Artikel Terakhir
Home » Posts filed under sosbud
Tampilkan postingan dengan label sosbud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosbud. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 September 2017
Minggu, 03 September 2017
- 0 Comments
By Christie
Damayanti
Siapa bilang disabled tidak mampu
apa2?
Siapa bilang disabled hanya seorang
yang tidak berguna? Dan siapa bilang, disabled itu tidak “berharga?”
***
Tanggal 24
Agustus2917 lalu, kami dari Yayasan Agung Podomoro Land, mengundang 150 orang
disabled beserta pendampingnya. Mereka itu mulai dari berumur 8 tahun, sampai
diatas 75 tahun, untuk datang dan bersenang2 di Central Park Mall.
“DISABILITY AWARENESS WEEK Session 2”,
adalah lanjutan dari acara bertema sama session 1 yang dilaksanakan di Bassura
City Mall, 23 April 2017. Lihat tulisanku :
Di Sesi ke-1
ini, kami dari Yayasan CRIDASA (Yayasan Christie dan Sahabat Nusantara), mencoba
untuk memberikan motivasi, bahwa disabled pun punya mimpi yang sama. Bahwa
disabled pun punya keinginan untuk menjelah dunia, dan kami memberikan tips2
nya, dengan mendatangkan bank2 yang bisa mem-back up, travel biro, komunikasi
telepon serta kesaksian2 teman2 disabled.
Even itu pun sekaligus juga melaunching 2 buku terbaruku tentang menjelajah Perancis dan Italy,
sambungan dari 2 bukuku yang pertama tentang menjelajang Belanda, Belgia, Swiss
dan Liechtenstein.
Pada even sesi
ke-2 ini, konsepnya agak berbeda. Jika pada sesi ke-1 hanya beberapa disabled
yang berbicara dalam 1 panggung, dengan kesaksian2 yang berbeda, (ada aku
sebagai insane pasca stroke, ada Dimas yang disabled tuna netra dan ada Habibie
disabled daksa), maka di sesi ke-2 ini kami mengajak kepedulian tentang “Ruang Inklusi dan Aksesibilitas bagi
Disabled pada Fasilitas Umum”.
Bahwa untuk
bangunan2 umum dan lingkungan, seharusnyalah menjadi sebuah ruang inklusi tanpa
diskriminasi, akses bagi penyandang disabilitas dan mempunyai kepedulian dan ‘ramah
disabilitas’. Bahwa pemerintah serta pemilik bangunan2 umum, seharusnyalah
selalu berpedoman untuk sebuah kepedulian.
Bahwa kaum
disabilitas adalah juga warga negara, yang mempunyai hak dan kewajiban yang
sama dengan warga negara yang lainnya. Sehingga, kaum disabilitas itu jangan
dianggap sebagai warga negara ‘kelas 2’. Mereka mempunyai mimpi yang sama.
Mereka mempunyai keinginan yang sama. Cuma bedanya, mereka tidak mempunyai
kesempatan yang sama …..
Even “Disability Awareness Week Session 2”
ini, diselenggarakan pada hari Kamis 24 Agustus 2017. Mengundang 8 yayasan dan
komunitas dengan berbagai jenis disabilitas. Ada KARTUNET (Karya Tuna Netra),
dan mereka perform dengan beberapa lagu dengan alat2 musiknya.
Ada yayasan
Habibie Afsyah, seorang Habibie yang sangat member inspirasi bagi teman2
disabled yang lainnya, bahkan yang sehat dan normal. Ada YPAC Jakarta, dengan
anak2 dan remaja dengan berbagai jenis disabilitas grahita/daksa. Ada Panti
Sosial Bakti Luhur, juga Yayasan Amal Mulia, dengan jenis disabilitas tuna
rungu wicara.
Dari beberapa yayasan /komunitas, yang
berkecimpung di ranah disabilitas netra. Coba di perhatikan foto diatas :
teman2 disabilitas netra akan berjalan dengan bergerombol, dan saling berpegangan
pundak teman di depannya. Jika hanya 1 orang, dia akan memakai tongkat putih.
Komunitas DBDC
(Dream Big Disabled Community), juga merupakan berbagai jenis disabilitas, dan
Komunitas Jakarta Barrier. Dan yang terakhir adalah Komunitas Insan Pasca
Stroke (IPS), yang merupakan komunitasku yang menghimpun teman2 pasca stroke
untuk bisa saling mendukung dan berinteraksi.
Aku dengan 2 sahabat ku IPS, dalam Komunitas
IPS. Mas Aji, yang terserang stroke pada waktu berumur 19 tahun, dan Pak Didin,
IPS yang berumur 74 tahun (yang tertua dalam even ini) …..
Teman2 dari
DBDC (Dream Big Disabled Community). Tetap semangat!!! Sebagian dari
mereka menjadi cacat secara tiba2 karena sakit atau kecelakaan ……
Total semua
yayasan dan komunitas ini sebagai peserta (disabled) ada 93 orang dan
pendamping mereka ada 57 orang. Sehingga, semua berjumlah 150 orang. Dimana
untuk kaum disabilitas grahita, yang umumnya adalah anak2 dan remaja (ada juga
beberapa teman2 yang sudah dewasa), mempunyai pendamping masing2.
Aku berbincang dengan teman2ku disana. Tetap
semangat, tetap menginspirasi …..
Yayasan Bhakti
Luhur, misalnya. Dengagn berbagai jenis disabilitas, itu termasuk downsyndrom, hyperactive seta teman2
autisme dan lambat belajar, mereka benar2 membutuhkan penanganan
khusus. Mereka berumur anak2 sampai remaja (8 – 19 tahun). Dan mereka mempunyai
pendamping yang memang mempuyai kepedulian khusus.
Yayasan Bhakti Luhur, sebuah yayasan Katolik
yang dipinpin oleh seorang Suster Cicilia S.Pd. Dengan disabilitas campuran
dari anak2 sampai remaja dan berbagai jenis disabilitas
‘Jakarta Barrier
Free Tourisme’, sering menjelajah Jakarta bersama Bp Ahok, waktu itu, terdiri
dari teman2 tuna daksa, pemakai tongkat dan kursi roda.
Teman2 dari Yayasan Habibie Afsyah, DBDC dan
Jakarta Barrier
Dari YPAC
Jakarta, merupakan teman2 dengan berbagai jenis disabilitas, berumur antara
remaja sampai dewasa. Dan mereka sudah mampu mandiri dalam beberapa jenis kegiatan.
Sebagian dari mereka adalah disabilitas daksa, dengan kondisi paraplegi, hemiplegic, spastic diplegi
serta cerebral palsy. Mereka adalah jenis disabilitas yang
rentan untuk ‘tidak bisa sembuh’ dan tidak/kurang mampu untuk beradaptasi
dengagn lingkungan. Tetapi pada even ini, sungguh …… aku melihat mereka sangat
bersuka ria, ketika aku menyapa mereka serta tertawa dan ngobrol bersama mereka
…..
YPAC Jakarta Kebayorn Baru, berkecimpung
menangani anak2 dan orang dewasa disabled campuran, dari berumur remaja sampai
dewasa …..
Bahkan dalam
Yayasan Habibie Afsyah selain Habibie sendiri, seorang anggotanya, Rodhi mampu
melukis wajah dengan cepat dan lukisan wajah2nya sering membawanya sebabi
inspirasi.
Rodhi, dari Yayasan Habibie Afsyah,
disabilitas daksa, yang melukis wajahku …..
***
Mereka dijemput
dari beberapa titik kumpul dengan beberapa bus sewa, menuju Central Park. Jam
10.00 pagi, mereka sebagian besar sudah sampai dengan berkumpul di taman
Tribecca untuk beristirahat, dan pembagian kelompok.
Beberapa yayasan/komunitas yang sudah datang di taman Tribecca, Central
Park Mall
Kelompok A, B, C
merupakan kelompok pemakai kursi roda. Dengan masing2 pendamping dan petugas
yang memberikan route2 khusus selama 1 jam. Aku sendiri, sebagai IPS pemakai
kursi roda, ikut dalam Kelompok A, yang berjalan2 sekeliling taman Tribecca. Bahwa
‘ramah disabilitas’ pun tidak hanya dalam mall saja, tetapi bahkan di taman pun
sangat akses bagi disabilitas …..
***Jelaslah, Central Park dan Tribecca
merupakan bangunan umum yang benar2 ‘ramah disabilitas’, karena dulu aku dan
tim lah yang mendesain dan membangunnya. Bahkan dala mendesain, tahun 2007 aku
berada dalam’kecacatan’ karena kaki kiriku patah jatuh dari salah satu proyekku.
Sehingga, aku bisa memastikan bahwa Central Park Mall dan Tribecca memang
benar2 ‘ramah disabilitas’***
Aku dalam Kelompok A. Seseorang relawan dari
sebuah komunitas internasional, mba Nita, mewawancaraiku, sambil berjalan
Kelompok D dan
E, masing kelompok disabilitas rungu dan wicara (untuk Kelompok D) dan
disabilitas grahita (untuk Kelompok E). Dimana Kelompok E, karena sebagian
besar anak2 dan pra-remaja dengan kondisi mereka yang (mungkin) sulit untuk
beradaptasi, mereka hanya bermain di taman saja dengan berbagai macam
permainan, untuk selanjutnya naik ke lantai 4 untuk acara intinya.
Selama 1 jam,
semua kelompok berjalan2 di mall dan taman, dan 1 jam kemudian mereka naik ke
lantai 4, disebuah ruangan khusus. Ada sambutan2 dari beberapa petinggi Agung
Podomoro Land dan Central Park Mall, ada performance KARTUNET dengan beberapa
lagu yang membahana, ada story-telling untuk anak2 dan remaja sebagai motivasi,
ada juga sambutan2 atau sedikit reaksi dari teman2 disabled. Diminta dari ‘Jakarta
Barrier, untuk merespon kegiatan ini.
Kapasitas ruangan 200 orang, tetapi karena
animo masyarakat yang cukup besar, mereka masuk ke ruangan ini lebih dari 250
orang ……
Untukku sendiri,
aku diminta sedikit bicara tentang motivasi sebagai IPS yang sudah hampir 8
tahun hidup dengan ½ tubuh sebelah kiri saja. Bahwa selama ini aku tetap mampu
berkegiatan lewat berbagai jenis kehidupan. Sebagai pekerja dan karyawan di
Agung Podomoro Land, sebagai penulis dengan 13 buku sekarang ini, sebagai
filatelis dan exhibitor dan sebagi motivator di banyak media.
Siapa bilang disabled tidak bisa apa2???
Jika aku dengan
tubuh kiriku saja bisa menjalankan hidup ini, mengapa yang lain tidak bisa
(atau tidak mau)? Karena aku sangat percaya, ketika Tuhan masih memberikan kita hidup di dunia ini sampai
sekarang, walaupun mungkin kita bermasalah dengan fisik kcacatatn atau apapun
yang ada dari kita, berarti TUHAN MASIH PUNYA RENCANA UNTUK KITA ……
Begitu juga
teman2 dan sahabat2 disabled dimanapun. Bahwa ketika Tuhan memberikan kelemahan dan tubuh cacat dan tidak
sempurna, Tuhan akan memberikan kelebihan yang kain untuk kita. Karena Tuhan
adalah Maha Kuasa dan Maha Adil …….
Jadi, siapa bilang disabled tidak mampu
berbuat apa2??
Acara ditutup
dengan makan siang bersama, narsis dan foto2 bersama dengan santai, serta
pembagian goodybag bagi semua peserta dan tamu2 undangan. Dari total undangan
berikut peserta 200 orang, ternyata kapasitasnya lebih dari 250 orang!
Puji Tuhan …..
Berfoto bersama sebagian Yayasan Agung
Podomoro Land dan teman2 disabled …..
Tim inti dan panitia even “Disability
Awareness Week Session 2 – Central Park” :
Valentino, Francisca, Dian, Patrisia, Narti
dan Hans
***
“Disability
Awareness Week Session 2”, ini, jika Tuhan berkenan akan dilanjutkan di sesi
ke-3, ke-4 atau ke-5. Semuanya tergantung dari kepedulian dan karya nyata kita semua. Bahwa
teman2 disabled itu tetap warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang
sama, tetapi mereka juga membutuhkan kepedulian.
Jika
tidak ada yang peduli pada mereka, bagaimana mereka mampu untuk melakukan nya?
Karena memang mereka membutuhkan bantuan, termasuk juga aku, sebagai bagian dari kaum disabilitas.
Dan bantuan itu bukan hanya sekedar
berupa kepedulian saja, tetapi "karya nyata" untuk membawa teman2 disabled mampu
belajar dan berkarya, bagi dunia …..
Dengan ibu Eva Kristanti, Manager Bassura City Mall dan tim nya, tempat aku
mengadakan even “Disability Awareness Week Session 1 – 23 April 2017.
Rabu, 19 November 2014
Rabu, 19 November 2014
- 2 Comments
Seperti mesin debit yang harus memencet pin transaksi
untuk pembayaran memakai kartu kredit …..
Zurich, 23 Juni 2014
Karena kami
memang berencana hanya beristirahat saja sesampainya di Zurich, sebelum memulai
4 hari full berikutnya mengeksplore Swiss, aku pun beberes barang2 bawaan kami.
Baju2 kotor disatukan dalam 1 koper, barang belanjaan juga dirapihkan. Termasuk
uang Euro di bereskan, karena sering kalki kembalian belanjaan di selipkan ke
tas saja, tanpa masuk ke dompet.
Dan ternyata, sebuah masalah cukup besar aku dapatkan .....
Ternyata aku salah perhitungan, benar2 salah! Kupikir, dengan membawa uang cash cukup banyak dalam Euro yang aku tukarkan di Jakarta, aku bisa 'menghemat' belanja lewat kartu kredit. Ya, semula aku tidak mau berbelanja dengan kartu kredit untuk menghindari hutang bertumpuk serta perhitungan kurs ke Rupiah jika aku harus bayar hutangku. Perhitunganku, bisa untuk belanja souvenir.
Masalahnya
adalah, aku dengan seenaknya, membayar tour2 cukup banyak di Belanda kemarin,
memakai Euro cash! Seakan2 aku punya cash banyak sekali, sehingga tidak
memperhitungkannya ….. Padahal tour ke Volendam, Rotterdam, Delft, Madurodam
bahkan ke luar negeri di Brussels ( Belgia ), untuk kami bertiga menghabiskan
dana ratusan Euro, cash. Sehingga, cash Euro ku menipis .....
Aku mulai sadar, ketika kami belanja souvenir di Brussels. Dennis dan Michelle ingin membwli kaos2 serta sweater Belgia. Ketika aku mau membayar cash, aku sadar bahwa Euro cash ku sudah mulai menipis, sehingga aku memakai kartu kreditku. Dan ternyata juga, ternyata alat otorisasi kartu kredit di Eropa sudah memakai sistim dengan "pin transaksi". Yang membuat aku terbengong2, karena dari beberapa bank yang mengeluarkan kartu kreditku belum memginformasikan demikian!
Akhirnya, aku tetap membayar cash. Tetapi mulai berpikir bahwa cash ku menipis, padahal waktu itu baru beberapa hari wisata. Jadi aku harus memakai kartu kredit.
Ketika aku menghitung cash Euro ku, ternyata aku hanya mempunyai 500 Euro plus beberapa uang kecil! Astaga! Aku semakin berdebar, ketika kita di Brussels waktu itu, tidak ada toko yang menerima kartu kredit TANPA memakai pin transaksi! Tidak mau hanya tanda tangan, walau menyertakan identitas lewat passport! Mereka menerima karu kredit ku jika aku bisa memencet pin di mesin mereka ( seperti mesin debit atm ).
Masalahnya lagi, kartu kreditku memang baru di upgrade lebih tinggi dengan back up lebih banyak. Dan aku belum menerima "pin withdrawl" untuk ambil uang cash di negara manapun. Padahal aku memang meng-up grade kartu kreditku sesaat sebelum berlibur ini. Sebuah kartu platinum untuk kebutuhan kami yang semakin meningkat. Bukan hanya untuk berlibur saja, tetapi juga berhubungan dengan hidup kami selanjutnya.
Cukup lama aku termangu melihat lembaran2 Euro kami. Berpikir keras, bagaimana mengatasinya. Karena ketika aku menelpon semua bank yang mengeluarkan kartu kreditku, mereka mengatakan bahwa "pin transaksi" di Indonesia, baru bisa dipakai secara resmi tanggal 1 Januari 2015! Dan tidak ada pengecualian, termasuk untukku, walau aku terancam kehabisan uang di Eropa, tanpa bisa aku meminta bantuan kepada siapapun!
creditcard.cimbclicks.co.id
Tidak ada yang mengingatkan ini kepadaku, menurutku
seharusnya bank yang mengeluarkan kartu kredit men-sosiaisasikan kepada
nasabahnya, apalagi jika nasabahnya memang berencana untuk memakai kartu kredit
lebih dari yang biasanya. Apalagi, aku sudah meminta up grade dan kenaikan
limit pinjaman untuk liburan ini …..
Bayangkan! Aku hanya sendiri di Eropa, tanpa keluarga. Mama ku sendiri sedang di Amerika, ke rumah adikku disana. Tidak ada yang bisa membantuku, misalnya mengirim uang untuk pinjamanku. Jika hanya beberapa Euro, mungkin aku bisa mengusahakannya. Tetapi jika 2 minggu lebih masih harus kami lalui di Eropa, bayangkan, berapa ribu Euro yang harus aku cari untuk menutupinya?
Ditambah lagi, jika pun ada seseorang bisa meminjamkan uang sebenyak itu, harus dikirim lewat mana? Jika aku menetap, bisa diusahakan lewat jasa pengiriman uang. Jika tidak? Merekapun tidak bisa menerimanya. Pun jasa pengiriman uang itu, jauh dari Zurich, yang norebene aku harus naik taxi, dengan dana yang minim, karena cash ku semakin menipis ( jika semuanya gagal ).
Mitra kerja papa almarhum, sebenarnya susah mengiyakan untuk meminjamkan kami uang, tetapi dia bingung untuk mengirimkan kemana. Valentino pun mencari akal untuk membantuku. Alhasil, seharian dengan menelpon kesana kemari, aku menghabiskan pulsa sekitar 9 juta ( Zurih – Jakarta saja ), yang seharusnya tidak ada dalam pengeluaran bulananku! Beruntung, aku memakai kartu pasca-bayar untuk telp ku dan dibayar bulanan lewat kartu kreditku.
Aku sangat gamang dengan keadaan ini. Kami, berada di Eropa, kehabisan dana tanpa ( mungkin ) bisa memakai kartu kredit. Dengan 500 Euro, bagaimana kami harus hidup? Untuk makan saja, bertiga bukan makanan mahal, sekali makan adalah 50 Euro. Gamang. Anak2 tidak mungkin membantu dan tidak ada yang bisa melindungiku ( kami ) .....
Rencana kami ( khususnya aku ) beristirahat, justru aku menjadi stres dan tidak tahu harus berbuat apa. Anak2 hanya bisa prihatin, dan mereka terluhat mulai sedih. Kasihan mereka dan mereka tidak bisa membantu apa2.
So? What?
Sesaat aku melihat wajah anak2ku yang ikut prihatin, tiba2 pacaran Roh Kudus bersinar dari hatiku .....
Tiba2 aku yakin, bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Seketika itu pun, aku mendadak ceria. Aku yakin, Tuhan berada di pihakku! Bagaimana cara mengatasinya? A u ah gelap! Santai saja!
Aku memanggil anak2ku, mendekat padaku. Aku memeluk mereka sambil ku katakan pada mereke keadaan kami. Aku harus mengirit pengeluaran, walau untuk mengirit pun, cash kami tidak cukup. Aku hanya menyakinkan, bahwa kami akan baik2 saja. Tuhan akan menjaga kami.Jangan takut ….
Sehingga malam itu, kami keluar hotel untuk mencari makan malam. Ada foodcourt fasilitas perkantoran disekitar hotel kami. Kami berjalan kesana. Melihat2, mau makan apa. Aku bersiap untuk sebuah 'pembayaran'. Aku bertanya pada kasir, apakah boleh memakai kartu kredit tanpa "pin transaksi?". Beberapa cafe mengatakan tidak bisa. Tetapi ada sebuah cafe, yang bisa memakai kartu kredit TANPA "pin transaksi". Puji Tuhan!
Sekali lagi, aku memastikan untuk bisa membayar, dan kasir itu tersenyum dan memastikan AKU BISA MEMBAYAR! Jadi, anak2 senang, apalagi cafe itu menyediakan makanan2 kesukaan anak2. Kentang goreng, sosis, sandwich, pastry, kue2 dan cake, pizza, dan sebagainya. Puji Tuhan! Setidaknya, kami tidak kelaparan di Zurich dan bisa mengirit untuk sesuatu yang memang harus membayar cash!
Puas dengan mukjizat nya, bantuan Tuhan tepat pada waktunya! Ketika di Brussels, tidak ada yang menerika kertu kredit tanpa "pin transaksi", di Zurich masih ada yang menerimanya. Ini memang hanya untuk makan. Masalah masih terbentang luas. Waktu berlibur masih lebih dari 2 minggu lagi sebelum pulang ke Indonesia. Belum harus bayar taxi, tour, dan yang lainnya. Apakah mereka juga mau menerima kartu kredit tanpa "pin transaksi?" ...
Aku tidak tahu! Dan aku belum mau memikirkannya! Karena aku sangat yakin, bahwa Tuhan akan selalu mengiringi dan membantuku. Semuanya pasti tepat pada waktunya! Aku hanya terus berusaha sambil berdoa untuk Tuhan terus menerangi jalan kami. Percaya dan berserah untuk mukjizat Tuhan …..
Inilah kesaksianku!
Aku, seorang perempuan disabled dengan lumpuh 1/2 tubuh kanan, dan
otakku pun cacat, susah untuk berpikir keras dan berat, JIKA Tuhan tidak aku panggil
untuk terus mengiringi langkahku, PASTI aku tidak mampi apa2!
Tetapi kepercayaanku pada Tuhan, senantiasa terus membuat mata hatiku yakin, bahwa walau aku sebenarnya tidak bisa melakukan apapun dengan masalahku waktu itu, aku tetap percaya, bahwa semuanya akan terselesaikan TEPAT PADA WAKTUNYA .....
*Mungkin banyak orang yang membaca ini, akan merasa aku
lebay dengan masalahku. Tetapi jika mereka berada di posisiku waktu itu, berada
di tempat yang jauh dari rumah, tanpa uang, tidak tahu harus meminta atau
meminjam kepada siapa, dan mereka sepertiku dengan keterbatasan secara fisik,
mungkin mereka dapat merasakanya ….
Bahwa kepekaan hati untuk sebuah mukjizat Tuhan, harus tetap
tumbuh untuk sebuah penerimaan diri sebagai manusia yang selalu membutuhkan
Kasih Tuhan dalam menjalankan hidup ini …..
Rabu, 15 Oktober 2014
Rabu, 15 Oktober 2014
- 0 Comments
World Stroke Organization
Tanggal
29 Oktober adalah peringatan Hari Stroke Sedunia. Ketika aku masih
belum bisa berbicara dengan lebih baik seperti saat ini, aku sudah
diminta untuk berbicara di depan 500 orang IPS ( insan pasca stroke )
dan ‘car-giver’ serta keluarganya, taggal 29 Oktober 2011 lalu.
Lihat tulisanku :
Tahun 2014 ini, konsep campaign stroke dunia ( World Stroke Campaign ) adalah “I am Woman”.
Mengapa “I am Woman?”
Perempuan adalah seseorang yang lebih beresiko dibanding laki2 terserang stroke. Tetapi perempuan jugaa mwmpunyai ’sense’ dan mempunyai ‘hati’ sebagai ‘caregiver’ kepada keluarga, sahabat2 dan lingkungannya. Karena stroke memang sangat mengerikan …..
Kepedulian sering membawa sebuah pemulihan. Mungkin bukan pemulihan
secara fisik, karena secara fisik dan medis, IPS tidak ada bisa pulih
lagi secara 100%. Lain lagi pemulihan secara mukjizat. Kita tidak pernah
tahu, apa yang Tuhan mau, dan yang jelas tidak ada yang tidak mungkin
bagi Tuhan.
Riset membuktikan bahwa perempuan mampu membawa pemulihan bagi IPS dan
mampu menaikkan tingkat kepercayaan diri untuk lebih baik ( world stroke organization ).
Dan ‘cargiver’ perempuan, juga mampu memulihkan depresi si penderita,
karena sikapnya yang lebih sabar dan berserah kepada keinginan Tuhan.
Stroke memang mengerikan, itu seperti yang aku sering katakan dan
tuliskan di Kompasiana. Stroke sering membuat orang2 tiba2 tidak bisa
merencanakan hidupnya lagi, karena cacat tubuh dan keterbatasannya.
Stroke sering atau justru tidak memandang semua perbedaan. Stroke bisa
membuat keterpurukan bahkan kematian, BUKAN karena keinginan untuk mati
saja, justru mereka lebih takut karena akan menjadi cacat, dan mereka
akan mengalami ‘kematian’ sebelum benar2 dipanggil Tuhan.
Bayangkan, ketika suatu saat tiba2 tubuh kita lumpuh karena terserang
stroke, seperti aku dulu, lumpir secara permanen, tidak mampu mencerna
kata2, tidak mampu membaca atau menulis, apalagi berhitung. Atau bahkan
tidak mampu untuk minum, makan, mandi dan sebuah kegiatan dasar hidup
manusia, seperti aku yang terserang stroke tanggal 8 Januari 2010.
Apa yang aku bisa perbuat?
Sama sekali tidak ada!
Tidak ada! Sama sekali tidak bisa berbuat apa2! Hanya mampu berbaring,
melihat, tersenyum dan berdoa saja. Bahkan menangispun aku tidak mampu.
Aku hanya bisa tersenyum dan terus tertawa, menertawakan aku, yang
sebelum ini aku bandel mementahkan nasehat2 dari Tuhan lewat orang
tuaku, sahabat2ku, bossku dan teman2ku, untuk istirahat dengan hidup
sehat. Aku bandel dengan ‘lifestyle’ku yang sembarangan dan senaknya
saja. Pola makan dan istirahat sebagai orang muda dengan segepok mimpi
dan cita2, akan sangat sulit untuk berpikir secara realistis ……
Tahun
ini, sekitar 17 juta insan pasca stroke di dunia ( yang terdeteksi ),
harus terpuruk dan dalam pemulihan. ‘Caregiver’ berusaha untuk mememani
dan peduli sebagai teman untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Strategi dibutuhkan secara komprehensif, sosialisasi percegahan dan
hidup sehat adalah untuk mengurangi resiko2 terserang stroke. Dukungan
sangat diperlukan, apalagi dari keluarga dan sahabat2 si penderita.
“World Stroke Organization” menyatakan bahwa insan pasca stroke di
dunia, pasti mengalami cacat dan keterbatasan. Tiap detik, ada yang
terserang strokr dan tiap 6 detik, stroke ‘membunuh’ seseorang!
Perempuan lebih beresiko terserang stroke. Karena mengontrol
keperempuanannya seperti kehamilan, menopause, perubahan1 hormon serta
gangguan2 yang tidak terjadi pada kaum laki2. Keadaan tubuh perempuan
di’paksa’ mampu untuk melalui semuanya tetapi ternyata tidak mampu.
Tetapi perempuan justru memang makhluk yang sangat kuat!
World Stroke Organization
Kepasrahannya kepada Tuhan. Kesiapanannya sebagai indan yang merasa
tidak ‘kuat’ dibanding laki2, justru membawa sebuah ‘kekuatan’ yang luar
biasa! Baik sebagai insan pasca stroke, ataupun sebagai ‘caregiver’.
Seorang perempuan biasanya lebih memilih berpasrah dengan keadaan yang
terburuk, dibandingkan dengan seorang laki2 dalam mengekspresikan
emosinya. Dan justru itulah yang membuat perempuan mampu berjuang
sendiri, dan mampu menjadi ‘ceragiver’ bagi lingkungannya …..
Mari kita menjadi bagian dari pemulihan untuk keluarga dan sahabat kita, karena terserang stroke.
Sosialisasikan stroke. Cegah dan antisipasi stroke dengan hidup sehat.
Stop stroke, lakukan sekarang. Menjadi ‘caregiver’ dan membantu sesama
……
Selamat
menjelang Hari Stroke Sedunia, 29 Oktober 2014, untuk sahabat2 kaum
insane pasca stroke. Mari kita mensosialisasikan tentang stroke dan
mencoba mengantisipasi serangan stroke bagi sahabat dan keluarga kita.
Tuhan berkati !
“World Stroke Day 2014″ ….. I am Woman, because I care …..
Fan Page Facebook-ku tentang : Stroke di Usia Muda. Semoga bermanfaat, dengan ratusan artikel kesaksianku tentang aku terserang stroke, sebagai IPS ( insan pasca stroke ).


Senin, 12 Mei 2014
Senin, 12 Mei 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
***
Lihat tulisanku :
Link tentang kegiatan IDKita Kompasiana
Live Srteaming : ‘ICT for Disabled’
Undangan Inspiratif untuk Kompasianers
Ayo, Indonesia! Mandirilah dalam Mengatasi Pernyalahgunaan Internet!
Alangkah ‘Aman’nya jika Orang Tua Dapat Mengontrol Anaknya di Dunia Maya …
‘Parenting Control’ Bukan untuk Mengawasi Suami, Ya!
‘Duta Insan’ 2013 : Remaja [IDKITA] Calon Kebanggaan Bangsa
Kita Tidak Akan Pernah Berhenti: Sebuah Komitmen dengan Tuhan …..
Test Online Calon ‘Duta Internet Sehat dan Aman’ 2013
‘Bapak Gatot M.Suwondo CEO BNI 46′ : Siap Mendukung Program-Program IDKITA Kompasiana!
Griya Yatim dan Dhuafa Menjalin Kerjasama Dengan IDKITA Membangun ‘100 Desa Internet’ di seluruh Indonesia
Bukan Sekedar ‘Kampung’ Biasa, apalagi Bersama IDKita dengan Griya Yatim dan Dhuafa
Akun Soraya Haque itu Palsu!
Tetapi Akun Soraya Haque di Kompasiana, itu Asli Lho …..
[ IDKita Kompasiana ] Cerita di Kampus Atmajaya dan Kampus Gajah Mada
[ IDKita Kompasiana ] Mengajak STIE YKPN Yogyakarta untuk Berbagi Demi Bangsa
[ IDKita Kompasiana ] Berbagi dengan Remaja SMA Bopkri-1 Yogyakarta
Kita Akan Mengguncang Yogyakarta! Be There!!!
‘IDKita Kompasiana’ di Mataku : Refleksi 1 Tahun
Papua, IDKita Kompasiana is Coming …..
IDKita Kompasiana dan Kementerian Kominfo Akan Datang ke Tempat Anda …
Dunia Maya pun Juga Ada di ‘Hp Jadul’…
Indonesia Akan Mendengar Mereka
‘Gerakan Guru Menulis’ di Kompasiana
Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden
Buruh Petani pun Harus Bisa Internet! Sasaran Orang Tua Siswa SMPN 1 Sumbang - Purwokerto
Pengembangan Internet Sehat dan Aman di SMPN 1 Baturaden, Purwokerto
Selamat Datang di Purwokerto, Salam dari IDKita Kompasiana …..
Mereka Berselancar di Dunia Maya di Warnet, Sementara Orang Tua Mereka adalah Buruh Tani …..
Dialog Bersama Remaja SMP Penabur Kota Jababeka
Talk Show Kompas TV di Hari Ibu 2012 : Ibu Jaman Sekarang Harus ‘Melek’ Teknologi …..
IDKita Remaja Sudah Membuktikannya di Seminar “Peranan Ibu di Era Digital” …..
“Aduuuuhhhh, Aku Stresssssss …..” : Kesibukan Menjelang Hari ‘H’
“Bukan Ortu Gaptek” : Buku Pertama IDKita Kompasiana
Radio DFM 103.4 FM menggandeng IDKita Kompasiana
Ternyata Mereka Hanya Ingin Pengertian dan Keterbukaan
IDKita Kompasiana dan 2 Kementerian : Persiapan Seminar Hari Ibu Nasional 2012
Kompasianival 2012: Remaja-Remaja IDKita yang Luar Biasa!
Seminar ‘Game Online’ - Kominfo : Ketika Kreatifitas Anak dan Remaja Berseberangan dengan Dampak Negatifnya
‘Parenting Control’ : Workshop Perdana IDKita Kompasiana
IDKita Kompasiana Akan Berkolaborasi dengan 2 Kementerian dalam Hari Ibu 2012
Mbah Google versus ‘Mading’
Sudah Berapa Jauhkah IDKita Kompasiana Berkembang?
Kolaborasi IDKita Kompasiana dengan Kominfo dalam Membina Generasi Muda di SMK Kesdam Jaya
‘The Next Action’ dengan ibu Mariam F.Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kominfo
Berdialog dengan ‘Ibu Linda Amalia Sari Gumelar’, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI
Ketika Orang Tua Baru Mengerti, Bahwa Anak-Anak Mereka Berada ‘Jauh’ di Depan Mereka …..
Remaja Tidak Menyadari Bahwa Bahaya ‘Mengancam’ Mereka !
Respon Antusias Orang Tua tentang ‘Internet Sehat’ di GKJ Eben Haezer
Diskusi dengan Dirjen Telematika Kominfo, Bapak Ashwin Sasongko
ID Kita Kompasiana - Kominfo : Diskusi Program ‘Internet Sehat’
ID Kita Kompasiana: Membangun ‘Mimpi’
ID Kita Kompasiana - MOU: Tanggung Jawab Kami untuk Generasi Muda Indonesia
ID Kita Kompasiana : Bermula dari ‘Keluarga Cengengesan’ …..

IDKITA Kompasiana bekerjasama dengan
Indosat dan KOWANI dalam “KOWANI Fair dan IWAPI Expo 2014″ di SME
Smesco - tanggal 8 sampai 11 Mei 2014.
IDKITA Kompasiana terus berkibar. Bukan.
Bukan aku membanggakan diri lewat komunitas kami, tetapi ketika kami
berusaha terus untuk melindungi anak2 dan remaja Indonesia lewat
teknologi, Tuhan memberikan terus peluang2 besar kepada kami untuk
melayani. Ya, semua kegiatan IDKITA ini benar2 untuk melayani, dari hati
kami yang paling dalam.
Dari 3 kementerian Indonesia, IDKITA
bergerak lebih jauh lagi, dengan menggandeng beberapa instansi swasta
untuk berkolaborasi dan bekerjasama dalam nama ‘pelayanan bagi Tuhan’.
Salah satunya adalah dengan Indosat dan Kowani dengan Ketua Umum, Ibu
Dewi Motik yang membawahi lebih dari 100.000 organisasi wanita di
seluruh Indonesia …..
Ibu Dewi Motik memang benar2 perempuan
yang luar biasa. Kepeduliannya kepada Indonesia, khususnya kaum
perempuan dan anak2, membuat kami selalu siap untuk bekerjasama dengan
beliau, setelah MOU yang ditandatangi oleh IDKITA dan Kowani. Dan
kegiatan kamipun sudah beberapa belas dari sejak Oktober sampai sekarang
ini.
***
Sebelumnya :
Berawal dari ketika Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, yang mengundang IDKITA
untuk bersama membicarakan masalah perempuan Indonesia dalam teknologi
lewat APEC 2013 lalu, kami datang membawa konsep dan beberapa solusi
untuk perempuan Indonesia bisa memanfaatkan teknologi. Yang kesemuanya
untuk anak2 Indonesia, karena perempuan adalah identik dengan anak2
(dibawah umur). Beberapa diskusi dilakukan kami dengan beberapa negara,
terutama dari Amerika, Australia, Rusia serta Taiwan.
Lalu ketika perempuan2 hebat Indonesia,
salah satunya bu Dewi Motik (Ketua Umum Kowani) kesana, beliau langsing
mengajak IDKITA bekerjasama untuk memerangi ‘kebodohan’ dan ke-gaptek-an
perempuan Indonesia untuk menjaga anak2 mereka. Sehingga, sejak bulan
Oktober 2013 kami menandatangani MOU untuk bekerja sama. Dan seketika
itu juga, kegiatan demi kegiatan kami adakan.
Lihat tulisanku :
2 event besar awal tahun 2014 ini,
IDKITA dan KOWANI adakan, dan beberapa event lanjutannya sampai tahun
ini selesai. Yang sudah selesai yaitu ‘ICT for Disabled’, bekerjasama
dengan Indosat serta IDCC (Indonesia Disabled Care Community). 4 orang
nara sumber (aku, Habibie Afsyah, Dimas dan Riqo) memberikan pandangan2
pada masyarakat bahwa kauk disabled pun bisa untuk memanfaatkan
teknologi, bahkan lebih bagi dari orang2 sehat. Coba baca link diatas.
Lalu minggu lalu, KOWANI mengadakan
pameran nasional selama 5 hari bertajuk ‘KOWANI Fair dan IWAPI Expo’
mulai tanggal 8 - 11 Mei 2014 di SME Smesco Pancoran, jalan Gatot
Subroto Jakarta. Dan IDKITA diminta untuk mengatur jadwal seminarnya.
Dari 5 hari expo, 2 hari IDKITA berbicara di depan perempuan Indonesia,
khususnya ibu2, yang berdatangan dari seluruh Indonesia, karena KOWANI
membawahi lebih dari 80.000 organisasi perempuan di seluruh Indonesia.

Bu Dewi Motik, Ketua Umum Kowani
Di hari ke-2, tanggal 9 Mei 2014, aku
dan mba Novita Tandry, psikolog dan pakar pendidikan anak, owner dari 40
cabang Tumblers Tot (sekolah bayi), dengagn Valentino sebagai
moderatornya, berbicara selama sekitar 1,5 jam dalam tema : “Peran TIK dalam Pemberdayaan Perempuan Indonesia”.


Valentino sebagai moderator, selalu
memberikan yang terbaik untuk kita semua. Latar belakang kegiatanku di
‘KATA KITA’ Kompas TV sebagai hasil aku memanfaatkan ICT untuk
kegiatan2ku …..


Mba Novita Tandry dan aku sebagai nara sumber
Bu Dewi Motik memang sangat menghargai
kegiatan pelayanan kami dan beliau terlihat sangat sayang pada kami dan
selalu mendukung kami. Ini disampaikannya pada pidato yang mengawali
konsep2 berpikir kami.
Kursi audience hampir penuh sekitar 200
orang dan mereka menyimak apa yang kami katakan. Terutama ketika
Valentino mengupas data dan fakta tentang ’sex predator’ dan pedofilia
dari dunia maya berlanjut ke dunia nyata! Bahwa kenyataan ini sudah
kami (IDKITA) katakan dari mulai 2 tahun lalu, bahkan sejak belasan
tahun lalu ketika Valentino masuk ke duniapelayanan tentang anak2 dalam
teknologi. Dan Terbukti dengan kenyataan2 yang sekarang ini sedang
marak, dimana orang2 mulai berani untuk mengungkap fakta2 yang membuat
miris …..


Kursi hampir penuh …..
Audience sangat beragam. Dari orang tua
dan mahasiswa2 yang mulai terbuka tentang masa depannya, yang nantinya
juga sebagai calon orang tua. Dan dengan berapi2, kami terus mengupas
fakta2, kenyataan serta solusi2 khusus dari IDKITA! Dan setelah itu,
mereka banyak bertanya serta mendaftar untuk bisa IDKITA datang ke
tempat2 mereka untuk sosialisasi dan workshop untuk ‘Parenting Control’.
Hari ke-5 atau hari terakhir 11 Mei
2014, giliran Valentino yang me-moderator-i Habibie dan ibunya, Ibu
Endah Setyati untuk berbicara dalam tema “Peluang dan Tantangan Bisnis Online”.


Habibie Afsyah dan Bu Endang ibunya, serta Valentino sebagai moderator
Habibie dengan ibunya memang selalu
member dampak yang positif dan inspiratif bagi audiece. Apalagi ketika
itu merupakan ‘dunia perempuan’ yang identik dengan pemberdayaannya
lewat dunia online. Banyak orang2 yang ikut serta dalam KOWANI Fair dan
IWAPI Expo ini merupakan perempuan2 baik senior maupun perempuan muda
yang berkarya lewat barang2 kerajinan dan dijual online, sehingga mereka
cukup tergerak untuk mengikuti beberapa cara yang Habibie lakukan untuk
usahanya.
***
2 hari kami berbicara didepan perempuan
Indonesia secara nasional dan 5 hari berkumpul di lingkungan KOWANI dan
IWAPI, membuat kami lebih sadar lagi bahwa IDKITA tetap bisa melakukan
sesuatu untuk masa depan bangsa. Bahwa anak2 dan remaja merupakan asset
orang tua dan bangsa. Jika mereka tidak tersentuh dalam pendidikan dan
pengawasan, baik dunia nyata ataupun dunia maya, maka bangsa ini akan
semakin terpuruk. Dan ‘generasi2 yang hilang’ itupun bertambah lagi …..
Lihat tulisanku ‘Generasi yang Hilang’, Apa Itu?
IDKITA masih terus dibutuhkan. Kami
memang mengawalinya dengan baik dan kami ingin terus melakukannya dengan
lebih baik lagi. Walaupun kami hanya kecil dan tidak terlihat dari
manapun, tetapi kami akan terus menjalankan sesuai dengan yang Tuhan mau
kami melakukannya …..
Untuk kegiatan2 selanjutnya, tetap dan
terus dilakukan untuk datang ke sekolah2 adatu ke komunitas2 di
sekeliling kami. Dan untuk event2 besar selanjutnya ada beberapa yang
sudap siap dilakukan :
1. Tanggal 7 Juni 2014 :
“ICT for Disabled” secara nasional, bekerjasama dengan Kominfo, KOWANI, IDCC dan Indosat
Bertempat di Auditorium Indosat lantai 4, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta
2. Tanggal 12 Juni 2014 :
“Perangi Narkoba di Era Digital” dalam rangka Hari Anti Narkoba Nasional, bekerjasama denganIndosat, GRAN (Gerakan Anti Narkoba) dan BNN.
Bertempat di Auditorium Indosat lantai 4, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta
Tidak ada kata2 yang bisa kami katakan
selain terus mengucap syukur dengan semua yang Tuhan berikan pada kami.
Sebuah komunitas yang (semoga) bisa terus berguna bagi masa depan
bangsa, lewat teknologi untuk anak2 dan remaja serta pemberdayaan
perempuan dan perlindungan anak
Indonesia ……
Salam IDKITA Kompasiana, Tuhan selalu memberkati!

Link tentang kegiatan IDKita Kompasiana
Live Srteaming : ‘ICT for Disabled’
Undangan Inspiratif untuk Kompasianers
Ayo, Indonesia! Mandirilah dalam Mengatasi Pernyalahgunaan Internet!
Alangkah ‘Aman’nya jika Orang Tua Dapat Mengontrol Anaknya di Dunia Maya …
‘Parenting Control’ Bukan untuk Mengawasi Suami, Ya!
‘Duta Insan’ 2013 : Remaja [IDKITA] Calon Kebanggaan Bangsa
Kita Tidak Akan Pernah Berhenti: Sebuah Komitmen dengan Tuhan …..
Test Online Calon ‘Duta Internet Sehat dan Aman’ 2013
‘Bapak Gatot M.Suwondo CEO BNI 46′ : Siap Mendukung Program-Program IDKITA Kompasiana!
Griya Yatim dan Dhuafa Menjalin Kerjasama Dengan IDKITA Membangun ‘100 Desa Internet’ di seluruh Indonesia
Bukan Sekedar ‘Kampung’ Biasa, apalagi Bersama IDKita dengan Griya Yatim dan Dhuafa
Akun Soraya Haque itu Palsu!
Tetapi Akun Soraya Haque di Kompasiana, itu Asli Lho …..
[ IDKita Kompasiana ] Cerita di Kampus Atmajaya dan Kampus Gajah Mada
[ IDKita Kompasiana ] Mengajak STIE YKPN Yogyakarta untuk Berbagi Demi Bangsa
[ IDKita Kompasiana ] Berbagi dengan Remaja SMA Bopkri-1 Yogyakarta
Kita Akan Mengguncang Yogyakarta! Be There!!!
‘IDKita Kompasiana’ di Mataku : Refleksi 1 Tahun
Papua, IDKita Kompasiana is Coming …..
IDKita Kompasiana dan Kementerian Kominfo Akan Datang ke Tempat Anda …
Dunia Maya pun Juga Ada di ‘Hp Jadul’…
Indonesia Akan Mendengar Mereka
‘Gerakan Guru Menulis’ di Kompasiana
Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden
Buruh Petani pun Harus Bisa Internet! Sasaran Orang Tua Siswa SMPN 1 Sumbang - Purwokerto
Pengembangan Internet Sehat dan Aman di SMPN 1 Baturaden, Purwokerto
Selamat Datang di Purwokerto, Salam dari IDKita Kompasiana …..
Mereka Berselancar di Dunia Maya di Warnet, Sementara Orang Tua Mereka adalah Buruh Tani …..
Dialog Bersama Remaja SMP Penabur Kota Jababeka
Talk Show Kompas TV di Hari Ibu 2012 : Ibu Jaman Sekarang Harus ‘Melek’ Teknologi …..
IDKita Remaja Sudah Membuktikannya di Seminar “Peranan Ibu di Era Digital” …..
“Aduuuuhhhh, Aku Stresssssss …..” : Kesibukan Menjelang Hari ‘H’
“Bukan Ortu Gaptek” : Buku Pertama IDKita Kompasiana
Radio DFM 103.4 FM menggandeng IDKita Kompasiana
Ternyata Mereka Hanya Ingin Pengertian dan Keterbukaan
IDKita Kompasiana dan 2 Kementerian : Persiapan Seminar Hari Ibu Nasional 2012
Kompasianival 2012: Remaja-Remaja IDKita yang Luar Biasa!
Seminar ‘Game Online’ - Kominfo : Ketika Kreatifitas Anak dan Remaja Berseberangan dengan Dampak Negatifnya
‘Parenting Control’ : Workshop Perdana IDKita Kompasiana
IDKita Kompasiana Akan Berkolaborasi dengan 2 Kementerian dalam Hari Ibu 2012
Mbah Google versus ‘Mading’
Sudah Berapa Jauhkah IDKita Kompasiana Berkembang?
Kolaborasi IDKita Kompasiana dengan Kominfo dalam Membina Generasi Muda di SMK Kesdam Jaya
‘The Next Action’ dengan ibu Mariam F.Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kominfo
Berdialog dengan ‘Ibu Linda Amalia Sari Gumelar’, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI
Ketika Orang Tua Baru Mengerti, Bahwa Anak-Anak Mereka Berada ‘Jauh’ di Depan Mereka …..
Remaja Tidak Menyadari Bahwa Bahaya ‘Mengancam’ Mereka !
Respon Antusias Orang Tua tentang ‘Internet Sehat’ di GKJ Eben Haezer
Diskusi dengan Dirjen Telematika Kominfo, Bapak Ashwin Sasongko
ID Kita Kompasiana - Kominfo : Diskusi Program ‘Internet Sehat’
ID Kita Kompasiana: Membangun ‘Mimpi’
ID Kita Kompasiana - MOU: Tanggung Jawab Kami untuk Generasi Muda Indonesia
ID Kita Kompasiana : Bermula dari ‘Keluarga Cengengesan’ …..


Selasa, 29 April 2014
Selasa, 29 April 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

Sebelumnya : Kisah Pagi di Pedestrian Jakarta
‘Mengatasnamakan penghidupan’
( seperti komentar salah satu tulisanku diatas ) merupakan ‘modal’ bagi
orang2 yang tidak peduli, yang menjadikan ‘atas nama penghidupan’
diatas segala2nya, padahal justru mengesampingkan kehidupan orang lain.
Ketidak-pedulian ini yang sering menjadikan HAM sebagai kambing hitam.
Ketika sering kali Jokowi ditengarai
sebagai gubernur yang tidak peduli dengan ‘kemanusiaan’ karena membuat
warga pindah dari Waduk Pluit ( misalnya ) atau beberes sebagai pedagang
kaki lima di Tanah Abang, membuat banyak orang menjadi dilema : kemanusiaan atas nama penghidupan ( untuk warga kota yang memang tidak mampu, BUKAN semua warga kota ) atau kah KEBERSAMAAN sebagai seluruh warga kota?
Tulisanku di link diatas, sangat nyata.
Ketika ‘atas nama penghidupan’ bagi sosial masyarakat kebawah harus
berjuang untuk hidupnya, pada kenyataanya justru membuat seluruh masyarakat terkena dampaknya!
Seperti yang aku tuliskan, issue2 besar
perkotaan, awalnya hanya dari segelintir orang2 yang tinggal di bantaran
sungai, berdagang di sembarang tempat, menawarkan jasa di tepi jalan (
seperti tambal ban, cat duco ), membuat masyarakat disekelilingnya
terabaikan tentang kesehatannya bahkan keselamatannya. Dan seharusnya,
kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan ….
Pemerintahan Jokowi menurutku sudah sesuai dengan kepedulian masyarakan
waega kota dan lingkungan. Waduk Pluit dan PKL, misalnya. Sepertinya
‘atas nama wong cilik dan penghidupan’, selain Jokowi belum ada yang
berani mendobraknya! Dengan ‘keras’ tetapi sesuai dengan prosedur serta
rencana kota masa depan, Waduk Pluit dan PKL pun dilabraknya! Banyak
warga yang berteriak2 tentang HAM, tetapi mereka sendiri pun harus tahu
bahwa hidup di perkambungan ’slum’ Waduk Pluit ( dahulu ) dan PKL yang
membuat sebagian besar warga Jakarta susah untuk menembusnya, justru MELANGGAR HAM!
Masyarakat dan kehidupan perkampungan
kumuh di Waduk Pluit, berubah dan berangsur berubah menjadi kehidupan
normal di rusunami2 yang sudah diberikan kepada masyarakat disana,
bukankan masing2 warga kota menjadi ‘enak’ dan nyaman dalam kebersamaan?
Waduk Pluit menjadi taman untuk lingkungannya, dan aliran air hujan
bisa tertampung ( sebagian ) di Waduk Pluit. Dan warga yang awalnya
hidup di ‘rumah kardus’, nyaman tinggal di rusunami …..
Begitu juga tentang PKL di seluruh
Jakarta. PKL2 yang selalu bertumbuh, apalagi di keramaian pasar dan
membuat jalanan umuh dan macet, Jokowi berhasil menjadikan jalanan2
tersebut lebih nyaman dan PKL di kelompok2an sesuai dengan peraturan dan
rencana tata kota. Dan semuanya seharusnya senang, dan hak-hak warga
kota dalam kebersamaan semakin nyata.
Tetapi ternyata tidak demikian!
Ke-egois-an sebagian warga yang merasa ‘hak2nya untuk mendapatkan
penghidupannya’ ( lewat PKL atau tinggal di gubuk kumuh tetapi
pendapatannya lebih baik ) lebih baik, seakan2 tidak puas dengan
kenyataannya.
Bahwa KEBERSAMAAN HAK DAN KEWAJIBAN SEBAGAI WARGA KOTA TIDAK SELARAS DENGAN KEINGINAN2 YANG MENGATAS-NAMAKAN ‘PENGHIDUPAN’. Sehingga,
mereka kembali lagi ‘masuk’ ke dalam lingkaran dan lingkungan mereka
yang lama : hidup di gubuk kumuh, PKL yang memenuhi pojok2 kota, dan
unit2 rusunami serta unit dagang mereka di pasar, diperjual belikan (
atau disewakan ) tidak semestinya …..
Itu kenyataan, bukan?
Survey ku ketika aku mengambil S2
tentang Manajemen Kota Jakarta tahun 1997, salah satunya mengatakan
tentang keberadaan warga kota yang mempunyai hak untuk tinggal di rumah
susun Jakarta seperti di Rumah Susun Klender, Rumah Susun Kebon Melati,
atau Rumah Susun Pulo Mas, ternyata sebagian besar dari mereka lebih
memilih’keluar’ dari rumah susun tersebut, tinggal kembali ke gubuk2
kumuh, dan unit mereka disewakan atau dijual kepada orang lain, yang
benar2 berminat!
Tetapi justru bannyak orang2 yang
menyewa atau membeli dari yang berhak, adalah masyarakat menengah,
dengan pendapatan lebih. Mereka melakukan itu untuk banyak hal : jual
beli, menyewakan denga n harga tinggi ataupun untuk ‘bisnis’ yang tidak
jelas!
Tidak heran, ketika kita melewati
rusun2 tersebut melihat banyak sekali mobil keluaran baru dan mereknya
untuk kalangan menengah keatas, di tempat parkir ….!
Aku tidak menyangsikan
keinginan Jokowi untuk membenahi jakarta, terutama yang sudah
dilakukannya untuk mengangkat ‘derajat’ kaum marjinal ke tempat2 yang
lebih manusiawi, SEKALIGUS membenahi Jakarta yang kian semrawut. Tetapi
dengan ke-egois-an sebagian besar warga kota, ternyata issue besar
perkotaan, semakin tidak terbendung, atas nama penghidupan!
***
Hak-hak kemanusiaan itu wajib, untuk
semua warga! Kebersamaan warga dalam hak dan kewajiban akan membuat
sebuah kota dapat saling mengisi. Seperti cerita tentang ‘Kisah Pagi di
Pedestrian Jakarta’, sebenarnya akan lebih baik, jika ( contohnya ) :
1. Pedestrian bersih dan lapang,
nyaman untuk pejalan kaki, TANPA membuat bisnis ‘atas nama penghidupan’.
Pedestrian ini adalah HAK bagi semua warga kota!
2. Pojok2 warung sarapan yang dikelola oleh instansi ( swasta atau pemerintah ), TETAPI SESUAI DENGAN PERATURAN dan KE-EGOIS-AN WARGA DIREDAM, untuk lingkungan yang nyaman. Jangan gerobak soto atau ketoprak di pedesrian, atau di atas sungai !
3. Bisnis kbutuhan hidupsehari2,
seperti dagang asongan, PKL atau tambal ban juga ketok dan cat duco,
diberdayakan pada pojok2 lainnya. Tetapi sekali lagi, SEMUANYA SESUAI DENGAN PERATURAN, DAN KE-EGOIS-AN WARGA DIREDAM!
‘Atas nama penghidupan’, memang sangat
sensitif. Salah2 tulisanku ini pun akan di demo, ketika pembaca tahu
bahwa aku merupakan salah satu warga yang ’sesuai dengan peraturan’.
Bukan karena aku tidak peduli dengan masyarakat marjinal, tetapi justru
aku ingin mereka bisa mengangkat derajat mereka sendiri sesuai dengan
aturan pemda serta keinginan keras diri sendiri untuk ‘MAU BERUBAH!’
Memang tidak gampang, apalagi
berhubungan dengan ‘perut’. Tetapi jika Pemda sudah berusaha untuk
melakukan yang terbaik, dengan resiko2nya serta berkorban dan berjuang
untuk membenahi kota dan masyarakatnya, mari … marilah kita bersama
salling mendukung. Jika PKL di Tanah Abang yang merasa penghasilannya
berkurang waktu masih menjadi PKL, berdiskusilah dan bergotong royonglah
untuk mencari celah.
Tetapi juga untuk masyarakat umum yang
maunya enaknya saja ( tidak mau masuk ke pasar, lebih memilih PKL
karena tidak jauh ), tolonglah! Jika sudah berlangganan dengan PKL2 itu,
masuklah ke pasar, mencari PKL2 langganannya, jangan malas demi
kebersamaan dan kota kita!
Dan jika kebersamaan ini
terus ada, Jakarta akan semakin baik! Saling mendukung, saling
menghargai! Karena peraturan ada untuk warga, tetapi jika warga tidak
peduli serta mengabaikan peraturan bahkan bukan hanya melanggarnya,
Jakarta bukan hanya ’statis’ saja, tetapi semakin terpuruk …..

Langganan:
Postingan (Atom)


















