Artikel Terakhir
Home » Posts filed under Muda
Tampilkan postingan dengan label Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muda. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Agustus 2014
Senin, 11 Agustus 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

Seekor camar melayang di angkasa, di Amsterdam
Seorang anakku, Dennis, memang sangat
berbeda dengan Michelle, adiknya. Dennis sangat pendiam, kalem dan tidak
banyak tanya. Pikirannya terfokus dengan senangannya sendiri, entah
apa. Tapi yang jelas, liburan ini aku membolehkan melakukan apapun,
sesuai dengan kesenangannya. Dia memilih fokus dengan hobi foto nya,
dengan membawa kamera DLSR besarnya dengan bermacam2 lensa yang dia
punya.
Jika Michelle terus bertanya tentang banyak
hal, cerewet tentang keinginannya untuk melakukan sesuatu yang dia
inginkan, serta gelisah dengan ketidak-sabarannya, Dennis lebih sering
menyendiri, mengintai dengan kameranya, mencari ‘angle2′ yang cantik
untuk bidikannya. Dia sering tidak mau berfoto bersama, dan dia lebih
memilih memotret kami saja. Sehingga, tidak mengherankan jika foto2
keluarga disana, tidak banyak bersama Dennis.
Aaahhhh ….. namanya juga anak2, remaja yang
benar2 tidak bisa diatur. Sepanjang keinginannya tidak ‘membahayakan’
dirinya, aku biarkan saja, salah satunya hobi fotografinya …..
Sampai akhirnya, seperti biasa Dennis
memberikan semua hasil foto2nya kepadaku karena aku memang meng-arsip-
kan semua bidikannya, melihat perkembangannya untuk terus mendukungnya.
Dan beberapa hari ini aku benar2 memperhatikan betapa hasil bidikannya,
lebih baik dengan angle2 khas Dennis!
Salah satu yang Dennis suka dalam membidik
fotonya adalah satwa, binatang, or whatever lah. Kelihatannya, kedua
anak2ku menurunkan sifat penyayang binatang. Aku sangat suka binatang,
ternyata begitu juga anak2ku. Anjing, kucing, burung, kelinci atau yang
lain.
Ketika aku memperhatikan hasil bidikannya
di Eropa, selain pemandangan alam, bangunan2 dan arsitekturnya, Dennis
banyak membidik binatang, secara binatang di Eropa sangat ‘dimanja!’.
Ada berjenis2 burung, berjenis2 bebek, angsa, kucing, anjing bahkan
kelinci.
Cerita tentang burung2 di Holland,
khususnya di Amsterdam dan Volendam, bukan hanya menjadikan aku terharu
karena Tuhan memberikan ‘kebahagiaan’ pada mereka, tetapi juga membuat
aku merenung dan sangat percaya, bahwa burung2 pun tetap diberi makan
oleh Tuhan dan kebahagiaan, mengapa kadang2 aku merasa ‘ketakutan’
tentang masa depan?

Camar itu melayang dan menukik masuk ke area kota
Burung2 terbang rendah, bahkan dekat
dengan manusia. Jika di kota atau downtown, yang ada adalah burung2
merpati atau burung gereja. Jika di pantai, yang ada adalah berbagai
macam species burung camar ( sea-gull ).
Satu persatu aku membuka bidikannya. Sangat menarik! Dennis ‘mengikuti’ beberapa burung dengan kameranya.

Camar itu terbang menuju kota, hanya sendiri saja …..
Ada burung camar yang mulanya berada di
tepi sungai, lalu dia terbang tinggi berputar2, menukik. Dennis terus
mengikutinya. Bidikannya berlatar belakang langit biru yang tinggi, lalu
si camar terbang berputar di sekitar rumah2 Amsterdam, sehingga
bidikannya berlatar belakang pemukiman, hotel bahkan ketika Dennis
mengikuti burung camar yang lain, burung itu menukik ke air, menyelam
serta membersihkan dirinya!


Burung camar jenis yang lain (
banyak sekali berjenis2 camar disana ), terbang rendah menuju kota
Amsterdam, sebelum mereka turun ke Sungai Amstel ……

Camar yang menyendiri …..

Si camar yang membersihkan diri, setelah menyelam mencari makan di Sungai Amstel


Hahaha …. Burung dara abu2 ini bukan
‘burung air’. Mereka biasanya bermain di area perkotaan. Tetapi burung
dara ini, iseng ke sungai, tiba2 di ‘jatuh’ ke sungai, dan burung itu
basah kuyup, dan dibidik oleh Dennis ….. lucu sekali …..
Sangat menarik! Membuat aku merenung.
Terlihat betapa bahagianya burung camar itu. Tentu dia tidak tahu, ada
seseorang yang mengikutinya lewat bidikannya, menjepretnya dan sering
aku melihat Dennis tersenyum2 sendiri, ikut merasakan kebahagiaan
burung2 itu …..
***
Burung2 liar adalah salah satu sahabat warga Belanda. Mereka dibiarkan
hidup bersama dengan manusia. Tidak hanya di Belanda sih, tetapi di
semua kota dunia yang aku kunjungi ( kecuali Indonesia, khususnya
Jakarta? ). Bahkan, ketika aku kuliah di Perth, aku sempat bersahabat
dengan keluarga Angsa Hitam ( lihat tulisanku Keluargaku Angsa Hitam [Sad Ending] )
Ya, sebenarnya binatang juga makhluk
Tuhan dimana DIA menginginkan kita manusia untuk hidup berdampingan
dengan mereka, saling menguntungkan dan saling mengasihi.
Seperti yang di presentasikan oleh
bidikan Dennis, merupakan ekspresi nya untuk mengasihi lingkungannya.
Dennis mampu ‘melihat’ dengan hatinya, bahwa burung pun juga berbahagia,
tanpa beban. Berusaha hidup sesuai dengan kemampuannya serta berbuat
yang terbaik bagi hidupnya.
Dennis mampu menterjemahkan Kasih Tuhan lewat kebahagiaan burung2 itu dan mengabadikannya lewat bidikan2 kameranya …..
Sebelumnya :


Jumat, 29 November 2013
Jumat, 29 November 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
www.tempo.co
Sempat aku mengusap mataku tadi pagi,
ketika aku melihat televisi dan mendengar berita tentang penemuan
seorang bayi yang baru lahir 3 hari, disebuah gubug kecil di daerah
Bantul, Yogyakarta. Bayi laki2 itu dilahirkan oleh seorang ibu muda,
baru klas 2 SMP ( Bayangkan! Kelas 2 SMP! ) dan tidak tinggal dengan
orang tuanya. Bapaknya? Entahlah! Bayi itu hanya diberi air putih dalam
botol susu, pagi hari sebelum ibunya berangkat kesekolah dan dia
diletakkan di lemari bajunya, terbungkus selimut ……
Aku mendengar seakan tak percaya. Remaja
kelas 2 SMP itu melahirkan sendiri anaknya, entah bagaimana, tetapi aku
membayangkan betapa ketakutannya remaja itu, sedemikian ketakutannya
sampai dia ‘rela’ tidak ditolong oleh siapapun untuk melahirkan anaknya
sendirian dan menghadapinya juga sendirian!
Aku ingat, jaman kelas 2 SMP aku
benar2 masih anak2. Yang dikepang 2, berjalan digandeng oleh orang
tuaku, berlari menangis karena terjatuh, atau berteriak2 bermain sepeda
seakan dunia milik anak2 saja. Tidak pernah memikirkan ‘dunia dewasa’,
atau dunia2 yang lain. Hanya dunia anak2 …..
***
Sex untuk remaja, sepertinya bukan barang baru lagi. Mulai aku SMP dan
SMA, aku sudah mendapat seminar tentang sex dan bahayanya terhadap
remaja. Dari kecil aku sangat mengerti bahwa untuk remaja, sex memang
dan harus ‘ditabukan’. Bukan! Bukan kita tidak boleh bicara tentang sex
yang masih banyak orang mengira, sex adah hubungan badan antara 2 jenis
manusia. Untuk sebagian lagi, sudah sangat mengrrti bahwa sex itu tidak
hanya tentang hubungan badan saja, tetapi semua yang berhubungan dengan
fisik dan psikis manusia, serta penyakit2any dan organ2 reproduksi.
Sehingga, sex harus tetap diajarkan ( paling tidak dalam pelajaran
biologi ), bukan untuk ‘hubungan badan’nya, tetapi pengetahuan2 yang
lainnya, yang ehubungan dengan tubuhnya sendiri …..
Ketika aku masih SMA, ada seorang temanku sempat hamil diluar nikah ( lihat tulisanku Seks Remaja : Karena Internet atau Karena ‘Kesepian?’ )
Dan membuat aku bertambah menarik diri untuk tidak berhubungan dengan
banyak teman. Sedikit ketakutan. Apalagi, sebuah novel remaja booming
sampai beberapa tahun lalu dibuat sinetronnya ‘Pernikahan Dini’, membuat
aku terus bertanya dalam hati,
“Bagaimana masa depan teman2ku yang seperti itu, ya?”
Walau yang aku tahu temanku yang dulu
hamil diluar nikah, sudah hidup bahagia dengan suami dan anak2nya di
Amerika, tetapi apakah semuanya demikian? Pasti berbeda!
Itu dulu, jaman ‘kuda gigit besi’, kata
anakku. Mungkin benar juga. Karena teknologi belum terlalu berkembang
seperti sekarang, aku tetap yakin bahwa sex ( catat : berhubungan badan )
di kalangan remaja sudah menjadi ‘virus’ dengan banyaknya aborsi serta
penyakit2 kelamin. Aku sering mendengarnya, ketika aku masih remaja, itu
membuat aku semakin semakin menarik diri dari pergaulan, dan
‘bersembunyi’ di rengkuhan aman dari orang tuaku, khususnya papa, sampai
saatnya aku ‘keluar’ untuk menjalin hubungan sesaat sebelum tugas akhir
penyelesaian sarjanaku.
Apalagi sekarang. Dengan kemajuan
teknologi seperti ini, membuat sex bebas ‘dinikmati’ kapanpun dan oleh
siapapun! Pornografi benar2 menjadi virus, bukan hanya remaja saja,
bahkan orang dewasa pun menjadi sangat rentan untuk sebuah
perselingkuhan. Dan aku yakin, cerita remaja kelas 2 SMP tadi terjadi
karena virus2 itu terus menyebar, sampai sudut2 dunia, mengajarkan ’sex’
( catat : berhubungan badan ) tanpa pernikahan …..
Sex adalah justru di inginkan Tuhan
untuk memperoleh keturunan, tetapi sesuai dengan peraturan2. Ketika sex
yang seharusnya merupakan ikatan yang indah dan penuh kasih ini
dijadikan ‘momen’ keingin-tahuan remaja dan perselingkuhan bagi orang2
dewasa yang sudah menikah tetapi tetap masih menyimpan hasrat kepada
lawan jenisnya yang bukan pasangannya, sex akhirnya menjadi bencana.
Sex
menjadi keterpurukan dan sex akhirnya akan ‘dijauhi’ bagi orang2 yang
hanya sekedar tahu, seperti aku dulu. Bahwa berhubungan antar 2 anak
manusia lelaki dan perempuan, memang merupakan awal dari kasih untuk
membangun dunia, tetapi sex akan menjadi bencana ketika disalah-gunakan
sebagai obyek dan hasrat yang tidak pada tempatnya …..
Apalagi ketika sex dijadikan hanya
tempat pelampisanan serta hasrat yang menggebu dan tidak ada cinta
didalamnya, sex benar2 menjadi sebuah duka yang mendalam dalam hubungan
antar manusia. Aborsi yang tidak bertanggung jawab serta kematian ibu
hamil karena aborsi yang sembarangn, merupakan keterpurukan bagi
keluarga. Bayi2 yang tidak bersalah akan menanggung akibatnya.
Ketika aku melihat televisi tadi pagi,
seorang bayi lucu dan mungil tertidur dipelukan seorang dokter di rumah
sakit karena kakek bayi itu ‘menemukan’ bayi anaknya, sungguh hatiku
sangat trenyuh …..
Aku teringat begitu banyak prempuan yang
sangat mendambakan seorang bayi tetapi tidak atau belum diberikan oleh
Tuhan. Atau ketika aku ingat betapa aku sangat berhati2 merawat anak2ku
yang sempat bermasalah di awal2 hidupnya karena tumor yang ada di
rahimku dan bertumbuh dengan janinku di tubuhku. Membuat aku ‘nelangsa’
dan mataku berkaca2 …..
Entahlah, apa yang aku bisa perbuat
untuk itu. Tetapi aku berusaha untuk mengajak anak2ku terbuka serta
memberikan kasih sayang kepada mereka. Bahwa jika mereka mendapatkan
kasih sayang dari orang tuanya, aku berharap mereka akan menerti bahwa
ada bagian2 di dunia ini yang belum boleh mereka nikmati, sehingga apa
yang bisa dinikmati dan apa yang belum boleh dinikmati, akan tergambar
dalam kepala dan hatinya sebagai pegangan hidupnya.
Dan dari sekolah serta komunitasnya (
misalnya, komunitas keagamaan ), tentulah sangat membantu untuk
perkembangan jiwa yang menggebu2 untuk remaja. Mereka sangat mengerti
bahwa remaja memang harus ‘disalurkan’ jiwanya, serta membentengi dengan
banyak hal, salah satunya dengan sebuah dialog terbuka dengan mereka.

Seminar dan dialog di sekolah
anakku, yang setiap tahun diadakan untuk pra-remaja SMP, tentang
‘Pendidikan Sex Bagi Remaja’, sesuai dengan tingkat umurnya …..
Kesimpulan dan copas dari tulisanku :
Jika seks sekarang ( katanya
) melanda remaja2 kita karena adalah internet, ternyata tidak demikian.
Sejak dulu, seks memang merupakan masalah klasik, dan tanpa
internetpun, virus seks tanpa pernikahan sudah menyerbu remaja2 kita, di
kota2 besar bahkan pun di pedesaan yang mungkin malah putus sekolah,
karena adanya ‘kesendirian’ dan keputus-asaan …..
Dan bagi remaja kita,
sebagai orang tua, kasih sayang kita bisa meredam keinginan para remaja
itu, untuk bisa berinteraksi dengan banyak orang dengan positif.
Berusaha menanamkan masa depan yang positif bagi mereka, dan terus
berdoa, agar Tuhan memberikan banyak petunjuk untuk mereka. Dengan kasih
dan selalu mengajarkan remaja kita untuk berdoa, akan membuat mereka
‘terlepas’ dari sebuah virus yang disebut ’seks’, sesuatu yang belum
boleh dilakukan oleh para remaja ……

Jumat, 22 Februari 2013
Jumat, 22 Februari 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
campuslifemagz.com
Salah jurusan? Aku sih tidak pernah
’salah jurusan’. Yang ada temanku. Dan salah jurusan itu, bisa membuat
hidup kita ‘berantakan’ …..
Sejak kecil, sejak aku mengenal sebuah
cita-cita jaman masik duduk di bangku TK, aku sudah sangat tahu, apa
yang aku mau tempuh untuk bekerja. Memang itu pikiran anak kecil. Ketika
papaku mengajak aku untuk belajar seperti beliau, sebagai insinyur, aku
meliuhatnya sangat keren dan memang aku sangat tertarik untuk belajar.
Sejak kecil, aku benar2 sudah memantapkan untuk nantinya aku mengambl
jurusan arsitek, yang sekarang adalah mati-hidupku dalam bekerja. Dan
arsitek adalah hidup dan jiwaku, secara aku memang sangat suka dengan
desain bangunan …..
Itu aku. Bagaimana yang lain? Aku tidak tahu, tetapi yang jelas, tidak dengan temanku.
Ceritanya begini :
Temanku, teman 1 SD, 1 SMP dan sahabat
SMA lain sekolah karena SMA ku semua berjenis kelamin perempuan. Aku
mengenalnya memang sejak kecil. Cita2nya selalu berubah. Jaman SD, dia
ingin menjadi insinyur, sama dengan aku. Lalu berubah beberapa kali
sampai SMP. Dia ingin menjadi Dokter. Tak apa, toh masih jauh. Berubah
lagi, sampai SMA, dia ingin menjadi astronot, terus berubah sampai
mencari jurusan kuliah setelah lulus SMA. Semakin lama, cita2nya semakin
tinggi, terus menjulang …..
Tidak salah, memang. “Gantunglah cita2mu setinggi langit”.
Itu adalah motto ku. Begitu juga cita2ku sebagai seorang arsitek
handal. Dan temanku, sebut saja Tigor, dia benar2 mempunyai cita2 yang
luar biasa tinggi!
Hihihi ….. jaman SMA aku sudah bisa ‘menakar’
kemampuanku. Untuk menjadi seorang arsitek handal pun aku harus benar2
belajar denan sungguh2, apalagi, ketika aku tahu, apa yang menjadi cita2
Tigor. Terakhir setelah lulus SMA dia mengambil jurusan Hubungan
internasional. Ingin menjadi Diplomat dan bekerja di luar negeri. Syukur2
katanya, dia bisa ‘masuk’ di pemerintahan Amerika …… Wuuiiiiihhhhh ……
OK,tidak masalah! Semua cita2 masing, dan sekaranglah kami mulai mewujudkan cita2 kami tersebut.
Aku belajar dengan sangat tekun, SKS
demi SKS aku selesaikan, sampai aku lulus S1 sebagai seorang arsitek
dengan hasil luar biasa dalam waktu 4 tahun ( dulu, kuliah arsitektur
harus menempuh 166 SKS yang seharusnya ditempuh dalam waktu sektar 5
sampai 6 tahun.Tetapi aku bisa lulus dalam waktu 4 tahun ). Dan aku
mulai bekerja sebagai profesional muda, sebelum aku melanjutkan
pendidikan S2 ku.
Aku bisa memantau Tigor. Tahun pertama
di jurusan Hubungan Internasional ( HI ), dilaluinya dengan baik. Tahun
kedua, dia sudah bilang, bosan, dan ingin ganti jurusan. Waaahhh ….. dan
dia benar2 keluar dari HI, padahal dia bisa kuliah di UI lho!
Dia pindah ke lain kota, dan kuliah di
jurusan peternakan. Heh? Dari Hubungan Internasional dan bercita2
sebagai Diplomat dan bekerja di Amerika, tiba2 langsung ingin kuliah di
pertenakan?? Tidak habis pikir, apa yang dia inginkan dalam hidupnya!
Di jurusan peternakan, dia memang bisa
lulus tetapi dengan nilai pas-pasan. Tigor sih tidak nakal, tidak
bandel. Tetapi entahlah, mengapa perjalanan pendidikannya tidak sesuai
dengan hidup nya? Padahal Tigor beruntung dengan keluarganya yang cukup
berada dan siap membiayainya sampai kapanpun …..
Sebagai insinyur peternakan, seharusnya
dia ‘membumi’ untuk beradaptasi dengan pedesaaan, sebelum dia meningkat
sebagai peneliti. Tetapi Tigor, seperti biasa, ‘jurusannya’ bertukar
lagi! Gelarnya ditinggal di belakang, dan dia melamar menjadi seorang
‘banker’ ….. heh? Belajar tentang keuangan? Kapan? Aku menggeleng2kan
kepalaku ….. sementara karirku mulai menanjak sejak tahun 1997, tetapi
Tigor masih diam ditempat …..
Pantauanku tentang Tigor terus
berlanjut. Aku dengar, dia melanjutkan kuliah S2, bersama dengan aku.
Aku mengambil Manajemen yang akan membuat gelarku sebagai arsitek,
bertambah luas. Strategis! Bahwa arsitek itu adalah gelar teknis, dan
sangat mikro, tetapi dengan aku mengambil jurusan manajemen, bidang yang
mikro itu akan lebih luas untuk mendesain konseptual dalam berinteraksi
dengan dunia bisnis.
Tetapi jurusan apa yang diambil okeh
Tigor? Dia mengambil jurusan Makro Ekonomi untuk pertanian! Heh?? Apa
itu? Lah, kan dia S1 nya jurusan peternakan? Lalu bekerja sebagai
‘banker’, terus mengapa kuliah S2 dengan jurusan itu??? Bingung …….
“Masa bodoh, deh”, pikirku. Toh dia tidak mau dinasehati!
Aku mampu menjalani S2 ku dengan baik,
bahkan setelah lulus aku diminta mengajar dan mendapat beasiswa
meneruskan S3 di Amerika karena cum laude, walau tidak aku ambil, karena
anakku yang kecil, Michelle, bermasalah dengan kesehatannya. Tetapi aku
bisa mengajar S2 selama 5 tahun sebelum aku resign karena peerjaanku
benar2 padat …..
Tigor tidak lulus dengan pendidikan S2
nya. Aku tidak tahu, apa yang dipikirkannya. Dan ketika karirku semakin
menanjak, Tigor hanya ‘mampu’ bekerja sebagai ‘administrasi proyek’.
Yang aku tanya, apa pekerjaannya. Dia dia bercerita bahwa sehari2 dia
melakukan tugas administrator proyek disebuah perusahaan kontraktor
kecil …..
Aku bukan ingin mengatakan bahwa
administrator merupakan pekerjaan yang tidak bagus, tetapi jika memang
itu adalah cita2nya, administrator adalah sebuah pekerjaan yang luar
biasa! Tidak ada yang bisa menyusun dan mengurusi catatan2 serta
mengarsip file secantik seorang administrator!
Tetapi dengan ‘ego’ nya,
Tigor sekarang hanya mampu seperti itu, tanpa peningkatan ’skill’ dan
kemampuan sebagai seorang administrator! Yang aku dengar, dengan di
dunia yang sama ( dunia konstruksi, termasuk kontraktor ), aku bisa
sangat memantau, bagaimana karir Tigor …..
Yang jelas, dia sih terlihat hepi2 saja,
belum menikah, dan hidupnya pun tidak ‘bandel’. Gajinya saja setara
dengan pekerja eksekutif sangat junior, yang baru bekerja ( mungkin
karena dia tidak mau meningkatkan kemampuannya ). Dan pulang bekerjapun,
Tigor langsung pulang ke rumah …, tidak berfoya2 tetapi juga tidak
mengandalkan uang keluarga ……
Jadi, sebenarnya, apa yang dia cari ???
***
Semuanya memang harus dari diri sendiri.
Pun dalam memilih jurusan. Cerita tentang Tigor selalu aku gunakan
untuk memacu semangat anak2ku, sehingga jika pada waktunya, anak2ku
tidak salah memilih jurusan sesuai dengan cita-citanya …..

Selasa, 19 Februari 2013
Selasa, 19 Februari 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
cutcaste.com
——————————————————————————————————————-
Jadwal siaran SMPN 1 Baturaden, Purwokerto :
Selasa, 5 Maret 2013 - jam 10.30 s/d 12.00
Jadwal siaran SMPN 1 Sumbang, Purwokerto :
Selasa, 19 Maret 2013 - jam 10.30 s/d 12.00
Di Radio Edukasi Pustekkom Dikbud 1440 AM bisa melalui streaming :
————————————————————————————————————————-
IDKita Kompasiana memang baru terbentuk
bulan Mei 2012, bertepatan dengan ditandatanganinya MOU antara IDKita
Kompasiana dengan Kompas.com, seperti di artikelku ID Kita Kompasiana - MOU: Tanggung Jawab Kami untuk Generasi Muda Indonesia.
Niat kami tulus, sebuah komunitas
penulis dengan berbagai latar belakang yang berbeda, dengan tempat
tinggal di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri, juga dengan sebagian
besar adalah perempuan dan ibu2, yang ingin sekali keluarganya tidak
terjerumus di dalam pusaran internet yang tidak sehat. Bahwa kami ingin
anak2 dan remaja bisa berkreasi dengan teknologi. Dan bahwa kami ingin
bisa berbagi dan melayani anak2 dan remaja Indonesia demi masa depan
mereka.
Ketika sejak Mei 2012 lalu sampai
sekarang ( Februari 2013 ) kami sudah berbagi dan melayani lebih dari 45
kegiatan di seluruh Indonesia, yang mempunyai basis IDKita.
Dejabotabek, beberapa wilayah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan
Menado. Segera kami akan ke Papua ( lihat tulisanku Papua, IDKita Kompasiana is Coming …..). Puji Tuhan …..
Kami pun sudah bekerja sama dengan 3
Kementrian. Pertama, Kementerian Kominfo yang sering berkolaborasi
dengan tim Pemberdayaan Informatika dan sudah audensi dengan Bapak
Dirjen Ashwin Sasongko ( lihat tulisanku Diskusi dengan Dirjen Telematika Kominfo, Bapak Ashwin Sasongko ). Kolaborasi dengan Direkturnya, ibu Mariam F.Barata ( lihat tulisanku ‘The Next Action’ dengan ibu Mariam F.Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kominfo dan Sudah Berapa Jauhkah IDKita Kompasiana Berkembang? …..), sangat mendukung kami untuk terus berbagi.
Yang kedua, dengan Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sudah beberapa kali
audiensi dengan Ibu Linda Gumelar ( lihat tuliasanku Berdialog dengan ‘Ibu Linda Amalia Sari Gumelar’, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI dan IDKita Kompasiana Akan Berkolaborasi dengan 2 Kementerian dalam Hari Ibu 2012 ).
Bahkan dengan tim Kementrian ini bersama dengan Kemen Kominfo, kami
sudah berkolaborasi pada Seminar dan Workshop di Hari Ibu Desember 2012
lalu, yang mengundang Ibu2 Ketua PKK seluruh Indonesia. Dengan
memperkenalkan Duta Remaja ( lihat tulisanku IDKita Kompasiana dan 2 Kementerian : Persiapan Seminar Hari Ibu Nasional 2012 dan IDKita Remaja Sudah Membuktikannya di Seminar “Peranan Ibu di Era Digital” ….. ), IDKita Remaja yang sudah didukung oleh Kominfo.
Yang ketiga, kami juga bekerja sama
dengan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan menyiarkan dan
berbagi lewat siaran Radio Edukasi Pustekkom, selama 1 tahun, setiap
hari Selasa ( tentang Internet Sehat dan Aman ) dan Kamis ( tentang
pemanfaatan teknologi untuk kreatifitas ). Nara sumbernya sebagian besar
dari IDKita, Kominfo ( bu Mariam F.Barata sudah 2 kali siaran ) atau
yang lain sesuai dengan temanya. Pernah tentang ‘Filateli dalam
Teknologi’, tentang Fotografi juga pernah tentang Bedah Buku On-air. Dan
segmennya adalah remaja, ibu2 muda serta guru2, pas dengan konsepnya,
dalam frekwensi 1440 AM yang bisa didengarkan keseluruh negeri.
Dan kami juga sudah menyiarkan di Radio DFM 103.4 FM tentang Cyberbullying dan Cyberstalking ( lihat tulisanku Radio DFM 103.4 FM menggandeng IDKita Kompasiana ),
yang sekarang marak di komunitas remaja, bahkan pelecehan2 bagi orang2
dewasa. Dan TV Kompas juga sudah pernah meminta kami untuk siaran
langsung dengan Ibu Mariam F.Barata di Talk Show Kompas TV di Hari Ibu 2012 : Ibu Jaman Sekarang Harus ‘Melek’ Teknologi …..
Tetapi kami tidak mau hanya presentasi,
workshop dan dialog2 saja dengan banyak komunitas. Kami ingin mencari
feed-back dari komunitas2 yang pernah kami datangi untuk berbagi
kembali, apakah kedatangan kami waktu itu benar2 bermanfaat atau hanya
sekedarnya saja? Apakah pelatihan, workshop serta saran2 kami dipakai
dengan baik atau tidak? Bahkan kami ingin mereka bisa mengkritik kami
atau bisa juga ‘memaki’ kami jika memang yang kami lakukan adalah tidak
sesuai dengan misi mereka. Karena dengan kritik dan masukan, IDKita akan
introspeksi diri, walau kami memang hanya sekumpulan sukarelawan yang
tidak dibayar dan tidak mementingan materi …..
Kegiatan kami di Purwokerto minggu lalu ( lihat tulisanku Pengembangan Internet Sehat dan Aman di SMPN 1 Baturaden, Purwokerto dan Buruh Petani pun Harus Bisa Internet! Sasaran Orang Tua Siswa SMPN 1 Sumbang - Purwokerto )
Merupakan ‘project pilot’ untuk di luar Jakarta, karena segmennya
sangat jauh berbeda.
Dengan dukungan penuh dari Kemen Kominfo dan Dinas
Pendidikan Kebudayaan Banyumas, kami ingin memberikan kesempatan bagi
SMPN 1 Baturaden dan SMPN 1 Sumbang, untuk ‘berbicara’ dengan Indonesia
tentang manfaat kegiatan waktu kami kesana. Boleh tentang kritik dan
sara, atau boleh juga tentang impian dan harapan tentang apapun, bukan
hanya tentang Internet Sehat dan Aman, tetapi mereka bisa bicara tentang
semua hal, tetapi sesuai dengan aturan2 yang ada. Kami bisa mengajak
tim Kemen Dikbud, bahkan kami mungkin bisa meminta menteri Dikbud untuk
mendengarkan apa yang mereka inginkan, mereka keluhkan atau mimipi2
mereka untuk siswa-siswi sekolah mereka. Termasuk IDKita Kompasiana.
2 Sekolah di Purwokerto tersebut kami
ingin menjadi satu kasus dan kami ingin antara kami dan mereka akan ada
suatu jainan diskusi, paling tidak 1 bulan sekali, untuk bicara tentang
permasalahan2 yang ada. Setelah itu, kami ingin mereka terus
mempertahankan prestasi mereka, bahkan kami ingin mereka terus
berkembang. Kedepannya lagi, kami inginsiswa-siswi mereka bisa
mendapatkan suatu pendidikan terbaik untuk masa depannya, dengan mimpi
kami untuk bea siswa mereka … siapa tahu, kan?
Kami juga menginginkan siswa-siswi atau guru2 mulai berkreasi, seperti yang kami ajarkan di tulisan2ku
Mbah Google versus ‘Mading’, Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden dan ‘Gerakan Guru Menulis’ di Kompasiana.
Indonesia akan mendengarkan mereka.
Guru2 seluruh Indonesia akan mendengarkan mereka. Bahkan jika anda di
luar negeri, pun akan mendengarkan mereka melalui jalur streaming. Kata2
mereka, kritik mereka, keinginan2 serta mimpi2 mereka, berbaur dengan (
mungkin ) hasil yang telah mereka capai, setelah kami datang ke sekolah
mereka.
Tidak ada yang lebih inspiratif, kecuali
tentang berbagi dan melayani. Kegiatan ini adalah hanya untuk berbagi
dan melayani. Jika ada yang ingin berbagi bersama kami, silahkan
menghubungi Dkita Kompasiana, dan bersama2 kami melayani masa depan
anak2 dan remaja kita untuk Indonesia …..
Bisa dibuka :


Minggu, 17 Februari 2013
Minggu, 17 Februari 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
Dokumen Pribadi
Ke-10 kelompok menulis dengan 5 tema dalam sesi ‘Motiasi Menulis’ sebagai kreatifitas dalam ber-Internet Sehat dan Aman …..
Anak2 dan remaja memang cepat
‘menangkap’ sesuatu. Tidak hanya kesempatan saja, tetapi jika kelihainan
mereka untuk menjadikan mereka lebih eksis dan ekspresif. Memang,
kadang2 mereka masih malu2, tetapi jika mereka diberi kesempatan, mereka
tidak akan malu2 walau tidak semua sama. Sama juga dengan orang dewasa
…..
Ketika kami membagi menjadi 10 kelompok
( lihat tulisanku / link diatas ) untuk membahasdan membuat sebentuk
tulisan dalam sebuah tema khusus. Ada 10 kelompok yang membahas 5 tema.
Konsepnya adalah mereka harus menuliskan sekitar 1 halaman dari yang
telah kami diskusikan waktu itu. Setelah itu mereka harus
mempresentasikan didepan semuanya, dengan membaca tulisan masing2
kelompoknya, atau dwngan berbicara dari konsep tulisan tersebut, sebagai
narasi.

Kami sebagai ‘juri’
Waktunya sekitar 15 menit. Masing2
kelompok diundi untuk tema yang akan dituliskan dan akan di
presentasikan. Kelima tema tersebut, adalah :
1. SMPN 1 Baturaden dan Internet
2. Manfaat Media Sosial bagi Kreatifitas
3. Peran Internet Dalam Pembelajaran
4. Pornografi Bisa Merusak Otak
5. Peran Media Sosial Bagi Pergaulan
2. Manfaat Media Sosial bagi Kreatifitas
3. Peran Internet Dalam Pembelajaran
4. Pornografi Bisa Merusak Otak
5. Peran Media Sosial Bagi Pergaulan
Beberapa dari kami, termasuk aku, berjalan berkeliling, untuk sedikit berbicara dan berdiskusi dengan mereka. Untukku, mereka semua ‘manis2′. Pertama, mereka masih malu2. Bahasa mereka memang ‘ngapak’ atau paling tidak, bahasa Jawa kasar ( ngoko ). Ketika aku di depan mereka masing2 kelompok, aku selalu tersenyum, dan mereka membalasku dengan tersenyum malu2. Ketika aku berhenti di salah satu kelompok, aku menyapa mereka, dan mereka membalas malu, dengan mata tidak mau memandang mataku …..


Kelompok siswi dan siswa dalam berkreatifitas untuk tugas menulis …..
*Disini pikiranku melayang pada
remaja ibu kota. Ketika aku menyapa mereka setelah dialog, dengan berani
mata mereka menatap mataku sambil terseyum. Bahwa perbedaan itulah yang
membawa kami ingin lebih jauh ‘masuk’ ke dunia remaja di kota2 kecil*


Aku dan Valentino, menyapa seluruh siswa disana sambil mereka mengerjakan tugas2nya …..
Aku selalu bertegur sapa dengan setiap
kelompok. Sambil mereka menyiapkan artikel mereka yang kami tugaskan,
aku juga mulai menanyakan, siapa yang berminat untuk belajar menulis?
Siapa yang ingin membuat akun Kompasiana? Atau siapa yang ingin
mengikuti Lomba Menulis Surat bertema AIR dari Kemen Kominfo, seperti
yang aku tuliskan di Lomba Menulis Surat Remaja 2013 dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI
Pengamatanku, siswi lebih tertarik untuk
belajar menulis, seperti yang aku motivasi mereka tadi pagi. Ketika aku
mengangkat tanganku untuk yang berminat mencoba menuliskan sesuatu,
sebagian besar siswi tunjuk tangan. Dan hanya sewbagian kecil siswa yang
berminat. Dan aku membagikan kartu namaku, untuk siapa yang mau
menghubungi aku lewat telpon, sms, email, fb ku untuk berdiskusi tentang
apapun!


Siswa - siswi yang maju sebagai juru bicara untuk mempresentasikan hasil karya tulisannya di depan semuanya …..
Ketika kami sudah berada di mobil untuk
pulang sekitar jam 16.00, ternyata ‘pancingan’ kami mengena! Ada 2 siswi
yang menghubung kami, Regita lewat SMS kepadaku dan Bilqis lewat
what’sApp ke Valentino. Sangat terkejut, ketika dengan beraninya mereka
menanyakan beberapa pertanyaan.
Bilqis adalah nama siswi disana yang
memenagkan lomba menulis dan presentasi dengan tema : Manfaat Media
Sosial bagi Kreatifitas. Dan dia membawakannnya dengan begitu bagus,
seakan dia sudah menghafal tulisannya. Dia seperti meneragkan dalam
kelas sebagai seorang guru, dan mimik mukanya pun sangat ekspretif!
Hebat, Bilqis!

Bilqis, siswi SMPN 1 Baturaden yang
berbakat serta ‘berani’, untuk mengekspresikan dirinya sebagai
’seseorang’ dan sebagai remaja bertalenta …..
“Ini yang kutunggu”, pikirku, juga pikiran Valentino.
Kami langsung membalas SMS dan What’sApp
Valentino. Balas membalas, kamu memuaskan rasa ingin tahu mereka,
dengan menjawab pertanyaan2 mereka. Bilqis tertarik untuk mem-posting
banyak tulisan2nya berupa fiksi ( sepertinya dia memang sudah tertarik
untuk menulis fiksi, dan sudah mempunyai blog pribadi ) dan ingin bisa
menulis surat seperti aku ( lihat tulisanku Bermula dari Sahabat Pena, Aku ‘Berteman’ dengan Para Pembesar Banyak Negara ), sedangkan Regita lebih menanyakan, bagaimana cara dia membuat akun di Kompasiana untuk mem-posting tulisan2nya …..
Memang hanya atau baru 2 orang siswi
yang merespon ajakan kami untuk berkreasi dengan internet lewat tulisan.
Tetapi setidaknya sudah ada hasil dari apa yang kami mulai …..
Dengan ber-Internet Sehat dan Aman, dan
dengan berkreasi serta berinovasi, diharapkan anak2 dan remaja sebagai
generasi muda bangsa, akan berusaha ‘melawan’ hantu2 internet. Bahwa
mereka akan bisa membanggakan bangsa dan negara Indonesia, paling tidak
lewat pemikiran2nya dalam tulisan2nya, sejalan dengan keinginannya untuk
terus mengembangkan konsep hidup ber-Internet Sehat dan Aman …..
Maju terus Bilqis dan Regita, dan sukses untuk kalian semua, siswa-siswi SMPN 1 Baturaden - Purwokerto …..
Tuhan akan selalu berkati kalian dan kita semua!


Jumat, 25 Januari 2013
Jumat, 25 Januari 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti



Dokumen Pribadi
Aku tidak tahu, mengapa aku, seorang
perempuan dengan keterbatasan lumpuh separuh tubuh, dengan kegiatanku
yang juga terbatas, mampu membuat seorang remaja SMP yang tadinya
sedikit depresi dan tidak percaya diri untuk mengekspresikan dirinya,
sekarang dia justru bersemangat untuk menyatakan dirinya sebagai remaja
yang mandiri, setelah juga dia berhasil menjadi juara 2 Lomba Menulis
Surat 2012 yang diselenggarakan oleh Kominfo, seperti di tulisanku Ayu, Remaja ‘Berkebutuhan Khusus’ dalam Mimpi-mimpinya.
Ayu Diah, begitu nama remaja itu,
seorang remaja manis dan cantik, berasal dari Bali. Ayu menderita
celebral palsy, sebuah penyakit pada otak, yang berakibat salah satunya
kelumpuhan pada salah satu anggota tubuhnya, seperti dari referensi ini :
Cerebral mengacu pada otak,
yang merupakan daerah yang terkena otak ( meskipun gangguan tersebut
mungkin melibatkan hubungan antara korteks dan bagian lain dari otak
seperti otak kecil ), dan palsy mengacu pada gangguan gerakan. (Wikipedia).
Tetapi toh penderita celebral palsy
tetap bisa berkarya, baik untuk dirinya sendiri maupun dan bahkan bagi
orang lain, seperti yang aku tuliskan disini Kyeong-Min Kim dari Korea: Pianist dengan ‘Kekakuan’ Otaknya (Celebral Palsy)
Kemarin aku mendapat sebuah surat
tercatat. Dari Bali, dengan nama pengirimnya aku tidak kenal. Penasaran
aku cepat membukanya. Ada 2 lembar surat. Ternyata dari 2 orang yang
berbeda. Satu dari Ayu yang aku tuliskan diatas dan satu lagi dari
gurunya, bu Yuni. Aku baru teringat tentang bu guru ini, beberapa hari
lalu beliau mengirimkan inbox di Kompasiana tentang Ayu ingin mengirikan
sebuah puisi khusus untukku dan Ayu ingin mengirimannya dengan tulisan
tangannya, bukan lewat email! Duuuhhh ….. Sebuah permintaan yang sangat
menyentuh perasaanku!
Di inbox Kompasiana itu, bu Yuni, guru
Ayu menceritakan bahwa Ayu sangat terinspirasi denganku, ketika dia tahu
bahwa aku, seorang perempuan cacat separuh tubuh lumpuh, menjadi
seorang Juri Nasional, dalam menilai sebuah lomba menulis surat remaja
secara nasional. Memang, aku ingat ketika lomba itu terselenggara dan
Ayu di undang untuk datang ke Jakarta setelah mengalahkan sekitar 800
orang pesaingnya dari seluruh Indonesia, dia tidak lepas dariku, terus
melihatku berkegiatan dalam keterbatasan …..
16 January 2013 : 09:02
Dear Mba Cristie,
Perkenalkan saya Yuni dari Yayasan
Peduli Kemanusiaan Bali. Saya dulu sempat mengenal mba pada saat saya
menemani salah satu anak didik YPK-Ayu Diah- yang mengikuti lomba
menulis surat remaja nasional di Jakarta.
Sejak ayu mengenal mba cristie yang
saat itu menjadi juri dalam perlombaan tersebut, ayu sangat mengagumi
mba. Ia menuangkan kekagumannya tersebut melalui sebuah puisi yang ia
tulis sendiri. Ayu ingin mengirimkan puisi tersebut kepada mba hanya ia
tak tahu harus mengirim kemana. Untuk itulah ia meminta tolong pada
saya. Jika mba cristie berkenan, saya ingin meminta alamat email mba.
Atau bila mba ingin melihat langsung tulisan tangan ayu, saya akan bantu
ayu untuk mengirimkan ke alamat rumah mba via pos.
Terima kasih sudah menjadi inspirasi
salah satu anak YPK ya mba. Kini ayu tak malu lagi dengan tulisannya.
Ia semakin percaya diri.
Oh iya, mba cristie dapat membalas message ini ke …… ( alamat email )
Sekali lagi terima kasih mba cristie.
Salam
CATATAN : Semua surat sudah dimintakan ijin untuk aku posting di artikelku
***
3 hari waktu itu, aku bergaul dengan
Ayu, seorang remaja dari Bali, yang pada waktu itu memang
terlihat
sangat tidak percaya diri, padahal tulisannya bagus, sebagai remaja
serta pandangan2nya tentang masa depan sebagai seorang remaja yang
mandiri dan mencintai bangsanya, sangat membuat kami, para juri,
tersentuh. Apalagi ketika wawancara pribadinya. Mula2 dia benar2 tidak
percaya diri.
Lihat tulisaku Internet atau Menulis Surat? , Banggaku Kepada Remaja Indonesia yang Belum Terwadahi , Remaja Indonesia dalam Percaya Dirinya, Nalarnya, Wawasannya dan Mimpi-mimpinya , Menulis Untukku adalah ‘Sesuatu Banget!’ , “Kemenangan adalah ‘Proses’, Bukan Kemenangan itu Sendiri”, kata Mereka


Aku dengan 3 penguji nasional. Ayu di wawancara dan diuji dalam menulis surat …..
Dia hanya menunduk, dan kami terus
membesarkan hatinya bahwa ‘KAMU BISA!’ dan lama kelamaan, dia mulai
mengangkat kepalanya ….. Juga ketika dia terus menatapku untuk
memperhatikan aku berkegiatan dalaam keterbatasan ( aku berjalan pelan,
tanganku selalu mencari pegangan untuk berjalan karena aku takut
tersandung dan jatuh, serta gaya bicaraku yang memang sangat lambat
karena bicaraku masih terbatas karena stroke-ku ), dia mulai melihat
bahwa ‘DIA MEMANG BISA!’ …..


Aku selalu ingin duduk dengan Ayu,
untuk membesarkan hatinya dalam pertambahan kepercayaan dirinya, sebagai
remaja ‘berkebutuhan khusus’ …..
Membaca puisi Ayu, sungguh, aku sangat
terharu. Seorang remaja SMP, seumur anakku, dengan bangga melihatku
sebagai inspirasinya. Sungguh, aku tidak tahu mau berkata apa …. aku
tidak pernah ingin membuat orang lain kasihan kepadaku. Aku tidak ingin
tergantung kepada orang2 disekitarku ( walaupun aku memang masih
tergantung pada mereka karena memang belum mampu mandiri ). Tetapi
dengan keterbatasanku, beberapa orang disekelilingku menjadikan aku
inspirasi untuk mereka …… dan aku sangat bersyukur dengan ini, merupakan
pelayananku, memuliakan nama Tuhan walau tetap dalam keterbatasan ……
Ibu Yuni pun, membuat aku sangat
beruntung dikelilingi oleh orang2 yang mengasihiku. Menurutku, justru
itulah ‘kasih’ yang hakiki, sebuah kasih bukaan kasih dari keluarga,
tetapi justru kasih dari orang lain, yang terus berkembang dalam
kehidupanku. Tuhan sangat mencintaiku, sehingga dalm keterbatasan
seperti aku ini, ada banyak kaih yang menopangku. Dan kehilangan fisikku
dengan separuh kelumpuhanku, justru aku mendapatkan kasih dari orang2
yang peduli kepadaku, termasuk Ayu serta ibu gurunya …… Terima kasih,
Tuhan …..
Kata2 Ayu dalam puisinya, merupakan
kata2 yang keluar dari hatinya untukku. Tidak ada permainan kata2 sama
sekali, murni dari hatinya. Tulus dari pikirannya. Sebuah kata2 yang
sangat membuat aku berbangga karena walau dengan keterbatasanku ini, aku
tetap mampu untuk membawa Ayu lebih percaya diri untuk terus berkarya
demi masa depannya …..

Terima kasih Ayu, atas kasihmu kepadaku
….. Terima kasih bu Yuni, untuk terus membimbing Ayu belajar, serta yang
utama, terima kasih Tuhanku, untuk selalu mengasihiku, lewat orang2
disekelilingku …..


Puisi dari Ayu, khusus untukku …..

Surat dari Bu Yuni, guru Ayu …..

Senin, 10 Desember 2012
Senin, 10 Desember 2012
- 0 Comments
By Christie Damayanti
Dokumen Pribadi
IDKita Remaja sebagai Duta Insan (
Internet Sehat dan Aman , aku dan mba Vema minus mas Erri ( yang
motret ) dengan bu Mariam F.Barata - Kominfo
Remaja2 IDKita, sungguh sangat membuat
aku bangga! Betapa tidak! Jumat, 7 Desember 2012 kemarin, ketika Bu
Mariam F.Barata sebagai Direktur Telematika Kominfo mengundang untuk
audiensi Duta Insan Internet Sehat dan Aman, dalam hal ini kami sebagai
IDKita memilih 10 anak remaja dari beberapa sekolah. Bu Mariam
mengajukan konsep untuk kegiatan Hari Ibu tanggal 19 Desember 2012 ini,
bukan hanya kaum ibu saja yang menyuarakan keinginannya kepada anak2 dan
remaja, melainkan juga anak2 dan remaja harus menyuarakan keinginannya
untuk orang tua mereka, dalam hal ini, ibu mereka.
Konsep ini dicetuskan oleh bu Mariam
ketika kami membahas dan berdiskusi dengan tim Kementrian Pendayagunaan
Perempuan dan Perlindungan Anak ( PP&PA ), beberapa minggu yang
lalu. Dan Jumat kemarin, Bu Mariam berkenan untuk memanggil IDKita
Remaja, didampingi kami ( aku, mba Vema dan mas Erri ) sebagai
pembimbing mereka.
Sejak jauh2 haripun, kami juga sudah
mempersiapkan remaja2 IDKita untuk audiensi ini. Bukan hanya waktunya
karena mereka masih bersekolah SMA dan kami ingin mereka tidak bolos
dari sekolah, tetapi kami harus menyusun waktu setelah selesai kegiatan
sekolah mereka. Dan bukan hanya itu saja, melainkan kami harus
menyiapkan mental mereka sebagai calon2 Duta Insan, yang dipersiapkan
oleh Kominfo sebagai Duta Remaja berkeliling ke seluruh Indonesia demi
mensosialisasikan Internet Sehat dan Aman kepada sesama remaja itu
sendiri.

Wajah2 cerah IDKita Remaja dalam
beraudiensi dengan ibu Mariam. Terlihat tanpa beban, walau sebelumnya
mereka merasa beban berat ketika mereka tahu bahwa akan diajak
beraudiensi dengan pejabat pemerintahan …..
6 orang remaja IDKita datang ke Kominfo :
Hendra, Michael, Dennis, Lourdes, Cilla dan Michelle dengan aku, mas
Erri dan mba Vema sebagai pembimbing, bersilahturahmi dengan bu Mariam.
Mereka memakai seragam sekolah masing2, karena kami ingin identitas
mereka sebagai pelajar, justru harus dikedepankan …..
Dan bu Mariam terlihat sangat excited
melihat semangat mereka. Bu Mariam sendiri sangat piawai untuk remaja2
tersebut mau dan bisa berbicara dengan terbuka. Diskusi dan tanya jawab
selalu diselingi dengan tertawa. Bu Mariam bisa dengan santai membawakan
kata2nya dengan lancar dan menular juga kepada remaja2 itu. Dari yang
kikuk dalam ber-audiensi dengan pejabat pemerintahan, sampai mereka bisa
bercanda sambil menjawab pertanyaan2 bu Mariam dengan santai.

Masing2 remaja mau berbicara dengan
terbuka, apa yang mereka inginkan sebagai anak untuk kami, orang tua
mereka. Dan Bu Mariam sangat excited ketika mereka sangat antusias
menceritakan isi hati mereka …..
Pertanyaan2 bu Mariam sangat mengakar
dan mendasar, maksudnya sangat bisa di tanyakan oleh banyak orang tua.
Seperti misalnya tentang pornografi. Bu Mariam menanyakan, apakah mereka
pernah melihat foto2 vulgar atau video yang belum boleh mereka melihat
dan menontonnya. Dan ternyata mereka sangat terbuka. Bahwa ternyata
semua pernah melihat dan menontonnya, baik tidak dengan sengaja, diajak
oleh teman bahkan dengan sengaja.
Tetapi mereka sangat menyayangkan
ketika banyak remaja justru menjadi ‘adict’ dengan melihat dan menonton
pornografi, sehingga mereka justru selalu ingin mensosialisasikan
tentang bahaya pornografi kepada teman2 mereka.
Begitu juga ketika bu Mariam bertanya
tentang orang tua mereka tentang kegiatan mereka di madia sosial. Mereka
mengatakan, sebenarnya mereka mau ‘berteman’ dengan mama atau papa ada
di media sosial yang mereka ikuti, misalnya Facebook. Tetapi yang
mereka tidak suka adalah jika mama atau papanya selalu ‘mengikuti’
mereka, memonitor serta selalu menegur mereka WALAUPUN mereka merasa
bahwa tidak ada yang harus ditakuti. Sehingga mereka merasa,
“Ah, mama ‘kepo’ banget sih. Orang kita ga kenapa2, mama terus mau tahu saja, nyebelin” …..
Sesaat aku tersentak! Ada anak2ku di tim
‘mereka’, tim IDKita Remaja. Selama ini hubungan kami, anak beranak,
baik2 saja. Ternyata mereka sedikit ‘tertekan’ ketika aku selalu
memonitor mereka, walau aku tidak pernah melarang mereka menggunakan
Facebook.
Ternyata mereka merasa tidak nyaman ‘berteman’ denganku,
sebagai mama mereka. Dan dari sinilah aku bertambah yakin bahwa
keterbukaan kita sebagai orang tua dan anak2 serta remaja mereka sangat
membantu untuk lebih baik, bukan hanya di dunia maya, tetapi keterbukaan
di semua dunia.

Bu Mariam selalu mengatakan tentang
keterbukaan sebagai remaja kepada orang tua mereka ….. Lourdes dan Cilla
serius mendengarkan kata2 bu Mariam …..

Hendra, Dennis dan Michelle serius tetapi santai mendengarkan kata2 dari bu Mariam …..
Hampir 2 jam, dari jam 15.00 sampai jam
17.00, kami berdiskusi dengan IDKita remaja dan bertambah semangatlah
mereka, ketika masing2 selalu memberikan respon yang positif untuk
jawaban2 mereka. Mata mereka terlihat polos ketika hati mereka terbuka
mendapatkan masukan2 dari bu Mariam, sehingga jawaban2 mereka
menerangkan seluruh isi hati mereka, yaitu keinginan yang amat sangat
untuk saling terbuka kepada orang2 yang mereka anggap bisa melindunginya
dan mengasihi mereka …..
Tidak salah ketika IDKita membentuk
IDKita Remaja, dan ini adalah konsep dari Valentino. Ketika kita semua
sebagai orang tua menginginkan anak2 dan remaja kita berbuat yang kita
inginkan yang terbaik bagi mereka, mereka juga mempunyai keinginan2
mereka sendiri.
Saatnyalah kita sebagai orang tua mendengar
apa yang mereka inginkan untuk orang tua mereka, kita harus mulai bisa
untuk berdialog dengan mereka, dan justru mereka ingin keterbukaan.
Karena jika sekarang hanya berada dalam ego sebagai orang tua yang
tidak mendengarkan apa yang mereka inginkan, suatu saat mereka akan
‘menghilang’ dan lepas dari kendali kita, karena mereka sudah tumbuh
sebagai orang2 muda menuju dewasa …..
Keterbukaan antara anak2, remaja dan orang tua, adalah pangkal dari keharmonisan dalam kasih sebagai keluarga …..
Tetap semangat, IDKita Remaja, Tuhan berkati!
Salamku …..
*Teruntuk Valentino terkasih, yang selalu berusaha untuk mereka* …..


Langganan:
Postingan (Atom)