Artikel Terakhir
Home » Posts filed under Jakarta
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Juni 2014
Rabu, 04 Juni 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
metro.news.viva.co.id
Sebelumnya :
Sampah adalah ‘musuh’ kota dimanapun.
Apalagi kota2 besar. Apalagi juga kota2 dari sebuah negara yang belum
peduli bahwa sampah merupakan masalah terbesar untuk kehidupan. Baik
dari kesehatan, kebersihan, ataupun sampah merupakan penghalang bagi
pembangunan kota.
Contoh yang sederhana saja, di Jakarta
ini. Masyarakat Jakarta benar tidak peduli, masa bodoh serta ‘egp’
dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan!
Mereka dengan sangat sadar, membuang
sampah seenaknya saja dimanapun dan kapanpun mereka berada, padahal ada
tempat sampah di beberapa titik dari keberadaan mereka. Bahkan botol2
air mineral yang sudah menjadi sampah, mereka tendang, mereka injak2 dan
ditinggalkan begitu saja.
Di lain pihak, pemda pun tidak 100%
peduli dengan sampah. Mungkin peraturannya sudah ada, bahwa harus
membuang sampah di tempat sampah, atau bagaimana mengelola sampah yang
baik. Tetapi peraturan2 itu tidak diimbangi dengan hukumannya sehingga
masyarakat perkotaan semakin melihat sampah benar2 menjadi “sampah!”.
Padahal sampah2 itu jika dikelola dengan baik masih banyak yang bisa
dimanfaatkan lagi.
Juga tentang tempat sampah. Hasil
pengamatanku sejak dulu bahkan sampai sekarang, tempat sampah yang
disediakan oleh pemda benar2 tidak sesuai dengan kebutuhannya. Baik dari
jumlahnya ataupun dari jarak antar tempat sampah ( ada standard jarak
serta kebutuhan perkotaan ). Belum lagi tempat2 sampah perkotaan,
khususnya Jakarta, tidak setiap hari dibersihkan oleh petugas2 pemda.
Bahkan jelas sekali di banyak titik sampah Jakarta, berbulan2 sampah
menumpuk dan menjadikan tempat itu bau dan tidak sehat!
Salah satunya adalah di daerah Asem
Baris. Jalan ini memang jalan kecil. Menghubungkan dari jalan semi
protokolo MT Haryono dengan daerah Gudang Peluru Tebet. Tetapi jalan
kecil itu merupakan jalan ramai dan urat nadi bisnis, transportasi serta
pemukiman. Ada beberapa trayek angkot serta Metro Mini disana dan
menjadikan jalan ini sangat penting bagi penghidupan sebagian masyarakat
Jakarta, termasuk kami. Jalan ini menjadi sangat penting untuk kami
kemanapun. Aku katakan, ‘jalan belakang’, karena memang untuk ke rumahku
salah satu alternatifnya adalah jalan ini.


Timbunan sampah, tepat di dpan rumah2 menengah, di jalan Asem Baris …..


Jalan pada foto diatas, merupakan
jalan masuk dari sebuah rumah besar! Sangat tidak masuk akal, jika titik
pembuangan sampah ada di titik ini …..
Tetapi di ujung jalan Asem Baris ke arah
jalan MT Haryono, terdapat titik pembuangan sampah. Walau aku tidak
yakin, karena mengapa tempat sampah berada di tepat depan rumah besar
penduduk? Sangat tidak
masuk akal!
Tetapi aku ingat sekali ketika aku masih
kecil, pun tempat ini sudah menjadi tempat sampah. Bergunung2 sampah
disana dan berminggu2 tidak dibersihkan. Bahkan lama kelamaan, sampah2
yang bergunung2 itu justru menjadi sasaran pengumpul sampah, dengan
membawa gerobak sampah dan mengaduk2 samah disana, serta mengambil
sampah2 tersebut TANPA membereskannya. Sehingga, semakin hari semakin
menjijikan!
Ketika kita melewati tempat itu, bau
sampah menyengat, apalagi jika sudah berhari2 sampah menumpuk.
Menjijikan! Pernah kulihat, beberapa tikus mencari makan disana serta
banyak binatang2 kecil ( seperti kecoak, cacing serta belatung )
menyeruak tumpukan sampah itu. Waktu itu, mobilku sengajak berhenti
disana untuk melihat yang tidak menyenangkan. Mobilku hanya berhenti
saja tanpa mematikan mesin dan AC tetap menyala, tetapi tercium samar2
bau sampah ……
Bagaimana dengan titik2 pembuangan
sampah pemukiman yang lain? Aku yakin, semuanya sama saja. Kepedulian
masyarakan perkotaan, khususnya Jakarta, belum terbentuk. Jangankan
sampah pemukiman yang notebene manajemennya berbeda dengan sampah biasa,
bahkan sampah sehari2pun masih tidak peduli. Tentang tissue, gelas air
mineral, plastik atau apapun, masih banyak berceceran di SEMUA titik
jalan dan tempat di Jakarta ini!
Bahkan di sepanjang pedesrrian baru dari
jalan MT Haryono sampai Grogol yang sedianya menjadi percontohan
pedestrian yang baik bagi Jakarta, untukku ternyata 0 besar, terutama
tempat sampah. Lihat tulisanku Cerita Dibalik ‘Pedestrian Baru’ Sepanjang Jalan Gatot Subroto
Ketika pemda sudah siap dengan
kepedulian, misalnya tentang cerita pedestrian dan segala streetscape
dan asesorisnya, aku melihat justru pelaksana ( atau kontraktornya ) nya
secara nyata jelas2 tidak bisa ‘membaca’ kepedulian itu. Dengan
beberapa masalah yang aku tuliskan di ‘Pedestrian Baru’ Jakarta, Hasilnya Apa? Nol Besar!
Terutama tentang tempat sampah.
Seharusnya, tiap titik untuk bench ( tempat duduk ) di pedestrian baru
tersebut, ditempatkan juga tempat sampah paling tidak 2 jenis : sampah
kering dan sampah basah. Karena banyak masyarakat yang duduk di bench
tersebut, makan atau membutuhkan tempat sampah, ternyata mereka
membuanf2 sampah tersebut dengan sembarangan. Dan angin menerbangkan
tissue tersebut …..
Ini aku copas dari sebuah artikelku :
Aku pernah dan selalu mengamati. Hasilnya adalah :
1. Di jalan2 umum :
a. Mungkin tiap 100 meter atau
lebih, bahkan di banyak ruas jalan besar klas A pun, dalam 1 area tidak
satupun terdapat tempat sampah!
b. Jika ada tempat sampah,
kondisinya sangat memprihatinkan. Jorok, penuh sampah ( berapa kali
sehari dibuang oleh petugas kebersihan? ) Dan bau sehingga untuk
berjalan kaki melewatinya pun warga menyngkir, dan akhirnya sampah
mereka hanya sekedar dilempar saja!
c. Jika dari mobil ingin membuang
sampahnya dan dekat dengan tempat sampah, dari mobil mereka hanya
sekedar melempar. Jika masuk tempat sampah, mereka beruntung. Tetapi
jika tidak, toh mereka tetap tidak peduli. Mungkin mereka pikir,
“Kan sudah berusaha, dan nanti ada petugas sampah kan?”
2. Di taman2 umum :
a. Untuk di daerah2 protokol
seperti Taman Menteng atau di Taman Surapati, tempat sampah memang belum
terlalu sesuai dengan standard dan jaraknya belum sesuai dengan yang
seharusnya. Tetapi paling tidak, tempat2 sampah tersebut cukup bersih
dan petugas kebersihat beberapa kali aku mengamati, ada disana untuk
menyapu daun2 kering atau membersihkan sesuatu.
b. Walau konsep tempat sampahnya
belum sesuai dengan standrad seperti mengumpulkan sampah basah dan
kering, plastik atau kaleng.
c. Di taman2 baru seperti di
Kelapa Gading atau ruang2 terbuka daru di sekitar bawah jalan jayang di
Jakarta, pun tempat2 sampah belum sesuai dengan standard. Bahkan di area
bawah jalan layang, tempat2 sampat tidak ada, bahkan area2 itu sudah
terbangun ‘tempat istirahat’ bagi tunawisma2 …..
3. Di pasar2 ( tradisional ) :
a. Pasar? Wah sepanjang yang aku
amati aku tidak melihat tempat sampah! Semuanya membuah sampahnya
langsung dari tangannya! Bahkan di warung2 di pasar itu mereka makan dan
membuang sampah mereka di bawah kaki mereka …..
b. Sampah2 basah masing2 pedagang,
mereka beberapa memasukkan ke kantong2 plastik dan dikumpulkan. Setelah
bubaran pasar, ada yang di bawa kemobil2 mereka untuk dibuang entah
kemana, atau ada yang meninggalkan sambah2 basah mereka dalam plastik
dan petugas2 kebersihan yang membuangnya …..
***
Mengentaskan masalah sampah perkotaan, khususnya Jakarta sebagai ibukota negara? Seharusnya akan menjadi salah satu program kerja besar dan bersinambungan dari siapapun yang terpilih sebagai Presiden RI, karena sampah adalah sebuah ‘musuh besar’ Indonesia, terutama untuk Jakarta ……

Selasa, 29 April 2014
Selasa, 29 April 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

Sebelumnya : Kisah Pagi di Pedestrian Jakarta
‘Mengatasnamakan penghidupan’
( seperti komentar salah satu tulisanku diatas ) merupakan ‘modal’ bagi
orang2 yang tidak peduli, yang menjadikan ‘atas nama penghidupan’
diatas segala2nya, padahal justru mengesampingkan kehidupan orang lain.
Ketidak-pedulian ini yang sering menjadikan HAM sebagai kambing hitam.
Ketika sering kali Jokowi ditengarai
sebagai gubernur yang tidak peduli dengan ‘kemanusiaan’ karena membuat
warga pindah dari Waduk Pluit ( misalnya ) atau beberes sebagai pedagang
kaki lima di Tanah Abang, membuat banyak orang menjadi dilema : kemanusiaan atas nama penghidupan ( untuk warga kota yang memang tidak mampu, BUKAN semua warga kota ) atau kah KEBERSAMAAN sebagai seluruh warga kota?
Tulisanku di link diatas, sangat nyata.
Ketika ‘atas nama penghidupan’ bagi sosial masyarakat kebawah harus
berjuang untuk hidupnya, pada kenyataanya justru membuat seluruh masyarakat terkena dampaknya!
Seperti yang aku tuliskan, issue2 besar
perkotaan, awalnya hanya dari segelintir orang2 yang tinggal di bantaran
sungai, berdagang di sembarang tempat, menawarkan jasa di tepi jalan (
seperti tambal ban, cat duco ), membuat masyarakat disekelilingnya
terabaikan tentang kesehatannya bahkan keselamatannya. Dan seharusnya,
kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan ….
Pemerintahan Jokowi menurutku sudah sesuai dengan kepedulian masyarakan
waega kota dan lingkungan. Waduk Pluit dan PKL, misalnya. Sepertinya
‘atas nama wong cilik dan penghidupan’, selain Jokowi belum ada yang
berani mendobraknya! Dengan ‘keras’ tetapi sesuai dengan prosedur serta
rencana kota masa depan, Waduk Pluit dan PKL pun dilabraknya! Banyak
warga yang berteriak2 tentang HAM, tetapi mereka sendiri pun harus tahu
bahwa hidup di perkambungan ’slum’ Waduk Pluit ( dahulu ) dan PKL yang
membuat sebagian besar warga Jakarta susah untuk menembusnya, justru MELANGGAR HAM!
Masyarakat dan kehidupan perkampungan
kumuh di Waduk Pluit, berubah dan berangsur berubah menjadi kehidupan
normal di rusunami2 yang sudah diberikan kepada masyarakat disana,
bukankan masing2 warga kota menjadi ‘enak’ dan nyaman dalam kebersamaan?
Waduk Pluit menjadi taman untuk lingkungannya, dan aliran air hujan
bisa tertampung ( sebagian ) di Waduk Pluit. Dan warga yang awalnya
hidup di ‘rumah kardus’, nyaman tinggal di rusunami …..
Begitu juga tentang PKL di seluruh
Jakarta. PKL2 yang selalu bertumbuh, apalagi di keramaian pasar dan
membuat jalanan umuh dan macet, Jokowi berhasil menjadikan jalanan2
tersebut lebih nyaman dan PKL di kelompok2an sesuai dengan peraturan dan
rencana tata kota. Dan semuanya seharusnya senang, dan hak-hak warga
kota dalam kebersamaan semakin nyata.
Tetapi ternyata tidak demikian!
Ke-egois-an sebagian warga yang merasa ‘hak2nya untuk mendapatkan
penghidupannya’ ( lewat PKL atau tinggal di gubuk kumuh tetapi
pendapatannya lebih baik ) lebih baik, seakan2 tidak puas dengan
kenyataannya.
Bahwa KEBERSAMAAN HAK DAN KEWAJIBAN SEBAGAI WARGA KOTA TIDAK SELARAS DENGAN KEINGINAN2 YANG MENGATAS-NAMAKAN ‘PENGHIDUPAN’. Sehingga,
mereka kembali lagi ‘masuk’ ke dalam lingkaran dan lingkungan mereka
yang lama : hidup di gubuk kumuh, PKL yang memenuhi pojok2 kota, dan
unit2 rusunami serta unit dagang mereka di pasar, diperjual belikan (
atau disewakan ) tidak semestinya …..
Itu kenyataan, bukan?
Survey ku ketika aku mengambil S2
tentang Manajemen Kota Jakarta tahun 1997, salah satunya mengatakan
tentang keberadaan warga kota yang mempunyai hak untuk tinggal di rumah
susun Jakarta seperti di Rumah Susun Klender, Rumah Susun Kebon Melati,
atau Rumah Susun Pulo Mas, ternyata sebagian besar dari mereka lebih
memilih’keluar’ dari rumah susun tersebut, tinggal kembali ke gubuk2
kumuh, dan unit mereka disewakan atau dijual kepada orang lain, yang
benar2 berminat!
Tetapi justru bannyak orang2 yang
menyewa atau membeli dari yang berhak, adalah masyarakat menengah,
dengan pendapatan lebih. Mereka melakukan itu untuk banyak hal : jual
beli, menyewakan denga n harga tinggi ataupun untuk ‘bisnis’ yang tidak
jelas!
Tidak heran, ketika kita melewati
rusun2 tersebut melihat banyak sekali mobil keluaran baru dan mereknya
untuk kalangan menengah keatas, di tempat parkir ….!
Aku tidak menyangsikan
keinginan Jokowi untuk membenahi jakarta, terutama yang sudah
dilakukannya untuk mengangkat ‘derajat’ kaum marjinal ke tempat2 yang
lebih manusiawi, SEKALIGUS membenahi Jakarta yang kian semrawut. Tetapi
dengan ke-egois-an sebagian besar warga kota, ternyata issue besar
perkotaan, semakin tidak terbendung, atas nama penghidupan!
***
Hak-hak kemanusiaan itu wajib, untuk
semua warga! Kebersamaan warga dalam hak dan kewajiban akan membuat
sebuah kota dapat saling mengisi. Seperti cerita tentang ‘Kisah Pagi di
Pedestrian Jakarta’, sebenarnya akan lebih baik, jika ( contohnya ) :
1. Pedestrian bersih dan lapang,
nyaman untuk pejalan kaki, TANPA membuat bisnis ‘atas nama penghidupan’.
Pedestrian ini adalah HAK bagi semua warga kota!
2. Pojok2 warung sarapan yang dikelola oleh instansi ( swasta atau pemerintah ), TETAPI SESUAI DENGAN PERATURAN dan KE-EGOIS-AN WARGA DIREDAM, untuk lingkungan yang nyaman. Jangan gerobak soto atau ketoprak di pedesrian, atau di atas sungai !
3. Bisnis kbutuhan hidupsehari2,
seperti dagang asongan, PKL atau tambal ban juga ketok dan cat duco,
diberdayakan pada pojok2 lainnya. Tetapi sekali lagi, SEMUANYA SESUAI DENGAN PERATURAN, DAN KE-EGOIS-AN WARGA DIREDAM!
‘Atas nama penghidupan’, memang sangat
sensitif. Salah2 tulisanku ini pun akan di demo, ketika pembaca tahu
bahwa aku merupakan salah satu warga yang ’sesuai dengan peraturan’.
Bukan karena aku tidak peduli dengan masyarakat marjinal, tetapi justru
aku ingin mereka bisa mengangkat derajat mereka sendiri sesuai dengan
aturan pemda serta keinginan keras diri sendiri untuk ‘MAU BERUBAH!’
Memang tidak gampang, apalagi
berhubungan dengan ‘perut’. Tetapi jika Pemda sudah berusaha untuk
melakukan yang terbaik, dengan resiko2nya serta berkorban dan berjuang
untuk membenahi kota dan masyarakatnya, mari … marilah kita bersama
salling mendukung. Jika PKL di Tanah Abang yang merasa penghasilannya
berkurang waktu masih menjadi PKL, berdiskusilah dan bergotong royonglah
untuk mencari celah.
Tetapi juga untuk masyarakat umum yang
maunya enaknya saja ( tidak mau masuk ke pasar, lebih memilih PKL
karena tidak jauh ), tolonglah! Jika sudah berlangganan dengan PKL2 itu,
masuklah ke pasar, mencari PKL2 langganannya, jangan malas demi
kebersamaan dan kota kita!
Dan jika kebersamaan ini
terus ada, Jakarta akan semakin baik! Saling mendukung, saling
menghargai! Karena peraturan ada untuk warga, tetapi jika warga tidak
peduli serta mengabaikan peraturan bahkan bukan hanya melanggarnya,
Jakarta bukan hanya ’statis’ saja, tetapi semakin terpuruk …..

Senin, 28 April 2014
Senin, 28 April 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

- experiencelife.blogspot.com
Apakah pedestrian cantik ini hanya akan berada di jalan2 protokol Jakarta? Hanya untuk warga Jakarta yang ‘mampu?’
Sering kali aku benar-benar heran, apa
sih yang ada di pemikiran masyarakat kebanyakan? Apa yang mereka
pikirkan tentang kepedulian? Apa yang mereka inginkan bagi mereka
sendiri dan lingkungan? Aku selalu geleng-geleng kepala, justru ketika
macet dan mobilku ‘mandeg’ dan melihat area pejalan kaki yang penuh
dengan berbagai macam jenis kehidupan…
J
ika kita ke negara lain, mungkin di
area pedestrian apalagi di sisi jalan mobil, hanya ada para pejalan kaki
saja. Bagi pejalan kaki lokal, yang bergegas untuk menuju ke suatu
tempat, atau pejalan kaki sebagai wisatawan, yang santai, berfoto atau
hanya sekedar duduk-duduk di bench-bench yang memang disediakan oleh
kota tersebut.
Atau juga pejalan kaki yang menunggu bus
untuk ke tempat tujuan. Itu pun mereka tidak bergerombol, melainkan
antri dengan tertib, walau bus datang dan mereka terap mengantri dengan
tertib, mengular, tetapi tidak menutupi pejalan kaki yang lain, yang
memang hanya melintas saja.
Jika jam-jam kantor, sebelum jam makan
atau setelah jam makan dan sebelum jam pulang kantor, area pedestrian
sedikit sepi. Hanya sekedar wisatawan fan suasana di pedestrian
benar-benar nyaman sebagai fasilitas umum di perkotaan.
Bagaimana dengan pedestrian di Jakarta?
Kita tahu sendiri. Di Jakarta,
pedestrian penuh dengan berbagai macam ragam kehidupan. Beberapa yang
‘kritis’ yang membuat Jakarta semakin amburadul :
PASAR ATAU BERDAGANG ‘YANG TIDAK JELAS’
Mulai dari di sekeliling rumahku, begitu
keluar dari kompleks, tetangga Tebet (Kampung Melayu) di sekitar Sungai
Ciliwung, pagi-pagi sudah dipenuhi dengan ‘pasar’ tidak jelas. Dulu, memang ada Pasar Kampung Melayu (lihat tulisanku Kampung Melayu = Kumuh dan Banjir?), tetapi sudah puluhan tahun, pasar ini tidak ada lagi, berganti dengan ruko-ruko dan toko-toko kelontong. Tetapi kenyataannya, ‘pasar’ itu tetap ada!
Mereka memenuhi pedestrian. Ada yang
berjualan sayuran, dan membagi-bagikannya pada pedagang sayur keliling,
sehingga semakin padatlah daerah pedestrian itu. Bahkan berdagang ikan,
daging dan ayam, dimana si pedagang memotong-motong dagangannya dan
menimbulkan bau amis yang segera dikelilingi oleh kucing-kucing dan
anjing-anjing. Mereka berebut sisa-sisa dari si pedagang, dan pedagang
pun dengan santainya membuang cacahan ikan dan daging, tanpa
membersihkannya, setelah pasar ‘tutup’, sekitar jam 11.00 siang…
Berlanjut tadi pagi, sebelum ke kantor
aku terapi dulu di RS Cikini. Di sepanjang jalandari Tebet kesana,
benar-benar beragam awal kehidupan pagi di pedestrian. Ada yang memulai
membuka dagangannya, di sebuah pojok pedestrian, ada yang justru sudah
berdagang. Tambal ban, pedagang rokok, dagang sarapan,
biasanya ketoprak atau lontong sayur, dan warga Jakarta sudah tahu
tempat2 favourite mereka untuk sarapan. Atau kebutuhan2 kecil lainnya.
FUNGSI HALTE? FUNGSI PAGAR ‘YANG JUGA TIDAK JELAS?’
Semakin siang, warga semakin banyak. Ada
yang bergegas menuju ke suatu tempat, ada yang menunggu bus ( tetapi
tidak di halte bus atau tempat2 pemberhentian bus ). Ada juga beberapa
warga yang turun dari bus atau angkot, tetapi mereka seenaknya saja!
Baik karena bus atau angkotnya memang seenaknya saja untuk
memberhentikan kendaraannya, tanpa peduli dengan yang lain, atau justru
si penumpang yang menyetopkan kendaraannya dengan seenaknya, walau si
supir mau tertib ( ‘ga mungkin, ya? Hihihi … ).

Calon penumpang, menunggu kendaraan
TIDAK DI HALTE. Lalu tukang ojek seenaknya saja menunggu calon penumpang
di DIDEPAN PINTU PAGAR, padahal di pagar itu tertera, untuk tidak
parkir disana …..
Bahkan di sepanjang jalan Raden Saleh (
dan aku yakin, banyak di jalan2 Jakarta lainnya ), semua halte bus, yang
seharusnya merupakan tempat pemberhentian bus, justru menghalang2i
calon penumpang, dan memagar di depan halte dan di beberapa titik yang
ditengarai sebagai tempat masyarat menunggu bus, tetapi bukan tempatnya!
Dari Jalan Matraman Raya belok kiri ke
jalan Raden Saleh, hook kana dan dirinya, dipagari pipa2 besi, walaupun
pedestriannya sangat sempit! Astaga! Itu benar2 PEMBOROSAN! Apa yang
terjadi?
1. Masyarakat SELALU menunggu bus atau angkot di hook atau pojokan jalan tersebut, walau tempat itu sangat kecil!
Sehingga, pasti macet! Hook itu adalah perempatan dan mempunyai
pemberhentian lampu merah, tetapi pada kenyataannya lampu merah tidak
berfungsi ketika bus2 Metro Mini atau angkot biru berjejer untuk
mengambil atau menurunkan penumpang.


Di perempatan jalan Matraman dan
jalan Raden Saleh. Pipa2 besi yang boros, untuk apa? Walau awalnya aku
yakin adaah untuk ‘menghalau’ calon penumpang antri bus atau angkot.
2. Pagar pipa besi ini, justru bisa menjadi tempat ‘kongkow2′ pemuda2 jalanan atau memang menunggu kendaraan,
sambil menunggu kendaraan mereka! Walau mungkin mereka tidak ‘nakal’,
tetapi sangat tidak nyaman pagi pejalan kaki, terlebih bagi perempuan
…..

3. Tetapi mereka yang merasa dirinya lebih ’santun’, memang tidak duduk di pipa besi, pagar tersebut, tetapi MENUNGGU DI BADAN JALAN! Sehingga, semakin padatlah tempat itu! Sehingga, pipa besi sebagai pagar itu benar2 tidak berfungsi!
4. Bagaimana dengan halte nya sendiri? Halte JUSTRU di pagar, sehingga calon penumpang antri dan berada di luar halte! Apa yang ada di benak si ‘perancang’, ya?


Halte bus yang diberi pagar, dan
halte bus untuk berdagang asongan. Fungsi halte sudah hilang, berganti
untuk berdagang dan jika malam, untuk tinggal dan tidur bagi warga yang
tidak punya tempat tinggal …..
Aahhhh …..
WARUNG DI ATAS SUNGAI?
Semakin nyata keanehan pedestrian di
Jakarta. Di jalan Raden Saleh ( bahkan mungkin di jalan2 yang lain di
Jakarta ), ada sebuah warung untuk sarapan, yang membuka lapaknya DIATAS sungai! Apakah terbayang, berapa banyak sampah sarapan yang ‘terbuang’ di sungai tersebut????
Bahkan selintas, warung makan tersebut
seakan mau ‘menyembunyikan’ lahan yang dipakai ( yang diatas sungai ),
sampai2 jika tidak ada yang memperhatikan, semakin banyak ‘lahan2
illegal’ untuk membuka lapak …..

Di sebelah motor terlihat pagar sungai, dan lapak ini memang berada di atas sungai!
Untukku, lahan di sisi atau atas
sungai tetap disebut ‘bantaran sungai’, dimana lahan tersebut merupakan
lahan illegal. Daerah atau lahan ini merupakan lahan umum untuk semua
warga kota! Bukan lahan untuk seorang atau sekelompok warga saja.
Apalagi, bantaran sungai adalah lahan yang sangat ‘kritis’, sebagai
daerah yang selalu disebut2 sebagai ‘kambing hitam’ penyebab banjir (
walah pada kenyataannya, memang salah satu penyebab banjir, bukan? ).
Ckckckckck …..
KETOK dan CAT DUCO DI JALAN RAMAI?
Dari RS Cikini, aku melanjutkan
perjalanan ke kantorku, ke daerah Grogol Jakarta Barat, melewati Pasar
Senen.. Di sepanjang jalan Matraman, sebelah kiri banyak penjaja
dagangannya untuk ketok dan cat duco!
Heh? Ini memang sudah sejak lama,
mungkin mulai sekitar tahun 1980-an. Ada bandarnya. Dulu, ketika aku
masih ‘bermain’ bisnis interior dan furniture, tukang2 cat kami sangat
pandai dan ahli bermain di ranah ‘duco’, bahkan mampu mengecat mobil2ku (
dulu ), tanpa ke bengkel.


‘Cat Duco’ diantara makanan! Dan cat
duco di halte bus. Dengagn alat penyemprot ( yang berwarna orange ),
berarti si penawar jasa ini, siap untuk mengetok dan mencat mobil
ditempat ini! Ckckck …
Dan jasa ini, berada antara tidak sampai 20 meter, sepanjang jalan Matraman dari perempatan Raden Saleh sampai Pasar Senen.
1. Sedemikian bagus-kah, bisnis ini?
2. Apakah Pemda memperbolehkannya?
3. Jika memang bisnis itu bagus untuk mereka, apakah Pemda tidak memikirkan adanya konsep2 khusus untuk mereka?
Memang di jalan Matraman, mempunyai
‘bandar’, mereka juga mempunyai bengkel2 kecil di gang2 disekiotar
tem;at itu, tetapi pemasarannya di jalan Matraman. Tetapi jika bengkel
itu penuh, mereka pun mengetok dan mengecat mobil2 itu, tepat di badan
jalan Matraman! Dengan debu beterbangan ( debu cat dan debu alam! ),
membuat beberapa masalah :
1. Kesehatan warga disekitar itu PASTI bermasalah.
Karena aku melihat sendiri, si pengecat banyak yang tidak menutup
hidung dan mulutnya dan warga sekitarnya, pun sudah kebal dan biasa!
Hanya orang2 yang hanya sekedar melintas saja, yang merasa terganggu.
Dan karena debu cat berbahaya bagi paru2 kita! Tukang2 cat ku dulu,
beberapa yang tidak peduli dengan kesehatannya dan tidak menutup hidup
dan mulutnya sehari2an, pasti paru2nya kotor dan vlek dan harus diobati!
2. Debu alami pun ( jalan Matraman
sangat ramai kendaraan ), akan mengotori cat yang disemprotkan pada
badan mobil, sehingga cat duco itu akan ‘tidak mulus’, ber-titik2
seperti pasir dan ‘grunjalan’. Hasilnya tidak memuaskan …..
Semakin menuju Grogol, semakin cerita2
sepanjang pedestrian, yang jika dituliskan, akan banyak sekali, jika
kita benar2 mengamatinya. Mulai dari fisik perkotaan, berlanjut ke
sosial masyarakatnya, lalu lebih kepada hasil dari kegiatannya dalam
kesehatan serta kepedulian llingkungannya, merambah menjadi issue besar
perkotaan!
Dan lihatlah!
Ternyata issue besar
perkotaan, berasal dari KETIDAK-PEDULIAN masyarakat perkotaan itu
sendiri, sehingga mereka sendirilah yang akan merasakan akibatnya,
DITAMBAH dengan masyarakat yang ‘tidak berdosa’, terutama anak2 dan
keluarga …..
Bagaimana, Jakarta?

Selasa, 22 April 2014
Selasa, 22 April 2014
- 1 Comment
By Christie Damayanti
bestdesain.blogspot.com
Sebelumnya : Taman Kota : Bagi Kesehatan Warga Dunia
Sebuah lahan, akan mempunyai batas2 yang
boleh dan bisa dibangun. Ada garis sepadan bangunan (GSB), yang
merupakan batasan yang boleh dibangun. Ada juga garis sepadan jalan
(GSJ), adalah daerah terbuka tanpa bangunan sama sekali.
Garis2 GSB dan GSJ ini, merupakan salah
satu cara untuk membangun ‘daerah hijau’, paling tidak di lingkungan
kita sendiri. Fungsinya jelas terlihat, sebagai fungsi HIDROLOGIS, funsi EKOLOGIS, tetapi juga bisa berfungsi ESTETIS secara visual karena bisa dinikmati dari jalan umum.
Antara jalan sampai ke didinding rumah,
adalah daerah hijau, dan daerah hijau tersebut bisa membentuk suatu
koridor hijau jalan perkotaan. Pemanfaatan ruang antara depan pagar
rumah dan jarag GSB seharusnyalah bisa menciptakan keserasian
‘landscape’ sesuai dengan ketentuan tata ruang dan tata bangunan
perkotaan.
Pada kenyataanya, di Jakarta (
rumah2 yang tidak di dalam kompleks real estate ), ruang antara jalan ke
pagar rumah ( yag biasanya digunakan oleh trotoar atau pedestrian untuk
pejalan kaki ), dipakai sebagai warung2 kecil, atau parkir sepeda motor
bahkan mobil. Bukan untuk ‘jalur hijau’.
Lalu GSB ( jarak dari ujung lahan
pribadi sampai batas awal dinding rumah ), mereka lebih menginginkan
sebagai car-port ataupun membangun ruangan baru. Padahal itu justru
digunakan sebagai ‘daerah hijau’.
bappeda.palangkaraya.go.id
DAS ( daerah sepadan sungai )
seharusnya seperti ini, dengan jalur pedestrian dan jalur hijau untuk
penyerapan. Tetapi apa yang terjadi di Jakarta? DAS di Jakarta, justu
dipenuhi dengan gubug2 liar ataupun hanya sekedar tempat sampah dan
pedagang2 liar, dan tidak bisa memenuhi perhitungan RTH perkotaan.
Bagaimana dengan karakteristik ‘daerah hijau’ antara landscape jalan dengan landscae pribadi?
Jangankan untuk landscape pribadi, dengan landscape jalanpun sepertinya belum bisa dilakukan untuk perumahan2 padat …..
Perbandingan ‘daerah hiau’ yang baik :

Ini adalah rumah sehat dengan ruang
hijau sesuai dengan peraturan dan indah dipandang mata. Memang, ini
adalah perumahan menengah keatas, sehingga mudah dilaksanakan …..

Ini adalah rumah menengah yang seharusnya sudah mudah untuk dikerjakan, tetapi rumah ini sama sekali tidak sehat :
1. Tidak ada penyerapan sama sekali. Semuanya beton, dan aku yakin, didalam tidak mempunyai bukaan sama sekali! Padat dan pengap!
2. Sama sekali tidak ada ruang ‘daerah hiau pribadi’.

Rumah ini bikan di kompleks real
estate. Seperti yang aku tuliskan di atas, semua lahan mempunyai
batasan2 yang boleh dibangun, seperti GSB dan GSJ. Tetapi dari foto
diatas, sangat terlihat bahwa rumah tersebut dan sepanjang jalan itu,
tidak mengindahkan apa itu GSB dan GSJ ( panjang GSB sekitar ½ lebar
jalan didepannya ).
Belum lagi, sama sekali tidak mempunyai ‘daerah hijau pribadi’
Konsep sebuah lahan dengan ‘daerah
hijaunya’, bukan hanya berhubungan dengan konsep ekologis dan estetika
saja seperti yang aku tuliskan diatas saja, tetapi fungsi KESEHATAN
merupakan sebuah konsep bagi warga kota. ‘Daerah hijau’ bisa dibangun
untuk menetralan karbpn dioksida ( CO2 ), dengan perhitunang kebutuhan2
antara penghuni dengan banyaknya tanaman dan besar lahan. Sehingga
dengan konsep kesehatan, adalah yang terbaik untuk peningkatan kualitas
hidup warga perkotaan.
***
Untuk ‘daerah hijau’, sebenarnya bukan
hanya sebuah ‘hijau yang pasif’. Banyak orang mengira bahwa daerah hijau
hanya benar2 untuk penghijauan, untuk tempat tanaman dan pohon2 yang
sesuai dengan kebutuhan penghijauan.
titisukapohon.blogspot.com

‘Daerah hijau’ bisa dibuat aktif
untuk kegiatan sehari2. Permainan anak2, bench2 cantik untuk kongkow
atau berolah raga dengan ;jogging track’ …..
‘Daerah hijau’ tetap bisa dijadikan
‘hijau yang aktif’. Misalnya, daerah hijau untuk kegiatan sehari2. Untuk
ruang bermain anak. Untuk olah raga dengan ‘jogging track’ atau hanya
sekedar taman dengan bench cantik untuk kongkow. ‘Daerah hijau’ bukan
hanya sekedar pepohonan seperrti hutan, tetapi bisa dimanfaatkan dengan
mengambil buah dan bunga2nya. Hanya perlu diingat, persyaratannya harus
sesuai dan tetap memberi manfaat dari ke-3 fungsi diatas ( ekologis,
estetika dan kesehatan ).
Dari ‘daerah hijau’ pribadi dalam
perumahan perkotaan, menjadi RTH ( ruang terbuka hijau ) untuk menjaga
keseimbangan ekosistim perotaan.
Seperti apa ekosistim perkotaan?
Sebenarnya sama dengan ekosistim dasar,
dengan adanya fungsi hidrologis, daerah resapan air, klimatoogis serta
paru2 kota. Kehidupan perkotaan dimanapun, pasti menjadi penduduk kota
tidak ada keseimbanganjiwa dan raga, sehingga semakin hari penduduk
perkotaan akan semakin tidak ’sehat’. Ditambah lagi dengan semakin
padatnya perkotaan, semakin berkuranglah RTH, khususnya kota Jakarta.
Apalagi dengan pertumbuhan jenis2 teknologi yang semakin membuat bumi
kita ini terus ‘terpuruk’ …..
Lihat tulisanku :
Perkembangan dan pembangunan kota
Jakaarta merupakan aktivitas yang sangat aktif, dan dengan perkembangan
yang terus menerus dan pertambahan penduduk semakin padat, keterbatasan
ruang dan lahan menyebabkan RTH terus berkurang. Dan itu menjadikan
Jakarta semakin tidak sehat.
Bukan hanya tida sehat karena tidak
bagusnya fungsi hidrologis, ekologis, kesehatan dan estetika saja,
tetapi juga semakin banyak penduduk kota akan semakin menambah kerawanan
dalam segala hal.
Kecenderungan pembangunan perkotaan,
khususnya kota Jakarta yang memang berpenduduk padat, yang juga mereka
merupakan masyarakat urban, umumnya mereka terlibat dengan masakah
ekonomi. Dimana pada kenyataannya, keberadaan RTH menjado sebuah tata
ruang dan space yang sangat lemah, dan paling berpotensial kurang
terawasi, karena RTH sangat rawan sebagai space untuk sebuah ‘kampung
kumuh’ perkotaan.
RTH dianggap TIDAK MEMPUNYAI nilai ekonomi untuk perkotaan, tetapi MEMPUNYAI nilai ekonomi tinggi bagi warga kota!
Sangat di mengerti untuk kaum urban
atau marjinal dari hail urbanisasi. Jika mereka datang ke Jakarta
tetapi tidak atau belum mempunyai tempat tinggal, padahal mereka harus
bertempat tinggal, dan mereka tidak mempunyai uang, mereka akan nekat
membangun gubuk2 karton bekas untuk bertempat tinggal sementara di
lahan2 terbuka ( seperti bantaran sungai, kolong jembatan atau pinngir
jalan kereta api, yang sedianya merupakan RTH ), yang pada akhirnya
menjadi tempat tinggal permanen.
RTH-RTH inilah yang lalu tidak
memounya nilai ekonomi bagi perkotaan, secara juga paling tidak
menghasilkan. Tetapi RTH ini justru mempunyai harga dan nilai ekonomi
tinggi bagi warga kota yang tidak mempunyai uang untuk bertempat
tinggal, dan dijajakan oleh oknum2 yang tidak bertanggung jawab.
Tetapi apa pun yang terjadi, kita harus
mengupayakan keberadaan RTH demi terciptanya kualitas lingkungan
perkotaan yang tidak memburuk. Apapun itu! Perkembangan kota harus
diarahkan untuk tidak merusak dan tidak mengurangi jumlah RTH-RTH yang
sudah ada, dan justru menambah RTH-RTH baru …..
Memang semuanya harus kepedulian diri
sendiri untuk ‘daerah hijau’ pribadi, dan pemda harus menghimbau, bahkan
bisa mendesak untuk investor2 besar mau mengupayakan pembangunan
RTH-RTH baru demi keberlangsungan ekosistim perkotaan, khususnya kota
Jakarta ini …..


Senin, 17 Maret 2014
Senin, 17 Maret 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti
koran-indonesia.com
Konsep Perumnas untuk mengembangkan Sentra Primer Timur - Jakarta
Sebelumnya :
Dari artikelku sebelumnya, sepertinya
poros Timur - Barat Jakarta belum sesuai dengagn yang diinginkan warga
kota. Konsep2 pemda tentang pemukiman sudah bagus sekali, untuk
mengembangkan jakarta ke sisi Timur dan Barat, karena untuk sisi Utara
dan Selatan sudah terbentur dengan keadaan fisik Jakarta. Dimana sisi
Utara Jakarta adalah laut Jawa ( walaupun ada reklamasi besar2an ) dan
Selatan Jakarta merupakan tanah untuk penyerapan. Dan sisi Timur dan
Barat Jakarta merupakan hal yang benar2 sesuai untuk perkembangan
Jakarta.
Tetapi ternyata untuk sebagian warga
Jakarta tidak sesuai dengan keinginannya. Mereka tetap berpindah sesuai
dengan keinginannya, terserah mereka. Ke utara dan selatan Jakarta,
ataupun mereka memilih membeli apartemen di pusat Jakarta, yang memang
disiapkan oleh banyak pengembang, dengan konsep ‘Back to the City’.
Lihat tulisanku Konsep ‘Back to the City’ : Dampak dari Kehidupan Hunian Perkotaan
Tetapi pemda tidak tinggal diam. Walau
warga kota belum sangat berniat untuk tinggal di Sentra Timur atau Barat
karena mereka mengatakan, terlalu jauh ke kota, Jakarta mempunyai
konsep yang memang untuk mengurangi tekanan pembangunan ke pusat kota
Jakarta. Baik dari segi pemukiman, perkantoran termasuk untuk
entertainment keluarga.
Konsep Kawasan Sentra Timur dan Barat
Jakarta sudah aku tahu sejak tahun 1997-an. Sentra Barat Jakarta sendiri
merupakan suatu kawasan pembangunan terpadu yang berada pada lahan
seluas sekitar 94.7 hektar, yang sudah direncanakan sebagai pusat
kegiatan di Jakarta Barat.
Dokumen Pribadi
Sentra Barat ( Kembangan ) - Jakarta
Untuk sampai kesana, Sentra Barat
Jakarta yang sering disebut dengan Kembangan, terletak di persimpangan
jalan tol Jakarta - Merak dengan jalan tol Pondok Indah - Kapuk ( tol
lingkar luar Barat Jakarta ). Jika tahu tentang Mall Puri, itulah salah
satu pusat dan fasilitas Kembangan.
Sentra Barat atau Kembangan sendiri akan
menjadi sebuah kawasan campuran antara komersial, hunia, pelayanan jasa
dan pemerintahan. Pemukiman sesuai dengan tata aturan dengan fasilitas2
umunya. Juga dengan fasilitas2 perkantoran, sehingga yang bertempat
tinggal disana tidak harus ke Jakarta lagi karena bisa berkantor disana.
Juga dengan kebutuhan ‘leisure’ atau
kesenangan. Seperti mall, taman bermain, sudah sudah disediakan. Rumah
sakit internasional, sekolah2 internasional pun ada disana dan
kesemuanya membuat yang bertempat tinggal disana tidak harus bersekolah
lagi di Jakarta. Sehingga, DIHARAPKAN penduduk kota Jakarta menyebar ke Sentra Barat.
Begitu juga untuk Sentra Timur jakarta,
yang ssering disebut Pulo Gebang. Konsepnya sama dengagn Sentra Barat
Jakarta, walaupun sedikit lebih lama dalam peerkembangannya, karena
belum banyak pengembang yang berminat untuk mengembangkan Pulo Gebang.
www.jakarta.go.id
Sentra Timur ( Pulo Gebang ) - Jakarta
Sentra Timur Jakarta terintegrasi dengan
konsep ‘waterfront city’ dari BKT ( Banjir Kanal Timur ), serta
‘bergandengan tangan’ dengan Bekasi untuk jasa komersial, bisnis,
kepemerintahan, entertainman serta ‘public space’. ( Sumber : Jakarta City Planning ).
Jika di artikelku sebelumnya bahwa
Sentra Primer Barat Jakaarta merupakan ‘trade-mark’ bagi warga Jakarta
menengah keatas, tidak untuk Sentra Primer Timur Jakarta. WALAUPUN pada kenyataannya, Jakarta tidak membeda2kan ‘kelas’ bagi warga kota. Tetapi begitulah kenyataannya.
Sentra Primur Timur, yang notebene
tertinggal jauh dibanding bagian Barat Jakarta, mau tidak mau
‘melepaskan’ fasilitasnya dengan harga yang berbeda dengan Barat
Jakarta. Sehingga, warga kota yang memang mencari rumah yang LEBIH MURAH, mereka akan menuju ke Timur Jakarta.
Apartemen2 mewah, jor2an di Jakarta Barat, tetapi tidak di Jakarta
Timur. Juga pengembang2 besar akan membeli tanah untuk membangun
super-block dan perumahan di jakarta Barat, tetapi hanya pengembang
kecil dan tidak terkenal yang membangun Jakaarta Timur …..
Dan pada kenyataannya juga, ternyata
Perum Perumahan Nasional ( Perumnas ) justru sangat konsisten untuk
mengembangkan kawasan terpadu di Sentra Primeer Timur. Mengapa?
Dengan suksesnya Perumnas mengambangkan
Rumah Susun Klender dengan puluhan blok bangunan rumah susun, membuat
‘branding’ bagi warga kota menengah kebawah. Bayangkan, rumah susun yang
sudah ada sejak tahun 1980-an ini membuat ‘branding’ bahwa tempat
itulah yang nyaman bagi sebagian warga kota, untuk sebuah tempat tinggal
murah …..
Perumnas sangat konsisten untuk
pengembangan rumah susun serta pemukiman murah. Dengan luas lahan
sekitar 40 hektar, akan dibangun apartemen murah dengan beberapa
fasilitas pelengkapnya. Dan itu yang menjadikan kawasan Sentra Primer
Timur Jakarta sebagai kawasan terpadu dengan ‘branding’sebagai daerah
menengah kebawah. Dan nantinya, mereka tidak akan sadar bahwa Sentra
Primer Timur pun akan menjadi seperti bagian Barat Jakarta ……
Jika konsep kawasan Sentra
Primer Jakaarta ini sudah mulai dikembangkan, sehingga diharapkan sesuai
dengan masterplan Jakarta 2030, akan terjadi keseimbangan penduduk
Jakarta yang menyebar. Dan Kota Jakarta ( downtown ), menjadi lebih
manusiawi, termasuk dengan pembangunan2 mega proyek serta
transportasinya yang terus menyebar …..

By Christie Damayanti
realjakarta.blogspot.com
Sebelumnya :
Seperti yang aku tuliskan tentang Poros Timur - Barat Jakarta, masterplan Jakarta memang sudah memikirkan bahwa Sentra
Timur dan Sentra Barat memang akan dikembangkan sebagai kawasan
terpadu, untuk MENGURANGI TEKANAN PEMBANGUNAN ke pusat kota Jakarta.
Memang tidak dipungkiri. Pertambahan
penduduk yang cepat dan arus urbanisasi yang tidak ditangani dengan
baik, menambah tekanan2 dan permasalahan2 membludagnya sebuah rumah atau
tempat tinggal bagi semua warga Jakarta.
Ditambah dengan kurang sigapnya
pengawasan arapat pemda untuk membangun rumah2 murah untuk kaum
marjinal, yang seharusnya berada di tepi kota, menjadikan mereka
mendesak masuk ke tengah kota dan mendirikan pemukiman kumuh serta
membangun sosialisasi dan sentra bisnis untuk kalangannya ( PKL ),
sehingga semakin runyamlah Jakarta!
Tetapi konsep ’suburb’ di banyak negara
memang mampu untuk mengurangi tekanan ke arah ‘downtown’ atau pusat kota
Jakarta. Seperti Kelapa Gading, ternyata Kelapa Gading mampu menjadi
fokus yang baru ( lihat tulisanku ‘Dunia Glamour dan Gemerlap’ Kelapa Gading ).
Kelapa Gading mampu membuat warga Jakarta membelokkan arah matanya
tidak ke sentra Jakarta dalam bisnis dan perdagangan ( misalnya, ke
Mangga Dua atau Glodog ), tetapi menuju ke Kelapa Gading. Juga untuk
entertainment serta rekreasi dan setra kuliner, Kelapa Gading sekarang
adalah yang terbesar ……
Untuk kawasan Pluit pun, sudah menjadi
area suburb sendiri bagi Jakarta. Kebayoran Baru memang merupakan suburb
lama dan sekarang aparat pemda sudah kendor dalam promosi dan investasi
disana. Kebayoran Baru memang sudah menjadi ‘trade-mark’ sebagai suburb
‘kelas atas era tahun 1980-an’ yang memang tidak suka terlalu penuh dan
padat!
***
Sejak aku membuat thesis S2 ku tahun
1997 kemarin, aku sudah tahu tentang cerita poros Timur - Barat Jakarta.
Dimulai dengan RUTR ( Rencana Umum Tata Ruang ) Jakarta tahun 2005,
onsep poros Timur - Barat Jakarta mulai didengungkan. Bahwa untuk
mengurangi tekanan pembangunan ke pusat kota Jakarta, pemda membangun
awsan teradu tersebut. Untuk kawasan Timur Jakarta berada di lingkungan
Pulo Gebang. Dan untuk kawasan Barat Jakarta adalah Kembangan.
Tetapi konsep poros Timur - Barat
Jakarta ini, belum mampu membuat warga Jakarta ( khususnya kaum menengah
kebawah ) untuk ikut ‘membeli’ properti disana karena beberapa sebab :
1. Perbedaan Jakarta Barat dan Jakarta Timur memang jauh.
Sebagian besar warga Jakarta sudah tahu,
bahwa Jakarta Barat merupakan daerah elite dengan kehidupan glamour.
Jakarta Barat sebagian besar dihuni oleh warga Jakarta etnis China.
Slipi dan Grogol sampai Kembangan memang dekat dengan kehidupan
hedonisme, dengan banyaknya mall besar dan mewah.
Sedangkan Jakarta Timur merupakan
daerah warga Jakarta menengah kebawah. Dari Jatinegara, lewat Klender
sampai Pulo Gebang, merupakan daerah bisnis mereka.
Bahkan investornya pun berbeda.
Maksudnya, tidak banyak, atau belum banyak investor yang ingin mnggarap
Sentra Primer. Bahkan ketika aku sempat tinggal di Kompleks Eramas 2000,
berhadapan dengan Kantor Walikota Jakarta Timur, merasakan sendiri
bahwa janji para developer disana sejak tahun 1994 ( kami membeli rumah
disana awal tahun 1994 ) sama sekali tidak ada perubahan. Baik keadaan
kompleks tempat aku tinggal atau kompleks2 yang lain disekitar sana,
maupun fasilitas2 umum untuk Sentra Timur.
www.jakarta.go.id
Dokumen Pribadi
Kawasan Sentra Primeer Timur dan Sentra Primer Barat - Jakarta
Jalan Penggilingan menuju Sentar Primer
sampai beberapa tahun lalu aku pindah dari sana ke daerah Tebet, sama
saja. Terakhir saja banyak pembangunan fasilitas Busway, dan beberapa
apartemen murah di sisi tol Bintara.
Mengapa aku memilih Sentar Timur dari
pada Sentra Barat? Tetapi toh belum membuat Sentra Barat tetap merupakan
fokus incaran warga Jakarta :
a. Pertama, karena rumah2 disana
lebih murah, dan waktu aku me-redesain rumahku, tetap saja lebih murah (
mungkin bedanya sampai ½ harga rumah di Sentra Barat ).
b. Kedua, di Sentra Timur ( waktu
itu ) tidak semacet dari Sentra Barat. Dulu kantorku di ‘Golden
Triangle’ dan berpindah ke Kemayoran sampai ke Grogol. Setelah riset
sedemikian, waktu bekerja memang lebih cepat pulang pergi ke Sentra
Timur.
c. Ketiga, tanah di Sentra Timur
jauh lebih murah sehngga aku bisa membelinya untuk ditanam pepohonan,
dimana sangat berbeda di Sentra Barat. Pemukiman penuh sesak dan terihat
semua tanah sudah tertutup beton! Apalagi dari Grogol menuju Sentra
Barat, waktu itu pun tol Kebon Jeruk sudah sangat padat dan terus macet!
Antara Sentra Timur dan Barat sendiri
belum didukung 100% oleh banyak instansi sebagai konssep pemukiman pada
Poros Timur - Barat. Masih banyak warga Jakarta justru mencari tempat
tinggal menuju ke selatan Jakarta bahkan dibela2in mereklamasi utara
Jakarta untuk membangun perumahan mewah dan apartemen.
2. ‘Poros
Timur - Barat’ belum mampu ‘membujuk’ warga kota untuk membangun rumah
mereka disana, justru mereka sebagian memilih selatan dan utara Jakarta.
Konsep selatan Jakarta adalah sebagai
peresapan. Selatan Jakarta dengan kota2 pendampingnya seperti Bogor -
Puncak, adalah daerah untuk menyerap air hujan. Sehingga, sebenarnya
rumah2 di selatan Jakarta itu tidak sesuai dengan konsep tatanan kota.
Tetapi karena banyak warga kota yang
ingin membeli rumah di selatan Jakarta, menjadikan developer2 berusaha
membangun perumana2 dan pemukiman2 disana. Bahkan selatan Jakarta sudah
menjadi ‘trade-mark’ sendiri sebagai ‘hunian expatriate’, orang2 bule
dan orang2 kaya, yang mau membangun rumahnya seperti di Baverly Hills,
di Amerika sana.
RTRW 2010 - Jakarta
Selatan Jakarta, berwarna hijau karena memang merupakan tanah resapan ( RTH )
Rumah2 besar itu bisa sampai ribuan
tanahnya, disusul oleh rumah2 yang lebih kecil tetapi mewah, dan masih
terjangkau oleh ‘warga kaya baru’. Sehingga, mau tidak mau pemda
membangun fasilitas2 jalan raya termasuk jalan tol untuk memfasilitasi
mereka, bukan? Akhirnya, konsep selatan Jakarta yang sebenarnya untuk
penyerapan, tdak terpenuhi, dan banjir semakin melanda …..
Bagaimana dengan utara Jakarta?
Ada yang bilang, ‘kepala naga ada di
Pluit dan tubuhnya ada di Kelapa Gading’. Aku tidak mengerti tentang
cerita ini, tetapi bagi yang percaya, jika tinggal dan berbisnis di
Pluit dan Kelapa Gading, mereka akan sukses baik dari bisnisnya atau
juga dari keluarganya. Sehingga, yang percaya akan berlomba2 untuk
membeli rumah dan memulai bisnisnya di utara Jakarta ( Pluit dan Kelapa
Gading ).
www.merdeka.com
Kawasan utara Jakarta dengan relamasinya …..
Dan mereka berlomba2 mereklamasi
Jakarta, katanya untukk membuat Jakarta lebih besar, dengan membangun
ribuan hektar reklamasi. Tetapi mereka tidak mengerti bahwa justru
reklamasi yang tidak dilakukan dengan mempunyai lingkungan hutan
mangrove serta sungai2 Jakarta yang sehat, justru akan
membuat Jakarta
semakin ‘ambles’ dan terpuruk …..
BERSAMBUNG …..

Kamis, 06 Maret 2014
Kamis, 06 Maret 2014
- 0 Comments
Menuju Jakarta 30% RTH [Dari yang Sekarang 11% Saja], Mungkinkah?

arsitekturmagz.com
Sebelumnya :
Jakarta
dengan kesemrawutannya, dengan bangunan2nya dan kendaraan2nya, serta
pousinya, justru seharusnya mempunyai Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) yang
banyak. Karena dengan banyaknya RTH, akan menjadikan Jakarta lebih sehat
bagi warga kotanya. Perhitungan RTH bagi Jakarta sesuai dengan standard
serta kebutuhan kesehatan warga kota, adalah MINIMAL 30% dari luas
wilayah kota, terdiri dari RTH publik sekitar 20% dan RTH pribadi
sekitar 10%.
Penyedian dan pemanfaatan RTH di kawasan
perkotaan Jakarta, menjadi salah satu butir, yang di deklarasikan, daam
peringatan Hari Tata Ruang tahun 2010 di Bali, untuk Forum Indonesia. Dimana tentu saja jakarta merupakan bagian di dalamnya.
Seperti yang aku tuliskan diatas tai, dengan kesemrawutan Jakarta sebagai kota metropolitan
dunia, keberadaan RTH sangat relevan. Bukan saja untuk kota Jakarta itu
sendiri, tetapi lebih kepada kesewatan warga kotanya. RTH sendiri,
mempunyai fungsi yang banyak.
- RTH memberikan peluang sebagai ‘parkir air’, bagi penyerapan air dan menghindari banjir, dan air hujan atau banjir itu langsung terserap ke dalam tanah.
- RTH sangat bisa membangun citra kota Jakarta yang lebih manusiawi, asri, apik dan cantik. Lanscape perkotaan merupakan salah satu fungsi dan fasilitas perkotaan untuk menjadikan kota lebih berwibawa.
- Selain itu, RTH bisa membangun kebutuhan interaksi sosial secara alami tanpa membedakan strata sosial dan sekat2 yang biasanya ada di masyarakat kota.
Ketika aku mulai menulis tentang RTH
Jakarta, aku selalu menuliskan dengan hanya 20% RTH ideal bagi Jakarta.
Ternyata banyak berubah, setelah aku berdiskusi dengan Bu Dewi dari
‘Jakaarta City Planning Gallery’. Bahwa RTH yang ideal bagi Jakarta adalah 30%! Wow! Dan ketika aku bertanya pada beliau, RTH di Jakarta sekarang ini, berapa?
Ternyata jawabannya sesuai dengan referensiku sejak dulu, adalah hanya sekitar 11% saja, dari 30%. Artinya, Jakarta harus SEGERA membebaskan lahan guna dibangunnya RTH2 untuk Jakarta yang lebih baik.
Apakah bisa?
Menuju RTH Jakarta 30%
Jakarta memang sedang menuju ruang
terbuka hijau yang membuat Jakarta lebih manusiawi. Pembebasan lahan di
Jakarta untuk RTH tidak tanggung2. Sampai sekarang pembebasan lahan
untuk RTH seluas 108.11 Ha, membangun RTH seluas 35.80 Ha, penataan
jalur hijau seluas 30.40 Ha dan re-fungsi SPBU menjadi RTH seluas 3.68
Ha. Artinya, Jakarta SERIUS untuk menata RTH dan landscape perkotaannya,
bagi warga kota.

www.tempo.co

assetica188.blogspot.com
Taman Suropati dan Taman Menteng, salah satu bukti pmda serius untuk mulai membangun RTH demi keseimbangan alam di Jakarta.
Peningkatan RTH di Jakarta, salah
satunya untuk menanggulangi polusi udara. Paru2 kota sebenarnya akan
membuat Jakarta lebih cantik ( wawrna hijau daun segar ) tetapi juga
lebih sehat bagi warga nya. Jika pepohonan sebagai paru2 ( menyerap gas
CO2 ) sedikit, alhasil sebagian besar udara Jakarta akan tercemar oleh
banyak gas2 buangan, yang sangat membahayakan warga kota.
Pernah tidak, kita duduk di bawah pohon di terik siang hari ?
Apa yang terjadi? Kita akan merasa segar, teduh, nyaman dan memang
sesah udara berkurang. Pepohonan di siang hari menyerap gas CO2 dan
memberikan O2 bagi kita, yang berda di drkat2nya. Banyaknya, jika
Jakarta banyak terdapat RTH dengan pepohonan2 yang benar2 terpelihara,
sinar matahari terik pun mungkin tidak terasa, hanya kenyamanan dan
kesegaran saja.
Sebaliknya, pepohonan di malam hari
akan mengeluarkan gas CO2 dan menyerap gas O2, sehingga jika ada tanaman
di dalam ruang harus dikeluarkan pada malam hari, karena kita yang
tidur di rumah akan merasakan sesak nafas karena menghirup gas CO2 dan
berebut O2 dengan tanaman.
Pernah dengar ada yang meninggal
karena tidur di bawah pohon besar pada malam hari? Itulah penyebabnya,
bukan karena ‘penunggu’ pohon itu …..
Kembali lagi dengan ruang terbuka hijau
dan pepohonan. Jakarta sendiri berusaha untuk mempertahankan fungsi
hutan mangrove dengan merehabilitasikannya. Misalnya, dengan menanam
sekitar 1,2 juta tanaman mangrove atau bakau di Hutan Angke Kapuk,
seluas 31.33 Ha dan sepanjang Tol Sedyatmo. Juga dengan hutan
percontohan mangrove seluas sekitar 1.900 m2, juga disepanjang jalan tol
ini, dan 4.500 m2 di Hutan Angke Kapuk. (Sumber : Jakarta Raya)

id.wikipedia.org

www.setkab.go.id
Sangat terlihat, hutan mangrove bisa
menjadi ‘barier’ dataran Jakarta dengan akar2nya yang besar dan sehat.
Bayangkan, jika hutan ini rusak, akar2nya mati hanya sebagai sapah,
sehingga tidak ada yang menahan dataran Jakarta dari gelombang air laut
atau, dari hulu tidak bisa ke laut karena tertahan ’sampah dan bangkai
hutan mangrove’ …..
Hutan mangrove sendiri, selain untuk
penghijauan dan RTH Jakarta, juga untuk berdayaan rawa bagi kelestarian
dataran Jakarta. Mangrove hidup di rawa2 berair payau. Biasanya terletak
pada garis pantai dan dipengarui oleh pasang surut air laut. Fungsinya
jelas, salah satunya adalah untuk ‘barier’ bibir pantai dari sapuan
gelombang yang bisa mengikis daratan, sehingga air akan melambat dan
mengendapkan lumpur.
Tanaman mangrove itu sendiri merupakan
tamanan yang bersifat khas, setelah melewat proses adaptasi dan evolusi.
Jadi, jika kita semena2 terhadap hutan mangrove, bisa dibayangkan,
bagaimana air laut mengikis daratan Jakarta, atau air dari hulu melambat
sampai ke laut ( karena mangrove rusak ) dan menggenang di lingkungan
sekitarnya.
***
Jakarta memang berusaha untuk
mengembalikan fungsi alamnya. Jakarta sudah tertinggal dari banyak kota
dan negara untuk pengembalian fungsi2 alam bagi kesejahteraan warganya.
Bisa dilihat, kota2 metropolitan dunia seperti New York dengan Taman
Kota Central Park nya yang sangat besar ( lihat tulisanku Central Park New York : Kawasan ‘Hutan Kota’ dan Bagian Dari Paru-Paru Dunia ), atau London juga dengan Central Parknya. Bahkan Singapore dengagn Marina the Garden nya ( lihat tulisanku ‘Garden Bay the Bay’ : Ruang Hujau Baru yang Menakjubkan bagi Singapore ), salah satu yang pernah aku tuliskan.
Tetapi apa yang terjadi?
Kepedulian pemda Jakarta sering tidak
direspon oleh warga Jakarta. Konsep2 ruang terbuka hijau dalam banyak
peraturan2, khususbya bagi RTH pribadi dalam pembangunan rumah2, sering
kali hanya sebagai simbol belaka. Peraturan2 kepemilikan bangunan dalam
IMB ( Ijin Membangun Bangunan ), tidak dipenuhi oleh si pemilik rumah,
dengan berbagai alasan. Ada yang membutuhkan ruangan lagi atau garasi,
sehingga mengorbankan RTH pribadi 10%.

gambar-rumah88.blogspot.com
Denah type 21 ini, apakah sesuai
dengan peraturan pemdda? TIDAK! Tidak ada penyerapannya sama sekali,
dari depan sampai belakang. Teras itu dibetondan dibelakang itu pasti
untuk jemuran. Dan juga dibeton. Dan ini ayng terjadi di lapangan. Di
desain yang terbaik secara tata aturan dan arsitektural, tetapi di ubah
oleh pemilik rumah sendiri , yang menghilangkan jatah RTH pribadi 10%
…..
Untuk RTH publik yang seharusnya 20%
ini, terkendala dengan pembebasan lahan, salah satunya. Ataupun seperti
Waduk Pluit, atau waduk2 lainnya serta situ2 Jakarta, pun sebagian besar
masih di diami oleh warga Jakarta, kaum urbanisasi. Ataupun taman2 yang
seharusnya mejjadi taman pun, banyak beralih fungsi menjadi pemuiman
liar. Misalnya, di RTH antara Tebet Barat dan Tebet Timur sebagian sudah
menjadi pemukiman dan bisnis ‘liar’ (?) dan tempat itu tidak dirawat
dengan baik, sehingga mengesankan kumuh dan menjadi ’sarang penjahat’
…..
Seperti semua tentang
Jakarta dalam embangun ‘Jakarta Baru’, ‘meremajakan’ Jakarta itu bukan
melulu dengan memperhatikan FISIK JAKARTA saja. Justru lebih memfokuskan
pemikiran dan MINDSET warga Jakarta. Bahwa, untuk menciptakan Jakarta
yang kembali dalam alamnya yang berwibawa adalah harus bersama, antara
pemda Jakarta dengan wawrga Jakarta. Masing2 harus tidak boleh egois,
untuk menciptakan keseimbangan alam bagi Jakarta, demi pemanasan bumi
yang kian menjadi di seluruh dunia …..

Langganan:
Postingan (Atom)