Artikel Terakhir
Home » Posts filed under Penghijauan
Tampilkan postingan dengan label Penghijauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penghijauan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 April 2014
Kamis, 24 April 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

Selamat Hari Bumi ……
thegirg.org
Sebuah kota pasti dan harus mempunyai
infra-structure, yang berfungsi sebagai dasar dari hidup perkotaan.
Infra-structure2 itu dibagi menjadi beberapa jenis, sesuai wacana
akademis :
1. Urban Infra-structure - lebih kearah fisik kota
Misalnya, tentang jaringan transportasi (
jalan, kereta, pesawat, dll ), jariang utilitas ( listrik, air, gas,
telepon, dll ), jaringan sampah, dan sebagainya
2. Infra-structure sosial
Misalnya, tentang sekolah ( semua kegiatan pendidikan ), rumah sakit, perdagangan ( pasar, perbelanjaan, dll ) dan sebagainya
Lalu, sekarang ini, dunia membagi urban
infra-structure sendiri dalam 2 katagori, menyusul dengan adanya
ketidak-pedulian dunia tentang lingkungan, sehingga banyak sekali ‘harta
karun’ dalam bumi menjadi sangat tidak bisa mendukung kehidupan manusia
lagi, dan membuat manusia ‘meluncur turun’ untuk kualitas hidupnya :
1. Gray Infra-Structure
Seperti transportasi, jembatan, drainase dan sebagainya
2. Urban Green Infra-Structure
Adalah pembangunan kot yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
‘Urban Green
Infra-structure’, lebih kepada keterhubungan manusia dengan hijau alam
dan lingkungan ( green space ) yang akan memberikan keuntungan2 bagi
manusia dalam dunia itu sendiri. Konsepnya adalah, EKOLOGIS (
keberlanjutan lingkungan, sosial serta ekonomi ) demi semuanya,
khususnya manusia ).
hypae.net
Contoh, proyek bersama antara
pemerintah dan warga kota untuk ‘Urban Green Infra-structure’. Tidak
besar2, mungkin hanya sepanjang jalan perumahan kita saja, lalu di
sepanjang jalan yang lain, kelompok2 yang lain. Yang lama kelamaan akan
menjadi kesinambungan kawasan perkotaan dalam RTH.
Tidak hanya sekedar menanam
pohon saja, atau tidak sekedar mengganti lapisan pedestrian saja, tetapi
harus secara KOMPREHENSIF dengan batasan2 konsep standard untuk
menciptakan ‘hijau kota’ …..
Fungsi ekologis itu sendiri, merupakan
jaringan atau networking dari RTH ( ruang terbuka hijau ) yang akan
melindungi dari nilai dan fungsi ekositem perkotaan, khususnya Jakarta.
www.melioradesign.net
Contoh konsep standard dalam menanam pohon dengan lingkungannya, untuk kenymanan dan kesehatan masyarakan perkotaan.
Bingung?
Gini :
Misalnya, kuta semua pasti membutuhkan
air bersih. Semua manusia memang membutuhkan itu, bukan? Air bersih itu
sendiri, kita dapatkan dari beberapa sumber, yaitu
1. Air hujan yang memang seharusnya dapat diserap oleh RTH.
2. Ataupun air tanah yang memang merupakan sumber air untuk hidup.
3. Tetapi juga bisa didapatkan dari air sungai, dengan metoda2 khusus penjernihan air
4. Atau apapun, jika teknologi sudah memungkinkan
Tetapi jika manusia masih tidak
memperdulikan lingkungannya, sehingga air bersih dewasa ini sulit
didapat, sehingga manusia harus membeli air bersih dengan materi, yang
tambah lama semakin mahal. Bayangkan, untuk minum air bersih saja
per-gelas kita membeli 500 rupiah atau di beberapa daerah di Indonesia
harus membeli air bersih untuk mandi, mencuci dan memasak per-galon. Dan
pasti akan semakin banyak daerah2 yang kekurangan air bersih.
1. Tanah penyerapan diganti dengan beton, sehingga air hujan langsung ke laut.
2. Penyedotan air tanah sedemikian
rupa, dan manusia lupa bahwa sumber alam tetap bisa habis dan ( mungkin
) tidak tergantikan
3. Dan sebagainya
‘Urban Green
Infra-structure’ adalah jaringan yang saling berhubungan antara lahan
basah, hutan, lahan kering, sungai, kehidupan liar dalam perkotaan,
dengan RTH, jalur hijau, konservasi, pertanian atau perkebunan, tama2
perkotaan dan semua yang berhubungan dengan ‘hijau’.
Dimana ini akan sangat mendukung
kehidupan manusia, bukan hanya dukungan untuk kehidupannya saja tetapi
tentang kesehatan dan kenyamanan warga kota. ‘Urban Green
Infra-structure’ bisa digunakan sebagai pengendali perkembangan kota.
Perkotaan harus mempunyai RTH, dimana RTH-RTH yang sudah ditetapkan,
TIDAK DAPAT DI KONVERSI UNTUK FUNGSI LAIN.
Pada kenyataannya, sebagian besar kota2
metropolitan ( terutama di negara2 berkembang ) justru mengganti RTH
menjadi ‘perumahan dan kegiatan manusia’ tanpa ijin. Dan itulah salah
satu yang membuat ‘hijau’ kota semakin semakin menyusut.
www.drexel.net
Contoh hasil dari ‘Urban Green Infra-structure’ untuk perkotaan
Lihat tulisanku :
***
Seperti tulisanku di link2 diatas, pada kenyataannya RTH tidak mempunyai dampak ekonomi bagi perkotaan, jelas! Karena RTH merupakan fasilitas2 perkotaan. Sehingga RTH memang HARUS DIAWASI keberlangsungannya. Tetapi ternyata justru
RTH mempunyai dampak ekonomi bagi warga kota, terutama mereka yang
tidak mempunyai tempat tinggal, dan mereka membangun ‘perumahan padat’
di jalur2 hijau seperti di bantaran sungai atau di sepadan sepanjang rel kereta api.
Pembangun Urban Green
Infra-structure juga harus diintegrasikan dengan rencana pembangunan
‘gray infra-structure’. Keterkaitan dengan pembangunan jalan, drainase
atau apapun harus dilakukan secara KOMPEHENSIF dan MULTI-DISIPLINER,
seperti yang sering aku katakan di banyak tulisan2ku.
Harus ada ahli
planologi, arsitek, urban planner, geodesi, biologi, landscape, bahkan
ahli ekonomi serta struktur, stake-holders dan sebaganya ). Tidak
mungkin hanya seorang saja, apalagi hanya 1 disiplin ilmu saja!
Dan tidak ketinggalan, partisipasi
masyarakat perkotaan yang berwawasan lingkungan, akan memperlancar
program pengembangan RTH perkotaan.
Mungkinkah?
MUNGKIN! Tetapi memang tidak gampang.
Sebagian masyarakat peduli dengan kegiatan bersama ini, tetapi sebagian
lagi tetap tidak peduli. Apalagi dengan adanya materi dan kekuasaan,
semakin banyak masyarakat yang justru ‘berani’ dan berjudi dengan masa
depan bumi kta ini …..
Tugas kita sendiri, tidak
usah tinggi2. Tetapi hanya KEPEDULIAN sedikit saja tentang lingkungan,
jika semuanya melakukan itu hasilnya akan bisa membangun sebuah space
kehidupan yang lebih baik!
Dan kepedulian kita tentang lingkungan, akan memperlambat kehancuran dunia …..

Selamat Hari Bumi ……

Selasa, 22 April 2014
Selasa, 22 April 2014
- 1 Comment
By Christie Damayanti
bestdesain.blogspot.com
Sebelumnya : Taman Kota : Bagi Kesehatan Warga Dunia
Sebuah lahan, akan mempunyai batas2 yang
boleh dan bisa dibangun. Ada garis sepadan bangunan (GSB), yang
merupakan batasan yang boleh dibangun. Ada juga garis sepadan jalan
(GSJ), adalah daerah terbuka tanpa bangunan sama sekali.
Garis2 GSB dan GSJ ini, merupakan salah
satu cara untuk membangun ‘daerah hijau’, paling tidak di lingkungan
kita sendiri. Fungsinya jelas terlihat, sebagai fungsi HIDROLOGIS, funsi EKOLOGIS, tetapi juga bisa berfungsi ESTETIS secara visual karena bisa dinikmati dari jalan umum.
Antara jalan sampai ke didinding rumah,
adalah daerah hijau, dan daerah hijau tersebut bisa membentuk suatu
koridor hijau jalan perkotaan. Pemanfaatan ruang antara depan pagar
rumah dan jarag GSB seharusnyalah bisa menciptakan keserasian
‘landscape’ sesuai dengan ketentuan tata ruang dan tata bangunan
perkotaan.
Pada kenyataanya, di Jakarta (
rumah2 yang tidak di dalam kompleks real estate ), ruang antara jalan ke
pagar rumah ( yag biasanya digunakan oleh trotoar atau pedestrian untuk
pejalan kaki ), dipakai sebagai warung2 kecil, atau parkir sepeda motor
bahkan mobil. Bukan untuk ‘jalur hijau’.
Lalu GSB ( jarak dari ujung lahan
pribadi sampai batas awal dinding rumah ), mereka lebih menginginkan
sebagai car-port ataupun membangun ruangan baru. Padahal itu justru
digunakan sebagai ‘daerah hijau’.
bappeda.palangkaraya.go.id
DAS ( daerah sepadan sungai )
seharusnya seperti ini, dengan jalur pedestrian dan jalur hijau untuk
penyerapan. Tetapi apa yang terjadi di Jakarta? DAS di Jakarta, justu
dipenuhi dengan gubug2 liar ataupun hanya sekedar tempat sampah dan
pedagang2 liar, dan tidak bisa memenuhi perhitungan RTH perkotaan.
Bagaimana dengan karakteristik ‘daerah hijau’ antara landscape jalan dengan landscae pribadi?
Jangankan untuk landscape pribadi, dengan landscape jalanpun sepertinya belum bisa dilakukan untuk perumahan2 padat …..
Perbandingan ‘daerah hiau’ yang baik :

Ini adalah rumah sehat dengan ruang
hijau sesuai dengan peraturan dan indah dipandang mata. Memang, ini
adalah perumahan menengah keatas, sehingga mudah dilaksanakan …..

Ini adalah rumah menengah yang seharusnya sudah mudah untuk dikerjakan, tetapi rumah ini sama sekali tidak sehat :
1. Tidak ada penyerapan sama sekali. Semuanya beton, dan aku yakin, didalam tidak mempunyai bukaan sama sekali! Padat dan pengap!
2. Sama sekali tidak ada ruang ‘daerah hiau pribadi’.

Rumah ini bikan di kompleks real
estate. Seperti yang aku tuliskan di atas, semua lahan mempunyai
batasan2 yang boleh dibangun, seperti GSB dan GSJ. Tetapi dari foto
diatas, sangat terlihat bahwa rumah tersebut dan sepanjang jalan itu,
tidak mengindahkan apa itu GSB dan GSJ ( panjang GSB sekitar ½ lebar
jalan didepannya ).
Belum lagi, sama sekali tidak mempunyai ‘daerah hijau pribadi’
Konsep sebuah lahan dengan ‘daerah
hijaunya’, bukan hanya berhubungan dengan konsep ekologis dan estetika
saja seperti yang aku tuliskan diatas saja, tetapi fungsi KESEHATAN
merupakan sebuah konsep bagi warga kota. ‘Daerah hijau’ bisa dibangun
untuk menetralan karbpn dioksida ( CO2 ), dengan perhitunang kebutuhan2
antara penghuni dengan banyaknya tanaman dan besar lahan. Sehingga
dengan konsep kesehatan, adalah yang terbaik untuk peningkatan kualitas
hidup warga perkotaan.
***
Untuk ‘daerah hijau’, sebenarnya bukan
hanya sebuah ‘hijau yang pasif’. Banyak orang mengira bahwa daerah hijau
hanya benar2 untuk penghijauan, untuk tempat tanaman dan pohon2 yang
sesuai dengan kebutuhan penghijauan.
titisukapohon.blogspot.com

‘Daerah hijau’ bisa dibuat aktif
untuk kegiatan sehari2. Permainan anak2, bench2 cantik untuk kongkow
atau berolah raga dengan ;jogging track’ …..
‘Daerah hijau’ tetap bisa dijadikan
‘hijau yang aktif’. Misalnya, daerah hijau untuk kegiatan sehari2. Untuk
ruang bermain anak. Untuk olah raga dengan ‘jogging track’ atau hanya
sekedar taman dengan bench cantik untuk kongkow. ‘Daerah hijau’ bukan
hanya sekedar pepohonan seperrti hutan, tetapi bisa dimanfaatkan dengan
mengambil buah dan bunga2nya. Hanya perlu diingat, persyaratannya harus
sesuai dan tetap memberi manfaat dari ke-3 fungsi diatas ( ekologis,
estetika dan kesehatan ).
Dari ‘daerah hijau’ pribadi dalam
perumahan perkotaan, menjadi RTH ( ruang terbuka hijau ) untuk menjaga
keseimbangan ekosistim perotaan.
Seperti apa ekosistim perkotaan?
Sebenarnya sama dengan ekosistim dasar,
dengan adanya fungsi hidrologis, daerah resapan air, klimatoogis serta
paru2 kota. Kehidupan perkotaan dimanapun, pasti menjadi penduduk kota
tidak ada keseimbanganjiwa dan raga, sehingga semakin hari penduduk
perkotaan akan semakin tidak ’sehat’. Ditambah lagi dengan semakin
padatnya perkotaan, semakin berkuranglah RTH, khususnya kota Jakarta.
Apalagi dengan pertumbuhan jenis2 teknologi yang semakin membuat bumi
kita ini terus ‘terpuruk’ …..
Lihat tulisanku :
Perkembangan dan pembangunan kota
Jakaarta merupakan aktivitas yang sangat aktif, dan dengan perkembangan
yang terus menerus dan pertambahan penduduk semakin padat, keterbatasan
ruang dan lahan menyebabkan RTH terus berkurang. Dan itu menjadikan
Jakarta semakin tidak sehat.
Bukan hanya tida sehat karena tidak
bagusnya fungsi hidrologis, ekologis, kesehatan dan estetika saja,
tetapi juga semakin banyak penduduk kota akan semakin menambah kerawanan
dalam segala hal.
Kecenderungan pembangunan perkotaan,
khususnya kota Jakarta yang memang berpenduduk padat, yang juga mereka
merupakan masyarakat urban, umumnya mereka terlibat dengan masakah
ekonomi. Dimana pada kenyataannya, keberadaan RTH menjado sebuah tata
ruang dan space yang sangat lemah, dan paling berpotensial kurang
terawasi, karena RTH sangat rawan sebagai space untuk sebuah ‘kampung
kumuh’ perkotaan.
RTH dianggap TIDAK MEMPUNYAI nilai ekonomi untuk perkotaan, tetapi MEMPUNYAI nilai ekonomi tinggi bagi warga kota!
Sangat di mengerti untuk kaum urban
atau marjinal dari hail urbanisasi. Jika mereka datang ke Jakarta
tetapi tidak atau belum mempunyai tempat tinggal, padahal mereka harus
bertempat tinggal, dan mereka tidak mempunyai uang, mereka akan nekat
membangun gubuk2 karton bekas untuk bertempat tinggal sementara di
lahan2 terbuka ( seperti bantaran sungai, kolong jembatan atau pinngir
jalan kereta api, yang sedianya merupakan RTH ), yang pada akhirnya
menjadi tempat tinggal permanen.
RTH-RTH inilah yang lalu tidak
memounya nilai ekonomi bagi perkotaan, secara juga paling tidak
menghasilkan. Tetapi RTH ini justru mempunyai harga dan nilai ekonomi
tinggi bagi warga kota yang tidak mempunyai uang untuk bertempat
tinggal, dan dijajakan oleh oknum2 yang tidak bertanggung jawab.
Tetapi apa pun yang terjadi, kita harus
mengupayakan keberadaan RTH demi terciptanya kualitas lingkungan
perkotaan yang tidak memburuk. Apapun itu! Perkembangan kota harus
diarahkan untuk tidak merusak dan tidak mengurangi jumlah RTH-RTH yang
sudah ada, dan justru menambah RTH-RTH baru …..
Memang semuanya harus kepedulian diri
sendiri untuk ‘daerah hijau’ pribadi, dan pemda harus menghimbau, bahkan
bisa mendesak untuk investor2 besar mau mengupayakan pembangunan
RTH-RTH baru demi keberlangsungan ekosistim perkotaan, khususnya kota
Jakarta ini …..


Kamis, 06 Maret 2014
Kamis, 06 Maret 2014
- 0 Comments
Menuju Jakarta 30% RTH [Dari yang Sekarang 11% Saja], Mungkinkah?

arsitekturmagz.com
Sebelumnya :
Jakarta
dengan kesemrawutannya, dengan bangunan2nya dan kendaraan2nya, serta
pousinya, justru seharusnya mempunyai Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) yang
banyak. Karena dengan banyaknya RTH, akan menjadikan Jakarta lebih sehat
bagi warga kotanya. Perhitungan RTH bagi Jakarta sesuai dengan standard
serta kebutuhan kesehatan warga kota, adalah MINIMAL 30% dari luas
wilayah kota, terdiri dari RTH publik sekitar 20% dan RTH pribadi
sekitar 10%.
Penyedian dan pemanfaatan RTH di kawasan
perkotaan Jakarta, menjadi salah satu butir, yang di deklarasikan, daam
peringatan Hari Tata Ruang tahun 2010 di Bali, untuk Forum Indonesia. Dimana tentu saja jakarta merupakan bagian di dalamnya.
Seperti yang aku tuliskan diatas tai, dengan kesemrawutan Jakarta sebagai kota metropolitan
dunia, keberadaan RTH sangat relevan. Bukan saja untuk kota Jakarta itu
sendiri, tetapi lebih kepada kesewatan warga kotanya. RTH sendiri,
mempunyai fungsi yang banyak.
- RTH memberikan peluang sebagai ‘parkir air’, bagi penyerapan air dan menghindari banjir, dan air hujan atau banjir itu langsung terserap ke dalam tanah.
- RTH sangat bisa membangun citra kota Jakarta yang lebih manusiawi, asri, apik dan cantik. Lanscape perkotaan merupakan salah satu fungsi dan fasilitas perkotaan untuk menjadikan kota lebih berwibawa.
- Selain itu, RTH bisa membangun kebutuhan interaksi sosial secara alami tanpa membedakan strata sosial dan sekat2 yang biasanya ada di masyarakat kota.
Ketika aku mulai menulis tentang RTH
Jakarta, aku selalu menuliskan dengan hanya 20% RTH ideal bagi Jakarta.
Ternyata banyak berubah, setelah aku berdiskusi dengan Bu Dewi dari
‘Jakaarta City Planning Gallery’. Bahwa RTH yang ideal bagi Jakarta adalah 30%! Wow! Dan ketika aku bertanya pada beliau, RTH di Jakarta sekarang ini, berapa?
Ternyata jawabannya sesuai dengan referensiku sejak dulu, adalah hanya sekitar 11% saja, dari 30%. Artinya, Jakarta harus SEGERA membebaskan lahan guna dibangunnya RTH2 untuk Jakarta yang lebih baik.
Apakah bisa?
Menuju RTH Jakarta 30%
Jakarta memang sedang menuju ruang
terbuka hijau yang membuat Jakarta lebih manusiawi. Pembebasan lahan di
Jakarta untuk RTH tidak tanggung2. Sampai sekarang pembebasan lahan
untuk RTH seluas 108.11 Ha, membangun RTH seluas 35.80 Ha, penataan
jalur hijau seluas 30.40 Ha dan re-fungsi SPBU menjadi RTH seluas 3.68
Ha. Artinya, Jakarta SERIUS untuk menata RTH dan landscape perkotaannya,
bagi warga kota.

www.tempo.co

assetica188.blogspot.com
Taman Suropati dan Taman Menteng, salah satu bukti pmda serius untuk mulai membangun RTH demi keseimbangan alam di Jakarta.
Peningkatan RTH di Jakarta, salah
satunya untuk menanggulangi polusi udara. Paru2 kota sebenarnya akan
membuat Jakarta lebih cantik ( wawrna hijau daun segar ) tetapi juga
lebih sehat bagi warga nya. Jika pepohonan sebagai paru2 ( menyerap gas
CO2 ) sedikit, alhasil sebagian besar udara Jakarta akan tercemar oleh
banyak gas2 buangan, yang sangat membahayakan warga kota.
Pernah tidak, kita duduk di bawah pohon di terik siang hari ?
Apa yang terjadi? Kita akan merasa segar, teduh, nyaman dan memang
sesah udara berkurang. Pepohonan di siang hari menyerap gas CO2 dan
memberikan O2 bagi kita, yang berda di drkat2nya. Banyaknya, jika
Jakarta banyak terdapat RTH dengan pepohonan2 yang benar2 terpelihara,
sinar matahari terik pun mungkin tidak terasa, hanya kenyamanan dan
kesegaran saja.
Sebaliknya, pepohonan di malam hari
akan mengeluarkan gas CO2 dan menyerap gas O2, sehingga jika ada tanaman
di dalam ruang harus dikeluarkan pada malam hari, karena kita yang
tidur di rumah akan merasakan sesak nafas karena menghirup gas CO2 dan
berebut O2 dengan tanaman.
Pernah dengar ada yang meninggal
karena tidur di bawah pohon besar pada malam hari? Itulah penyebabnya,
bukan karena ‘penunggu’ pohon itu …..
Kembali lagi dengan ruang terbuka hijau
dan pepohonan. Jakarta sendiri berusaha untuk mempertahankan fungsi
hutan mangrove dengan merehabilitasikannya. Misalnya, dengan menanam
sekitar 1,2 juta tanaman mangrove atau bakau di Hutan Angke Kapuk,
seluas 31.33 Ha dan sepanjang Tol Sedyatmo. Juga dengan hutan
percontohan mangrove seluas sekitar 1.900 m2, juga disepanjang jalan tol
ini, dan 4.500 m2 di Hutan Angke Kapuk. (Sumber : Jakarta Raya)

id.wikipedia.org

www.setkab.go.id
Sangat terlihat, hutan mangrove bisa
menjadi ‘barier’ dataran Jakarta dengan akar2nya yang besar dan sehat.
Bayangkan, jika hutan ini rusak, akar2nya mati hanya sebagai sapah,
sehingga tidak ada yang menahan dataran Jakarta dari gelombang air laut
atau, dari hulu tidak bisa ke laut karena tertahan ’sampah dan bangkai
hutan mangrove’ …..
Hutan mangrove sendiri, selain untuk
penghijauan dan RTH Jakarta, juga untuk berdayaan rawa bagi kelestarian
dataran Jakarta. Mangrove hidup di rawa2 berair payau. Biasanya terletak
pada garis pantai dan dipengarui oleh pasang surut air laut. Fungsinya
jelas, salah satunya adalah untuk ‘barier’ bibir pantai dari sapuan
gelombang yang bisa mengikis daratan, sehingga air akan melambat dan
mengendapkan lumpur.
Tanaman mangrove itu sendiri merupakan
tamanan yang bersifat khas, setelah melewat proses adaptasi dan evolusi.
Jadi, jika kita semena2 terhadap hutan mangrove, bisa dibayangkan,
bagaimana air laut mengikis daratan Jakarta, atau air dari hulu melambat
sampai ke laut ( karena mangrove rusak ) dan menggenang di lingkungan
sekitarnya.
***
Jakarta memang berusaha untuk
mengembalikan fungsi alamnya. Jakarta sudah tertinggal dari banyak kota
dan negara untuk pengembalian fungsi2 alam bagi kesejahteraan warganya.
Bisa dilihat, kota2 metropolitan dunia seperti New York dengan Taman
Kota Central Park nya yang sangat besar ( lihat tulisanku Central Park New York : Kawasan ‘Hutan Kota’ dan Bagian Dari Paru-Paru Dunia ), atau London juga dengan Central Parknya. Bahkan Singapore dengagn Marina the Garden nya ( lihat tulisanku ‘Garden Bay the Bay’ : Ruang Hujau Baru yang Menakjubkan bagi Singapore ), salah satu yang pernah aku tuliskan.
Tetapi apa yang terjadi?
Kepedulian pemda Jakarta sering tidak
direspon oleh warga Jakarta. Konsep2 ruang terbuka hijau dalam banyak
peraturan2, khususbya bagi RTH pribadi dalam pembangunan rumah2, sering
kali hanya sebagai simbol belaka. Peraturan2 kepemilikan bangunan dalam
IMB ( Ijin Membangun Bangunan ), tidak dipenuhi oleh si pemilik rumah,
dengan berbagai alasan. Ada yang membutuhkan ruangan lagi atau garasi,
sehingga mengorbankan RTH pribadi 10%.

gambar-rumah88.blogspot.com
Denah type 21 ini, apakah sesuai
dengan peraturan pemdda? TIDAK! Tidak ada penyerapannya sama sekali,
dari depan sampai belakang. Teras itu dibetondan dibelakang itu pasti
untuk jemuran. Dan juga dibeton. Dan ini ayng terjadi di lapangan. Di
desain yang terbaik secara tata aturan dan arsitektural, tetapi di ubah
oleh pemilik rumah sendiri , yang menghilangkan jatah RTH pribadi 10%
…..
Untuk RTH publik yang seharusnya 20%
ini, terkendala dengan pembebasan lahan, salah satunya. Ataupun seperti
Waduk Pluit, atau waduk2 lainnya serta situ2 Jakarta, pun sebagian besar
masih di diami oleh warga Jakarta, kaum urbanisasi. Ataupun taman2 yang
seharusnya mejjadi taman pun, banyak beralih fungsi menjadi pemuiman
liar. Misalnya, di RTH antara Tebet Barat dan Tebet Timur sebagian sudah
menjadi pemukiman dan bisnis ‘liar’ (?) dan tempat itu tidak dirawat
dengan baik, sehingga mengesankan kumuh dan menjadi ’sarang penjahat’
…..
Seperti semua tentang
Jakarta dalam embangun ‘Jakarta Baru’, ‘meremajakan’ Jakarta itu bukan
melulu dengan memperhatikan FISIK JAKARTA saja. Justru lebih memfokuskan
pemikiran dan MINDSET warga Jakarta. Bahwa, untuk menciptakan Jakarta
yang kembali dalam alamnya yang berwibawa adalah harus bersama, antara
pemda Jakarta dengan wawrga Jakarta. Masing2 harus tidak boleh egois,
untuk menciptakan keseimbangan alam bagi Jakarta, demi pemanasan bumi
yang kian menjadi di seluruh dunia …..

Kamis, 23 Januari 2014
Kamis, 23 Januari 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
www.tempo.co
Bikin sodetan?
Seperti membangun kanal ( lihat tulisanku Kanal Hanya Mampu Mengatasi Banjir Sesaat Saja ),
sodetan BUKAN untuk mengatasi banjir, apalagi mengatasi banjir Jakarta
selamanya. Jika kita membuat beberapa sodetan, atau banyak sodetan pun,
sama sekali tidak mengatasi apa2. Tetapi justru memindahkan permasalahan
di banyak titik.
Bagaimana tidak? Coba bayangkan. Jika
kita membuat sodetan ke titik A dan B, berarti air akan mengalir ke
titik A dan B. Dan debit air bertambah ke titik A dan B.
1. Lalu, apa ada yang yakin bahwa air yang mengalir ke titik A dan B TIDAK AKAN merembes atau meluap ke daerah sekitar titik A dan B, secara ‘perhitungannya’ sangat cepat ?
2. Dan tahukah keadaan lingkungan titik A dan B sebelumnya?
3. Bagaimana dengan infrastruktur disana bahkan bagaimana dengan penyerapannya? Jangan2
sodetan di titik A dan B sebelumnya adalah pengerasan tanpa
infrastruktur yang tangguh untuk menerima beban debit air disana?
Ditambah lagi, apakah ada yang sudah
memikirkan ( karena sangat cepat, mereka ‘memutuskan’ untuk membuat
sodetan ) tentang sodetan di titik A dan B itu?
4. Bagaimana dengan cerita tentang ‘mengalirnya air’, yang seharusnya sesuai dengan hukum alam,
bahwa air mengalir dari trmpat tinggi ke tempat rendah. Apakah titik A
dan B mampu menggiring air ke tempat sesuai dengan hukum alam? Jangan2
titik A dan B justru lebih tinggi dari titik awal, dan air berbalik ke
titik awal …..
5. Dan INGAT! Bahwa
alam sudah mempunyai alurnya sendiri. Jika alur alam diubah manusia,
membuat alam akan ‘marah’ dan menjadi ’seenaknya’ saja!
Kemudian juga akan dibuat pintu2 air dan
bisa dibuka-tutup sesuai dengan kebutuhan. Ok, bisa juga. Tetapi
semuanya harus diperhatikan dan perhitungan dengan seksama, sehinnga
semuanya sesuai dengan yang seharusnya. Karena, pada kenyataannya sering
kali segala sesuatunya kurang diperhatikan dan perhitungannya dianggap
tidak sesuai, sehingga sia2 lah sodetan di titik A dan B tersebut.
Sodetan2 yang direncanakan itu pun belum dipikirkan matang2, tanpa perhitungan. Sodetan2 itu seharusnya membutuhkan waktu untuk dibangun, BUKAN dalam waktu yang teramat singkat! Seakan2
sodetan merupakan ‘uji coba’ saja. Kalau berhasil ya syukur tetapi
kalau tidak berhasil, ya mau diapakan? Dan itu cukup membuang banyak hal
: materi, waktu dan tenaga. Dan semuanya sepertinya akan sia2 …..
Sekarang, sebenarnya bagaimana supaya sungai2 di Jakarta mampu menampung AIR HUJAN dan ‘AIR KIRIMAN’ dari Bogor? Adakah caranya?
Ada! Walau tidak mudah dan harus diperjuangkan :
1. Meremajakan sungai2.
Semua sungai ( ada 13 sungai besar yang melintasi Jakarta ) harus dikeruk tiap tahun, dari hulu sampai ke hilir, untuk menambah dalam dan lebar sungai. Yang mengikutinya adalah JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN terutama di sungai!
2. Membangun DAS ( Daerah Aliran Sungai ).
Pemukiman di bantaran sungai harus
dibersihkan, karena DAS bukan untuk pemukiman, melainkan untuk
penyerapan dan RTH ( ruang terbuka hijau ).
3. Membangun RTH ( Ruang Terbuka Hijau ).
Mengembalikan ruang2 kota yang sedianya untuk RTH dari ( biasanya ) pemukiman kumuh / atau slum. Tata aturan tentang ijin membangun, HARUS ditertibkan, sehingga aturan2 sesuai dengan yang semestinya! Bahkan ditambah lagi, JANGAN ADA ketidak- pedulian warga kota berhubungan dengan daerah penyerapan!
4. Mengembalikan fungsi hutan lindung di daerah hulu.
Membongkar rumah2 dan villa2 yang tidak
sesuai dengan aturan. Karena daerah hulu akan berbanding lurus dengan
air dari hulu melewati Jakarta menuju laut.
5. Mengembalikan fungsi tanah untuk peresapan di selatan Jakarta.
Tidak mengijinkan pembangunan2 real
estate atau bangunan2 serta jalanan, di selatan Jakarta, yang seenaknya
saja, karena disana merupakan daerah peresapan.
6. Meremajakan hutan mangrove di utara Jakarta,
untuk mampu ‘menerima’ pengikisan air
laut di pantai Jakarta, sehingga air pasang dan gelombang serta banjir
rob tidak ‘berbalik’ ke Jakarta, dan air sungai tidak berbalik meluap ke
dataran Jakarta.
7. Meninjau tentang aturan2 reklamasi untuk memperlebar ruang gerak Jakarta.
Bahwa reklamasi memang bisa dilakukan,
sepanjang aturan2nya seauai dengan yang seharusnya. Misalnya, reklamasi
bisa dilakukan jika sungai2 berkualitas baik dan hutan mangrove subur.
Ini adalah beberapa solusi yang bisa mulai dikerjakan untuk mengindari banjir tahunan Jakarta.
Untuk membuat perubahan, memang tidak
bisa dengan ‘instan’, apalagi berhubungan dengan daerah yang sangat luas
dan banyak permasalahan, seperti Jakarta. Semuanya sebenarnya sudah
bisa dilakukan SEJAK DAHULU, tetapi masalahnya, APAKAH KITA MAU MELAKUKANNYA?
Bahkan jika musim hujan selesai beganti musim kemarau, SEMUANYA AKAN DILUPAKAN!!
Jakarta memang mempunyai pemerintahannya
sendiri, tetapi tidak terlepas dengan lingkungan atau kota2 dan
pemerintahan di sekitarnya. Seperti Jawa Barat dan Banten. Sehingga,
kerja sama antara pemda harus
lebih ditingkatkan. Jangan hanya main
salah2an! Semuanya harus bekerja sama karena jika saling menyalahkan,
lingkungan akan tersingkirkan dan manusia2nya / warga Jakarta lah yang
akan menelan akibatnya ……
Sodetan hanya bisa menampung debit air sangat sementara. Apalagi membangun sodetan yang sangat tergesa-gesa.
Dan sekali lagi jangan lupa, bahwa ALAM
MEMPUNYAI ALURNYA SENDIRI, sehingga jika manusia mengubah tata alur
alam, ‘dia’ akan MARAH dan bisa berlaku seenaknya sendiri.
Seperti manusia, yang sering hanya bisa berkoar2 menyampaikan pendapat
dan keinginannya tanpa peduli dengan lingkungannya, dan karena egois
itu membuat alam tersingkirkan dan ‘marah’ …..
Link tentang Banjir Jakarta :
Beberapa ‘Predator’ Air!

Selasa, 30 Juli 2013
Selasa, 30 Juli 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
dinyh.blogspot.com
Harimau Sumatera ( hanya ada di Pulau
Sumatera ), merupakan salah satu sub-spesies harimau yang masih bertahan
hidup sampai sekarang. Termasuk satwa kritis yang terancam punah (
endangered ). Mereka justr hidup di taman2 nasional di Sumatera, bukan
di hutan2 habitat aslinya. Harimau Sumatera terancam punah karena hutan
tempat habitat aslinya terus dibabat,bahkan di taman2 nasional Sumatera
yang seharusnya dilindungi.
Seperti yang sudah sering diberitakan
tentang pembabatan hutan2 Indonesia, termasuk hutan Sumatera tempat
‘rumah’ harimau Sumatera, menjadikan harimau2 Sumatera tersebut mulai
mencari ‘tempat tinggal’ baru, bukan di hutan2 tetapi mulai masuk ke
pedesaan. Pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial
serta pembangunan jalan, membuat harimau2 Sumatera itu tidak terdengar
‘aumannya’ sebagai raja hutan. Ditambah semakin banyaknya perburuan
ilegal untuk diambil beberapa bagian tubuh harimau Sumatera, menjadikan
mereka semakin terancam kepunahan.
Semakin sempitlah ‘rumah’ mereka dan
mereka mulai merambah ke pedesaan, memasuki wilayah yang lebih dekat
dengan manusia. Alhasil seperti yang kita sering dengar atau yang kita
sering baca di koran2, mereka dibunuh dan ditangkap jika mereka memasuki
pedesaan. Mungkin mereka mencari makanan dan mereka mendapatkan ternak2
manusia ( kambing, domba atau ayam ) dan memakannya, sehingga mereka
merupakan ‘musuh’ manusia, bukan hanya mereka memakan ternak2 kita
tetapi juga mereka ‘mengancam’ keberlangsungan hidup manusia karena bisa
saja mereka ‘makan’ manusia.
www.republika.co.id
Hutan Sumatera ( dan hutan2 lainnya
di Indonesia ), sudah sebagai huta yang terancam ‘kepunahan’. Jika
demikian, bagaimana keseimbangan alam Indonesia? Mampkah manusia
Indonesia bertahan tanpa ‘hutan’ ( dan segala isinya? ).
Seperti di tulisanku Hari Bumi 22 April 2011 : Enyahkan ‘Monster’ di Dalam Diri Kita untuk Menyelamatkan Bumi Ini,
sebenarnya bukan hanya pembalakan hutan2 Sumatera saja yang membuah
spesies harimau Sumatera terancam kepunahan ( sebagai satwa khas
Indonesia ), tetapi semua hutan2 Indonesia. Di Kalimantan, pengrusakan
hutan juga ‘merubah’ satwa2 khas Kalimantan ( seperti Orang Utan ) juga
mengalami kepunahan. Juga di hutan2 Papua, termasuk hutan mangrove di
Pulau Jawa, yang kesemuanya sebenarnya merupakan ’simbiosis mutualisma’
dengan manusia serta makhluk2 hidup yang lain di dalam hutan.
‘Siapa yang membuat hubungan kita dengan bumi kita ini menjadi rusak?’
Sebuah pertanyaan yang aku yakin, swemua
orang sudah mengetahuinya. Jangankan hutan2 Sumatera, Kalimantan atau
Papua yang susah untuk diawasi karena jauh, bahkan hutan2 mangrove atau
setidaknya RTH ( Ruang Terbuka Hijau ) kota pun tidak bisa diselaraskan
dengan hidup perkotaan karena ketidak-pedulian sebagian besar semua
warga negara.
“Bagaimana dengan pepohonan di
hutan2 di pedalaman Kalimantan dan Papua atau pepohonan di perkotaan?
Bagaimana dengan pertamanan dan penghijauan di ruang terbuka hijau di
perkotaan? Banyak sekali ‘monster2′ yg melahap pepohonan dimana2 …..
jika pepohonan di hutan pedalaman, wajar jika kita ikut mengawasi karena
tidak ‘terlihat’ mata kita. Tetapi bila terjadi di perkotaan, siapa yg
mesti disalahkan?”
***
Sehubungan dengan tempat hidup atau
habitat dari harimau Sumatera, yang juga berhubungan dengan Hari Harimau
Internasional 2013, seharusnya kita sebagai bangsa yang besar yang
mempunyai banyak sekali spesies satwa yang unik dan menarik, harus
berusaha untuk menyelamatkan spesies2 satwa kita. Bukan hanya satwa
tetapi juga spesies2 tumbuhan khas indonesia.
Mereka hidup di pedalaman2
hutan Indonesia, tetapi ketidak-pedulian kita menjadikan mereka semakin
lagka bahkan punah. Bahkan justru beberapa negara sangat concern dengan
spesies2flora dan fauna di Indonesia, seharusnya menjadikan kita malu.
Pembakaran hutan Sumatera merupakan ‘cara’ praktis untuk membuka lahan. Heh?
Untuk aku dan beberapa orang yang peduli sangat ‘kejam’ untuk membuka
lahan, karena bukan hanya hutaannya yang terbakar dan hitam legam,
tetapi setidaknya ratusan satwa akan mati terpanggang. Tidakkah mereka
punya ‘hati nurani?’. Selain itu, asap tebal akan menyiksa ke penjuru
negeri, bahkan ke negara2 tetangga.
www.republika.co.id
Menurut WRI ( World Resources Institute
), bulan Juni 2013 ini merupakan kebakaran hutan yang salah satunya
menjadi rekor terburuk kebakaran hutan sejak tahun 2001. Mereka
mengatakan, kebakaran waktu itu merupakan permasalahan yang terus
berulang, bukan hanya di Sumatera, tetapi juga di seluruh Indonesia.
Bahkan yang lebih krusial lagi, saat ini merupakan issue yang sangat
serius, berhubungan dengan ‘pembersihan lahan’ bagi komoditas utama
seperti kelapa sawit dan industri kayu serta kertas. Ditambah lagi
adalah
- Merusak hutan alam,
- Polusi udara dengan adanya asap tebal,
- Berdampak pada perubahan iklim,
- Serta merugikan kesehatan masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
Pengaruh kepada negara2 tetangga cukup
serius. Berhubungan dengan batas maksimum yang dapat diterima sebagai
kualitas udara yang ’sehat’.
Itu yang berhunungan dengan manusia. Bagaimana yang berhubungan dengan harimau Sumatera? Mungkin sebagian besar akan mencibir,
“Lah, urusan manusianya saja belum jelas
dengan banyak permasalahan diatas tentang kebakaran hutan, apalagi
urusan satwa? Harimau lagi, satwa liar yang merupakan ‘musuh’ manusia
…..”
Benar! Hrimau memang satwa liar, tetapi
sadarkah kita bahwa harimau juga merupakan makhlukhidup yang harus
dilestarikan, karena semuanya ciptaan Tuhan? Tidak usah jauh2 deh! Jika
Tuhan menciptakan harimau, pasti ada maksudnya. Mungkin kita tidak sadar
atau bahkan tidak tahu, bahwa antara manusia dengan harimau mempunyai
hubungan saling ketereratan dalam ’simbiosis mutualisma’.
perbatasankusuma-konservasialamsumatera.com
Secara logika saja :
Harimau adalah predator alami bagi
hewan2 herbivora yang cepat sekali berkembang biak. Seperti kijang,
kelinci bahkan tikus. Satwa2 herbivora ini bisa puluhan ekor jika
melahirkan.
Bagaimana jika harimau tidak ada atau punah? Satwa2 kelinci,
kijang dan tikus akan terus berkembang biak sehingga akan mengancam
pertanian dan perkebunan manusia.
Jika hutannya yang punah ( ‘terbakar’
atau pembukaan lahan yang tidak terkontrol atau illegal logging, bukan
hanya satwa herbivora saja yang mengancam pertanian dan perkebunan kita,
bahkan harimaunya pun akan memakan hewan2 ternak kita bahkan bisa
‘memangsa’manusia jika benar2 tidak ada hewan lain yang isa dimakan.
Semuanya merupakan saling keterkaitan.
Yang jelas, Tuhan menciptakan
semuanya bukan tanpa maksud, tetapi pasti ada tujuannya …..
Harimau Sumatera sekarang ini merupakan
spesies yang angka. Spesies ini hanya ada di hutan2 Sumatera saja.
Menurut WWF Indonesia, jumlahnya hanya tinggal 400 ekor saja. Sebagai
predator utama dalam rantai makanan, mereka mempertahankan makanannya (
satwa liar ) ada dibawah pengendaliannya.
Harimau Sumatera menghadapi 2
jenis ancaman untuk bertahan hidup :
- Kehilangan habitatnya ( hutan Sumatera ) untuk laju pembangunan dan egoisme manusia
- Perdagangan illegal dan
memperjual-belikan bagian2 tubuhna di pasar gelap ( obat2an, dekorasi,
jimat atau perhiasan ), juga demi keegoisan manusia
www.greenpeace.org
Perdagangan illegal harimau Sumatera. Kasihan mereka, karena keegoisan manusia …..
Bahkan manusia tidak peduli dengan
keseimbangan alam, yang sebenarnya juga demi kelangsungan hidup manusia
itu sendiri. Harimau sama sekali bukan ‘musuh manusia’. Mereka memang
predator, tetapi mereka tidak ‘jahat’ seperti manusia. Mereka akan
memangsa satwa2 lain bahkan manusia, JIKA mereka lapar! Bukan hanya
untuk membunuh!
Harimau tidak ‘berakal’ untuk hanya
sekedar ingin membunuh! Mereka hanya untuk memangsa karea panggilan
alam, lapar. Dan mereka tidak mampu memikirkan keinginan mereka untuk
‘keluar hutan’, jika mereka nyaman di dalam hutan ……
kmpv.blogspot.com

Sebuah kedamaian jika kta memandang
foto diatas.Keluarga harimau Sumatera dengan amak2nya serta kehidupan
yang tenang di hutan Sumatera …..
Untuk itulah kita yang peduli melihatnya sebagai ‘keseimbangan alam demi kita semua’. Dan adanya Hari Harimau Internasionl 2013 ( Global Tiger Day 2013 ) - 29 Juli, merupakan
kepedulian kita semua akan keseimbangan alam. Bahwa bumi ini diciptakan
Tuhan bukan tanpa maksud, dan manusia sudah di berikan mandat untuk
mengelola bumi dengan segala isinya.
Tetapi tetap harus
bertanggung jawab. Dan dengan hampir punahnya Harimau Sumatra, adalah
indikasi ketidak-pedulian serta keegoisan manusia dalam pengelolaan bumi
…..
Bagaimana jika Tuhan ‘marah?’ Jangan sampai …..


Senin, 08 Juli 2013
Senin, 08 Juli 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
dtfl.klixdigital.com
Apa kabar Monas dan tamannya? Sebuah
icon Jakarta yang seharusnya merupakan kebanggan warga Jakarta. Tetapi
pamornya kalah dengan landmark2 di beberapa pojok Jakarta ini, yang
memang lebih baru, lebih gres dan lebih menarik ….. Landmark2 Jakarta
yang mengikuti jaman dan sering tidak mengindahkan konsep dan ide budaya
lokal serta lingkungan …..
Ketika sebuah icon, apalagi icon ibu
kota, lambang negara, di ‘pagari’ dengan pagar2 tinggi, mengakibatkan
icon tersebut berkesan ’sombong’, angkuh dan arogan. Icon ibu kota yang
merupakan kosep penghijauan dan lingkungan, seharusnya merupakan sebuah
lingkungan yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Bahwa udara bersih,
penghijauan dan lingkungan yag nyaman merupakan hak semua orang, tanpa
harus di batasi dan dipagai, apalagi icon ini merupakan titik ’sentral’
sebuah kota Jakarta, bertempat persis di tengah2 ibu kota dan
mengelilingi Monas.
Cerita ini berawal ketika pagar2 tinggi
dipasang sekeliling Taman Monas di suatu saat bbeberapa tahun lalu,
sebuah taman yang seharusnya menjadi taman kebanggaan Jakarta dan
sebagai tempat bermain bagi warga Jakarta. Taman Monas dengan pepohonan
yang cukup rindang tetapi tidak di desain sedemikian yang membuat Taman
Monas tidak tampak ‘hidup dan cantik!’, membuat Taman Monas ini
terlihat nagkuh dan sombong! Seakan2 hanya beberapa gelintir orang yang
boleh masuk dan hanya dinikmati oleh orang2 yang benar2 mau dan peduli
dengan lingkungan.
space.kunci.or.id
Indahnya Taman Monas jika terbuka ( tanpa pagar kokoh dan tinggi ) …..
Aku pernah ke banyak kota, dan ibu kota
negara. Di masing2 kota pasti mempunyai icon tertentu, dan yang jelas di
kota2 tersebut selalu di desain taman cantik, taman bermain ataupun
ruang2 terbuka hijau untuk sekedar daerah peresapan air hujan. Selalu
ada! Sebuah taman kota yang cantik dan bisa untuk ‘meeting point’
ataupun sekedar berjalan2 bagi warga kota, dengan keluarganya serta
wisatawan sangat nyaman untuk berjalan2 disana.
Bahkan pemda pun
memberikan ijin untuk sekedar ‘piknik’ di taman kota ASALKAN semuanya
harus menjaga kebersihan, kemanan dan kenyamanan.
Aku juga pernah mengamati dengan detail
dan serius, sebuah taman kota di London, berseberangan dengan icon kota
itu, Buckhingham Palace. Taman kota disana, disebut Hyde Park, sebuah
taman yang sangat cantik yang benar2 di desain sesuai dengan martabat
kota London dengan Buckhingham Palace nya, tempat Ratu Elizabeth dan
keluarganya bermukim.
Taman Monas memang berbeda dengan Hyde
Park atau taman2 kota di tempat lain. Dan yang jelas, masing taman kota
mempunyai konsep dan budaya lokal dikedepankan.
Sebenarnya, tidak susah untuk membuat
sebuah taman kota, sebagai icon ibu kota. Yang jelas, tanaman2nya sesuai
dengan suhu dan lingkungan, sebagian besar berasal dari negara masing2 (
karena tanaman lokal merupakan tanaman yang terbaik untuk sebuah taman
kota ). Begitu juga dengan perawatannya. Harus tidak terlalu susah,
walau tetap memakai jasa warga kota untuk merawatnya, seperti periodik
sekali untuk menggunting dan memotongnya, serta menyiramnya sesuai
dengan waktu2nya.
jakarta.panduanwisata.com
news.detik.com
Aku memang sudah lama tidak kesana (
sejak aku sakit ini ), sehingga tidak tahu keadaannya sekarang. Tetapi
jika tidak berubah, Taman Monas sebenarnya cantik, menarik serta mampu
membuat nyaman setelah elihat kemacetan di sekelilingnya.
Dengan jasa memeliharanya,
seharusnya Taman Monas akan membuat warga kota mempunyai tempat bermain
dan berekreasi yang murah dan cantik bagi keluarganya …..


Pada kenyataannya, jasa pemeliharaan
tidak sesuai dengan keinginanku, sebagai warga kota. Sering kita
melihat daun2 kering dan rumput, yang tidak dipotong, atau penyiaraman
yang hanya sekedarnya. Artinya, springkler2 yang tidak sesuai dengan
waktunya, sehingga ada daerah2 mana yang kering dan justru ada daerah2
yang sangat becek, karena skringkler2 yang tidak diatur.
Kembali dengan Taman Monas. Warga
Jakarta menurutku memang sangat ‘brutal’. Artinya, mereka memang tidak
peduli dengan kebersihan. Jika mereka ‘dibiarkan’ berkeliling taman
kota, serta mereka piknik disana, bakalan semuanya akan kotor dengan
sampah2 bertebaran! Itu memang benar sekali!
berita8.com
Jika seperti foto diatas, memang
seakan2 solusinya adalah dengan menutup akses taman bagi wawrga kota.
Jika warga kota ingin masuk, harus melalui ’serangkaian’ tata cara untuk
menataati peraturan2 disana.
Peraturan2 itu seharusnya juga sudah merupakan KEHARUSAN
BAGI SEMUA ORANG untuk menjaga kebersihan, keamanan serta kenyamanan.
Edukasi2 bagi warga kota lah yang harus terus dilakukan.
Di tambah dengan pramuwisma yang
biasanya bisa tidur dimana2 saja, apalagi di taman. Mereka akan memenuhi
taman2 kota. Juga aku pernah melihat taman kota menjadi ajang
berpacaran muda mudi dengan tidak senonoh. Duh …..
beritajakarta.com
kfk.kompas.com
Bagaimana warga kota yang terus
melanggar peraturan? Bahkan pagar yang kokoh pun bisa dirusak untuk
mereka masuk ke Taman Monas …..
Pedagang keliling yang duduk di
Taman Monas?? Jika tidak di edukasi, taman ini akan menjadi kotor dengan
sampah2 yang bertebaran serta pedagang2 tanpa izin …..
Tidak heran melihat Taman Monas dipagari dengan pagar tinggi dengan kesan angkuh dan sombong!
Ok! Sekarang, mari kita lihat taman2
kota di sekeliling Jakarta. Dimana aku sebelum aku sait stroke ini, aku
sering berkeliling dengan anak2ku untuk bermain di beberapa taman kota
di Jakarta. Aku sering bermain otopet, atau bermain sepeda serta
virgorboard dengan anak2ku di Taman Menteng serta Taman Surapati. Aku
beerapa kali bermain di Taman Kelapa Gading serta di Ragunan.
Taman Suropati memang hanya taman kecil,
tidak sebnding dengan Taman Monas, begitu juga Taman Menteng. Tetapi
aku mengamati kedua taman ini tetap terpelihara dengan baik. Sepertinya
pengelola ‘keras’ dengan wawrga kota yang bisa membuat gaduh disana.
Seperti para tunawisma yang tidak pernah terlihat disana, mud mudi yang
berpacaran dengan tidak senonoh atau pedagang2 yang tertib berdagang di
luar area taman. Sehingga ku dan anak2ku nyaman bermain disana …..
Lalu bagaimana dengan Taman Monas?
Memang, Taman Monas tetap terbuka untuk umum. Mereka bisa masuk lewat 1
pintu masuk saja. Tetapi, sunggu, dengan paga2 besar dan tinggi yang
terlihat angkuh dan sombong, warga kota merasa segan dan malas untuk
masuk kesana! Apalagi, jika ada wisatawan lokal dari luar kota ( apalagi
belum pernah ke Jakarta ). Aku sangat yakin, mereka taku untuk masuk
dan hanya berdiri di pinggir2 pagar2 tinggi, dan Taman Monas tetap
‘angkuh’ menjaga martabatnya ……
***
Sebagai warga kota, apalagi sebagai
urban planner serta arsitek humanis, aku sangat menyayangkan sebuah icon
Taman Kota yang dijaga oleh pagar2 angkuh untuk menjaga martabat taman
kota yang bersih dan nyaman. Tetapi taman ini tidak bisa dinikmati oleh
warga kota.
Seharusnya, pemda tidak hanya memberi
solusi hanya sekedar memagari Taman Monas saja. Taman Monas memang benar
kebih bersih tetapi Taman Monas tidak bisa dinikmati warga kota.
Menurutku, seharusnya pemda atau siapapun yang me-manage taman ini untuk
terus mengedukasi warga kota untuk menjaga kebersihan, keamanan dan
kenyamanannya. Serta menambah personil yang bisa mengawasi Taman Monas,
berkeliling serta terus memberikan teguran jika warga kota atau
pengunjung berbuat yang tidak2.
Solusi seharusnya bisa saling
menguntungkan, bukan hanya sekedar memutuskan hubungan interaksi antar
warga kota dengan lingkungannya …..
Tulisan berikutnya adalah
‘bagaimana membuat Taman Monas mampu membuat warga kota menjalin dan
berinteraksi dengan penghijauan dan lingkungannya tanpa keangkuha dan
sombong dalam pagar2 kokoh’ …..

Rabu, 26 Juni 2013
Rabu, 26 Juni 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
www.jakarta.go.id
Lagi tentng banjir. Dari tulisan2ku sebelumnya, apalagi artikelku yang ini ‘Jakarta Bebas Banjir?’ Ah, Itu Hanya Ilusi, mengatakan
bahwa salah satu penyebab banjir adalah pemukiman penduduk di bantaran
kali atai di isi kanal serta di waduk2 buatan Jakarta. Juga bahwa daya
dukung tanah Jakarta tidak sesuai dengan kepadatan Jakarta. Bahwa
penduduk Jakarta itu sangat padat.
Sebenarnya, jika penduduk ( dalam artian
: manusianya ) Jakarta TANPA rumahnya, kemungkinan daya dukung tanah
Jakarta masih mampu untuk warga Jakarta, karena berapalah bobot
manusianya. Yang menjadi permasakahan adalah semua warga Jakarta ( dalam
artian : manusianya ) membutuhkan rumah, sehingga berapa pertambahan
bobot warga Jakarta? Manusianya + rumahnya. Bahkan masing2 warga Jakarta
bisa jadi mempunyai rumah lebih dari satu!
Bicara soal rumah, tidak lepas dari
pemukiman. Arena tidak hanya 1 rumah saja, tetapi dalam suatu komunitas
di suatu daerah saja, pasti terdapat puluhan rumah, yang disebut
perumahan. Iya, jika memang rumah2 tersebut mendapat ijin untuk dibangun
oleh pemda DKI Jakarta. Ada kalanya, atau bisa disebut lebih sering,
rumah2 yang didirikan warga Jakarta itu TIDAK MENDAPAT IJIN untuk
dibangun! Kacau, ga ??
Konsep sebuah kota, bahkan disemua lini
kehidupan kita ini, semuanya harus di atur. Peraturan2 itu disepakati
untuk kepentingan bersama. Begitu juga pemda DKI Jakarta.
Bahwa untuk
membangun bangunan apapun, termasuk rumah, harus mempunyai ijin
membangun ( IMB = Ijin Mendirikan Bangunan ) yang dikeluarkan oleh
sebuah Dinas, yang dulu disebut DPPK ( Dinas Pengawasan dan Pembangunan
Kota ) yang berganti nama sejak beberapa tahun lalu menjadi DPPB (
Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan ). Dinas inilah yang
mengeluarkan ijin membangun bangunan apapun, baik rumah tinggal dari
yang paling kecil sampai super block yang dibangun oleh developer2
besar. Dan itu semua, sama saja. Baik di Indonesia ataupun di negara2
lainnya.
Tetapi pada kenyataannya di negara2
berkembang, masih banyak bangunan2 yang dibangun TANPA IJIN. Bukan
karena memang belum ada peraturannya, tetapi kepedulian warga yang masih sangat kecil untuk kepentingan bersama. Sekarang, apakah Indonesia masih sama dengan yang dulu, sebagai negara berkembang??
Bukan masalah ijin yang tidak ada dalam
membangun bangunan saja, tetapi berdampak dengan banjir. Bangunan2 yang
tanpa ijin tetapi terus dibangun ( padahal banyak juga bangunan2 yang
SENGAJA tidak ijin untuk dibangun karena mereka mempunyai keinginan
sendiri dan ‘kolaborasi’ dengan oknum pejabat pemda DKI Jakarta,
sehingga Jakarta semakin semrawut.
Bayangkan saja. Jika untuk membangun
sebuah rumah, si pemilik rumah dituntut untuk mendesain dengan baik
sesuai denan kaidah aritektur tentang fungsi dan efisiensi. Peraturan2
umu dan internasional pun harus dipahami.
Misalnya, lingkungannya
terdapat ruang terbuka hijau. Atau jarak antara rumah harus ssekian
meter atau juga antara jalan dan rumah harus sekian meter ( GSJ atau /
dan GSB ) dengan ditsnami pepohonan atau ruang terbuka hijau lagi. Dan
ini ‘merugikan’ si pemilik tanah. Yang harusnya bisa untuk 5 kamar (
misalnya ), dipotong untuk ruang terbuka hijau menjadi hanya 3 kamar ),
sehingga banyak orang2 pemilik tanah ‘kong kalikong’ untuk tidak membuat
ruang terbuka hijau karena tetap kekeuh membangun 5 kamar!
Artinya, daya dukung tanah Jakarta
bertambah berat! Karena peraturan2 yang tidak dijalani. Baik
ketidak-pedulian pemda Jakarta untuk membongkar paksa bangunan2 tanpa
ijin, juga ketidak-pedulian warga Jakarta yang seenaknya saja
‘menelikung’ peraturan demi kepentiang sendiri saja.
Nah, jika ‘penggede2′ atau ‘orang2 kaya’
Jakarta saja tidak mau menepati peaturan ijin bangunannya, bagaimana
dengan warga Jakarta kebanyakan? Tidak ada panutan. Tidak ada yang
memberi contoh. Apalagi arus urbanisasi dari luar Jakarta membludag
untuk tinggal di Jakarta dan mereka tidak mempunyai dana yang cukup
untuk membeli rumah yang standard saja, mau tidak mau mereka akan
mendirikan rumah gubug di daerah ’slum’ yang pastinya tanpa ijin!
Memang aku sangat mengerti tentang
dilema ini bagi pemda Jakarta. Disatu sisi mereka membutuhkan tempat
tinggal, tetapi disisi lain rumah2 mereka akan semakin membebani tanah
Jakarta. Baik bangunan2 mewah tanpa ijin atau gubug2 liar yang juga
tanpa ijin, seharusnyalah pemda DKI Jakarta dengan memakai ‘tangan besi’
untuk membongkar paksa bangunan2 tanpa ijin!
Kejam? Entahlah!
Tetapi aku sebagai
arsitek humanis, dan mengerti tentang peraturan2 serta memahami tentang
keadaan sosiologi kehidupan, aku juga mengalami dilematis!
Pemda DKI Jakarta melalui Perda Nomor 3
tahun 1972, berusaha untuk menertibkan bangunan liar di Jakarta. Dan
sering mengadakan penggusuran, sampai sekarang. Namuun pada
kenyataannya, jika tidak di demo oleh komunitas itu bahkan
diperkarakannya, mereka yang sudah tergusur, lama2 membangun lagi gubub2
liar di tempat yang berbeda, atau kembali lagi di tempat yang
sebelumnya dalam beberapa tahun kmudian. Dan daerah tersebut kembali
dipenuhi oleh gubug2 liar lagi ……
Himbauan pemda DI Jakarta hanya sebagai
lagu yang mendayu, tidak dipedulikan warga. Tetapi juga peraturan2
Jakarta pun di ‘telikung’ oleh oknum2 pejabat Jakarta, sehingga semuanya
kian semrawut.
*Mana ayamnya, mana telurnya?*
Dan menurut pengamatanku sebagai ‘urban & city planner’, bangunan2
tanpa ijin inilah salah satu penyebab banjir melanda Jakarta, yang
berbanding lurus, jika bangunan tanpa ijin semakin banyak, setara dengan
banjir yang semakin meluas …..
Sekarang, apakah kita mau peduli dengan
kota kita yang semakin lama semakin semrawut? Apakah kita tidak ingin
dunia dan lingkungan kita ‘bebas banjir?’
Aku sih ingin Jakarta kita menjadi ‘bersahabat’ untuk kehidupan kita ……
Catatan :
Jika ada yang mendapatkan bangunan yang
sedang dibangun TANPA PAPAN KUNING ( IMB ) berarti bangunan tersebut
tanpa ijin. Jika berkenan, bisa dibaca ke DPPB di http://dp2b.co tentang ijin mendirikan bangunan di Jakarta.

Langganan:
Postingan (Atom)