Artikel Terakhir
Tampilkan postingan dengan label transpotasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label transpotasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Kualitas Jalan Layang Casablanca? ‘Au Ah Gelap’….

Selasa, 28 Januari 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

13908914411474749198

Sebelumnya :




“Memang cuma jalanan yang rusak akibat terendam hujan???”

Ternyata, ga tuh! Jalanan ( baru lagi ) di jembatan layang Casablanca, yang notebene tidak terendam hujan, ternyata sekarang ( belum 1 bulan lho! ) banyak lubang2 yang semakin besar dan aspal2 yang tergerus roda2 kendaraan. Hehehe ……

Semalam, aku fokus memperhatikan ‘pasca banjir’. Dari kantor, yang biasanya aku fokus ke iPad di mobil sementara tidak peduli dengan kemacetan atau apapun yang ada disekitarku, kemarin aku benar2 fokus di sekelilingku. Jalanan2 yang masih kotor karena sampah banjir, jalanan dan aspal2 yang rusak karena banjir, pengungsi2 yang masih banyak, dan sebagainya.

Biasanya, aku tidak peduli, supirku mau lewat mana dari kantor ke rumah. Pokoknya sampai, begitu konsep pikirku. Jadi, tidak peduli. Mau lewat tol atau non-tol. Mau lewat arteri sebelah tol atau lewat Tanah Abang, atau lewat Menteng, terserah saja, kecuali ada permintaan dariku senfiri untuk melewati jalanan tertentu.

Kemarin aku memang minta supirku untuk melewati Tanah Abang, langsung ke jalan layang Casablanca, Lapangan Roos sampai Tebet. Aku memang ingin tahu keadaan jalan layang Casablanca yang aku tuliskan beberapa kali di Kompasiana ( lihat LINK di atas artikel ini ). Baru naik kesana dari depan Hotel Le Meredien, sekitar 100 meter mobilku seperti berjalan di sawah! Grunjal2, dan lubang besar2 serta aspal tinggal ‘tulang’ nya saja! Astagaaaaa ……

“Jelek amat jalannya, ya bu? Gimana sih yang buat?”

139089147854182249

Coba perhatikan foto diatas :

Permukaan jalan tidak rata, tidak ’smooth’, bergelombang dan beberapa titik  berlobang2 kecil, 
yang sekarang semakin besar …..

( Foto diambil sesaat sebelum pembukaan / 30 Desember 2013 : www.megapolitan.kompas.com )

Itu kata supirku. Khas warga awam. Aku sih tidak bisa tersenyum, karena berjalan diatas mobil seperti di sawah seperti ini membuat kepalaku berputar. Maklum, otakku kan sudah cacat yang tidak bisa menerima keadaan fisik seperti ini. Supirku sudah mengerti, dan dia berjalan dengan sangat perlahan supaya tidak terlalu ‘grunjalan’ yang membuat kepalaku berputar …..

Sayang, aku tidak sempat memotretnya secara detail ( karena juga sudah gelap, sekitar jam 20.00 ) karena kepalaku yang memang berputar, tetapi aku benar2 melihatnya. Dari awal sekitar di atas jalan Sudirman, sampai hampir turun dekat Mall Kota Kasablanka. Memang tidak seluruhnya, aspal yang tinggal ‘tulang / beton’ nya dan lubang2 yang menganga, siap mencaplo korban …..

Tetapi, SANGAT TIDAK MASUK AKAL, sebuah jembatan kebanggaan kota Jakarta, yang sebenarnya bisa menjadi media melihat2 keindahan kota dan skyline pencakar langit, tetapi tidak dibarengi dengan kualitas pekerjaan yang semestinya ( lihat tulisanku Baru Diresmikan : “Jalan Baru koq Grunjalan, ya?” )…..

Sekilas ‘cerita’ tentang penutup jalan yaitu ASPAL :

Disebut Lapisan Permukaan ( Surface Course ), merupakan lapisan yang ersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan. Fungsinya adalah :

1.       Menahan langung beban roda kendaraan
2.       Menahan gesekan akibat rem kendaraan
3.       Mencegah air hujan yang jatuh diatasnya dan  tidak meresap ke lapisan dibawahnya
4.       Menyebar beban ke lapisan dibawahnya

Kelebihan aspal adalah :

1.       Jalan lebih MULUS, HALUS DAN TIDAK BERGELOMBANG serta nyaman untuk berkendara. Tetapi bagaimana dengan kenyataannya? Aspal hanya sekedar SEREMONI sebuah jalan baru ( jalan layang Casablanca ) kebanggaan Jakarta!

2.       Berwarna hitam adalah untuk mempengaruhi psikoogis pengendara untuk merasa teduh dan nyaman

3. Aspal memang lebih murah dari pada jalan beton. Tetapi jika jalan layang Casablanca ( yang adalah sudah merupakan ‘jalan beton’ ) dan melapisinya lagi dengan aspal, apakah itu menjadi sebuah PEMBOROSAN?

Ok lah jika aspal dibutuhkan untuk sebuah kenyamanan, secara jalan ini merupakan salah satu kebanggan Jakarta. Tetapi jika aspal ini menjadi permasalahan besar? Buat apa? Itu benar2 PEMBOROSAN!

4.       Proses perawatannya memang lebih mudah dibanding dengan  beton. Hanya area yang rusak saja yang diperbaiki / ditambal

Kekurangan jalan aspal :

1. Memang tidak tahan terhadap genangan air. Sehingga saluran DRAINASE HARUS BAIK untuk proses pengeringan yang cepat

2.       Jika struktur atau lapisan dibawah aspal itu buruk, sebaiknya harus diperbaiki dulu sebelum mengaspalan kembali

Jika jalan ini ( selintas hanya permukaannya saja, tetapi bisa saja kualitas dibawahnya juga buruk ) sejak pertama kali sudah bermutu buruk, sebenarnya salah siapa?

Untuk orang2 yang awan dalam masalah ini, mungkin hanya bisa menuding kontraktornya saja ( yang notebene kontraktor jalan raya adalah penuh dengan insinyur sipil ). Tetapi tidak hanya kontraktornya saja. 

Hirarkinya adalah dari :

1.       Pemilik proyek
2.       Menunjuk perencana jalan ( baik dari segi struktur dan konstruksi dandari segi biaya / QS )

Mendesain jalan dengan struktur dan konstruksi yang baik, aman dan optimal serta biaya atau cost yang sesuai ( semuanya BUKAN TERMURAH, tetapi OPTIMAL )

3.       Menunjuk kontraktor berkualitas A ( untuk jalan kebanggaan Jakarta )
4.       Menunjuk CM atau pengawas, yang idependen untuk mengawasi kontraktor dan melapporkan kepada pemilik proyek

Ini adalah konsep standard. Dibawahnya sendiri ada para supervisor dan pelaksana harian dimasing2 hirarki, untuk melaksanakan pembangunan jalan tersebut, SESUAI DENGAN GAMBAR DAN SPESIFIKASI MATERIAL yang sudah disepakati dengan semua hirarki. Pemilik proek adalah si pengambil keputusan.

Permasalahan mulai terjadi, ketika biaya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sehingga banyak proyek akan menurunkan biaya dengan cara beragam :

1.       Material di cari yang ’setara’ dengan mutu dan kualitas yang sama. Tetapi apakah mutu dan kualitas akan sama jika harga sangat jauh berbeda? Coba pikiran!

2.       Pelaksana harian dan supervisor dicari dengan kualitas dibawah yang tidak sesuai dengan keinginan pemilik proyek dan masyarakat

Selain itu jga, banyak oknum2 yang mengambil keuntungan untuk pribadi dengan ‘menukar’ material yang ’seakan2 sama’ dengan material yang berbeda. Sehingga dengan material yang berbeda, seringkali tidak bisa ‘klik’ dengan material yang sharusnya, sehingga akan berakibat salah satu komponen material tersebut bermasalah.

Dalam melaksakana pekerjaan ini pun, kuncinya adalah GAMBAR yang sudah disetujui oleh semuanya. Tetapi sering terjadi bahwa gambar tersebut ‘menghilang’ dan diganti oleh gambar2 ‘aspal’.

Apakah ada yang pernah membayangkan, bahwa untuk membuat jalan klas perkotaan ini harus ditunjang dengan ratusan gambar selebar A0 dan sangat susah untuk dibawa2? Jika kehilangan 1 lembar saja, akan berakbibat fatal. Dan jika 1 lembar saja yang ‘diganti’ ( misalnya diganti dengan desain atau material berbeda ) sering kali si pengawas sendiri ‘blank’ dengan SDM yang terbatas serta terlalu disibukan dengan deadline …..

Jadi? Tidak gampang untuk menelisik sebuah kesalahan seperti kesalahan jalan layang Casablanca ini. Tetapi pada akhirnya, SEMUANYA menjadi bertanggung jawab, karena masing2 mempunyai ‘kesalahan yang sama’.

1.       Terlalu fokus dengan deadline ( pembukaan ), sehingga apapun bisa dilakukannya untuk sebuah kebanggaan dan kepongahan

2.       Kurangnya SDM yang benar2 berkualitas dan yang terpenting kurangnya SDM yang ‘bekerja dengan hati’ demi semuanya

3.       Oknum2 yang hanya ingin memperkaya dirinya sendiri

4.       Dan sebagainya

Dari pada saling tuding, menurutku marilah kita memperbaiki mutu dan kualitas jalan tersebut, sehingga jalan layang Casablanca tersebut benar2 menjadi salah satu kebanggaan kota Jakarta ……

Kamis, 09 Januari 2014

“Sudah Bagus Jalan Ini Dibuka, Ga Usah Mikir Kualitas, Deh….” Duh!

Kamis, 09 Januari 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

1389242860924131337

Huhuhu ….. Jalan baru yang sudah grunjalan ( lihat, foto ini benar2 terlihat dengan jelas tentang kuallitas jalan baru ini ) dan tidak tampak seperti ‘jalan baru’, serta motor pun semakin lama semakin banyak! Gimana, sih????

Sebelumnya :



Hari ke-9 di tahun baru 2014 ini memang ada yang ‘baru’. Bukan ‘baru’ sekali sih, tetapi dengan diresmikannya jalan non-tol Casablanca membuat aku excited mengamati. Karena konsepnya sudah sesuai dengan konsep Jakarta, poros Barat-Timur, sesuai dengan yang banyak aku tuliskan di artikel2ku tentang Jakarta.

Artikel pertamaku tentang jalan layang Casablanca ini adalah sebuah kelayakan jalan semi protokol, dengan berbagai KUALITAS dan PENGAWASAN yang sangat tidak sesuai dengan yang seharusnya. Aspal yang bergelombang berat dan ‘grunjalan’, cukup parah!

Artikel yang kedua, aku menitik-beratkan kepada prediksi kemacetan yang mulai meningkat. Dan semakin meningkat lagi, mulai Senin kemarin berujung semalam dengan kemacetan arah Tebet yang sampai sebelum ITC Kuningan!

138924297065752936
13892430211012328790

Diambil hari Rabu, 8 Januari 2014, sekitar jam 18.30, kemacetan mulai sebelum ITC Kuninngan dan mengular sampai melewati Mall Kota Kasablanka dan jalan layang depan Hotel Harris ke Lapangan Roos Tebet.

Dan di artikel ketiga ini, aku hanya ingin pemda mulai lebih tegas! Semuanya harus dimulai dengan 1 langkah, walau sekarang sudah sangat terlambat untuk banyak hal. Begitu juga dengan jalan layang Casablanca yang baru dibuka ini.

Di hampir semua TV swasta, aku selalu mengikuti berita pagi. Bahwa pada peresmian jalan layang Casablanca, pihak2 yang terkait menyatakan tentang kendaraan apa yang boleh melewati jalan ini. Dan yang benar2 jelas adalah bahwa kendaraan roda dua TIDAK DIPERKENANKAN melewatinya! Itu memang sangat wajar!

13892430831776796229
13892431631482081964

Sejak dibuka, jalan layang ini bisa dilewati kedaraan roda 2, bahkan semakin kesini, semakin banyak!

13892432421888884272

Dan motor pun semakin lama, semakin banyak dan pada, selalu selap-selip diantara mobil2 bahkan disaat2 macet seperti ini …..

Diambil semalam, Rabu 8 Januari 2014 yang macet sejak sebelum ITC Kuningan …..

***

Tetapi bagaimana dengan kenyataannya?

Aku yakin, si pengendara sepeda motorpun sadar bahwa mereka tidak boleh melewatinya! Seperti kata seorang kompasianer yang mencoba melewatinya, tetapi dia benar2 hanya mencobanya dengan kesadaran penuh, dan tidak akan mengulanginya lagi.

Tetapi sampai hari ke-9, pemda belum mempunyai tindakan tegas. bahkan petugas2 lapangan disana pun belum ada! Jangankan kedepannya untuk sebuah penertiban. Untuk pembersihan secara fisikpun, belum ada yang dilakukannya!

Seperti yang aku tulisan tentang kualitas jalan, serta kebersihannya, tidak ada satupun petugas yang melakukan pembetulan2 ‘defect list’. 

Waahh …. Jika aku berada di dalam proyek itu, aku akan memberikan daftar ‘defect list’ penuh dalam formulir, bukan beberapa hari setelah dibuka, tetap BEBERAPA WAKTU SEBELUM DIBUKA! Dan semua harus diselesaikan dengan SEGERA, seperti yang aku lakukan di semua proyek2ku sebagai ‘engineer!’

Jika sebuah proyek besar yang melibatkan masyarat banyak dalam sebuah kota, seharusnya ( baik perencana, kontraktor bahkan ‘pemilik’ proyek ) akan MALU jika tertangkap basah dengan kualitas, pengawasan serta ‘pelayanan’ yang jelek.

Begitu juga dengan jalan layang baru ini. Seharusnya, sebelum di resmikan kualitas jalannya harus sudah baik! 

Paling tidak, setelah diresmikan hanya perbaikan minor saja, bukan perbaikan mayor. 

Yang jelas kualitas jalannya sendiri sangat mayor, dan jika memang harus diperbaiki, akan membuat efek2 baru yakni kemacetan yang tetap dan terus melanda …..

13892433341301514429
1389243466603795748

Kualitas jalan yang bergelomng, grunjalan serta cat2 putih yang menjadikan jalanan baru ini seperti jalan lama yang kurang perawatan ……

Belum lagi dengan cat2 putih bertebaran di arah Tebet-Karet! Jika mobilku melaju cepat, ‘grunjalan’ aspal itu membuat tubuhku tidak nyaman! Hmmmmmm, seperti jalan yang lama, jadul dan berantakan ….. 

Menyedihkan!

Itu tentang ‘ke tidak-pedulian’ atau ketidak aware-nya pemda secara fisik! Sangat terasa dan semakin terasa setelah pengamatan2 selanjutnya. Bagaimana dengan ketidak-pedulian tentang sosial masyarakatnya? Tentang pengguna jalan? Atau tentang keinginan kita dalam mulai penanggulangan masrakat kota yang peduli dengan kotanya?

Dengan penyataan2 pihak terkait yang sudah di-amin-kan lewat TV saja ( tentang pengguna jalan : kendaraan roda dua tidak boleh melewatinya ), tidak ‘diaminkan’ oleh petugas2, dengan menindak tegas! Apalagi tentang kondisi sosio-psikologis masyarakat kota Jakarta?

Misalnya tentang kebersihan dan tanpa rambu2. Yah, ada rambu2 saja masyarakat Jakarta menyepelekannya, apalagi tidak ada rambu? Jangan2 ketika mobil melaju dengan cepat dan jalan sedikit melingkar, mobil itu bisa ‘terbang’ menerobos pagar ( karena terlalu cepat ), pemda diseret ke meja hijau karena tidak ada rambu yang menyatakan bahwa jalan itu sedikit melingkar dan tidak ada ‘mata kucing’ sebagai pengarah jalan …..

Lebay? Aku lebay? Bisa jadi!

Sebagai warga Jakaarta, dan sebagai yang sangat peduli dengan Jakaarta lebih baik, tidak ada salahnya aku terus ‘mengawal’ pemda untuk terus menjaga fasilitas2 kota, TERUTAMA yang baru saja diresmikan.  

Karena semakin lama, akan semakin buruk jika pemda tidak melakukannya SEKARANG! Karena juga, seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat kita sering ‘keenakaan’ dan mau menang sendiri. Dengan peraturan yang sudah di UU-kan saja mereka masih sering kucing2an dengan petugas, apalagi jika petugas tidak bergerak sekarang?

***

Mumpung jalan layang Casablanca ini baru diresmikan, mengapa tidak dimulai sekarang untuk perbaikan2nya? Baik secara fisik ( perbaikan jalan2 yang bergelombang dan grunjalan dan pembersihan cat2 putih yang seperti jalan2 lama yang kotor ), psikis masyarakat Jakarta ( kendaraan roda 2 tidak boleh melewatinya ) ataupun prediksi2 dengan kondisi perkotaan sekelas Jakarta tentang kemacetan, untuk segera di antisipasi …..

Jalan layang Casablanca ini akan menjadi salah satu ‘kebanggaan’ Jakarta, seperti jalan tol ‘iner-ringroad’ yang mengelilingi Jakarta, apalagi memang diprlihara dengan baik sesuai prosedur dan standard kualitas cantik, untuk jalan2 sekelas ibukota metropolitan Jakarta, yang menuju kearah ‘kota dunia’ ……

Catatan :

Ada beberapa warga mejawab ‘protes’ ku ini dengan mengatakan,

“Mba, sudah bagus jalan ini dibuka. Ga usah mikirin tentang kualitas, deh. Apalagi tentang hasil pengawasan dan asesoris arsitektural ……”

Duh … apakah Jakarta akan terus seperti ini? Semuanya sama saja …..

Selasa, 07 Januari 2014

Jalan Layang Casablanca [Akan] Hanya Memindahkan Kemacetan ……

Selasa, 07 Januari 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti


1389080233463807258
www.tempo.co

Baru dibuka, dari jalan layang baru sudah terlihat sudah macet. Padahal masih hari libur. Bagaimana dengan Jakarta di hari2 normal?

Sebelumnya :


Ditulisanku di link di atas, adalah reportase sebuah jalan baru secara kasat mata. Pengawasan dan ketidak-pedulian yang cukup mengganggu.


[Lanjutan Judul]


….. jika tidak diimbangi dengan pemikiran tentang keberadaan mobil2 baru yang terus melaju, dan jika tidak ada peningkatan tentang pertambahan panjang jalan tiap tahun di Jakarta …..

Ketika dari Le Meredien - Tebet, aku mendapatkan hal yang sama dengan workmanship di jalur Tebet - Le Meredien. Tetap ada yang membuat aku waswas dan mengeksplor kemungkinan2 yang terjadi di benakku. Adalah KEMACETAN!

Kemacetan? Di jalan baru yang baru di bukan? Di waktu Sabtu akhir liburan tahun baru? Ah, masa’ sih??

Ya! Ini yang membuat aku waswas besar! Bahwa kemungkinan besar jalan baru ini hanya mengurangi kemacetan sesaat saja!

Dari masuk di samping Le Meredien sampai turus lagi sesaat sebelum Mall Kota Kasablanka, memang masih nyaman. Tetapi di mulut turun dan keluarnya, woww ……

Waktu itu sekitar jam 11 siang, dan jam 2 siang serta jam 5 sore. Semakin sore / malam, semakin macet. Dari awalnya hanya macet / antri benar sudah di titik + 0, sampai sore, masih berada di atas jalan layang. 

Ada apa?

Ternyata adalah pertemuan dengan Kota Kasablanka. Masuk dan keluarnya. Sehingga, aku sangat yakin jika setelah liburan ini berakhir, kemacetan tetap melanda, termasuk di jalan layang baru ini.

Aku memang belum kesana minggu ini. Next, aku akan mengamatinya.

***

Aku tidak tahu konsep apa yang dipakai pemda untuk mencari pintu masuk dan pintu keluar dari sebuah jalan besar. Yang aku tahu adalah konsep masuk keluar jalan itu di daerah yang tidak menjadi daerah crowded, dan bukan awal atau akhir di ‘pusat kegiatan’, sehingga ‘mulut jalan’ tidak menjadi ‘mulut’ atau awal kemacetan. Dan jangan lupa, ‘mulut’ jalan BUKAN BERUPA LEHER BOTOL …..

Tetapi ternyata tidak terjadi di kota kita. Justru sering kali mulut masuk keluar tol, atau putaran2 jalan berada pada titik2 awal kemacetan, sehingga macet di jalan arteri ditambah lagi macet di jalan tol atau jalan2 besar.
Seperti jalan layang Casablanca yang baru dibuka.

Dulu ketika papa masih menjabat di pemda yang berhubungan dengan ijin bangunan, aku sering bertanya dan papa selalu menceritakan konsep2 awal Jakarta. Sejak SD aku sering bertanya tentang Jakarta kepada papa, sehingga sampai sekarang pun walau papa sudah lama pensiun dan sudah dipanggil Tuhan, menjadikan aku benar2 ingin memperbaiki Jakarta, walau hanya lewat tulisan seperti ini saja …..

Konsep pemukiman Jakarta adalah ‘Poros Barat-Timur’ seperti yang aku banyak tulis di kompasiana ini. Di Barat dari Kembangan ( Kantor Walikota Jakarta Barat ), sasmpai daerah Grogol, berlanjut ke daerah Timur dari Tebet Jatinegara terus sampai Pulo Gebang ( Kantor Walikota Jakarta Timur ).

Poros Barat - Timur itu dihubungkan dari arah Kembangan -  tol Kebon Jeruk, lewat Cideng - Tanah Abang - Dr Satrio - Casablanca - Jatinegara - Klender - Penggilingan - Pulo Gebang. Konsep itu memang sudah ada sejak lama, sejak aku masih sekolah dan diceritakan oleh papa, sekitar tahun 1990-an. Jadi, jalan layang Casablanca ini merupakan konsep lama.

Aku juga belum mengerti, bagaimana pemda membangun jalan layang yang sekarang baru diresmikan. Awalnya dari mana? Lewat mana, dan bagaimana pitu masuk dan keluarnya? Karena ketika papa masih menjabat, di kantor papa banyak maket2 konsep kota Jakarta, terpampang semuanya, termasuk konsep jalan dari Kembangan ke Pulo Gebang …..

*Masalahnya, mengapa pemerintah tidak mendistribukan konsep2 fasilitas perkotaanyang tiap tahun harus disosialisasikan, seperti konsep MRT Jakarta?

Jika ditarik kesimpulan, jalan layang yang baru diresmikan ini seharusnya merupakan sebagian kecil potongan jalan.  Tetapi ketika aku mengamati dari arah Karet sampai mulut jalan, turun sesaat sebelum Mall Kota Kasablanka.

13890803381725119781
1389080397864827482

Sekitar jam 14.00 sore dari Hotel Le Meredien …..

Jika dilihat sesaat lewat foto ini, mulut pintu keluar memang merupakan ‘leher botol’, ditambah dengan lalu lintas dari arah jalan dibawah jalan layag ini, ditambah lagi titik ini sesaat dengan pintu masuk - keluar Mall Kota Kasablanka ( gedung biru berwarna warni di foto ini ).

Entah karena mulut keuar jalan layang tersebut merupakan leher botol, atau dengan perpotongan ke Mall Kota Kasabanka, menjadikan  ’mulut’ keluar mengalami macet! Ini belum seberapa, krena masih hari libur, Sabtu lagi dan baru diresmikan. Bagaimana dengan setelah liburan berakhir dan Jakarta kembali seperti sediakala?

1389080461804900205

Dari arah Hotel Le Meredien jam 17.00 sore …..

Semkin sore, kemacetan semakin panjang! Di foto ini bahkan kemacetan masih di atas jalan layang, tepat di atas TPU Menteng Pulo! Ckckckckck …… bagaimana jika Jakarta sudah ‘normal lagi?’. Sepertinya jalan layang ini akan memindahkan kemacetan di saat2 jam2 sibuk!

Sedikit analisa :

Warga Jakarta sudah tahu semuanya bahwa jalan layang ini sudah bisa dipergunakan. Mereka ( termasuk aku )pasti ingin mencobaya. Berharap jika antara kantor - rumah melewati jalan Casblanca ini, jalan layang baru ini diharapkan banyak ‘menolong’ kemacetan.

Tetapi dengan sedikit alanisa dan butuh pengamatan kecil, sepertinya jalan layang baru ini hanya akan ‘menolong’ sesaat saja. Jika warga Jakarta yang biasanya lewat jalan lain ( seperti aku, lewat Menteng atau lewat tol ), akan mencoba ke Casablanca dan lama kelamaan jalan baru ini akan mengalami kemacetaan, sama dengan jalan dibawahnya …..

Ah, kalau aku lebih suka lewat Menteng. Jika macet, kita bisa mencari ‘jalan tikus’, dibandng di ajalan layang atau jalan tol, karena jika macet ya sudah … merayap sampai pintu keluar …..

***

Untuk aku sendiri, memanage sebuah kota, apalagi sekelas Ibukota dan kota metropolitan, sangat tidak gampang. Solusi2nya tidak bisa hanya di 1 titik saja. Memanage kota Jakarta dibutuhkan diskusi panjang dan KOMPREHENSIF. Banyak titik,tidak di 1 titik saja. Memikirkan dampak2 yang lain. Bukan hanya secara fisiknya saja, tetapi bisa berhubungan dengan psikis asyarakat nya.  

Sebuah jalan layang baru atau jalan2 baru yang lain, itu bukan hanya dibangun besar hanya dengan sedikit pemikiran. Masudnya, sejak awal Jakarta bertumbuh dan berkembang, pemda Jakarta harus sudah memikirkan tentang dampak2nya. Misanya :

Banyak mall ( contoh di sepanjang jalan Dr Satrio - Casablanca ) :

Harus memikirkan parkir sesuai dengan standard yang berlaku, bahkan harus DILEBIHKAN, karena dengan Jakarta yang ssedang berkembang, mall merupakan bukan hanya tempat belanja saja, melainkan tempat kongkow. Sehingga jika 1 mall standard parkir A mobil, ini harus dilebihkan : A mobil + B mobil. Jika tidak, alamat mall itu kan kekurangan parkir dan memarkir mobil2nya d pinggir jalan. Ini sudah dibuktikan di sepanjang Ambasador dan ITC. Parkir mobil di tepi jalan2 bahkan harus parkir di Mega 
Kuningan …..

Ini bukan hanya berhubungan dengan developernya saa, tetapi pemda harus lebih ‘keras’ untuk ijin2 bangunannya serta perhitungan parkirnya. Bukan hanya sekedar membangun mall saja, tetapi dampak2nya akan menjadikan Jakarta lebih semrawut …..

Warga Jakarta yang semakin banyak :

Harus dipikirkan tentang kendaraannya. Mobil dan motor. Apalagi Jakarta sedang membangun dengan warga yang cenderung banyak membeli kendaraan tanpa memikirkan dampak2nya. Sehingga pemda harus membangun panjang jalan sekian persen tiap tahun untuk mengimbangi laju penambahan kendaraan.

Tetapi apa yang terjadi?

Penambahan panjang jalan di Jakarta mungkin hanya 1/10 dari penambahan kendaraan setiap tahun. Sehingga, seperti ‘ramalan’ bahwa tahun 2014 ini, begitu kita keluar rumah, kemacetan sudah menghadang ( dan itu sudah aku buktikan : keluar kompleks, macet berat tiap saat! ).

Jadi, jalan layang Casablanca yang baru diresmikan ini, bukan solusi bagi warga Jakarta. Jalan ini hanya memindahkan kemacetan, yang hasilnya adalah sepanjang jalan Dr Satrio - Casablanca di jalan layang atau di jalan biasa nya, akan tetap dilanda kemacetan yang luar biasa ……

So?

Mungkin hanya beberapa saat saja aku akan melewati jalan baru itu, sambil mengamati dampat2 perubahan ( bukan hanya disana saja, tetapi berhubungan dengan jalan2 seluruh Jakarta ). 

Tetapi jika sudah ‘terbukti’ atau capai dengan kemacetan, aku akan kembali lagi melewat Menteng, dari kantorku di Grogol sampai ke rumahku di Tebet …..

Baru Diresmikan, Jalan Baru Koq ‘Grunjalan’, Ya?



By Christie Damayanti

13890687161687507105
metro.news.viva.co.id

Beberapa hari setelah jalan layang non-tol dari Karet ke Casablanca dibuka….

Aku baru merasakannya sekitar tanggal 4 Januari 2014 hari Sabtu, ketika bolak-balik kami dari rumah di Tebet ke Hotel Le Meredien, tempat adikku menginap untuk sebuah pekerjaan, beberapa hari.

Namanya juga sesuatu yang baru. Seperti biasa, aku sangat excited. Sesuatu yang baru itu bisa menyimpan ‘misteri’. Baik misteri yang baik dan luar biasa, ataupun misteri yang buruk dan mengerikan! Dan itulah yang terjadi, ketika mobilku pertama kali ‘naik’ ke jalan layang itu dari arah Tebet di depan TPU Menteng Pulo.

Namanya saja jalan baru. Masih ‘gamang’ dan seharusnyalah bersih dan nyaman untuk dilalui. Seperti jika di proyek-proyekku ketika baru dibuka, semuanya rapi, mengkilat serta nyaman dan bau wangi-wanginya. Lantainya bersih dan mengkilap. Suasananya masih ‘gamang’, belum banyak toko yang buka. Manajemen akan menservice kita lebih baik, untuk menancapkan konsep ramah, dan seharusnya akan selalu begitu di waktu-waktu yang akan datang.

Begitu juga yang seharusnya terjadi di sebuah jalan baru, yang baru dibuka. Surprise yang aku harapkan adalah surprise yang luar biasa! Kerapihan, kenyamanan bahkan ‘kecantikan’ dari sebuah jalan baru membayang di benakku. Paling ga, aspal hitam yang belum terpakai, membuat mata memandang lebih nyaman. Atau railing pagar jalan yang masih mulus, membayang di pelupuk mataku.
 
Tapi apa yang terjadi?

Begitu roda mobilku meluncur naik ke jalan layang tersebut, langsung aku tahu bahwa pekerjaan ini sama sekali tidak cukup memuaskan!

1.        Aspal yang ada, memang, masih hitam seperti belum dipakai, dan seperti yang seharusnya. Tetapi yang sangat disayangkan adalah workmanship-nya tidak sesuai dengan standard. Pengawasannya sama sekali tidak baik, dan sepertinya pekerja-pekera tersebut hanya sekedarnya dan seenaknya saja mengaspal jalan tersebut. 

Bahkan aku sangat yakin, bahwa lapisan-lapisan jalan di bawah aspal tersebut, juga tidak sesuai dengan spesifikasinya. Dengan jalan yang sepertinya mulus itu, ternyata TIDAK MULUS. Bukan bergelombang, tetapi bergeronjal-geronjalan!

13890687891355625710
1389068830471340941

(dari Arah Tebet) Siapa bilang jalan aspal ini mulus? Sebagian besar, ‘grunjalan’ bahkan ada 1 titik arah ke Karet, gronjalannya cukup berat. Duh, sayang sekali….

1389068991291619179
13890691343573325
(dari Arah Karet)
 
Hehe, aku tidak tahu namanya, tetapi jalan aspal tersebut seperti batu-batuan, di beberapa bahkan di banyak (hampir semua) tempat!

“Koq gini ya? Pengawasannya payah banget!”

Tanya adikku yang sedang bertugas di Jakarta, dari Amerika. Aku hanya tersenyum, “Itulah Indonesia.”
Lalu, bagaimana dengan jalan baru itu, selepas sorotan publik setelah dibuka awat tahun ini? Yakinkah jalan itu masih ’sebagus’ ini 1 tahun kemudian? Atau hanya beberapa bulan bahkan beberapa minggu saja?

2.       ‘Pelayanannya’ pun tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Di beberapa titik, workmanship-nya benar-benar mengecewakan, itu yang kasat mata!

a. Cat-cat putih belepotan di aspal. Menandakan pekerja tidak peduli atau sangat terburu-buru.
b. Pemasangan railing pagar masif, tidak rapih, banyak yang ‘maju-mundur’. Bahkan catnya juga asal-asalan.

13890693211749313107

Banyak cat putih yang belum dipersihkan. Seharusnya, sebelum diresmikan dibersihkan terlebih dahulu, bukan?

Konsep sebuah pagar masif, adalah KERAPIAN, seperti konsep bangunan minimalis. Dengan tanpa detail, justru workmanship-nya yang difokuskan. 

Karena kita tidak bisa melihat ke mana-mana sehingga fokus kita berada tepat di railing masif itu. Jika railing itu berlubang-lubang, mata kita masih melihat ‘apa yang ada di baliknya’ sehingga fokus kita tidak tertumpu pada railing berlubang atau berjeruji.

Selebihnya, ketika kita melaju dengan kecepatan yang cukup baik, kita seakan-akan berada di Hongkong atau SenZhen, di daerah permukiman. Jalan layang di tengah-tengah gedung tinggi atau apartemen. Dengan jarak bebas hanya sekitar 10 meter (?). Mengingatkan bahwa ke depannya Jakarta akan memasuki kota yang tingkat kepadatannya seperti Hongkong atau negara-negara lainnya, dan perkantoran serta unit apartemen-apartemennya seperti ‘kandang burung’ kecil sekali.

Bagaimana dengan jalan biasanya di bawahnya?

Setelah ini aku belum melaju di bawahnya. Tapi aku sangat yakin bahwa jalan di bawahnya tetap saja macet! Dengan 3 mall besar (Ambasador, Kuningan City, dan Ciputra World) dan 1 ITC, itu akan menjadi titik sentral kemacetan. Apalagi banyak perkantoran di sekitarnya.

Bolak balik Tebet - Le Meredien membuat aku mengamati dengan jelas, ternyata ada lagi yang bukan dengan kasat mata, penamatan tentang jalan layang non-tol yang baru dibuka tersebut. Next, aku akan tuliskan, setelah hasil pengamatanku ini.

Yang jelas, bahwa sebuah jalan layang baru yang baru dibuka sepanjang jalan Dr. Satrio dan Casablanca ini, dalam keseluruhannya kurang sesuai dengan sebuah konsep dan desain perkotaan, secara kualitas kota metropolitas setingkat Jakarta. Dengan kualitas kontraktor dan pengawasan untuk angunan-angunan sekelas kota (apalagi ) Metropolitan Jakarta, sepertinya harus tetap sangat dipertimbangkan. Sangat lain jika kita mencari kontraktor untuk kota-kota pendukungnya. Karena Jakarta adalah ibu kota negara dan Jakarta pun sudah ‘dilirik’ oleh investor-investor dari banyak negara untuk menanamkan uangnya di sini.

Walau pada kenyataannya, kepuasan nyata di sebagian warga Jakarta, semuanya tetap harus mempertahankan kualitasnya. Karena dalam 40 tahun lebih kehidupanku dan 20 tahun lebih dalam bekerja sebagai arsitek, aku melihat bahwa Indonesia sudah ‘mampu’ untuk membangun sekelas dengan negara-negara besar, tetapi yang disayangkan adalah pengawasannya. Baik sejak awal dalam pengawasan pembangunannya, apalagi maintenance atau pemeliharaannya. Sehingga, dalam banyak kesempatan, masyarakat berkata bahwa,

“Kita ini sudah mampu membangun sekelas kota dunia, tetapi kita kurang dalam pengawasan dan TIDAK BISA memeliharanya”.

Jika dari awal pengawasannya sudah buruk, bagaimana dengan kelanjutannya dan bagaimana juga dengan pemeliharaannya?

Selanjutnya :

Jalan Layang Casablanca [Akan] Hanya Memindahkan Kemacetan …..

Jumat, 03 Januari 2014

Perlintasan Rel Kereta, Berhantu? Hiiiii…

Jumat, 03 Januari 2014 - 0 Comments



By Christie Damayanti

1388734778545859320
www.megapolitan.kompas.com

Coba amati foto di atas :

Antara besi rel kereta, aspal meninggi. Terlihat, aspal tidak rata ( memang tidak rata karena ‘dikorup’, atau aspal ‘turun’ ). Ini sangat membahayakan, karena roda kendaraan bisa tersangkut, sementara ini adalah ‘daerah rawan’…..

Tahun Baru. Seharusnya, awal tahun merupakan semangat untuk melakukan yang lebih baik lagi di tahun 2 sebelumnya. Itu adalah pemikiran orang2 normal. Bahwa kita akan melakukan yang lebih baik lagi! Aku belum menemukan orang2 yang melakukan yang sebaliknya. Mau melakukan yang lebih buruk dari tahun2 sebelumnya …..

Benarkah itu?

Semuanya tetap ada kemungkinannya. Probabilitasnya cukup besar, ketika kita sadar bahwa manusia ada milyardan orang di dunia, bahkan di Indonesia pun lebih dari 200 juta manusia, yang berbenturan dari latar belakangnya, agamanya, strata sosialnya, pemikirannya, dan semuanya sesuai dengan yang diciptakan Tuhan kepada masing2 makhluknya.

Di Jakarta pun demikian. Ketika pemerintah daerah Jakarta berusaha untuk terus meningkatkan pelayanannya bagi warga kota, masih banyak orang yang tidak ikut serta berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan warga, yang paling tidak untuk dirinya sendiri. Pengerusakan2 dan pencurian2 fasilitas2 perkotaan masih kerap ada, walau fasilitas2 kota itu merupakan salah satu kesejahteraan warga kota itu sendiri. Mereka hanya egois, untuk keuntungan pribadinya saja …..

Kupikir, warga Jakarta yang mengerti dan peduli sudah sangat terganggu dengan banyak sekali perlintasan kereta api yang tidak bisa ‘mengayomi’ warga. Antara rel kereta dan jalan aspal, sebagian besar rusak. Biasannya ditambal dengan batu2, atau aspal yang asal2an, yang membuat seing kali roda kendaraan ‘tersangkut’, susah berjalan ataupun harus sangat pelan karena lubang2 yang berat. Sehingga justru di perlintasan kereta api yang sedianya adalah tempat paling ‘berbahaya’, yang harus cepat2 dilewat, tetapi justru sering menghambat perjalanan semua kendaraan.

Mau bukti?

Coba deh lewat perlintasan kereta. Amati. Rasakan. Apakah nyaman untuk melintasi rel kereta? Apakah ada lubang2? Apakah  nyaman untuk melintasina? Pastikan sendiri …..

***

Konsep perlintasan rel kereta itu justru sebuah konsep yang detail. Bahwa di perlintasan ketera api merupakan ‘daerah rawan’. Disana bisa tiba2 saja ada kereta yang lewat dengan cepat, ada ‘force majeure’ atau apapun, sehingga jika kita melintasinya seharusnya dengan cukup cepat, segera tetapi tetap berhati2.

Perlintasan kereta api adalah ‘daerah’ yang harus ‘dilindungi’. Artinya, di daerah itu banyak rambu2 lalu lintas untuk pemakai jalan raya berhati2. Karena untuk pengguna jalan raya, akan menjadi tidak berhati2 karena SUDAH BIASA! Mereka melihat perlintasan jalan kereta sebagai jalan biasa, sehingga jika tidak berhati2, akan menerobosnya, bahkan pintu sudah ditutup tetapi tetap menerobosnya. Sehingga banyak terjadi kecelakaan.

1388734847600334161
1388734890590680296

Sepintas, perlintasan rel kereta ini ‘baik2 saja’, tetapi ini adalah perlintasan yang sama untuk kami ke Gereja di Pasar Minggu. Kami memutar dari arah Jalan Raya Pasar Minggu ke arah Depok, kembali ke kompeks Pertanian.

Perlintasan ini sangat parah! Roda mobil kami selalu tersangkut. Dan cukup lama untuk melintas 2 jalur kereta disana. Padahal, aku sering ‘dag dig dug’, karena kereta sering melintas disana tiap beberapa menit sekali ( Commuter Dejabotabek ).

13887349521532644416
13887349872073731540

Hampir semua perlintasan kereta di Indonesia sangat rawan bagi keselamatan pengguna jalan, bahkan bagi semua warga kota ….. 

Coba lihat! Justru di ‘daerah rawan’ ini hanya memakai ‘jalan tambalan’, hanya pasir atau aspal yang asal2an, yang bisa membuat roda kendaraan tersangkut atau terpeleset, khususnya kendaraan roda dua …..

Beberapa kali aku berada di Amerika dan negara2 besar yang peduli dengan keselamatan dan kesejahteraan wawrganya, mambuat aku banyak berpikir. Bahwa sudah selayaknya lah Indonesia lebih memiirkan keeselamatan dan kesejahteraan warganya. Bukan hanya pemerintahnya saja, melainkan juga antara manusianya, sehingga bisa saling mendukung. Salah satunya tentang perlintasan kereta api.

Beberapa yang aku pikirkan tentang perlintasan kereta api, adalah :

1. Ketinggian antara rel kereta dengan jalan kendaraan ( beton atau aspal ), HARUS SAMA, sehingga kenyamanan berkendara bisa menjadi ‘visi penyelamatan’ pegguna jalan.

Seperti yang aku tuliskan diatas, bahwa daerah perlintasan kereta merupakan ‘daerah rawan’, dan akan ada banyak kecelakaan disana.

1388735019310765181
1388735062658093715

Di Michigan City dan di Forth Worth Texas, Amerika Serikat. Antara besi rel ketera dengan jalan TINGGINYA SAMA, sehingga nyaman untuk digunakan dan tidak ada yang tersangkut, yang bisa membahayakan warga ……

2. Bantalan antara rel kereta dengan jalan kendaraan ( beton atau aspal ), HARUS TIDAK 
CEPAT RUSAK.

Masalahnya, perlintasan ini pasti dipakai oleh semua jenis kendaraan. Untuk kendaraan besar seperti truk tronton, akan bisa merusak perlintasan karena ada 2 material yang berbeda ( Komposit : besi rel kereta dengan beton atau aspal ). Sebuah komposit merupakan ‘daerah rawan’ rusak.

1388735233335884606
13887351561682438311

Di Alberta dan Oregon, Amerika. Di tiap perlintasan kereta, menggunakan material yang lain. Sepertinya, aspal tidak direkomendasikan sebagai fokus perlintasan. Mereka menggunakan BETON, yang memang jauh lebih kut dari pada aspal ( material putih itu adalah beton dan yang abu2 adalah aspal ).

3. Akan banyak membantu antaran rel kereta dan jalan kendaraan MENGGUNAKAN MATERIAL YANG SAMA atau hampir sama.

Di beberapa perlintasan kereta di Amerika, mereka menggunakan list besi di setiap ujung yang memang harus mempunyai space atau jarak, sehingga tidak cepat rusak. Dan bisa dipakai sepanjang tidak rusak.

13887353161221395547

Di Omaha, Amerika. Di tiap jeda rel, memang ada space untuk lubang. Dan antara spave itu, menggunakan material besi untuk list, sehingga tidak cepat rusak.

4. Juga, pengguna jalan akan lebih ‘aware’ jika perlintasan menggunakan WARNA BERBEDA dengan jalan disekitarnya, misalnya berwarna merah atau kuning.

Juga dengan memberikan banyak rambu2 bahaya untuk pengguna jalan lebih ‘aware’ tentang keselamatan. Kepedulian pengguna jalan, harus terus diasah untuk keselamatan warga.

13887353741007774042

Di Solo, sudah peduli dengan pelintasan rel. Dengan rata rel dan jalan kendaraan serta warna kuning yang bisa membuat mata pengendara menjadi lebih ‘awas’ dan aware dengan keselamatan.

5. Jika rusak, misalnya ada kecelakaan, atau memang sudah aus ( INGAT : semua material tetap mempunyai ‘lifetime’, sesai dengan jenis materialnya. Yang jelas, besi lifetime nya lebih lama dari pada dengan aspal ), HARUS SEGERA DIPERBAIKI.

Bukan hanya menunguu waktu perintah atau waktu pemerintah yang memperbaikinya, tetapi jika memungkinkan HARUS SEGERA dengan swadaya masyarakat. Bawa pemerintah bertanggung jawab untuk hal ini, tetapi masyarakat harus juga peduli dengan nyawa orang lain …..

6.       Dan sebagainya …..

Untuk di kota2 besar dunia pun, masih ada juga kecelakaan2 di perlintasan jalan kereta. Itu pun mereka sudah aware dengan keselamatan. Biasanya, si pengguna jalan sedang mabuk atau sebuah kesalahan manusia ataupun memang ‘force majeure’ ( tidak bisa dihindarkan ), tetapi BUKAN karena ketidak-pedulian warga kota di sebuah negara, seperti di Jakarta.

Mereka bahkan tetap aware berkendaraan setiap melintasi perlintasan kereta, walau tidak mempunyai palang penutup. Untuk melintas, mereka pasti berhenti dulu, BENAR2 BERHENTI! Lalu mereka menengok kanan-kiri, tanpa kendaraan saling berebut, lalu terus melintas dengan tetap berhati2, sesuai dengan lajurnya! Bukan saling serobot seperti di Jakarta!

13887354171821413835

Di Alberta, Amerika. Bahkan di kota kecil yang sepipun, untuk melintasi perlintasan kereta, mereka akan BERHENTI, dan melihat kiri-kanan sebelum melintasinya! Tanpa palang penutup, mereka sadar akan keselamatan pribadi ……

1388735549586986927

Hmmmmm ……., Bagaimana dengan di Indonesia, khususnya di Jakarta? Bahkan palang pintu pun diterobos ….. dan mereka berada di dalam ‘daerah rawan’, sangat dekat dengan kereta yang melaju dengan sangat kencang …..

Ckckckck …… menyedihkan! Apakah mereka tidak peduli dengan nyawa mereka?

Negara2 maju benar2 sudah mengerti tentang keselamatan diri serta warga nya. Mereka tidak akan saling menyerobot, apalagi di perlintasan kereta. Kepedulian seperti inilah yang kita butuhkan, bagi warga kota yang metropolita, seperti warga Jakarta.

Kerja sama antara warga dan pemerintah memang sangat dibutuhkan. Karena tanpa kerja sama, pemerintah ridakakan sanggup bekerja sendiri. Karena yang aku tahu dan sempat melihat sendiri bahwa fasilitas2 perkotaan sering merupakan sasaran anarkis, bahkan sengaja ‘diambil’ ( misalnya, besi pagar jalan, bahkan rel kereta) guna ( katanya ) menyambung hidup ……

Akan kan Jakarta khususnya mampu bekerja sama demi keselamatan dan kesejahteraan warga kota?  

Semoga ini menjadikan salah satu refleksi kehidupan kota metropolitan Jakarta di tahun 2014 ini …..

Senin, 16 Desember 2013

Dilema ‘Uji Coba’ Buka-Tutup Pintu Tol Jakarta : Dan Ramalan itu Mulai Terbukti

Senin, 16 Desember 2013 - 0 Comments



By Christie Damayanti

13871788361851107777
Uji coba pintu keluar tol ke arah perempatan Kuningan

Jakarta ….. Oooooo Jakarta ….. Kenapa sih tidak pernah memikirkan dengan komprehensif? Kenapa hanya memikiekan 1 titik solusi saja? Sebagian besar masalah, menuai permasalahan baru dan menulai protes disana sini. Duh …..

Pagi ini memang hari Senin. Sebuah hari kerja baru, awal minggu setelah 2 hari libur weekend. Yang biasanya ditandai dengan macet yang berlebihan serta ‘kemalasan’ hampir semua orang untuk memulai hari baru karena sudah terbuai libur 2 hari.

“I don’t like Monday”, banyak orang yang menyebut demikian. Kalau aku sih, tidak suka hari Senin karena macetnya yang luar biasa baik pagi hati ataupun pulang kantor. Apalagi, hari Senin adalah terapi otakku di sebuah klinik di Jalan Bumi Mayestik. Jam 9.00 disana sampai jam 10.00. Tetapi prakteknya, aku harus berangkat jam 7.00 dari rumah dan sampai kantor di Grogol jam 12.00 lebih. Sudah 1/2 harian aku harus berada di mobil, di hari Senin.

Begitu juga hari ini, Senin 16 Desember 2013. Bertepatan dengan ‘uji coba’ buka tutup pintu keluar masuk tol Jakarta yang kearah Semanggi. Hmmmm, begitu aku mendengar pengumuman di televisi beberapa waktu yang lalu aku hanya bisa tersenyum miris. Pasti akan ada tuaian kekecewaan serta protes dari banyak pihak. Padahal kita tahu bahwa dari jalan Gatot Subroto sampai Semanggi, jalan Sudirman, jalan Thamrin sampai Medan Merdeka Barat memakai konsep ‘3in1′. Lalu, bagaimana dengan pegawai yang bekerja di jalan2 tersebut?

Berarti jam kantor akan ‘molor’ karena susah kesana, apalagi kemacetan bertambah di jalan2 umum atau jalan2 tikus kesana. Pemda hanya memindahkan kemacetan dari jalan tol ke jalan2 arteri dan jalan2 tikus, bukan mengatasi kemacetan …..

13871789371458641555
1387179023293050292

Polisi berjaga di pintu tol keluar ke arah perempatan Kuningan ( foto-1 ), dan kemacetan semakin parah! Bahkan jalur 2 arah di sisi kanan jalan juga mengalami kemacetan parah ( foto-2 ) …..

1387179159478047313
13871792221742844328
Sepanjang jalan di tol dari Pancoran sampai di depan Gedung MPR - DPR, macet parah seperti ini ….
Aku mengerti sekali, ketika pemda Jakarta sangat menginginkan warga Jakarta memilih  naik Trans Jakarta dibanding kendaraan pribadi. Konsep itu benar sekali. Tetapi fasilitas2 transportasi massal itu harus dilengkapi dengan keamanan, kenyamanan dan sebagainya sehingga semuanya menjadi 1 paket dalam penyediaan hak warga Jakarta dalam bisdang fasilitas umum dan transportasi.

Belum lagi kerusakan2 yang dialami Trans Jakarta dan jalur busway yang sering diserobot kendaraan yang lain, serta jumlah bus yang belum memadahi ( menunggu bus akan terlambat ke kantor ), menyebabkan Trans Jakarta tetap mengalami kemacetan sehingga warga tetap memilih kendaraan pribadi. Belum lagi fasilitas halte2 Trans Jakarta yang sudah banyak yang sangat tidak manusiawi, sehingga membuat warga Jakarta menjadi ‘illfill’ atau sedikit takut karena berlubang2 dan pintu ke arah bus hampir semua sudah rusak.

Bagaimana bisa warga Jakarta mau menerimanya? Jangankan warga menengah kebawah yang mempunyai mobil, warga yang tidak mempunyai kendaraan pribadipun sebenarnya tidak nyaman dengan ini, tetapi mau bagaimana? Karena terpaksa …..

Trans Jakarta harus dilengkapi dengan semuanya untuk menjadikan warga Jakarta lebih memilih naik bus.  

Seperti ketika aku kuliah di Australia tahu 1993. Ketika itu papa menawarkan aku untuk membeli mobil selama aku kuliah disana. Tetapi aku tidak mau menerimanya, mengapa? Karena aku merasa nyaman naik transportasi umum ( bus, MRT / kereta listrik atau ferry ) dengan keamanan yang luar biasa! Bahkan aku tetap berani pulang kerumah walau hampir tengah malam …..

Kembali lagi dengan uji coba buka tutup pintu keluar masuk tol, yang dimulai hari ini, Senin 16 Desember 2013 ini. Sekarang, jika pegawai dengan kendaraan pribadi ( 1 atau 2 orang ) yang biasanya naik tol ( seperti aku yang lalu berdua dengan supir ) tetapi tidak bisa keluar dari tol padahal ada ‘3in1′, apa solusinya? Pastilah mereka akan menunggu sampai pintu tol dibuka atau ‘3in1′ tidak berlaku lagi. Berarti mereka akan telat tiba di kantor, paling tidak jam 11.00 sampai, kalau tidak macet! Yang jelas, hari ini aku benar2 mengamati dan memotret kemacetan yang ‘dipindahkan’ dari hasil uji coba ini.

13871792941262082674
13871793521264881512

Pintu tol keluar ke arah Tanah Abang, pastilah macet berat ( biasanya tidak seperti ini ) karena pintu tol yang ke Kuningan ditutup.

13871794151901147998

Di Jalan Gatot Subroto arteri ke arah perempatan Kuningan ( lihat foto diatas ), kosong melompong karena dari arah tol tidak bisa keluar …..

Catatan :

Aku melewati tol dari masuk Pancoran menuju Grogol, sepanjang jalan macet dn kadang2 berhenti total dari Gatot Subroto sampat pintu tol ke arah Tanah Abang :

1. Tol sepanjang jalan yang aku lewati macet total sampai di depan Gedung MPR - DPR, karena mobil keluar ke arah Tanah Abang, ketika pintu tol ke arah perempatan Kuningan di tutup. Berarti, jalanan arteri akan mengalami kemacetan yg tidak seperti biasanya

2. Terlihat, jalanan benar2 kosong dari jalan Gatoto Subroto arteri sampai di depan Komdak, karena dari tol kendaraan keluar di depan komdak, tetapi di tol masih macet sampai di depan Gedug MPR - DPR

3. Pintu tol ke perempatan Kuningan ditutup, jadi warga yang berkartor di sepanjang Gatot Subroto dan yang ke Kuningan ( dari tol ) tidak bisa ke kantor, KECUALI  mengambil jalan memutar

Dampak2 yang ( mungkin terjadi ) :

1.       Jam kanor akan mengalami kemunduran karena kemacetan dan yang hanya mengendarai 1 mobil sendirian, akan menunggu jam 10.00 pagi, karena harus ‘3in1′ atau pintu tol ditutup

2.       Pemilik perusahaan kemungkinan akan protes karena pegawai semakin banyak yang terlambat dan merugikan perusahaan

3.       Kemacetan akan tetap terus berdampak, bahkan jalan2 tikus akan semakin ‘tertutup’ dengagn kendaraan2 pribadi

4.       Warga yang menikmati tol, akan protes juga karena tol semakin macet (?), apa lagi tarif tol baru saja naik, tanpa di fasilitasi yang lebih baik

5.       Dan sebagainya

***

Seperti yang aku tuliskan di ratusan artikelku tentang Jakarta, pemda belum memahami tentang sebuah ‘konsep yang komprehensif’. Dimana konsep2 tersebut harus dipikirkan matang2 dengan segala akibat buruknya. Semuanya harus secara komprehensif. Janganlah solusi sebuah masalah tetapi menuai masalah baru. Atau menuai protes dari banyak pihak. Bahkan juga sebuah masalah hanya dipikirkan solusi hanya di 1 titik saja!

Misalnya,
 
Di ‘U turn’ ditutup katena selalu macet. Tetapi ‘ U turn’ baru hanya berada sekitar 10 atau 20 meter setelahnya! Sama saja bohong! Harusnya, ahli2 transportasi yang ketika mendesain jalan, harus memikirkan konsep2 untuk daerah ‘ U turn’, tentang lingkungannya, titik permasalahannya atau kemungkiinan2 yang lain. Bukan sebebas2nya mendesain ‘U turn’ di daerah2 yang banyak permasalahan, misalnya resiko macet atau lingkungan sempit, dan sebagainya.

Konsep2 pemindahan masalah itu harus digantikan dengan konsep2 pemecahan masalah. Semuanya harus dipikirkan untuk sebuah hasil solusi dari sebuah kota sekelas Jakarta. Aku sangat yakin, bahwa masih banyak warga Jakarta yang peduli dengan ini, yang ingin Jakarta lebih baik dan yang tidak mementingkan diri sendiri. Pasti banyak ahli2 transportasi dan lalu lintas yang bisa memikirkan lebih baik dan jauh kedepan serta komprehensif, dibanding dengan sebuah ’solusi’ yang nekad dan pasti akan banyak menuaikan permasalahan baru.

Untukku sendiri, ada beberapa saran yang sangat sedikit untuk permasalahan kemacetan yang sama sekali tidak ada ujung pangkalnya :

1.       Panjang jalan terus ditambah sesuai dengan kebutuhan. Sekaarang ini, panjang jalan Jakarta bertmbah sedikit sekali, dimana kendaraan bermotor khususnya mobil pribadi bertambah puluhan kali lipat

2.       Konsep tatakota Jakarta dipikirkan secara lebih komprehensif, jangan di desain dengan terbagi2 yang bisa tidak ada hubngannya atau tumpang tindih ( ini yang sangat disoroti sebagai urban planner atau yang peduli tentang Jakarta )

3.       Kran penyediaan kendaraan pribadi ( apalagi khususnya mobil2 mewah ) ditutup, diganti dengan konsep2 penyediaan fasilitas tansportasi umum yang lengkap

4.       Kran cicilan kendaraan pribadi ( apalagi motor ) disesuaikan dengan kebutuhan. Jangan sampai 1 rumah dengan 4 penghuni mempunya 4 atu lebih kendaraan pribadi. Jangan hanya mempunyai uang 500 ribu sudah bisa membawa sebuah motor bekas kerumah tetapi tidak mampu membayar setelahnya. Dimana motor2 itu membuat lalu lintas Jakarta semakin parah …..

5.       Dan sebagainya
Kebijakan pemda searang, aku sangat mengerti. Bahwa pemda DKI benar2 ingin bahwa warga Jakarta beralih dengan memakai transportasi massal ( hususnya Trans Jakarta ), dengan melakukan banyak hal, untuk ‘menyusahkan’ warga :

1.       Subsidi BBM untuk kendaraan pribadi diatas 1500 cc
2.       Tarif tol di naikkan
3.       Membuka tutup pintu keluar masuk tol
4.       Dan sebagainya

Tetapi ketika warga Jakarta tetap belum mau peduli serta kepedulian sosial belum ada di hati mereka, dan tetap hanya ingin kebaikan untuk diri sendiri dan kelompoknya, semuanya tidak akan ada gunanya. Kita tidak bisa ‘berjalan’ sendiri2, kita harus terus bekerjasama, antara warga Jakarta serta pemda DKI Jakarta ……

Sehingga, jika kita tetap dengan keegoisan kita dan tanpa kepedulian sosial dalam kehidupan di kota Jakarta ini, silahkan saja! Seperti ‘ramalan’ dari seseorang beberapa tahun lalu bahwa, tahun 2014 nanti baru keluar dari rumah saja, kemacetn akan siap menghadang, lalu bagaimana?

Ya, jika aku keluar dari kompleks tempat tinggalku, sudah sangat macet, dan itu setiap hari dan setiap saat. Dan ‘ramalan’ itu sudah mulai terbukti ……

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks