Artikel Terakhir
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2015

Berkeliling di Kota Tua Zurich, di Swiss

Selasa, 17 Februari 2015 - 0 Comments



By Christie Damayanti
1424153904212797131
Dokumen pribadi
Sebelumnya :




Sedikit bingung, ketika petugas travel di Central Travel di Zurich itu menawarkan berbagai jenis tour keliling kota. City Seeing Zurich. Karena Zurich terdiri dari daratan dan danau, City Seeing Zurich ada 3 jenis tour : dengan bus wisata, dengan kapal wisata dan dengan bis serta kapal wisata. Dan kesemuanya itu juga banyak perusahaan yang menawarkannya, sehingga lengkaplah kebingunganku …..

Masalahnya, mereka mungkin sudah ‘bersatu’, dari perusahaan A, tidak sampai ke tempat A, tapi ke tempat B. Atau dari perusahaan C, hanya ketempat C saja. Sementara, aku ingin membawa anak2ku benar2 melihat kota Zurich untuk membuka wawasannya.

Belum lagi harganya, berbeda2 dan masing2 menonjolkan yang terbik, sesuai dengan harganya. Hmmmm ….. mungkin 30 menit aku berdiskusi dengan petugas itu, seorang bapak tua yang ramah, dan tidak marah ketika aku banyak bertanya. Sayang, dia tidak fasih berbahasa Inggris. Dia menggunakan bahasa Prancis, sehingga sering kali kami hanya tertawa bersama ketika masing2 tidak mampu menguraikan apa yang kami maksud …..

Akhirnya, aku memutuskan membeli 3 tiket keliling kota Zurich. Pertama kami akan menyusuri kota dengan bus wisata selama 1 jam. Setelah itu, kami akan diturunkan ke tepi Danau Zurich ( Zurich Lake ) dan kami akan berkeliling danau dengan kapal pesiar cantik! Hihihi ….. ga papa kan, sekali2 ingin bergaya ‘orang kaya?’

Tour itu mulai jam 10.00 dan waktu itu baru jam 9.30. Sehingga kami masih mempunyai waktu untuk bersantai sejenak, yang dimanfaatkan anak2ku untuk bermain, berlari2, dan berteriak2 sambil tertawa. Maklum, kami berada di ruang terbuka pagi, dengan matahari bersinar cerah, dan udara dingin yang nyaman. Ditengah2 kota Zurich, tetapi berada di Limmatstrasse, bersentuhan langsung dengan pepohonan dan taman cantik, secantik kota itu.

Jam 10.00 tepat, bus berangkat membawa kami, para wisatawan. Bus wisata itu sangat cantik, dengan interior yang menawan. Hmmmm … tidak sia2 aku membayar 39 Franck Dollar dengan fasilitas seperti ini. Aku sangat bersusah payah untuk naik ke dalam bus, karena tangganya cukup tinggi dan sempit. Tetapi dengan dibantu Dennis dan supir bus itu, aku berhasil masuk dan duduk di paling depan, tempat disabled. Senang sekali, karena dengan jendela besar dan bening seperti ini, membuat aku bisa mengeksplorasi merekam suasana dan pemandangan Zurich yang cantik …..

Aku siap dengan 2 kameraku. Yang pertama, khusus yang aku cari untuk peganganku yang susah dengan tangan kiri tetapi mampu merekam pemandangan sampai perbesar 24x dan bisa meng-capture landscape dengan sangat indah! Ga kalah dengan fotografer professional!

Kamera ku yang lain, aku serangkan Michelle untuk mengabadikan kami, terutama aku ( hihihi … dasar narsis ). Aku pun selalu mengabadikan kegiatan anak2ku selama ini. Sedangkan Dennis, dia mempunyai peralatan DLSR dengan perlengkapannya, bak fotografer professional …

Pertama kami keliling kota Zurich, pemandu nya adalah ear-phone, yang terdiri dari 20 bahasa di dunia. Sayang, Bahasa Indonesia tidak termasuk didalamnya. Jadi, kami mengambil yang berbahasa Inggris. Di beberapa tempat, bus itu berhenti agak lama, dan kami bisa keluar untuk sejenak berfoto dan di 1 tempat itu, kami bisa  menikmati the atau kopi, jika cafe2 yang ada tidak terlalu penuh.

14241539951337120034
Dokumen pribadi
142415402597314174
Dokumen pribadi

Zurich City yang cantik …. Tidak banyak kendaraan. Mereka umumnya menggunakan trem. Lihatlah, trem ‘merajai’ kota. Bahkan jalan raya kendaraan bersaing dengan rel trem. Mereka mempunyai sistim menejemen kota yang dapat di komprehensifkan dengan angkkutan missal mereka.

Hanya di perempatan2 besar saya, ada lampu merah. Selebihnya tidak. Dan antara trem dan kendaraan pribadi, menurut yang aku baca sebagai referensi, jarang terjadi tabrakan antara trem dengan mobil …..

Jendela bus wisata ini, ‘memaksa’ aku untuk trus berkutat dengan kamera, sambil mendengarkan pemandu wisata lewat earphone. Kota tua yang indah. Dan aku merekam semuanya, untuk sebuah referensi, jika suatu saat aku mempunyai kesempatan lagi untuk berdiskusi dan mendesain lingkungan yang nyaman dan apik di Indonesia, khususnya Jakarta.

Keliling kota Zurich membawa aku melayang dengan keindahannya. Kota tua Zurich sejak abad 15, itu sangat cantik. Bangunan2 khas Swiss, memang berbeda dengan bangunan2 negara Eropa yang lain. Dan Munsterhof Square dengan bangunan2‘Guild House’, seakan membawa aku berkelana ke cerita2 ‘Album Cerita Ternama’, jaman kecil dulu …..

14241542181942995354

(Wikipedia) Munsterhof Square, Zurich

Di Munsterhof Square, kami turus beberapa saat, sambil menikmati secankir coffee dan berfoto2 narsis. Tempat yang cantik, apik dan sangat nyaman. DenganAugustinnergasse, sebuah jalan tua disana, dengan bendera2 Swiss, itu membuat kami para wisatawan jatuh cinta pada panddangan pertama …..

1424154278573871125
1424154333303157635
Dokumen pribadi
Michelle di Munsterhof Square, Zurich dan di Augustinnergasse
14241543631232341254
Dokumen pribadi
Gereja Fraumünster , di Munsterhof Square

Kota Zurich memang tidak besar. Dalam 1 jam saja kami bisa berkeliling sampai masuk2 kejalan kecil, untuk bisa melihat kehidupan Zurich pada jam2 sibuk.
1424154419740671208
Dokumen pribadi
14241544591222126074
Dokumen pribadi
Kehidupan Zurich di jam2 sibuk pun tidak terlalu ramai, kecuali di pusat kota dan tempat wisatawan. Tetapi pada prinsipnya, Zurich City dengan penduduk tidak lebih dari 390.000 orang dengan luas 87,88 km2, membuat kota ini sangat nyaman sebagai kota wisata di Swiss.

Kami beranjak lagi dari tepi kota, menuju ke Danau Zurick, dimana kami akam diturunkan dsana untuk berkeliling dengan kapal pesiar cantik. Walau aku enggan ‘berpisah’ dengan kota tua Zurich, jujur aku juga tidak sabar dengan berkeliling di Zurich dengan kapal pesiar …..

Rabu, 26 November 2014

Hari Kedua di Zurich : Hidup itu Sangat Singkat …..

Rabu, 26 November 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

1416988493857340485

Limmastrasse, Zurich, di pagi hari yang mendung …..

Sebelumnya :

Ketika Mukjizat Tuhan Datang Tepat Pada Waktunya …..

Hari kedua di Zurich …..

Sejak masih di Jakarta, aku memang sudaah merencanakan untuk tour di beberapa tempat di Swiss, secara ini adalah ke-3 kalinya aku kesana. Dan aku ingin membawa anak2ku bisa menikmati apa yang aku pernah alami. Membawa anak2ku dalam kebahagiaan keluarga …..

Hari ini, setelah makan pagi di Migros, sebuah fasilitas perkantoran dekat dari HOTEL tempat aku menginap, yang terdapat banyak cafe2 cantik. Dan pilihan kami hanya 1, di cafe yang menjual makanan2 yang anak2 suka. Seperti kentang goreng, hamburger, hotdog, pastries, sosis, nugget, dan sebagainya. Bukan karena itu saja, tetapi hanya cafe itu yang menerima kartu kredit tanpa pin, seperti yang aku ceritakan di link diatas …..

14169885421385030566

Migros, fasilitas perkantoran disekitar tempat itu, yempat makan favorit kami ….. ( foto diambil di hari pertama siang, di Zurich )

Dengan berbekal peta, kami mulai mencari titip point wisata, yang kata petugas HOTEL berada di ujung jalan Limmastrassee, tempat hotel kami berada. Aku di dorong Michelle, dan seperti biasa, Dennis sibuk memotret apa yang dia inginkan.
Pagi itu aku memang sengaja datang pagi, untuk mencegah ‘kesasar’ dan ingin membeli beberapa tiket tour sampai beberapa hari kedepan.

Burung2 masih banyak berkicau, di kota yang sejuk dan damai ini. Bukan hanya sejuk, tetapi wakru itu masih cukup dingin, seperti di Amsterdam. Padahal, itu akhir Juni, ’summer time’, dimana seharusnya udara sudah panas, atau paling tidak, sejuk.

Aku bernyanyi2 riang dan bercanda dengan anak2ku. Saling meledek, tertawa nyaring, tanpa memperdulikan orang lain. Hari itu adalah pertengahan minggu, dimana warga disekitar kami, bergegas menuju ke pekerjaan mereka. Dan sepertinya, hanya kami beriga yang wajahnya berseri2 dalam eforia wisata, sementara yang lain, berwajah serius dan berjalan tergesa.

Trem listrik, bolak balik antar jemput warga. Tidak ada, atau jarang telihat mobil. Permukaan jalan pun dilapis aspal, dan dipenuhi alur2 trem listrik itu. Hilir mudik trem, tidak membuat bingung, walau ketika seperti akan bertabrakan, trem2 listri itu sudah mempunyai jalur2nya masing2, dan sangat sesuai dengan waktunya. Sehingga, seppertinya mereka sangat profesional.

14169886291696825627

Pagi basah sehabis hujan, di Zurich …..

Kami melewati banyak gedung2 perkantoran. HOTEL kami berada di 3 blok ke arah ujung jalan. Cukup jauh, tetapi tidak berasa berjalan jauh, ketika kami melakukannya dengan riang gembira. Sungguh sebuah ironis, ketika kami sangat malas hanya untuk berjalan dari rumah kami di Jakarta ke belakang rumah tempat minimarket, padahal hanya menewati 1 blok saja. Itu karena suasana lingkungan yang tidak ‘bersahabat’, apalagi untukku.

Di blok kedua, kami menemukan taman cantik, Limmastrasse Garden. “Suatu saat aku ingin sekedar bermain disana, mungkin di hari terkhir di Zurich”, pikirku.

3 blok sudah kami lewati, memang ada beberapa stand perusahaan dalam bak mobil terbuka, yang menjual tiket2 tour. Tetapi ternyata masih tutup. Makhlum, masih jam 8 pagi. Tetapi kami pun tetap bercanda bahagia. Apalagi anak2. Ketika kami sudah berada disana, ada 1 titik untuk menunggu, yang dilingkupi kaca bening, menahan angin dingin yang cukup menggigit.

1416988694853702078 

Di ujung jalan Limmastrasse, memang terdapat beberapa stand tour Swiss. Dan wisatawan bisa membeli tiket tour lewat bus, kapal, taxi bakan pesawat disini …..

Aku di dorong kesana, dan Dennis dan Michelle langsung berlari2an. Mereka bermain lempar2 bola kecil, yang mereka temukan disana. Saling berteriak, tertawa2 sambil memanggil2 aku, untuk bermain bersama. Kubilang pada mereka, boleh dorog saja kursi roda mama, dan kita bisa bermain bersama …..

14169887532139413465 

Tempat menunggu, tertutup kaca bening, menahan hembusan angin dingin …..

Menyenangkan sekali. Melihat anak2ku sangat excited menyambut hari. Wajah mereka bersemu kemerahan2an, penuh kebahagiaan. Aku pun demikian, wajahku pasti berwarna merah. Bukan hanya karena penuh kebahagiaan seperti anak2ku, tetpi juga karena aku sedikit kedinginan. Karena wajahku akan memerah jika aku marah, senang, kepanasan ataupun kedinginan …..

1416988806223650752
1416988829691835613

Anak2 terus dan selalu bercanda, membuat hatiku selalu diliputi kebahagiaan …..

Jam 9.00 tepat, masing2 stand perusaan tour disana membukan jendala mobilnya. Tetapi karena hari itu adalah hari kerja sehingga tidak terlalu penuh untuk mendapatkan tiket. Aku diantar anak2ku membeli tiket cukup banyak.

Hari itu, kami ingin city-tour, keliling Zurich. Pertama adalah naik bus besar, keliling kota dan berhenti di tempat2 wisata. Memakan waktu sekitar 2 jam. Lalu dilanjutkan dengan tour dengagn kapal pesiar di Zurich Lake, sebuah danau cantik, terkenal di dunia. Memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Untuk tur keliling kota Zurich dengan bus dan kapal pesiar, masing2 orang menghabiskan 39 Frank Dollar. Jadi, kami bertiga total 117 Frank Dollar. Oya, khusus Swiss tidak memakai mata uang Euro tetapi tetap dari dahulu, memakai Frank Dollar. Satu Frank Dollar dihargai dengan sekitar Rp 13.500, waktu itu. Jadi total kami menghabiskan uang untuk tour keliling kota Zurich sebanyak Rp 1.579.000. Hmmmm ….. hanya total 3,5 jam saja menghabiskan jutaan rupiah. Tetapi, sudahlah ….. memang niat untuk berwisata …..

Tour itu dimulai jam 10.00 tepat. Jam 12.00 kami akan sampai ke tepi Zurich Lake, dimana kami turun, masuk ke kapal pesiar, dan berkeliling Zurich Lake sampai 1,5 jam. Makan siang di kapal pesiar, tetapi harga belum termasuk makan. Jadi, kami masih harus menunggu sampai berangkat. Dan anak2 pun tetap ceria, tanpa peduli harus menunggu lagi.

Aku hanya duduk di tempat tunggu, dan anak2pun masih bermain, entah apa. Aku hanya tersenyum2 saja, ketika dengan manjanya selalu meminta aku bermain bersama mereka. Jika aku sehat, aku akan berlari2 bersama mereka, dan berteriak2 juga bersama mereka.

***
Hidup itu memang singkat. Dan aku meyadari itu. Sampai sekarang pun, kadang aku masih merasakan bahwa anak2ku masih berada dalam gendonganku. Aku timan2 mereka, aku ciumi mereka dan mereka akan tertawa2 sambil berteriak2 kegeilan. Tetapi sekarang aku terus merasakan bahwa sebentar lagi mereka akan ‘pergi’ dariku. Ya … mereka akan mengejar mimpi2 mereka, seperti waktu itu aku terus mengejar mimpi2ku.

Sudah 18 tahun aku hidup bersama Dennis dan 15 tahun dengan Michelle, itu pun aku merasa hidup itu sangat teramat singkat. Jadi, jika hidup kita singkat, jangan perah menyia2kan hidup kita. Peluk lah anak2 kita. Hiduplah dengan mereka dengan sebaik2nya, karena waktu akan melesat pergi, seperti yang aku rasakan sekarang ini …..

Berbahagialah anak2ku ….. mama mencintaimu, dan dan mama akan berusaha untuk terus bermain bersama kalian …..

Selasa, 18 November 2014

Selamat Datang di Swiss, Selamat Tinggal Belanda …..

Selasa, 18 November 2014 - 1 Comment





 By Christie Damayanti



Setelah makan malam yang menyenangkan dan makanan2 yang yummy, kami menuju ke rumah Arie dan Clara, sebentar untuk menyambanginya. Rumah keluarga yang siang tadi kami datangi, adalah rumah untuk bersantai, di tepi Zaan River. Arie dan Clara menempati rumahnya sendiri, dan Maria serta keluarganya pun menempati rumahnya sendiri.

Arie dan Clara menyilahkan kami masuk, untuk sekedar minum teh hangay, karena udara terus mendingin. Hampir jam 10.00 malam, dan matahari mulai turun. Tetapi sinarnya masih menerangi bumi Belanda, terutama di tempat kami ada waktu itu. Seperti sinar matahari jam 5.00 sore. Dan kami masih merasa excited melihatnya, walau tubuh kami mulai letih, terutama Michelle yang siang tadi berenang di sungai.

Arie langsung memperlihatkan beberapa koleksi prangko dan benda2 filateli nya. Dia memang filatelis besar Eropa dan temanya sangat rumit untukku. Tentang perjalanan postal, terutama perjalanan pos Belanda ke Indonesia atau sebaliknya, sejak jaman kolonial Hindia Belanda. Wow! Sebuah tema sangat besar, dimana aku tidak akan mampu melakukannya! Dari harga yang harus aku keluarkan, sampai cerita sejarah yang harus aku riset dan terus menerus aku pelajari. Dan Arie adalah salah satu pakarnya .....


Salah satu koleksi Arie

*Pantesan saja, Arie lebih tahu banyak tentang sejarah Indonesia ( khususnya jaman Hindia Belanda ), jauh dibanding aku.

Karena sudah malam dan jam 7.00 pagi kami harus berangkat ke bandara untuk terbang menuju Zurich, kami hanya sekitar 30 menit di rumah mereka, setelah aku srmpat melihat2 koleksinya dan ... sungguh, aku benar2 terkagum2 dengan ratusan album Arie. Apalagi dengan prangko2 jaman pemerintah colonial Hindia Belanda di Indonesia, terutama prangko2 yang sungguh amat langka! 




Michelle pun sudah tertidur di sofa empuk mereka, ketika kami berpamitan untuk pulang ke hotel kami. Waktu sudah menunjukan sekitar jam 11.30 malam, ketika kami sampai di hotel.  Cipika cipiki dengan Arie, dia memeluk kami dan berpesan, akhir tahun 2014 dia akan ke Indonesia lagi untuk bisnisnya dan akan mampir ke rumah kami. Dan hari terakhir ini, di hari ke-5 di Belanda, kami merasakan kebahagiaan yang luar biasa, untuk oleh2 kami menuju ke negara ke-3 lawatan kami di Eropa Barat, Swiss .....


Clara, aku dan Arie, di depan rumah mereka di Castricum, Noord Holland

***
Jam 7.00 pagi, taksi besar sudah menjemput kami untuk menuju bandara. 3 koper besar, 3 koper kecil dan masing2 tas tangan serta kursi roda, kami siapkan di lobby hotel. Dan segera kami berangkat ke bandara.

Pelayanan bandara terhadap disabled seperti aku memang luar biasa! Justru sangat luar biasa, membuat aku menjadi sangat 'terkukung'. Kami dipersilahkan duduk di vip untuk menunggu petugas yang mengantar kami menuji pesawat. Dimana aku sangat ingin survey bandara dan melihat2 toko2 butik di bandara. Padahal juga, waktu boarding masih cukup lama. Sehingga aku sangat geregetan dibuatnya. 

Tetapi karena bandara Schipol memang sangat besar, dimana kami harus melewat beberapa pemeriksaan dan aku berada di atas kursi roda serta ada 3 koper cabin yang harus dibawa Dennis ( Michelle mendorong kursi rodaku ), aku harus tahu diri untuk tidak mengikuti kata hatiku tentang survey dan foto2.  Jadilah aku berdiam diri saja, sambil mencari sumber wifi untuk sekedar googling atau menyapa teman2 di Facebook, lewat iPad ku yang aku bawa di Jakarta.

Kami sarapan yang ada disana, terdekat dari ruang vip bandara. Tidak ada apa2, hanya sebuah bakery. Dan kami memesan beberapa sandwich dan 3 minuman hangat karena udara pagi masih terlalu dingin. Dan pastilah keju2 kecil yang aku suka, untuk sekedar snack ringan selama di perjalanan …..


Zurich Airport

Seperti yang aku ceritakan di beberapa minggu lalu tentang perjalanan kami ini, sebenarnya untuk berkeliling di banyak negara di Eropa, tidak lah memakai pesawat terbang. Apalagi negara2 Eropa tidak besar dan berdempetan satu dengan yang lain, sehingga perjalanan wisata dan tugas2ku ke Eropa beberapa kali tahun2 lalu, aku biasa mengendarai kereta, bus atau taxi. Dan pesawat adalah pilihan terakhir, dimana alasannya adalah tidak adanya tenaga porter dimanapun, sehingga kasihan anak2ku yang akan dan harus mengurusi kopeer2 kami dan aku sendiri hanya duduk nikmat di atas kursi roda …..

Perjalanan ke Eropa ini pun, sepertinya menjadi perjalanan yang ter’mewah’. Bukan karena aku harus mengeluarkan biaya besar karena membeli tiket dan hotel2 mewah, tetapi dengan selalu berkendara pesawat, berarti kami harus membayar jauh lebih mahal!

Tiket Jakarta – Amsterdam – Zurich – Paris – Roma – Jakarta, aku harus membayar 1.950 US Dollar / per-orang, sementara waktu aku membeli tiket liburan ini di awal tahun 2014, harga tiket Jakarta – Amsterdam – Jakarta, sedang promosi, yaitu sekitar 8,5 juta Ruiah saja. Padahal, harga tiket kereta atau bus, bahkan taxi yang lebih mahal sekalipun, tidak akan semahal berkendara pesawat.

Ya, aku memang sudah memikirkan semuanya dengan keterbatasanku ini. Karena dengan aku tidak mampu melakukan seperti seorang yang normal, aku harus bisa menabung lebih untuk ini. Dan aku sudah menabungnya sejak 3 tahun lalu untuk perjalanan kali ini, semuanya untuk anak2ku …..

Dan aku sangat menikmatinya. Sebuah perjalanan dambaanku, hanya bertiga dengan anak2ku. ‘Quality Time’, yang aku dapatkan bersama dengan anak2ku, sangat luar biasa! Dan Tuhan sudah merancangkannya untuk kami, sesuai yang juga aku rencanakan, puji Tuhan ….. terima kasih, Tuhan …..

***
Perjalanan berkendara pesawat terbang dari Amsterdam ke Zurich hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja. Tetapi justru dari hotel di Amsterdam ke bandara Schipol, lalu dari bandara Zurich ke hotel di Zurich, itu lah yang justru memakan waktu lebih lama. Dan taxi nya pun khusus dengan 3 koper besar, 3 koper kecil serta kuris roda, harus memakai taksi besar dan membayar lebih mahal.

Dari bandara Schipol ke hotel di Amsterdam atau sebaliknya untuk biaya taxi, aku harus mengeluarkan uang sekitar 60 Euro x 2 ( waktu itu 1 Euro sekitar 16.000 Rupiah, sehingga aku membayar sekitar 120 Euro = 1.920.000 Rupiah ). Begitu juga dari bandara Zurich ke hotek X-Tra di Limmastrasse, aku harus membayar sekitar 55 Euro ( Untuk pulang ke bandara, 2x 55 Euro = 110 Euro x 16.000 = 1.760.000 Rupiah). 

Hmmmmm ….. jika harus mengeluarkan uang banyak seperti ini, aku sangat merasa tidak rela, tetapi kami sudah niat untuk melakukan perjalanan ini. Jadilah, dengan senang hati aku membuka dompetku untuk membayarnya …..

  




Hotel X-Tra, dan anak2 di lobby hotel bintang 3 itu …..

Kami menginap di Hotel X-Tra bintang 3, di jalan Limmastrasse. Lewat travel & biro sahabatku di Jakarta, aku harus membayar sekitar 100 Euro tanpa sarapan. Sebuah harga yang bagus untukku. Karena pun hotel hanya untuk tidur dan sehari2 kami selalu berjalan2 sesuai dengan tujuan wisata kami. Jadi, dengan membayar dimuka sebanyak 4 hari x 100 Euro.
 




 Karena hotel ini binang 3, lingkungannya tidak terlalu bagus. Dan karena aku menempati kamar di lantai 4, pemandangannya hanya sebatas perkantoran local ddngan fasilitasnya …..

Jam 2 siang kami sudah berada di kamar hotel kami dan beristirahat full day. Mempersiapkan perjalanan kami di Swiss sampai ke puncak Titlis yang mempunyai salju abadi. Dan sksn menuju sebuah negara salah satu yang terkecil di dunia, Liechtenstein dengan ibukota Vaduz, serta ingin sekali aku menapaki rumah2 khas Swiss, tempat dimana ( konon ) Heidi dengan kakeknya bertempat tinggal …..

Kami harus mengistirahatkan tubuh kami ini, untuk sebuah perjalanan baru. Dari 5 hari di Belanda, sekarang kami akan menjelajahi Swiss selama 4 hari.






Salah satu titik pandangan dari kamar kami di lantai 4, X-Tra Hotel …..

Selamat datang di Zurich ……

Sebelumnya di Belanda :





































































Selasa, 21 Oktober 2014

Anak-Anakku, Sahabat dan Keluargaku di Belanda …

Selasa, 21 Oktober 2014 - 1 Comment




By Christie Damayanti


14138662871919523912

Langit biru di seputar desa dimana kami berada waktu itu. Matahari cerah dan sinarnya cukup menyengat. Tetapi tidak terasa panas karena dibaur dengan angin sejuk sepoi2. Membuat tubuh tetap hangat dengan jaket tipis, dan belaian angin sejuk.

Setelah berputar2 di beberapa kota kecil disekitar itu, Arie mengajak kami ke kota kecil, tempat keluarganya tinggal. Masuk di kota itu, Arie banyak bercerita tentang keluarganya, yang awalnya belum diceritakan pada kami. Ketika kami tahu tentang Arie dan keluarganya, kami sangat takjub! Seorang Arie yang sudah aku anggap sahabat, papa dan eyang untuk kami, adalah seseorang yang luar biasa dan cukup terpandang di Belanda. Seorang filatelis yang juga luar biasa dan mencintai negaranya dan Indonesia. Koleksi benda2 filatelinya tentang Indonesia, jauh mengalahkan ku sebagai filatelis Indonesia …..

Aku tidak mau banyak bercerita tentang pekerjaannya dan keluarbiasaannya, karena mungkin Arie tidak berkenan. Tetapi sungguh, justru aku sangat tersentuh ketika keluarganya menyambut kami dengan hangat di rumah mereka dan kami banyak berbincang serta bercengkerama dengan sahabat2nya disana serta keluarganya. Istri dan anak serta cucunya, adiknya serta beberapa sahabat2nya.

Dengan terbata2, aku berbicara dalam bahasa Inggris yang ‘medok’ sebagai insan pasca stroke. Anak2ku pun terkesima dengan. Gaya penyambutannya untuk kami.

Mungkin sekitar jam 2-an sore kami sampai ke rumah peristirahan nya. Sebuah rumah mungil di tepi Zaan River, sebuah rumah mobile yang bisa di pindah2 sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Itu setelah kami berkeliling ke seputar pekerjaan dan bisnis keluarga mereka. Sebuah bisnis yang sangat luar biasa! Pasti tidak ada yang terpikirkan, sekalipun aku sudah cukup dekat dengannya.

1413866550746335739
14138667812064462186

Sahabat Arie dalam bisnis mereka, Michelle yang terkesima dengan pekerjaan Arie 
…..

Arie, seorang papa dan eyang kakung untukku dan anak2ku, sangar sederhana dan peduli. Kepeduliannya terpancar dari selalu bisa melayani kami dan membuat kami bahagia. Dan kesedrehanaan nya ( walaupun jika dia mau, dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan lewat materi dan kekuasaan ) adalah pancaran Kasih Tuhan …..

14138671381624483035
1413867422298957250
Salah satu bisnis keluarganya di Belanda

Istri Arie juga sangat ramah, Clara namanya. Maria sebagai anaknya serta Christian yang baru berumur beberapa bulan, menyambut kami dengan senyum dan pelukan hangat. Kami duduk di bawah rindangnya pohon besar, di salah satu anak sungai Zaan, dengan banyak perahu2 motor untuk bersantai dengan keluarga. Clara menyuguhkan snack2 Belanda yang kami suka! Kue2 cinnamon dan ginger biskuit, serta minum2 yang menyegarkan.

1413868599421624209

14138678671198954108

Clara menjamu kami. Maria dengan Christian. Keluarga yang menyenangkan …..

Kami bercanda dan terus tertawa bersama. Bahkan Christian mau kami gendong, walau aku hanya sebentar menggendongnya dengan 1 tangan, sambil duduk. Dan suasana akrab itu, adalah yang aku selalu impikan, dalam banyak mimpi2ku sejak kecil …..

***
Film “Little House in the Prairie” adalah awal dari mimpi2ku. Sebuah keluarga sederhana, tinggal di rumah kecil di padang rumput. hidup mereka sederhana dan anak2nya, Mary - Laura - Carrie, selalu bermain disekitar rumahnya yang nyaman dalam hembusan angin sejuk padang rumput.

Dan begitulah yang aku selalu impikan. Tinggal di rumah kecil, atau setidaknya bertamu di sebuah keluarga yang ramah dan bersahaja, bercengkerama dan bercanda bersama. Duduk2 di bawah pohon rindang dengan angin sejuk dan tidak kepanasan, lalu mengudap berbagai makanan ringan …..

14138685251692953687


Keluarga yang hangat dengan kasih, kami merasakan kebahagiaan disana …..

Mereka mempunyai sebuah perahu motor kecil untuk berkeliling sungai. Maria, mengajak anak2ku berkeliling, dan mereka antusias sekali! Persiapan pun dilakukan. Maria, Dennis dan Michelle berkeliling cukup lama dan aku hanya tinggal di daratan, mengobrol dengan Arie dan Clara. Christian sedang bobo …..

14138687031046113030
1413868822558106116

Maria, Dennis dan Michelle yang berkeliling di Zaand River …..

Setibanya lagi, Maria dan anak2 banyak bercerita tentang apa yang dilihatnya selama berkeliling sungai. Karena waktu itu memang musim panas, suasananya memang nyaman. Banyak keluarga berkumpul karena juga waktu itu adalah hari Minggu. Mereka berenang di sungai di rumah2 peristirahatan mereka, seperti rumah keluarga Arie.

Seketika itu juga, Michelle yang notebene adalah gadis kecil yang sangat pemalu, dia menyatakan ingin berenang di sungai! Astaga! Air sungai masih cukup dingin, dan dia bisa menjadi fokus pandangan banyak orang!

Aku sih tidak masalah, jika dia mau melakukan itu. Masalahnya, Michelle itu sangat pemalu, lhaaaa … tiba2 dia mau menjadi fokus tatapan orang? Hahaha …. Ternyata dia semakin hari semakin berubah …..

1413868947274554408
14138690961073521419



Gaya Michelle dengan pakaian selam, pinjaman dari Maria ….. Mecoba menurunkan kaki dulu karena sungai Zaan memang cukup dingin …..

Meminjam pakaian menyelam dari Maria, Michelle yang tingginya hampir sama dengan Maria ( padahal dia baru 14 tahun ), Michelle menjelma menjadi gadis kecil-ku yang luar biasa cantik! Dan dia riang sekali berenang dan ‘berselancar’ dengan selancar Maria. Muncul dan menyelam, berkanoe, berputar2, Michelle benar2 mampu menyedot hatiku dengan kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa! 

Gadis kecilku, bidadariku, kebanggaanku!

1413869272376125005
14138693371509586794

14138698111877429822
14138700461681379066

Beberapa gaya Michelle berenang dan bermain dengan selancar pinjaman. Aku narsis ??? Ga salah kan, narsis untuk bidadariku ???

1 jam kemudian, Michelle keluar air dengan kedinginan, dan kami menutupinya dengan handuk tebal. Dia membersihkan dirinya dengan air hangat, dan sesaat kemudian dia keluar dan duduk disebelahku. Maria menyuguhkan nya segelas coklat hangat …..

1413870287551141353

Dennis yang membantu Michelle untuk keluar dari sungai. Disini hatiku mendadak haru. Mereka kakak - adik yang sangat membanggakan untukku. Anak2 yang sangat luar biasa!

Setelah lelah Michelle hilang, Arie mengajak kami berjalan2 ke sebuah pantai, dekat kota kecil itu. Dan Arie mengundang kami makan malam bersama, untuk kemudia kami harus berpisah, menuju negara selanjutnya, dalam program liburan kami. Ke Swiss.

Kami berpamitan dengan keluarga Arie. Memeluk mereka sama dengan memeluk 
keluarga kami. Dan kami berjanji, akan datang lagi ke Belanda, berkunjung lagi dalam tali silaturahmi kekeluargaan dalam Kasih Tuhan ……

Sebelumnya :


Di Sebuah Desa di Belanda …..
Dutch Cinnamon Cake : Kue yang ‘Belanda’ Banget!

‘De Kat’ : Si Kucing Heritage Dunia Lewat Sebuah Kincir Angin
‘Windmill’ : Icon Belanda, Heritage Dunia
Berumur 300 Tahun Lebih, Rumah di ‘Zaanse Scans’ Makin Tua Makin Cantik!
‘Zaanse Schans’, Wisata Desa dengan Cantiknya Kincir Angin Belanda
Desain Unik Salah Satu Jembatan di Zaan River, Belanda
Hari Terakhir di Holland, Sebelum Melanjutkan ke Switzerland …..
Dari Pelukis Jalanan, Becak Indonesia, Pasangan Usia Lanjut yang Selalu Mesra di ‘Grand Place’ …..
‘Belgian Waffle’, Menggoyang Lidah Hanya dengan 1 Euro, Masa’ Sih?
2 Jam di Landmark ‘Grand Place’ Brussels
‘Sightseeing’ Kota Brussels, Belgia di Musim Panas itu
‘Atomium’ : Molekul Raksasa yang Berpenghuni
Perjalanan Menuju Brussels, Belgia …..
‘New Madurodam’ di The Hague: Miniatur Park Kebanggaan Belanda
Di The Hague [Den Haag], ada ‘Javastraat’ dan ‘Restaurant Garoeda’ …..

‘Royal Delft Blue’ : Keramik Cantik Khas Belanda

Delft, Kota Pelajar yang menjanjikan Ketenangan dari pada Eforia dan Hura-Hura
Dari Rotterdam ke Delft : Hijau Rerumputan, Mahasiswa dan Kota Pelajar serta City Hall

Rumah Kubus ‘Kubuswoningen’ : Seni Arsitektur untuk Sebuah Tempat Tinggal
‘Euromast Tower’, Rotterdam : Apa Saja yang Bisa Dilakukan Disana?

360 Derajat Memandang Kota Rotterdam di ‘Euromast Tower’
Rotterdam, Holland : Kota Seribu Wajah

Perjalanan dari Amsterdam ke Rotterdam
Parade Foto : Burung-Burung itu Hinggap di Tangannya …..

Mencoba Sepatu Kayu ala Noni Belanda

‘Wooden Shoes Factory’ di Marken, tetapi Tidak Seperti Pabrik …..
Selamat Datang di Marken, Selamat Tinggal Volendam

Bahkan Burung-Burung itu Tetap Bisa Makan …..
‘Fish & Chips’ : Makanan Khas Kota PenghasilIkan

‘Fotograaf de Boer’ : Kenangan Terindah dari Volendam

Keju, Keju, Keju dan Keju di ‘Cheese Factory’ Volendam
Ke ‘Cheese Factory’ di Gerimis Volendam

Catatan Sejarah Desa Volendam dalam Sebuah Museum
Sisi Lain ‘Volendam’, Selain Sebagai Desa Nelayan
[Edisi Kecewa] Hujan Cukup Deras Terus Mengikuti Kami …..
‘Molen De Gooyer’ : Musim Panas yang Hangat di Café Brouwerij …..
Keliling Amsterdam dengan Bus Wisata ‘Hop-On dan Hop-Off’
Beberapa Paket Tour ( Termasuk Untuk Disabled ) yang Pastinya Sangat Menyenangkan!
Menu Makan Pagi Favorite di Molly Malones - Oudejizdskolk Straat
The FEBO ‘De Lekkerste’ : Kedai Burger Otomatis di Holland
‘Perburuan’ itu Dimulai : Dunia Filateli Amsterdam …..

[Bidikan Amatir] Burung-Burung di Amsterdam itu Terbang Rendah …..

Mahasiswa ‘Cool’ Menjemput Masa Depan di Universiteit van Amsterdam
Piala Dunia … Ooo … Piala Dunia : Jejak Sampah di Amsterdam

Rumah-Rumah Amsterdam yang Cantik dan Spesifik
Museum Amsterdam : Mungil tetapi Tetap Bersahaja …..

‘The Begijnhof’ : Perempuan2 itu Hanya Ingin Berkarya Dalam Diam …..
‘The Parrot’ : Gereja yang Tersembunyi di Kalverstraat
‘Kalverstraat’ : Shopping Area dengan Pedestrian yang nyaman
‘Canal Cruise’ : Menikah di Kanal Amsterdam? Siapa Takut!
‘Canal Cruise’ : Secercah Harapan dari Kanal Amsterdam

Makan Siang Pertama di Amsterdam : Masakan China dan Suriname

Dunia Prostitusi ‘De Wallen’ Amsterdam, yang Sebenarnya …..
‘Red Light District’, Wisata Prostitusi di Amsterdam : Hahaha ….. Anak-Anakku Cepat Belajar dari Lingkunganya
Ketika Kekecewaan Berganti dengan Semangat dan ‘Excited!’
‘Coffee Morning’ : Ketika Kebahagiaan Mengawali Semuanya
‘Basiliek van der H. Nikolaas’ : Gereja Katolik Tertua di Amsterdam Abad - 18
Oudejizdskolk Straat, Basiliek van de H.Nikolaas, Café Molly Malones di Amsterdam
Selamat Datang di Amsterdam!
Menuju Amsterdam … Aku dalam Keterbatasan? Sudah Lupa, Tuh!
Perjalanan ke Negeri yang Jauh Sudah Mulai dan Mimpiku Semakin Nyata …..
Horeeeeeee ….. Libur Besar Telah Tiba!
Ketika  Aku Membawa Anak-Anakku Keliling Eropa, dengan Separuh Tubuh Lumpuh



Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks