Artikel Terakhir
Home » Posts filed under regional
Tampilkan postingan dengan label regional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label regional. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Mei 2014
Senin, 12 Mei 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
***
Lihat tulisanku :
Link tentang kegiatan IDKita Kompasiana
Live Srteaming : ‘ICT for Disabled’
Undangan Inspiratif untuk Kompasianers
Ayo, Indonesia! Mandirilah dalam Mengatasi Pernyalahgunaan Internet!
Alangkah ‘Aman’nya jika Orang Tua Dapat Mengontrol Anaknya di Dunia Maya …
‘Parenting Control’ Bukan untuk Mengawasi Suami, Ya!
‘Duta Insan’ 2013 : Remaja [IDKITA] Calon Kebanggaan Bangsa
Kita Tidak Akan Pernah Berhenti: Sebuah Komitmen dengan Tuhan …..
Test Online Calon ‘Duta Internet Sehat dan Aman’ 2013
‘Bapak Gatot M.Suwondo CEO BNI 46′ : Siap Mendukung Program-Program IDKITA Kompasiana!
Griya Yatim dan Dhuafa Menjalin Kerjasama Dengan IDKITA Membangun ‘100 Desa Internet’ di seluruh Indonesia
Bukan Sekedar ‘Kampung’ Biasa, apalagi Bersama IDKita dengan Griya Yatim dan Dhuafa
Akun Soraya Haque itu Palsu!
Tetapi Akun Soraya Haque di Kompasiana, itu Asli Lho …..
[ IDKita Kompasiana ] Cerita di Kampus Atmajaya dan Kampus Gajah Mada
[ IDKita Kompasiana ] Mengajak STIE YKPN Yogyakarta untuk Berbagi Demi Bangsa
[ IDKita Kompasiana ] Berbagi dengan Remaja SMA Bopkri-1 Yogyakarta
Kita Akan Mengguncang Yogyakarta! Be There!!!
‘IDKita Kompasiana’ di Mataku : Refleksi 1 Tahun
Papua, IDKita Kompasiana is Coming …..
IDKita Kompasiana dan Kementerian Kominfo Akan Datang ke Tempat Anda …
Dunia Maya pun Juga Ada di ‘Hp Jadul’…
Indonesia Akan Mendengar Mereka
‘Gerakan Guru Menulis’ di Kompasiana
Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden
Buruh Petani pun Harus Bisa Internet! Sasaran Orang Tua Siswa SMPN 1 Sumbang - Purwokerto
Pengembangan Internet Sehat dan Aman di SMPN 1 Baturaden, Purwokerto
Selamat Datang di Purwokerto, Salam dari IDKita Kompasiana …..
Mereka Berselancar di Dunia Maya di Warnet, Sementara Orang Tua Mereka adalah Buruh Tani …..
Dialog Bersama Remaja SMP Penabur Kota Jababeka
Talk Show Kompas TV di Hari Ibu 2012 : Ibu Jaman Sekarang Harus ‘Melek’ Teknologi …..
IDKita Remaja Sudah Membuktikannya di Seminar “Peranan Ibu di Era Digital” …..
“Aduuuuhhhh, Aku Stresssssss …..” : Kesibukan Menjelang Hari ‘H’
“Bukan Ortu Gaptek” : Buku Pertama IDKita Kompasiana
Radio DFM 103.4 FM menggandeng IDKita Kompasiana
Ternyata Mereka Hanya Ingin Pengertian dan Keterbukaan
IDKita Kompasiana dan 2 Kementerian : Persiapan Seminar Hari Ibu Nasional 2012
Kompasianival 2012: Remaja-Remaja IDKita yang Luar Biasa!
Seminar ‘Game Online’ - Kominfo : Ketika Kreatifitas Anak dan Remaja Berseberangan dengan Dampak Negatifnya
‘Parenting Control’ : Workshop Perdana IDKita Kompasiana
IDKita Kompasiana Akan Berkolaborasi dengan 2 Kementerian dalam Hari Ibu 2012
Mbah Google versus ‘Mading’
Sudah Berapa Jauhkah IDKita Kompasiana Berkembang?
Kolaborasi IDKita Kompasiana dengan Kominfo dalam Membina Generasi Muda di SMK Kesdam Jaya
‘The Next Action’ dengan ibu Mariam F.Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kominfo
Berdialog dengan ‘Ibu Linda Amalia Sari Gumelar’, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI
Ketika Orang Tua Baru Mengerti, Bahwa Anak-Anak Mereka Berada ‘Jauh’ di Depan Mereka …..
Remaja Tidak Menyadari Bahwa Bahaya ‘Mengancam’ Mereka !
Respon Antusias Orang Tua tentang ‘Internet Sehat’ di GKJ Eben Haezer
Diskusi dengan Dirjen Telematika Kominfo, Bapak Ashwin Sasongko
ID Kita Kompasiana - Kominfo : Diskusi Program ‘Internet Sehat’
ID Kita Kompasiana: Membangun ‘Mimpi’
ID Kita Kompasiana - MOU: Tanggung Jawab Kami untuk Generasi Muda Indonesia
ID Kita Kompasiana : Bermula dari ‘Keluarga Cengengesan’ …..

IDKITA Kompasiana bekerjasama dengan
Indosat dan KOWANI dalam “KOWANI Fair dan IWAPI Expo 2014″ di SME
Smesco - tanggal 8 sampai 11 Mei 2014.
IDKITA Kompasiana terus berkibar. Bukan.
Bukan aku membanggakan diri lewat komunitas kami, tetapi ketika kami
berusaha terus untuk melindungi anak2 dan remaja Indonesia lewat
teknologi, Tuhan memberikan terus peluang2 besar kepada kami untuk
melayani. Ya, semua kegiatan IDKITA ini benar2 untuk melayani, dari hati
kami yang paling dalam.
Dari 3 kementerian Indonesia, IDKITA
bergerak lebih jauh lagi, dengan menggandeng beberapa instansi swasta
untuk berkolaborasi dan bekerjasama dalam nama ‘pelayanan bagi Tuhan’.
Salah satunya adalah dengan Indosat dan Kowani dengan Ketua Umum, Ibu
Dewi Motik yang membawahi lebih dari 100.000 organisasi wanita di
seluruh Indonesia …..
Ibu Dewi Motik memang benar2 perempuan
yang luar biasa. Kepeduliannya kepada Indonesia, khususnya kaum
perempuan dan anak2, membuat kami selalu siap untuk bekerjasama dengan
beliau, setelah MOU yang ditandatangi oleh IDKITA dan Kowani. Dan
kegiatan kamipun sudah beberapa belas dari sejak Oktober sampai sekarang
ini.
***
Sebelumnya :
Berawal dari ketika Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, yang mengundang IDKITA
untuk bersama membicarakan masalah perempuan Indonesia dalam teknologi
lewat APEC 2013 lalu, kami datang membawa konsep dan beberapa solusi
untuk perempuan Indonesia bisa memanfaatkan teknologi. Yang kesemuanya
untuk anak2 Indonesia, karena perempuan adalah identik dengan anak2
(dibawah umur). Beberapa diskusi dilakukan kami dengan beberapa negara,
terutama dari Amerika, Australia, Rusia serta Taiwan.
Lalu ketika perempuan2 hebat Indonesia,
salah satunya bu Dewi Motik (Ketua Umum Kowani) kesana, beliau langsing
mengajak IDKITA bekerjasama untuk memerangi ‘kebodohan’ dan ke-gaptek-an
perempuan Indonesia untuk menjaga anak2 mereka. Sehingga, sejak bulan
Oktober 2013 kami menandatangani MOU untuk bekerja sama. Dan seketika
itu juga, kegiatan demi kegiatan kami adakan.
Lihat tulisanku :
2 event besar awal tahun 2014 ini,
IDKITA dan KOWANI adakan, dan beberapa event lanjutannya sampai tahun
ini selesai. Yang sudah selesai yaitu ‘ICT for Disabled’, bekerjasama
dengan Indosat serta IDCC (Indonesia Disabled Care Community). 4 orang
nara sumber (aku, Habibie Afsyah, Dimas dan Riqo) memberikan pandangan2
pada masyarakat bahwa kauk disabled pun bisa untuk memanfaatkan
teknologi, bahkan lebih bagi dari orang2 sehat. Coba baca link diatas.
Lalu minggu lalu, KOWANI mengadakan
pameran nasional selama 5 hari bertajuk ‘KOWANI Fair dan IWAPI Expo’
mulai tanggal 8 - 11 Mei 2014 di SME Smesco Pancoran, jalan Gatot
Subroto Jakarta. Dan IDKITA diminta untuk mengatur jadwal seminarnya.
Dari 5 hari expo, 2 hari IDKITA berbicara di depan perempuan Indonesia,
khususnya ibu2, yang berdatangan dari seluruh Indonesia, karena KOWANI
membawahi lebih dari 80.000 organisasi perempuan di seluruh Indonesia.

Bu Dewi Motik, Ketua Umum Kowani
Di hari ke-2, tanggal 9 Mei 2014, aku
dan mba Novita Tandry, psikolog dan pakar pendidikan anak, owner dari 40
cabang Tumblers Tot (sekolah bayi), dengagn Valentino sebagai
moderatornya, berbicara selama sekitar 1,5 jam dalam tema : “Peran TIK dalam Pemberdayaan Perempuan Indonesia”.


Valentino sebagai moderator, selalu
memberikan yang terbaik untuk kita semua. Latar belakang kegiatanku di
‘KATA KITA’ Kompas TV sebagai hasil aku memanfaatkan ICT untuk
kegiatan2ku …..


Mba Novita Tandry dan aku sebagai nara sumber
Bu Dewi Motik memang sangat menghargai
kegiatan pelayanan kami dan beliau terlihat sangat sayang pada kami dan
selalu mendukung kami. Ini disampaikannya pada pidato yang mengawali
konsep2 berpikir kami.
Kursi audience hampir penuh sekitar 200
orang dan mereka menyimak apa yang kami katakan. Terutama ketika
Valentino mengupas data dan fakta tentang ’sex predator’ dan pedofilia
dari dunia maya berlanjut ke dunia nyata! Bahwa kenyataan ini sudah
kami (IDKITA) katakan dari mulai 2 tahun lalu, bahkan sejak belasan
tahun lalu ketika Valentino masuk ke duniapelayanan tentang anak2 dalam
teknologi. Dan Terbukti dengan kenyataan2 yang sekarang ini sedang
marak, dimana orang2 mulai berani untuk mengungkap fakta2 yang membuat
miris …..


Kursi hampir penuh …..
Audience sangat beragam. Dari orang tua
dan mahasiswa2 yang mulai terbuka tentang masa depannya, yang nantinya
juga sebagai calon orang tua. Dan dengan berapi2, kami terus mengupas
fakta2, kenyataan serta solusi2 khusus dari IDKITA! Dan setelah itu,
mereka banyak bertanya serta mendaftar untuk bisa IDKITA datang ke
tempat2 mereka untuk sosialisasi dan workshop untuk ‘Parenting Control’.
Hari ke-5 atau hari terakhir 11 Mei
2014, giliran Valentino yang me-moderator-i Habibie dan ibunya, Ibu
Endah Setyati untuk berbicara dalam tema “Peluang dan Tantangan Bisnis Online”.


Habibie Afsyah dan Bu Endang ibunya, serta Valentino sebagai moderator
Habibie dengan ibunya memang selalu
member dampak yang positif dan inspiratif bagi audiece. Apalagi ketika
itu merupakan ‘dunia perempuan’ yang identik dengan pemberdayaannya
lewat dunia online. Banyak orang2 yang ikut serta dalam KOWANI Fair dan
IWAPI Expo ini merupakan perempuan2 baik senior maupun perempuan muda
yang berkarya lewat barang2 kerajinan dan dijual online, sehingga mereka
cukup tergerak untuk mengikuti beberapa cara yang Habibie lakukan untuk
usahanya.
***
2 hari kami berbicara didepan perempuan
Indonesia secara nasional dan 5 hari berkumpul di lingkungan KOWANI dan
IWAPI, membuat kami lebih sadar lagi bahwa IDKITA tetap bisa melakukan
sesuatu untuk masa depan bangsa. Bahwa anak2 dan remaja merupakan asset
orang tua dan bangsa. Jika mereka tidak tersentuh dalam pendidikan dan
pengawasan, baik dunia nyata ataupun dunia maya, maka bangsa ini akan
semakin terpuruk. Dan ‘generasi2 yang hilang’ itupun bertambah lagi …..
Lihat tulisanku ‘Generasi yang Hilang’, Apa Itu?
IDKITA masih terus dibutuhkan. Kami
memang mengawalinya dengan baik dan kami ingin terus melakukannya dengan
lebih baik lagi. Walaupun kami hanya kecil dan tidak terlihat dari
manapun, tetapi kami akan terus menjalankan sesuai dengan yang Tuhan mau
kami melakukannya …..
Untuk kegiatan2 selanjutnya, tetap dan
terus dilakukan untuk datang ke sekolah2 adatu ke komunitas2 di
sekeliling kami. Dan untuk event2 besar selanjutnya ada beberapa yang
sudap siap dilakukan :
1. Tanggal 7 Juni 2014 :
“ICT for Disabled” secara nasional, bekerjasama dengan Kominfo, KOWANI, IDCC dan Indosat
Bertempat di Auditorium Indosat lantai 4, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta
2. Tanggal 12 Juni 2014 :
“Perangi Narkoba di Era Digital” dalam rangka Hari Anti Narkoba Nasional, bekerjasama denganIndosat, GRAN (Gerakan Anti Narkoba) dan BNN.
Bertempat di Auditorium Indosat lantai 4, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta
Tidak ada kata2 yang bisa kami katakan
selain terus mengucap syukur dengan semua yang Tuhan berikan pada kami.
Sebuah komunitas yang (semoga) bisa terus berguna bagi masa depan
bangsa, lewat teknologi untuk anak2 dan remaja serta pemberdayaan
perempuan dan perlindungan anak
Indonesia ……
Salam IDKITA Kompasiana, Tuhan selalu memberkati!

Link tentang kegiatan IDKita Kompasiana
Live Srteaming : ‘ICT for Disabled’
Undangan Inspiratif untuk Kompasianers
Ayo, Indonesia! Mandirilah dalam Mengatasi Pernyalahgunaan Internet!
Alangkah ‘Aman’nya jika Orang Tua Dapat Mengontrol Anaknya di Dunia Maya …
‘Parenting Control’ Bukan untuk Mengawasi Suami, Ya!
‘Duta Insan’ 2013 : Remaja [IDKITA] Calon Kebanggaan Bangsa
Kita Tidak Akan Pernah Berhenti: Sebuah Komitmen dengan Tuhan …..
Test Online Calon ‘Duta Internet Sehat dan Aman’ 2013
‘Bapak Gatot M.Suwondo CEO BNI 46′ : Siap Mendukung Program-Program IDKITA Kompasiana!
Griya Yatim dan Dhuafa Menjalin Kerjasama Dengan IDKITA Membangun ‘100 Desa Internet’ di seluruh Indonesia
Bukan Sekedar ‘Kampung’ Biasa, apalagi Bersama IDKita dengan Griya Yatim dan Dhuafa
Akun Soraya Haque itu Palsu!
Tetapi Akun Soraya Haque di Kompasiana, itu Asli Lho …..
[ IDKita Kompasiana ] Cerita di Kampus Atmajaya dan Kampus Gajah Mada
[ IDKita Kompasiana ] Mengajak STIE YKPN Yogyakarta untuk Berbagi Demi Bangsa
[ IDKita Kompasiana ] Berbagi dengan Remaja SMA Bopkri-1 Yogyakarta
Kita Akan Mengguncang Yogyakarta! Be There!!!
‘IDKita Kompasiana’ di Mataku : Refleksi 1 Tahun
Papua, IDKita Kompasiana is Coming …..
IDKita Kompasiana dan Kementerian Kominfo Akan Datang ke Tempat Anda …
Dunia Maya pun Juga Ada di ‘Hp Jadul’…
Indonesia Akan Mendengar Mereka
‘Gerakan Guru Menulis’ di Kompasiana
Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden
Buruh Petani pun Harus Bisa Internet! Sasaran Orang Tua Siswa SMPN 1 Sumbang - Purwokerto
Pengembangan Internet Sehat dan Aman di SMPN 1 Baturaden, Purwokerto
Selamat Datang di Purwokerto, Salam dari IDKita Kompasiana …..
Mereka Berselancar di Dunia Maya di Warnet, Sementara Orang Tua Mereka adalah Buruh Tani …..
Dialog Bersama Remaja SMP Penabur Kota Jababeka
Talk Show Kompas TV di Hari Ibu 2012 : Ibu Jaman Sekarang Harus ‘Melek’ Teknologi …..
IDKita Remaja Sudah Membuktikannya di Seminar “Peranan Ibu di Era Digital” …..
“Aduuuuhhhh, Aku Stresssssss …..” : Kesibukan Menjelang Hari ‘H’
“Bukan Ortu Gaptek” : Buku Pertama IDKita Kompasiana
Radio DFM 103.4 FM menggandeng IDKita Kompasiana
Ternyata Mereka Hanya Ingin Pengertian dan Keterbukaan
IDKita Kompasiana dan 2 Kementerian : Persiapan Seminar Hari Ibu Nasional 2012
Kompasianival 2012: Remaja-Remaja IDKita yang Luar Biasa!
Seminar ‘Game Online’ - Kominfo : Ketika Kreatifitas Anak dan Remaja Berseberangan dengan Dampak Negatifnya
‘Parenting Control’ : Workshop Perdana IDKita Kompasiana
IDKita Kompasiana Akan Berkolaborasi dengan 2 Kementerian dalam Hari Ibu 2012
Mbah Google versus ‘Mading’
Sudah Berapa Jauhkah IDKita Kompasiana Berkembang?
Kolaborasi IDKita Kompasiana dengan Kominfo dalam Membina Generasi Muda di SMK Kesdam Jaya
‘The Next Action’ dengan ibu Mariam F.Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kominfo
Berdialog dengan ‘Ibu Linda Amalia Sari Gumelar’, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI
Ketika Orang Tua Baru Mengerti, Bahwa Anak-Anak Mereka Berada ‘Jauh’ di Depan Mereka …..
Remaja Tidak Menyadari Bahwa Bahaya ‘Mengancam’ Mereka !
Respon Antusias Orang Tua tentang ‘Internet Sehat’ di GKJ Eben Haezer
Diskusi dengan Dirjen Telematika Kominfo, Bapak Ashwin Sasongko
ID Kita Kompasiana - Kominfo : Diskusi Program ‘Internet Sehat’
ID Kita Kompasiana: Membangun ‘Mimpi’
ID Kita Kompasiana - MOU: Tanggung Jawab Kami untuk Generasi Muda Indonesia
ID Kita Kompasiana : Bermula dari ‘Keluarga Cengengesan’ …..


Senin, 10 Februari 2014
Senin, 10 Februari 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
www.tempo.co
Sebuah bendungan yang terletak di Bogor,
dibangun jaman kolonial Belanda, dibangun tahun 1911, adalah hal yang
sangat penting berkaitan dengan banjir Jakarta. Bendung Katulampa,
sering digunakan untuk acuan sebagai pos pemantau banjir. Mungki di
jaman sekarang ini, waktu banjir Jakarta masih melanda, mendengar KATULAMPA saja, kita sudah mengkeret karena takut banjir datng lagi, kiriman dari Bogor …..
Di musim hujan seperti sekarang ini,
penjaga Bedung Katulampa harus siap 24 jam dan akan memantau jika
menunjuan ketinggian air dari Siaga 4, Siaga 3, Siaga 2 apalagi Siaga
1.. Pemberitahuannya pastilah tiap beberapa menit sekali untuk bisa
segera diumumkan bahwa air dari sana akan ‘datang’ ke Jakarta, sesuai
dengan keadaannya agar Jakarta bersiap2.
Menurut referensi yang aku baca, Bendung
Katulampa dibangun dengan material tidak semestinya jaman itu,
dikatakannya dengan ‘material sementara’. Sehingga, jika diterjang
banjir, bendungan mengalami kerusakan. Entah bagaimana sekarang, apakah
selalu dalam perawatan yang apik, karena bendungan ini merupakan ‘titik
bencana’ tentang banjir Jakarta …
Sejak jaman kolonial Belanda, Bendung
Katulampa selalu dirawat dan memakan dana cukup besar. Tetapi setelah
Indonesia merdeka, kerusakan Bendung Katulampa setiap tahun menunjukan
semakin parah, karena PENGGUNDULAN HUTAN.
Pastilah akan berpengaruh terdapat daya tahan bendungan ini. Dan penggundulan
hutan merupakan yang tidak bisa ditolerir lagi karena ini adalah siklus
alam. Jika hutan habis ditebang, air akan terus mengalir tanpa
berhenti. Apalagi lokasi hutan2 yang ditebang dibangun perumahan atau
hotel da villa, sehingga tanahnya berubah menjadi beton, dan air semakin
cepat ke tempat yang lebih rendah, yaitu JAKARTA ……
Faktor geografis merupakan siklus alam.
Memang tentang geogarfis bisa juga berubah tanpa campur tangan manusia.
Tetapi perubahan georafis tampa campur tangan manusia adalah SANGAT LAMBAT. Tetapi
dengan campur tangan manusia dan penggunaan teknologi secara besar2an
semakin mempercepat perubahan siklus alam. Semakin bannyak manusia yang
campur tangan, semakin mereka membuat alam ‘merana’ dan justru akan
membuat alam ‘marah’ …..
Penyebaran teknologi, pembangunan dengan
material2 non-alam, akan mempercepat siklus alam berubah. Terutam yang
berkaitan dengan perubahan fungsi lahan, dari hutan perawan, menjadi
hunian bahkan industri! Perubahan fungsi lahan mengubah siklus alam.
Pola alam berubah sama sekali. Dari sebuh hutan perawan, menjadi pola
hunia dan industri, sangat berbeda. Semuanya akan mempengaruhi pola
aliran, pola energi ataupun material2 yang ada akan berubah. Apalagi ini
sejak jaman kolonial Belanda, lebih dari 300 tahun lalu!
Permukaan air ( banji ) pun berubah.
Jika Bendung Katulampa yang notebene adalah hasil campur tangan manusia
dengan teknologi tinggi, tetapi tidak dibarengi dengan penggundulan
hutan, mungkin hasil nya pada jaman sekarang ini, tidak akan sedemikian
amburadulnya, terutama berhubungan dengan Jakarta.
Tetapi yang jelas,
penggundulan hutan sampai sekarang pun masih saja dilakukan, entah apa
penyebabnya! Padahal bukti tentang siklus alam yang ‘melenceng’ sudah di
gembar-gemborkan. Dan ketidak-pedulian dan keserakahan serta keegoisa manusia adalah ujung tombak bencana banjir Jakarta ……
Itu baru ‘urusan’ Bendung Katulampa yang berada di kota2 pendukung Jakarta. Belum di Jakarta nya sendiri.
Pembangunan di Jakarta sendiri benar2
merubah tatanan dan siklus alam dengan sangat cepat, karena keegoisan
warganya. Ekosistem secara alamiah, pun berubah, termasuk aliran2 air.
Ekosistem alamiah berubah menjadi ekosistem buatan, yang hasilnya
bertambah buruk. Ya, Tuhan sudah menciptakan alam untuk kita jaga, BUKAN
untuk dirusak!
Ciptaan Tuhan memang benar2 sempurna dan TIDAK AKAN ADA
YANG BISA SESEMPURNA TUHAN! Artinya, semua yang diciptakan Tuhan akan ‘marah’, ketika manusia mengubahnya!
Sehingga penggundulan
hutan, perubahan fungsi lahan ataupun perubahan ekosistem menjadi
buatan, pastinya akan mempengaruhi alirn air. Dan yang terburuk adalah,
air akan terus mengalir dari daerah tinggi ke daerah rendah, sehingga
dari Puncak - Bogor terus mengalir ke Jakarta menuju laut. Tetapi
parahnya, reklamasi laut utara Jakarta besar2an digalakkan, sehingga ai
‘berhenti’ di sungai dan cekungan2 di Jakarta!
Lama kelamaan,Jakarta bebannya
bertambah, terjadi penurunan dataran akarta sehingga air laut ‘masuk’ ke
Jakarta. Belum lagi air pasang laut utara Jakarta yang dikenal dengan
sebutan ‘rob’ ……
***
Seringkali ahli2 di Jakarta berbicara
tentang ini, tetapi keserakahan manusia warga Jakarta ternyata tidak
peduli bahwa Jakarta akan semakin ‘tenggelam’. Tidak peduli dengan
apapun, dan sepertinya jika Jakarta tenggelampun mereka dengan santainya
terbang ke luar negeri tanpa peduli dengan yang ada di Jakarta.
Aahh ….. semakin lama semakin melenceng. Terserahlah …..

Rabu, 11 September 2013
Rabu, 11 September 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti

Aku dan tour guide bu Wayan Suci,
delegasi dari Amerika Linda Denny, dari Australia Marie Johnson, dari
Brunei, Malaysia dan Filipina - Hari ke-3 APEC Women 2013 di Bali.
Sebelumnya :
Hari ketiga pada kegiatan APEC Women
2013 di Bali. Ada 3 tim untuk delegasi APEC. Yang pertama adalah
delegasi para mentri untuk berdiskusi tentang perencanaan strategis
tentang pemberdayaan perempuan. Juga issue2 tentang perempuan di dunia.
Tim kedua dan ketiga adalah delegasi2
non-minister. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat.
Yang pertama, mengunjungi Art Market di Klungkung serta Pura Ubud. Yang
kedua, mengunjung Art Market di Kuta, Spa Bali Tangi dan Tanah Lot. Aku
dan Valentino memilih ke Kuta, Bali Tangi dan Tanah Lot. Begitu juga
Linda Denny dari Amerika. Sayang, Irina dari Russia sudah terbang ke
Moscow.
Pagi itu jam 9.00 kami siap berangkat
menuju masing2 tempat. Aku ikut di bus nomor 2. Kami berkenalan dengan
delegasi Australia yang terkagum2 ketika aku bercerita tentang pelayanan
kami lewat IDKITA. Namanya Marie Johnson.
Apalagi setelah aku berikan konsep dan proposal IDKITA kepadanya. Waktu
itu kami belum masuk ke bus.
Aku duduk di atas kursi roda sedangkan dia
berdiri. Sambil aku terangkan dengan terbata2 karena bicaraku belum
lancar, Marie membaca2 dokumen IDKITA dengan serius. Dia banyak bertanya
dan mengangguk2 jika aku menjawab.

Aku dengan delegasi Australia, Marie Johnson
Mungkin dia tidak terlalu mengerti
dengan cara lidahku yang kaku karena lumpuh. Tetapi sinar wajahnya
ketika mendengar jawabanku, serta senyumnya yang ramah dan mengangguk2,
membuat aku lega seraya berkata, bahwa dia mengerti apa yang IDKITA
maksudkan tentang Internet Sehat dan Aman bagi pemberdayaan perempuan
Indonesia untuk melindungi anak2 mereka …..
Tempat pertama, kami akan sedikit
berbelanja di Art Market di Kuta. Tidak lama, hanya membeli sedikit
oleh2 untuk keluarga kita. Distrik Kuta adalah salah satu daerah
terpopuler di Bali sejak dulu. Semua jenis pariwisata untuk wisatawan
asing ada disana. Mulai dari wisata seni, tradisional, laut, hotel, spa
dan sebagainya sangat diminati oleh semua wisatawan dengan harga relatif
terjangkau dibandingka di daerah Nusa Dua, yang memang khusus tempat
‘high class’, formal dan internasional. Detail Kuta sendiri akan aku
tuliskan di artikel2 selanjutnya.


Wisatawan2 asing senang dengan kerajinan tangan Bali ……
Setelah itu kami menuju Spa Bali Tangi, di jalan Kebo Iwa Denpasar. Bia di buka http://www.balitangi.com dan http://www.rumahlulurbalitangi.com.
Bali Tangi dipimpin oleh ibu Tangi, seorang perempuan Bali yang
memproduksi rempah2 tradisional untuk perawatan tubuh. Mulai dari aroma
terapi, sabun, shampoo sampai kopi luwak Bali, Teh Beras Merah serta teh
Rosella.
Bali Tangi sendiri merupakan sebuah
‘rumah’ dengan konssep Tradisional Natural Holistic. Memproduksi ramuan2
herbal dari Bali khas Ibu Tangi. Produk2nya merupakan produk
herbaltradisional untuk perawatan kulit dan tubuh, khususnya perempuan.
Dan Bu Tangi sendiri sudah dikenal ke manca negara. Beliau selalu
memberdayakan perempuan2 Bali untuk bisa memberi ‘kekuatan’ keluarga
Bali dalam masa depan mereka.

Ramuan rempah2 Bali sungguh wanginya
membuat aku segar. Dan teh nya sesuai dengan kesegaran di terik panas
siang di Bali. Teh Beras Merah disajikan hangat2 dengan campuran madu
serta jahe. Walaupun tidak dingin, kesegarannya terasa di tubuh. Tetapi
teh Rosella disajikan dingin lengkap dengan es nya. Sehingga aku sampai
minum 2 gelas Teh Rosella dan 2 cangkir Teh Beras Merah. Hmmmmmm,
segarnya ….


Teh Rosella dan Teh Beras Merah yang segar sekali …….
Setelah itu tinjauan cara produksinya,
tetapi karena aku pakai kursi roda, aku hanya duduk diam di luar karena
tempatnya banyak undak2an. Aku hanya ngobrol dengan manajemen Bali Tangi
serta beberapa delegasi yang tidak ikut ke dalam untuk tinjauan.
Kami menuju ke Tanah Lot untuk makan
siang sebelum mencari obyek foto2 di Taman Tanah Lot. Tanah Lot
mempunyai arti ‘Land Sea’ dalam bahasa Bali. Lokasinya ada di Tabanan
sekitar 20 kilometer dari Denpasar. Tidak jauh, tetapi sekarang Bali
juga sangat padat dengan wisatawan2, sehingga untuk ke Tanah Lot bisa
mencapai 1 atau 2 jam!


Tanah Lot dan Pura, yang cantik dan menawan …..
Di Tanah Lot terdapat Pura yang berada
di ‘pulau’ kecil, dengan latar belakang sangat cantik! Jika musim surut,
kita bisa menyeberangi Ppura tersebu tetapi jika air pasang, kita hanya
bisa melihat dari jauh untuk berfoto2 berlatar belakang Pura.
Dari parkiran ke Pura itu cukup jauh,
sehingga aku benar2 harus berada di atas kursi roda. Dengan di dorong
oleh Valentino atau bergantian dengan Bu Wayan Suci, tour guide kami,
kami bisa sedikit ngobrol dengan Linda Denny serta Marie Johnson. Dan
kamipun makan siang bersama di Restauran Dewi-Sinta, denga menu makanan
khas Bali.

Sambil makan siang bersama, kami
banyak berdiskusi tentang APEC Women 2013 ini, berhubungan dengan
kegiatan kami masing2 dan tentang pemberdayaan perempuan dan
perlindungan anak2 tentang ICT di Indonesia …..
Makan siang pun kami lakukan sambil
berdiskusi tentang acara APEC Women ini. Kami masing2 bercerita tentang
kegiatan kami lebih dalam ditambah keinginan2 kami untuk bisa
memberdayakan perempuan di negara masing2 dari kami. Karena Linda dan
Marie berasal dari negara maju, mungkin mereka belum mengerti keadaan
perempuan2 Indonesia di desa2. Dan aku menceritakan tentang perempuan2
desa yang jangankan mengerti internet, bahkan mereka masih banyak yang
buta huruf untuk baca dan tulis!
Dan ternyata tidak gampang untukku untuk
menerangkan dalam bahasa Inggris, apa yang kami lakukan dengan terbuka
tetapi mereka mulai mengerti ketika aku perlihatkan foto2 kegiatan
IDKITA tentang kegiatan kami di Purwokerto! Dan mereka geleng2
kepala,sedikit mengerti, mengapa kami agak ‘illfeel’ waktu acara Session
2 tentang ICT, dimana para panelis hanya bicara tentang perempuan2 maju
yang memakai internet untuk bisnis dan kebutuhannya, bukan perempuan2
desa yang masih belum mengenal teknologi ……
Selesai makan, kami mulai berjalan
terpisah. Aku harus tau diri karena mereka adalah delegasi asing yang
belum pernah ke Bali, dan mereka sehat. Sehingga aku mengerti ketika
mereka pamit untuk berjala cepat2, berfoto atau memfoto ( mereka membawa
kamera besar ), padahal aku harus duduk dan didorong di atas kursi
roda. Ya, aku hanya berjalan2 di tamannya, tidak menyeberang ke pulau
dengan Puranya …..


Aku dan Linda Denny serta aku dengan latar belakang Tanah Lot ( narsis sedikit ah … )
Cerita tentang Tanah Lot akan aku
tuliskan di artikel2 tersendiri. Setelah itu sekitar jam 17.00 kami
berangkat pulang ke Nusa Dua, dan setelah sampai di masing2 hotel, kami
berpisah untuk pastinya akan bertemu kembali dengan kegiatan2 bersama
selepas APEC Women 2013 ini.
#keep in touch, sista ….. masing2 sudah mempunyai kartu nama untuk saling berhubungan.
Semoga, kegiatan ini berguna bagi
perempuan2 khususnya Indonesia, dan semoga undangan Ibu Linda Gumelar
lewat IDKITA di kegiatan internasional ini, bisa bermnfaat bagi
Indonesia, khususnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak
Indonesia …..


Selasa, 10 September 2013
Selasa, 10 September 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti

Beberapa delegasi : Amerika, Brunei,
Australia, Malaysia, Russia, Filipina, dan aku Indomesia serta Bapak I
Ketut Murtika ( suami Ibu Dia Songket ) serta tour guide dari Mulia
Hotel
Sebelumnya :
Hari kedua di APEC Women 2013 di Bali lebih santai. Sebenarnya ada sesi khusus untuk Menteri2 di ‘APEC Join Ministrial Meeting on SME and Women’ dan ‘Policy Partnership on Women and the Economy’.
Tetapi sepertinya kami tidak bisa masuk sehingga kami ikut untuk
mengunjungi daerah2 dimana perempuan Bali berjuang untuk penghidupannya
dan mereka berhasil.
Delegasi dari 36 negara, dibagi dalam 4 tim, sekitar 300-an orang. Dari tim pertama ke ‘Ceramic and Fan Industries’, tim kedua ke ‘Silver and Trandisional Weaving’, tim ketiga bertema ‘Volunteering Program to Empower Coastal Women at Badung’ dan tim keempat ‘Sababay Authentic Winery’. Kesemuanya adalah dipimpin perempuan Bali. Aku memilih ke produksi perak dan tenun Bali.
Sekitar jam 9.00 kami brangkat menuju UC
Jewellery, tempat produksi perak. Walaupun Bali tidak mempunyai tambang
perak, Bali memproduksi perhiasan perak dengan desain2 khas Bali.
Sebearnya, aku sudah puas dengan kerajinan perak Kota Gede di
Yogyakarta, tetapi memang desain Bali tidak sama dengan desain
Yogyakarta. Masing2 mempunyai ciri khasnya. Lihat tulisanku Proses Pembuatan Perak Bakar di Kota Gede Yogyakarta : Teknik Unik yang Luar Biasa!


‘Welcome APEC 2013 Delegates’ dan proses finishing di UC Silver, Bali.
Tempatnya di Batu Bulan, Gianyar. Aku
lebih memilih untuk melihat2 proses produksinya serta mencari ’sasaran
tembak’ untuk IDKITA, apapun itu. Mulai dari dalam bus tim kami, aku
berkenalan dengan delegasi dari Amerika, Linda Denny. Dia adalah seorang
President Non-Profit Organization Development, bertempat tinggal di
Arlington Virginia, USA.
Linda sangat tertarik ketika aku memberikan
konsep2 tentang IDKITA yang memang di selaraskan dengan tujuan APEC
Women 2013 ini. Bahwa IDKITA berusaha untuk sosialisasi dan pelayanan
tentang Internet Sehat dan Aman bagi anak2, remaja dan pemberdayaan
perempuan. Bisa dilihat di website mereka : http://ucsilverbali.com.
Tempat kedua adalah Rumah Songket dan
Endek Dian’s. Sebuah pengsaha perempuan Bali yang bercita2 untuk
membudayakan Songket dan Endek Bali ke dunia internasional. Dan
berhasil! Terletak di Klungkung, Ibu Dian sangat concern untuk
memberdayakan perempuan2 Bali dalam menenun Songket dan Endek dan
haasilnya dipasarkan lewat dunia off-line dan on-line. Mereka sering
ikut pameran2 dunia, serta dipasarkan di dunia internet. Bisa dilihat di
: http://diansongket.yolasite.com.
Cerita tentang songket2 produk Ibu Dian,
akan ada artikel tersendiri, segera. Tetapi disana aku belajar tentang
perempuan2 Bali ( atau semua perempuan2 Indonesia, justru yang hidup di
desa2 ) untuk terus berupaya dan berkarya bagi keluarganya. Di Dian
Songket ini, banyak perempuan2 desa Bali yang sudah tua ( justru
kebanyakan adalah perepuan2 tua yang masih mau berkarya ), meminta
benang, menenunnya, mendesainnya serta banyak ragam
me-memanajemen-kannya ( yang terakhir adalah perempuan2 muda ).


Aku asik bertanya jawab dengan
seorang perempuan Bali, Ibu Wayan tentang hidupnya sebagai penenun
Songket Bali. Aku sangat tertarik tentang dunia kerajinan Indonesia ……

Pemilihan warna yang pasti tidak sama dengan ibu2 yang lain. Tiap desain pasti berbeda! Dan itu yang membuat ke-luar biasa-nya!
Valentino mengadakan penjajakan bagi
perempuan2 muda nya, untuk ikut serta dalam pemilihan calon Duta Insan,
kolaborasi bersama Kominfo. Tyas, namanya. Seorang gadis Bali saudara
dari Ibu Dian yang membantu Bu Dian di Dian Songket. Dia ingin belajar
menulis dan kami akan membantunya untuk bisa menulis, seperti yang aku
lakukan di banyak anak2 dari Purwokerto dan Yogyakarta ( lihat tulisanku
Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden ).

Mba Tyas yang sangat berminat untuk belajar menulis dan mempostingnya di Kompasiana.
Ketika kami beristirahat di Rudana
Museum, kami sempat berdiskusi lumayan banyak tentang konsep2 IDKITA,
diselingi makan sambil bercerita masing2 dari kami. Tentang kegiatan
aku, Valentino serta Linda Denny. Penjajakan, dan kami siap selalu ‘keep
contact’ via email atau apaun, dan ketika November 2013 ini Linda akan
ke Jakarta, kemungkinan besar kami akan bisa bekerjasama untuk pelayanan
bagi anak2 dan pemperdayaan perempua Indonesia. Dan kami sepakat untuk
itu. Linda sudah mulai membaca dengan detal dari handbook IDKITA yang
aku berikan kepadanya.

Aku dengan Linda Denny dari Amerika, yang concern kepada pemberdayaan perempuan.
Rudana Museum menjadi saksi dengan
adanya ‘kesepakatan’ bersama antara kami IDKITA dan Linda Denny bahwa
kita semua harus serius untuk pelayanan bagi anak2 dan perempuan,
apalagi kami sama2 berjuang dalam tema ‘ICT for Women’.
Museum Rudana sendiri berada di
Peliatan, Gianyar, dibangun oleh Nyoman Rudana. Dan museum ini mempunyai
banyak oleksi lukisan2 kelas dunia dan sering dikunjungi oleh pembesar2
negara dunia. Cerita tentang musum ini akan aku tulisanku di artikel
selanjutnya.
Tetapi, jelas bahwa Museum Rudana dengan arsitektur dan
tamannya yang khas Bali, menjadikan 2 negara ( IDKITA dari Indoneisa
dengan Linda Denny dari Amerika ) bertaut dalam rencana pelayanan untuk
pemberdayaan perempuan, yang akan menjadikan anak2 mereka lebih
terkontrol dalam dunia ICT.


Museum Rudana yang cantik serta pengalungan selendang dari keluarga Rudana
Setelah dari istirahat di Museum Rudana
sambil makan siang, perjalanan kami lanjutkan perjalanan ke Pura Ubud.
Tidak lama karena memang sedang tidak boleh ,asuk kesana, sehingga kami
hanya berfoto2 di luarnya. Tetapi walau hanya sebentar, kami sempat
berbincang2 dengan Irina Akimushkina, seorang warga Russia sebagai
President sebuah organisasi di Russia dengan tema ‘Gender Spesialist’.
Aku berikan konsep2 IDKITA tentang pemberdayaan perempuan untuk anak2,
dan terlihat dia sangat tertarik!
Irina mengajakku duduk di seberang Pura
Ubud, sedikit bicara, dan akhirnya menyatukan kami ( Indonesia dan Russia
) untuk duduk bersama dalam pelayanan pemberdayaan perempuan Indonesia.
Dan dia terus memelukku, menggandengku, dan hatiku merasa sangat
berbahagia …..


Aku dan Irina dari Russia. Aku terlihat capek, tetapi hatiku bahagia mendapat banyak sahabat baru.
Aku tidak tahu, Tuhan mau membawaku dan
IDKITA kemana. Tetapi dengan undangan yang tiba2 saja membuat bulu
kudukku merinding untuk acara APEC Women 2013 di Bali saja, kami merasa
tersanjung.
Dan kami tidak akan menyia2kan waktu dan kesempatan yang
TUHAN berikan kepada kami. Kami berusaha untuk menyusun semuanya,
berusaha mendekati delegasi2 dunia, sampai Tuhan menyelesaikannya
sendiri, karena DIA lah yang akan membawa kami ke suatu tempat, untuk
pelayanan lewat IDKITA dalam Kemuliaan NYA …..
Hari ketiga APEC Women 2013 di Bali, segera akau aku tuliskan …….


By Christie Damayanti
‘Opening Ceremony’ APEC Women 2013 di Bali, 6 September 2013

Aku sebelumnya hanya seorang arsitek
lapangan, yang selalu berkutat dengan gambar2, tukang2, meeting, juga
beton, besi, pasir dan sebagainya. Setiap hari aku hanya mengurus
bagaimana bangunan2 tersebut bisa berdiri tegar seiring dengan keinginan
si empunya. Aku juga hanya berkutat sebagai dosen yang ingin
mahasiswa2nya bisa membangun gedung secara fisik, tetapi juga membangun
mentalnya sehingga gedung tersebut bisa mempunyai ‘hati’. Dan aku waktu
itu hanya menginginkan yang terbaik untuk pekerjaan2ku sesuai dengan
kehendak si empunya proyek.
Tetapi seiring dengan sakitku, aku tidak
atau belum mampu lagi untuk ambil bagian secara fisik membangun gedung2
megah. Tetapi, aku sungguh ingin terus bisa berkarya, sampai akhirnya
aku mengenal kompasiana dan membentuk komunitas IDKITA Kompasiana, yang
mensosialisasikan teknologi internet untuk pemberdayaan bagi anak2 dan
perempuan khususnya Indonesia.

Proposal dan konsep2 IDKITA yang
diminati beberapa delegasi di APEC Women 2013, serta undangan dari 3
kementrian Indonesia dan 2 instasi yang berminat untuk kerjasama. Puji
Tuhan
Ketika Ibu Linda Gumelar, Menteri
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekarang ini mengundangku
untuk kegiatan APEC Women 2013, aku sangat mengapresiasi undangan
beliau, untuk datang ke acara tersebut di Bali. Lewat IDKITA, kami
semuanya, dan aku khususnya, menyiapkan seragkaian konsep2 serta
proposal2 kami, untuk kami bagikan dan ’sharing’ kepada anggota2 APEC
Women 2013 dalam 36 negara.

Aku dengan Ibu Linda Gumelar
Komandan kami, Valentino, menyiapan
semuanya karena waktunya sangat mepet, tidak sampai 1 minggu untuk
menyiapkan semuanya. Dan hari Kamis tanggal 5 September lalu, kami
berangkat ke Bali dalam rangka undang APEC Women 2013.
Sebelumnya :
Serangkaian acara kami hadiri. Pada hari
pertama adalah Opening Ceremony APEC Women 2013 di Hotel Mulia Nusa
Dua, Bali. Dari jam 9.00 sampai jam 12.00 lebih beberapa delegasi APEC
ini membawakan konsep2 mereka di banyak bidang. Dibuka oleh Ibu Linda Gumelar, lalu kata2 sambutan dari delegasi Chair Russia dan Chair China. Dilanjutkan oleh Bapak Sjarifudin Hasan, Menteri Koperai dan UKM. Tetapi Bapak Menteri Hatta Rajasa berhalangan hadir, sebagai Keynote Speech.



Kata sambutan dan pidato oleh Bu Linda Gumelar, Chair Russia dan dari Amerika.
Setelah itu, ada beberapa pidato dari beberapa delegasi. Yaitu Mr. Cher Wang, Co-founder abd Chairperson of HTC Smartphone Chinese Taipei. Juga Bapak Gatot Suwondo, Direktur Urama BNI ( ini yang berminat sekali untuk IDKITA datang kekantornya ).
Ada Fumiko Hayashi, Mayor of Yokohama Japan. Juga Melanne Vergeer, Former US Ambassador for Global Women’s Issues serta Ibu Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia. Dan Bapak Dahlan Iskan yang seharusnya datanguntuk pidato, tidak hadir …..




Suasana di Pembukaan APEC Women 2013 di Ballroom Hotel Mulia Nusa Dua, Bali
Sambil mendengarkan pidato2 itu, IDKITA
mulai ber-gerlya untuk mencari sasaran bagi kemungkinan2 kerjasama
dengan mereka. Tidak gampang karena aku susah untuk bergerak tetapi
Valentino pergerakannya sangat cepat untuk bisa mendapatkan target
sasaran. Aku hanya duduk dan melihat2 delegasi di sekelilingiku saja,
serta habya bisa berbicara dengan mereka dengan terbata2 karena aku
memang belum lancar untuk berbicara ……
Bermula dari delegasi Taiwan yang duduk di sebelah kami. Ms. Ethan Yi-Chen Hsiao (
Foundation for Women’s Right Propotion and Development ). Dia dari
Taiwan Timur dan dia bercerita tentang perempuan2 desa disana ternyata
sudah mampu untuk memberdayakan dirinya sendiri dalam kesempatan untuk
mempromosikan dan menjual barang2 kerajinannya tanpa melalui
pemerintahannya. Aku sedikit ‘iri’ dengan keberadaan perempuan2 dari
desa Taiwan Timur, secara Indonesia saangat jauh tertinggal. Jangankan
untuk memasarkan dagangannya secara online, membuka internet pun belum
bisa, bahkan banyak yang belum tahu apa itu internet!

Aku dengan Ms. Ethan Yi-Chen Hsiao dari Taiwan
Lihat tulisanku Buruh Petanipun Harus Bisa Internet!
Berikutnya adalah Mr. Hwang Jiun-Chen (
Assitent Director Departmen of International Organization - Ministry of
Foreign Affairs China ). Valentino yang berbicara, secara lebih ke
teknisnya. Ya, aku dan Valentino bekerjasama untuk ‘menjaring’ pasar
potensial untuk kai bisa berkarya bagi anak2 dan perempuan, lewat
konsep2 IDKITA.


Valentino menjabarkan konsep2 IDKITA kepada Mr. Hwang Jiun-Chen dari China.

Valentino dengan delegasi dari Vietnam yang juga peduli dengan pemberdayaan perempuan
Selepas istirahat makan siang Di Hotel
Mulia, kami memasuki Session ke-2, dengan tema ‘Women and ICT’ (
Infomation, Communication and Telecommunication ). Tiap Session dibagi 3
Panel dan kami terus mengikutinya sampai lebih dari jam 7 malam.
Masing2 Panel ada beberapa delegasi yang memperkenalkan konsep2 mereka.
Dengan di moderatori oleh Fifi Aeyda
Yahya dari Metro TV, 5 panelis di panel pertama pun saling berpidato
sebelum melempar tanya jawab kepada audience. Panel pertama dengan tema ‘ICT Tools to Empower Women’. Dengan
5 pembicara dari Jepang, Singapore dan USA. Tetapi sangat disayangkan,
ketika negara Indonesia dimana perempuan2 di desa masih dalam titik
susah untuk mempelajari internet, pembicaraan itu membuat aku sangat
merasa miris.
Ternyata ‘dunia’ mereka masih jauh dengan kita. Mereka
membicarakan tentang bagaimana perempuan dunia bisa melakukan dan
memompakan kekuatan mereka dalam teknologi ( internet ) dalam berkarya,
justru Indonesia masih sangat membutuhkan edukasi untuk perempuan2 desa
dalam belajar dari 0 dalam ber-teknologi!
Panel kedua lebih menarik lagi, sebenarnya. Temanya ‘ICT for Bussiness Marketing and Networking among Bussiness Women SME and Across Sectors’.
Tetapi, lebih disayangkan lagi. Bahwa perempuan2 desa di Indonesia
sebagai negara berkembang sebenarnya mampu untuk berkarya. Misalnya,
pekerjaan tangan seperti membatik, patung2 menenun, atau makanan2
tradisional meeka, tetapi banyak dari mereka tidak tahu bagaimana harus
menjualnya.
Mereka hanya menjual secara tradisional di pasar2, padahal
mereka bisa mempromosikan nya lewat internet dan bisa menjualnya ke luar
negeri TANPA dibantu pemerintah. Itulah yang membuat aku berkali2
menarik nafas melihat kenyataannya, bahwa Indonesia masing sangat jauh
dalam keikutsertaannya di komunitas dunia …..
Yang ketiga bertema ‘Srategies to Disseminate ICT Tools for Further Use among Women in AEC Economies’.
Jujur, aku sudah merasa diawang2. Maksudnya, panelis2 dari panel 1
sampai 3 ini berasal dari negara2 maju, dimana teknologi internet
merupakan KEBUTUHAN! Sementara di Indonesia, internet hanya sekedar
LIFESTYLE, bukan untuk perempuan2 desa, tetapi perempuan2 kota (
sebagian besar ) dan anak2 serta remaja. Internet hanya sebagai media
sosial, bukan untuk berkarya. Apalagi bagi banyak perempuan berata bahwa
internet adalah Facebook!
Rehat ketiga Session selesai sekitar jam
18.00 lebih. Para delegasi pun pergi untuk datang kembali mengikuti
makan malam bersama dari jam 19.00 sampai jam 21.30. Hari pertama ini,
kami cukup puas dengan hasil IDKITA membagikan konsep2 dan proposal2
kami. Yang kami dapatkan adalah undangan dari 3 orang menteri Indonesia
untuk audiensi karena mereka tertarik dengan konsep2 kami. Lalu juga
dengan Direktur Utama sebuah bank nasional Indonesia.
Tuhan memang luar biasa! Bermula dari
hanya sekedar menulisdi Kompasiana, sampai membentuk sebuah komunitas
ber-tema-kan ‘Internet Sehat dan Aman’, sampai Tuhan mengijinkan kami
untuk berkarya lewat IDKITA, kesekolah2 dan banyak komunutas d seluruh
Indonesia, dan Tuhan mempercayakan kami untuk lebih meluaskan pelayanan
kami dalam dunia internasional lewat APEC Women 2013 di Bali ini.
Terima kasih, Tuhan! Hari kedua APEC ini IDKITA terus ‘bersinar’, tunggu artikelku berikutnya ……


Langganan:
Postingan (Atom)