Artikel Terakhir

Minggu, 03 September 2017

“Disability Awereness Week Session 2” di Central Park : Ruang Inklusi dan Aksesibilitas bagi Disabled pada Fasilitas Umum

Minggu, 03 September 2017 - 0 Comments


By Christie Damayanti

Siapa bilang disabled tidak mampu apa2?
Siapa bilang disabled hanya seorang yang tidak berguna? Dan siapa bilang, disabled itu tidak “berharga?”
***
Tanggal 24 Agustus2917 lalu, kami dari Yayasan Agung Podomoro Land, mengundang 150 orang disabled beserta pendampingnya. Mereka itu mulai dari berumur 8 tahun, sampai diatas 75 tahun, untuk datang dan bersenang2 di Central Park Mall.

“DISABILITY AWARENESS WEEK Session 2”, adalah lanjutan dari acara bertema sama session 1 yang dilaksanakan di Bassura City Mall, 23 April 2017. Lihat tulisanku :


Di Sesi ke-1 ini, kami dari Yayasan CRIDASA (Yayasan Christie dan Sahabat Nusantara), mencoba untuk memberikan motivasi, bahwa disabled pun punya mimpi yang sama. Bahwa disabled pun punya keinginan untuk menjelah dunia, dan kami memberikan tips2 nya, dengan mendatangkan bank2 yang bisa mem-back up, travel biro, komunikasi telepon serta kesaksian2 teman2 disabled.

Even itu pun sekaligus juga melaunching 2 buku terbaruku tentang menjelajah Perancis dan Italy, sambungan dari 2 bukuku yang pertama tentang menjelajang Belanda, Belgia, Swiss dan Liechtenstein.

Pada even sesi ke-2 ini, konsepnya agak berbeda. Jika pada sesi ke-1 hanya beberapa disabled yang berbicara dalam 1 panggung, dengan kesaksian2 yang berbeda, (ada aku sebagai insane pasca stroke, ada Dimas yang disabled tuna netra dan ada Habibie disabled daksa), maka di sesi ke-2 ini kami mengajak kepedulian tentang “Ruang Inklusi dan Aksesibilitas bagi Disabled pada Fasilitas Umum”.

Bahwa untuk bangunan2 umum dan lingkungan, seharusnyalah menjadi sebuah ruang inklusi tanpa diskriminasi, akses bagi penyandang disabilitas dan mempunyai kepedulian dan ‘ramah disabilitas’. Bahwa pemerintah serta pemilik bangunan2 umum, seharusnyalah selalu berpedoman untuk sebuah kepedulian.

Bahwa kaum disabilitas adalah juga warga negara, yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara yang lainnya. Sehingga, kaum disabilitas itu jangan dianggap sebagai warga negara ‘kelas 2’. Mereka mempunyai mimpi yang sama. Mereka mempunyai keinginan yang sama. Cuma bedanya, mereka tidak mempunyai kesempatan yang sama …..

Even “Disability Awareness Week Session 2” ini, diselenggarakan pada hari Kamis 24 Agustus 2017. Mengundang 8 yayasan dan komunitas dengan berbagai jenis disabilitas. Ada KARTUNET (Karya Tuna Netra), dan mereka perform dengan beberapa lagu dengan alat2 musiknya.

Ada yayasan Habibie Afsyah, seorang Habibie yang sangat member inspirasi bagi teman2 disabled yang lainnya, bahkan yang sehat dan normal. Ada YPAC Jakarta, dengan anak2 dan remaja dengan berbagai jenis disabilitas grahita/daksa. Ada Panti Sosial Bakti Luhur, juga Yayasan Amal Mulia, dengan jenis disabilitas tuna rungu wicara.


Dari beberapa yayasan /komunitas, yang berkecimpung di ranah disabilitas netra. Coba di perhatikan foto diatas : teman2 disabilitas netra akan berjalan dengan bergerombol, dan saling berpegangan pundak teman di depannya. Jika hanya 1 orang, dia akan memakai tongkat putih.

Komunitas DBDC (Dream Big Disabled Community), juga merupakan berbagai jenis disabilitas, dan Komunitas Jakarta Barrier. Dan yang terakhir adalah Komunitas Insan Pasca Stroke (IPS), yang merupakan komunitasku yang menghimpun teman2 pasca stroke untuk bisa saling mendukung dan berinteraksi.

Aku dengan 2 sahabat ku IPS, dalam Komunitas IPS. Mas Aji, yang terserang stroke pada waktu berumur 19 tahun, dan Pak Didin, IPS yang berumur 74 tahun (yang tertua dalam even ini) …..


Teman2 dari  DBDC (Dream Big Disabled Community). Tetap semangat!!! Sebagian dari mereka menjadi cacat secara tiba2 karena sakit atau kecelakaan ……

Total semua yayasan dan komunitas ini sebagai peserta (disabled) ada 93 orang dan pendamping mereka ada 57 orang. Sehingga, semua berjumlah 150 orang. Dimana untuk kaum disabilitas grahita, yang umumnya adalah anak2 dan remaja (ada juga beberapa teman2 yang sudah dewasa), mempunyai pendamping masing2.

Aku berbincang dengan teman2ku disana. Tetap semangat, tetap menginspirasi …..

Yayasan Bhakti Luhur, misalnya. Dengagn berbagai jenis disabilitas, itu termasuk downsyndrom, hyperactive seta teman2 autisme dan lambat belajar, mereka benar2 membutuhkan penanganan khusus. Mereka berumur anak2 sampai remaja (8 – 19 tahun). Dan mereka mempunyai pendamping yang memang mempuyai kepedulian khusus.


Yayasan Bhakti Luhur, sebuah yayasan Katolik yang dipinpin oleh seorang Suster Cicilia S.Pd. Dengan disabilitas campuran dari anak2 sampai remaja dan berbagai jenis disabilitas

‘Jakarta Barrier Free Tourisme’, sering menjelajah Jakarta bersama Bp Ahok, waktu itu, terdiri dari teman2 tuna daksa, pemakai tongkat dan kursi roda.


Teman2 dari Yayasan Habibie Afsyah, DBDC dan Jakarta Barrier

Dari YPAC Jakarta, merupakan teman2 dengan berbagai jenis disabilitas, berumur antara remaja sampai dewasa. Dan mereka sudah mampu mandiri dalam beberapa jenis kegiatan. Sebagian dari mereka adalah disabilitas daksa, dengan kondisi paraplegi, hemiplegic, spastic diplegi serta cerebral palsy. Mereka adalah jenis disabilitas yang rentan untuk ‘tidak bisa sembuh’ dan tidak/kurang mampu untuk beradaptasi dengagn lingkungan. Tetapi pada even ini, sungguh …… aku melihat mereka sangat bersuka ria, ketika aku menyapa mereka serta tertawa dan ngobrol bersama mereka …..


YPAC Jakarta Kebayorn Baru, berkecimpung menangani anak2 dan orang dewasa disabled campuran, dari berumur remaja sampai dewasa …..

Bahkan dalam Yayasan Habibie Afsyah selain Habibie sendiri, seorang anggotanya, Rodhi mampu melukis wajah dengan cepat dan lukisan wajah2nya sering membawanya sebabi inspirasi.


Rodhi, dari Yayasan Habibie Afsyah, disabilitas daksa, yang melukis wajahku …..
***
Mereka dijemput dari beberapa titik kumpul dengan beberapa bus sewa, menuju Central Park. Jam 10.00 pagi, mereka sebagian besar sudah sampai dengan berkumpul di taman Tribecca untuk beristirahat, dan pembagian kelompok.


Beberapa yayasan/komunitas  yang sudah datang di taman Tribecca, Central Park Mall

Kelompok A, B, C merupakan kelompok pemakai kursi roda. Dengan masing2 pendamping dan petugas yang memberikan route2 khusus selama 1 jam. Aku sendiri, sebagai IPS pemakai kursi roda, ikut dalam Kelompok A, yang berjalan2 sekeliling taman Tribecca. Bahwa ‘ramah disabilitas’ pun tidak hanya dalam mall saja, tetapi bahkan di taman pun sangat akses bagi disabilitas …..

***Jelaslah, Central Park dan Tribecca merupakan bangunan umum yang benar2 ‘ramah disabilitas’, karena dulu aku dan tim lah yang mendesain dan membangunnya. Bahkan dala mendesain, tahun 2007 aku berada dalam’kecacatan’ karena kaki kiriku patah jatuh dari salah satu proyekku. Sehingga, aku bisa memastikan bahwa Central Park Mall dan Tribecca memang benar2 ‘ramah disabilitas’***


Aku dalam Kelompok A. Seseorang relawan dari sebuah komunitas internasional, mba Nita, mewawancaraiku, sambil berjalan

Kelompok D dan E, masing kelompok disabilitas rungu dan wicara (untuk Kelompok D) dan disabilitas grahita (untuk Kelompok E). Dimana Kelompok E, karena sebagian besar anak2 dan pra-remaja dengan kondisi mereka yang (mungkin) sulit untuk beradaptasi, mereka hanya bermain di taman saja dengan berbagai macam permainan, untuk selanjutnya naik ke lantai 4 untuk acara intinya.

Selama 1 jam, semua kelompok berjalan2 di mall dan taman, dan 1 jam kemudian mereka naik ke lantai 4, disebuah ruangan khusus. Ada sambutan2 dari beberapa petinggi Agung Podomoro Land dan Central Park Mall, ada performance KARTUNET dengan beberapa lagu yang membahana, ada story-telling untuk anak2 dan remaja sebagai motivasi, ada juga sambutan2 atau sedikit reaksi dari teman2 disabled. Diminta dari ‘Jakarta Barrier, untuk merespon kegiatan ini.


Kapasitas ruangan 200 orang, tetapi karena animo masyarakat yang cukup besar, mereka masuk ke ruangan ini lebih dari 250 orang ……

Untukku sendiri, aku diminta sedikit bicara tentang motivasi sebagai IPS yang sudah hampir 8 tahun hidup dengan ½ tubuh sebelah kiri saja. Bahwa selama ini aku tetap mampu berkegiatan lewat berbagai jenis kehidupan. Sebagai pekerja dan karyawan di Agung Podomoro Land, sebagai penulis dengan 13 buku sekarang ini, sebagai filatelis dan exhibitor dan sebagi motivator di banyak media.


Siapa bilang disabled tidak bisa apa2???

Jika aku dengan tubuh kiriku saja bisa menjalankan hidup ini, mengapa yang lain tidak bisa (atau tidak mau)? Karena aku sangat percaya, ketika Tuhan masih memberikan kita hidup di dunia ini sampai sekarang, walaupun mungkin kita bermasalah dengan fisik kcacatatn atau apapun yang ada dari kita, berarti TUHAN MASIH PUNYA RENCANA UNTUK KITA ……

Begitu juga teman2 dan sahabat2 disabled dimanapun. Bahwa ketika Tuhan memberikan kelemahan dan tubuh cacat dan tidak sempurna, Tuhan akan memberikan kelebihan yang kain untuk kita. Karena Tuhan adalah Maha Kuasa dan Maha Adil …….

Jadi, siapa bilang disabled tidak mampu berbuat apa2??

Acara ditutup dengan makan siang bersama, narsis dan foto2 bersama dengan santai, serta pembagian goodybag bagi semua peserta dan tamu2 undangan. Dari total undangan berikut peserta 200 orang, ternyata kapasitasnya lebih dari 250 orang!

Puji Tuhan …..


Berfoto bersama sebagian Yayasan Agung Podomoro Land dan teman2 disabled …..


Tim inti dan panitia even “Disability Awareness Week Session 2 – Central Park” :
Valentino, Francisca, Dian, Patrisia, Narti dan Hans
***
“Disability Awareness Week Session 2”, ini, jika Tuhan berkenan akan dilanjutkan di sesi ke-3, ke-4 atau ke-5. Semuanya tergantung dari kepedulian dan karya nyata kita semua. Bahwa teman2 disabled itu tetap warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, tetapi mereka juga membutuhkan kepedulian.

Jika tidak ada yang peduli pada mereka, bagaimana mereka mampu untuk melakukan nya? Karena memang mereka membutuhkan bantuan, termasuk juga aku, sebagai bagian dari kaum disabilitas.

Dan bantuan itu bukan hanya sekedar berupa kepedulian saja, tetapi "karya nyata" untuk membawa teman2 disabled mampu belajar dan berkarya, bagi dunia …..


Dengan ibu Eva Kristanti, Manager Bassura City Mall dan tim nya, tempat aku mengadakan even “Disability Awareness Week Session 1 – 23 April 2017.

Rabu, 14 September 2016

‘Barang Jadul’ vs Teknologi Satelit, Nyambungkah?

Rabu, 14 September 2016 - 0 Comments



By Christie Damayanti


Bank Rakyat Indonesia. Jelas2 BRI merupakan bank milik rakyat Indonesia. BRI ingin selalu merangkul rakyat Indoesia, padahal Indonesia sangat besar! Dari sekitar 13 ribu pulang sepanjang Nusantara, tentulah tidak gampang untuk siapapun menjangkau Indonesia.

BRI adalah sebuah bank yang ternyata mempunyai keinginan yang sangat luar biasa. Dalam kenyataannya, Direktur Utama BRI, Sofyan Basir, berinisiatif untuk mengembangkan teknologi satelit untuk bisa menjangkau seluruh lapisan masyaraat Indonesia, yang pastinya semakin besar nasabah bisa menjangkau bank ini, walau di ujung hutan Papua …..

Sekaligus, teknologi satelit ini untuk mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi Ekonomi Asean (MEA). Teknologi satelit BRI ini, dinamakan BRIsat.

Dengan konsep ini, pastilah tejadi banyak kerjasama2 dengan banyak instansi. Tidak gampang untuk “memperkenalkan” sebuah teknologi, yang nama ‘satelit’ pun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak pernah mendengarkannya. Sehingga, ketika BRIsat diluncurkan, promosi2 terus juga di luncurkan, lewat apapun, untuk memberikan informasi2 yang selengkap2nya untuk seluruh masyarakat dunia!

Salah satunya, lewat PT Pos Indonesia.

Mengapa Pos Indonesia yang (salah satu) dipilih oleh BRI, untuk mempromosikannya?

Sebenarnya, aku tidak tahu secara pasti, tetapi menurutku sendri sebagai filateli, Pos Indonesia merupakan bagian terkecil untuk memberikan infomasi secara menyeluruh lewat prangko. Dan prangko adalah system terkecil yang bisa dilihat, untuk berkomunikasi lewat surat …..

Aku tidak tahu, apakah ini benar atau salah. Tetapi yang jelas, pada kenyataannya prangko sangat tepat untuk mempromosikan. Selain bisa dilihat dan di pegang, prangko ada di setiap kota sampai ke desa2 Indonesia. Harganya sangat terjangkau. Bukan hanya untuk mengirim surat, tetapi juga bisa dijadikan hadiah dan benda2 koleksi.

Dengan adanya BRIsat, menurut yang aku baca dari berbagai referensi, ternyata pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan, semakin meningkat.
***
Selesai ah …. dengan cerita tentang BRIsat nya. Hanya informasi, mengapa Pos Indonesia bekerjasama untuk mendesain prangko seri satelit, sesuai dengan yang aku pikirkan.


  
Full sheet prangko dan souvenir sheet

Sekarang, bagaimana dengan kerjasama antara BRI dengan Pos Indonesia?

Seperti yang aku sudah tuliskan diatas, Pos Indonesia merupakan salah satu instansi yang memang mampu untuk ‘membawa’ BRIsat melanglang buana untuk merangkul indonesia kearah yang lebih baik. Pos Indonesia mempunyai 6 desain prangko seri satelit, masing2 dengan nominal 4000 Rupiah, sehingga total dalam 1 full-sheet seharga 96.000 Rupiah.

Hmmmmm …..

Mungkin untuk sebagian orang, harga ini cukup mahal untuk sebuah full-sheet, tetapi ketika kita berkomitmen untuk menjadikan prangko Indonesia sebagai ‘tuan rumah’ di negara sendiri, nilai tersebut bukan sebagai sesuatu yang  memberatkan, toh prangko ini memang sebagai tanda bayar komuniasi melalui surat menyurat.

Dari desainnya, Pos Indonesia benar2 memberikan sensasi teknologi. Satelit adalah sebuah teknologi, dan kontras dengan keberadaan sebuah prangko.

Secara ‘seni’, warna biru keungu2an memang bisa melambangkan ‘langit biru’, tetapi dengan warna keunguan, langit biru menjadi keunguan seperti memasuki dunia yang lain. Dunia ‘keluar dari langit biru’, menuju luar angkasa ……


Sampul Hari Pertama (SHP) seri satelit

Dan secara esensi keserasian, antara prangko dan teknologi sebenarnya akan sedikit aneh bagi beberapa orang diluar sana. Tetapi disinilah letak ‘keserasian’nya.

Ya …. Dalam hal ini, prangko dipandang sebuah benda jadul,  yang hanya bisa dipakai untuk membayar komunikasi lewat surat menyurat. Benda jadul ini, ternyata berkolaborasi dengan teknologi super modern. Sebuah ironi sebenarnya, jika kita sadar bahwa ternyata kolaborasi antara prangko sebagai benda jadul, dengan teknologi satelit, hasilnya adalah keserasian.

Dalam hal ini, Pos Indonesia terus berinovasi untuk mengkolaborasikan banyak hal, sehingga konsep komunikasi yang sangat sederhana pun (yaitu surat menyurat), bisa tetap sejajar dengan komnikasi tingkat luar biasa modern!

Aku sendiri tidak tahu dengagn persis, benda2 apakah yang berada dalam desain prangko seri satelit ini. Tetapi yang aku tangkat, dunia satelit membuat prangko2 sebagai benda jadul, mempunnyai efek dan sensasi tersendiri.

Seri satelit saat ini (di beberapa tahun sebelumnya ada beberapa desain seri satelit Indonesia dalam prangko), pastinya tetap ada desain SHP (Sampul Hari Pertama)nya, SS (souvenir sheet) atau turunannya yang lain.

Nantinya di launching seri satelit ini akan ada di Gedung Sate di Bandung pada tanggal 27 Sepember 2016. Dan semuanya akan di distribusi kan untuk seluruh Indonesia sampai ke pelosok2, dan bisa sebagai alat bayar berkomunikasi lewat surat menyurat, atau sebagai benda2 koleksi, untuk filatelis2 seperti aku.

Sekarang,

……. aku tidak pernah sabar untuk menantikan penerbitan seri2 baru prangko indonesia ……. !!!


Menunggu sampai tanggal 27 September 2016? Ga sabarrrrrr ….. hihihi …..

Selasa, 17 Februari 2015

Berkeliling di Kota Tua Zurich, di Swiss

Selasa, 17 Februari 2015 - 0 Comments



By Christie Damayanti
1424153904212797131
Dokumen pribadi
Sebelumnya :




Sedikit bingung, ketika petugas travel di Central Travel di Zurich itu menawarkan berbagai jenis tour keliling kota. City Seeing Zurich. Karena Zurich terdiri dari daratan dan danau, City Seeing Zurich ada 3 jenis tour : dengan bus wisata, dengan kapal wisata dan dengan bis serta kapal wisata. Dan kesemuanya itu juga banyak perusahaan yang menawarkannya, sehingga lengkaplah kebingunganku …..

Masalahnya, mereka mungkin sudah ‘bersatu’, dari perusahaan A, tidak sampai ke tempat A, tapi ke tempat B. Atau dari perusahaan C, hanya ketempat C saja. Sementara, aku ingin membawa anak2ku benar2 melihat kota Zurich untuk membuka wawasannya.

Belum lagi harganya, berbeda2 dan masing2 menonjolkan yang terbik, sesuai dengan harganya. Hmmmm ….. mungkin 30 menit aku berdiskusi dengan petugas itu, seorang bapak tua yang ramah, dan tidak marah ketika aku banyak bertanya. Sayang, dia tidak fasih berbahasa Inggris. Dia menggunakan bahasa Prancis, sehingga sering kali kami hanya tertawa bersama ketika masing2 tidak mampu menguraikan apa yang kami maksud …..

Akhirnya, aku memutuskan membeli 3 tiket keliling kota Zurich. Pertama kami akan menyusuri kota dengan bus wisata selama 1 jam. Setelah itu, kami akan diturunkan ke tepi Danau Zurich ( Zurich Lake ) dan kami akan berkeliling danau dengan kapal pesiar cantik! Hihihi ….. ga papa kan, sekali2 ingin bergaya ‘orang kaya?’

Tour itu mulai jam 10.00 dan waktu itu baru jam 9.30. Sehingga kami masih mempunyai waktu untuk bersantai sejenak, yang dimanfaatkan anak2ku untuk bermain, berlari2, dan berteriak2 sambil tertawa. Maklum, kami berada di ruang terbuka pagi, dengan matahari bersinar cerah, dan udara dingin yang nyaman. Ditengah2 kota Zurich, tetapi berada di Limmatstrasse, bersentuhan langsung dengan pepohonan dan taman cantik, secantik kota itu.

Jam 10.00 tepat, bus berangkat membawa kami, para wisatawan. Bus wisata itu sangat cantik, dengan interior yang menawan. Hmmmm … tidak sia2 aku membayar 39 Franck Dollar dengan fasilitas seperti ini. Aku sangat bersusah payah untuk naik ke dalam bus, karena tangganya cukup tinggi dan sempit. Tetapi dengan dibantu Dennis dan supir bus itu, aku berhasil masuk dan duduk di paling depan, tempat disabled. Senang sekali, karena dengan jendela besar dan bening seperti ini, membuat aku bisa mengeksplorasi merekam suasana dan pemandangan Zurich yang cantik …..

Aku siap dengan 2 kameraku. Yang pertama, khusus yang aku cari untuk peganganku yang susah dengan tangan kiri tetapi mampu merekam pemandangan sampai perbesar 24x dan bisa meng-capture landscape dengan sangat indah! Ga kalah dengan fotografer professional!

Kamera ku yang lain, aku serangkan Michelle untuk mengabadikan kami, terutama aku ( hihihi … dasar narsis ). Aku pun selalu mengabadikan kegiatan anak2ku selama ini. Sedangkan Dennis, dia mempunyai peralatan DLSR dengan perlengkapannya, bak fotografer professional …

Pertama kami keliling kota Zurich, pemandu nya adalah ear-phone, yang terdiri dari 20 bahasa di dunia. Sayang, Bahasa Indonesia tidak termasuk didalamnya. Jadi, kami mengambil yang berbahasa Inggris. Di beberapa tempat, bus itu berhenti agak lama, dan kami bisa keluar untuk sejenak berfoto dan di 1 tempat itu, kami bisa  menikmati the atau kopi, jika cafe2 yang ada tidak terlalu penuh.

14241539951337120034
Dokumen pribadi
142415402597314174
Dokumen pribadi

Zurich City yang cantik …. Tidak banyak kendaraan. Mereka umumnya menggunakan trem. Lihatlah, trem ‘merajai’ kota. Bahkan jalan raya kendaraan bersaing dengan rel trem. Mereka mempunyai sistim menejemen kota yang dapat di komprehensifkan dengan angkkutan missal mereka.

Hanya di perempatan2 besar saya, ada lampu merah. Selebihnya tidak. Dan antara trem dan kendaraan pribadi, menurut yang aku baca sebagai referensi, jarang terjadi tabrakan antara trem dengan mobil …..

Jendela bus wisata ini, ‘memaksa’ aku untuk trus berkutat dengan kamera, sambil mendengarkan pemandu wisata lewat earphone. Kota tua yang indah. Dan aku merekam semuanya, untuk sebuah referensi, jika suatu saat aku mempunyai kesempatan lagi untuk berdiskusi dan mendesain lingkungan yang nyaman dan apik di Indonesia, khususnya Jakarta.

Keliling kota Zurich membawa aku melayang dengan keindahannya. Kota tua Zurich sejak abad 15, itu sangat cantik. Bangunan2 khas Swiss, memang berbeda dengan bangunan2 negara Eropa yang lain. Dan Munsterhof Square dengan bangunan2‘Guild House’, seakan membawa aku berkelana ke cerita2 ‘Album Cerita Ternama’, jaman kecil dulu …..

14241542181942995354

(Wikipedia) Munsterhof Square, Zurich

Di Munsterhof Square, kami turus beberapa saat, sambil menikmati secankir coffee dan berfoto2 narsis. Tempat yang cantik, apik dan sangat nyaman. DenganAugustinnergasse, sebuah jalan tua disana, dengan bendera2 Swiss, itu membuat kami para wisatawan jatuh cinta pada panddangan pertama …..

1424154278573871125
1424154333303157635
Dokumen pribadi
Michelle di Munsterhof Square, Zurich dan di Augustinnergasse
14241543631232341254
Dokumen pribadi
Gereja Fraumünster , di Munsterhof Square

Kota Zurich memang tidak besar. Dalam 1 jam saja kami bisa berkeliling sampai masuk2 kejalan kecil, untuk bisa melihat kehidupan Zurich pada jam2 sibuk.
1424154419740671208
Dokumen pribadi
14241544591222126074
Dokumen pribadi
Kehidupan Zurich di jam2 sibuk pun tidak terlalu ramai, kecuali di pusat kota dan tempat wisatawan. Tetapi pada prinsipnya, Zurich City dengan penduduk tidak lebih dari 390.000 orang dengan luas 87,88 km2, membuat kota ini sangat nyaman sebagai kota wisata di Swiss.

Kami beranjak lagi dari tepi kota, menuju ke Danau Zurick, dimana kami akam diturunkan dsana untuk berkeliling dengan kapal pesiar cantik. Walau aku enggan ‘berpisah’ dengan kota tua Zurich, jujur aku juga tidak sabar dengan berkeliling di Zurich dengan kapal pesiar …..

Rabu, 26 November 2014

Hari Kedua di Zurich : Hidup itu Sangat Singkat …..

Rabu, 26 November 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

1416988493857340485

Limmastrasse, Zurich, di pagi hari yang mendung …..

Sebelumnya :

Ketika Mukjizat Tuhan Datang Tepat Pada Waktunya …..

Hari kedua di Zurich …..

Sejak masih di Jakarta, aku memang sudaah merencanakan untuk tour di beberapa tempat di Swiss, secara ini adalah ke-3 kalinya aku kesana. Dan aku ingin membawa anak2ku bisa menikmati apa yang aku pernah alami. Membawa anak2ku dalam kebahagiaan keluarga …..

Hari ini, setelah makan pagi di Migros, sebuah fasilitas perkantoran dekat dari HOTEL tempat aku menginap, yang terdapat banyak cafe2 cantik. Dan pilihan kami hanya 1, di cafe yang menjual makanan2 yang anak2 suka. Seperti kentang goreng, hamburger, hotdog, pastries, sosis, nugget, dan sebagainya. Bukan karena itu saja, tetapi hanya cafe itu yang menerima kartu kredit tanpa pin, seperti yang aku ceritakan di link diatas …..

14169885421385030566

Migros, fasilitas perkantoran disekitar tempat itu, yempat makan favorit kami ….. ( foto diambil di hari pertama siang, di Zurich )

Dengan berbekal peta, kami mulai mencari titip point wisata, yang kata petugas HOTEL berada di ujung jalan Limmastrassee, tempat hotel kami berada. Aku di dorong Michelle, dan seperti biasa, Dennis sibuk memotret apa yang dia inginkan.
Pagi itu aku memang sengaja datang pagi, untuk mencegah ‘kesasar’ dan ingin membeli beberapa tiket tour sampai beberapa hari kedepan.

Burung2 masih banyak berkicau, di kota yang sejuk dan damai ini. Bukan hanya sejuk, tetapi wakru itu masih cukup dingin, seperti di Amsterdam. Padahal, itu akhir Juni, ’summer time’, dimana seharusnya udara sudah panas, atau paling tidak, sejuk.

Aku bernyanyi2 riang dan bercanda dengan anak2ku. Saling meledek, tertawa nyaring, tanpa memperdulikan orang lain. Hari itu adalah pertengahan minggu, dimana warga disekitar kami, bergegas menuju ke pekerjaan mereka. Dan sepertinya, hanya kami beriga yang wajahnya berseri2 dalam eforia wisata, sementara yang lain, berwajah serius dan berjalan tergesa.

Trem listrik, bolak balik antar jemput warga. Tidak ada, atau jarang telihat mobil. Permukaan jalan pun dilapis aspal, dan dipenuhi alur2 trem listrik itu. Hilir mudik trem, tidak membuat bingung, walau ketika seperti akan bertabrakan, trem2 listri itu sudah mempunyai jalur2nya masing2, dan sangat sesuai dengan waktunya. Sehingga, seppertinya mereka sangat profesional.

14169886291696825627

Pagi basah sehabis hujan, di Zurich …..

Kami melewati banyak gedung2 perkantoran. HOTEL kami berada di 3 blok ke arah ujung jalan. Cukup jauh, tetapi tidak berasa berjalan jauh, ketika kami melakukannya dengan riang gembira. Sungguh sebuah ironis, ketika kami sangat malas hanya untuk berjalan dari rumah kami di Jakarta ke belakang rumah tempat minimarket, padahal hanya menewati 1 blok saja. Itu karena suasana lingkungan yang tidak ‘bersahabat’, apalagi untukku.

Di blok kedua, kami menemukan taman cantik, Limmastrasse Garden. “Suatu saat aku ingin sekedar bermain disana, mungkin di hari terkhir di Zurich”, pikirku.

3 blok sudah kami lewati, memang ada beberapa stand perusahaan dalam bak mobil terbuka, yang menjual tiket2 tour. Tetapi ternyata masih tutup. Makhlum, masih jam 8 pagi. Tetapi kami pun tetap bercanda bahagia. Apalagi anak2. Ketika kami sudah berada disana, ada 1 titik untuk menunggu, yang dilingkupi kaca bening, menahan angin dingin yang cukup menggigit.

1416988694853702078 

Di ujung jalan Limmastrasse, memang terdapat beberapa stand tour Swiss. Dan wisatawan bisa membeli tiket tour lewat bus, kapal, taxi bakan pesawat disini …..

Aku di dorong kesana, dan Dennis dan Michelle langsung berlari2an. Mereka bermain lempar2 bola kecil, yang mereka temukan disana. Saling berteriak, tertawa2 sambil memanggil2 aku, untuk bermain bersama. Kubilang pada mereka, boleh dorog saja kursi roda mama, dan kita bisa bermain bersama …..

14169887532139413465 

Tempat menunggu, tertutup kaca bening, menahan hembusan angin dingin …..

Menyenangkan sekali. Melihat anak2ku sangat excited menyambut hari. Wajah mereka bersemu kemerahan2an, penuh kebahagiaan. Aku pun demikian, wajahku pasti berwarna merah. Bukan hanya karena penuh kebahagiaan seperti anak2ku, tetpi juga karena aku sedikit kedinginan. Karena wajahku akan memerah jika aku marah, senang, kepanasan ataupun kedinginan …..

1416988806223650752
1416988829691835613

Anak2 terus dan selalu bercanda, membuat hatiku selalu diliputi kebahagiaan …..

Jam 9.00 tepat, masing2 stand perusaan tour disana membukan jendala mobilnya. Tetapi karena hari itu adalah hari kerja sehingga tidak terlalu penuh untuk mendapatkan tiket. Aku diantar anak2ku membeli tiket cukup banyak.

Hari itu, kami ingin city-tour, keliling Zurich. Pertama adalah naik bus besar, keliling kota dan berhenti di tempat2 wisata. Memakan waktu sekitar 2 jam. Lalu dilanjutkan dengan tour dengagn kapal pesiar di Zurich Lake, sebuah danau cantik, terkenal di dunia. Memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Untuk tur keliling kota Zurich dengan bus dan kapal pesiar, masing2 orang menghabiskan 39 Frank Dollar. Jadi, kami bertiga total 117 Frank Dollar. Oya, khusus Swiss tidak memakai mata uang Euro tetapi tetap dari dahulu, memakai Frank Dollar. Satu Frank Dollar dihargai dengan sekitar Rp 13.500, waktu itu. Jadi total kami menghabiskan uang untuk tour keliling kota Zurich sebanyak Rp 1.579.000. Hmmmm ….. hanya total 3,5 jam saja menghabiskan jutaan rupiah. Tetapi, sudahlah ….. memang niat untuk berwisata …..

Tour itu dimulai jam 10.00 tepat. Jam 12.00 kami akan sampai ke tepi Zurich Lake, dimana kami turun, masuk ke kapal pesiar, dan berkeliling Zurich Lake sampai 1,5 jam. Makan siang di kapal pesiar, tetapi harga belum termasuk makan. Jadi, kami masih harus menunggu sampai berangkat. Dan anak2 pun tetap ceria, tanpa peduli harus menunggu lagi.

Aku hanya duduk di tempat tunggu, dan anak2pun masih bermain, entah apa. Aku hanya tersenyum2 saja, ketika dengan manjanya selalu meminta aku bermain bersama mereka. Jika aku sehat, aku akan berlari2 bersama mereka, dan berteriak2 juga bersama mereka.

***
Hidup itu memang singkat. Dan aku meyadari itu. Sampai sekarang pun, kadang aku masih merasakan bahwa anak2ku masih berada dalam gendonganku. Aku timan2 mereka, aku ciumi mereka dan mereka akan tertawa2 sambil berteriak2 kegeilan. Tetapi sekarang aku terus merasakan bahwa sebentar lagi mereka akan ‘pergi’ dariku. Ya … mereka akan mengejar mimpi2 mereka, seperti waktu itu aku terus mengejar mimpi2ku.

Sudah 18 tahun aku hidup bersama Dennis dan 15 tahun dengan Michelle, itu pun aku merasa hidup itu sangat teramat singkat. Jadi, jika hidup kita singkat, jangan perah menyia2kan hidup kita. Peluk lah anak2 kita. Hiduplah dengan mereka dengan sebaik2nya, karena waktu akan melesat pergi, seperti yang aku rasakan sekarang ini …..

Berbahagialah anak2ku ….. mama mencintaimu, dan dan mama akan berusaha untuk terus bermain bersama kalian …..

Rabu, 19 November 2014

Ketika Mukjizat Tuhan Datang Tepat Pada Waktunya …..

Rabu, 19 November 2014 - 3 Comments



 By Christie Damayanti


id.berita.yahoo.com

Seperti mesin debit yang harus memencet pin transaksi untuk pembayaran memakai kartu kredit …..

Zurich, 23 Juni 2014

Karena kami memang berencana hanya beristirahat saja sesampainya di Zurich, sebelum memulai 4 hari full berikutnya mengeksplore Swiss, aku pun beberes barang2 bawaan kami. Baju2 kotor disatukan dalam 1 koper, barang belanjaan juga dirapihkan. Termasuk uang Euro di bereskan, karena sering kalki kembalian belanjaan di selipkan ke tas saja, tanpa masuk ke dompet.

Dan ternyata, sebuah masalah cukup besar aku dapatkan .....

Ternyata aku salah perhitungan, benar2 salah! Kupikir, dengan membawa uang cash cukup banyak dalam Euro yang aku tukarkan di Jakarta, aku bisa 'menghemat' belanja lewat kartu kredit. Ya, semula aku tidak mau berbelanja dengan kartu kredit untuk menghindari hutang bertumpuk serta perhitungan kurs ke Rupiah jika aku harus bayar hutangku. Perhitunganku, bisa untuk belanja souvenir.

Masalahnya adalah, aku dengan seenaknya, membayar tour2 cukup banyak di Belanda kemarin, memakai Euro cash! Seakan2 aku punya cash banyak sekali, sehingga tidak memperhitungkannya ….. Padahal tour ke Volendam, Rotterdam, Delft, Madurodam bahkan ke luar negeri di Brussels ( Belgia ), untuk kami bertiga menghabiskan dana ratusan Euro, cash. Sehingga, cash Euro ku menipis .....

Aku mulai sadar, ketika kami belanja souvenir di Brussels. Dennis dan Michelle ingin membwli kaos2 serta sweater Belgia. Ketika aku mau membayar cash, aku sadar bahwa Euro cash ku sudah mulai menipis, sehingga aku memakai kartu kreditku. Dan ternyata juga, ternyata alat otorisasi kartu kredit di Eropa sudah memakai sistim dengan "pin transaksi". Yang membuat aku terbengong2, karena dari beberapa bank yang mengeluarkan kartu kreditku belum memginformasikan demikian!

Akhirnya, aku tetap membayar cash. Tetapi mulai berpikir bahwa cash ku menipis, padahal waktu itu baru beberapa hari wisata. Jadi aku harus memakai kartu kredit.

Ketika aku menghitung cash Euro ku, ternyata aku hanya mempunyai 500 Euro plus beberapa uang kecil! Astaga! Aku semakin berdebar, ketika kita di Brussels waktu itu, tidak ada toko yang menerima kartu kredit TANPA memakai pin transaksi! Tidak mau hanya tanda tangan, walau menyertakan identitas lewat passport! Mereka menerima karu kredit ku jika aku bisa memencet pin di mesin mereka ( seperti mesin debit atm ).

Masalahnya lagi, kartu kreditku memang baru di upgrade lebih tinggi dengan back up lebih banyak. Dan aku belum menerima "pin withdrawl" untuk ambil uang cash di negara manapun. Padahal aku memang meng-up grade kartu kreditku sesaat sebelum berlibur ini. Sebuah kartu platinum untuk kebutuhan kami yang semakin meningkat. Bukan hanya untuk berlibur saja, tetapi juga berhubungan dengan hidup kami selanjutnya.

Cukup lama aku termangu melihat lembaran2 Euro kami. Berpikir keras, bagaimana mengatasinya. Karena ketika aku menelpon semua bank yang mengeluarkan kartu kreditku, mereka mengatakan bahwa "pin transaksi" di Indonesia, baru bisa dipakai secara resmi tanggal 1 Januari 2015! Dan tidak ada pengecualian, termasuk untukku, walau aku terancam kehabisan uang di Eropa, tanpa bisa aku meminta bantuan kepada siapapun!


creditcard.cimbclicks.co.id

Tidak ada yang mengingatkan ini kepadaku, menurutku seharusnya bank yang mengeluarkan kartu kredit men-sosiaisasikan kepada nasabahnya, apalagi jika nasabahnya memang berencana untuk memakai kartu kredit lebih dari yang biasanya. Apalagi, aku sudah meminta up grade dan kenaikan limit pinjaman untuk liburan ini …..

Bayangkan! Aku hanya sendiri di Eropa, tanpa keluarga. Mama ku sendiri sedang di Amerika, ke rumah adikku disana. Tidak ada yang bisa membantuku, misalnya mengirim uang untuk pinjamanku. Jika hanya beberapa Euro, mungkin aku bisa mengusahakannya. Tetapi jika 2 minggu lebih masih harus kami lalui di Eropa, bayangkan, berapa ribu Euro yang harus aku cari untuk menutupinya?

Ditambah lagi, jika pun ada seseorang bisa meminjamkan uang sebenyak itu, harus dikirim lewat mana? Jika aku menetap, bisa diusahakan lewat jasa pengiriman uang. Jika tidak? Merekapun tidak bisa menerimanya. Pun jasa pengiriman uang itu, jauh dari Zurich, yang norebene aku harus naik taxi, dengan dana yang minim, karena cash ku semakin menipis ( jika semuanya gagal ). 

Mitra kerja papa almarhum, sebenarnya susah mengiyakan untuk meminjamkan kami uang, tetapi dia bingung untuk mengirimkan kemana. Valentino pun mencari akal untuk membantuku. Alhasil, seharian dengan menelpon kesana kemari, aku menghabiskan pulsa sekitar 9 juta ( Zurih – Jakarta saja ), yang seharusnya tidak ada dalam pengeluaran bulananku! Beruntung, aku memakai kartu pasca-bayar untuk telp ku dan dibayar bulanan lewat kartu kreditku. 

Aku sangat gamang dengan keadaan ini. Kami, berada di Eropa, kehabisan dana tanpa ( mungkin ) bisa memakai kartu kredit. Dengan 500 Euro, bagaimana kami harus hidup? Untuk makan saja, bertiga bukan makanan mahal, sekali makan adalah 50 Euro. Gamang. Anak2 tidak mungkin membantu dan tidak ada yang bisa melindungiku ( kami ) .....

Rencana kami ( khususnya aku ) beristirahat, justru aku menjadi stres dan tidak tahu harus berbuat apa. Anak2 hanya bisa prihatin, dan mereka terluhat mulai sedih. Kasihan mereka dan mereka tidak bisa membantu apa2.

So? What?

Sesaat aku melihat wajah anak2ku yang ikut prihatin, tiba2 pacaran Roh Kudus bersinar dari hatiku .....

Tiba2 aku yakin, bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Seketika itu pun, aku mendadak ceria. Aku yakin, Tuhan berada di pihakku! Bagaimana cara mengatasinya? A u ah gelap! Santai saja!

Aku memanggil anak2ku, mendekat padaku. Aku memeluk mereka sambil ku katakan pada mereke keadaan kami. Aku harus mengirit pengeluaran, walau untuk mengirit pun, cash kami tidak cukup. Aku hanya menyakinkan, bahwa kami akan baik2 saja. Tuhan akan menjaga kami.Jangan takut ….

Sehingga malam itu, kami keluar hotel untuk mencari makan malam. Ada foodcourt fasilitas perkantoran disekitar hotel kami. Kami berjalan kesana. Melihat2, mau makan apa. Aku bersiap untuk sebuah 'pembayaran'. Aku bertanya pada kasir, apakah boleh memakai kartu kredit tanpa "pin transaksi?". Beberapa cafe mengatakan tidak bisa. Tetapi ada sebuah cafe, yang bisa memakai kartu kredit TANPA "pin transaksi". Puji Tuhan!

Sekali lagi, aku memastikan untuk bisa membayar, dan kasir itu tersenyum dan memastikan AKU BISA MEMBAYAR! Jadi, anak2 senang, apalagi cafe itu menyediakan makanan2 kesukaan anak2. Kentang goreng, sosis, sandwich, pastry, kue2 dan cake, pizza, dan sebagainya. Puji Tuhan! Setidaknya, kami tidak kelaparan di Zurich dan bisa mengirit untuk sesuatu yang memang harus membayar cash!

Puas dengan mukjizat nya, bantuan Tuhan tepat pada waktunya! Ketika di Brussels, tidak ada yang menerika kertu kredit tanpa "pin transaksi", di Zurich masih ada yang menerimanya. Ini memang hanya untuk makan. Masalah masih terbentang luas. Waktu berlibur masih lebih dari 2 minggu lagi sebelum pulang ke Indonesia. Belum harus bayar taxi, tour, dan yang lainnya. Apakah mereka juga mau menerima kartu kredit tanpa "pin transaksi?" ... 

Aku tidak tahu! Dan aku belum mau memikirkannya! Karena aku sangat yakin, bahwa Tuhan akan selalu mengiringi dan membantuku. Semuanya pasti tepat pada waktunya! Aku hanya terus berusaha sambil berdoa untuk Tuhan terus menerangi jalan kami. Percaya dan berserah untuk mukjizat Tuhan …..

Inilah kesaksianku!

Aku, seorang perempuan disabled dengan lumpuh 1/2 tubuh kanan, dan otakku pun cacat, susah untuk berpikir keras dan berat, JIKA Tuhan tidak aku panggil untuk terus mengiringi langkahku, PASTI aku tidak mampi apa2!

Tetapi kepercayaanku pada Tuhan, senantiasa terus membuat mata hatiku yakin, bahwa walau aku sebenarnya tidak bisa melakukan apapun dengan masalahku waktu itu, aku tetap percaya, bahwa semuanya akan terselesaikan TEPAT PADA WAKTUNYA .....

*Mungkin banyak orang yang membaca ini, akan merasa aku lebay dengan masalahku. Tetapi jika mereka berada di posisiku waktu itu, berada di tempat yang jauh dari rumah, tanpa uang, tidak tahu harus meminta atau meminjam kepada siapa, dan mereka sepertiku dengan keterbatasan secara fisik, mungkin mereka dapat merasakanya ….


Bahwa kepekaan hati untuk sebuah mukjizat Tuhan, harus tetap tumbuh untuk sebuah penerimaan diri sebagai manusia yang selalu membutuhkan Kasih Tuhan dalam menjalankan hidup ini …..

Selasa, 18 November 2014

Selamat Datang di Swiss, Selamat Tinggal Belanda …..

Selasa, 18 November 2014 - 0 Comments





 By Christie Damayanti



Setelah makan malam yang menyenangkan dan makanan2 yang yummy, kami menuju ke rumah Arie dan Clara, sebentar untuk menyambanginya. Rumah keluarga yang siang tadi kami datangi, adalah rumah untuk bersantai, di tepi Zaan River. Arie dan Clara menempati rumahnya sendiri, dan Maria serta keluarganya pun menempati rumahnya sendiri.

Arie dan Clara menyilahkan kami masuk, untuk sekedar minum teh hangay, karena udara terus mendingin. Hampir jam 10.00 malam, dan matahari mulai turun. Tetapi sinarnya masih menerangi bumi Belanda, terutama di tempat kami ada waktu itu. Seperti sinar matahari jam 5.00 sore. Dan kami masih merasa excited melihatnya, walau tubuh kami mulai letih, terutama Michelle yang siang tadi berenang di sungai.

Arie langsung memperlihatkan beberapa koleksi prangko dan benda2 filateli nya. Dia memang filatelis besar Eropa dan temanya sangat rumit untukku. Tentang perjalanan postal, terutama perjalanan pos Belanda ke Indonesia atau sebaliknya, sejak jaman kolonial Hindia Belanda. Wow! Sebuah tema sangat besar, dimana aku tidak akan mampu melakukannya! Dari harga yang harus aku keluarkan, sampai cerita sejarah yang harus aku riset dan terus menerus aku pelajari. Dan Arie adalah salah satu pakarnya .....


Salah satu koleksi Arie

*Pantesan saja, Arie lebih tahu banyak tentang sejarah Indonesia ( khususnya jaman Hindia Belanda ), jauh dibanding aku.

Karena sudah malam dan jam 7.00 pagi kami harus berangkat ke bandara untuk terbang menuju Zurich, kami hanya sekitar 30 menit di rumah mereka, setelah aku srmpat melihat2 koleksinya dan ... sungguh, aku benar2 terkagum2 dengan ratusan album Arie. Apalagi dengan prangko2 jaman pemerintah colonial Hindia Belanda di Indonesia, terutama prangko2 yang sungguh amat langka! 




Michelle pun sudah tertidur di sofa empuk mereka, ketika kami berpamitan untuk pulang ke hotel kami. Waktu sudah menunjukan sekitar jam 11.30 malam, ketika kami sampai di hotel.  Cipika cipiki dengan Arie, dia memeluk kami dan berpesan, akhir tahun 2014 dia akan ke Indonesia lagi untuk bisnisnya dan akan mampir ke rumah kami. Dan hari terakhir ini, di hari ke-5 di Belanda, kami merasakan kebahagiaan yang luar biasa, untuk oleh2 kami menuju ke negara ke-3 lawatan kami di Eropa Barat, Swiss .....


Clara, aku dan Arie, di depan rumah mereka di Castricum, Noord Holland

***
Jam 7.00 pagi, taksi besar sudah menjemput kami untuk menuju bandara. 3 koper besar, 3 koper kecil dan masing2 tas tangan serta kursi roda, kami siapkan di lobby hotel. Dan segera kami berangkat ke bandara.

Pelayanan bandara terhadap disabled seperti aku memang luar biasa! Justru sangat luar biasa, membuat aku menjadi sangat 'terkukung'. Kami dipersilahkan duduk di vip untuk menunggu petugas yang mengantar kami menuji pesawat. Dimana aku sangat ingin survey bandara dan melihat2 toko2 butik di bandara. Padahal juga, waktu boarding masih cukup lama. Sehingga aku sangat geregetan dibuatnya. 

Tetapi karena bandara Schipol memang sangat besar, dimana kami harus melewat beberapa pemeriksaan dan aku berada di atas kursi roda serta ada 3 koper cabin yang harus dibawa Dennis ( Michelle mendorong kursi rodaku ), aku harus tahu diri untuk tidak mengikuti kata hatiku tentang survey dan foto2.  Jadilah aku berdiam diri saja, sambil mencari sumber wifi untuk sekedar googling atau menyapa teman2 di Facebook, lewat iPad ku yang aku bawa di Jakarta.

Kami sarapan yang ada disana, terdekat dari ruang vip bandara. Tidak ada apa2, hanya sebuah bakery. Dan kami memesan beberapa sandwich dan 3 minuman hangat karena udara pagi masih terlalu dingin. Dan pastilah keju2 kecil yang aku suka, untuk sekedar snack ringan selama di perjalanan …..


Zurich Airport

Seperti yang aku ceritakan di beberapa minggu lalu tentang perjalanan kami ini, sebenarnya untuk berkeliling di banyak negara di Eropa, tidak lah memakai pesawat terbang. Apalagi negara2 Eropa tidak besar dan berdempetan satu dengan yang lain, sehingga perjalanan wisata dan tugas2ku ke Eropa beberapa kali tahun2 lalu, aku biasa mengendarai kereta, bus atau taxi. Dan pesawat adalah pilihan terakhir, dimana alasannya adalah tidak adanya tenaga porter dimanapun, sehingga kasihan anak2ku yang akan dan harus mengurusi kopeer2 kami dan aku sendiri hanya duduk nikmat di atas kursi roda …..

Perjalanan ke Eropa ini pun, sepertinya menjadi perjalanan yang ter’mewah’. Bukan karena aku harus mengeluarkan biaya besar karena membeli tiket dan hotel2 mewah, tetapi dengan selalu berkendara pesawat, berarti kami harus membayar jauh lebih mahal!

Tiket Jakarta – Amsterdam – Zurich – Paris – Roma – Jakarta, aku harus membayar 1.950 US Dollar / per-orang, sementara waktu aku membeli tiket liburan ini di awal tahun 2014, harga tiket Jakarta – Amsterdam – Jakarta, sedang promosi, yaitu sekitar 8,5 juta Ruiah saja. Padahal, harga tiket kereta atau bus, bahkan taxi yang lebih mahal sekalipun, tidak akan semahal berkendara pesawat.

Ya, aku memang sudah memikirkan semuanya dengan keterbatasanku ini. Karena dengan aku tidak mampu melakukan seperti seorang yang normal, aku harus bisa menabung lebih untuk ini. Dan aku sudah menabungnya sejak 3 tahun lalu untuk perjalanan kali ini, semuanya untuk anak2ku …..

Dan aku sangat menikmatinya. Sebuah perjalanan dambaanku, hanya bertiga dengan anak2ku. ‘Quality Time’, yang aku dapatkan bersama dengan anak2ku, sangat luar biasa! Dan Tuhan sudah merancangkannya untuk kami, sesuai yang juga aku rencanakan, puji Tuhan ….. terima kasih, Tuhan …..

***
Perjalanan berkendara pesawat terbang dari Amsterdam ke Zurich hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja. Tetapi justru dari hotel di Amsterdam ke bandara Schipol, lalu dari bandara Zurich ke hotel di Zurich, itu lah yang justru memakan waktu lebih lama. Dan taxi nya pun khusus dengan 3 koper besar, 3 koper kecil serta kuris roda, harus memakai taksi besar dan membayar lebih mahal.

Dari bandara Schipol ke hotel di Amsterdam atau sebaliknya untuk biaya taxi, aku harus mengeluarkan uang sekitar 60 Euro x 2 ( waktu itu 1 Euro sekitar 16.000 Rupiah, sehingga aku membayar sekitar 120 Euro = 1.920.000 Rupiah ). Begitu juga dari bandara Zurich ke hotek X-Tra di Limmastrasse, aku harus membayar sekitar 55 Euro ( Untuk pulang ke bandara, 2x 55 Euro = 110 Euro x 16.000 = 1.760.000 Rupiah). 

Hmmmmm ….. jika harus mengeluarkan uang banyak seperti ini, aku sangat merasa tidak rela, tetapi kami sudah niat untuk melakukan perjalanan ini. Jadilah, dengan senang hati aku membuka dompetku untuk membayarnya …..

  




Hotel X-Tra, dan anak2 di lobby hotel bintang 3 itu …..

Kami menginap di Hotel X-Tra bintang 3, di jalan Limmastrasse. Lewat travel & biro sahabatku di Jakarta, aku harus membayar sekitar 100 Euro tanpa sarapan. Sebuah harga yang bagus untukku. Karena pun hotel hanya untuk tidur dan sehari2 kami selalu berjalan2 sesuai dengan tujuan wisata kami. Jadi, dengan membayar dimuka sebanyak 4 hari x 100 Euro.
 




 Karena hotel ini binang 3, lingkungannya tidak terlalu bagus. Dan karena aku menempati kamar di lantai 4, pemandangannya hanya sebatas perkantoran local ddngan fasilitasnya …..

Jam 2 siang kami sudah berada di kamar hotel kami dan beristirahat full day. Mempersiapkan perjalanan kami di Swiss sampai ke puncak Titlis yang mempunyai salju abadi. Dan sksn menuju sebuah negara salah satu yang terkecil di dunia, Liechtenstein dengan ibukota Vaduz, serta ingin sekali aku menapaki rumah2 khas Swiss, tempat dimana ( konon ) Heidi dengan kakeknya bertempat tinggal …..

Kami harus mengistirahatkan tubuh kami ini, untuk sebuah perjalanan baru. Dari 5 hari di Belanda, sekarang kami akan menjelajahi Swiss selama 4 hari.






Salah satu titik pandangan dari kamar kami di lantai 4, X-Tra Hotel …..

Selamat datang di Zurich ……

Sebelumnya di Belanda :





































































Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks