Artikel Terakhir
Tampilkan postingan dengan label Medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Agustus 2014

Tangan Kiriku pun Sulit untuk Digunakan karena ‘Carpale Tunnel Syndrome’ …..

Sabtu, 02 Agustus 2014 - 0 Comments




By Christie Damayanti

13438871371737477873
ergonomicsmadeeasy.com

Terima kasih atas doanya dalam tulisan Ketegaran Tiada Akhir Seorang Christie Damayanti oleh mba Aulia Gurdi ……

Sungguh, aku sangat terharu, ketika seorang temanku bbm aku untuk memberitahukan bahwa ada seorang teman yang menulis tentang aku. Tersentak aku mencoba membuka Facebook aku, tetapi siang ini internet sangat lelet, sehingga aku benar2 tidak bisa membuka internet, apalagi membaca tulisan itu …..

Hari ini, Rabu 1 Agustus 2012, aku mulai masuk kantor lagi, setelah sekitar 10 hari aku dirawat. Selama 3 hari di rawat di rumah sakit, dan sisanya harus beristirahat di rumah. Dalam tulisanku tentang ….., diagnosaku memang merupakan serangan stroke berulang. Dan hasilnya, selain memang kemungkinan stroke berulang, ternyata ditemukan sebuah syaraf di pergelangan tangan kiriku yang ternyata ini yang membuat jari2 tangan kiriku sering kesemutan bahkan kebas / kebal.

Menurut referensi dari terapistku, pak Seman, syaraf di pergelanganku ( Nevus Medianus ) tertekan dalam sebuah ‘terowongan’ ( Carpale Tunnel ), sehingga syaraf yang memang berhubungan dengan jari2 tangan, tidak bisa mencapai jari2 tangan tersebut, sehingga terjadi kesemutan, bahkan kebas. Biasanya, terjadi karena trauma ( kecelakaan, jatuh atau tertekuk berat ) atau juga karena ‘aus’ dan terlalu banyak dipakai, pada pergelangan tangan kiriku.

Aku tersentak. Pikiranku menerawang. Sangat benar sekali, setelah aku stroke 2,5 tahun lalu, aku hanya memakai tangan kiriku untuk melakukan segala hal dalam hidupku. SEGALANYA! Jadi jika pergelangan tangan kiriku ternyata ‘aus’ karena kegiatanku, adalah sangat masuk akal! Dan ternyata juga, Nevus Medianus-ku juga berhubungan dengan beberapa syaraf yang berhubungan dengan genetik.

Aku di diagnosis detail tentang  jari2 tangan kiriku yang selalu kesemutan serta kebas sebagai ‘Carpale Tunnel Syndrome’ …… astagaaaaa ….. apa pula itu? Ada apa lagi dengan tubuhku?

Setelah dari rumah sakit dengan papaku, kemarin seperti biasa aku langsung berkomunikasi dengan Valen. Aku butih kekuatan. Aku butuh dukungan, walau aku tahu, papaku sangat mendukungku. Aku sms dan Valen langsung tahu, bahwa aku sedang gundah …..

1343887295663976504

Tangan kiriku di bebat dengan sebuah ‘wrap wrist’ yang mempunyai besi di dalamnya sehingga pergelangan tangan kiriku tidak bergerak. Yang ada, hanya jari2ku saja yang bisa digerakkan …..

Sahabat,

Apakah bisa dibayangkan, ketika tangan kanan kita yang sedang tidak bisa dipakai untuk berkegiatan karena sakit, dan tangan kiri kita justru juga diserang penyakit dengan nama yang mengerikan? Bagaimana jadinya, ketika kedua tangan kita tidak bisa digunakan sama sekali?

Itu aku, sahabat! Itu aku, seorang insan pasca stroke dengan kelumpuhan tubuh kesebelah kanan, dan sekarang terserang penyakit yang mengerikan ( untukku ) dan tangan kiriku juga tidak bisa ( sulit berkegiatan ) melakukan apapun ( paling tidak sering sulit berkeiatan karena sering kesemutan dan bahkan kebas ) ……

Galau ….. aku manusia biasa, sahabat …… aku bukan malaikat ….. aku bukan Yesus dan aku hanya seorang insan pasca stroke ……

Aku tetap percaya dan yakin bahkan ini adalah yang terbaik untukku, sahabat. Tuhan sangat sayang padaku. Aku tahu itu ….. Dan justru cinta NYA kepadaku, DIA ingin aku terus bergumul dengan keinginanku untukmengikut NYA ….. aku tidak tahu ….. aku tidak mengerti ….. dan yang jelas, aku tidak ingin mempertanyakan, mengapa ini terjadi padaku ……

Aku duduk di depan dalam mobil. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang melihat, bahwa mataku beraca2 … tidak juga papaku yang duduk di belakang ….. hatiku hancur, walau aku tetap tersenyum ketika papaku mengajak aku mengobrol, seperti biasanya. Kegalauanku memang tidak aku tunjukkan, karena jika demiian, aku pasti menjadi depresi, dan hasilnya akan lebih tidak baik untukku …..

Sepanjang perlajanan dari rumah sakitku menuju pulang ke rumahku, kegalauanku sedikit terobati dengan sms2 dari Valentino. Dia sangat menghiburku setelah dia mengirim berita tentang Carpale Tunnel Syndrom lewat sms. Dikatakan bahwa :

“Carpale Tunnel Syndrome ( CTS ) adalah penyakit dipergelangan tangan karena penggunaan berulang. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti tetapi dapat dianggap sebagai syaraf yang tertekan oleh ‘Carpal Tunnel’. 
Umumnya diturunkan secara genetis.

Bahwa gejalanya adalah kaku atau kesemutan, bahkan kebas di jari2 tangan. Bila tidak ditangani CTS dapat menyebabkan kerusakan syaraf”.





1343887413298369690
allstop.com





Gejala2 itu memang benar adanya. Dan sedikit pemeriksaan pribadi, memang di pergelangan tangan kiriku sangat sakit jika tertekan, dan jika tertekan jari2 tangan kiriku akan langsung terasa kesemutan. Jadi, sedikit terapi dilakukan oleh terapistku, dengan membebat tangankiriku, sehingga pergelangan tangan kiriku tidak bisa bergerak ….. sebuah bebat import dengan besi panjang, membebatku dari telapak tangan sampai sekitar 25 cm dibawah pergelangan tangan kiriku …..

Sahabat,

Apaah bisa dibayangkan? Bahwa tangan kanaku tidak bisa untuk berkegiatan sama sekali, dan tangan kiriku dibebat de ngan besi dan hanya jari2ku saja yang bisa digerakkan? Untuk sanitariku pun bebat nya harus di buka dulu, dan setelahnya di pasang lagi. Ber bbm, pun aku tiak bisa kerka aku tidak bisa ( sulit ) memegang bb. Jadi jika aku sms / bbm, bb ku diletakkan di atas bidang datar, lalu aku mencoba menekan apa yang aku inginkan. Tidak mudah. Sering bb tergeser bahkan berbalik arah, sehingga sangat lama untuk ber-sms atau bbm dengan teman2ku, termasuk Valentino …..

Seharian setelah tangan kiriku di bebat, aku berusaha berlatih mengetik lagi, seperti ketika aku berlatih menulis dan mengetik memakai tangan kiri. Cukup sulit, tetapi aku berusaha untuk tidak terpuruk. Menurutku, jika keadaanku memang demikian, mau diapakan? Toh Tuhan sudah mengijinkan aku untuk menjalankan itu, jadi buat apa aku terpuruk? Buat apa aku bersedih? Seperti ketika aku terserang stroke 2,5 tahun lalu, buat apa aku menangis dan depresi? Tuhan tidak mau itu, Tuhan mau aku tetap tegar dan Tuhan mau aku terus bersabar dan tetap memegang janji Tuhan bahwa masa depanku akan sangat luar biasa ……

Sahabat,

Ijinkan aku untuk memohon doa untuk keadaanku. Ijinkan aku untuk memohon dukungan untuk keadaanku. Bolehkah???

Terima kasih Tuhan Yesusku, yang sudah mengijinkan aku mengalami masalah2 berat seperti ini, karena aku yakin bahwa jika aku bersabar dan tetap mengandalkan MU, aku akan terselamatkan dan jiwaku akan aman di tangan Tuhan …..

Terima kasih, sahabat ….. doa kalian akan terus mendukungku untuk terus bisa menjalankan hidupku dalam keterbatasanku ……

Salamku dan Tuhan memberkati kita semua …..



Rabu, 30 April 2014

Cerita Air Liur(ku) yang Menetes …..

Rabu, 30 April 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

www.facebook.com
www.facebook.com

Ketika air liur menetes, sebenarnya bukan untuk kita, orang dewasa dan sopan di hadapan orang lain. Waktu kita kecil, air liur kita sering menetes karena mereka belum bisa mengendalikannya. Atau karena mereka makan tanpa terkendali, atau juga karena makan sambil berbicara, sering kali air liur kita menetes, tanpa kita sadari.

Mungkin karena tidur dan mulut kita terbuka, sering kali juga air liur kita menetes dan kita tersentak bangun …..

Itu sebagian besar, mengapa air liur kita menetes, dengan atau tanpa kita sadari, sehingga ketika kita tahu bahwa banyak hal menjadi batas kesopanan, misalnya tentang air liur yang menetes, kita akan berusaha untuk mengendalikannya.

Orang2 dewasa yang tahu sopan santun, akan mengendalikan batas2 kesopanan yang ada di masyarakat. Pengendalian itu termasuk dalam bermasyarakat, karena jika tidak mereka akan men-cap ‘kita tidak sopan’. Tetapi ternyata tidak untukku!

Aku tidak tahu, bagaimana sahabat2 insan pasca stroke ( IPS ) yang lain. Ketika aku mengalami stroke berat 4 tahun 5 bulan yang lalu dan mendapatkan aku lumpuh separuh tubuh kananku, pada kenyataannya kelumpuhan tubuh kananku itu termasuk fungsi2 jaringan mulutku sampai jika aku menelanpun, kerongkongan dan tenggorokanku pun mengalami kelumpuhan.

Mulutku, misalnya. Mungkin orang melihat aku normal2 saja. Seperti orang1 yang sehat, walau mereka juga tahu bahwa aku adalaj IPS. Ya, semua orang baru sadar kalau aku IPS jika aku berjalan, dengan tubuh kananku yang harus berusaha untuk berjalan dan menggandeng seseorang.

Lidahku, gigiku atau bibirku mampu untuk menjalankan fungsinya. Tapi tahukah, bahwa separuh dari bagian2 mulutku ini separuhnya juga tidak berasa / kebas?

Jika aku mengunyah, aku sebenarnya bisa mengunyah di semua bagian mulutku. Tetapi khusus di sebelah kanan, aku mengunyah dengan gigi2ku sebenarnya hampir tidak merasakan sesuai. Gigi2ku hanya bertindak otomatis dalam mengerjakan tugasnya, tanapa si empunya gigi ( yaitu aku ), merasakan sebagai manusia normal! Yang sebelah kanan lho!

Sehingga, sering kali jika sudah tertelan, banyak sisa2 ( biasanya daging atau yang susah di kunyah ) terselip bukan hanya di gigi saja, melainkan di sela2 antara gusi dan pipi. Aku harus membersihkannya langsung dengan tangan kiriku, karena jika hanya dengan lidah, sama saja bohong! Tetap saja tertinggal disana!

Dalam mengunyah di sebelah kanan dalam mulutku, tanpa berasa atau kebas, air liurku tanpa sengaja mengetes keluar, dan aku terus mengunyah seperti tidak terjadi apa2! Ya, aku memang tidak merasakannya, karena jika air liur ku menetes lewat sela2 bibirku dan mengalir daguku pun, aku tidak merasakannya! Kebas! Hehehe ….. parah kan?

Orang tua dan anak2ku sudah terbiasa untuk mengambil tissue untukku jika berada dekat dariku. 
Jika tidak, mereka akan memanggilku dan tangan mereka hanya menunjuk di mulutku, bahwa ada ’sesuatu’ disana! Entah kerna ada ‘tamu’ atau air liurku menetes.

Mulanya, aku malu, bahkan dihadapan keluargaku. Apalagi ketika aku benar2 baru belajar untuk mengunyah, beberapa hari setelah serangan stroke. Bukan hanya air liurku saja yang menetes, tetapi juga mulutku menyemburkan makananku seperti bayi, karena masih susah untuk mengunyah …..

Tetapi lama kelamaan aku juga harus mengendalikannya. Mencari akal untuk apapun yang aku lakukan ( hampir ) sama dengan orang sehat dan normal.

Hmmmm …..

Ya, aku berusaha jika untuk mengunyah makanan jangan di bagian mulut sebelah kanan! Supaya air liurku tidak menetes!

Tetapi ternyata tidak terlalu mudah. Karena tubuh kananku lumpuh, sehingga aku tidak merasakan sesuatu pada sisi kananku, ataupun karena ‘benda2 di tubuhku’ ini merupakan metabolisme manusia secara normal yang sering kali sebenarnya tidak terkendali, pada kenyataannya aku mengalami kesulitan untuk mengendalikannya.

Bayangkan saja. Jika kita mengunyah makanan secara normal, pasti kita mengunyah di semua sudut mulut, sesuai dengan fungsi2 gigi kita. Tetapi untukku, aku harus ‘menyuruh’ otakku untuk tidak membawa makanan masuk ke mulut ku sebelah kanan, dan mengendalikan kunyahan makananku hanya di sebelah kiri, kadang2 membuat aku tidak sabar.

Kalau hanya sekedar makan kacang,atau coklat atau snack, itu gampang untuk mengendalikannya karena mulutku ‘kosong’. Tetapi jika mengunyah makanan utama, dimana mulutku penuh ( walau hanya ½ semdok makan saja ), akan terasa tidak bisa terkendalikan, sehingga mengunyah juga ke sebelah kanan …..

Hasilnya?

Ya itu … seperti yang aku tuliskan di atas tadi. Air liurku menetes tanpa aku sadari. Lalu sisa2 makanan yang tidak tertelan akan terselip di antara gusi dengan pipi, sehingga terpaksa aku harus membuka mulutku dan tanganku harus membersihkannya sendiri dan segeera …..

Menyedihkan, ya? Hehe …..

Kadang2 aku berpkir bahwa insan pasca stroke seperti aku ini, otakku ini di ‘reset’. Dari belajar seperti bayi, sampai berapa lama kita tahan dalam kesabaran. Karena jika kita tidak sabar, fisik kita akan terpuruk, malu atau depresi kaena memang harus belajar dari nol. Dan jika aku sebagai IPS sekarang ini adalah kasih Tuhan untukku, berarti Tuhan mau me-’reset’ hidupku sehingga aku menjadi lebih baik dari sebelumnya …..

Dan aku harus terus bersabar dan tetap semangat, karena jika bayi saja bisa dari yang tidak bisa apa2, aku pasti bisa! Arena aku sudah mampu berbuat apapun dan berprestasi sebelum Tuhan me-’reset’ hidupku, pastilah Rencana Tuhan akan berjalan untuk masa depanku yang bahagia …..

Tetap semangat! Salamku …..

Silahkan lihat tulisan2ku tentang stroke :



Rabu, 19 Februari 2014

Mau Jadi Apa, Aku? Bahkan 1 + 1 Saja Aku Tidak Bisa!

Rabu, 19 Februari 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti


1392800694899800191
www.skmecca.com

Bisakah dibayangkan? Bagaimana aku bisa bekerja lagi, sementara berbicara saja aku tidak bisa? Bagaimana aku tidak stress? Bagaimana aku tidak depresi? Aku, yang notebene sudah berumur 40 tahun ( ketika itu tahun 2010 ), single parent denan 2 anak SD dan SMP ( waktu itu ), bisa membiayai anak2 dan keluargaku? Sangat tidak mungkin! Itu yang aku pikirkan, seharian tanggal 9 Januari 2010.

Hari itu adalah hari ke-2 aku terserang stroke. Aku baru sadar, bear2 sadar, bahwa masa depanku terancam! Bukan, bukan terancam karena ada yang mengganggu hidup kami, tetapi terancam karena kemungkinan besar aku tidakakan bisa bekerja lagi untuk membiayai hdup kami dan biaya sekolah anak2ku! Pikiranku melayang2 dengan kesakitan yang luar biasa, ketika aku memaksa untuk berpikir dengan cacat otak kiri yang masih ‘basah’, karena memang darah masih menggenang di sana …..

2 minggu aku dirawat di sebuah rumah sakit Katolik di San Francisco, aku belajar berbicara. Dari 1 kata2, lalu 2 kata2 sampai membentuk sebuah kalimat sederhana. Pun aku tetap belum mampu melafalkan nama anak2ku secara ssempurna.Hanya sedikit bergumam dalam bahasa Inggris ‘cadel’, seperti anak SD yang baru belajar bahasa Inggris pertama kalinya.

Kemudian aku diterbangkan ke Jakaarta, tempat tinggalku dari San Francisco, menempuh waktu seitar 21 jam. Dengan kepala berat dan selalu vertigo karena otak kiriku pun masih basah karena genangan darah merah itu tetap masih terkumpul disana. Diantar seorang bruder dari Alaska, Bruder Frank namanya. Dia sediit mengajarkan aku untuk berkata2 dalam bahasa Inggris, dan mulai bisa melafalkan nama anak2kku, Dennis dan Michelle. Untung nama anak2ku tidak ada huruf ‘R’ nya, karena sampai sekarang pun, aku belum sempurna untuk melafalkan huruf ‘R’ di setiap kosa kata …..

1 bulan aku dirawat di sebuah rumah sakit Kristen di Cikini, dan disanalah aku benar2 belajar hidup! Ya, aku ‘belajar hidup!’. Mulai belajar makan dan minum dngan baik, bekajar ‘pipis’ dan membuka serta memakai celana dan baju, belajar bangun dan belajar jalan.Itu yang terutama, kebutuhan dasarku sebagai manusia.

Kemudian, aku mulai belajar berkata2 dlam bahasa Indonesia. Karena aku mulai belajar kata2 dalam bahasa Inggris, aku ‘lupa’ untuk berkata2 dalam bahasa Indonesia. Maklum, aku stroke dan yang di serang adalah otak, sehingga otak akan ‘melupakan’yang sebelumnya ada jika aku tidak di’ingatkan’ lagi dengan terapi …..

Kosa kasa pertama ku adalah tentang keluargaku, tentu. Pertanyaan2 untuk anak2ku. Belajar bernyanyi lagu2 Kidung Pujian, membuat aku menjadi tenang. Itu lah kosa kata2ku yang pertama, sehingga dengan Kidung Pujian, Tuhan terus membuat aku bersemangat serta kata2ku terus bertambah.

Ketika aku sudah berpikir tentang untuk dapat bekerja lagi demi membiyai anak2ku, aku pun mengatakan kepada dokter dan terapist2ku, supaya dipersiapkan untuk segala hal. Jadi,aku pun harus belajar berhitung, sesuai dengan kedudukanku di pekerjaanku ……

Terapist bicara ( speech therapy ) ku tip hari datang ke Unit Stroke dan aku belajar berbicara seperti anak kecil. Belajar menulis dengagn tangan kiri dan belajar berhitung. Suatu saat, dia meminta aku untuk menulis 1 + 1. Dan aku menuliskannya dengan tangan kiriku. Setelah itu, dia berkata,

“Coba, berapa 1 + 1?”, dan aku tersenyum …. “Aaaahhhhh, gampang banget”, pikirku.

Tetapi ketika aku mau menyebutkan sebuah angka, tiba2 otakku buntu! Benar2 buntu! Astaga! Berapa ya? 1 + 1 = berapa??? Duh …… berapa sih ????

Aku berpikir keras untuk menjawabnya. Astaga! Berpikir keras untuk soal 1 + 1??? Ga salah nih? Ya Tuhanku …..

Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya. Terapistku tersenyum ….. beliau mengerti benar, bahwa aku kesulitan untuk menjawabnya, sehingga aku dituntun untuk menyelesaikan jawaban itu …..

Lalu aku benar2 belajar, dari huruf A, B, C, D dan sebagainya. Juga dari 1 + 1, 1 + 2, 1  3, dan sebagainya. 1 - 1, 2 - 1. Atau 1 x 1, 2 x 1, 1 : 1 dan seterusnya. Benar2 belajar dari 0! Sebuah kenyataan yang sangat pahit, karena aku benar2 tidak bisa melakukan apapun, selain melihat, berpikir, tersenyum dan berdoa ……

***

Itu benar2 kenyataan yang sangat teramat pahit dalam hidupku! Seorang aku berumur 40 tahun harus belajar berhitung 1 + 1, untuk mulai bekerja! Tetapi Puji Tuhan! Aku tetap semangat, walau waktu itu aku tidak tahu, kapan aku bisa bekerja lagi. Lhaaaa … 1 + 1 saja, aku tidak tahu, bagaimana aku bisa menghitung jumlah barang di proyek ku? Atau menghitung budget proyek???

 Tetapi tidak menurunkan semangatku untuk mulai bangkit. Tiap pagi setelah selesai tugas2ku sebagai manusia ( mandi, makan ), aku diantar papa untuk terapi fisik di rumah sakit dan terapi bicara di tempat yang sama. Kerja keras, benar2 sangat keras, t erus mengiringiku. Kehidupanku berubah drastis. Dari aku yang pekerja keras untuk mendapatkan uang, sampai aku yang bekerja sangat keras untuk belajar hidup, sampai belajar bekerja …..

Bulan demi bulan, akhirnya sampai pada titik aku berani mengambil keputusan. 6 bulan bekerja keras, dari vonis dokter di Amerika yang katanya aku hanya bisa berbaring saja, sampai mulai bekerja lagi, Tuhan sudah dan selalu menemaniku, walau memang tetap aku dalam keterbatasan.

***

Aku menapak kakiku menuju kantorku. Walau belum 100% percaya diri, tetapi aku berani untuk menjalankan tugas2ku sebagai ’single parent’. Tuhan sudah sangat luar biasa, memberkatiku. Sehingga, dari 1 + 1 yang aku sempat putus asa waktu itu, menjelma dalam rangkaian kata2 :

AKU BISA, DALAM NAMA TUHAN !!!!

Terima kasih, Tuhan! Inilah aku, ‘ordinary disabled woman coz of stroke’ yang selalu berupaya untuk selalu 
mengucap syukur pada Tuhan, melalui berbagai pelayanan.  

Selasa, 18 Februari 2014

Mengapa ‘Indra Perasa’ Kita Tidak Berfungsi, Ketika Serangan Stroke?

Selasa, 18 Februari 2014 - 1 Comment



By Christie Damayanti

1392702462406525523
kids-myshoot.nationalgeographic.com

Sebelumnya :



Aku ada;ah Insan Pasca Stroke ( IPS ). Semua sudah tahu bahwa aku sdah lebih dari 4 tahun sebagai IPS, tetapi aku tetap bahagia, walau tubuhku lumpuh ½ kanan dan bicaraku pun tidak sempurna. Teta[i Tuhan memberikan aku otak dan pemikiran yang masih sempuna, walau otak kiriku sempat terendam darah sekitar 20% dan pernah di vonis oleh dokter di Amerika ( aku terserang stroke di San Francisco ), hanya bisa berbaring saja, atau paling tidak hanya bisa duduk saja. Jangankan bekerja lagi, berjalanpun kata dokter itu, aku akan tidak bisa …..

Tetapi semuanya hanya ‘rencana manusia, vonis secara medis dan pemikiran manusia’ saja. Tetapi yang paling hebat adalah ‘RENCANA TUHAN’ dan rencana Tuhan yang membuat aku sekarang menjadi Christie yang memang ‘cacat’ karena disabled, tetapi tetap bertanggung jawab untuk keluargaku dalam bekerja mencari penghidupan dan melakukan pelayanan atas berkat yang Tuhan sudah anugerahkan kepadaku.

***

Setelah aku mampu untuk terus berkembang dalam pemulihanku, ternyata sungguh aku benar2 penasaran apa yang terjadi dengan otak dan tubuhku setelah serangan stroke. Secara tidak ada yang bisa memuaskan keinginan tahu ku tentang serangan stroke, karena yang seperti ‘kata dokter’ dan referensi, cukup berbeda dengan apa yang aku alami sebagai IPS. Sehingga aku mengambil sedikit kesimpulan, bahwa dokter itu tetap manusia, sepintar apapun mereka, apalagi jika mereka blum pernah mengalami stroke. 

Tetapi, aku adalah IPS 4 tahun, yang sudah mengalami sendiri, apa yang terjadi dengan tubuhdan otakku, membuat aku benar2 penasaran. Sehingga, aku melakukan ‘riset’ kecil2an untuk mencari tahu tentang ‘yang sebenarnya’.

Cerita tentang BROADMANN AREA :

Bahwa otak kita itu mempunyai 47 area sesuai dengan referensi. Coba lihat di link diatas. Aku akan sedikit menulis sesuai dengan nomor area otak kita, dengan ‘ceritanya’.

Area nomor 1, 2 dan 3 Broadmann Area

13927033371353399320

brodmannarea.com

13927033951113128738
brodmannarea.com

Nomor 1,2 dan 3 memang berdekatan. Disebut area Primary Somatosensory Cortex. Merupakan daerah sensorik utama bagi otak kita, untuk indra peraba dibawah kulit. Daerah ini mempunyai peta ruang sensorik, disebut Homonculus Sensorik.

Setiap belahan otak kita, terutama berisi ‘peta reseptif sensorik’. Kepadatan relatif dari reseptor sensorik pada kulit di bagian2 tubuh kita, umumnya menunjukkan tingkat sensitivitas rengsangan yang dialami tubuhnya. Untuk alasan inilah, bibir manusia dan tangan memiliki sensitivitas lebih besar dibagian tubuh kita yang lain.


13927037921479561580
poscentralgyrus.brain.rg

Daerah nomor 1,2 dan 3 ini akan menempati puncak di otak kita, disebut Gyrus Postcentral. Sensivitas di area ini akan melemah bahkan hilang sama sekali, ketika pembuluh darah otak, pecah atau tersumbat.  Seperti cerita tentang ’stroke’ sendiri dalam tulisanku Kini, Stroke pun Menyerang Usia Muda, bisa dibayangkan jika nomor 1, 2 dan 3 sempat terendam darah atau sempat pembuluh darahnya tersumbat ( yang bisa mengakibatkan trauma atau memar yang berkepanjangan ). Pastilah syaraf2 disana akan melemah, atau rusak sama sekali.

Tetapi seperti yang aku juga baca di beberapa referensi tentang stroke, ternyata stroke itu tidak menjadikan syaraf kita ‘terputus, terpotong atau rusak’. Saraf otak kita hanya ‘terganggu’, tergantung berat atau tidaknya serangan stroke tersebut.

Artinya, jika pembuluh darah kita terpompa darah lewat jantung, terlalu keras, maka pembuluh darah otak kita akan pecah. Seberapa besarnya kah pompaan jantung, tergantung tekanan darah kita. Artinya lagi, jika tekanan darah kita semakin tinggi, pecahnya pembuluh darah kita membuat darah tersembur keluar dengan keras dan banyak!

Begitu juga jika serangan stroke karena penyumbatan. Seberapa banyaknya ‘plak2′ yang menumpuk di pembuluh darah otak kita, sehingga darah tersumbat, dan seberapa lamanya kah tersumbat, yang bisa mengakibatkan trauma berat?

Dan untuk recovery syaraf2 otak yang terganggu akibat stroke, sesuai referensi adalah 0,01 milimeter per-hari. Artinya, jika ujung jari kananku bisa berfugsi lagi, akan memakan waktu puluhan tahun, secara dari ujung tangan kananku ke otakku adalah sepanjang sekitar 1 meter!

1392703893999053825

homorragic-ischemicstroke.com

Serangan stroke pecah pembuluh darah otak dan serangan stroke penumbatan, mempunyai resiko terberat adalah sama, yaitu KEMATIAN.

Untuk aku sendiri, nomor 3 otak kiriku, pernah terendam darah, dimana aku merasakan sendiri bahwa sensivitas tubuhku di bawah kulit sebagai indra perasa, sedikit terganggu, terutama di tubuh bagian kananku. Mungin indra perasa tubuh kananku, hanya sekitar 50% saja.

Anak2ku sering menggodaku, mereka sering ‘jawil2′ tanganku dan aku tidak merasakannya, jika hanya sedikit terjawil saja, tetapi jika mereka merabaku dengan cukup keras, aku sudah bisa merasakannya.

Tetapi komplikasi atau kombinasi daerah2 yang terkena serangan stroke itu sepertinya tidak akan hanya 1 daerah atau nomor saja. Karena antara nomor 1,2 atau yang lainpun cukup dekat. 

Bayangkan saja, dengan otak manusia yang tidak terlalu besar, mempunyai 47 area, pastilah akan berdekat2an. Untuk aku sendiri, daerah yang terendam darah karena stroke, kombinasi nomor 3, 5 dan 7. Berbeda dengan IPS yang lain. Sehingga, ii adalah salah satu sebab bahwa TIDAK ADA IPS YANG SAMA, KARENA SERANGAN STROKENYA KOMBINASINYA PASTI BERBEDA, itu yang aku baca dalam beberapa referensiku. Sehingga, metoda penyembuhannya pun berbeda ……

Jika kita hanya mengandalkan pengetahuan kita saja sebagai manusia, mungkin sekarang ini aku hanya bisa benar2 terbaring saja, secara recovery baru terjadi puluhan tahun mendatang. Memang ada terapi dengan metoda2 yang berlainan. Semuanya adalah berkat Tuhan, yang bisa menyembuhkan kita, penyakit apapun yang diberikan Tuhan kepada kita.

Kuncinya adalah berserah, berusaha dan berdoa. Serta percaya, bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik bagi masing2 dari kita ……


Kamis, 06 Februari 2014

Anakku Lahir Tanpa Tangis dan Aku Mengalami Pendarahan Hebat!

Kamis, 06 Februari 2014 - 0 Comments




By Christie Damayanti


13916850011087800639
www.brookdalehospital.org

Sebelumnya :










Ketika air mata dan isak tangisku tidak mampu lagi mengurangi kegelisahanku, dan ketika hanya doa yang bisa memberikan hatiku lebih tenang, pun hanya Doa Bapa Kami saja, aku sungguh2 tidak mampu lagi untuk melawan rasa ketakutan dan kesakitan hatiku. Rasa ketakutan itu terus berkumandang di hati dan pikiranku. 

Walau aku tahu, bahwa Tuhan akan ada di sisiku dan Tangan NYA akan menggendongku. Tetapi aku tetap manusia biasa. Dalam rasa ketakutan2 yang berasal dari keduniawianku, rasanya ada 2 hati dalam tubuhku. 

Yang pertama adalah hati yang berserah bahwa Tuhan akan mengiringiku dalam operasi ini, dan yang kedua adalah hati yang hanya selalu ketakutan! Takut operasi, takut bayiku tidak selamat dan aku takut mati! 

Bagaimana bisa? Aku seorang ibu dari Dennis dan dari calon bayiku, bagaimana aku bisa mengurus anak2ku jika aku mati???

Doa Bapa Kami terus berkumandang. Di ujung tangan kanan dan tangan kiriku, 2 orang Pendeta memegang kedua tanganku, berdoa dan terus berdoa. Aku memalingkan wajahku, menoleh ke kanan dan terus ke kiri. Air mataku yang sudah kering, dan wajahku yang pasti sudah tidak ada lagi seri nya, mungkin membuat 
Pendeta itu dapat merasakan ketakutan yang ada di hati dan pikiranku …..

Sambil masing2 berdiam diri, para dokter sedang konsentrasi untuk membedah perutku. Mungkin karena adanya tumor di dalam perutku, membuat mereka harus berhati2, entahlah ….. Tetapi ketika aku tersentak karena ketakutanku, aku tidak memikirkan apa2 lagi dan dengan lancar aku berkata,

“Dokter, jika dokter harus memilih antara aku atau bayiku, yakinlah bahwa silahkan memilih bayiku dibanding aku! Karena buat apa aku hidup, jika bayiku harus mati?”

Dan mereka tidak menjawab ….. hanya terus berkonsentrasi dengan operasi ini …..

Para dokter sedang bersiap membuka perutku. Aku melihatnya lewat lampu operasi, walau tidak jelas karena terlal kecil dan mataku berat karena air mata yang sudah mengering. Detik demi detik berlalu. Juga menit demi menit. Sampai akhirnya aku melihat Dr Eriyono mengangkat bayiku keluar dari perutku! Puji Tuhan! Aku berteriak, seakan2 keluar dari mulutku. Aku tidak tahu, apakah teriakan itu benar2 keluar dari mulutku! Aku tidak tahu itu …..

Tetapi, bayiku tidak terdengar menangis! Para dokter sepertinya berkutat dengan nyawa bayiku yang baru lahir. Kulihat lewat lampu operasi, bayiku di angkat dengan 1 tangan dokter, dan dia diam seribu bahasa ……

Ya Tuhanku ……

“Apakah bayiku sudah mati? Apakah Tuhan sudah menjemput bayiku? Apa benar, Tuhan? Apakah benar, Tuhan? Tuhan ???? Tuhan ??????”

Aku mulai menangis lagi, mulai menjerit ….. Tidak ….. tidakkkkkkk ….. TIDAKKKKKKK ….. !!!!! Bayiku tidak boleh matiiiiiiii ……..

Aku tidak tahu, berapa lama bayiku ‘mati’. Tetapi tiba2 ketika dokter anak yang bekerja sama dengan Dr Eriyono untuk melahirkan bayiku, menepak pantat bayiku, seketika saat itu juga bayiku menangis keras 

…… PUJI TUHANNNNNNN ……

Aku membayangkan perbedaan atara hidup dan mati berada di sebuat titin, seperti selembar rambut dibelah 1000 ….. sangat tipis …… Ketika aku sudah pasrah waktu aku melihat bayiku tidak bergerak dan tidak menangis, bahkan tubuh bayiku sedikit membiru karena leher bayiku terlilit tali pusarnya sendiri, seperseian detik ketika dokter anak menepak pantat bayiku, seketika itu juga bayiku mengais sekeras2nya …..

Ya Tuhanku … terima kasih Tuhan …. 

 Terima kasih, aku tidak tahu lagi, bagaimana aku harus bersyukur kepada Tuhan ….. Dan bayiku digendong oleh suster, diiringi dokter anak untuk dibersihkan dan diperlihatkan ke keluargaku, walau setelah itu bayiku harus masuk ke inkubator dalam waktu entah sampai kapan karena bobotnya baru 1,8 kg dan umurnya baru 7 bulan lebih dalam kandunganku …..

Apapun itu, aku sudah sangat bersyukur ….. Tuhan sangat luar biasa! Apapun yang aku inginkan, ternyata DIA kabulkan, termasuk bayiku yang barusan aku lahirkan, walau hidupku masih di ujung tanduk …..

Begitu kehebohan dengan bayiku selesai dan sunyi senyap ruang operasiku, dokterku masih harus berjuang untuk menyelamatkan hidupku. Hatiku yang damai dan tentram karena bayiku sudah lahir dengan selamat, perlahan menjadi lebih tenang, ketika sepertinya aku melayang2 di udara …..

Terbang melayang ….. melayang di ruang operasi ….. ada apa denganku??? Mengapa aku tidak merasakan dunia ini lagi? Dimanakah aku???

Aku tidak tahu, apakah aku sudah mati ataukah hanyak sekedar mimpi? Aku tidak tahu. Waktunyapun cukup singkat. Seperti aku melayang dan melihat tubuhku ada di ruang operasi dan aku beerada jauh meyang disana. Apakah aku memang pernah mati?? Ataukah aku hanya sekedar bermimpi ‘aneh?’ jika aku pernah mati,aku hanya melihat tubuhku di bawah sana. 

Tetapi jika aku haya bermimpi, itu adalah mimpi ter’aneh’ yang aku pernah alami …..

Aku tidak tahu ….. tetapi aku ‘melihat’ tubuhku disana ….. jauh disana ….. Aku dimana ya?? Lhaaaa, itu kan aku??? Lalu, dimanakah anakku???? Aku mau anakku …… aku mau anakku …… !!!!!

Tidak jelas memang, apa yang sedang diperbuat dokter2ku itu kepada tubuhku. Tetapi yang jelas, dari keterangan dokter Eriyono setelah semuanya selesai, mereka sedang berusaha membuat aku ‘hidup’ kembali, berusaha menahan darah yang terus mengalir dari rahimku karena tumor itu tidak mau pergi. Jika doktek memaksa tumor itu pergi dengan menyayatnya, maka darah terus membanjir. Ya, aku mengalami pendarahan hebat!

“Anakkuuuuu ….. dimana kamu????? Sini, mama ingin memelukmuuuuu ….. anakku ….. aku belum memberikan nama anakku. Dari hasil USG sejak beberapa bulan sebelumnya, anak keduaku berjenis kelamin perempuan. Pasti dia sangat cantik! Anakku …. dimana kamu ????”

Aku terus tenggelam dalam keheningan …..

Dari buku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”

1391685117432276901

Dalam Ketakutanku, ‘Doa Bapa Kami’ Terus Berkumandang di Hati



By Christie Damayanti

13916832941102504314
dianasihotang.wordpress.com

Sebelumnya :









Ketika aku masih benar2 beristirahat ‘bed-rest’ di ruang VIP ku pun, aku sudah merasakan kesakitan yang luar biasa jika aku bergerak, karena perutku menegang, sampai tanganku hanya mampu mencengkeram railing tempat tidurku dengan urat2 serta pembuluh2 darah tanganku. Bayangkan, ketika waktu itu aku harus duduk dengan membungkuk seperti mau senam dengan mencium lututku! Perutku yang buncit tertekan sedemikian yang membuat perut dan tubuhku sakit bukan kepalang!

Juga tidak sebentar aku di posisi seperti itu. Duduk membungkuk dan perut buncitku tertekan sedemikian rupa, karena dokter anastesi menyuntikkan obat bius lewat rongga ruas2 tulang belakangku! Suatu penderitaan yang luar biasa berat! Semata2 untuk menghasilkan yang terbaik untuk aku dan bayiku! Tuhanku! Seberapa banyak dan seberapa besar lagi, pengalaman2 yang
‘mengerikan’ yang akan aku alami ??

Suasana di ruang operasi, tidak sama denga suasa di ruang2 lainnya. Suhu udara disana pasti dingin jika memang akan diadakannya operasi. Dindingnya berbalut keramik putih, karena berkonsep ‘mudah dibersihkan’ dan tidak ada debu menempel disana. Ruang operasi memang harus selalu bersih, bahkan steril.

Ruang operasi di Rumah Sakit Cikini, tempat dimana aku selalu dirawat, cukup besar. Dibagi bilik2, bisa ada beberapa operasi dalam waktu yang bersamaan. Di satu bagian ruang itu terdapat beberapa wastafel untuk mencuci tangan. Karena memang harus mencuci tangan jika mau beranjar keluar masuk. Dibagian yang lain, terdapt seperti locker untuk dokter2 dan para asistennyta membuka dan melepas baju operasi serta cadar2 yang mereka gunakan.

Antara ruang operasi dan ‘dunia luar’, pasti terdapat ruang perantara. Baik baru masuk, seperti aku didorong dari luar, maupun keluar dari ruang operasi. Fungsinya untuk adaptasi dan untuk ‘menunggu’ pelayanan operasi, jika memang penuh …..

Sewaktu sensorik dan ‘rasa’ itu sudah hilang, berarti aku siap di’sembelih’. Aku ditidurkan lagi, dan rasa diperut buncitku menghilang. Aku sadar, bahwa obat bius itu sudah bekerja dengan baik. Dan persiapan pertama adalah menutup cadar di atas perutku. Aku tidak bisa merasakan kesakitan lagi pada perut buncitku, bahkan aku sama sekali tidak bisa merasakan apa2 lagi! Walau hatiku tetap berdebar ‘apa yang terjadi selanjutnya’, aku sudah pasrah kepada Tuhan, apa yang akan DIA lakukan lagi untukku …..

Agak aneh memang, ketika seharusnya aku tidak merasakan apa2 untuk ‘dibedah’, tetapi daerah yang tidak terkena obat bius adalah dari ulu hati sampai ujung kaki. Dan ternyata ‘hati’ku berkata lain. Bahwa ‘hati’ ini termasuk yang tidak terkena obat bius, sehingga aku tetap merasakan ketakutan, kesedihan bercampur dengan kebahagiaan karena aku akan melahirkan anakku yang kedua! Kuasa Tuhan memang luar biasa! 

Ketika hati dan fisikku semuanya sangat ‘tertekan’ karena stres dan ketakutan, ‘hati’ itu tetap dapat merasakan kebahagiaan serta tetap bersykur pada NYA untuk menyambut anakku, kelak …..

Aku melihat keatas. Ada lampu khusus operasi, menyala, tersorot ke perutku. Armatur lampu tersebut sepertinya terbuat dari material seperti stainless steel atau aluminium. Ketika aku mengernyikan mataku, ternyata aku bisa melihat cerminan dokter2 itu mulai operasi untuk melahirkan bayiku! Ya, aku bisa melihat jalan operasi itu lewat lampu operasi! Astagaaaa …..

Semua bergerak, serius untuk mempersiapkan operasi Caesarku. Suster2 mondar mandir di sekeliling tubuhku untuk membantu dokter2 itu. Pikiranku terfokus di lampu operasi itu,

“Apa yang akan terjadi?”

Semua wajah dokter tersebut terlihat serius dan tegang. Dr Eriyono memulai operasi. Dia menyayat perutku. Darah mulai mengalir, terlihat jelas. Aku kembali menangis ….. 

Aku ingat bahwa kemungkinan aku tidak akan selamat sekeluarnya dari ruang operasi ini. Dan aku terus menangis, ketika kedua Pendeta di sisi kanan dan kiriku mulai mendoakan aku. Aku terus menangis. Terus menangis …… 

Hanya Doa Bapa Kami yang terus aku lafalkan dalam hati, karena aku sangat lelah dan terus menangis ….. 

Kebahagiaan yang sempat aku rasakan tadi, pupus sudah, berganti dengan keinginan untuk cepat keluar dari permasalahan ini,

“Aku hidup dengan bayi ditanganku atau aku mati menuju sisi Allah Bapa di Surga?”

Doa Bapa Kami terus berkumandang di hatiku …..

Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah nama-Mu
Datanglah Kerajaan-Mu
Jadilah kehendak-Mu
Di atas bumi seperti di dalam Surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya

Tuhanku, Tuhanku ….. Hidupku kuserahkan semuanya kepada Mu …..

***

Dari buku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”

1391683345448313874

Kamis, 28 November 2013

Heh? Stroke Gara-gara Nonton Bola? Umur 20 Tahun Terserang Stroke?

Kamis, 28 November 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti

1385622582887628195
mesharesta.blogspot.com

Sekali lagi, siapa yang bilang bahwa stroke hanya meyerang orang2 tua? Diatas 60 tahun? Atau siapa bilang bahwa stroke tidak dapat disembuhkan? Mitos2 seperti inilah yang arus ‘dipatahkan’, arena akan menjadi banyak orang tidak waspada dan ketakutan. Yang ada sekarang, memang masih banyak orang2 yang tinggal di desa2 atau di pedalaman di negara2 berkembang tahunya hanya jika keluarganya terserang stroke, dan tiba2 lumpuh atau tidak bisa bicara, sering kali mereka membawa keluarganya bukan ke rumah sakit tetapi ke ‘dukun’ ( atau apapun ) karena dianggap sebagai ‘kutukan’ atau di guna2.

Pun stroke, bagi yang belum ( semoga tidak ) mengalaminya mengatakan hanya sebagai ‘penyakit khusus’. Ada yang bilang tidak bisa disembuhkan, ada yang bilang tidak bisa diobati atau untuk mereka jika terserang stroke merupakan ‘akhir dari segalanya!’.

Tetapi untukku dan untuk sahabat2 insan pasca stroke, adalah bertolak belakang dengan mitos2 dan issue2 seputar stroke. Begitu juga sebagai insan pasca stroke, sangat tahu dan mengerti bahwa dengan ‘kecacatan’ akibat otak terserang stroke ( pembuluh darah pecah atau tersumbat ) tidak gampang untuk membangun kepercayaan dirinya sebagai manusia yag ingin tetap eksis di lingkungan. 

Banyak orang depresi dan terpuruk dengan keadaan itu, tetapi sebagian lagi justru langsung bangkit untuk berusaha eksis. Walau tetap dalam keterbatasan dan secara fisik adalah cacat, pun mereka tetap bisa berkarya, seperti aku …..

Beberapa mitos dan issue seputar stroke :

1. Siapa bilang stroke hanya terjadi di usia lanjut?

Seorang sahabatku sebagai insan pasca stroke, sekarang berumur 31 tahun. Namanya mas Ajie. Dia sudah sebagai insan pasca stroke sejak 11 tahun lalu! Berarti dia terserang stroke pada umur 20 tahun! Astaga!

Bayangkan, seorang lelaki, masih muda, masih mahasiswa terserang stroke pada umur 20 tahun dan sempat terpuruk sekitar 2 tahun. Dia mengalami pembuluh darah pecah sampai batok kepalanya dibuka untuk menyerap badah di otaknya. Sepertinya, dia mengalami stroke lebih parah dari aku. Dan ketika aku pertama kali bertemu dengannya, aku melihat garis pada rambutnya, dan dikatakannya adalah bekas operasi kepalanya ……

Mas Ajie sekarang ini sangat aktif melayani teman2nya sebagai ODHA ( orang dengan  HIV Aids ), justru bukan yang berhubungan dengan stroke. Dan apapun pilihannya, dia sangat semangat dan berbahagia sebagai insan pasca stroke. Dengan lumpuh ½ tubuhnya sebelah kanan seperti aku, dia tetap menjalankan hari2nya dengan bahagia.

Beberapa pasien di rumah sakit tempat aku berobat, banyak sekali orang2 yang terserang stroke dibawah umur 30 tahun. Beberapa ada yang survive tetapi beberapa lagi sangat depresi. Dan justru yang aku tahu di rumah saki itu, untuk orang2 lanjut usia dan terserang stroke, mereka merasa ’sudah saatnya’, tetapi mereka tetap berusaha mengembalikan semangatnya dengan terapi serta terus  tersenyum …..


2. Siapa bilang stroke lebih sering pada laki2?

Ngawur itu! Lah ….. aku perempuan kan? Dan aku menemukan sebanding koq perempuan dan laki2 yang terserang stroke. Mungkin bedanya adalah tentang ‘lingkungannya’ dimana perempuan tidak mengijinkan dirinya sendiri untuk mau mengungkapkan jati dirinya sebagai ’stroke survivor’. Justru menurut sebuah penelitian epidemiologi skala besar oleh Seshadri ( tahun 2007 ), stroke terungkap lebih sering terjadi pada perempuan.

Seperti di dunia pekerjaan atau di dunia2 yang lain, perempuan cenderung ‘menutup dirinya’ atau karena lingkungannya yang tidak mengijinkannya. Tetapi untukku, dalam gender tidak ada perbedaan. Karena aku dibesarkan dalam keluarga modern dan mengerti bahwa gender bukan sebagai halangan, aku selalu mengungkapkan diriku untuk semua hal dalam hidupku, termasuk sebagai insan pasca stroke, perempuan, lumpuh ½ tubuh sebelah kanan tetapi tetap berkarya!

3. Siapa bilang stroke hanya terjadi pada penderita hipertensi?

Faktor2 resiko tinggi untuk stroke adalah banyak hal. Seperti hipertensi ( jelas ), diabetes atau jantung. Bahkan lifestyle seperti kebiasaan meroko, kebiasaan minum minuman keras serta workholic dan tingkat stres ysng tinggi bisa sebagai pemicu stroke!

Tambahan lagi. Seminggu yang lalu ketika aku dan sahabat2 insan stroke yang tergabung dalam sebuah ‘kelompok pendukung’ untuk kongkow2 di rumahku, ternyata aku baru tahu bahwa salah satu sahabatku, pak Didin namanya ( lihat tulisanku Pak Didin, Stroke Survivor yang Sudah Mulai Bangkit dari Keterpurukannya ) terserang stroke karena sebuah EFORIA yang berlebihan, atau  kegiatan yang sangat memacu kesenangan dan adreanalin untuk ‘terlalu senang’. Dan sering kali tubuh kita tidak bisa menerimanya. 

Ya, pak Didin yang sudah berumur 62 tahun ( suka sekali nonton bola ), begadang berhari2 ( walau siangnya tidur ) dan sangat bersemangat nonton bola, mendadak terserang stroke …..

Hipertensi memang sebuah faktor utama yang mengakibatkan terserang stroke, tetapi bukan satu2nya seseorang bisa terserang stroke. Apa lagi di jaman sekarang ini, lifestyle merupakan momok bagi banyak orang sebagai faktor resiko.

4. Siapa bilang stroke tidak bisa dicegah?

Siapa bilang? Jika memang seseorang mempunyai faktor resiko secara gen ( penyakit2 tertentu ), tetapi dengan hidup sehat dan lifestyle yang baik, akan menghindarkan terserang stroke. Tetapi kebalikannya. Jika seseorang tidak mempunyai faktor resiko sama sekali, apalagi masih muda seperti mas Ajie ( bahkan dia sebagai atlet futsal dengagn pola hidup sehatnya ) tetapi terserang stroke, kemungkinan besar adalah lifestyle yang kurang istirahatnya.

Seperti juga aku. Memang faktor resiko ku sangat jelas ( keluarga hipertensi dan banyak yang stroke ), serta lifestyle yang tidak sehat ( kurang istirahat, malas jaga makanan dan malas ke dokter ), walau aku masi cukup muda, aku bisa terserang stroke berat tahun 2010 lalu …..

5. Siapa bilang stroke tidak bisa diobati?

Wah wah wah …… ini tidak benar sama sekali. Sebuah rumah sakit yang baik, harus mempunyai fasilitas2 yang bisa menjadikan insan pasca stroke tetap menjadi seseorang yang berguna. Bahwa kesembuhan itu bukan hanya secara fisiknya saja, justru lebih ke arah mental. Dan untuk penyembuhan secara medis, serahkan lah kepada dokter2 yang merawat serta doa kepada Tuhan, untuk yang terbaik.

Bagi insan pasca stroke, memang secara fisik otak kita, tidak akan bisa sempurna penyembuhannya, tergantung seberapa besar tingkat atau derajad kecacatan, atau seberapa banyak darah yang keluar dari pembuluh darah otak kita yang pecah. Tetapi justru kesembuhan mental nya lah yang merupakan ‘obat’ bagi insan pasca stroke.

Karena seperti aku, fisikku tetap lumpuh ½ tubuh sebelah kanan, dan aku terus berlatih dengan terapi2 khusus ( dan terus membaik walau harus sabar dan tetap berserah ), tetapi mentalku justru menjadi acuan ssebagai penghimpun energi positif bagi pemulihan fisikku!  

Bahwa fisik hanya sebuah ‘baju’ ( tidak terlalu penting ), tetapi mental adalah ‘jiwa’ ( ini yang TERPENTING! ) ku dalam menempuh hidup di masa depan …..


6.      Siapa bilang stroke adalah akhir dari segalanya?


Aku adalah saksi dan bukti bahwa STROKE ITU BUKAN AKHIR DARI SEGALANYA! Walau secara medis aku dinyatakan hanya bisa berbaring saja, tanpa bisa berjalan apalagi bekerja lagi, tetapi bukti dan saksi hidup ini merupakan hasil dari yang namanya BERSERAH, DOA dan TETAP BERSYUKUR dengan semua yang ada padaku, sebagai insan pasca stroke!

Bahwa aku ternyata bisa mematahkan vonis dokter di Amerika tersebut tersebut dan bukan hanya b=bisa berjalan lagi melainkan tetap bisa bekerja sebagai arsitek, berkarya dan melakukan hobi2 yang menyenangkan serta tetap bisa melayani bantak orang, dengan keterbatasan2 yang ada padaku …..

1385623204240250831
1385623259476064719

Insan pasca stroke yang selalu tertawa dan semangat untuk meraih impian masing2, walau dalam keterbatasan fisik …..

Mitos2 dan issue2 seputar stroke ini, ternyata masih banak terdapat di masyarakat, bahwa di masyarakat2 perkotaan. Mungkin sosialisasi tentang stroke masih kurang, bahkan masih banyak juga yang keluarganya terserang stroke tetapi justru malu untuk medukungnya bahkan malu untuk membawanya ‘keluar dari kepompongnya’. Padahal itu lah yang sangat dibutuhkan bagi insan pasca stroke, khususnya yang masih terpuruk dan depresi.

Dan ketika aku sebagai insan pasca stroke dan keluarga dan sahabat2ku sebagai supportingku untuk pemulihanku, ternyata keindahan dunia bukan terdapat dari kecantikan dan kesempurnaan fisik, tetapi lebih dari pada itu. Yaitu kesadaran bahwa jiwa yang berbesar hati untuk sadar dan mengerti dalam sebuah keterbatasan, tetapi tetap mampu untuk berkarya dan pentingnya melayani bagi sesama ……

1385623117784321844

Mas Ajie, aku, pak Didin, dan pak Windu, semuanya adalah insan pasca stroke. Dibelakang adalah mas Yudha, host ‘Weekend Spirit’ RPK 96.3 FM

Kamis, 21 November 2013

“Tuhanku, adakah yang Lebih Buruk dari Ini ?”

Kamis, 21 November 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti


13850201461770080960
knsfinancial.com
 
Sebelumnya :








Udara dingin, sedingin2nya menyeruak dan menerpa tubuhku yang tidak berpakaian, hanya dipakaikan baju operasi berwarna hijau, ketika asisten2 dokter serta suster2 yang akan membantu untuk melahirkan anakku mendorong brankar tempat tidurku masuk dari ruang persiapan operasi. Aku menggil kedinginan! Dingin! 

Brrrrrrrr …..

Aku seakan masuk ke sebuah ruang ‘jagal’. Dingin, semua berdinding keramik putih. Orang2 disana waktu itu, hanya diam berjalan mondar mandir, mungkin mempersiapkan untuk operasi ku. Mereka meakai cadar dan penutup kepala, pun ku tidak mengenali dokterku, kecuali karena Dr Eriyono sedikit gemuk, jadi aku mengenalinya. Air mataku berhenti mengalir, tetapi tidak hatiku. Justru waktu itu aku merasa,

“Inilah akhir hidupku …..”

Aku dipindahkan ke meja operasi dari brankar tempat tidurku. Dari kasur, aku pindahkan ke meja operasi tanpa kasur. Dingin! Meja operasi itu terbuat dari stainless steel, sebesar satu tempat tidur tunggal, dengan daerah kedua tangan di tambah khusus untuk tangan2ku terbuka lebar, tanpa batas …..

Tubuhku sekarang tanpa pakaian sama sekali siap dioperasi, dengan AC yang luar biasa dingin! Aku diselimuti dengan selimut operasi, juga berwarna hijau. Jantungku berdebar2.  Asisten2 dokter membuat seperti cadar, di atas perutku yang buncit. Sehingga aku tidak akan melihat apa yang dokter2 itu lakukan untuk ‘menyembelih’ perutku! Tuhanku …..

“Mereka mau apa ???”

Seingatku, ada beberapa dokter yang terlibat untuk mengeluarkan bayiku. Dr Eriyono, dokter kanduunganku. Dokter anastesi. Dokter anak. Dokter penyakit dalam karena komplikasi penyakitku, hipertensi. Beberapa asisten dokter dan suster yang membantu. Dua orang pendeta di sisi kanan dan kiriku. Asisten dokter anastesi yang akan membiusku, meminta kedua tangan dan lenganku unyuk lurus  dan mengikat kedua tanganku dengan gasper kecil. Katanya, supaya aku terus tenang jika aku down dan tanganku bisa meraih apa saja dan bisa mengganggu jalannya operasi …..

Jantungku bertambah berdegub. Aku bisa down?? Duh ….. aku bertambah gelisah. Apa yang akan mereka lakukan terhadap kandunganku ?

Aku bertambah kedinginan karena taganku harus diluruskan selurus2nya, dan di ikat erat. Punggungku terus kedinginan karena meja operasi yang dari material stainless steel. Suster melihat aku bergetar kedinginan dan ketakutan, dia mengambilkan selimut yang lebih tebal untuk menutupi tubuhku bagian atas dari atas perut. Tangan dan kakiku sangat dingin …..

“Masih lamakah?? Aku tidak tahan! Kedinginan dan ketakutan!”

Tetapi aku sadar, jika aku down dan stres, tekanan darahku akan naik dan kemungkinan besar bermasalah dan tidak jadi di operasi.

Dokter anastesi itu mendekat padaku. Sepertinya dia tersenyum kepadaku, walau aku tidak melihat senyumannya karena tertutup cadar. Dia minta aku tenang, dan dia akan menyuntikkan obat bius. Dia mengatakan, bahwa operasi ini aku tidak dibius total, tetapi aku hanya dibius lokal!

“What ??? Aku hanya di bius lokal ??? Untuk mengeluarkan anakku, aku hanya di bius lokal ??? 

Astagaaaaa …….”

Aku semakin ketakutan! How come ??

Kata dokter itu, bahwa ( waktu itu tahun 1999 ), ada sistim bius baru. Bius lokal, dan memang kondisi dan keadaanku, aku harus terus sadar, sambil dokter2 mengeluarkan bayiku. Lalu, bagaimana? Bagaimana ?? BAGAIMANA ??? Aku takut …… Tuhan …… aku takut ……

Air mataku membanjir lagi. Doaku sudah tidak mampu mmembendung ketakutanku. Aku sudah terus berdoa, sampai aku tidak tahu lagi, apa yang aku bisa katakan kepada Tuhan dalam doaku! Aku hanya berdoa sambil terus menangis ….. doa dan mennagis ….. doa dan menangis ….. 

Dan doa ku itu juga hanya bisa menyebut nama Tuhan atau Yesus saja …… jika aku ingat, aku hanya bisa menyebut Doa Bapa Kami saja ….. Ya Tuhan …… emosiku memuncak dan aku stres sekali ……

Aku di dudukkan di atas meja operasi. Dengan perut besar membuncit, aku diminta untuk membungkuk, seperti aku mau mencium lutuku jika sedang olah raga. Duh, perutku sakit sekali …. perutku terus mengeras, seakan bayiku mendesak mau keluar! Sakit sekali! Rasa sakit itu terus menderaku ….. terus dan terus ….. 

Tuhanku …..

Kata dokter, obat bius itu disuntikkan di sela2 tulang punggungku, dan terus mengalirkan bius itu ke arah perut bagian bawahku sampai ujung kaki. Cepat sekali bius itu mengalir. Dalam beberapa detik saja, aku tidak merasakan apa2 lagi dari ulu hatiku sampai ujung kakiku. Tubuh bagian bawahku ‘dilumpuhkan’ untuk mengeluarkan bayiku dari dalam rahimku …..

Aku tetap menangis karena sama sekali aku tidak mendukanya. Bukan hanya karena ketakutan tentang kemungkinan besar aku tidak bisa tertolong lagi, tetapi sekarang bahkan lebih dasyat lagi! Tubuh bawahku dilumpuhkan. Aku stres membayangkan perutku di iris, di buka dan di ‘obok-obok’ untuk mengeluarkan bayiku. Lalu perutku di jahit lagi. Aku membayangkan ketika aku SMA, mengoperasi  seekor burung dara dalam tugas Biologi. Bahkan dulu pun aku sampai mengais karena tidak tahan melihat burung dara itu ……

Tetapi justru perut aku sendiri yang akan diiris, di ‘obok-obok’ dan di jahit lagi! Dan apakah tubuh bagian bawahku bisa normal lagi? Aku tidak tahu apakah aku harus percaya? Bagaimana? Otakku menjadi buntu ……
“Ya Tuhan …… apakah yang lebih buruk lagi dari ini, Tuhanku ?????”

Aku terus menangis …..

Dari buku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”

1385020301422050688

Rabu, 13 November 2013

Pemeriksaan dan Terapi bagi Insan Pascastroke

Rabu, 13 November 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti


13843361611130629471
guardianly.com

Janji sembuh dan perbaikan yang cepat bagi banyak penyakit, termasuk pasca stroke, sangat terdengar indah bagi seseorang yang baru mengalami stroke dan bagi keluarganya. Pada realitasnya, banak sekali produk yang diiklankan dengan cara seperti ini. Baik obat2an yang bukan dari dokter, jamu dan herbal, ataupun alat2 mekanis. Semuanya cukup mahal, tetapi belum ada yang terbukti efektif dalam kaitannya dengan stroke.

Walau saat ini, akupuntur, herbal, meditasi, serta musik merupakan terapi alternatif, dan sebaiknya hanya dipertimbangkan untuk mengendalikan beberapa faktor resiko atau sebagai terapi pelengkap dalam fase pemulihan.

Seperti pada banyak artikelku tentang stroke dan kesaksian2ku didalamnya sebagai insan pasca stroke, serangan stroke merupakan ’serangan terhadap otak’. Sebuah ‘penyakit otak’, yang berhubungan dengan pembuluh darah otak dan syaraf2 otak. Sebuah penyakit yang berhubungan dengan otak adalah tidak main2, karena otak adalah ‘nahkoda’ kita, nahkoda makhluk hidup. Sehingga, sangat tidak main2 dalam recoveri dan penyembuhannya.

Otak adalah ‘misteri’. Bahwa mungkin hanya baru sekitar 10% para ahli kedokteran mempelajari otak. Masih banyak yang belum bisa dipelajari, sehingga bagi manusia, otak benar2 masih misteri. Apalagi serangn penyakit yang berhubungan dengan otak. Sehingga, sampai sekarang belum ada yang mampu mengembalikan fungsi otak kita ketika teerserang stroke, seperti aku …..

Seperti yang aku tuliskan diatas, kalangan medispun masih meraba2 dalam penanganan pemulihan anyak penelitian yang dilakukan untuk mengatasi dan menangani pemulihan pasca stroke. Beberapa metoda pun dilakukan untuk ‘penyembuhan’ secara berkala. Dari segi medis, pasti adalah yang utama, tetapi terapi2 alternatif ( baik terapi fisik, herbal, akupuntur dan sebagainya ) bisa membantu pemulihan secara bertahap.

Berapa lama pasien stroke perlu dirawat-inap?

Lama waktunya sebenarnya tergantung dari tingkat keparahan stroke dan jumlah pemeriksaan yang perlu dilakukan.

Seperti aku, aku dirawat di rumah sakit di San Francisco selama 2 minggu, untuk tahap awal. Benar2 awal dari terserang stroke, belajar minum, belajar makan, belajar berbicara, dan sebagainya untuk aku bisa kembali sebagai manusia, sampai aku bisa diterbangkan ke Jakarta.

Kemudian, aku diterbangan ke Jakarta dan dirawat inap selama sekitar 1 bulan di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat, sampai aku yakin untuk bisa ‘hidup’. Belajar duduk, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar menulis, belajar berhitung dan semua jenis pelajaran hidup. Dan pemeriksaan2 pun terus dilakukan. Jadi, aku dirawat inap sekitar 6 minggu sampai aku dan keluarga serta dokter2ku yakin bahwa aku sudah mampu untuk ‘tegak berdiri’ dalam keterbatasan …..

Untuk pasien stroke ringan yang mengalami TIA ( Transient Ischemic Attack ), rata2 perlu rawat inap antara 1 atau 2 hari. Untuk stroke ringan diperbolehkan pulang sekitar beberapa hari saja. Tetapi untuk pasien stroke berat, perlu perawatan sampai berbulan2 untuk pemeriksaan, terapi dan rehabilitasi. Dan biasanya, anggota keluarganya justru diminta menginap di rumah sakit, untuk support si pasien.

Pemeriksaan2 apa saja yang dilakukan?

Yang terpenting adalah pemeriksaan laboratorium ( darah dan urine ), untuk mencari penyebab utama si pasien terserng stroke. Apakah tekanan darah, atau tingginya kadar gula dalam darah atau juga adanya sumbatan2 di pembuluh2 darahnya, serta kemungkinan2 yang berhubungagn dengan pembuluh darah keseluruhan, seperti pembuluh darah jantung. Pemeriksaan2 ini berbeda antar pasien stroke, bergantung banyak hal, karena serangan stroke itu berlainan bagi masing2 penderita.

Dari hasil laboratorium, pemeriksaan secara paralel adalah pemeriksaan otak. Seberapa parahnya otak yang terserang stroke, seberapa parahnya pecah pembuluh darah otaknya, atau seberapa parahnya sumbatan2 karena lemak atau kolesterol di pembuluh darah otaknya. Dengan diagnosis lewat CT-Scan dan MRI ( Magnetic Resonance Imaging ), mesin itu akan merekam citra otak kita dan memperlihatkan ‘irisan’ melintang otak untuk mengungkapkan daerah abnormal ( yang cacat ) di dalam otak si pasien.

138433622220398995
13843362551257978501

Ini adalah otak kiri ku yang sekitar 20% sempat terendam darah. Bahwa hasil ini membuktikan kalau otakku merupakan salah satu serangan stroke cukup parah untuk bisa kembali lagi bepembuluh darah utamarkegiatan sebagai manusia normal. Dikatakannya, secara medis, aku hanya mampu berbaring saja, dan tidak mamp untuk berjalan apalagi berpikir dan bekerja …..

Selanjutnya, pereiksaan advance adalan lewat Ultrasonografi dan MRA ( Magnetic Resonance Angiography ). Pemeriksaan ini digunakan untuk mencari kemungkinan penyempitan arteri atau bekuan darah di pembuluh darah utama di tubuh kita. Terutama, MRA ini berfungsi untuk mengidentifikasi ‘kegiatan’ pembuluh darah di otak.

Pemeriksaan2 ini adalah yang utama. Tetapi jika keluarga pasien menginginkan pasien diperiksa secara mennyeluruh, akan ada beberapa pemeriksaan2 yang lain. Seperti Angiografi Otak ( pemotretan otak dengan sinar X-ray  dan memperlihatkan pembuluh2 darah di leher dan kepala yang akan mengidentifikasikan aliran darah di semua fase ). 

Ada pemeriksaan Pungsi Lumbal ( akan dilakukan jika serangan stroke diagnosisnya belum jelas. Ada juga pemeriksaan EKG atau Elektrokardiografi, yaitu mencari tanda2 kelainan irama jantung sebagai kemungkinan terserang stroke. Kemudian Ekokardiografi, yaitu untuk mencari ‘kerusakan’ struktur jantung seperti kelainan katup atau pembesaran rongga jantung, dan mendeteksi bekuan darah yang bisa penyebab serangan stroke.

***

Ketika serangan stroke terjadi kepada kita, kita pasti tidak atau belum sadar tentang terangsn itu. Keluarga kita pun belum tentu mengetahui nama ’sakit’ itu, apalagi pertolongan pertamanya. Banyak keluarga yang menganggap si pasien terserang ‘masuk angin’ atau apapaun namanya sehingga mengakibatkan lumpuh atau bicaranya ‘pelo’. Sosialisasi memang sangat perlu dilakukan. Itu bukan tugas pemerintah atau medis saja, melainkan kita mencoba melakukannya kepada lingkungan kita.

Dan jika diagnosis akhir dari doter atau rumah sakit bahwa kita atau seseorang dari antara keluarga kita terserang stroke, yang paling utama adalah ‘menyembuhkannya’ lewat jalan medis. Dan terapi2 penunjang sebaiknya berdiskusi dengan dokter syarafnya. Biasanya dokter syaraf akan meganjurkan untuk melakukan terapi2 sesuai dengan yang dianjurkan.

Selain pengobatan dan pemulihan secara medis dan terapi2 yang dianjurkan, sebaiknya tidak dilakukan karena lihat saja, betapa rumitnya otak dan tubuh kita. Walau kita percaya bahwa Tuhan adalah penyembuh segalanya melalui apapun caranya, tetapi jika tidak yakin untuk dilakukan, tetap melihat yang terbaik …..

1384336307108288230
Terapi fisik pertama kali hari ke-2 setelah serangan stroke tanggal 9 Januari 2010 di rumah sakit di San Fancisco.

Terapi fisik, seperti yang aku lakukan sesuai dengan anjuran dokterku, dengan perubahan ‘lifestyle’ adalah hal yang utama untukku. Lifestyle hidup sehat dengan makan makanan yang baik, menguragi stres serta hidup bahagia itu dalah terapiku. Ditambah terapi otakku dengan menulis setiap hari, sangat ‘menyembuhkan’ku sehingga aku bisa seperti sekarang ini, sebagai insan pasca stroke yang lebih berbahagia ……

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks