Artikel Terakhir
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 September 2017

“Disability Awereness Week Session 2” di Central Park : Ruang Inklusi dan Aksesibilitas bagi Disabled pada Fasilitas Umum

Minggu, 03 September 2017 - 0 Comments


By Christie Damayanti

Siapa bilang disabled tidak mampu apa2?
Siapa bilang disabled hanya seorang yang tidak berguna? Dan siapa bilang, disabled itu tidak “berharga?”
***
Tanggal 24 Agustus2917 lalu, kami dari Yayasan Agung Podomoro Land, mengundang 150 orang disabled beserta pendampingnya. Mereka itu mulai dari berumur 8 tahun, sampai diatas 75 tahun, untuk datang dan bersenang2 di Central Park Mall.

“DISABILITY AWARENESS WEEK Session 2”, adalah lanjutan dari acara bertema sama session 1 yang dilaksanakan di Bassura City Mall, 23 April 2017. Lihat tulisanku :


Di Sesi ke-1 ini, kami dari Yayasan CRIDASA (Yayasan Christie dan Sahabat Nusantara), mencoba untuk memberikan motivasi, bahwa disabled pun punya mimpi yang sama. Bahwa disabled pun punya keinginan untuk menjelah dunia, dan kami memberikan tips2 nya, dengan mendatangkan bank2 yang bisa mem-back up, travel biro, komunikasi telepon serta kesaksian2 teman2 disabled.

Even itu pun sekaligus juga melaunching 2 buku terbaruku tentang menjelajah Perancis dan Italy, sambungan dari 2 bukuku yang pertama tentang menjelajang Belanda, Belgia, Swiss dan Liechtenstein.

Pada even sesi ke-2 ini, konsepnya agak berbeda. Jika pada sesi ke-1 hanya beberapa disabled yang berbicara dalam 1 panggung, dengan kesaksian2 yang berbeda, (ada aku sebagai insane pasca stroke, ada Dimas yang disabled tuna netra dan ada Habibie disabled daksa), maka di sesi ke-2 ini kami mengajak kepedulian tentang “Ruang Inklusi dan Aksesibilitas bagi Disabled pada Fasilitas Umum”.

Bahwa untuk bangunan2 umum dan lingkungan, seharusnyalah menjadi sebuah ruang inklusi tanpa diskriminasi, akses bagi penyandang disabilitas dan mempunyai kepedulian dan ‘ramah disabilitas’. Bahwa pemerintah serta pemilik bangunan2 umum, seharusnyalah selalu berpedoman untuk sebuah kepedulian.

Bahwa kaum disabilitas adalah juga warga negara, yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara yang lainnya. Sehingga, kaum disabilitas itu jangan dianggap sebagai warga negara ‘kelas 2’. Mereka mempunyai mimpi yang sama. Mereka mempunyai keinginan yang sama. Cuma bedanya, mereka tidak mempunyai kesempatan yang sama …..

Even “Disability Awareness Week Session 2” ini, diselenggarakan pada hari Kamis 24 Agustus 2017. Mengundang 8 yayasan dan komunitas dengan berbagai jenis disabilitas. Ada KARTUNET (Karya Tuna Netra), dan mereka perform dengan beberapa lagu dengan alat2 musiknya.

Ada yayasan Habibie Afsyah, seorang Habibie yang sangat member inspirasi bagi teman2 disabled yang lainnya, bahkan yang sehat dan normal. Ada YPAC Jakarta, dengan anak2 dan remaja dengan berbagai jenis disabilitas grahita/daksa. Ada Panti Sosial Bakti Luhur, juga Yayasan Amal Mulia, dengan jenis disabilitas tuna rungu wicara.


Dari beberapa yayasan /komunitas, yang berkecimpung di ranah disabilitas netra. Coba di perhatikan foto diatas : teman2 disabilitas netra akan berjalan dengan bergerombol, dan saling berpegangan pundak teman di depannya. Jika hanya 1 orang, dia akan memakai tongkat putih.

Komunitas DBDC (Dream Big Disabled Community), juga merupakan berbagai jenis disabilitas, dan Komunitas Jakarta Barrier. Dan yang terakhir adalah Komunitas Insan Pasca Stroke (IPS), yang merupakan komunitasku yang menghimpun teman2 pasca stroke untuk bisa saling mendukung dan berinteraksi.

Aku dengan 2 sahabat ku IPS, dalam Komunitas IPS. Mas Aji, yang terserang stroke pada waktu berumur 19 tahun, dan Pak Didin, IPS yang berumur 74 tahun (yang tertua dalam even ini) …..


Teman2 dari  DBDC (Dream Big Disabled Community). Tetap semangat!!! Sebagian dari mereka menjadi cacat secara tiba2 karena sakit atau kecelakaan ……

Total semua yayasan dan komunitas ini sebagai peserta (disabled) ada 93 orang dan pendamping mereka ada 57 orang. Sehingga, semua berjumlah 150 orang. Dimana untuk kaum disabilitas grahita, yang umumnya adalah anak2 dan remaja (ada juga beberapa teman2 yang sudah dewasa), mempunyai pendamping masing2.

Aku berbincang dengan teman2ku disana. Tetap semangat, tetap menginspirasi …..

Yayasan Bhakti Luhur, misalnya. Dengagn berbagai jenis disabilitas, itu termasuk downsyndrom, hyperactive seta teman2 autisme dan lambat belajar, mereka benar2 membutuhkan penanganan khusus. Mereka berumur anak2 sampai remaja (8 – 19 tahun). Dan mereka mempunyai pendamping yang memang mempuyai kepedulian khusus.


Yayasan Bhakti Luhur, sebuah yayasan Katolik yang dipinpin oleh seorang Suster Cicilia S.Pd. Dengan disabilitas campuran dari anak2 sampai remaja dan berbagai jenis disabilitas

‘Jakarta Barrier Free Tourisme’, sering menjelajah Jakarta bersama Bp Ahok, waktu itu, terdiri dari teman2 tuna daksa, pemakai tongkat dan kursi roda.


Teman2 dari Yayasan Habibie Afsyah, DBDC dan Jakarta Barrier

Dari YPAC Jakarta, merupakan teman2 dengan berbagai jenis disabilitas, berumur antara remaja sampai dewasa. Dan mereka sudah mampu mandiri dalam beberapa jenis kegiatan. Sebagian dari mereka adalah disabilitas daksa, dengan kondisi paraplegi, hemiplegic, spastic diplegi serta cerebral palsy. Mereka adalah jenis disabilitas yang rentan untuk ‘tidak bisa sembuh’ dan tidak/kurang mampu untuk beradaptasi dengagn lingkungan. Tetapi pada even ini, sungguh …… aku melihat mereka sangat bersuka ria, ketika aku menyapa mereka serta tertawa dan ngobrol bersama mereka …..


YPAC Jakarta Kebayorn Baru, berkecimpung menangani anak2 dan orang dewasa disabled campuran, dari berumur remaja sampai dewasa …..

Bahkan dalam Yayasan Habibie Afsyah selain Habibie sendiri, seorang anggotanya, Rodhi mampu melukis wajah dengan cepat dan lukisan wajah2nya sering membawanya sebabi inspirasi.


Rodhi, dari Yayasan Habibie Afsyah, disabilitas daksa, yang melukis wajahku …..
***
Mereka dijemput dari beberapa titik kumpul dengan beberapa bus sewa, menuju Central Park. Jam 10.00 pagi, mereka sebagian besar sudah sampai dengan berkumpul di taman Tribecca untuk beristirahat, dan pembagian kelompok.


Beberapa yayasan/komunitas  yang sudah datang di taman Tribecca, Central Park Mall

Kelompok A, B, C merupakan kelompok pemakai kursi roda. Dengan masing2 pendamping dan petugas yang memberikan route2 khusus selama 1 jam. Aku sendiri, sebagai IPS pemakai kursi roda, ikut dalam Kelompok A, yang berjalan2 sekeliling taman Tribecca. Bahwa ‘ramah disabilitas’ pun tidak hanya dalam mall saja, tetapi bahkan di taman pun sangat akses bagi disabilitas …..

***Jelaslah, Central Park dan Tribecca merupakan bangunan umum yang benar2 ‘ramah disabilitas’, karena dulu aku dan tim lah yang mendesain dan membangunnya. Bahkan dala mendesain, tahun 2007 aku berada dalam’kecacatan’ karena kaki kiriku patah jatuh dari salah satu proyekku. Sehingga, aku bisa memastikan bahwa Central Park Mall dan Tribecca memang benar2 ‘ramah disabilitas’***


Aku dalam Kelompok A. Seseorang relawan dari sebuah komunitas internasional, mba Nita, mewawancaraiku, sambil berjalan

Kelompok D dan E, masing kelompok disabilitas rungu dan wicara (untuk Kelompok D) dan disabilitas grahita (untuk Kelompok E). Dimana Kelompok E, karena sebagian besar anak2 dan pra-remaja dengan kondisi mereka yang (mungkin) sulit untuk beradaptasi, mereka hanya bermain di taman saja dengan berbagai macam permainan, untuk selanjutnya naik ke lantai 4 untuk acara intinya.

Selama 1 jam, semua kelompok berjalan2 di mall dan taman, dan 1 jam kemudian mereka naik ke lantai 4, disebuah ruangan khusus. Ada sambutan2 dari beberapa petinggi Agung Podomoro Land dan Central Park Mall, ada performance KARTUNET dengan beberapa lagu yang membahana, ada story-telling untuk anak2 dan remaja sebagai motivasi, ada juga sambutan2 atau sedikit reaksi dari teman2 disabled. Diminta dari ‘Jakarta Barrier, untuk merespon kegiatan ini.


Kapasitas ruangan 200 orang, tetapi karena animo masyarakat yang cukup besar, mereka masuk ke ruangan ini lebih dari 250 orang ……

Untukku sendiri, aku diminta sedikit bicara tentang motivasi sebagai IPS yang sudah hampir 8 tahun hidup dengan ½ tubuh sebelah kiri saja. Bahwa selama ini aku tetap mampu berkegiatan lewat berbagai jenis kehidupan. Sebagai pekerja dan karyawan di Agung Podomoro Land, sebagai penulis dengan 13 buku sekarang ini, sebagai filatelis dan exhibitor dan sebagi motivator di banyak media.


Siapa bilang disabled tidak bisa apa2???

Jika aku dengan tubuh kiriku saja bisa menjalankan hidup ini, mengapa yang lain tidak bisa (atau tidak mau)? Karena aku sangat percaya, ketika Tuhan masih memberikan kita hidup di dunia ini sampai sekarang, walaupun mungkin kita bermasalah dengan fisik kcacatatn atau apapun yang ada dari kita, berarti TUHAN MASIH PUNYA RENCANA UNTUK KITA ……

Begitu juga teman2 dan sahabat2 disabled dimanapun. Bahwa ketika Tuhan memberikan kelemahan dan tubuh cacat dan tidak sempurna, Tuhan akan memberikan kelebihan yang kain untuk kita. Karena Tuhan adalah Maha Kuasa dan Maha Adil …….

Jadi, siapa bilang disabled tidak mampu berbuat apa2??

Acara ditutup dengan makan siang bersama, narsis dan foto2 bersama dengan santai, serta pembagian goodybag bagi semua peserta dan tamu2 undangan. Dari total undangan berikut peserta 200 orang, ternyata kapasitasnya lebih dari 250 orang!

Puji Tuhan …..


Berfoto bersama sebagian Yayasan Agung Podomoro Land dan teman2 disabled …..


Tim inti dan panitia even “Disability Awareness Week Session 2 – Central Park” :
Valentino, Francisca, Dian, Patrisia, Narti dan Hans
***
“Disability Awareness Week Session 2”, ini, jika Tuhan berkenan akan dilanjutkan di sesi ke-3, ke-4 atau ke-5. Semuanya tergantung dari kepedulian dan karya nyata kita semua. Bahwa teman2 disabled itu tetap warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, tetapi mereka juga membutuhkan kepedulian.

Jika tidak ada yang peduli pada mereka, bagaimana mereka mampu untuk melakukan nya? Karena memang mereka membutuhkan bantuan, termasuk juga aku, sebagai bagian dari kaum disabilitas.

Dan bantuan itu bukan hanya sekedar berupa kepedulian saja, tetapi "karya nyata" untuk membawa teman2 disabled mampu belajar dan berkarya, bagi dunia …..


Dengan ibu Eva Kristanti, Manager Bassura City Mall dan tim nya, tempat aku mengadakan even “Disability Awareness Week Session 1 – 23 April 2017.

Rabu, 14 September 2016

‘Barang Jadul’ vs Teknologi Satelit, Nyambungkah?

Rabu, 14 September 2016 - 2 Comments



By Christie Damayanti


Bank Rakyat Indonesia. Jelas2 BRI merupakan bank milik rakyat Indonesia. BRI ingin selalu merangkul rakyat Indoesia, padahal Indonesia sangat besar! Dari sekitar 13 ribu pulang sepanjang Nusantara, tentulah tidak gampang untuk siapapun menjangkau Indonesia.

BRI adalah sebuah bank yang ternyata mempunyai keinginan yang sangat luar biasa. Dalam kenyataannya, Direktur Utama BRI, Sofyan Basir, berinisiatif untuk mengembangkan teknologi satelit untuk bisa menjangkau seluruh lapisan masyaraat Indonesia, yang pastinya semakin besar nasabah bisa menjangkau bank ini, walau di ujung hutan Papua …..

Sekaligus, teknologi satelit ini untuk mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi Ekonomi Asean (MEA). Teknologi satelit BRI ini, dinamakan BRIsat.

Dengan konsep ini, pastilah tejadi banyak kerjasama2 dengan banyak instansi. Tidak gampang untuk “memperkenalkan” sebuah teknologi, yang nama ‘satelit’ pun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak pernah mendengarkannya. Sehingga, ketika BRIsat diluncurkan, promosi2 terus juga di luncurkan, lewat apapun, untuk memberikan informasi2 yang selengkap2nya untuk seluruh masyarakat dunia!

Salah satunya, lewat PT Pos Indonesia.

Mengapa Pos Indonesia yang (salah satu) dipilih oleh BRI, untuk mempromosikannya?

Sebenarnya, aku tidak tahu secara pasti, tetapi menurutku sendri sebagai filateli, Pos Indonesia merupakan bagian terkecil untuk memberikan infomasi secara menyeluruh lewat prangko. Dan prangko adalah system terkecil yang bisa dilihat, untuk berkomunikasi lewat surat …..

Aku tidak tahu, apakah ini benar atau salah. Tetapi yang jelas, pada kenyataannya prangko sangat tepat untuk mempromosikan. Selain bisa dilihat dan di pegang, prangko ada di setiap kota sampai ke desa2 Indonesia. Harganya sangat terjangkau. Bukan hanya untuk mengirim surat, tetapi juga bisa dijadikan hadiah dan benda2 koleksi.

Dengan adanya BRIsat, menurut yang aku baca dari berbagai referensi, ternyata pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan, semakin meningkat.
***
Selesai ah …. dengan cerita tentang BRIsat nya. Hanya informasi, mengapa Pos Indonesia bekerjasama untuk mendesain prangko seri satelit, sesuai dengan yang aku pikirkan.


  
Full sheet prangko dan souvenir sheet

Sekarang, bagaimana dengan kerjasama antara BRI dengan Pos Indonesia?

Seperti yang aku sudah tuliskan diatas, Pos Indonesia merupakan salah satu instansi yang memang mampu untuk ‘membawa’ BRIsat melanglang buana untuk merangkul indonesia kearah yang lebih baik. Pos Indonesia mempunyai 6 desain prangko seri satelit, masing2 dengan nominal 4000 Rupiah, sehingga total dalam 1 full-sheet seharga 96.000 Rupiah.

Hmmmmm …..

Mungkin untuk sebagian orang, harga ini cukup mahal untuk sebuah full-sheet, tetapi ketika kita berkomitmen untuk menjadikan prangko Indonesia sebagai ‘tuan rumah’ di negara sendiri, nilai tersebut bukan sebagai sesuatu yang  memberatkan, toh prangko ini memang sebagai tanda bayar komuniasi melalui surat menyurat.

Dari desainnya, Pos Indonesia benar2 memberikan sensasi teknologi. Satelit adalah sebuah teknologi, dan kontras dengan keberadaan sebuah prangko.

Secara ‘seni’, warna biru keungu2an memang bisa melambangkan ‘langit biru’, tetapi dengan warna keunguan, langit biru menjadi keunguan seperti memasuki dunia yang lain. Dunia ‘keluar dari langit biru’, menuju luar angkasa ……


Sampul Hari Pertama (SHP) seri satelit

Dan secara esensi keserasian, antara prangko dan teknologi sebenarnya akan sedikit aneh bagi beberapa orang diluar sana. Tetapi disinilah letak ‘keserasian’nya.

Ya …. Dalam hal ini, prangko dipandang sebuah benda jadul,  yang hanya bisa dipakai untuk membayar komunikasi lewat surat menyurat. Benda jadul ini, ternyata berkolaborasi dengan teknologi super modern. Sebuah ironi sebenarnya, jika kita sadar bahwa ternyata kolaborasi antara prangko sebagai benda jadul, dengan teknologi satelit, hasilnya adalah keserasian.

Dalam hal ini, Pos Indonesia terus berinovasi untuk mengkolaborasikan banyak hal, sehingga konsep komunikasi yang sangat sederhana pun (yaitu surat menyurat), bisa tetap sejajar dengan komnikasi tingkat luar biasa modern!

Aku sendiri tidak tahu dengagn persis, benda2 apakah yang berada dalam desain prangko seri satelit ini. Tetapi yang aku tangkat, dunia satelit membuat prangko2 sebagai benda jadul, mempunnyai efek dan sensasi tersendiri.

Seri satelit saat ini (di beberapa tahun sebelumnya ada beberapa desain seri satelit Indonesia dalam prangko), pastinya tetap ada desain SHP (Sampul Hari Pertama)nya, SS (souvenir sheet) atau turunannya yang lain.

Nantinya di launching seri satelit ini akan ada di Gedung Sate di Bandung pada tanggal 27 Sepember 2016. Dan semuanya akan di distribusi kan untuk seluruh Indonesia sampai ke pelosok2, dan bisa sebagai alat bayar berkomunikasi lewat surat menyurat, atau sebagai benda2 koleksi, untuk filatelis2 seperti aku.

Sekarang,

……. aku tidak pernah sabar untuk menantikan penerbitan seri2 baru prangko indonesia ……. !!!


Menunggu sampai tanggal 27 September 2016? Ga sabarrrrrr ….. hihihi …..

Rabu, 01 Oktober 2014

Aksiku [Kami] untuk Indonesiaku, Mana Aksimu?

Rabu, 01 Oktober 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti
14122368361667240646
Dokumentasi pribadi
Proposal kami untuk kegiatan APEC for Women 2013 di Bali - “Healthy & Safe Internet Movement for Children and Women”
Untukmu Indonesiaku …..
Ketika beberapa teman lama ku sering mencurahkan hatinya tentang bagaimana mereka berjuang melawan orang2 yang tidak mereka kenal dengan baik lewat dunia maya, yang menteror mereka dengaan berbagai cara, aku sangat prihatin mendengarnya. Dan keadaan ini terus memuncak, sampai dunia maya ( yang negatif ) menjadi ‘trend topic’ di dunia, sampai di Indonesia hampir setiap hari terdengar berita tentang kejahatan dunia maya yang justru berkembang di dunia nyata.
Internet memang mempunyai 2 mata pisau, positif dan negatif. Kalau yang positif, kembangkanlah. Karena internet adalah dunia masa depan. Dan yang negatif ini justru membangkitkan rasa ingin tahu, terutama anak2 dan remaja. Sehingga, sebagai orang, masyarakat bahkan negara, harus mengantisipasi nya, supaya mereka tidak terjerumus dini.
Keprihatinan ini membuat aku dan Valentino terus berpikir untuk mencoba melakukan antisipasi diri bagi anak2 dan remaja. Karena kami berdua pun masing2 mempunyai anak2 dan remaja juga, yang harus dilindungi. Jadi, mengapa kita tidak bersama2 melundungi dan melayani anak2 dan remaja kami, termasuk anak2 dan remaja generasi muda Indonesia, dalam hal internet?
Valentino yang memang salah seorang pakar ahli Indonesia di bidang IT, sangat antusias untuk memulainya. Bahkan dia sudah memulainya sejak belasan tahun lalu, ketika dia memang sedang gencar untuk dunia mata. Dan dia sudah memprediksi masalah2 ini, sejak belasan tahun lalu.
Aku sendiri yang sebenarnya gaptek di bidang IT dan dunia maya, dengan terus menerus belajar dari Valentino, lebih antusias lagi dibanding dia, karena aku memang terfokus untuk pelayanan-nya. Sehingga, kolaborasi kami, Valentino yang pakar IT dan aku sebagai pribadi gaptek di dunia IT dan dunia maya tetapi ingin terus berkarya lewat apapun dan bagaimanapun, ( mungkin ) bisa sedikit berkiprah untuk membangun negeri …..
Jadilah kami membentuk sebuah komunitas bernama IDKITA Community, berbasis edukasi untuk anak dan remaja ( sampai di bawah 18 tahun ), dengan anggotan inti ( sampai sekarang ) adalah Valentino sebagai koordinator umum, aku sebagai humas ( hubungan masyarakat ) dan mba Deasy Maria sebagai sekretaris umum. Dan banyak anggota yang terbagi di region2 seluruh Indonesia, termasuk beberapa negara. Kesemuanya adalah Kompasianer.
Bulan Mei 2012 lalu, IDKITA Community, berkolaborasi dalam ikatan MOU dengan Kompas.com. MOU itu ditanda tangani oleh Valentino sebagai koorsinator umum dan Bp Taufik H.Mihardja ( alm.) dari Kompas.com. Nama kami berubah menjadi IDKITA Kompasiana. Dan kegiatan kami terus berlangsung sampai kami mendapatkan kesempatan bersama membangun negara lewat 3 kementerian RI.
Lihat tulisanku :
1412237020276005642
14122371411597429517
Karena ini adalah komunitas berbasis komunikasi dan telematika, sudah barang tentu kami pertama kali mendatangi Kementrian Kominfo. Dibantu oleh sahabat2 kami yang sudah dahulu mengenal kami lewat hobiku yaitu filateli, IDKITA Kompasiana diterima dengan baik dalam divisi Kominfo bidang telematika, Ibu Mariam Barata sebagai direkturnya. Dan kegiatan kami semakin banyak dan besar. Bahkan keluar kota dan memotivasi serta mengedukasi anak2 dan remaja lewat sekolah2 dan komunitas2 berbagai tempat. Seperti Karang Taruna, pengajian, di Gereja dan Mesjid, bahkan kami sempat sharing dan mengedukasi lewat ibu2 arisan serta di dalam bus kota! Karena anak2 dan remaja itu akan lebih dekat dengan ibu nya yang mendidiknya.
Lihat beberapa kegiatan IDKITA :
Setelah itu, kami mulai dikenal lewat kegiatan2 kami yang nyata dan bukan basa basi. Membangun negeri ini harus dengan hati dan tidak melulu menjadi keuntungan. Karena di komunitas kami ini, yang memang beritanya tidak ’seksi’, tidak dikenakan biaya sama sekali untuk kami datang kemanapun. Yang ada kami mendapatkan berbagai sponsor dan dananya 100% kami kembalikan lagi untuk pelayanan ini.
Kami sudah berbicara untuk mengedukasi dan memotivasi ke sekolah2 PAUD, SD, SMP, SMA banhkan Universitas, seperti UGM, Atmadjaya Yogya dan Stekpi Yogyakarta. Bukan hanya anak2 dan remaja serta pemberdayaan perempuan saja, tetapi kami ingin mengajak mahasiswa2 itu untuk menduplikasi konsep2 kami, dan melakukannya seperti kami kepada adik2nya. Bahkan kami memotivasi mereka dari kecil serta guru2 mereka untuk bisa memanfaatkan teknologi sebagai kegiatan positif. Seperti menulis, bermusik atau filateli berteknologi.
Lihat tulisanku tentang IDKITA di Luar kota  : …..
14122376811936119247
1412237747415244275
IDKITA panggung megah, berbicara di STIE YKPN Yogyakarta. Sebelum acara dimulai, persiapan diskusi
14122378351454259046
14122379691234993427
IDKITA bersama dengan Ass Menteri ( waktu itu ), Prof. Kalamullah Ramli ( sekarang Dirjen PPI Kominfo )
Dari Kementrian Kominfo, kami merambah ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( KPP&PA ). Bertemu dengan Ibu Linda Gumelar menjadikan kami semakin dikenal, untuk terus bisa mengedukasi generasi muda, dalam hal teknologi. Karena teknologi itu adalah dunia masa depan generasi muda.
Bahkan dari Ibu Linda Gumelar lah, IDKITA Kompasiana merambah ke dunia internasional, ketika kami diundang beliau untuk masuk ke kegiatan APEC for Women, di Bali awal September 2013 lalu. Dan kami berkenalan dengan perempuan2 hebat di banyak negara. Dimana beberapa negara ( Rusia, Taiwan, Australia dan Amerika ) masih berkomunikasi lewat email. Mungkin ini adalah awal dari kolaborasi kami kedepannya.
1412238072378890448
14122381641955998922
Berdiskusi dengan Bu Mariam Barata di ruangannya, bersama Valentino dan Chia ( IDKITA ). Serta Sedikit mengobrol dengan Bp Ashwin Sasongko.
1412238230331824638
Di ruang Mentri bersama denan Bu Linda Gumelar. Lihatlah, tangan kiriku masih tertutup dengagn perban putih, karena waktu itu aku masih harus dirawat di Rumah Sakit, tapi diizinkan oleh dokter untuk bertemu dengan Bu Linda. Dan selang infusku, sementara dicabut dahulu ……
Lihat tulisan2ku :
14122383321237343327
1412238380879196692
Bersama dengan Ibu Linda Gumelar di “APEC for Women 2013″ di Bali
Sebelum itu, IDKITA Kompasiana juga sukses menyelenggatakan Seminar Nasional “Peranan Ibu di Era Digital” Bersama dengan Kementerian Kominfo dan Kementerian KPP&PA, mensukseskan seminar nasional ini yang dihadiri semua istri2 gubernur 34 propinsi dan anak2 dan remaja kita ( IDKITA Remaja ) berperan aktif untuk membantu para pejabat itu untuk mendownload program2 parenting di gadget2 mereka. Dan setelah itu, kami di undang untuk talk-show dengan Bu Mariam Barata tentang Seminar Nasional tersebut …..
1412238497211229284
14122385581354167784
Aku dan pendukung IDKITA ( Kompasianer ) dan IDKITA Remaja …..
Dalam seminar itu, kami juga melaunching buku IDKITA yang pertama, untuk juga dibawa pulang oleh pejabat2 34 propinsi, dan diharapkan mereproduksi cara kami untuk mengedukasi dan memotivasi masyarakat di daerah masing2.
14122386221850776669
14122387032060313078
Dan basis kami yang awalnya khusus untuk teknologi IT dan internet bagi anak2 dan remaja, kini kami masuk kepada edukasi pembedayaan perempuan, juga tentang teknologi. Dimana dari APEC ini, kami berkolaborasi dengan Kowani dengan Ibu Dewi Motik sebagai Ketua Umum KOWANI. Bahkan kami menandatangani MOU untuk bekerja sama demi generasi muda Indonesia.
14122388471385841047
1412238889491104764
Valentino, sebagai koordinator umum IDKITA menandatangani MOU dengan Bu Dewi Motik, ketua umum Kowani
Oya, IDKITA Kompasiana sudah merangkul anak2 dan remaja kami untuk bergabung dengan IDKITA Remaja, sehingga kami bisa menularkan dan regenerasi awal untuk kegiatan2 kami. Dan IDKITA Kompasiana dengan IDKITA Remaja pun sudah mendapatkan penghargaan di Kompasianival 2012, sebagai salah satu Komunitas yang bermanfdaat bagi masyarakat.
14122389592001169727
14122390862141021517
IDKITA Remaja dengan Bu Mariam Barata di Kompasianival 2012 dan penghargaan kepada IDKITA  sebagai “Komunitas yang paling berjasa di Media Sosial”. Dan Dennis ( anakku yang besar ) berada didalamnya ( foto dibawah paling kanan ) …..
Remaja Indonesia pun ternyata sangat peduli dengan bangsanya. Terbukti IDKITA Remaja mampu untuk menjadi Duta Insan Nasional, yang baru pertama kali diadakan waktu itu. Dengan 3 hari di gembleng untuk ‘melek’ ( bukan hanya pintar gadget dan dunia maya saja, melainkan lebih ’smart’ dalam penggunaannya ).
14122395222095883716
1412239664830387333
20 remaja finalis Duta Insan 2013 dan Michelle ( anakku yang kecil ) bersama dengan Pak Tifatul dan pak Ashwin Sasongko
Dari situ, tidak membuat kami hanya sekedar berbangga diri. Justru kami semakin terpacu untuk terus melayani negeri. Kami mulai merambah lagi ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan kami menjadi nara sumber tetap di Radio Edukasi 1440 AM tiap hari Selasa jam 10.30 - 12.00, sejak awal tahun 2013. Biasanya Valentino lah yang siaran, mengajak banyak nara sumber yang lain. Semakin bertambah banyak lah kegiatan pelayanan kami untuk Indonesia, sampai sekarang ini.
Awal tahun 2014, kami berkolaborasi dengan provider Indosat, untuk berbakti bagi negeri. Kami semakin meluaska jaringan edukasi ke luar kota sampai membangun jaringan internet di pelosok2 desa tertinggal. Dan Valentino lah yang menjalankannya, secara fisik.
Bulan Februari 2014 dan Juni 2014 kemarin, berkolaborasi dengan Indosat, Kementrian Kominfo dan Kowani serta beberapa komunitas disabled dan pasca stroke, kami menggelar Seminar Nasional dengan tema “ICT for Disabled”. Ya, fokus kami bertambah lagi untuk melayani kaum disabled, khususnya kaum muda disabled, dalam banyak hal, untuk menunjang masa depan disabled muda Indonesia lebih baik, di bidang pendidikan, pekerjaan dan sarana2 fisik kota.
1412239770508158692
14122398511241207945
“ICT for Disabled 1″ dan “ICT for Disabled 2″ di Indosat - Februari dan Juni 2014
Dan yang terakhir di pertengahan tahun 2014 ini, kami diminta untuk mengisi beberapa talk-show di KOWANI dan IWAPI Fair. IDKITA bersma dengan komunitas IDCC ( Indonesia Disabled Care Community ) mencoba mengedukasi dan memotivasi untuk saling memahami tentang kebineka-ragaman masyarakat Indoneisa. Dan karena kami berbasis teknologi, semuanya memang selalu berhubungan dengan internet dan dunia maya …..
1412239920953108880
14122400101775763039
Valentino dan aku dalam IDKITA serta mba Novitha Tandry, sebagai nara sumber juga, dalam acara bersama KOWANI ….
Karena gejolak politik masih tidak menentu, IDKITA cukup merasakannya, karena kami memang bekerjasama dengan beberapa Kementerian. Apalagi beberapa personil disana sudah ada yang masa jabatannya habis, sehingga kegiatan IDKITA sekarang ini hanya kegiatan rutin saja, yaitu siaran di Radio Edukasi 1440 AM serta kegiatan2 mengedukasi masyarakat luas di berbagai daerah, lewat sukarelawan IDKITA di seluruh Indonesia.
***
Jadi, siapa bilang aku sebagai perempuan dalam keterbatasan tidak bisa berkarya? Siapa bilang aku tidak bisa membangun negeri? Memang bukan sebuah karya besar seperti pahlawan2 bangsa, tetapi kupikir sedikit karya kecil itu tetap akan bisa membuat negeri bertumbuh dengan subur. Dan itulah yang aku lakukan, sesuai dengan kemampuanku, selamanya …..
Ratusan artikel tentang kegiatan2 IDKITA dan ratusan artikelku tentang ‘Internet dan Gadget’, sudah aku himpun dalam Fan Page dengan tema Peduli ‘Internet Sehat dan Aman’.
Mari kita tetap bersama membangun negeri tercinta ……
Jayalah negeriku ….. jayalah Indonesiaku …… Tuhan berkati kita semua!
Salam IDKITA ……

Jumat, 08 November 2013

Penandatanganan MOU antara IDKITA dengan Kowani untuk Pelayanan Anak-anak dan Remaja

Jumat, 08 November 2013 - 0 Comments


By Christie Damayanti

13838841581554684893

Penandatanganan MOU antara IDKITA ( Valentino, Koordinator, Komandan ) dengan Kowani ( Ibu Dewi Motik, ketua Umum )

Sebelumnya :



Siapa yang bilang bahwa IDKITA ‘melempem’ dalam kegiatan2nya?  Ah, itu hanya perasaanmu saja ;) hihihi …..

Justru setelah IDKITA diundang oleh Ibu Linda Gumelar sebagai delegasi Indonesia dalam APEC for Women 2013 tanggal 6 sampai 8 September 2013 lalu : lihat parade tulisanku tentang ini Bermula Hana Menulis di Kompasiana, Berkarya lalu Meluaskan Jaringan di Dunia Internasional, Aku Tidak Tahu Kemana Tuhan Mau Membawa Kita, “Keep in Touch, Sista” serta Memanfaatkan Peluang Perempuan Indonesia di APEC Women 2013 di Bali. IDKITA banyak membuka kerjasama dengan berbagai institusi. 

Beberapa komunitas dan pimpinan lembaga meminta IDKITA untuk bekerjasama dalam forum pemberdayaan perempuan dalam mensejahterakan keluarga, khususnya anak2 dan remaja dalam bidang teknologi ( internet ). Diantaranya beberapa provider telpon seluler lewat program2 baru mereka dan Direktur BNI Bapak Gatot M. Suwondo ( lihat tulisanku Bapak Gatot M.Suwondo CEO BNI 46 : Siap Mendukung Program-program IDKITA Kompasiana ).

Bahkan bu Dewi Motik selaku ketua umum Kowani yang membawahi sekitar 15.000 organisasi wanita di seluruh Indonesia, meminta  kami untuk SEGERA melakukan MOU! Apalagi ketika bu Dewi Motik melihat sendiri, betapa suksesnya even pemilihan dan penganugerahan Duta Insan ( Internet Sehat dan Aman ) Nasional 2013 awal minggu ini ( lihat tulisanku Taraaaaaa ….. Terpilihlah Sudah ‘Duta Insan’ Nasional 2013 ) dengan Kementerian Kominfo yang salah satunya IDKITA bertugas sebagai tim online yang menjaring, seleksi, membina sampai 20 finalis dari 1200 pendaftar. 

Valentino sebagai perwakilan IDKITA Kompasiana di dalam kepanitian namun di backup oleh beberapa relawan IDKITA lainnya untuk melaksanakan tugas mengelola situs blog DUTA INSAN, dimana banyak tulisan remaja di publish di sana.

Setelah selesai semua, kemarin Kamis tanggal 7 November 2013, Puji Tuhan sudah terlaksana penanda-tanganan persetujuan dalam MOU selama 2 tahun. Dimana IDKITA diberi ‘mandat’ untuk mensosialisasikan ‘Internet Sehat dan Aman’ di depan forum wanita seluruh Indonesia, yang tergabung di dalam Kowani. IDKITA akan berbicara di depan mereka minimal setiap 2 minggu sekali selama 2 tahun ( boleh saja setiap minggu dan Kowani akan memfasilitasi tempat dan undangan di Kantor Pusat Kowani di Jalan Imam Bonjol, Menteng ), dengan aturan2 yang sudah dituangkan pada MOU tersebut. Jika memang kurang waktu dan ingin terus bekerja sama, MOU itu bisa terus diperpanjang.

13838841882043134663

Suatu prestasi yang sangat membanggakan, ketika komunitas kami mampu ‘menembus’ dunia internasional dalam APEC Women 2013 dan bekerjasama dengan Kowani yang dibelakangnya ada sekitar puluhan juta perempuan Indonesia yang tergabung dalam sekitar 15.000 organisasi wanita seluruh Indonesia! Puji Tuhan!

13838842172036183580
13838842502052359309

Ketika kami membentuk komunitas ini, impian kami tidak muluk. Hanya ingin berkarya dalam teknologi. Lama kelamaan, kami lebih memfokuskan diri untuk pelayanan anak2 dan remaja, juga dalam teknologi. Berkembang, ketika kami mulai memperhatikan  masalah-maslaah yang terjadi di kalangan anak2 dan remaja masih dibawah umur dalam pemanfaatan TIK (teknologi informasi dan komunikasi), dimana penanggu-jawabnya adalah orang tua, khususnya ibu2 mereka. Sehingga, kami masuk juga ke dalam Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, selain dengan Kementrian Kominfo dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

IDKITA juga selalu berbicara di Radio Edukasi Pustekkom 1440 AM dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, setiap hari Selasa jam 10.00 sampai jam 12.00 dan setiap Kamis jam yang sama untuk ‘Bedah Buku On-Air’. Bahkan segera, IDKITA akan lebih bekerja sama dengan melibatkan anak2 dan remaja2 itu sendiri dalam sebuah rangkaian kegiatan rutin yang pasti dapat dinikmati oleh semua orang di seluruh Indonesia, SEGERA!

Kegiatan2 IDKITA semuanya bersifat sosial. Semuanya bersifat pelayanan dalam Tuhan, sejak terbentuknya sekitar awal tahun 2012 lalu ( hampir 2 tahun terbentuk ). Dalam pelayanan ini, kami sama sekali tidak mencari uang, murni sosial. Jika kami diundang untuk berbicara di semua komunitas, baik sekolah2, komunitas keagamaan, pengajian, arisan, karang taruna atau apapun, jika dalam Dejabotabek selama mobil kami bisa mengantar, semuanya tanpa biaya. Jika ke luar kota, tentulah kami akan menggandeng rekanan atau sponsor untuk biaya2 tersebut ( bari transportasi dan akomodasi ), dan tetap saja kami dalam pelayanan dalam Tuhan tanpa keinginan kami untuk sebuah nama atau keuntungan materi semata.  

Satu2nya keuntungan kami adalah, mendapatkan berkat Tuhan yang luar biasa ketika kami bisa mendapatkan pertemanan dan persahabatan dalam menuju masa depan yang lebih baik.

Yang jelas, IDKITA sama sekali tidak pernah ‘omdo’, alias ‘omong doang’. Dalam doa dan dukungan sukarelawan serta lingkungan, IDKITA terus melaju demi mencapai masa depan Indonesia lebih baik. Dan semua yang kami lakukan adalah demi Kemuliaan Nama Tuhan ……

Kembali soal penandatanganan MOU antara IDKITA dengan Kowani, keinginan kami sangat jelas adalah pemberdayaan kaum perempuan untuk membentuk keluarga khususnya anak2 dan remaja demi masa depan mereka. Dan sosialisasi perdana adalah tanggal 19 November 2013 di Kantor Pusat Kowani di jalan Imam Bonjol, dengan peserta ibu2 dari Kosgoro. Dan akan kami perkenalkan beberapa finalis Duta Insan Remaja 2013, yang baru dianugerahkan tanggal 6 November 2013 kemarin, untuk mulai melakukan tugas sebagai Duta Insan.

***

IDKITA akan tetap berkarya dalam pelayanan. Itu tidak akan berubah! Komitmen kami bukan dengan manusia, tetapi kami sudah berkomitmen dengan Tuhan

Bahwa ketika Tuhan memberikan berkat2 yang luar biasa kepada kami, khususnya aku sebagai insan pasca stroke ( yang disabled ), kami berkomitmen untuk ‘membalas’ berkat Tuhan itu lewat pelayanan kami, salah satunya lewat IDKITA. Jadi, ketika ada yang mencibir kami, atau pernyataan2 dan artikel2 kami tidak dibaca pun, kami tidak peduli. 

Yang jelas, IDKITA akan terus - terus dan terus berkarya dan melayani demi anak2 dan remaja Indonesia …..

Tunggu aksi dan reportase2 tentang  IDKITA selanjutnya!

Salam IDKITA Kompasiana …..
1383884296431850300



Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks