Senin, 28 April 2014
Kisah Pagi di Pedestrian Jakarta…
Senin, 28 April 2014 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Apakah pedestrian cantik ini hanya akan berada di jalan2 protokol Jakarta? Hanya untuk warga Jakarta yang ‘mampu?’
Sering kali aku benar-benar heran, apa
sih yang ada di pemikiran masyarakat kebanyakan? Apa yang mereka
pikirkan tentang kepedulian? Apa yang mereka inginkan bagi mereka
sendiri dan lingkungan? Aku selalu geleng-geleng kepala, justru ketika
macet dan mobilku ‘mandeg’ dan melihat area pejalan kaki yang penuh
dengan berbagai macam jenis kehidupan…
J
ika kita ke negara lain, mungkin di
area pedestrian apalagi di sisi jalan mobil, hanya ada para pejalan kaki
saja. Bagi pejalan kaki lokal, yang bergegas untuk menuju ke suatu
tempat, atau pejalan kaki sebagai wisatawan, yang santai, berfoto atau
hanya sekedar duduk-duduk di bench-bench yang memang disediakan oleh
kota tersebut.
Atau juga pejalan kaki yang menunggu bus
untuk ke tempat tujuan. Itu pun mereka tidak bergerombol, melainkan
antri dengan tertib, walau bus datang dan mereka terap mengantri dengan
tertib, mengular, tetapi tidak menutupi pejalan kaki yang lain, yang
memang hanya melintas saja.
Jika jam-jam kantor, sebelum jam makan
atau setelah jam makan dan sebelum jam pulang kantor, area pedestrian
sedikit sepi. Hanya sekedar wisatawan fan suasana di pedestrian
benar-benar nyaman sebagai fasilitas umum di perkotaan.
Bagaimana dengan pedestrian di Jakarta?
Kita tahu sendiri. Di Jakarta,
pedestrian penuh dengan berbagai macam ragam kehidupan. Beberapa yang
‘kritis’ yang membuat Jakarta semakin amburadul :
PASAR ATAU BERDAGANG ‘YANG TIDAK JELAS’
Mulai dari di sekeliling rumahku, begitu
keluar dari kompleks, tetangga Tebet (Kampung Melayu) di sekitar Sungai
Ciliwung, pagi-pagi sudah dipenuhi dengan ‘pasar’ tidak jelas. Dulu, memang ada Pasar Kampung Melayu (lihat tulisanku Kampung Melayu = Kumuh dan Banjir?), tetapi sudah puluhan tahun, pasar ini tidak ada lagi, berganti dengan ruko-ruko dan toko-toko kelontong. Tetapi kenyataannya, ‘pasar’ itu tetap ada!
Mereka memenuhi pedestrian. Ada yang
berjualan sayuran, dan membagi-bagikannya pada pedagang sayur keliling,
sehingga semakin padatlah daerah pedestrian itu. Bahkan berdagang ikan,
daging dan ayam, dimana si pedagang memotong-motong dagangannya dan
menimbulkan bau amis yang segera dikelilingi oleh kucing-kucing dan
anjing-anjing. Mereka berebut sisa-sisa dari si pedagang, dan pedagang
pun dengan santainya membuang cacahan ikan dan daging, tanpa
membersihkannya, setelah pasar ‘tutup’, sekitar jam 11.00 siang…
Berlanjut tadi pagi, sebelum ke kantor
aku terapi dulu di RS Cikini. Di sepanjang jalandari Tebet kesana,
benar-benar beragam awal kehidupan pagi di pedestrian. Ada yang memulai
membuka dagangannya, di sebuah pojok pedestrian, ada yang justru sudah
berdagang. Tambal ban, pedagang rokok, dagang sarapan,
biasanya ketoprak atau lontong sayur, dan warga Jakarta sudah tahu
tempat2 favourite mereka untuk sarapan. Atau kebutuhan2 kecil lainnya.
FUNGSI HALTE? FUNGSI PAGAR ‘YANG JUGA TIDAK JELAS?’
Semakin siang, warga semakin banyak. Ada
yang bergegas menuju ke suatu tempat, ada yang menunggu bus ( tetapi
tidak di halte bus atau tempat2 pemberhentian bus ). Ada juga beberapa
warga yang turun dari bus atau angkot, tetapi mereka seenaknya saja!
Baik karena bus atau angkotnya memang seenaknya saja untuk
memberhentikan kendaraannya, tanpa peduli dengan yang lain, atau justru
si penumpang yang menyetopkan kendaraannya dengan seenaknya, walau si
supir mau tertib ( ‘ga mungkin, ya? Hihihi … ).
Calon penumpang, menunggu kendaraan
TIDAK DI HALTE. Lalu tukang ojek seenaknya saja menunggu calon penumpang
di DIDEPAN PINTU PAGAR, padahal di pagar itu tertera, untuk tidak
parkir disana …..
Bahkan di sepanjang jalan Raden Saleh (
dan aku yakin, banyak di jalan2 Jakarta lainnya ), semua halte bus, yang
seharusnya merupakan tempat pemberhentian bus, justru menghalang2i
calon penumpang, dan memagar di depan halte dan di beberapa titik yang
ditengarai sebagai tempat masyarat menunggu bus, tetapi bukan tempatnya!
Dari Jalan Matraman Raya belok kiri ke
jalan Raden Saleh, hook kana dan dirinya, dipagari pipa2 besi, walaupun
pedestriannya sangat sempit! Astaga! Itu benar2 PEMBOROSAN! Apa yang
terjadi?
1. Masyarakat SELALU menunggu bus atau angkot di hook atau pojokan jalan tersebut, walau tempat itu sangat kecil!
Sehingga, pasti macet! Hook itu adalah perempatan dan mempunyai
pemberhentian lampu merah, tetapi pada kenyataannya lampu merah tidak
berfungsi ketika bus2 Metro Mini atau angkot biru berjejer untuk
mengambil atau menurunkan penumpang.
Di perempatan jalan Matraman dan
jalan Raden Saleh. Pipa2 besi yang boros, untuk apa? Walau awalnya aku
yakin adaah untuk ‘menghalau’ calon penumpang antri bus atau angkot.
2. Pagar pipa besi ini, justru bisa menjadi tempat ‘kongkow2′ pemuda2 jalanan atau memang menunggu kendaraan,
sambil menunggu kendaraan mereka! Walau mungkin mereka tidak ‘nakal’,
tetapi sangat tidak nyaman pagi pejalan kaki, terlebih bagi perempuan
…..
3. Tetapi mereka yang merasa dirinya lebih ’santun’, memang tidak duduk di pipa besi, pagar tersebut, tetapi MENUNGGU DI BADAN JALAN! Sehingga, semakin padatlah tempat itu! Sehingga, pipa besi sebagai pagar itu benar2 tidak berfungsi!
4. Bagaimana dengan halte nya sendiri? Halte JUSTRU di pagar, sehingga calon penumpang antri dan berada di luar halte! Apa yang ada di benak si ‘perancang’, ya?
Halte bus yang diberi pagar, dan
halte bus untuk berdagang asongan. Fungsi halte sudah hilang, berganti
untuk berdagang dan jika malam, untuk tinggal dan tidur bagi warga yang
tidak punya tempat tinggal …..
Aahhhh …..
WARUNG DI ATAS SUNGAI?
Semakin nyata keanehan pedestrian di
Jakarta. Di jalan Raden Saleh ( bahkan mungkin di jalan2 yang lain di
Jakarta ), ada sebuah warung untuk sarapan, yang membuka lapaknya DIATAS sungai! Apakah terbayang, berapa banyak sampah sarapan yang ‘terbuang’ di sungai tersebut????
Bahkan selintas, warung makan tersebut
seakan mau ‘menyembunyikan’ lahan yang dipakai ( yang diatas sungai ),
sampai2 jika tidak ada yang memperhatikan, semakin banyak ‘lahan2
illegal’ untuk membuka lapak …..
Di sebelah motor terlihat pagar sungai, dan lapak ini memang berada di atas sungai!
Untukku, lahan di sisi atau atas
sungai tetap disebut ‘bantaran sungai’, dimana lahan tersebut merupakan
lahan illegal. Daerah atau lahan ini merupakan lahan umum untuk semua
warga kota! Bukan lahan untuk seorang atau sekelompok warga saja.
Apalagi, bantaran sungai adalah lahan yang sangat ‘kritis’, sebagai
daerah yang selalu disebut2 sebagai ‘kambing hitam’ penyebab banjir (
walah pada kenyataannya, memang salah satu penyebab banjir, bukan? ).
Ckckckckck …..
KETOK dan CAT DUCO DI JALAN RAMAI?
Dari RS Cikini, aku melanjutkan
perjalanan ke kantorku, ke daerah Grogol Jakarta Barat, melewati Pasar
Senen.. Di sepanjang jalan Matraman, sebelah kiri banyak penjaja
dagangannya untuk ketok dan cat duco!
Heh? Ini memang sudah sejak lama,
mungkin mulai sekitar tahun 1980-an. Ada bandarnya. Dulu, ketika aku
masih ‘bermain’ bisnis interior dan furniture, tukang2 cat kami sangat
pandai dan ahli bermain di ranah ‘duco’, bahkan mampu mengecat mobil2ku (
dulu ), tanpa ke bengkel.
‘Cat Duco’ diantara makanan! Dan cat
duco di halte bus. Dengagn alat penyemprot ( yang berwarna orange ),
berarti si penawar jasa ini, siap untuk mengetok dan mencat mobil
ditempat ini! Ckckck …
Dan jasa ini, berada antara tidak sampai 20 meter, sepanjang jalan Matraman dari perempatan Raden Saleh sampai Pasar Senen.
1. Sedemikian bagus-kah, bisnis ini?
2. Apakah Pemda memperbolehkannya?
3. Jika memang bisnis itu bagus untuk mereka, apakah Pemda tidak memikirkan adanya konsep2 khusus untuk mereka?
Memang di jalan Matraman, mempunyai
‘bandar’, mereka juga mempunyai bengkel2 kecil di gang2 disekiotar
tem;at itu, tetapi pemasarannya di jalan Matraman. Tetapi jika bengkel
itu penuh, mereka pun mengetok dan mengecat mobil2 itu, tepat di badan
jalan Matraman! Dengan debu beterbangan ( debu cat dan debu alam! ),
membuat beberapa masalah :
1. Kesehatan warga disekitar itu PASTI bermasalah.
Karena aku melihat sendiri, si pengecat banyak yang tidak menutup
hidung dan mulutnya dan warga sekitarnya, pun sudah kebal dan biasa!
Hanya orang2 yang hanya sekedar melintas saja, yang merasa terganggu.
Dan karena debu cat berbahaya bagi paru2 kita! Tukang2 cat ku dulu,
beberapa yang tidak peduli dengan kesehatannya dan tidak menutup hidup
dan mulutnya sehari2an, pasti paru2nya kotor dan vlek dan harus diobati!
2. Debu alami pun ( jalan Matraman
sangat ramai kendaraan ), akan mengotori cat yang disemprotkan pada
badan mobil, sehingga cat duco itu akan ‘tidak mulus’, ber-titik2
seperti pasir dan ‘grunjalan’. Hasilnya tidak memuaskan …..
Semakin menuju Grogol, semakin cerita2
sepanjang pedestrian, yang jika dituliskan, akan banyak sekali, jika
kita benar2 mengamatinya. Mulai dari fisik perkotaan, berlanjut ke
sosial masyarakatnya, lalu lebih kepada hasil dari kegiatannya dalam
kesehatan serta kepedulian llingkungannya, merambah menjadi issue besar
perkotaan!
Dan lihatlah!
Ternyata issue besar
perkotaan, berasal dari KETIDAK-PEDULIAN masyarakat perkotaan itu
sendiri, sehingga mereka sendirilah yang akan merasakan akibatnya,
DITAMBAH dengan masyarakat yang ‘tidak berdosa’, terutama anak2 dan
keluarga …..
Bagaimana, Jakarta?
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Responses to “Kisah Pagi di Pedestrian Jakarta…”
Posting Komentar