesuatu pada
sisi kananku, ataupun karena ‘benda2 di tubuhku’ ini merupakan
metabolisme manusia secara normal yang sering kali sebenarnya tidak
terkendali, pada kenyataannya aku mengalami kesulitan untuk
mengendalikannya.
Bayangkan saja. Jika kita mengunyah
makanan secara normal, pasti kita mengunyah di semua sudut mulut, sesuai
dengan fungsi2 gigi kita. Tetapi untukku, aku harus ‘menyuruh’ otakku
untuk tidak membawa makanan masuk ke mulut ku sebelah kanan, dan
mengendalikan kunyahan makananku hanya di sebelah kiri, kadang2 membuat
aku tidak sabar.
Kalau hanya sekedar makan kacang,atau
coklat atau snack, itu gampang untuk mengendalikannya karena mulutku
‘kosong’. Tetapi jika mengunyah makanan utama, dimana mulutku penuh (
walau hanya ½ semdok makan saja ), akan terasa tidak bisa terkendalikan,
sehingga mengunyah juga ke sebelah kanan …..
Hasilnya?
Ya itu … seperti yang aku tuliskan di
atas tadi. Air liurku menetes tanpa aku sadari. Lalu sisa2 makanan yang
tidak tertelan akan terselip di antara gusi dengan pipi, sehingga
terpaksa aku harus membuka mulutku dan tanganku harus membersihkannya
sendiri dan segeera …..
Menyedihkan, ya? Hehe …..
Kadang2 aku berpkir bahwa insan pasca
stroke seperti aku ini, otakku ini di ‘reset’. Dari belajar seperti
bayi, sampai berapa lama kita tahan dalam kesabaran. Karena jika kita
tidak sabar, fisik kita akan terpuruk, malu atau depresi kaena memang
harus belajar dari nol. Dan jika aku sebagai IPS sekarang ini adalah
kasih Tuhan untukku, berarti Tuhan mau me-’reset’ hidupku sehingga aku
menjadi lebih baik dari sebelumnya …..
Dan aku harus terus bersabar dan tetap
semangat, karena jika bayi saja bisa dari yang tidak bisa apa2, aku
pasti bisa! Arena aku sudah mampu berbuat apapun dan berprestasi sebelum
Tuhan me-’reset’ hidupku, pastilah Rencana Tuhan akan berjalan untuk
masa depanku yang bahagia …..
Tetap semangat! Salamku …..
Silahkan lihat tulisan2ku tentang stroke :

Rabu, 19 Februari 2014
Rabu, 19 Februari 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
www.skmecca.com
Bisakah dibayangkan? Bagaimana aku bisa
bekerja lagi, sementara berbicara saja aku tidak bisa? Bagaimana aku
tidak stress? Bagaimana aku tidak depresi? Aku, yang notebene sudah
berumur 40 tahun ( ketika itu tahun 2010 ), single parent denan 2 anak
SD dan SMP ( waktu itu ), bisa membiayai anak2 dan keluargaku? Sangat
tidak mungkin! Itu yang aku pikirkan, seharian tanggal 9 Januari 2010.
Hari itu adalah hari ke-2 aku terserang
stroke. Aku baru sadar, bear2 sadar, bahwa masa depanku terancam! Bukan,
bukan terancam karena ada yang mengganggu hidup kami, tetapi terancam
karena kemungkinan besar aku tidakakan bisa bekerja lagi untuk membiayai
hdup kami dan biaya sekolah anak2ku! Pikiranku melayang2 dengan
kesakitan yang luar biasa, ketika aku memaksa untuk berpikir dengan
cacat otak kiri yang masih ‘basah’, karena memang darah masih menggenang
di sana …..
2 minggu aku dirawat di sebuah rumah
sakit Katolik di San Francisco, aku belajar berbicara. Dari 1 kata2,
lalu 2 kata2 sampai membentuk sebuah kalimat sederhana. Pun aku tetap
belum mampu melafalkan nama anak2ku secara ssempurna.Hanya sedikit
bergumam dalam bahasa Inggris ‘cadel’, seperti anak SD yang baru belajar
bahasa Inggris pertama kalinya.
Kemudian aku diterbangkan ke Jakaarta,
tempat tinggalku dari San Francisco, menempuh waktu seitar 21 jam.
Dengan kepala berat dan selalu vertigo karena otak kiriku pun masih
basah karena genangan darah merah itu tetap masih terkumpul disana.
Diantar seorang bruder dari Alaska, Bruder Frank namanya. Dia sediit
mengajarkan aku untuk berkata2 dalam bahasa Inggris, dan mulai bisa
melafalkan nama anak2kku, Dennis dan Michelle. Untung nama anak2ku tidak
ada huruf ‘R’ nya, karena sampai sekarang pun, aku belum sempurna untuk
melafalkan huruf ‘R’ di setiap kosa kata …..
1 bulan aku dirawat di sebuah rumah
sakit Kristen di Cikini, dan disanalah aku benar2 belajar hidup! Ya, aku
‘belajar hidup!’. Mulai belajar makan dan minum dngan baik, bekajar
‘pipis’ dan membuka serta memakai celana dan baju, belajar bangun dan
belajar jalan.Itu yang terutama, kebutuhan dasarku sebagai manusia.
Kemudian, aku mulai belajar berkata2 dlam
bahasa Indonesia. Karena aku mulai belajar kata2 dalam bahasa Inggris,
aku ‘lupa’ untuk berkata2 dalam bahasa Indonesia. Maklum, aku stroke dan
yang di serang adalah otak, sehingga otak akan ‘melupakan’yang
sebelumnya ada jika aku tidak di’ingatkan’ lagi dengan terapi …..
Kosa kasa pertama ku adalah tentang
keluargaku, tentu. Pertanyaan2 untuk anak2ku. Belajar bernyanyi lagu2
Kidung Pujian, membuat aku menjadi tenang. Itu lah kosa kata2ku yang
pertama, sehingga dengan Kidung Pujian, Tuhan terus membuat aku
bersemangat serta kata2ku terus bertambah.
Ketika aku sudah berpikir tentang untuk
dapat bekerja lagi demi membiyai anak2ku, aku pun mengatakan kepada
dokter dan terapist2ku, supaya dipersiapkan untuk segala hal. Jadi,aku
pun harus belajar berhitung, sesuai dengan kedudukanku di pekerjaanku ……
Terapist bicara ( speech therapy ) ku
tip hari datang ke Unit Stroke dan aku belajar berbicara seperti anak
kecil. Belajar menulis dengagn tangan kiri dan belajar berhitung. Suatu
saat, dia meminta aku untuk menulis 1 + 1. Dan aku menuliskannya dengan
tangan kiriku. Setelah itu, dia berkata,
“Coba, berapa 1 + 1?”, dan aku tersenyum …. “Aaaahhhhh, gampang banget”, pikirku.
Tetapi ketika aku mau menyebutkan sebuah
angka, tiba2 otakku buntu! Benar2 buntu! Astaga! Berapa ya? 1 + 1 =
berapa??? Duh …… berapa sih ????
Aku berpikir keras untuk menjawabnya. Astaga! Berpikir keras untuk soal 1 + 1??? Ga salah nih? Ya Tuhanku …..
Aku menggelengkan kepalaku sebagai
jawabannya. Terapistku tersenyum ….. beliau mengerti benar, bahwa aku
kesulitan untuk menjawabnya, sehingga aku dituntun untuk menyelesaikan
jawaban itu …..
Lalu aku benar2 belajar, dari huruf A, B,
C, D dan sebagainya. Juga dari 1 + 1, 1 + 2, 1 3, dan sebagainya. 1 -
1, 2 - 1. Atau 1 x 1, 2 x 1, 1 : 1 dan seterusnya. Benar2 belajar dari
0! Sebuah kenyataan yang sangat pahit, karena aku benar2 tidak bisa
melakukan apapun, selain melihat, berpikir, tersenyum dan berdoa ……
***
Itu benar2 kenyataan yang sangat teramat
pahit dalam hidupku! Seorang aku berumur 40 tahun harus belajar
berhitung 1 + 1, untuk mulai bekerja! Tetapi Puji Tuhan! Aku tetap
semangat, walau waktu itu aku tidak tahu, kapan aku bisa bekerja lagi.
Lhaaaa … 1 + 1 saja, aku tidak tahu, bagaimana aku bisa menghitung jumlah
barang di proyek ku? Atau menghitung budget proyek???
Tetapi tidak menurunkan semangatku untuk
mulai bangkit. Tiap pagi setelah selesai tugas2ku sebagai manusia (
mandi, makan ), aku diantar papa untuk terapi fisik di rumah sakit dan
terapi bicara di tempat yang sama. Kerja keras, benar2 sangat keras, t
erus mengiringiku. Kehidupanku berubah drastis. Dari aku yang pekerja
keras untuk mendapatkan uang, sampai aku yang bekerja sangat keras untuk
belajar hidup, sampai belajar bekerja …..
Bulan demi bulan, akhirnya sampai pada
titik aku berani mengambil keputusan. 6 bulan bekerja keras, dari vonis
dokter di Amerika yang katanya aku hanya bisa berbaring saja, sampai
mulai bekerja lagi, Tuhan sudah dan selalu menemaniku, walau memang
tetap aku dalam keterbatasan.
***
Aku menapak kakiku menuju kantorku.
Walau belum 100% percaya diri, tetapi aku berani untuk menjalankan
tugas2ku sebagai ’single parent’. Tuhan sudah sangat luar biasa,
memberkatiku. Sehingga, dari 1 + 1 yang aku sempat putus asa waktu itu,
menjelma dalam rangkaian kata2 :
AKU BISA, DALAM NAMA TUHAN !!!!
Terima kasih, Tuhan! Inilah aku,
‘ordinary disabled woman coz of stroke’ yang selalu berupaya untuk
selalu
mengucap syukur pada Tuhan, melalui berbagai pelayanan.
Selasa, 18 Februari 2014
Selasa, 18 Februari 2014
- 1 Comment
By Christie Damayanti
kids-myshoot.nationalgeographic.com
Sebelumnya :
Aku ada;ah Insan Pasca Stroke ( IPS ).
Semua sudah tahu bahwa aku sdah lebih dari 4 tahun sebagai IPS, tetapi
aku tetap bahagia, walau tubuhku lumpuh ½ kanan dan bicaraku pun tidak
sempurna. Teta[i Tuhan memberikan aku otak dan pemikiran yang masih
sempuna, walau otak kiriku sempat terendam darah sekitar 20% dan pernah
di vonis oleh dokter di Amerika ( aku terserang stroke di San Francisco
), hanya bisa berbaring saja, atau paling tidak hanya bisa duduk saja.
Jangankan bekerja lagi, berjalanpun kata dokter itu, aku akan tidak bisa
…..
Tetapi semuanya hanya ‘rencana manusia,
vonis secara medis dan pemikiran manusia’ saja. Tetapi yang paling hebat
adalah ‘RENCANA TUHAN’ dan rencana Tuhan yang membuat aku sekarang
menjadi Christie yang memang ‘cacat’ karena disabled, tetapi tetap
bertanggung jawab untuk keluargaku dalam bekerja mencari penghidupan dan
melakukan pelayanan atas berkat yang Tuhan sudah anugerahkan kepadaku.
***
Setelah aku mampu untuk terus berkembang
dalam pemulihanku, ternyata sungguh aku benar2 penasaran apa yang
terjadi dengan otak dan tubuhku setelah serangan stroke. Secara tidak
ada yang bisa memuaskan keinginan tahu ku tentang serangan stroke,
karena yang seperti ‘kata dokter’ dan referensi, cukup berbeda dengan
apa yang aku alami sebagai IPS. Sehingga aku mengambil sedikit
kesimpulan, bahwa dokter itu tetap manusia, sepintar apapun mereka,
apalagi jika mereka blum pernah mengalami stroke.
Tetapi, aku adalah IPS
4 tahun, yang sudah mengalami sendiri, apa yang terjadi dengan tubuhdan
otakku, membuat aku benar2 penasaran. Sehingga, aku melakukan ‘riset’
kecil2an untuk mencari tahu tentang ‘yang sebenarnya’.
Cerita tentang BROADMANN AREA :
Bahwa otak kita itu mempunyai 47 area
sesuai dengan referensi. Coba lihat di link diatas. Aku akan sedikit
menulis sesuai dengan nomor area otak kita, dengan ‘ceritanya’.
Area nomor 1, 2 dan 3 Broadmann Area
brodmannarea.com
brodmannarea.com
Nomor 1,2 dan 3 memang berdekatan. Disebut area Primary Somatosensory Cortex. Merupakan daerah sensorik utama bagi otak kita, untuk indra peraba dibawah kulit. Daerah ini mempunyai peta ruang sensorik, disebut Homonculus Sensorik.
Setiap belahan otak kita, terutama
berisi ‘peta reseptif sensorik’. Kepadatan relatif dari reseptor
sensorik pada kulit di bagian2 tubuh kita, umumnya menunjukkan tingkat
sensitivitas rengsangan yang dialami tubuhnya. Untuk alasan inilah,
bibir manusia dan tangan memiliki sensitivitas lebih besar dibagian
tubuh kita yang lain.
poscentralgyrus.brain.rg
Daerah nomor 1,2 dan 3 ini akan
menempati puncak di otak kita, disebut Gyrus Postcentral. Sensivitas di
area ini akan melemah bahkan hilang sama sekali, ketika pembuluh darah
otak, pecah atau tersumbat. Seperti cerita tentang ’stroke’ sendiri
dalam tulisanku Kini, Stroke pun Menyerang Usia Muda,
bisa dibayangkan jika nomor 1, 2 dan 3 sempat terendam darah atau
sempat pembuluh darahnya tersumbat ( yang bisa mengakibatkan trauma atau
memar yang berkepanjangan ). Pastilah syaraf2 disana akan melemah, atau
rusak sama sekali.
Tetapi seperti yang aku juga baca di
beberapa referensi tentang stroke, ternyata stroke itu tidak menjadikan
syaraf kita ‘terputus, terpotong atau rusak’. Saraf otak kita hanya
‘terganggu’, tergantung berat atau tidaknya serangan stroke tersebut.
Artinya, jika pembuluh darah kita
terpompa darah lewat jantung, terlalu keras, maka pembuluh darah otak
kita akan pecah. Seberapa besarnya kah pompaan jantung, tergantung
tekanan darah kita. Artinya lagi, jika tekanan darah kita semakin
tinggi, pecahnya pembuluh darah kita membuat darah tersembur keluar
dengan keras dan banyak!
Begitu juga jika serangan stroke karena
penyumbatan. Seberapa banyaknya ‘plak2′ yang menumpuk di pembuluh darah
otak kita, sehingga darah tersumbat, dan seberapa lamanya kah tersumbat,
yang bisa mengakibatkan trauma berat?
Dan untuk recovery syaraf2 otak yang
terganggu akibat stroke, sesuai referensi adalah 0,01 milimeter
per-hari. Artinya, jika ujung jari kananku bisa berfugsi lagi, akan
memakan waktu puluhan tahun, secara dari ujung tangan kananku ke otakku
adalah sepanjang sekitar 1 meter!
homorragic-ischemicstroke.com
Serangan stroke pecah pembuluh darah otak dan serangan stroke penumbatan, mempunyai resiko terberat adalah sama, yaitu KEMATIAN.
Untuk aku sendiri, nomor 3 otak kiriku,
pernah terendam darah, dimana aku merasakan sendiri bahwa sensivitas
tubuhku di bawah kulit sebagai indra perasa, sedikit terganggu, terutama
di tubuh bagian kananku. Mungin indra perasa tubuh kananku, hanya
sekitar 50% saja.
Anak2ku sering menggodaku, mereka sering
‘jawil2′ tanganku dan aku tidak merasakannya, jika hanya sedikit
terjawil saja, tetapi jika mereka merabaku dengan cukup keras, aku sudah
bisa merasakannya.
Tetapi komplikasi atau kombinasi daerah2
yang terkena serangan stroke itu sepertinya tidak akan hanya 1 daerah
atau nomor saja. Karena antara nomor 1,2 atau yang lainpun cukup dekat.
Bayangkan saja, dengan otak manusia yang tidak terlalu besar, mempunyai
47 area, pastilah akan berdekat2an. Untuk aku sendiri, daerah yang
terendam darah karena stroke, kombinasi nomor 3, 5 dan 7. Berbeda dengan
IPS yang lain. Sehingga, ii adalah salah satu sebab bahwa TIDAK ADA IPS YANG SAMA, KARENA SERANGAN STROKENYA KOMBINASINYA PASTI BERBEDA, itu yang aku baca dalam beberapa referensiku. Sehingga, metoda penyembuhannya pun berbeda ……
Jika kita hanya mengandalkan pengetahuan
kita saja sebagai manusia, mungkin sekarang ini aku hanya bisa benar2
terbaring saja, secara recovery baru terjadi puluhan tahun mendatang.
Memang ada terapi dengan metoda2 yang berlainan. Semuanya adalah berkat
Tuhan, yang bisa menyembuhkan kita, penyakit apapun yang diberikan Tuhan
kepada kita.
Kuncinya adalah berserah, berusaha dan
berdoa. Serta percaya, bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik
bagi masing2 dari kita ……

Kamis, 06 Februari 2014
Kamis, 06 Februari 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
www.brookdalehospital.org
Sebelumnya :
Ketika air mata dan isak tangisku tidak
mampu lagi mengurangi kegelisahanku, dan ketika hanya doa yang bisa
memberikan hatiku lebih tenang, pun hanya Doa Bapa Kami saja, aku
sungguh2 tidak mampu lagi untuk melawan rasa ketakutan dan kesakitan
hatiku. Rasa ketakutan itu terus berkumandang di hati dan pikiranku.
Walau aku tahu, bahwa Tuhan akan ada di sisiku dan Tangan NYA akan
menggendongku. Tetapi aku tetap manusia biasa. Dalam rasa ketakutan2
yang berasal dari keduniawianku, rasanya ada 2 hati dalam tubuhku.
Yang
pertama adalah hati yang berserah bahwa Tuhan akan mengiringiku dalam
operasi ini, dan yang kedua adalah hati yang hanya selalu ketakutan!
Takut operasi, takut bayiku tidak selamat dan aku takut mati!
Bagaimana
bisa? Aku seorang ibu dari Dennis dan dari calon bayiku, bagaimana aku
bisa mengurus anak2ku jika aku mati???
Doa Bapa Kami terus berkumandang. Di
ujung tangan kanan dan tangan kiriku, 2 orang Pendeta memegang kedua
tanganku, berdoa dan terus berdoa. Aku memalingkan wajahku, menoleh ke
kanan dan terus ke kiri. Air mataku yang sudah kering, dan wajahku yang
pasti sudah tidak ada lagi seri nya, mungkin membuat
Pendeta itu dapat
merasakan ketakutan yang ada di hati dan pikiranku …..
Sambil masing2 berdiam diri, para dokter
sedang konsentrasi untuk membedah perutku. Mungkin karena adanya tumor
di dalam perutku, membuat mereka harus berhati2, entahlah ….. Tetapi
ketika aku tersentak karena ketakutanku, aku tidak memikirkan apa2 lagi
dan dengan lancar aku berkata,
“Dokter, jika dokter harus memilih
antara aku atau bayiku, yakinlah bahwa silahkan memilih bayiku dibanding
aku! Karena buat apa aku hidup, jika bayiku harus mati?”
Dan mereka tidak menjawab ….. hanya terus berkonsentrasi dengan operasi ini …..
Para dokter sedang bersiap membuka
perutku. Aku melihatnya lewat lampu operasi, walau tidak jelas karena
terlal kecil dan mataku berat karena air mata yang sudah mengering.
Detik demi detik berlalu. Juga menit demi menit. Sampai akhirnya aku
melihat Dr Eriyono mengangkat bayiku keluar dari perutku! Puji Tuhan!
Aku berteriak, seakan2 keluar dari mulutku. Aku tidak tahu, apakah
teriakan itu benar2 keluar dari mulutku! Aku tidak tahu itu …..
Tetapi, bayiku tidak terdengar menangis!
Para dokter sepertinya berkutat dengan nyawa bayiku yang baru lahir.
Kulihat lewat lampu operasi, bayiku di angkat dengan 1 tangan dokter,
dan dia diam seribu bahasa ……
Ya Tuhanku ……
“Apakah bayiku sudah mati? Apakah Tuhan sudah menjemput bayiku? Apa benar, Tuhan? Apakah benar, Tuhan? Tuhan ???? Tuhan ??????”
Aku mulai menangis lagi, mulai menjerit ….. Tidak ….. tidakkkkkkk ….. TIDAKKKKKKK ….. !!!!! Bayiku tidak boleh matiiiiiiii ……..
Aku tidak tahu, berapa lama bayiku
‘mati’. Tetapi tiba2 ketika dokter anak yang bekerja sama dengan Dr
Eriyono untuk melahirkan bayiku, menepak pantat bayiku, seketika saat
itu juga bayiku menangis keras
…… PUJI TUHANNNNNNN ……
Aku membayangkan perbedaan atara hidup
dan mati berada di sebuat titin, seperti selembar rambut dibelah 1000
….. sangat tipis …… Ketika aku sudah pasrah waktu aku melihat bayiku
tidak bergerak dan tidak menangis, bahkan tubuh bayiku sedikit membiru
karena leher bayiku terlilit tali pusarnya sendiri, seperseian detik
ketika dokter anak menepak pantat bayiku, seketika itu juga bayiku
mengais sekeras2nya …..
Ya Tuhanku … terima kasih Tuhan ….
Terima kasih, aku tidak tahu lagi, bagaimana aku harus bersyukur kepada
Tuhan ….. Dan bayiku digendong oleh suster, diiringi dokter anak untuk
dibersihkan dan diperlihatkan ke keluargaku, walau setelah itu bayiku
harus masuk ke inkubator dalam waktu entah sampai kapan karena bobotnya
baru 1,8 kg dan umurnya baru 7 bulan lebih dalam kandunganku …..
Apapun itu, aku sudah sangat bersyukur
….. Tuhan sangat luar biasa! Apapun yang aku inginkan, ternyata DIA
kabulkan, termasuk bayiku yang barusan aku lahirkan, walau hidupku masih
di ujung tanduk …..
Begitu kehebohan dengan bayiku selesai
dan sunyi senyap ruang operasiku, dokterku masih harus berjuang untuk
menyelamatkan hidupku. Hatiku yang damai dan tentram karena bayiku sudah
lahir dengan selamat, perlahan menjadi lebih tenang, ketika sepertinya
aku melayang2 di udara …..
Terbang melayang ….. melayang di ruang
operasi ….. ada apa denganku??? Mengapa aku tidak merasakan dunia ini
lagi? Dimanakah aku???
Aku tidak tahu, apakah aku
sudah mati ataukah hanyak sekedar mimpi? Aku tidak tahu. Waktunyapun
cukup singkat. Seperti aku melayang dan melihat tubuhku ada di ruang
operasi dan aku beerada jauh meyang disana. Apakah aku memang pernah
mati?? Ataukah aku hanya sekedar bermimpi ‘aneh?’ jika aku pernah
mati,aku hanya melihat tubuhku di bawah sana.
Tetapi jika aku haya
bermimpi, itu adalah mimpi ter’aneh’ yang aku pernah alami …..
Aku tidak tahu ….. tetapi aku ‘melihat’
tubuhku disana ….. jauh disana ….. Aku dimana ya?? Lhaaaa, itu kan
aku??? Lalu, dimanakah anakku???? Aku mau anakku …… aku mau anakku ……
!!!!!
Tidak jelas memang, apa yang sedang
diperbuat dokter2ku itu kepada tubuhku. Tetapi yang jelas, dari
keterangan dokter Eriyono setelah semuanya selesai, mereka sedang
berusaha membuat aku ‘hidup’ kembali, berusaha menahan darah yang terus
mengalir dari rahimku karena tumor itu tidak mau pergi. Jika doktek
memaksa tumor itu pergi dengan menyayatnya, maka darah terus membanjir.
Ya, aku mengalami pendarahan hebat!
“Anakkuuuuu ….. dimana kamu?????
Sini, mama ingin memelukmuuuuu ….. anakku ….. aku belum memberikan nama
anakku. Dari hasil USG sejak beberapa bulan sebelumnya, anak keduaku
berjenis kelamin perempuan. Pasti dia sangat cantik! Anakku …. dimana
kamu ????”
Aku terus tenggelam dalam keheningan …..
Dari buku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”


By Christie Damayanti
Juga tidak sebentar aku di posisi seperti itu. Duduk membungkuk dan perut buncitku tertekan sedemikian rupa, karena dokter anastesi menyuntikkan obat bius lewat rongga ruas2 tulang belakangku! Suatu penderitaan yang luar biasa berat! Semata2 untuk menghasilkan yang terbaik untuk aku dan bayiku! Tuhanku! Seberapa banyak dan seberapa besar lagi, pengalaman2 yang
‘mengerikan’ yang akan aku alami ??
Tuhanku, Tuhanku ….. Hidupku kuserahkan semuanya kepada Mu …..
***
Dari buku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”

dianasihotang.wordpress.com
Sebelumnya :
Ketika aku masih benar2 beristirahat
‘bed-rest’ di ruang VIP ku pun, aku sudah merasakan kesakitan yang luar
biasa jika aku bergerak, karena perutku menegang, sampai tanganku hanya
mampu mencengkeram railing tempat tidurku dengan urat2 serta pembuluh2
darah tanganku. Bayangkan, ketika waktu itu aku harus duduk dengan
membungkuk seperti mau senam dengan mencium lututku! Perutku yang buncit
tertekan sedemikian yang membuat perut dan tubuhku sakit bukan
kepalang!
Juga tidak sebentar aku di posisi seperti itu. Duduk membungkuk dan perut buncitku tertekan sedemikian rupa, karena dokter anastesi menyuntikkan obat bius lewat rongga ruas2 tulang belakangku! Suatu penderitaan yang luar biasa berat! Semata2 untuk menghasilkan yang terbaik untuk aku dan bayiku! Tuhanku! Seberapa banyak dan seberapa besar lagi, pengalaman2 yang
‘mengerikan’ yang akan aku alami ??
Suasana di ruang operasi, tidak sama
denga suasa di ruang2 lainnya. Suhu udara disana pasti dingin jika
memang akan diadakannya operasi. Dindingnya berbalut keramik putih,
karena berkonsep ‘mudah dibersihkan’ dan tidak ada debu menempel disana.
Ruang operasi memang harus selalu bersih, bahkan steril.
Ruang operasi di Rumah Sakit Cikini,
tempat dimana aku selalu dirawat, cukup besar. Dibagi bilik2, bisa ada
beberapa operasi dalam waktu yang bersamaan. Di satu bagian ruang itu
terdapat beberapa wastafel untuk mencuci tangan. Karena memang harus
mencuci tangan jika mau beranjar keluar masuk. Dibagian yang lain,
terdapt seperti locker untuk dokter2 dan para asistennyta membuka dan
melepas baju operasi serta cadar2 yang mereka gunakan.
Antara ruang operasi dan ‘dunia
luar’, pasti terdapat ruang perantara. Baik baru masuk, seperti aku
didorong dari luar, maupun keluar dari ruang operasi. Fungsinya untuk
adaptasi dan untuk ‘menunggu’ pelayanan operasi, jika memang penuh …..
Sewaktu sensorik dan ‘rasa’ itu sudah
hilang, berarti aku siap di’sembelih’. Aku ditidurkan lagi, dan rasa
diperut buncitku menghilang. Aku sadar, bahwa obat bius itu sudah
bekerja dengan baik. Dan persiapan pertama adalah menutup cadar di atas
perutku. Aku tidak bisa merasakan kesakitan lagi pada perut buncitku,
bahkan aku sama sekali tidak bisa merasakan apa2 lagi! Walau hatiku
tetap berdebar ‘apa yang terjadi selanjutnya’, aku sudah pasrah kepada
Tuhan, apa yang akan DIA lakukan lagi untukku …..
Agak aneh memang, ketika seharusnya
aku tidak merasakan apa2 untuk ‘dibedah’, tetapi daerah yang tidak
terkena obat bius adalah dari ulu hati sampai ujung kaki. Dan ternyata
‘hati’ku berkata lain. Bahwa ‘hati’ ini termasuk yang tidak terkena obat
bius, sehingga aku tetap merasakan ketakutan, kesedihan bercampur
dengan kebahagiaan karena aku akan melahirkan anakku yang kedua! Kuasa
Tuhan memang luar biasa!
Ketika hati dan fisikku semuanya sangat
‘tertekan’ karena stres dan ketakutan, ‘hati’ itu tetap dapat merasakan
kebahagiaan serta tetap bersykur pada NYA untuk menyambut anakku, kelak
…..
Aku melihat keatas. Ada lampu khusus
operasi, menyala, tersorot ke perutku. Armatur lampu tersebut sepertinya
terbuat dari material seperti stainless steel atau aluminium. Ketika
aku mengernyikan mataku, ternyata aku bisa melihat cerminan dokter2 itu
mulai operasi untuk melahirkan bayiku! Ya, aku bisa melihat jalan
operasi itu lewat lampu operasi! Astagaaaa …..
Semua bergerak, serius untuk
mempersiapkan operasi Caesarku. Suster2 mondar mandir di sekeliling
tubuhku untuk membantu dokter2 itu. Pikiranku terfokus di lampu operasi
itu,
“Apa yang akan terjadi?”
Semua wajah dokter tersebut terlihat
serius dan tegang. Dr Eriyono memulai operasi. Dia menyayat perutku.
Darah mulai mengalir, terlihat jelas. Aku kembali menangis …..
Aku ingat
bahwa kemungkinan aku tidak akan selamat sekeluarnya dari ruang operasi
ini. Dan aku terus menangis, ketika kedua Pendeta di sisi kanan dan
kiriku mulai mendoakan aku. Aku terus menangis. Terus menangis ……
Hanya
Doa Bapa Kami yang terus aku lafalkan dalam hati, karena aku sangat
lelah dan terus menangis …..
Kebahagiaan yang sempat aku rasakan tadi,
pupus sudah, berganti dengan keinginan untuk cepat keluar dari
permasalahan ini,
“Aku hidup dengan bayi ditanganku atau aku mati menuju sisi Allah Bapa di Surga?”
Doa Bapa Kami terus berkumandang di hatiku …..
Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah nama-Mu
Datanglah Kerajaan-Mu
Jadilah kehendak-Mu
Di atas bumi seperti di dalam Surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya
Dimuliakanlah nama-Mu
Datanglah Kerajaan-Mu
Jadilah kehendak-Mu
Di atas bumi seperti di dalam Surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya
Tuhanku, Tuhanku ….. Hidupku kuserahkan semuanya kepada Mu …..
***
Dari buku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”

Kamis, 28 November 2013
Kamis, 28 November 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti


mesharesta.blogspot.com
Sekali lagi, siapa yang bilang bahwa
stroke hanya meyerang orang2 tua? Diatas 60 tahun? Atau siapa bilang
bahwa stroke tidak dapat disembuhkan? Mitos2 seperti inilah yang arus
‘dipatahkan’, arena akan menjadi banyak orang tidak waspada dan
ketakutan. Yang ada sekarang, memang masih banyak orang2 yang tinggal di
desa2 atau di pedalaman di negara2 berkembang tahunya hanya jika
keluarganya terserang stroke, dan tiba2 lumpuh atau tidak bisa bicara,
sering kali mereka membawa keluarganya bukan ke rumah sakit tetapi ke
‘dukun’ ( atau apapun ) karena dianggap sebagai ‘kutukan’ atau di guna2.
Pun stroke, bagi yang belum ( semoga
tidak ) mengalaminya mengatakan hanya sebagai ‘penyakit khusus’. Ada
yang bilang tidak bisa disembuhkan, ada yang bilang tidak bisa diobati
atau untuk mereka jika terserang stroke merupakan ‘akhir dari
segalanya!’.
Tetapi untukku dan untuk sahabat2 insan
pasca stroke, adalah bertolak belakang dengan mitos2 dan issue2 seputar
stroke. Begitu juga sebagai insan pasca stroke, sangat tahu dan mengerti
bahwa dengan ‘kecacatan’ akibat otak terserang stroke ( pembuluh darah
pecah atau tersumbat ) tidak gampang untuk membangun kepercayaan dirinya
sebagai manusia yag ingin tetap eksis di lingkungan.
Banyak orang
depresi dan terpuruk dengan keadaan itu, tetapi sebagian lagi justru
langsung bangkit untuk berusaha eksis. Walau tetap dalam keterbatasan
dan secara fisik adalah cacat, pun mereka tetap bisa berkarya, seperti
aku …..
Beberapa mitos dan issue seputar stroke :
1. Siapa bilang stroke hanya terjadi di usia lanjut?
Seorang sahabatku sebagai insan pasca
stroke, sekarang berumur 31 tahun. Namanya mas Ajie. Dia sudah sebagai
insan pasca stroke sejak 11 tahun lalu! Berarti dia terserang stroke
pada umur 20 tahun! Astaga!
Bayangkan, seorang lelaki, masih muda,
masih mahasiswa terserang stroke pada umur 20 tahun dan sempat terpuruk
sekitar 2 tahun. Dia mengalami pembuluh darah pecah sampai batok
kepalanya dibuka untuk menyerap badah di otaknya. Sepertinya, dia
mengalami stroke lebih parah dari aku. Dan ketika aku pertama kali
bertemu dengannya, aku melihat garis pada rambutnya, dan dikatakannya
adalah bekas operasi kepalanya ……
Mas Ajie sekarang ini sangat aktif
melayani teman2nya sebagai ODHA ( orang dengan HIV Aids ), justru bukan
yang berhubungan dengan stroke. Dan apapun pilihannya, dia sangat
semangat dan berbahagia sebagai insan pasca stroke. Dengan lumpuh ½
tubuhnya sebelah kanan seperti aku, dia tetap menjalankan hari2nya
dengan bahagia.
Beberapa pasien di rumah sakit tempat
aku berobat, banyak sekali orang2 yang terserang stroke dibawah umur 30
tahun. Beberapa ada yang survive tetapi beberapa lagi sangat depresi.
Dan justru yang aku tahu di rumah saki itu, untuk orang2 lanjut usia dan
terserang stroke, mereka merasa ’sudah saatnya’, tetapi mereka tetap
berusaha mengembalikan semangatnya dengan terapi serta terus tersenyum
…..
2. Siapa bilang stroke lebih sering pada laki2?
Ngawur itu! Lah ….. aku perempuan kan?
Dan aku menemukan sebanding koq perempuan dan laki2 yang terserang
stroke. Mungkin bedanya adalah tentang ‘lingkungannya’ dimana perempuan
tidak mengijinkan dirinya sendiri untuk mau mengungkapkan jati dirinya
sebagai ’stroke survivor’. Justru menurut sebuah penelitian epidemiologi
skala besar oleh Seshadri ( tahun 2007 ), stroke terungkap lebih sering
terjadi pada perempuan.
Seperti di dunia pekerjaan atau di
dunia2 yang lain, perempuan cenderung ‘menutup dirinya’ atau karena
lingkungannya yang tidak mengijinkannya. Tetapi untukku, dalam gender
tidak ada perbedaan. Karena aku dibesarkan dalam keluarga modern dan
mengerti bahwa gender bukan sebagai halangan, aku selalu mengungkapkan
diriku untuk semua hal dalam hidupku, termasuk sebagai insan pasca
stroke, perempuan, lumpuh ½ tubuh sebelah kanan tetapi tetap berkarya!
3. Siapa bilang stroke hanya terjadi pada penderita hipertensi?
Faktor2 resiko tinggi untuk stroke
adalah banyak hal. Seperti hipertensi ( jelas ), diabetes atau jantung.
Bahkan lifestyle seperti kebiasaan meroko, kebiasaan minum minuman keras
serta workholic dan tingkat stres ysng tinggi bisa sebagai pemicu
stroke!
Tambahan lagi. Seminggu yang lalu ketika
aku dan sahabat2 insan stroke yang tergabung dalam sebuah ‘kelompok
pendukung’ untuk kongkow2 di rumahku, ternyata aku baru tahu bahwa salah
satu sahabatku, pak Didin namanya ( lihat tulisanku Pak Didin, Stroke Survivor yang Sudah Mulai Bangkit dari Keterpurukannya ) terserang stroke karena sebuah EFORIA yang berlebihan,
atau kegiatan yang sangat memacu kesenangan dan adreanalin untuk
‘terlalu senang’. Dan sering kali tubuh kita tidak bisa menerimanya.
Ya,
pak Didin yang sudah berumur 62 tahun ( suka sekali nonton bola ),
begadang berhari2 ( walau siangnya tidur ) dan sangat bersemangat nonton
bola, mendadak terserang stroke …..
Hipertensi memang sebuah faktor utama
yang mengakibatkan terserang stroke, tetapi bukan satu2nya seseorang
bisa terserang stroke. Apa lagi di jaman sekarang ini, lifestyle
merupakan momok bagi banyak orang sebagai faktor resiko.
4. Siapa bilang stroke tidak bisa dicegah?
Siapa bilang? Jika memang seseorang
mempunyai faktor resiko secara gen ( penyakit2 tertentu ), tetapi dengan
hidup sehat dan lifestyle yang baik, akan menghindarkan terserang
stroke. Tetapi kebalikannya. Jika seseorang tidak mempunyai faktor
resiko sama sekali, apalagi masih muda seperti mas Ajie ( bahkan dia
sebagai atlet futsal dengagn pola hidup sehatnya ) tetapi terserang
stroke, kemungkinan besar adalah lifestyle yang kurang istirahatnya.
Seperti juga aku. Memang faktor resiko
ku sangat jelas ( keluarga hipertensi dan banyak yang stroke ), serta
lifestyle yang tidak sehat ( kurang istirahat, malas jaga makanan dan
malas ke dokter ), walau aku masi cukup muda, aku bisa terserang stroke
berat tahun 2010 lalu …..
5. Siapa bilang stroke tidak bisa diobati?
Wah wah wah …… ini tidak benar sama
sekali. Sebuah rumah sakit yang baik, harus mempunyai fasilitas2 yang
bisa menjadikan insan pasca stroke tetap menjadi seseorang yang berguna.
Bahwa kesembuhan itu bukan hanya secara fisiknya saja, justru lebih ke
arah mental. Dan untuk penyembuhan secara medis, serahkan lah kepada
dokter2 yang merawat serta doa kepada Tuhan, untuk yang terbaik.
Bagi insan pasca stroke, memang secara
fisik otak kita, tidak akan bisa sempurna penyembuhannya, tergantung
seberapa besar tingkat atau derajad kecacatan, atau seberapa banyak
darah yang keluar dari pembuluh darah otak kita yang pecah. Tetapi
justru kesembuhan mental nya lah yang merupakan ‘obat’ bagi insan pasca
stroke.
Karena seperti aku, fisikku tetap lumpuh
½ tubuh sebelah kanan, dan aku terus berlatih dengan terapi2 khusus (
dan terus membaik walau harus sabar dan tetap berserah ), tetapi
mentalku justru menjadi acuan ssebagai penghimpun energi positif bagi
pemulihan fisikku!
Bahwa fisik hanya sebuah ‘baju’ ( tidak
terlalu penting ), tetapi mental adalah ‘jiwa’ ( ini yang TERPENTING! )
ku dalam menempuh hidup di masa depan …..
6. Siapa bilang stroke adalah akhir dari segalanya?
Baca tulisanku Stroke bukan akhir dari segalanya!
Aku adalah saksi dan bukti bahwa STROKE
ITU BUKAN AKHIR DARI SEGALANYA! Walau secara medis aku dinyatakan hanya
bisa berbaring saja, tanpa bisa berjalan apalagi bekerja lagi, tetapi
bukti dan saksi hidup ini merupakan hasil dari yang namanya BERSERAH, DOA dan TETAP BERSYUKUR dengan semua yang ada padaku, sebagai insan pasca stroke!
Bahwa aku ternyata bisa mematahkan vonis
dokter di Amerika tersebut tersebut dan bukan hanya b=bisa berjalan
lagi melainkan tetap bisa bekerja sebagai arsitek, berkarya dan
melakukan hobi2 yang menyenangkan serta tetap bisa melayani bantak
orang, dengan keterbatasan2 yang ada padaku …..


Insan pasca stroke yang selalu tertawa dan semangat untuk meraih impian masing2, walau dalam keterbatasan fisik …..
Mitos2 dan issue2 seputar stroke ini,
ternyata masih banak terdapat di masyarakat, bahwa di masyarakat2
perkotaan. Mungkin sosialisasi tentang stroke masih kurang, bahkan masih
banyak juga yang keluarganya terserang stroke tetapi justru malu untuk
medukungnya bahkan malu untuk membawanya ‘keluar dari kepompongnya’.
Padahal itu lah yang sangat dibutuhkan bagi insan pasca stroke,
khususnya yang masih terpuruk dan depresi.
Dan ketika aku sebagai insan pasca
stroke dan keluarga dan sahabat2ku sebagai supportingku untuk
pemulihanku, ternyata keindahan dunia bukan terdapat dari kecantikan dan
kesempurnaan fisik, tetapi lebih dari pada itu. Yaitu
kesadaran bahwa jiwa yang berbesar hati untuk sadar dan mengerti dalam
sebuah keterbatasan, tetapi tetap mampu untuk berkarya dan pentingnya
melayani bagi sesama ……

Mas
Ajie, aku, pak Didin, dan pak Windu, semuanya adalah insan pasca
stroke. Dibelakang adalah mas Yudha, host ‘Weekend Spirit’ RPK 96.3 FM


Kamis, 21 November 2013
Kamis, 21 November 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
knsfinancial.com
Sebelumnya :
Udara dingin, sedingin2nya menyeruak dan
menerpa tubuhku yang tidak berpakaian, hanya dipakaikan baju operasi
berwarna hijau, ketika asisten2 dokter serta suster2 yang akan membantu
untuk melahirkan anakku mendorong brankar tempat tidurku masuk dari
ruang persiapan operasi. Aku menggil kedinginan! Dingin!
Brrrrrrrr …..
Aku seakan masuk ke sebuah ruang
‘jagal’. Dingin, semua berdinding keramik putih. Orang2 disana waktu
itu, hanya diam berjalan mondar mandir, mungkin mempersiapkan untuk
operasi ku. Mereka meakai cadar dan penutup kepala, pun ku tidak
mengenali dokterku, kecuali karena Dr Eriyono sedikit gemuk, jadi aku
mengenalinya. Air mataku berhenti mengalir, tetapi tidak hatiku. Justru
waktu itu aku merasa,
“Inilah akhir hidupku …..”
Aku dipindahkan ke meja operasi dari
brankar tempat tidurku. Dari kasur, aku pindahkan ke meja operasi tanpa
kasur. Dingin! Meja operasi itu terbuat dari stainless steel, sebesar
satu tempat tidur tunggal, dengan daerah kedua tangan di tambah khusus
untuk tangan2ku terbuka lebar, tanpa batas …..
Tubuhku sekarang tanpa pakaian sama
sekali siap dioperasi, dengan AC yang luar biasa dingin! Aku diselimuti
dengan selimut operasi, juga berwarna hijau. Jantungku berdebar2.
Asisten2 dokter membuat seperti cadar, di atas perutku yang buncit.
Sehingga aku tidak akan melihat apa yang dokter2 itu lakukan untuk
‘menyembelih’ perutku! Tuhanku …..
“Mereka mau apa ???”
Seingatku, ada beberapa dokter yang
terlibat untuk mengeluarkan bayiku. Dr Eriyono, dokter kanduunganku.
Dokter anastesi. Dokter anak. Dokter penyakit dalam karena komplikasi
penyakitku, hipertensi. Beberapa asisten dokter dan suster yang
membantu. Dua orang pendeta di sisi kanan dan kiriku. Asisten dokter
anastesi yang akan membiusku, meminta kedua tangan dan lenganku unyuk
lurus dan mengikat kedua tanganku dengan gasper kecil. Katanya, supaya
aku terus tenang jika aku down dan tanganku bisa meraih apa saja dan
bisa mengganggu jalannya operasi …..
Jantungku bertambah berdegub. Aku bisa down?? Duh ….. aku bertambah gelisah. Apa yang akan mereka lakukan terhadap kandunganku ?
Aku bertambah kedinginan karena taganku
harus diluruskan selurus2nya, dan di ikat erat. Punggungku terus
kedinginan karena meja operasi yang dari material stainless steel.
Suster melihat aku bergetar kedinginan dan ketakutan, dia mengambilkan
selimut yang lebih tebal untuk menutupi tubuhku bagian atas dari atas
perut. Tangan dan kakiku sangat dingin …..
“Masih lamakah?? Aku tidak tahan! Kedinginan dan ketakutan!”
Tetapi aku sadar, jika aku down dan stres, tekanan darahku akan naik dan kemungkinan besar bermasalah dan tidak jadi di operasi.
Dokter anastesi itu mendekat padaku.
Sepertinya dia tersenyum kepadaku, walau aku tidak melihat senyumannya
karena tertutup cadar. Dia minta aku tenang, dan dia akan menyuntikkan
obat bius. Dia mengatakan, bahwa operasi ini aku tidak dibius total,
tetapi aku hanya dibius lokal!
“What ??? Aku hanya di bius lokal ??? Untuk mengeluarkan anakku, aku hanya di bius lokal ???
Astagaaaaa …….”
Aku semakin ketakutan! How come ??
Kata dokter itu, bahwa ( waktu itu tahun
1999 ), ada sistim bius baru. Bius lokal, dan memang kondisi dan
keadaanku, aku harus terus sadar, sambil dokter2 mengeluarkan bayiku.
Lalu, bagaimana? Bagaimana ?? BAGAIMANA ??? Aku takut …… Tuhan …… aku
takut ……
Air mataku membanjir lagi. Doaku sudah
tidak mampu mmembendung ketakutanku. Aku sudah terus berdoa, sampai aku
tidak tahu lagi, apa yang aku bisa katakan kepada Tuhan dalam doaku! Aku
hanya berdoa sambil terus menangis ….. doa dan mennagis ….. doa dan
menangis …..
Dan doa ku itu juga hanya bisa menyebut nama Tuhan atau
Yesus saja …… jika aku ingat, aku hanya bisa menyebut Doa Bapa Kami saja
….. Ya Tuhan …… emosiku memuncak dan aku stres sekali ……
Aku di dudukkan di atas meja operasi.
Dengan perut besar membuncit, aku diminta untuk membungkuk, seperti aku
mau mencium lutuku jika sedang olah raga. Duh, perutku sakit sekali ….
perutku terus mengeras, seakan bayiku mendesak mau keluar! Sakit sekali!
Rasa sakit itu terus menderaku ….. terus dan terus …..
Tuhanku …..
Kata dokter, obat bius itu disuntikkan
di sela2 tulang punggungku, dan terus mengalirkan bius itu ke arah perut
bagian bawahku sampai ujung kaki. Cepat sekali bius itu mengalir. Dalam
beberapa detik saja, aku tidak merasakan apa2 lagi dari ulu hatiku
sampai ujung kakiku. Tubuh bagian bawahku ‘dilumpuhkan’ untuk
mengeluarkan bayiku dari dalam rahimku …..
Aku tetap menangis karena sama sekali
aku tidak mendukanya. Bukan hanya karena ketakutan tentang kemungkinan
besar aku tidak bisa tertolong lagi, tetapi sekarang bahkan lebih dasyat
lagi! Tubuh bawahku dilumpuhkan. Aku stres membayangkan perutku di
iris, di buka dan di ‘obok-obok’ untuk mengeluarkan bayiku. Lalu perutku
di jahit lagi. Aku membayangkan ketika aku SMA, mengoperasi seekor
burung dara dalam tugas Biologi. Bahkan dulu pun aku sampai mengais
karena tidak tahan melihat burung dara itu ……
Tetapi justru perut aku sendiri yang
akan diiris, di ‘obok-obok’ dan di jahit lagi! Dan apakah tubuh bagian
bawahku bisa normal lagi? Aku tidak tahu apakah aku harus percaya?
Bagaimana? Otakku menjadi buntu ……
“Ya Tuhan …… apakah yang lebih buruk lagi dari ini, Tuhanku ?????”
Aku terus menangis …..
Dari buku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”


Rabu, 13 November 2013
Rabu, 13 November 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
guardianly.com
Janji sembuh dan perbaikan yang cepat
bagi banyak penyakit, termasuk pasca stroke, sangat terdengar indah bagi
seseorang yang baru mengalami stroke dan bagi keluarganya. Pada
realitasnya, banak sekali produk yang diiklankan dengan cara seperti
ini. Baik obat2an yang bukan dari dokter, jamu dan herbal, ataupun alat2
mekanis. Semuanya cukup mahal, tetapi belum ada yang terbukti efektif
dalam kaitannya dengan stroke.
Walau saat ini, akupuntur, herbal,
meditasi, serta musik merupakan terapi alternatif, dan sebaiknya hanya
dipertimbangkan untuk mengendalikan beberapa faktor resiko atau sebagai
terapi pelengkap dalam fase pemulihan.
Seperti pada banyak artikelku tentang
stroke dan kesaksian2ku didalamnya sebagai insan pasca stroke, serangan
stroke merupakan ’serangan terhadap otak’. Sebuah ‘penyakit otak’, yang
berhubungan dengan pembuluh darah otak dan syaraf2 otak. Sebuah penyakit
yang berhubungan dengan otak adalah tidak main2, karena otak adalah
‘nahkoda’ kita, nahkoda makhluk hidup. Sehingga, sangat tidak main2
dalam recoveri dan penyembuhannya.
Otak adalah ‘misteri’. Bahwa mungkin
hanya baru sekitar 10% para ahli kedokteran mempelajari otak. Masih
banyak yang belum bisa dipelajari, sehingga bagi manusia, otak benar2
masih misteri. Apalagi serangn penyakit yang berhubungan dengan otak.
Sehingga, sampai sekarang belum ada yang mampu mengembalikan fungsi otak
kita ketika teerserang stroke, seperti aku …..
Seperti yang aku tuliskan diatas,
kalangan medispun masih meraba2 dalam penanganan pemulihan anyak
penelitian yang dilakukan untuk mengatasi dan menangani pemulihan pasca
stroke. Beberapa metoda pun dilakukan untuk ‘penyembuhan’ secara
berkala. Dari segi medis, pasti adalah yang utama, tetapi
terapi2 alternatif ( baik terapi fisik, herbal, akupuntur dan sebagainya
) bisa membantu pemulihan secara bertahap.
Berapa lama pasien stroke perlu dirawat-inap?
Lama waktunya sebenarnya tergantung dari tingkat keparahan stroke dan jumlah pemeriksaan yang perlu dilakukan.
Seperti aku, aku dirawat di rumah
sakit di San Francisco selama 2 minggu, untuk tahap awal. Benar2 awal
dari terserang stroke, belajar minum, belajar makan, belajar berbicara,
dan sebagainya untuk aku bisa kembali sebagai manusia, sampai aku bisa
diterbangkan ke Jakarta.
Kemudian, aku diterbangan ke Jakarta
dan dirawat inap selama sekitar 1 bulan di sebuah rumah sakit di
Jakarta Pusat, sampai aku yakin untuk bisa ‘hidup’. Belajar duduk,
belajar berdiri, belajar berjalan, belajar menulis, belajar berhitung
dan semua jenis pelajaran hidup. Dan pemeriksaan2 pun terus dilakukan.
Jadi, aku dirawat inap sekitar 6 minggu sampai aku dan keluarga serta
dokter2ku yakin bahwa aku sudah mampu untuk ‘tegak berdiri’ dalam
keterbatasan …..
Untuk pasien stroke ringan yang
mengalami TIA ( Transient Ischemic Attack ), rata2 perlu rawat inap
antara 1 atau 2 hari. Untuk stroke ringan diperbolehkan pulang sekitar
beberapa hari saja. Tetapi untuk pasien stroke berat, perlu perawatan
sampai berbulan2 untuk pemeriksaan, terapi dan rehabilitasi. Dan
biasanya, anggota keluarganya justru diminta menginap di rumah sakit,
untuk support si pasien.
Pemeriksaan2 apa saja yang dilakukan?
Yang terpenting adalah pemeriksaan laboratorium ( darah dan urine ),
untuk mencari penyebab utama si pasien terserng stroke. Apakah tekanan
darah, atau tingginya kadar gula dalam darah atau juga adanya sumbatan2
di pembuluh2 darahnya, serta kemungkinan2 yang berhubungagn dengan
pembuluh darah keseluruhan, seperti pembuluh darah jantung. Pemeriksaan2
ini berbeda antar pasien stroke, bergantung banyak hal, karena serangan
stroke itu berlainan bagi masing2 penderita.
Dari hasil laboratorium, pemeriksaan
secara paralel adalah pemeriksaan otak. Seberapa parahnya otak yang
terserang stroke, seberapa parahnya pecah pembuluh darah otaknya, atau
seberapa parahnya sumbatan2 karena lemak atau kolesterol di pembuluh
darah otaknya. Dengan diagnosis lewat CT-Scan dan MRI ( Magnetic Resonance Imaging ),
mesin itu akan merekam citra otak kita dan memperlihatkan ‘irisan’
melintang otak untuk mengungkapkan daerah abnormal ( yang cacat ) di
dalam otak si pasien.


Ini adalah otak kiri ku yang sekitar
20% sempat terendam darah. Bahwa hasil ini membuktikan kalau otakku
merupakan salah satu serangan stroke cukup parah untuk bisa kembali lagi
bepembuluh darah utamarkegiatan sebagai manusia normal. Dikatakannya,
secara medis, aku hanya mampu berbaring saja, dan tidak mamp untuk
berjalan apalagi berpikir dan bekerja …..
Selanjutnya, pereiksaan advance adalan lewat Ultrasonografi dan MRA ( Magnetic Resonance Angiography ).
Pemeriksaan ini digunakan untuk mencari kemungkinan penyempitan arteri
atau bekuan darah di pembuluh darah utama di tubuh kita. Terutama, MRA
ini berfungsi untuk mengidentifikasi ‘kegiatan’ pembuluh darah di otak.
Pemeriksaan2 ini adalah yang utama.
Tetapi jika keluarga pasien menginginkan pasien diperiksa secara
mennyeluruh, akan ada beberapa pemeriksaan2 yang lain. Seperti Angiografi Otak (
pemotretan otak dengan sinar X-ray dan memperlihatkan pembuluh2 darah
di leher dan kepala yang akan mengidentifikasikan aliran darah di semua
fase ).
Ada pemeriksaan Pungsi Lumbal ( akan dilakukan jika serangan stroke diagnosisnya belum jelas. Ada juga pemeriksaan EKG atau Elektrokardiografi, yaitu mencari tanda2 kelainan irama jantung sebagai kemungkinan terserang stroke. Kemudian Ekokardiografi,
yaitu untuk mencari ‘kerusakan’ struktur jantung seperti kelainan katup
atau pembesaran rongga jantung, dan mendeteksi bekuan darah yang bisa
penyebab serangan stroke.
***
Ketika serangan stroke terjadi kepada
kita, kita pasti tidak atau belum sadar tentang terangsn itu. Keluarga
kita pun belum tentu mengetahui nama ’sakit’ itu, apalagi pertolongan
pertamanya. Banyak keluarga yang menganggap si pasien terserang ‘masuk
angin’ atau apapaun namanya sehingga mengakibatkan lumpuh atau bicaranya
‘pelo’. Sosialisasi memang sangat perlu dilakukan. Itu bukan tugas
pemerintah atau medis saja, melainkan kita mencoba melakukannya kepada
lingkungan kita.
Dan jika diagnosis akhir dari doter atau
rumah sakit bahwa kita atau seseorang dari antara keluarga kita
terserang stroke, yang paling utama adalah ‘menyembuhkannya’ lewat jalan
medis. Dan terapi2 penunjang sebaiknya berdiskusi dengan dokter
syarafnya. Biasanya dokter syaraf akan meganjurkan untuk melakukan
terapi2 sesuai dengan yang dianjurkan.
Selain pengobatan dan pemulihan secara
medis dan terapi2 yang dianjurkan, sebaiknya tidak dilakukan karena
lihat saja, betapa rumitnya otak dan tubuh kita. Walau kita percaya
bahwa Tuhan adalah penyembuh segalanya melalui apapun caranya, tetapi
jika tidak yakin untuk dilakukan, tetap melihat yang terbaik …..

Terapi fisik pertama kali hari ke-2 setelah serangan stroke tanggal 9 Januari 2010 di rumah sakit di San Fancisco.
Terapi fisik, seperti yang aku lakukan
sesuai dengan anjuran dokterku, dengan perubahan ‘lifestyle’ adalah hal
yang utama untukku. Lifestyle hidup sehat dengan makan makanan yang
baik, menguragi stres serta hidup bahagia itu dalah terapiku. Ditambah
terapi otakku dengan menulis setiap hari, sangat ‘menyembuhkan’ku
sehingga aku bisa seperti sekarang ini, sebagai insan pasca stroke yang
lebih berbahagia ……

Langganan:
Postingan (Atom)