Artikel Terakhir
Tampilkan postingan dengan label regional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label regional. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Mei 2014

IDKITA Kompasiana dalam ‘Kowani Fair dan Iwapi Expo 2014′

Senin, 12 Mei 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti


IDKITA Kompasiana bekerjasama dengan Indosat dan KOWANI dalam “KOWANI Fair dan IWAPI Expo 2014″ di SME Smesco - tanggal 8 sampai 11 Mei 2014.

IDKITA Kompasiana terus berkibar. Bukan. Bukan aku membanggakan diri lewat komunitas kami, tetapi ketika kami berusaha terus untuk melindungi anak2 dan remaja Indonesia lewat teknologi, Tuhan memberikan terus peluang2 besar kepada kami untuk melayani. Ya, semua kegiatan IDKITA ini benar2 untuk melayani, dari hati kami yang paling dalam.

Dari 3 kementerian Indonesia, IDKITA bergerak lebih jauh lagi, dengan menggandeng beberapa instansi swasta untuk berkolaborasi dan bekerjasama dalam nama ‘pelayanan bagi Tuhan’. Salah satunya adalah dengan Indosat dan Kowani dengan Ketua Umum, Ibu Dewi Motik yang membawahi lebih dari 100.000 organisasi wanita di seluruh Indonesia …..

Ibu Dewi Motik memang benar2 perempuan yang luar biasa. Kepeduliannya kepada Indonesia, khususnya kaum perempuan dan anak2, membuat kami selalu siap untuk bekerjasama dengan beliau, setelah MOU yang ditandatangi oleh IDKITA dan Kowani. Dan kegiatan kamipun sudah beberapa belas dari sejak Oktober sampai sekarang ini.

***

Sebelumnya :








Berawal dari ketika Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, yang mengundang IDKITA untuk bersama membicarakan masalah perempuan Indonesia dalam teknologi lewat APEC 2013 lalu, kami datang membawa konsep dan beberapa solusi untuk perempuan Indonesia bisa memanfaatkan teknologi. Yang kesemuanya untuk anak2 Indonesia, karena perempuan adalah identik dengan anak2 (dibawah umur). Beberapa diskusi dilakukan kami dengan beberapa negara, terutama dari Amerika, Australia, Rusia serta Taiwan.

Lalu ketika perempuan2 hebat Indonesia, salah satunya bu Dewi Motik (Ketua Umum Kowani) kesana, beliau langsing mengajak IDKITA bekerjasama untuk memerangi ‘kebodohan’ dan ke-gaptek-an perempuan Indonesia untuk menjaga anak2 mereka. Sehingga, sejak bulan Oktober 2013 kami menandatangani MOU untuk bekerja sama. Dan seketika itu juga, kegiatan demi kegiatan kami adakan.

Lihat tulisanku :





2 event besar awal tahun 2014 ini, IDKITA dan KOWANI adakan, dan beberapa event lanjutannya sampai tahun ini selesai. Yang sudah selesai yaitu ‘ICT for Disabled’, bekerjasama dengan Indosat serta IDCC (Indonesia Disabled Care Community). 4 orang nara sumber (aku, Habibie Afsyah, Dimas dan Riqo) memberikan pandangan2 pada masyarakat bahwa kauk disabled pun bisa untuk memanfaatkan teknologi, bahkan lebih bagi dari orang2 sehat. Coba baca link diatas.

Lalu minggu lalu, KOWANI mengadakan pameran nasional selama 5 hari bertajuk ‘KOWANI Fair dan IWAPI Expo’ mulai tanggal 8 - 11 Mei 2014 di SME Smesco Pancoran, jalan Gatot Subroto Jakarta. Dan IDKITA diminta untuk mengatur jadwal seminarnya. Dari 5 hari expo, 2 hari IDKITA berbicara di depan perempuan Indonesia, khususnya ibu2, yang berdatangan dari seluruh Indonesia, karena KOWANI membawahi lebih dari 80.000 organisasi perempuan di seluruh Indonesia.

Bu Dewi Motik, Ketua Umum Kowani

Di hari ke-2, tanggal 9 Mei 2014, aku dan mba Novita Tandry, psikolog dan pakar pendidikan anak, owner dari 40 cabang Tumblers Tot (sekolah bayi), dengagn Valentino sebagai moderatornya, berbicara selama sekitar 1,5 jam dalam tema : “Peran TIK dalam Pemberdayaan Perempuan Indonesia”.

Valentino sebagai moderator, selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua. Latar belakang kegiatanku di ‘KATA KITA’ Kompas TV sebagai hasil aku memanfaatkan ICT untuk kegiatan2ku …..

Mba Novita Tandry dan aku sebagai nara sumber

Bu Dewi Motik memang sangat menghargai kegiatan pelayanan kami dan beliau terlihat sangat sayang pada kami dan selalu mendukung kami. Ini disampaikannya pada pidato yang mengawali konsep2 berpikir kami.

Kursi audience hampir penuh sekitar 200 orang dan mereka menyimak apa yang kami katakan. Terutama ketika Valentino mengupas data dan fakta tentang ’sex predator’ dan pedofilia dari dunia maya berlanjut ke dunia  nyata! Bahwa kenyataan ini sudah kami (IDKITA) katakan dari mulai 2 tahun lalu, bahkan sejak belasan tahun lalu ketika Valentino masuk ke duniapelayanan tentang anak2 dalam teknologi. Dan Terbukti dengan kenyataan2 yang sekarang ini sedang marak, dimana orang2 mulai berani untuk mengungkap fakta2 yang membuat miris …..

Kursi hampir penuh …..

Audience sangat beragam. Dari orang tua dan mahasiswa2 yang mulai terbuka tentang masa depannya, yang nantinya juga sebagai calon orang tua. Dan dengan berapi2, kami terus mengupas fakta2, kenyataan serta solusi2 khusus dari IDKITA! Dan setelah itu, mereka banyak bertanya serta mendaftar untuk bisa IDKITA datang ke tempat2 mereka untuk sosialisasi dan workshop untuk ‘Parenting Control’.

Hari ke-5 atau hari terakhir 11 Mei 2014, giliran Valentino yang me-moderator-i Habibie dan ibunya, Ibu Endah Setyati untuk berbicara dalam tema “Peluang dan Tantangan Bisnis Online”.

Habibie Afsyah dan Bu Endang ibunya, serta Valentino sebagai moderator

Habibie dengan ibunya memang selalu member dampak yang positif dan inspiratif bagi audiece. Apalagi ketika itu merupakan ‘dunia perempuan’ yang identik dengan pemberdayaannya lewat dunia online. Banyak orang2 yang ikut serta dalam KOWANI Fair dan IWAPI Expo ini merupakan perempuan2 baik senior maupun perempuan muda yang berkarya lewat barang2 kerajinan dan dijual online, sehingga mereka cukup tergerak untuk mengikuti beberapa cara yang Habibie lakukan untuk usahanya.

***

2 hari kami berbicara didepan perempuan Indonesia secara nasional dan 5 hari berkumpul di lingkungan KOWANI dan IWAPI, membuat kami lebih sadar lagi bahwa IDKITA tetap bisa melakukan sesuatu untuk masa depan bangsa. Bahwa anak2 dan remaja merupakan asset orang tua dan bangsa. Jika mereka tidak tersentuh dalam pendidikan dan pengawasan, baik dunia nyata ataupun dunia maya, maka bangsa ini akan semakin terpuruk. Dan ‘generasi2 yang hilang’ itupun  bertambah lagi …..


IDKITA masih terus dibutuhkan. Kami memang mengawalinya dengan baik dan kami ingin terus melakukannya dengan lebih baik lagi. Walaupun kami hanya kecil dan tidak terlihat dari manapun, tetapi kami akan terus menjalankan sesuai dengan yang Tuhan mau kami melakukannya …..

Untuk kegiatan2 selanjutnya, tetap dan terus dilakukan untuk datang ke sekolah2 adatu ke komunitas2 di sekeliling kami. Dan untuk event2 besar selanjutnya ada beberapa yang sudap siap dilakukan :

1. Tanggal 7 Juni 2014 :

“ICT for Disabled” secara nasional, bekerjasama dengan Kominfo, KOWANI, IDCC dan Indosat
Bertempat di Auditorium Indosat lantai 4, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta

2. Tanggal 12 Juni 2014 :

“Perangi Narkoba di Era Digital” dalam rangka Hari Anti Narkoba Nasional, bekerjasama denganIndosat, GRAN (Gerakan Anti Narkoba) dan BNN.

Bertempat di Auditorium Indosat lantai 4, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta

Tidak ada kata2 yang bisa kami katakan selain terus mengucap syukur dengan semua yang Tuhan berikan pada kami. Sebuah komunitas yang (semoga) bisa terus berguna bagi masa depan bangsa, lewat teknologi untuk anak2 dan remaja serta pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak 
Indonesia ……

Salam IDKITA Kompasiana, Tuhan selalu memberkati!

 
Link tentang kegiatan IDKita Kompasiana
 
Live Srteaming : ‘ICT for Disabled’
 
Undangan Inspiratif untuk Kompasianers
 
Ayo, Indonesia! Mandirilah dalam Mengatasi Pernyalahgunaan Internet!
 
Alangkah ‘Aman’nya jika Orang Tua Dapat Mengontrol Anaknya di Dunia Maya …
 
‘Parenting Control’ Bukan untuk Mengawasi Suami, Ya!
 
‘Duta Insan’ 2013 : Remaja [IDKITA] Calon Kebanggaan Bangsa
 
Kita Tidak Akan Pernah Berhenti: Sebuah Komitmen dengan Tuhan …..
 
Test Online Calon ‘Duta Internet Sehat dan Aman’ 2013
 
‘Bapak Gatot M.Suwondo CEO BNI 46′ : Siap Mendukung Program-Program IDKITA Kompasiana!
 
Griya Yatim dan Dhuafa Menjalin Kerjasama Dengan IDKITA Membangun ‘100 Desa Internet’ di seluruh Indonesia

 
Bukan Sekedar ‘Kampung’ Biasa, apalagi Bersama IDKita dengan Griya Yatim dan Dhuafa
 
Akun Soraya Haque itu Palsu!
 
Tetapi Akun Soraya Haque di Kompasiana, itu Asli Lho …..
 
[ IDKita Kompasiana ] Cerita di Kampus Atmajaya dan Kampus Gajah Mada
 
[ IDKita Kompasiana ] Mengajak STIE YKPN Yogyakarta untuk Berbagi Demi Bangsa
 
[ IDKita Kompasiana ] Berbagi dengan Remaja SMA Bopkri-1 Yogyakarta
 
Kita Akan Mengguncang Yogyakarta! Be There!!!
 
‘IDKita Kompasiana’ di Mataku : Refleksi 1 Tahun
 
Papua, IDKita Kompasiana is Coming …..
 
IDKita Kompasiana dan Kementerian Kominfo Akan Datang ke Tempat Anda …
 
Dunia Maya pun Juga Ada di ‘Hp Jadul’…
 
Indonesia Akan Mendengar Mereka
 
‘Gerakan Guru Menulis’ di Kompasiana
 
Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden
 
Buruh Petani pun Harus Bisa Internet! Sasaran Orang Tua Siswa SMPN 1 Sumbang - Purwokerto
 
Pengembangan Internet Sehat dan Aman di SMPN 1 Baturaden, Purwokerto
 
Selamat Datang di Purwokerto, Salam dari IDKita Kompasiana …..
 
Mereka Berselancar di Dunia Maya di Warnet, Sementara Orang Tua Mereka adalah Buruh Tani …..
 
Dialog Bersama Remaja SMP Penabur Kota Jababeka
 
Talk Show Kompas TV di Hari Ibu 2012 : Ibu Jaman Sekarang Harus ‘Melek’ Teknologi …..
 
IDKita Remaja Sudah Membuktikannya di Seminar “Peranan Ibu di Era Digital” …..
 
“Aduuuuhhhh, Aku Stresssssss …..” : Kesibukan Menjelang Hari ‘H’
 
“Bukan Ortu Gaptek” : Buku Pertama IDKita Kompasiana
 
Radio DFM 103.4 FM menggandeng IDKita Kompasiana

 
Ternyata Mereka Hanya Ingin Pengertian dan Keterbukaan
 
IDKita Kompasiana dan 2 Kementerian : Persiapan Seminar Hari Ibu Nasional 2012
 
Kompasianival 2012: Remaja-Remaja IDKita yang Luar Biasa!
 
Seminar ‘Game Online’ - Kominfo : Ketika Kreatifitas Anak dan Remaja Berseberangan dengan Dampak Negatifnya
 
‘Parenting Control’ : Workshop Perdana IDKita Kompasiana
 
IDKita Kompasiana Akan Berkolaborasi dengan 2 Kementerian dalam Hari Ibu 2012
 
Mbah Google versus ‘Mading’
 
Sudah Berapa Jauhkah IDKita Kompasiana Berkembang?

 
Kolaborasi IDKita Kompasiana dengan Kominfo dalam Membina Generasi Muda di SMK Kesdam Jaya

 
‘The Next Action’ dengan ibu Mariam F.Barata, Direktur Pemberdayaan Telematika Kominfo

 
Berdialog dengan ‘Ibu Linda Amalia Sari Gumelar’, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI

 
Ketika Orang Tua Baru Mengerti, Bahwa Anak-Anak Mereka Berada ‘Jauh’ di Depan Mereka …..

 
Remaja Tidak Menyadari Bahwa Bahaya ‘Mengancam’ Mereka !

 
Respon Antusias Orang Tua tentang ‘Internet Sehat’ di GKJ Eben Haezer

 
Diskusi dengan Dirjen Telematika Kominfo, Bapak Ashwin Sasongko
 
ID Kita Kompasiana - Kominfo : Diskusi Program ‘Internet Sehat’

 
ID Kita Kompasiana: Membangun ‘Mimpi’
 
ID Kita Kompasiana - MOU: Tanggung Jawab Kami untuk Generasi Muda Indonesia
 
ID Kita Kompasiana : Bermula dari ‘Keluarga Cengengesan’ …..

Senin, 10 Februari 2014

‘Katulampa?’ Hiiii… Bergidik, Takut Banjir…

Senin, 10 Februari 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

1392026887563325889
www.tempo.co
Sebuah bendungan yang terletak di Bogor, dibangun jaman kolonial Belanda, dibangun tahun 1911, adalah hal yang sangat penting berkaitan dengan banjir Jakarta. Bendung Katulampa, sering digunakan untuk acuan sebagai pos pemantau banjir. Mungki di jaman sekarang ini, waktu banjir Jakarta masih melanda, mendengar KATULAMPA saja, kita sudah mengkeret karena takut banjir datng lagi, kiriman dari Bogor …..

Di musim hujan seperti sekarang ini, penjaga Bedung Katulampa harus siap 24 jam dan akan memantau jika menunjuan ketinggian air dari Siaga 4, Siaga 3, Siaga 2 apalagi Siaga 1.. Pemberitahuannya pastilah tiap beberapa menit sekali untuk bisa segera diumumkan bahwa air dari sana akan ‘datang’ ke Jakarta, sesuai dengan keadaannya agar Jakarta bersiap2.

Menurut referensi yang aku baca, Bendung Katulampa dibangun dengan material tidak semestinya jaman itu, dikatakannya dengan ‘material sementara’. Sehingga, jika diterjang banjir, bendungan mengalami kerusakan. Entah bagaimana sekarang, apakah selalu dalam perawatan yang apik, karena bendungan ini merupakan ‘titik bencana’ tentang banjir Jakarta …

Sejak jaman kolonial Belanda, Bendung Katulampa selalu dirawat dan memakan dana cukup besar. Tetapi setelah Indonesia merdeka, kerusakan Bendung Katulampa setiap tahun menunjukan semakin parah, karena PENGGUNDULAN HUTAN. 

Pastilah akan berpengaruh terdapat daya tahan bendungan ini. Dan penggundulan hutan merupakan yang tidak bisa ditolerir lagi karena ini adalah siklus alam. Jika hutan habis ditebang, air akan terus mengalir tanpa berhenti. Apalagi lokasi hutan2 yang ditebang dibangun perumahan atau hotel da villa, sehingga tanahnya berubah menjadi beton, dan air semakin cepat ke tempat yang lebih rendah, yaitu JAKARTA ……

Faktor geografis merupakan siklus alam. Memang tentang geogarfis bisa juga berubah tanpa campur tangan manusia. Tetapi perubahan georafis tampa campur tangan manusia adalah SANGAT LAMBAT. Tetapi dengan campur tangan manusia dan penggunaan teknologi secara besar2an semakin mempercepat perubahan siklus alam. Semakin bannyak manusia yang campur tangan, semakin mereka membuat alam ‘merana’ dan justru akan membuat alam ‘marah’ …..

Penyebaran teknologi, pembangunan dengan material2 non-alam, akan mempercepat siklus alam berubah. Terutam yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan, dari hutan perawan, menjadi hunian bahkan industri! Perubahan fungsi lahan mengubah siklus alam. Pola alam berubah sama sekali. Dari sebuh hutan perawan, menjadi pola hunia dan industri, sangat berbeda. Semuanya akan mempengaruhi pola aliran, pola energi ataupun material2 yang ada akan berubah. Apalagi ini sejak jaman kolonial Belanda, lebih dari 300 tahun lalu!

Permukaan air ( banji ) pun berubah. Jika Bendung Katulampa yang notebene adalah hasil campur tangan manusia dengan teknologi tinggi, tetapi tidak dibarengi dengan penggundulan hutan, mungkin hasil nya pada jaman sekarang ini, tidak akan sedemikian amburadulnya, terutama berhubungan dengan Jakarta. 

Tetapi yang jelas, penggundulan hutan sampai sekarang pun masih saja dilakukan, entah apa penyebabnya! Padahal bukti tentang siklus alam yang ‘melenceng’ sudah di gembar-gemborkan. Dan ketidak-pedulian dan keserakahan serta keegoisa manusia adalah ujung tombak bencana banjir Jakarta ……

Itu baru ‘urusan’ Bendung Katulampa yang berada di kota2 pendukung Jakarta. Belum di Jakarta nya sendiri.

Pembangunan di Jakarta sendiri benar2 merubah tatanan dan siklus alam dengan sangat cepat, karena keegoisan warganya. Ekosistem secara alamiah, pun berubah, termasuk aliran2 air. Ekosistem alamiah berubah menjadi ekosistem buatan, yang hasilnya bertambah buruk. Ya, Tuhan sudah menciptakan alam untuk kita jaga, BUKAN untuk dirusak! 

Ciptaan Tuhan memang benar2 sempurna dan TIDAK AKAN ADA YANG BISA SESEMPURNA TUHAN! Artinya, semua yang diciptakan Tuhan akan ‘marah’, ketika manusia mengubahnya! 

Sehingga penggundulan hutan, perubahan fungsi lahan ataupun perubahan ekosistem menjadi buatan, pastinya akan mempengaruhi alirn air. Dan yang terburuk adalah, air akan terus mengalir dari daerah tinggi ke daerah rendah, sehingga dari Puncak - Bogor terus mengalir ke Jakarta menuju laut. Tetapi parahnya, reklamasi laut utara Jakarta besar2an digalakkan, sehingga ai ‘berhenti’ di sungai dan cekungan2 di Jakarta!

Lama kelamaan,Jakarta bebannya bertambah, terjadi penurunan dataran akarta sehingga air laut ‘masuk’ ke Jakarta. Belum lagi air pasang laut utara Jakarta yang dikenal dengan sebutan ‘rob’ ……
***

Seringkali ahli2 di Jakarta berbicara tentang ini, tetapi keserakahan manusia warga Jakarta ternyata tidak peduli bahwa Jakarta akan semakin ‘tenggelam’.  Tidak peduli dengan apapun, dan sepertinya jika Jakarta tenggelampun mereka dengan santainya terbang ke luar negeri tanpa peduli dengan yang ada di Jakarta.

Aahh ….. semakin lama semakin melenceng. Terserahlah …..

Rabu, 11 September 2013

“Keep in Touch, Sista …..”

Rabu, 11 September 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti

13788784201578558389

Aku dan tour guide bu Wayan Suci, delegasi dari Amerika Linda Denny, dari Australia Marie Johnson, dari Brunei, Malaysia dan Filipina - Hari ke-3 APEC Women 2013 di Bali.

Sebelumnya :


Hari ketiga pada kegiatan APEC Women 2013 di Bali. Ada 3 tim untuk delegasi APEC. Yang pertama adalah delegasi para mentri untuk berdiskusi tentang perencanaan strategis tentang pemberdayaan perempuan. Juga issue2 tentang perempuan di dunia.

Tim kedua dan ketiga adalah delegasi2 non-minister. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat. Yang pertama, mengunjungi Art Market di Klungkung serta Pura Ubud. Yang kedua, mengunjung Art Market di Kuta, Spa Bali Tangi dan Tanah Lot. Aku dan Valentino memilih ke Kuta, Bali Tangi dan Tanah Lot. Begitu juga Linda Denny dari Amerika. Sayang, Irina dari Russia sudah terbang ke Moscow.

Pagi itu jam 9.00 kami siap berangkat menuju masing2 tempat. Aku ikut di bus nomor 2. Kami berkenalan dengan delegasi Australia yang terkagum2 ketika aku bercerita tentang pelayanan kami lewat IDKITA. Namanya Marie Johnson. Apalagi setelah aku berikan konsep dan proposal IDKITA kepadanya. Waktu itu kami belum masuk ke bus. 

Aku duduk di atas kursi roda sedangkan dia berdiri. Sambil aku terangkan dengan terbata2 karena bicaraku belum lancar, Marie membaca2 dokumen IDKITA dengan serius. Dia banyak bertanya dan mengangguk2 jika aku menjawab.

1378878467788295164
Aku dengan delegasi Australia, Marie Johnson

Mungkin dia tidak terlalu mengerti dengan cara lidahku yang kaku karena lumpuh. Tetapi sinar wajahnya ketika mendengar jawabanku, serta senyumnya yang ramah dan mengangguk2, membuat aku lega seraya berkata, bahwa dia mengerti apa yang IDKITA maksudkan tentang Internet Sehat dan Aman bagi pemberdayaan perempuan Indonesia untuk melindungi anak2 mereka …..

Tempat pertama, kami akan sedikit berbelanja di Art Market di Kuta. Tidak lama, hanya membeli sedikit oleh2 untuk keluarga kita. Distrik Kuta adalah salah satu daerah terpopuler di Bali sejak dulu. Semua jenis pariwisata untuk wisatawan asing ada disana. Mulai dari wisata seni, tradisional, laut, hotel, spa dan sebagainya sangat diminati oleh semua wisatawan dengan harga relatif terjangkau dibandingka di daerah Nusa Dua, yang memang khusus tempat ‘high class’, formal dan internasional. Detail Kuta sendiri akan aku tuliskan di artikel2 selanjutnya.

13788785311952391217
1378878596291509582
Wisatawan2 asing senang dengan kerajinan tangan Bali ……

Setelah itu kami menuju Spa Bali Tangi, di jalan Kebo Iwa Denpasar. Bia di buka http://www.balitangi.com dan http://www.rumahlulurbalitangi.com. Bali Tangi dipimpin oleh ibu Tangi, seorang perempuan Bali yang memproduksi rempah2 tradisional untuk perawatan tubuh. Mulai dari aroma terapi, sabun, shampoo sampai kopi luwak Bali, Teh Beras Merah serta teh Rosella.

Bali Tangi sendiri merupakan sebuah ‘rumah’ dengan konssep Tradisional Natural Holistic. Memproduksi ramuan2 herbal dari Bali khas Ibu Tangi. Produk2nya merupakan produk herbaltradisional untuk perawatan kulit dan tubuh, khususnya perempuan. Dan Bu Tangi sendiri sudah dikenal ke manca negara. Beliau selalu memberdayakan perempuan2 Bali untuk bisa memberi ‘kekuatan’ keluarga Bali dalam masa depan mereka.

13788787141218571410

Ramuan rempah2 Bali sungguh wanginya membuat aku segar. Dan teh nya sesuai dengan kesegaran di terik panas siang di Bali. Teh Beras Merah disajikan hangat2 dengan campuran madu serta jahe. Walaupun tidak dingin, kesegarannya terasa di tubuh. Tetapi teh Rosella disajikan dingin lengkap dengan es nya. Sehingga aku sampai minum 2 gelas Teh Rosella dan 2 cangkir Teh Beras Merah. Hmmmmmm, segarnya ….

13788787741382583229
13788788121334283631
Teh Rosella dan Teh Beras Merah yang segar sekali …….

Setelah itu tinjauan cara produksinya, tetapi karena aku pakai kursi roda, aku hanya duduk diam di luar karena tempatnya banyak undak2an. Aku hanya ngobrol dengan manajemen Bali Tangi serta beberapa delegasi yang tidak ikut ke dalam untuk tinjauan.

Kami menuju ke Tanah Lot untuk makan siang sebelum mencari obyek foto2 di Taman Tanah Lot. Tanah Lot mempunyai arti ‘Land Sea’ dalam bahasa Bali. Lokasinya ada di Tabanan sekitar 20 kilometer dari Denpasar. Tidak jauh, tetapi sekarang Bali juga sangat padat dengan wisatawan2, sehingga untuk ke Tanah Lot bisa mencapai 1 atau 2 jam!

1378878927716887203
13788791071337738996
Tanah Lot dan Pura, yang cantik dan menawan …..

Di Tanah Lot terdapat Pura yang berada di ‘pulau’ kecil, dengan latar belakang sangat cantik! Jika musim surut, kita bisa menyeberangi Ppura tersebu tetapi jika air pasang, kita hanya bisa melihat dari jauh untuk berfoto2 berlatar belakang Pura.

Dari parkiran ke Pura itu cukup jauh, sehingga aku benar2 harus berada di atas kursi roda. Dengan di dorong oleh Valentino atau bergantian dengan Bu Wayan Suci, tour guide kami, kami bisa sedikit ngobrol dengan Linda Denny serta Marie Johnson. Dan kamipun makan siang bersama di Restauran Dewi-Sinta, denga menu makanan khas Bali.

1378879250902774318

Sambil makan siang bersama, kami banyak berdiskusi tentang APEC Women 2013 ini, berhubungan dengan kegiatan kami masing2 dan tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak2 tentang ICT di Indonesia …..

Makan siang pun kami lakukan sambil berdiskusi tentang acara APEC Women ini. Kami masing2 bercerita tentang kegiatan kami lebih dalam ditambah keinginan2 kami untuk bisa memberdayakan perempuan di negara masing2 dari kami. Karena Linda dan Marie berasal dari negara maju, mungkin mereka belum mengerti keadaan perempuan2 Indonesia di desa2. Dan aku menceritakan tentang perempuan2 desa yang jangankan mengerti internet, bahkan mereka masih banyak yang 
buta huruf untuk baca dan tulis!

Dan ternyata tidak gampang untukku untuk menerangkan dalam bahasa Inggris, apa yang kami lakukan dengan terbuka tetapi mereka mulai mengerti ketika aku perlihatkan foto2 kegiatan IDKITA tentang kegiatan kami di Purwokerto! Dan mereka geleng2 kepala,sedikit mengerti, mengapa kami agak ‘illfeel’ waktu acara Session 2 tentang ICT, dimana para panelis hanya bicara tentang perempuan2 maju yang memakai internet untuk bisnis dan kebutuhannya, bukan perempuan2 desa yang masih belum mengenal teknologi ……

Selesai makan, kami mulai berjalan terpisah. Aku harus tau diri karena mereka adalah delegasi asing yang belum pernah ke Bali, dan mereka sehat. Sehingga aku mengerti ketika mereka pamit untuk berjala cepat2, berfoto atau memfoto ( mereka membawa kamera besar ), padahal aku harus duduk dan didorong di atas kursi roda. Ya, aku hanya berjalan2 di tamannya, tidak menyeberang ke pulau dengan Puranya …..

1378879411772935524
1378879544964963000
Aku dan Linda Denny serta aku dengan latar belakang Tanah Lot ( narsis sedikit ah … )

Cerita  tentang Tanah Lot akan aku tuliskan di artikel2 tersendiri. Setelah itu sekitar jam 17.00 kami berangkat pulang ke Nusa Dua, dan setelah sampai di masing2 hotel, kami berpisah untuk pastinya akan bertemu kembali dengan kegiatan2 bersama selepas APEC Women 2013 ini.

#keep in touch, sista ….. masing2 sudah mempunyai kartu nama untuk saling berhubungan.

Semoga, kegiatan ini berguna bagi perempuan2 khususnya Indonesia, dan semoga undangan Ibu Linda Gumelar lewat IDKITA di kegiatan internasional ini, bisa bermnfaat bagi Indonesia, khususnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Indonesia …..

13788796551831376229

Selasa, 10 September 2013

Aku Tidak Tahu, Kemana Tuhan Akan Membawa Kita …..

Selasa, 10 September 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti

1378802149465793789

Beberapa delegasi : Amerika, Brunei, Australia, Malaysia, Russia, Filipina, dan aku Indomesia serta Bapak I Ketut Murtika ( suami Ibu Dia Songket ) serta tour guide dari Mulia Hotel

Sebelumnya :


Hari kedua di APEC Women 2013 di Bali lebih santai. Sebenarnya ada sesi khusus untuk Menteri2 di ‘APEC Join Ministrial Meeting on SME and Women’ dan ‘Policy Partnership on Women and the Economy’. Tetapi sepertinya kami tidak bisa masuk sehingga kami ikut untuk mengunjungi daerah2 dimana perempuan Bali berjuang untuk penghidupannya dan mereka berhasil.

Delegasi dari 36 negara, dibagi dalam 4 tim, sekitar 300-an orang. Dari tim pertama ke ‘Ceramic and Fan Industries’, tim kedua ke ‘Silver and Trandisional Weaving’, tim ketiga bertema ‘Volunteering Program to Empower Coastal Women at Badung’ dan tim keempat ‘Sababay Authentic Winery’. Kesemuanya adalah dipimpin perempuan Bali. Aku memilih ke produksi perak dan tenun Bali.

Sekitar jam 9.00 kami brangkat menuju UC Jewellery, tempat produksi perak. Walaupun Bali tidak mempunyai tambang perak, Bali memproduksi  perhiasan perak dengan desain2 khas Bali. Sebearnya, aku sudah puas dengan kerajinan perak Kota Gede di Yogyakarta, tetapi memang desain Bali tidak sama dengan desain Yogyakarta. Masing2 mempunyai ciri khasnya. Lihat tulisanku Proses Pembuatan Perak Bakar di Kota Gede Yogyakarta : Teknik Unik yang Luar Biasa!

13788022441483751180
13788022941347722681
‘Welcome APEC 2013 Delegates’ dan proses finishing di UC Silver, Bali.

Tempatnya di Batu Bulan, Gianyar. Aku lebih memilih untuk melihat2 proses produksinya serta mencari ’sasaran tembak’ untuk IDKITA, apapun itu. Mulai dari dalam bus tim kami, aku berkenalan dengan delegasi dari Amerika, Linda Denny. Dia adalah seorang President Non-Profit Organization Development, bertempat tinggal di Arlington Virginia, USA. 

Linda sangat tertarik ketika aku memberikan konsep2 tentang IDKITA yang memang di selaraskan dengan tujuan APEC Women 2013 ini. Bahwa IDKITA berusaha untuk sosialisasi dan pelayanan tentang  Internet Sehat dan Aman bagi anak2, remaja dan pemberdayaan perempuan. Bisa dilihat di website mereka : http://ucsilverbali.com.

Tempat kedua adalah Rumah Songket dan Endek Dian’s. Sebuah pengsaha perempuan Bali yang bercita2 untuk membudayakan Songket dan Endek Bali ke dunia internasional. Dan berhasil! Terletak di Klungkung, Ibu Dian sangat concern untuk memberdayakan perempuan2 Bali dalam menenun Songket dan Endek dan haasilnya dipasarkan lewat dunia off-line dan on-line. Mereka sering ikut pameran2 dunia, serta dipasarkan di dunia internet. Bisa dilihat di : http://diansongket.yolasite.com.

Cerita tentang songket2 produk Ibu Dian, akan ada artikel tersendiri, segera. Tetapi disana aku belajar tentang perempuan2 Bali ( atau semua perempuan2 Indonesia, justru yang hidup di desa2 ) untuk terus berupaya dan berkarya bagi keluarganya. Di Dian Songket ini, banyak perempuan2 desa Bali yang sudah tua ( justru kebanyakan adalah perepuan2 tua yang masih mau berkarya ), meminta benang, menenunnya, mendesainnya serta banyak ragam me-memanajemen-kannya ( yang terakhir adalah perempuan2 muda ).

1378802384980690003
1378802439315792746

Aku asik bertanya jawab dengan seorang perempuan Bali, Ibu Wayan tentang hidupnya sebagai penenun Songket Bali. Aku sangat tertarik tentang dunia kerajinan Indonesia ……

13788024902031236733

Pemilihan warna yang pasti tidak sama dengan ibu2 yang lain. Tiap desain pasti berbeda! Dan itu yang membuat ke-luar biasa-nya!

Valentino mengadakan penjajakan bagi perempuan2 muda nya, untuk ikut serta dalam pemilihan calon Duta Insan, kolaborasi bersama Kominfo. Tyas, namanya. Seorang gadis Bali saudara dari Ibu Dian yang membantu Bu Dian di Dian Songket. Dia ingin belajar menulis dan kami akan membantunya untuk bisa menulis, seperti yang aku lakukan di banyak anak2 dari Purwokerto dan Yogyakarta ( lihat tulisanku Kreatifitas Menulis Siswi SMP di Baturaden ).

1378802571776326
Mba Tyas yang sangat berminat untuk belajar menulis dan mempostingnya di Kompasiana.

Ketika kami beristirahat di  Rudana Museum, kami sempat berdiskusi lumayan banyak tentang konsep2 IDKITA, diselingi makan sambil bercerita masing2 dari kami. Tentang kegiatan aku, Valentino serta Linda Denny. Penjajakan, dan kami siap selalu ‘keep contact’ via email atau apaun, dan ketika November 2013 ini Linda akan ke Jakarta, kemungkinan besar kami akan bisa bekerjasama untuk pelayanan bagi anak2 dan pemperdayaan perempua Indonesia. Dan kami sepakat untuk itu. Linda sudah mulai membaca dengan detal dari handbook IDKITA yang aku berikan kepadanya.

1378802630825869435
Aku dengan Linda Denny dari Amerika, yang concern kepada pemberdayaan perempuan.

Rudana Museum menjadi saksi dengan adanya ‘kesepakatan’ bersama antara kami IDKITA dan Linda Denny bahwa kita semua harus serius untuk pelayanan bagi anak2 dan perempuan, apalagi kami sama2 berjuang dalam tema ‘ICT for Women’.

Museum Rudana sendiri berada di Peliatan, Gianyar, dibangun oleh Nyoman Rudana. Dan museum ini mempunyai banyak oleksi lukisan2 kelas dunia dan sering dikunjungi oleh pembesar2 negara dunia. Cerita tentang musum ini akan aku tulisanku di artikel selanjutnya. 

Tetapi, jelas bahwa Museum Rudana dengan arsitektur dan tamannya yang khas Bali, menjadikan 2 negara ( IDKITA dari Indoneisa dengan Linda Denny dari Amerika ) bertaut dalam rencana pelayanan untuk pemberdayaan perempuan, yang akan menjadikan anak2 mereka lebih terkontrol dalam dunia ICT.

137880270839043544
1378802755465901536
Museum Rudana yang cantik serta pengalungan selendang dari keluarga Rudana

Setelah dari istirahat di Museum Rudana sambil makan siang, perjalanan kami lanjutkan perjalanan ke Pura Ubud. Tidak lama karena memang sedang tidak boleh ,asuk kesana, sehingga kami hanya berfoto2 di luarnya. Tetapi walau hanya sebentar, kami sempat berbincang2 dengan Irina Akimushkina, seorang warga Russia sebagai President sebuah organisasi di Russia dengan tema ‘Gender Spesialist’. Aku berikan konsep2 IDKITA tentang pemberdayaan perempuan untuk anak2, dan terlihat dia sangat tertarik!

Irina mengajakku duduk di seberang Pura Ubud, sedikit bicara, dan akhirnya menyatukan kami ( Indonesia dan Russia ) untuk duduk bersama dalam pelayanan pemberdayaan perempuan Indonesia. Dan dia terus memelukku, menggandengku, dan hatiku merasa sangat berbahagia …..

13788028251455102740
13788028821526951007

Aku dan Irina dari Russia. Aku terlihat capek, tetapi hatiku bahagia mendapat banyak sahabat baru.

Aku tidak tahu, Tuhan mau membawaku dan IDKITA kemana. Tetapi dengan undangan yang tiba2 saja membuat bulu kudukku merinding untuk  acara APEC Women 2013 di Bali saja, kami merasa tersanjung. 

Dan kami tidak akan menyia2kan waktu dan kesempatan yang TUHAN berikan kepada kami. Kami berusaha untuk menyusun semuanya, berusaha mendekati delegasi2 dunia, sampai Tuhan menyelesaikannya sendiri, karena DIA lah yang akan membawa kami ke suatu tempat, untuk pelayanan lewat IDKITA dalam Kemuliaan NYA …..

Hari ketiga APEC Women 2013 di Bali, segera akau aku tuliskan …….
13788029501136093593

Bermula Hanya Menulis di Blog, Berkarya lalu Meluaskan Jaringan di Dunia Internasional



By Christie Damayanti

1378792194844323123

Aku sebelumnya hanya seorang arsitek lapangan, yang selalu berkutat dengan gambar2, tukang2, meeting, juga beton, besi, pasir dan sebagainya. Setiap hari aku hanya mengurus bagaimana bangunan2 tersebut bisa berdiri tegar seiring dengan keinginan si empunya. Aku juga hanya berkutat sebagai dosen yang ingin mahasiswa2nya bisa membangun gedung secara fisik, tetapi juga membangun mentalnya sehingga gedung tersebut bisa mempunyai ‘hati’. Dan aku waktu itu hanya menginginkan yang terbaik untuk pekerjaan2ku sesuai dengan kehendak si empunya proyek.

Tetapi seiring dengan sakitku, aku tidak atau belum mampu lagi untuk ambil bagian secara fisik membangun gedung2 megah. Tetapi, aku sungguh ingin terus bisa berkarya, sampai akhirnya aku mengenal kompasiana dan membentuk komunitas IDKITA Kompasiana, yang mensosialisasikan teknologi internet untuk pemberdayaan bagi anak2 dan perempuan khususnya Indonesia.

13787924291035560195

Proposal dan konsep2 IDKITA yang diminati beberapa delegasi di APEC Women 2013, serta undangan dari 3 kementrian Indonesia dan 2 instasi yang berminat untuk kerjasama. Puji Tuhan

Ketika Ibu Linda Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekarang ini mengundangku untuk kegiatan APEC Women 2013, aku sangat mengapresiasi undangan beliau, untuk datang ke acara tersebut di Bali. Lewat IDKITA, kami semuanya, dan aku khususnya, menyiapkan seragkaian konsep2 serta proposal2 kami, untuk kami bagikan dan ’sharing’ kepada anggota2 APEC Women 2013 dalam 36 negara.

13787922491492788047
Aku dengan Ibu Linda Gumelar

Komandan kami, Valentino, menyiapan semuanya karena waktunya sangat mepet, tidak sampai 1 minggu untuk menyiapkan semuanya. Dan hari Kamis tanggal 5 September lalu, kami berangkat ke Bali dalam rangka undang APEC Women 2013.

Sebelumnya :

‘Opening Ceremony’ APEC Women 2013 di Bali, 6 September 2013

Serangkaian acara kami hadiri. Pada hari pertama adalah Opening Ceremony APEC Women 2013 di Hotel Mulia Nusa Dua, Bali. Dari jam 9.00 sampai jam 12.00 lebih beberapa delegasi APEC ini membawakan konsep2 mereka di banyak bidang. Dibuka oleh Ibu Linda Gumelar, lalu kata2 sambutan dari delegasi Chair Russia dan Chair China. Dilanjutkan oleh Bapak Sjarifudin Hasan, Menteri Koperai dan UKM. Tetapi Bapak Menteri Hatta Rajasa berhalangan hadir, sebagai Keynote Speech.

1378792484341203527
13787925291462430250
1378792581949526307

Kata sambutan dan pidato oleh Bu Linda Gumelar, Chair Russia dan dari Amerika.

Setelah itu, ada beberapa pidato dari beberapa delegasi. Yaitu Mr. Cher Wang, Co-founder abd Chairperson of HTC Smartphone Chinese Taipei. Juga Bapak Gatot Suwondo, Direktur Urama BNI ( ini yang berminat sekali untuk IDKITA  datang kekantornya ). 

Ada Fumiko Hayashi, Mayor of Yokohama Japan. Juga Melanne Vergeer, Former US Ambassador for Global Women’s Issues serta Ibu Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia. Dan Bapak Dahlan Iskan yang  seharusnya datanguntuk pidato, tidak hadir …..

13787926321525215999
1378792716265229220
1378792762546582442
13787928171528509968
Suasana di Pembukaan APEC Women 2013 di Ballroom Hotel Mulia Nusa Dua, Bali

Sambil mendengarkan pidato2 itu, IDKITA  mulai ber-gerlya untuk mencari sasaran bagi kemungkinan2 kerjasama dengan mereka. Tidak gampang karena aku susah untuk bergerak tetapi Valentino pergerakannya sangat cepat untuk bisa mendapatkan target sasaran. Aku hanya duduk dan melihat2 delegasi di sekelilingiku saja, serta habya bisa berbicara dengan mereka dengan terbata2 karena aku memang belum lancar untuk berbicara ……

Bermula dari delegasi Taiwan yang duduk di sebelah kami. Ms. Ethan Yi-Chen Hsiao ( Foundation for Women’s Right Propotion and Development ). Dia dari Taiwan Timur dan dia bercerita tentang perempuan2 desa disana ternyata sudah mampu untuk memberdayakan dirinya sendiri dalam kesempatan untuk mempromosikan dan menjual barang2 kerajinannya tanpa melalui pemerintahannya. Aku sedikit ‘iri’ dengan keberadaan perempuan2 dari desa Taiwan Timur, secara Indonesia saangat jauh tertinggal. Jangankan untuk memasarkan dagangannya secara online, membuka internet pun belum bisa, bahkan banyak yang belum tahu apa itu internet!

1378792868635423336
Aku dengan Ms. Ethan Yi-Chen Hsiao dari Taiwan

Berikutnya adalah Mr. Hwang Jiun-Chen ( Assitent Director Departmen of International Organization - Ministry of Foreign Affairs China ). Valentino yang berbicara, secara lebih ke teknisnya. Ya, aku dan Valentino bekerjasama untuk ‘menjaring’ pasar potensial untuk kai bisa berkarya bagi anak2 dan perempuan, lewat konsep2 IDKITA.

13787929161821516915
13787929691166313289

Valentino menjabarkan konsep2 IDKITA kepada Mr. Hwang Jiun-Chen dari China.

1378793012649907436

Valentino dengan delegasi dari Vietnam yang juga peduli dengan pemberdayaan perempuan

Selepas istirahat makan siang Di Hotel Mulia, kami memasuki Session ke-2, dengan tema ‘Women and ICT’ ( Infomation, Communication and Telecommunication ). Tiap Session dibagi 3 Panel dan kami terus mengikutinya sampai lebih dari jam 7 malam. Masing2 Panel ada beberapa delegasi yang memperkenalkan konsep2 mereka.

Dengan di moderatori oleh Fifi Aeyda Yahya dari Metro TV, 5 panelis di panel pertama pun saling berpidato sebelum melempar tanya jawab kepada audience. Panel pertama dengan tema ‘ICT  Tools to Empower Women’. Dengan 5 pembicara dari Jepang, Singapore dan USA. Tetapi sangat disayangkan, ketika negara Indonesia dimana perempuan2 di desa masih dalam titik susah untuk mempelajari internet, pembicaraan itu membuat aku sangat merasa miris. 

Ternyata ‘dunia’ mereka masih jauh dengan kita. Mereka membicarakan tentang bagaimana perempuan dunia bisa melakukan dan memompakan kekuatan mereka dalam teknologi ( internet ) dalam berkarya, justru Indonesia masih sangat membutuhkan edukasi untuk perempuan2 desa dalam belajar dari 0 dalam ber-teknologi!

Panel kedua lebih menarik lagi, sebenarnya. Temanya ‘ICT for Bussiness Marketing and Networking among Bussiness Women SME and Across Sectors’. Tetapi, lebih disayangkan lagi. Bahwa perempuan2 desa di Indonesia sebagai negara berkembang sebenarnya mampu untuk berkarya. Misalnya, pekerjaan tangan seperti membatik, patung2 menenun, atau makanan2 tradisional meeka, tetapi banyak dari mereka tidak tahu bagaimana harus menjualnya. 

Mereka hanya menjual secara tradisional di pasar2, padahal mereka bisa mempromosikan nya lewat internet dan bisa menjualnya ke luar negeri TANPA dibantu pemerintah. Itulah yang membuat aku berkali2 menarik nafas melihat kenyataannya, bahwa Indonesia masing sangat jauh dalam keikutsertaannya di komunitas dunia …..

Yang ketiga bertema ‘Srategies to Disseminate ICT Tools for Further Use among Women in AEC Economies’. Jujur, aku sudah merasa diawang2. Maksudnya, panelis2 dari panel 1 sampai 3 ini berasal dari negara2 maju, dimana teknologi internet merupakan KEBUTUHAN! Sementara di Indonesia, internet hanya sekedar LIFESTYLE, bukan untuk perempuan2 desa, tetapi perempuan2 kota ( sebagian besar ) dan anak2 serta remaja. Internet hanya sebagai media sosial, bukan untuk berkarya. Apalagi bagi banyak perempuan berata bahwa internet adalah Facebook!

Rehat ketiga Session selesai sekitar jam 18.00 lebih. Para delegasi pun pergi untuk datang kembali mengikuti makan malam bersama dari jam 19.00 sampai jam 21.30. Hari pertama ini, kami cukup puas dengan hasil IDKITA  membagikan konsep2 dan proposal2 kami. Yang kami dapatkan adalah undangan dari 3 orang menteri Indonesia untuk audiensi karena mereka tertarik dengan konsep2 kami. Lalu juga dengan Direktur Utama sebuah bank nasional Indonesia.

Tuhan memang luar biasa! Bermula dari hanya sekedar menulisdi Kompasiana, sampai membentuk sebuah komunitas ber-tema-kan ‘Internet Sehat dan Aman’, sampai Tuhan mengijinkan kami untuk berkarya lewat IDKITA, kesekolah2 dan banyak komunutas d seluruh Indonesia, dan Tuhan mempercayakan kami untuk lebih meluaskan pelayanan kami dalam dunia internasional lewat APEC Women 2013 di Bali ini.

Terima kasih, Tuhan! Hari kedua APEC ini IDKITA terus ‘bersinar’, tunggu artikelku berikutnya ……
1378793064180829932

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks