Artikel Terakhir
Tampilkan postingan dengan label Penghijauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penghijauan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

‘Urban Green Infra-Stucture’ : Kepedulian Kita Tentang Lingkungan, Akan Memperlambat Kehancuran Dunia …..

Kamis, 24 April 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

thegirg.org
thegirg.org

Sebuah kota pasti dan harus mempunyai infra-structure, yang berfungsi sebagai dasar dari hidup perkotaan. Infra-structure2 itu dibagi menjadi beberapa jenis, sesuai wacana akademis :

 1.       Urban Infra-structure - lebih kearah fisik kota
Misalnya, tentang jaringan transportasi ( jalan, kereta, pesawat, dll ), jariang utilitas ( listrik, air, gas, telepon, dll ), jaringan sampah, dan sebagainya

2.       Infra-structure sosial
Misalnya, tentang sekolah ( semua kegiatan pendidikan ), rumah sakit, perdagangan ( pasar, perbelanjaan, dll ) dan sebagainya

Lalu, sekarang ini, dunia membagi urban infra-structure sendiri dalam 2 katagori, menyusul dengan adanya ketidak-pedulian dunia tentang lingkungan, sehingga banyak sekali ‘harta karun’ dalam bumi menjadi sangat tidak bisa mendukung kehidupan manusia lagi, dan membuat manusia ‘meluncur turun’ untuk kualitas hidupnya :

1.       Gray Infra-Structure
 Seperti transportasi, jembatan, drainase dan sebagainya

2.       Urban Green Infra-Structure
Adalah pembangunan kot yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan

‘Urban Green Infra-structure’, lebih kepada keterhubungan manusia dengan hijau alam dan lingkungan ( green space ) yang akan memberikan keuntungan2 bagi manusia dalam dunia itu sendiri. Konsepnya adalah, EKOLOGIS ( keberlanjutan lingkungan, sosial serta ekonomi ) demi semuanya, khususnya manusia ).

hypae.net
hypae.net

Contoh, proyek bersama antara pemerintah dan warga kota untuk ‘Urban Green Infra-structure’. Tidak besar2, mungkin hanya sepanjang jalan perumahan kita saja, lalu di sepanjang jalan yang lain, kelompok2 yang lain. Yang lama kelamaan akan menjadi kesinambungan kawasan perkotaan dalam RTH.

Tidak hanya sekedar menanam pohon saja, atau tidak sekedar mengganti lapisan pedestrian saja, tetapi harus secara KOMPREHENSIF dengan batasan2 konsep standard untuk menciptakan ‘hijau kota’ …..

Fungsi ekologis itu sendiri, merupakan jaringan atau networking dari RTH ( ruang terbuka hijau ) yang akan melindungi dari nilai dan fungsi ekositem perkotaan, khususnya Jakarta.

www.melioradesign.net
www.melioradesign.net

Contoh konsep standard dalam menanam pohon dengan lingkungannya, untuk kenymanan dan kesehatan masyarakan perkotaan.

Bingung?

Gini :
Misalnya, kuta semua pasti membutuhkan air bersih. Semua manusia memang membutuhkan itu, bukan? Air bersih itu sendiri, kita dapatkan dari beberapa sumber, yaitu

1.       Air hujan yang memang seharusnya dapat diserap oleh RTH.

2.       Ataupun air tanah yang memang merupakan sumber air untuk hidup.

3.       Tetapi juga bisa didapatkan dari air sungai, dengan metoda2 khusus penjernihan air

4.       Atau apapun, jika teknologi sudah memungkinkan

Tetapi jika manusia masih tidak memperdulikan lingkungannya, sehingga air bersih dewasa ini sulit didapat, sehingga manusia harus membeli air bersih dengan materi, yang tambah lama semakin mahal. Bayangkan, untuk minum air bersih saja per-gelas kita membeli 500 rupiah atau di beberapa daerah di Indonesia harus membeli air bersih untuk mandi, mencuci dan memasak per-galon. Dan pasti akan semakin banyak daerah2 yang kekurangan air bersih.

1.       Tanah penyerapan diganti dengan beton, sehingga air hujan langsung ke laut.

2.       Penyedotan air tanah sedemikian rupa, dan manusia lupa bahwa sumber alam tetap bisa habis dan ( mungkin ) tidak tergantikan

3.       Dan sebagainya

‘Urban Green Infra-structure’ adalah jaringan yang saling berhubungan antara lahan basah, hutan, lahan kering, sungai, kehidupan liar dalam perkotaan, dengan RTH, jalur hijau, konservasi, pertanian atau perkebunan, tama2 perkotaan dan semua yang berhubungan dengan ‘hijau’.

Dimana ini akan sangat mendukung kehidupan manusia, bukan hanya dukungan untuk kehidupannya saja tetapi tentang kesehatan dan kenyamanan warga kota. ‘Urban Green Infra-structure’ bisa digunakan sebagai pengendali perkembangan kota. Perkotaan harus mempunyai RTH, dimana RTH-RTH yang sudah ditetapkan, TIDAK DAPAT DI KONVERSI UNTUK FUNGSI LAIN.

Pada kenyataannya, sebagian besar kota2 metropolitan ( terutama di negara2 berkembang ) justru mengganti RTH menjadi ‘perumahan dan kegiatan manusia’ tanpa ijin. Dan itulah salah satu yang membuat ‘hijau’ kota semakin semakin menyusut.

www.drexel.net
www.drexel.net
Contoh hasil dari ‘Urban Green Infra-structure’ untuk perkotaan

Lihat tulisanku :







***
Seperti tulisanku di link2 diatas, pada kenyataannya RTH tidak mempunyai dampak ekonomi bagi perkotaan, jelas! Karena RTH merupakan fasilitas2 perkotaan. Sehingga RTH memang HARUS DIAWASI keberlangsungannya. Tetapi ternyata justru RTH mempunyai dampak ekonomi bagi warga kota, terutama mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan mereka membangun ‘perumahan padat’ di jalur2 hijau seperti di bantaran sungai atau di sepadan sepanjang rel kereta api.

Pembangun Urban Green Infra-structure juga harus diintegrasikan dengan rencana pembangunan ‘gray infra-structure’. Keterkaitan dengan pembangunan jalan, drainase atau apapun harus dilakukan secara KOMPEHENSIF dan MULTI-DISIPLINER, seperti yang sering aku katakan di banyak tulisan2ku. 

Harus ada ahli planologi, arsitek, urban planner, geodesi, biologi, landscape, bahkan ahli ekonomi serta struktur, stake-holders dan sebaganya ). Tidak mungkin hanya seorang saja, apalagi hanya 1 disiplin ilmu saja!

Dan tidak ketinggalan, partisipasi masyarakat perkotaan yang berwawasan lingkungan, akan memperlancar program pengembangan RTH perkotaan.

Mungkinkah?

MUNGKIN! Tetapi memang tidak gampang. Sebagian masyarakat peduli dengan kegiatan bersama ini, tetapi sebagian lagi tetap tidak peduli. Apalagi dengan adanya materi dan kekuasaan, semakin banyak masyarakat yang justru ‘berani’ dan berjudi dengan masa depan bumi kta ini …..

Tugas kita sendiri, tidak usah tinggi2. Tetapi hanya KEPEDULIAN sedikit saja tentang lingkungan, jika semuanya melakukan itu hasilnya akan bisa membangun sebuah space kehidupan yang lebih baik!

Dan kepedulian kita tentang lingkungan, akan memperlambat kehancuran dunia …..

Selamat Hari Bumi ……
13096071791943036955

Selasa, 22 April 2014

Mewujudkan ‘Ruang Hijau Pribadi’ Jakarta, Mungkinkah?

Selasa, 22 April 2014 - 1 Comment



By Christie Damayanti

bestdesain.blogspot.com
bestdesain.blogspot.com


Sebuah lahan, akan mempunyai batas2 yang boleh dan bisa dibangun. Ada garis sepadan bangunan (GSB), yang merupakan batasan yang boleh dibangun. Ada juga garis sepadan jalan (GSJ), adalah daerah terbuka tanpa bangunan sama sekali.

Garis2 GSB dan GSJ ini, merupakan salah satu cara untuk membangun ‘daerah hijau’, paling tidak di lingkungan kita sendiri. Fungsinya jelas terlihat, sebagai fungsi HIDROLOGIS, funsi EKOLOGIS, tetapi juga bisa berfungsi ESTETIS secara visual karena bisa dinikmati dari jalan umum.

Antara jalan sampai ke didinding rumah, adalah daerah hijau, dan daerah hijau tersebut bisa membentuk suatu koridor hijau jalan perkotaan. Pemanfaatan ruang antara depan pagar rumah dan jarag GSB seharusnyalah bisa menciptakan keserasian ‘landscape’ sesuai dengan ketentuan tata ruang dan tata bangunan perkotaan.

Pada kenyataanya, di Jakarta ( rumah2 yang tidak di dalam kompleks real estate ), ruang antara jalan ke pagar rumah ( yag biasanya digunakan oleh trotoar atau pedestrian untuk pejalan kaki ), dipakai sebagai warung2 kecil, atau parkir sepeda motor bahkan mobil. Bukan untuk ‘jalur hijau’.

Lalu GSB ( jarak dari ujung lahan pribadi sampai batas awal dinding rumah ), mereka lebih menginginkan sebagai car-port ataupun membangun ruangan baru. Padahal itu justru digunakan sebagai ‘daerah hijau’.

bappeda.palangkaraya.go.id
bappeda.palangkaraya.go.id




DAS ( daerah sepadan sungai )  seharusnya seperti ini, dengan jalur pedestrian dan jalur hijau untuk penyerapan. Tetapi apa yang terjadi di Jakarta? DAS di Jakarta, justu dipenuhi dengan gubug2 liar ataupun hanya sekedar tempat sampah dan pedagang2 liar, dan tidak bisa memenuhi perhitungan RTH perkotaan.

Bagaimana dengan karakteristik ‘daerah hijau’ antara landscape jalan dengan landscae pribadi?

Jangankan untuk landscape pribadi, dengan landscape jalanpun sepertinya belum bisa dilakukan untuk perumahan2 padat …..

Perbandingan ‘daerah hiau’ yang baik :

Ini adalah rumah sehat dengan ruang hijau sesuai dengan peraturan dan indah dipandang mata. Memang, ini adalah perumahan menengah keatas, sehingga mudah dilaksanakan …..


Ini adalah rumah menengah yang seharusnya sudah mudah untuk dikerjakan, tetapi rumah ini sama sekali tidak sehat :

1. Tidak ada penyerapan sama sekali. Semuanya beton, dan aku yakin, didalam tidak mempunyai bukaan sama sekali! Padat dan pengap!

2. Sama sekali tidak ada ruang ‘daerah hiau pribadi’.


Rumah ini bikan di kompleks real estate. Seperti yang aku tuliskan di atas, semua lahan mempunyai batasan2 yang boleh dibangun, seperti GSB dan GSJ. Tetapi dari foto diatas, sangat terlihat bahwa rumah tersebut dan sepanjang jalan itu, tidak mengindahkan apa itu GSB dan GSJ ( panjang GSB sekitar ½ lebar jalan didepannya ).

Belum lagi, sama sekali tidak mempunyai ‘daerah hijau pribadi’

Konsep sebuah lahan dengan ‘daerah hijaunya’, bukan hanya berhubungan dengan konsep ekologis dan estetika saja seperti yang aku tuliskan diatas saja, tetapi fungsi KESEHATAN merupakan sebuah konsep bagi warga kota. ‘Daerah hijau’ bisa dibangun untuk menetralan karbpn dioksida ( CO2 ), dengan perhitunang  kebutuhan2 antara penghuni dengan banyaknya tanaman dan besar lahan. Sehingga dengan konsep kesehatan, adalah yang terbaik untuk peningkatan kualitas hidup warga perkotaan.

***

Untuk ‘daerah hijau’, sebenarnya bukan hanya sebuah ‘hijau yang pasif’. Banyak orang mengira bahwa daerah hijau hanya benar2 untuk penghijauan, untuk tempat tanaman dan pohon2 yang sesuai dengan kebutuhan penghijauan.

titisukapohon.blogspot.com
titisukapohon.blogspot.com


‘Daerah hijau’ bisa dibuat aktif untuk kegiatan sehari2. Permainan anak2, bench2 cantik untuk kongkow atau berolah raga dengan ;jogging track’ …..

‘Daerah hijau’ tetap bisa dijadikan ‘hijau yang aktif’. Misalnya, daerah hijau untuk kegiatan sehari2. Untuk ruang bermain anak. Untuk olah raga dengan ‘jogging track’ atau hanya sekedar taman dengan bench cantik untuk kongkow. ‘Daerah hijau’ bukan hanya sekedar pepohonan seperrti hutan, tetapi bisa dimanfaatkan dengan mengambil buah dan bunga2nya. Hanya perlu diingat, persyaratannya harus sesuai dan tetap memberi manfaat dari ke-3 fungsi diatas ( ekologis, estetika dan kesehatan ).

Dari ‘daerah hijau’ pribadi dalam perumahan perkotaan, menjadi RTH ( ruang terbuka hijau ) untuk menjaga keseimbangan ekosistim perotaan.

Seperti apa ekosistim perkotaan?

Sebenarnya sama dengan ekosistim dasar, dengan adanya fungsi hidrologis, daerah resapan air, klimatoogis serta paru2 kota. Kehidupan perkotaan dimanapun, pasti menjadi penduduk kota tidak ada keseimbanganjiwa dan raga, sehingga semakin hari penduduk perkotaan akan semakin tidak ’sehat’. Ditambah lagi dengan semakin padatnya perkotaan, semakin berkuranglah RTH, khususnya kota Jakarta. Apalagi dengan pertumbuhan jenis2 teknologi yang semakin membuat bumi kita ini terus ‘terpuruk’ …..

Lihat tulisanku :



Perkembangan dan pembangunan kota Jakaarta merupakan aktivitas yang sangat aktif, dan dengan perkembangan yang terus menerus dan pertambahan penduduk semakin padat, keterbatasan ruang dan lahan menyebabkan RTH terus berkurang. Dan itu menjadikan Jakarta semakin tidak sehat.

Bukan hanya tida sehat karena tidak bagusnya fungsi hidrologis, ekologis, kesehatan dan estetika saja, tetapi juga semakin banyak penduduk kota akan semakin menambah kerawanan dalam segala hal.

Kecenderungan pembangunan perkotaan, khususnya kota Jakarta yang memang berpenduduk padat, yang juga mereka merupakan masyarakat urban, umumnya mereka terlibat dengan masakah ekonomi. Dimana pada kenyataannya, keberadaan RTH menjado sebuah tata ruang dan space yang sangat lemah, dan paling berpotensial kurang terawasi, karena RTH sangat rawan sebagai space untuk sebuah ‘kampung kumuh’ perkotaan.

RTH dianggap TIDAK MEMPUNYAI nilai ekonomi untuk perkotaan, tetapi MEMPUNYAI nilai ekonomi tinggi bagi warga kota!

Sangat di mengerti untuk kaum urban atau marjinal dari hail urbanisasi. Jika mereka datang ke Jakarta tetapi tidak atau belum mempunyai tempat tinggal, padahal mereka harus bertempat tinggal, dan mereka tidak mempunyai uang, mereka akan nekat membangun gubuk2 karton bekas untuk bertempat tinggal sementara di lahan2 terbuka ( seperti bantaran sungai, kolong jembatan atau pinngir jalan kereta api, yang sedianya merupakan RTH ), yang pada akhirnya menjadi tempat tinggal permanen.

RTH-RTH inilah yang lalu tidak memounya nilai ekonomi bagi perkotaan, secara juga paling tidak menghasilkan. Tetapi RTH ini justru mempunyai harga dan nilai ekonomi tinggi bagi warga kota yang tidak mempunyai uang untuk bertempat tinggal, dan dijajakan oleh oknum2 yang tidak bertanggung jawab.

Tetapi apa pun yang terjadi, kita harus mengupayakan keberadaan RTH demi terciptanya kualitas lingkungan perkotaan yang  tidak memburuk. Apapun itu! Perkembangan kota harus diarahkan untuk tidak merusak dan tidak mengurangi jumlah RTH-RTH yang sudah ada, dan justru menambah RTH-RTH baru …..

Memang semuanya harus kepedulian diri sendiri untuk ‘daerah hijau’ pribadi, dan pemda harus menghimbau, bahkan bisa mendesak untuk investor2 besar mau mengupayakan pembangunan RTH-RTH baru demi keberlangsungan ekosistim perkotaan, khususnya kota Jakarta ini …..

13096071791943036955

Kamis, 06 Maret 2014

Menuju Jakarta 30% RTH, Mungkinkah?

Kamis, 06 Maret 2014 - 0 Comments

Menuju Jakarta 30% RTH [Dari yang Sekarang 11% Saja], Mungkinkah?

By Christie Damayanti
13941007011622748858
arsitekturmagz.com

Sebelumnya :

Jakarta dengan kesemrawutannya, dengan bangunan2nya dan kendaraan2nya, serta pousinya, justru seharusnya mempunyai Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) yang banyak. Karena dengan banyaknya RTH, akan menjadikan Jakarta lebih sehat bagi warga kotanya. Perhitungan RTH bagi Jakarta sesuai dengan standard serta kebutuhan kesehatan warga kota, adalah MINIMAL 30% dari luas wilayah kota, terdiri dari RTH publik sekitar 20% dan RTH pribadi sekitar 10%.
Penyedian dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan Jakarta, menjadi salah satu butir, yang di deklarasikan, daam peringatan Hari Tata Ruang tahun 2010 di Bali, untuk Forum Indonesia. Dimana tentu saja jakarta merupakan bagian di dalamnya.
Seperti yang aku tuliskan diatas tai, dengan kesemrawutan Jakarta sebagai kota metropolitan dunia, keberadaan RTH sangat relevan. Bukan saja untuk kota Jakarta itu sendiri, tetapi lebih kepada kesewatan warga kotanya. RTH sendiri, mempunyai fungsi yang banyak.
  1. RTH memberikan peluang sebagai ‘parkir air’, bagi penyerapan air dan menghindari banjir, dan air hujan atau banjir itu langsung terserap ke dalam tanah.
  2. RTH sangat bisa membangun citra kota Jakarta yang lebih manusiawi, asri, apik dan cantik. Lanscape perkotaan merupakan salah satu fungsi dan fasilitas perkotaan untuk menjadikan kota lebih berwibawa.
  3. Selain itu, RTH bisa membangun kebutuhan interaksi sosial secara alami tanpa membedakan strata sosial dan sekat2 yang biasanya ada di masyarakat kota.

Ketika aku mulai menulis tentang RTH Jakarta, aku selalu menuliskan dengan hanya 20% RTH ideal bagi Jakarta. Ternyata banyak berubah, setelah aku berdiskusi dengan  Bu Dewi dari ‘Jakaarta City Planning Gallery’. Bahwa RTH yang ideal bagi Jakarta adalah 30%! Wow! Dan ketika aku bertanya pada beliau, RTH di Jakarta sekarang ini, berapa?
Ternyata jawabannya sesuai dengan referensiku sejak dulu, adalah hanya sekitar 11% saja, dari 30%. Artinya, Jakarta harus SEGERA membebaskan lahan guna dibangunnya RTH2 untuk Jakarta yang lebih baik.

Apakah bisa?
Menuju RTH Jakarta 30%
Jakarta memang sedang menuju ruang terbuka hijau yang membuat Jakarta lebih manusiawi. Pembebasan lahan di Jakarta untuk RTH tidak tanggung2. Sampai sekarang pembebasan lahan untuk RTH seluas 108.11 Ha, membangun RTH seluas 35.80 Ha, penataan jalur hijau seluas 30.40 Ha dan re-fungsi SPBU menjadi RTH seluas 3.68 Ha. Artinya, Jakarta SERIUS untuk menata RTH dan landscape perkotaannya, bagi warga kota.

13941007501952694809
www.tempo.co

1394100813117322801
assetica188.blogspot.com

Taman Suropati dan Taman Menteng, salah satu bukti pmda serius untuk mulai membangun RTH demi keseimbangan alam di Jakarta.
Peningkatan RTH di Jakarta, salah satunya untuk menanggulangi polusi udara. Paru2 kota sebenarnya akan membuat  Jakarta lebih cantik ( wawrna hijau daun segar ) tetapi juga lebih sehat bagi warga nya. Jika pepohonan sebagai paru2 ( menyerap gas CO2 ) sedikit, alhasil sebagian besar udara Jakarta akan tercemar oleh banyak gas2 buangan, yang sangat membahayakan warga kota.

Pernah tidak, kita duduk di bawah pohon di terik siang hari ? Apa yang terjadi? Kita akan merasa segar, teduh, nyaman dan memang sesah udara berkurang. Pepohonan di siang hari menyerap gas CO2 dan memberikan O2 bagi kita, yang berda di drkat2nya. Banyaknya, jika Jakarta banyak terdapat RTH dengan pepohonan2 yang benar2 terpelihara, sinar matahari terik pun mungkin tidak terasa, hanya kenyamanan dan kesegaran saja.

Sebaliknya, pepohonan di malam hari akan mengeluarkan gas CO2 dan menyerap gas O2, sehingga jika ada tanaman di dalam ruang harus dikeluarkan pada malam hari, karena kita yang tidur di rumah akan merasakan sesak nafas karena menghirup gas CO2 dan berebut O2 dengan tanaman.
Pernah dengar ada yang meninggal karena tidur di bawah pohon besar pada malam hari? Itulah penyebabnya, bukan karena ‘penunggu’ pohon itu …..

Kembali lagi dengan ruang terbuka hijau dan pepohonan. Jakarta sendiri berusaha untuk mempertahankan fungsi hutan mangrove dengan merehabilitasikannya.  Misalnya, dengan menanam sekitar 1,2 juta tanaman mangrove atau bakau di Hutan Angke Kapuk, seluas 31.33 Ha dan sepanjang Tol Sedyatmo. Juga dengan hutan percontohan mangrove seluas sekitar 1.900 m2, juga disepanjang jalan tol ini, dan 4.500 m2 di Hutan Angke Kapuk. (Sumber : Jakarta Raya)

13941008941555079849
id.wikipedia.org

13941009411201151595
www.setkab.go.id

Sangat terlihat, hutan mangrove bisa menjadi ‘barier’ dataran Jakarta dengan akar2nya yang besar dan sehat. Bayangkan, jika hutan ini rusak, akar2nya mati hanya sebagai sapah, sehingga tidak ada yang menahan dataran Jakarta dari gelombang air laut atau, dari hulu tidak bisa ke laut karena tertahan ’sampah dan bangkai hutan mangrove’ …..

Hutan mangrove sendiri, selain untuk penghijauan dan RTH Jakarta, juga untuk berdayaan rawa bagi kelestarian dataran Jakarta. Mangrove hidup di rawa2 berair payau. Biasanya terletak pada garis pantai dan dipengarui oleh pasang surut air laut. Fungsinya jelas, salah satunya adalah untuk ‘barier’ bibir pantai dari sapuan gelombang yang bisa mengikis daratan, sehingga air akan melambat dan mengendapkan lumpur.
Tanaman mangrove itu sendiri merupakan tamanan yang bersifat khas, setelah melewat proses adaptasi dan evolusi. Jadi, jika kita semena2 terhadap hutan mangrove, bisa dibayangkan, bagaimana air laut mengikis daratan Jakarta, atau air dari hulu melambat sampai ke laut ( karena mangrove rusak ) dan menggenang di lingkungan sekitarnya.

***

Jakarta memang berusaha untuk mengembalikan fungsi alamnya. Jakarta sudah tertinggal dari banyak kota dan negara untuk pengembalian fungsi2 alam bagi kesejahteraan warganya. Bisa dilihat, kota2 metropolitan dunia seperti New York dengan Taman Kota Central Park nya yang sangat besar ( lihat tulisanku Central Park New York : Kawasan ‘Hutan Kota’ dan Bagian Dari Paru-Paru Dunia ), atau London juga dengan Central Parknya. Bahkan Singapore dengagn Marina the Garden nya ( lihat tulisanku ‘Garden Bay the Bay’ : Ruang Hujau Baru yang Menakjubkan bagi Singapore ), salah satu yang pernah aku tuliskan.
Tetapi apa yang terjadi?
Kepedulian pemda Jakarta sering tidak direspon oleh warga Jakarta. Konsep2 ruang terbuka hijau dalam banyak peraturan2, khususbya bagi RTH pribadi dalam pembangunan rumah2, sering kali hanya sebagai simbol belaka. Peraturan2 kepemilikan bangunan dalam IMB ( Ijin Membangun Bangunan ), tidak dipenuhi oleh si pemilik rumah, dengan berbagai alasan. Ada yang membutuhkan ruangan lagi atau garasi, sehingga mengorbankan RTH pribadi 10%.

13941010071657896710
gambar-rumah88.blogspot.com

Denah type 21 ini, apakah sesuai dengan peraturan pemdda? TIDAK! Tidak ada penyerapannya sama sekali, dari depan sampai belakang. Teras itu dibetondan dibelakang itu pasti untuk jemuran. Dan juga dibeton. Dan ini ayng terjadi di lapangan. Di desain yang terbaik secara tata aturan dan arsitektural, tetapi di ubah oleh pemilik rumah sendiri , yang menghilangkan jatah RTH pribadi 10% …..
Untuk RTH publik yang seharusnya 20% ini, terkendala dengan pembebasan lahan, salah satunya. Ataupun seperti Waduk Pluit, atau waduk2 lainnya serta situ2 Jakarta, pun sebagian besar masih di diami oleh warga Jakarta, kaum urbanisasi. Ataupun taman2 yang seharusnya mejjadi taman pun, banyak beralih fungsi menjadi pemuiman liar. Misalnya, di RTH antara Tebet Barat dan Tebet Timur sebagian sudah menjadi pemukiman dan bisnis ‘liar’ (?) dan tempat itu tidak dirawat dengan baik, sehingga mengesankan kumuh dan menjadi ’sarang penjahat’  …..

Seperti semua tentang Jakarta dalam embangun ‘Jakarta Baru’, ‘meremajakan’ Jakarta itu bukan melulu dengan memperhatikan FISIK JAKARTA saja. Justru lebih memfokuskan pemikiran dan MINDSET warga Jakarta. Bahwa, untuk menciptakan Jakarta yang kembali dalam alamnya yang berwibawa adalah harus bersama, antara pemda Jakarta dengan wawrga Jakarta. Masing2 harus tidak boleh egois, untuk menciptakan keseimbangan alam bagi Jakarta, demi pemanasan bumi yang kian menjadi di seluruh dunia …..


Kamis, 23 Januari 2014

Memang ‘Sodetan Sungai’ sama dengan ‘Sedotan?’

Kamis, 23 Januari 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti


139046868030030952
www.tempo.co

Bikin sodetan?

Seperti membangun kanal ( lihat tulisanku Kanal Hanya Mampu Mengatasi Banjir Sesaat Saja ), sodetan BUKAN untuk mengatasi banjir, apalagi mengatasi banjir Jakarta selamanya. Jika kita membuat beberapa sodetan, atau banyak sodetan pun, sama sekali tidak mengatasi apa2. Tetapi justru memindahkan permasalahan di banyak titik.

Bagaimana tidak? Coba bayangkan. Jika kita membuat sodetan ke titik A dan B, berarti air akan mengalir ke titik A dan B. Dan debit air bertambah ke titik A dan B.

1.       Lalu, apa ada yang yakin bahwa air yang mengalir ke titik A dan B TIDAK AKAN merembes atau meluap ke daerah sekitar titik A dan B, secara ‘perhitungannya’ sangat cepat ?

2.       Dan tahukah keadaan lingkungan titik A dan B sebelumnya?

3.       Bagaimana dengan infrastruktur disana bahkan bagaimana dengan penyerapannya? Jangan2 sodetan di titik A dan B sebelumnya adalah pengerasan tanpa infrastruktur yang tangguh untuk menerima beban debit air disana?

Ditambah lagi, apakah ada yang sudah memikirkan ( karena sangat cepat, mereka ‘memutuskan’ untuk membuat sodetan ) tentang sodetan di titik A dan B itu?

4.       Bagaimana dengan cerita tentang ‘mengalirnya air’, yang seharusnya sesuai dengan hukum alam, bahwa air mengalir dari trmpat tinggi ke tempat rendah. Apakah titik A dan B mampu menggiring air ke tempat sesuai dengan hukum alam? Jangan2 titik A dan B justru lebih tinggi dari titik awal, dan air berbalik ke titik awal …..

5. Dan INGAT! Bahwa alam sudah mempunyai alurnya sendiri. Jika alur alam diubah manusia, membuat alam akan ‘marah’ dan menjadi ’seenaknya’ saja!

Kemudian juga akan dibuat pintu2 air dan bisa dibuka-tutup sesuai dengan kebutuhan. Ok, bisa juga. Tetapi semuanya harus diperhatikan dan perhitungan dengan seksama, sehinnga semuanya sesuai dengan yang seharusnya. Karena, pada kenyataannya sering kali segala sesuatunya kurang diperhatikan dan perhitungannya dianggap tidak sesuai, sehingga sia2 lah sodetan di titik A dan B tersebut.

Sodetan2 yang direncanakan itu pun belum dipikirkan matang2, tanpa perhitungan. Sodetan2 itu seharusnya membutuhkan waktu untuk dibangun, BUKAN dalam waktu yang teramat singkat! Seakan2 sodetan merupakan ‘uji coba’ saja. Kalau berhasil ya syukur tetapi kalau tidak berhasil, ya mau diapakan? Dan itu cukup membuang banyak hal : materi, waktu dan tenaga. Dan semuanya sepertinya akan sia2 …..

Sekarang, sebenarnya bagaimana supaya sungai2 di Jakarta mampu menampung AIR HUJAN dan ‘AIR KIRIMAN’ dari Bogor? Adakah caranya?

Ada! Walau tidak mudah dan harus diperjuangkan :

1. Meremajakan sungai2.

Semua sungai ( ada 13 sungai besar yang melintasi Jakarta ) harus dikeruk tiap tahun, dari hulu sampai ke hilir, untuk menambah dalam dan lebar sungai. Yang mengikutinya adalah JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN terutama di sungai!

2. Membangun DAS ( Daerah Aliran Sungai ).

Pemukiman di bantaran sungai harus dibersihkan, karena DAS bukan untuk pemukiman, melainkan untuk penyerapan dan RTH ( ruang terbuka hijau ).

3. Membangun RTH ( Ruang Terbuka Hijau ).

Mengembalikan ruang2 kota yang sedianya untuk RTH dari ( biasanya ) pemukiman kumuh / atau slum. Tata aturan tentang ijin membangun, HARUS ditertibkan, sehingga aturan2 sesuai dengan yang semestinya! Bahkan ditambah lagi, JANGAN ADA ketidak- pedulian warga kota berhubungan dengan daerah penyerapan!

4. Mengembalikan fungsi hutan lindung di daerah hulu.

Membongkar rumah2 dan villa2 yang tidak sesuai dengan aturan. Karena daerah hulu akan berbanding lurus dengan air dari hulu melewati Jakarta menuju laut.

5. Mengembalikan fungsi tanah untuk peresapan di selatan Jakarta.

Tidak mengijinkan pembangunan2 real estate atau bangunan2 serta jalanan, di selatan Jakarta, yang seenaknya saja, karena disana merupakan daerah peresapan.

6. Meremajakan hutan mangrove di utara Jakarta,

untuk mampu ‘menerima’ pengikisan air laut di pantai Jakarta, sehingga air pasang dan gelombang serta banjir rob tidak ‘berbalik’ ke Jakarta, dan air sungai tidak berbalik meluap ke dataran Jakarta.

7. Meninjau tentang aturan2 reklamasi untuk memperlebar ruang gerak Jakarta.

Bahwa reklamasi memang bisa dilakukan, sepanjang aturan2nya seauai dengan yang seharusnya. Misalnya, reklamasi bisa dilakukan jika sungai2 berkualitas baik dan hutan mangrove subur.

Ini adalah beberapa solusi yang bisa mulai dikerjakan untuk mengindari banjir tahunan Jakarta.

Untuk membuat perubahan, memang tidak bisa dengan ‘instan’, apalagi berhubungan dengan daerah yang sangat luas dan banyak permasalahan, seperti Jakarta. Semuanya sebenarnya sudah bisa dilakukan SEJAK DAHULU, tetapi masalahnya, APAKAH KITA MAU MELAKUKANNYA? 

Bahkan jika musim hujan selesai beganti musim kemarau, SEMUANYA AKAN DILUPAKAN!!

Jakarta memang mempunyai pemerintahannya sendiri, tetapi tidak terlepas dengan lingkungan atau kota2 dan pemerintahan di sekitarnya. Seperti Jawa Barat dan Banten. Sehingga, kerja sama antara pemda harus 
lebih ditingkatkan. Jangan hanya main salah2an! Semuanya harus bekerja sama karena jika saling menyalahkan, lingkungan akan tersingkirkan dan manusia2nya / warga Jakarta lah yang akan menelan akibatnya ……

Sodetan hanya bisa menampung debit air sangat sementara. Apalagi membangun sodetan yang sangat tergesa-gesa.

Dan sekali lagi jangan lupa, bahwa ALAM MEMPUNYAI ALURNYA SENDIRI, sehingga jika manusia mengubah tata alur alam, ‘dia’ akan MARAH dan bisa berlaku seenaknya sendiri. Seperti manusia, yang  sering hanya bisa berkoar2 menyampaikan pendapat dan keinginannya tanpa peduli dengan lingkungannya, dan  karena egois itu membuat alam tersingkirkan dan ‘marah’ …..

Link tentang Banjir Jakarta :












Beberapa ‘Predator’ Air!



















Selasa, 30 Juli 2013

‘Auman’ Harimau Sumatera itu Tidak Sekeras Dahulu : Pasca ‘Hari Harimau Internasional’ 2013

Selasa, 30 Juli 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti


13751609561066029255
dinyh.blogspot.com

Harimau Sumatera ( hanya ada di Pulau Sumatera ), merupakan salah satu sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup sampai sekarang. Termasuk satwa kritis yang terancam punah ( endangered ). Mereka justr hidup di taman2 nasional di Sumatera, bukan di hutan2 habitat aslinya. Harimau Sumatera terancam punah karena hutan tempat habitat aslinya terus dibabat,bahkan di taman2 nasional Sumatera yang seharusnya dilindungi.

Seperti yang sudah sering diberitakan tentang pembabatan hutan2 Indonesia, termasuk hutan Sumatera tempat ‘rumah’ harimau Sumatera, menjadikan harimau2 Sumatera tersebut mulai mencari ‘tempat tinggal’ baru, bukan di hutan2 tetapi mulai masuk ke pedesaan. Pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial serta pembangunan jalan, membuat harimau2 Sumatera itu tidak terdengar ‘aumannya’ sebagai raja hutan. Ditambah semakin banyaknya perburuan ilegal untuk diambil beberapa bagian tubuh harimau Sumatera, menjadikan mereka semakin terancam kepunahan.

Semakin sempitlah ‘rumah’ mereka dan mereka mulai merambah ke pedesaan, memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia. Alhasil seperti yang kita sering dengar atau yang kita sering baca di koran2, mereka dibunuh dan ditangkap jika mereka memasuki pedesaan. Mungkin mereka mencari makanan dan mereka mendapatkan ternak2 manusia ( kambing, domba atau ayam ) dan memakannya, sehingga mereka merupakan ‘musuh’ manusia, bukan hanya mereka memakan ternak2 kita tetapi juga mereka ‘mengancam’ keberlangsungan hidup manusia karena bisa saja mereka ‘makan’ manusia.


1375161003934679722
www.republika.co.id

Hutan Sumatera ( dan hutan2 lainnya di Indonesia ), sudah sebagai huta yang terancam ‘kepunahan’. Jika demikian, bagaimana keseimbangan alam Indonesia? Mampkah manusia Indonesia bertahan tanpa ‘hutan’ ( dan segala isinya? ).

Seperti di tulisanku Hari Bumi 22 April 2011 : Enyahkan ‘Monster’ di Dalam Diri Kita untuk Menyelamatkan Bumi Ini, sebenarnya bukan hanya pembalakan hutan2 Sumatera saja yang membuah spesies harimau Sumatera terancam kepunahan ( sebagai satwa khas Indonesia ), tetapi semua hutan2 Indonesia. Di Kalimantan, pengrusakan hutan juga ‘merubah’ satwa2 khas Kalimantan ( seperti Orang Utan ) juga mengalami kepunahan. Juga di hutan2 Papua, termasuk hutan mangrove di Pulau Jawa, yang kesemuanya sebenarnya merupakan ’simbiosis mutualisma’ dengan manusia serta makhluk2 hidup yang lain di dalam hutan.

‘Siapa yang membuat hubungan kita dengan bumi kita ini menjadi rusak?’

Sebuah pertanyaan yang aku yakin, swemua orang sudah mengetahuinya. Jangankan hutan2 Sumatera, Kalimantan atau Papua yang susah untuk diawasi karena jauh, bahkan hutan2 mangrove atau setidaknya RTH ( Ruang Terbuka Hijau ) kota pun tidak bisa diselaraskan dengan hidup perkotaan karena ketidak-pedulian sebagian besar semua warga negara.

“Bagaimana dengan pepohonan di hutan2 di pedalaman Kalimantan dan Papua atau pepohonan di perkotaan? Bagaimana dengan pertamanan dan penghijauan di ruang terbuka hijau di perkotaan? Banyak sekali ‘monster2′ yg melahap pepohonan dimana2 ….. jika pepohonan di hutan pedalaman, wajar jika kita ikut mengawasi karena tidak ‘terlihat’ mata kita. Tetapi bila terjadi di perkotaan, siapa yg mesti disalahkan?”

***

Sehubungan dengan tempat hidup atau habitat dari harimau Sumatera, yang juga berhubungan dengan Hari Harimau Internasional 2013, seharusnya kita sebagai bangsa yang besar yang mempunyai banyak sekali spesies satwa yang unik dan menarik, harus berusaha untuk menyelamatkan spesies2 satwa kita. Bukan hanya satwa tetapi juga spesies2 tumbuhan khas indonesia. 

Mereka hidup di pedalaman2 hutan Indonesia, tetapi ketidak-pedulian kita menjadikan mereka semakin lagka bahkan punah. Bahkan justru beberapa negara sangat concern dengan spesies2flora dan fauna di Indonesia, seharusnya menjadikan kita malu.

Pembakaran hutan Sumatera merupakan ‘cara’ praktis untuk membuka lahan. Heh? Untuk aku dan beberapa orang yang peduli sangat ‘kejam’ untuk membuka lahan, karena bukan hanya hutaannya yang terbakar dan hitam legam, tetapi setidaknya ratusan satwa akan mati terpanggang. Tidakkah mereka punya ‘hati nurani?’. Selain itu, asap tebal akan menyiksa ke penjuru negeri, bahkan ke negara2 tetangga.


13751610601033565969
www.republika.co.id

Menurut WRI ( World Resources Institute ), bulan Juni 2013 ini merupakan kebakaran hutan yang salah satunya menjadi rekor terburuk kebakaran hutan sejak tahun 2001. Mereka mengatakan, kebakaran waktu itu merupakan permasalahan yang terus berulang, bukan hanya di Sumatera, tetapi juga di seluruh Indonesia. Bahkan yang lebih krusial lagi, saat ini merupakan issue yang sangat serius, berhubungan dengan ‘pembersihan lahan’ bagi komoditas utama seperti kelapa sawit dan industri kayu serta kertas. Ditambah lagi adalah

-          Merusak hutan alam,
-          Polusi udara dengan adanya asap tebal,
-          Berdampak pada perubahan iklim,
-          Serta merugikan kesehatan masyarakat di sekitar wilayah tersebut.

Pengaruh kepada negara2 tetangga cukup serius. Berhubungan dengan batas maksimum yang dapat diterima sebagai kualitas udara yang ’sehat’.

Itu yang berhunungan dengan manusia. Bagaimana yang berhubungan dengan harimau Sumatera? Mungkin sebagian besar akan mencibir,

“Lah, urusan manusianya saja belum jelas dengan banyak permasalahan diatas tentang kebakaran hutan, apalagi urusan satwa? Harimau lagi, satwa liar yang merupakan ‘musuh’ manusia …..”

Benar! Hrimau memang satwa liar, tetapi sadarkah kita bahwa harimau juga merupakan makhlukhidup yang harus dilestarikan, karena semuanya ciptaan Tuhan? Tidak usah jauh2 deh! Jika Tuhan menciptakan harimau, pasti ada maksudnya. Mungkin kita tidak sadar atau bahkan tidak tahu, bahwa antara manusia dengan harimau mempunyai hubungan saling ketereratan dalam ’simbiosis mutualisma’.


1375161127436561457
perbatasankusuma-konservasialamsumatera.com

Secara logika saja :
Harimau adalah predator alami bagi hewan2 herbivora yang cepat sekali berkembang biak. Seperti kijang, kelinci bahkan tikus. Satwa2 herbivora ini bisa puluhan ekor jika melahirkan. 

Bagaimana jika harimau tidak ada atau punah? Satwa2 kelinci, kijang dan tikus akan terus berkembang biak sehingga akan mengancam pertanian dan perkebunan manusia. 

Jika hutannya yang punah ( ‘terbakar’ atau pembukaan lahan yang tidak terkontrol atau illegal logging, bukan hanya satwa herbivora saja yang mengancam pertanian dan perkebunan kita, bahkan harimaunya pun akan memakan hewan2 ternak kita bahkan bisa ‘memangsa’manusia jika benar2 tidak ada hewan lain yang isa dimakan. Semuanya merupakan saling keterkaitan. 

Yang jelas, Tuhan menciptakan semuanya bukan tanpa maksud, tetapi pasti ada tujuannya …..

Harimau Sumatera sekarang ini merupakan spesies yang angka. Spesies ini hanya ada di hutan2 Sumatera saja. Menurut WWF Indonesia, jumlahnya hanya tinggal 400 ekor saja. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, mereka mempertahankan makanannya ( satwa liar ) ada dibawah pengendaliannya. 

Harimau Sumatera menghadapi 2 jenis ancaman untuk bertahan hidup :
-          Kehilangan habitatnya ( hutan Sumatera ) untuk laju pembangunan dan egoisme manusia
-          Perdagangan illegal dan memperjual-belikan bagian2 tubuhna di pasar gelap ( obat2an, dekorasi, jimat atau perhiasan ), juga demi keegoisan manusia


1375161177740310178
www.greenpeace.org

Perdagangan illegal harimau Sumatera. Kasihan mereka, karena keegoisan manusia …..

Bahkan manusia tidak peduli dengan keseimbangan alam, yang sebenarnya juga demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Harimau sama sekali bukan ‘musuh manusia’. Mereka memang predator, tetapi mereka tidak ‘jahat’ seperti manusia. Mereka akan memangsa satwa2 lain bahkan manusia, JIKA mereka lapar! Bukan hanya untuk membunuh!

Harimau tidak ‘berakal’ untuk hanya sekedar ingin membunuh! Mereka hanya untuk memangsa karea panggilan alam, lapar. Dan mereka tidak mampu memikirkan keinginan mereka untuk ‘keluar hutan’, jika mereka nyaman di dalam hutan ……


137516124414850339
kmpv.blogspot.com
1375161286363824331

Sebuah kedamaian jika kta memandang foto diatas.Keluarga harimau Sumatera dengan amak2nya serta kehidupan yang tenang di hutan Sumatera …..

Untuk itulah kita yang peduli melihatnya sebagai ‘keseimbangan alam demi kita semua’. Dan adanya Hari Harimau Internasionl 2013 ( Global Tiger Day 2013 ) - 29 Juli, merupakan kepedulian kita semua akan keseimbangan alam. Bahwa bumi ini diciptakan Tuhan bukan tanpa maksud, dan manusia sudah di berikan mandat untuk mengelola bumi dengan segala isinya. 

Tetapi tetap harus bertanggung jawab. Dan dengan hampir punahnya Harimau Sumatra, adalah indikasi ketidak-pedulian serta keegoisan manusia dalam pengelolaan bumi …..

Bagaimana jika Tuhan ‘marah?’ Jangan sampai …..

Senin, 08 Juli 2013

‘Keangkuhan dan Kesombongan’ Taman Monas

Senin, 08 Juli 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti


1373275767394567923
dtfl.klixdigital.com

Apa kabar Monas dan tamannya? Sebuah icon Jakarta yang seharusnya merupakan kebanggan warga Jakarta. Tetapi pamornya kalah dengan landmark2 di beberapa pojok Jakarta ini, yang memang lebih baru, lebih gres dan lebih menarik ….. Landmark2 Jakarta yang mengikuti jaman dan sering tidak mengindahkan konsep dan ide budaya lokal serta lingkungan …..

Ketika sebuah icon, apalagi icon ibu kota, lambang negara, di ‘pagari’ dengan pagar2 tinggi, mengakibatkan icon tersebut berkesan ’sombong’, angkuh dan arogan. Icon ibu kota yang merupakan kosep penghijauan dan lingkungan, seharusnya merupakan sebuah lingkungan yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Bahwa udara bersih, penghijauan dan lingkungan yag nyaman merupakan hak semua orang, tanpa harus di batasi dan dipagai, apalagi icon ini merupakan titik ’sentral’ sebuah kota Jakarta, bertempat persis di tengah2 ibu kota dan mengelilingi Monas.

Cerita ini berawal ketika pagar2 tinggi dipasang sekeliling Taman Monas di suatu saat bbeberapa tahun lalu, sebuah taman yang seharusnya menjadi taman kebanggaan Jakarta dan sebagai tempat bermain bagi warga Jakarta. Taman Monas dengan pepohonan yang cukup rindang  tetapi tidak di desain sedemikian yang membuat Taman Monas tidak tampak ‘hidup dan cantik!’, membuat Taman Monas ini terlihat nagkuh dan sombong! Seakan2 hanya beberapa gelintir orang yang boleh masuk dan hanya dinikmati oleh orang2 yang benar2 mau dan peduli dengan lingkungan.


1373275817597643879
space.kunci.or.id
Indahnya Taman Monas jika terbuka ( tanpa pagar kokoh dan tinggi ) …..

Aku pernah ke banyak kota, dan ibu kota negara. Di masing2 kota pasti mempunyai icon tertentu, dan yang jelas di kota2 tersebut selalu di desain taman cantik, taman bermain ataupun ruang2 terbuka hijau untuk sekedar daerah peresapan air hujan. Selalu ada! Sebuah taman kota yang cantik dan bisa untuk ‘meeting point’ ataupun sekedar berjalan2 bagi warga kota, dengan keluarganya serta wisatawan sangat nyaman untuk berjalan2 disana. 

Bahkan pemda pun memberikan ijin untuk sekedar ‘piknik’ di taman kota ASALKAN semuanya harus menjaga kebersihan, kemanan dan kenyamanan.

Aku juga pernah mengamati dengan detail dan serius, sebuah taman kota di London, berseberangan dengan icon kota itu, Buckhingham Palace. Taman kota disana, disebut Hyde Park, sebuah taman yang sangat cantik yang benar2 di desain sesuai dengan martabat kota London dengan Buckhingham Palace nya, tempat Ratu Elizabeth dan keluarganya bermukim.

Taman Monas memang berbeda dengan Hyde Park atau taman2 kota di tempat lain. Dan yang jelas, masing taman kota mempunyai konsep dan budaya lokal dikedepankan.

Sebenarnya, tidak susah untuk membuat sebuah taman kota, sebagai icon ibu kota. Yang jelas, tanaman2nya sesuai dengan suhu dan lingkungan, sebagian besar berasal dari negara masing2 ( karena tanaman lokal merupakan tanaman yang terbaik untuk sebuah taman kota ). Begitu juga dengan perawatannya. Harus tidak terlalu susah, walau tetap memakai jasa warga kota untuk merawatnya, seperti periodik sekali untuk menggunting dan memotongnya, serta menyiramnya sesuai dengan waktu2nya.


1373275865971015638
jakarta.panduanwisata.com
13732759021113560601
news.detik.com

Aku memang sudah lama tidak kesana ( sejak aku sakit ini ), sehingga tidak tahu keadaannya sekarang. Tetapi jika tidak berubah, Taman Monas sebenarnya cantik, menarik serta mampu membuat nyaman setelah elihat kemacetan di sekelilingnya.

Dengan jasa memeliharanya, seharusnya Taman Monas akan membuat warga kota mempunyai tempat bermain dan berekreasi yang murah dan cantik bagi keluarganya …..

13732759471632900117
13732759701305805613

Pada kenyataannya, jasa pemeliharaan tidak sesuai dengan keinginanku, sebagai warga kota. Sering kita melihat daun2 kering dan rumput, yang tidak dipotong, atau penyiaraman yang hanya sekedarnya. Artinya, springkler2 yang tidak sesuai dengan waktunya, sehingga ada daerah2 mana yang kering dan justru ada daerah2 yang sangat becek, karena skringkler2 yang tidak diatur.

Kembali dengan Taman Monas. Warga Jakarta menurutku memang sangat ‘brutal’. Artinya, mereka memang tidak peduli dengan kebersihan. Jika mereka ‘dibiarkan’ berkeliling taman kota, serta mereka piknik disana, bakalan semuanya akan kotor dengan sampah2 bertebaran! Itu memang benar sekali!


137327601594069835
berita8.com

Jika seperti foto diatas, memang seakan2 solusinya adalah dengan menutup akses taman bagi wawrga kota. Jika warga kota ingin masuk, harus melalui ’serangkaian’ tata cara untuk menataati peraturan2 disana.

Peraturan2 itu seharusnya juga sudah merupakan KEHARUSAN BAGI SEMUA ORANG untuk menjaga kebersihan, keamanan serta kenyamanan. Edukasi2 bagi warga kota lah yang harus terus dilakukan.

Di tambah dengan pramuwisma yang biasanya bisa tidur dimana2 saja, apalagi di taman. Mereka akan memenuhi taman2 kota. Juga aku pernah melihat taman kota menjadi ajang berpacaran muda mudi dengan tidak senonoh. Duh ….. 


1373276124971865967
beritajakarta.com
1373276151597258427
kfk.kompas.com

Bagaimana warga kota yang terus melanggar peraturan? Bahkan pagar yang kokoh pun bisa dirusak untuk mereka masuk ke Taman Monas …..

Pedagang keliling yang duduk di Taman Monas?? Jika tidak di edukasi, taman ini akan menjadi kotor dengan sampah2 yang bertebaran serta pedagang2 tanpa izin …..

Tidak heran melihat Taman Monas dipagari dengan pagar tinggi dengan kesan angkuh dan sombong!

Ok! Sekarang, mari kita lihat taman2 kota di sekeliling Jakarta. Dimana aku sebelum aku sait stroke ini, aku sering berkeliling dengan anak2ku untuk bermain di beberapa taman kota di Jakarta. Aku sering bermain otopet, atau bermain sepeda serta virgorboard dengan anak2ku di Taman Menteng serta Taman Surapati. Aku beerapa kali bermain di Taman Kelapa Gading serta di Ragunan.

Taman Suropati memang hanya taman kecil, tidak sebnding dengan Taman Monas, begitu juga Taman Menteng.  Tetapi aku mengamati kedua taman ini tetap terpelihara dengan baik. Sepertinya pengelola ‘keras’ dengan wawrga kota yang bisa membuat gaduh disana. Seperti para tunawisma yang tidak pernah terlihat disana, mud mudi yang berpacaran dengan tidak senonoh atau pedagang2 yang tertib berdagang di luar area taman. Sehingga ku dan anak2ku nyaman bermain disana …..

Lalu bagaimana dengan Taman Monas? Memang, Taman Monas tetap terbuka untuk umum. Mereka bisa masuk lewat 1 pintu masuk saja. Tetapi, sunggu, dengan paga2 besar dan tinggi yang terlihat angkuh dan sombong, warga kota merasa segan dan malas untuk masuk kesana! Apalagi, jika ada wisatawan lokal dari luar kota ( apalagi belum pernah ke Jakarta ). Aku sangat yakin, mereka taku untuk masuk dan hanya  berdiri di pinggir2 pagar2 tinggi, dan Taman Monas tetap ‘angkuh’ menjaga martabatnya ……

***

Sebagai warga kota, apalagi sebagai urban planner serta arsitek humanis, aku sangat menyayangkan sebuah icon Taman Kota yang dijaga oleh pagar2 angkuh untuk menjaga martabat taman kota yang bersih dan nyaman. Tetapi taman ini tidak bisa dinikmati oleh warga kota.

Seharusnya, pemda tidak hanya memberi solusi hanya sekedar memagari Taman Monas saja. Taman Monas memang benar kebih bersih tetapi Taman Monas tidak bisa dinikmati warga kota. Menurutku, seharusnya pemda atau siapapun yang me-manage taman ini untuk terus mengedukasi warga kota untuk menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanannya. Serta menambah personil yang bisa mengawasi Taman Monas, berkeliling serta terus memberikan teguran jika warga kota atau pengunjung berbuat yang tidak2.

Solusi seharusnya bisa saling menguntungkan, bukan hanya sekedar memutuskan hubungan interaksi antar warga kota dengan lingkungannya …..

Tulisan berikutnya adalah ‘bagaimana membuat Taman Monas mampu membuat warga kota menjalin dan berinteraksi dengan penghijauan dan lingkungannya tanpa keangkuha dan sombong dalam pagar2 kokoh’ …..


Rabu, 26 Juni 2013

Antara Bangunan Tanpa Ijin dengan Banjir yang Meluas di Jakarta

Rabu, 26 Juni 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti

13722395691747485601
www.jakarta.go.id

Lagi tentng banjir. Dari tulisan2ku sebelumnya, apalagi artikelku yang ini ‘Jakarta Bebas Banjir?’ Ah, Itu Hanya Ilusi, mengatakan bahwa salah satu penyebab banjir adalah pemukiman penduduk di bantaran kali atai di isi kanal serta di waduk2 buatan Jakarta. Juga bahwa daya dukung tanah Jakarta tidak sesuai dengan kepadatan Jakarta. Bahwa penduduk Jakarta itu sangat padat.

Sebenarnya, jika penduduk ( dalam artian : manusianya ) Jakarta TANPA rumahnya, kemungkinan daya dukung tanah Jakarta masih mampu untuk warga Jakarta, karena berapalah bobot manusianya. Yang menjadi permasakahan adalah semua warga Jakarta ( dalam artian : manusianya ) membutuhkan rumah, sehingga berapa pertambahan bobot warga Jakarta? Manusianya + rumahnya. Bahkan masing2 warga Jakarta bisa jadi mempunyai rumah lebih dari satu!

Bicara soal rumah, tidak lepas dari pemukiman. Arena tidak hanya 1 rumah saja, tetapi dalam suatu komunitas di suatu daerah saja, pasti terdapat puluhan rumah, yang disebut perumahan. Iya, jika memang rumah2 tersebut mendapat ijin untuk dibangun oleh pemda DKI Jakarta. Ada kalanya, atau bisa disebut lebih sering, rumah2 yang didirikan warga Jakarta itu TIDAK MENDAPAT IJIN untuk dibangun! Kacau, ga ??

Konsep sebuah kota, bahkan disemua lini kehidupan kita ini, semuanya harus di atur. Peraturan2 itu disepakati untuk kepentingan bersama. Begitu juga pemda DKI Jakarta. 

Bahwa untuk membangun bangunan apapun, termasuk rumah, harus mempunyai ijin membangun ( IMB = Ijin Mendirikan Bangunan ) yang dikeluarkan oleh sebuah Dinas, yang dulu disebut DPPK ( Dinas Pengawasan dan Pembangunan Kota ) yang berganti nama sejak beberapa tahun lalu menjadi DPPB ( Dinas  Pengawasan dan Penertiban Bangunan ). Dinas inilah yang mengeluarkan ijin membangun bangunan apapun, baik rumah tinggal dari yang paling kecil sampai super block yang dibangun oleh developer2 besar. Dan itu semua, sama saja. Baik di Indonesia ataupun di negara2 lainnya.

Tetapi pada kenyataannya di negara2 berkembang, masih banyak bangunan2 yang dibangun TANPA IJIN. Bukan karena memang belum ada peraturannya, tetapi kepedulian warga yang masih sangat kecil untuk kepentingan bersama. Sekarang, apakah Indonesia masih sama dengan yang dulu, sebagai negara berkembang??

Bukan masalah ijin yang tidak ada dalam membangun bangunan saja, tetapi berdampak dengan banjir. Bangunan2 yang tanpa ijin tetapi terus dibangun ( padahal banyak juga bangunan2 yang SENGAJA tidak ijin untuk dibangun karena mereka mempunyai keinginan sendiri dan ‘kolaborasi’ dengan oknum pejabat pemda DKI Jakarta, sehingga Jakarta semakin semrawut.

Bayangkan saja. Jika untuk membangun sebuah rumah, si pemilik rumah dituntut untuk mendesain dengan baik sesuai denan kaidah aritektur tentang fungsi dan efisiensi. Peraturan2 umu dan internasional pun harus dipahami. 

Misalnya, lingkungannya terdapat ruang terbuka hijau. Atau jarak antara rumah harus ssekian meter atau juga antara jalan dan rumah harus sekian meter ( GSJ atau / dan GSB ) dengan ditsnami pepohonan atau ruang terbuka hijau lagi. Dan ini ‘merugikan’ si pemilik tanah. Yang harusnya bisa untuk 5 kamar ( misalnya ), dipotong untuk ruang terbuka hijau menjadi hanya 3 kamar ), sehingga banyak orang2 pemilik tanah ‘kong kalikong’ untuk tidak membuat ruang terbuka hijau karena tetap kekeuh membangun 5 kamar!

Artinya, daya dukung tanah Jakarta bertambah berat! Karena peraturan2 yang tidak dijalani. Baik ketidak-pedulian pemda Jakarta untuk membongkar paksa bangunan2 tanpa ijin, juga ketidak-pedulian warga Jakarta yang seenaknya saja ‘menelikung’ peraturan demi kepentiang sendiri saja.

Nah, jika ‘penggede2′ atau ‘orang2 kaya’ Jakarta saja tidak mau menepati peaturan ijin bangunannya, bagaimana dengan warga Jakarta kebanyakan? Tidak ada panutan. Tidak ada yang memberi contoh. Apalagi arus urbanisasi dari luar Jakarta membludag untuk tinggal di Jakarta dan mereka tidak mempunyai dana yang cukup untuk membeli rumah yang standard saja, mau tidak mau mereka akan mendirikan rumah gubug di daerah ’slum’ yang pastinya tanpa ijin!

Memang aku sangat mengerti tentang dilema ini bagi pemda Jakarta. Disatu sisi mereka membutuhkan tempat tinggal, tetapi disisi lain rumah2 mereka akan semakin membebani tanah Jakarta. Baik bangunan2 mewah tanpa ijin atau gubug2 liar yang juga tanpa ijin, seharusnyalah pemda DKI Jakarta dengan memakai ‘tangan besi’ untuk membongkar paksa bangunan2 tanpa ijin!

Kejam? Entahlah!  

Tetapi aku sebagai arsitek humanis, dan mengerti tentang peraturan2 serta memahami tentang keadaan sosiologi kehidupan, aku juga mengalami dilematis!

Pemda DKI Jakarta melalui Perda Nomor 3 tahun 1972, berusaha untuk menertibkan bangunan liar di Jakarta. Dan sering mengadakan penggusuran, sampai sekarang. Namuun pada kenyataannya, jika tidak di demo oleh komunitas itu bahkan diperkarakannya, mereka yang sudah tergusur, lama2 membangun lagi gubub2 liar di tempat yang berbeda, atau kembali lagi di tempat yang sebelumnya dalam beberapa tahun kmudian. Dan daerah tersebut kembali dipenuhi oleh gubug2 liar lagi ……

Himbauan pemda DI Jakarta hanya sebagai lagu yang mendayu, tidak dipedulikan warga. Tetapi juga peraturan2 Jakarta pun di ‘telikung’ oleh oknum2 pejabat Jakarta, sehingga semuanya kian semrawut.

*Mana ayamnya, mana telurnya?*

Dan menurut pengamatanku sebagai ‘urban & city planner’, bangunan2 tanpa ijin inilah salah satu penyebab banjir melanda Jakarta, yang berbanding lurus, jika bangunan tanpa ijin semakin banyak, setara dengan banjir yang semakin meluas …..

Sekarang, apakah kita mau peduli dengan kota kita yang semakin lama semakin semrawut? Apakah kita tidak ingin dunia dan lingkungan kita ‘bebas banjir?’

Aku sih ingin Jakarta kita menjadi ‘bersahabat’ untuk kehidupan kita ……

Catatan :

Jika ada yang mendapatkan bangunan yang sedang dibangun TANPA PAPAN KUNING ( IMB ) berarti bangunan tersebut tanpa ijin. Jika berkenan, bisa dibaca ke DPPB di http://dp2b.co tentang ijin mendirikan bangunan di Jakarta.

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks