Senin, 16 Desember 2013

Dilema ‘Uji Coba’ Buka-Tutup Pintu Tol Jakarta : Dan Ramalan itu Mulai Terbukti



By Christie Damayanti

13871788361851107777
Uji coba pintu keluar tol ke arah perempatan Kuningan

Jakarta ….. Oooooo Jakarta ….. Kenapa sih tidak pernah memikirkan dengan komprehensif? Kenapa hanya memikiekan 1 titik solusi saja? Sebagian besar masalah, menuai permasalahan baru dan menulai protes disana sini. Duh …..

Pagi ini memang hari Senin. Sebuah hari kerja baru, awal minggu setelah 2 hari libur weekend. Yang biasanya ditandai dengan macet yang berlebihan serta ‘kemalasan’ hampir semua orang untuk memulai hari baru karena sudah terbuai libur 2 hari.

“I don’t like Monday”, banyak orang yang menyebut demikian. Kalau aku sih, tidak suka hari Senin karena macetnya yang luar biasa baik pagi hati ataupun pulang kantor. Apalagi, hari Senin adalah terapi otakku di sebuah klinik di Jalan Bumi Mayestik. Jam 9.00 disana sampai jam 10.00. Tetapi prakteknya, aku harus berangkat jam 7.00 dari rumah dan sampai kantor di Grogol jam 12.00 lebih. Sudah 1/2 harian aku harus berada di mobil, di hari Senin.

Begitu juga hari ini, Senin 16 Desember 2013. Bertepatan dengan ‘uji coba’ buka tutup pintu keluar masuk tol Jakarta yang kearah Semanggi. Hmmmm, begitu aku mendengar pengumuman di televisi beberapa waktu yang lalu aku hanya bisa tersenyum miris. Pasti akan ada tuaian kekecewaan serta protes dari banyak pihak. Padahal kita tahu bahwa dari jalan Gatot Subroto sampai Semanggi, jalan Sudirman, jalan Thamrin sampai Medan Merdeka Barat memakai konsep ‘3in1′. Lalu, bagaimana dengan pegawai yang bekerja di jalan2 tersebut?

Berarti jam kantor akan ‘molor’ karena susah kesana, apalagi kemacetan bertambah di jalan2 umum atau jalan2 tikus kesana. Pemda hanya memindahkan kemacetan dari jalan tol ke jalan2 arteri dan jalan2 tikus, bukan mengatasi kemacetan …..

13871789371458641555
1387179023293050292

Polisi berjaga di pintu tol keluar ke arah perempatan Kuningan ( foto-1 ), dan kemacetan semakin parah! Bahkan jalur 2 arah di sisi kanan jalan juga mengalami kemacetan parah ( foto-2 ) …..

1387179159478047313
13871792221742844328
Sepanjang jalan di tol dari Pancoran sampai di depan Gedung MPR - DPR, macet parah seperti ini ….
Aku mengerti sekali, ketika pemda Jakarta sangat menginginkan warga Jakarta memilih  naik Trans Jakarta dibanding kendaraan pribadi. Konsep itu benar sekali. Tetapi fasilitas2 transportasi massal itu harus dilengkapi dengan keamanan, kenyamanan dan sebagainya sehingga semuanya menjadi 1 paket dalam penyediaan hak warga Jakarta dalam bisdang fasilitas umum dan transportasi.

Belum lagi kerusakan2 yang dialami Trans Jakarta dan jalur busway yang sering diserobot kendaraan yang lain, serta jumlah bus yang belum memadahi ( menunggu bus akan terlambat ke kantor ), menyebabkan Trans Jakarta tetap mengalami kemacetan sehingga warga tetap memilih kendaraan pribadi. Belum lagi fasilitas halte2 Trans Jakarta yang sudah banyak yang sangat tidak manusiawi, sehingga membuat warga Jakarta menjadi ‘illfill’ atau sedikit takut karena berlubang2 dan pintu ke arah bus hampir semua sudah rusak.

Bagaimana bisa warga Jakarta mau menerimanya? Jangankan warga menengah kebawah yang mempunyai mobil, warga yang tidak mempunyai kendaraan pribadipun sebenarnya tidak nyaman dengan ini, tetapi mau bagaimana? Karena terpaksa …..

Trans Jakarta harus dilengkapi dengan semuanya untuk menjadikan warga Jakarta lebih memilih naik bus.  

Seperti ketika aku kuliah di Australia tahu 1993. Ketika itu papa menawarkan aku untuk membeli mobil selama aku kuliah disana. Tetapi aku tidak mau menerimanya, mengapa? Karena aku merasa nyaman naik transportasi umum ( bus, MRT / kereta listrik atau ferry ) dengan keamanan yang luar biasa! Bahkan aku tetap berani pulang kerumah walau hampir tengah malam …..

Kembali lagi dengan uji coba buka tutup pintu keluar masuk tol, yang dimulai hari ini, Senin 16 Desember 2013 ini. Sekarang, jika pegawai dengan kendaraan pribadi ( 1 atau 2 orang ) yang biasanya naik tol ( seperti aku yang lalu berdua dengan supir ) tetapi tidak bisa keluar dari tol padahal ada ‘3in1′, apa solusinya? Pastilah mereka akan menunggu sampai pintu tol dibuka atau ‘3in1′ tidak berlaku lagi. Berarti mereka akan telat tiba di kantor, paling tidak jam 11.00 sampai, kalau tidak macet! Yang jelas, hari ini aku benar2 mengamati dan memotret kemacetan yang ‘dipindahkan’ dari hasil uji coba ini.

13871792941262082674
13871793521264881512

Pintu tol keluar ke arah Tanah Abang, pastilah macet berat ( biasanya tidak seperti ini ) karena pintu tol yang ke Kuningan ditutup.

13871794151901147998

Di Jalan Gatot Subroto arteri ke arah perempatan Kuningan ( lihat foto diatas ), kosong melompong karena dari arah tol tidak bisa keluar …..

Catatan :

Aku melewati tol dari masuk Pancoran menuju Grogol, sepanjang jalan macet dn kadang2 berhenti total dari Gatot Subroto sampat pintu tol ke arah Tanah Abang :

1. Tol sepanjang jalan yang aku lewati macet total sampai di depan Gedung MPR - DPR, karena mobil keluar ke arah Tanah Abang, ketika pintu tol ke arah perempatan Kuningan di tutup. Berarti, jalanan arteri akan mengalami kemacetan yg tidak seperti biasanya

2. Terlihat, jalanan benar2 kosong dari jalan Gatoto Subroto arteri sampai di depan Komdak, karena dari tol kendaraan keluar di depan komdak, tetapi di tol masih macet sampai di depan Gedug MPR - DPR

3. Pintu tol ke perempatan Kuningan ditutup, jadi warga yang berkartor di sepanjang Gatot Subroto dan yang ke Kuningan ( dari tol ) tidak bisa ke kantor, KECUALI  mengambil jalan memutar

Dampak2 yang ( mungkin terjadi ) :

1.       Jam kanor akan mengalami kemunduran karena kemacetan dan yang hanya mengendarai 1 mobil sendirian, akan menunggu jam 10.00 pagi, karena harus ‘3in1′ atau pintu tol ditutup

2.       Pemilik perusahaan kemungkinan akan protes karena pegawai semakin banyak yang terlambat dan merugikan perusahaan

3.       Kemacetan akan tetap terus berdampak, bahkan jalan2 tikus akan semakin ‘tertutup’ dengagn kendaraan2 pribadi

4.       Warga yang menikmati tol, akan protes juga karena tol semakin macet (?), apa lagi tarif tol baru saja naik, tanpa di fasilitasi yang lebih baik

5.       Dan sebagainya

***

Seperti yang aku tuliskan di ratusan artikelku tentang Jakarta, pemda belum memahami tentang sebuah ‘konsep yang komprehensif’. Dimana konsep2 tersebut harus dipikirkan matang2 dengan segala akibat buruknya. Semuanya harus secara komprehensif. Janganlah solusi sebuah masalah tetapi menuai masalah baru. Atau menuai protes dari banyak pihak. Bahkan juga sebuah masalah hanya dipikirkan solusi hanya di 1 titik saja!

Misalnya,
 
Di ‘U turn’ ditutup katena selalu macet. Tetapi ‘ U turn’ baru hanya berada sekitar 10 atau 20 meter setelahnya! Sama saja bohong! Harusnya, ahli2 transportasi yang ketika mendesain jalan, harus memikirkan konsep2 untuk daerah ‘ U turn’, tentang lingkungannya, titik permasalahannya atau kemungkiinan2 yang lain. Bukan sebebas2nya mendesain ‘U turn’ di daerah2 yang banyak permasalahan, misalnya resiko macet atau lingkungan sempit, dan sebagainya.

Konsep2 pemindahan masalah itu harus digantikan dengan konsep2 pemecahan masalah. Semuanya harus dipikirkan untuk sebuah hasil solusi dari sebuah kota sekelas Jakarta. Aku sangat yakin, bahwa masih banyak warga Jakarta yang peduli dengan ini, yang ingin Jakarta lebih baik dan yang tidak mementingkan diri sendiri. Pasti banyak ahli2 transportasi dan lalu lintas yang bisa memikirkan lebih baik dan jauh kedepan serta komprehensif, dibanding dengan sebuah ’solusi’ yang nekad dan pasti akan banyak menuaikan permasalahan baru.

Untukku sendiri, ada beberapa saran yang sangat sedikit untuk permasalahan kemacetan yang sama sekali tidak ada ujung pangkalnya :

1.       Panjang jalan terus ditambah sesuai dengan kebutuhan. Sekaarang ini, panjang jalan Jakarta bertmbah sedikit sekali, dimana kendaraan bermotor khususnya mobil pribadi bertambah puluhan kali lipat

2.       Konsep tatakota Jakarta dipikirkan secara lebih komprehensif, jangan di desain dengan terbagi2 yang bisa tidak ada hubngannya atau tumpang tindih ( ini yang sangat disoroti sebagai urban planner atau yang peduli tentang Jakarta )

3.       Kran penyediaan kendaraan pribadi ( apalagi khususnya mobil2 mewah ) ditutup, diganti dengan konsep2 penyediaan fasilitas tansportasi umum yang lengkap

4.       Kran cicilan kendaraan pribadi ( apalagi motor ) disesuaikan dengan kebutuhan. Jangan sampai 1 rumah dengan 4 penghuni mempunya 4 atu lebih kendaraan pribadi. Jangan hanya mempunyai uang 500 ribu sudah bisa membawa sebuah motor bekas kerumah tetapi tidak mampu membayar setelahnya. Dimana motor2 itu membuat lalu lintas Jakarta semakin parah …..

5.       Dan sebagainya
Kebijakan pemda searang, aku sangat mengerti. Bahwa pemda DKI benar2 ingin bahwa warga Jakarta beralih dengan memakai transportasi massal ( hususnya Trans Jakarta ), dengan melakukan banyak hal, untuk ‘menyusahkan’ warga :

1.       Subsidi BBM untuk kendaraan pribadi diatas 1500 cc
2.       Tarif tol di naikkan
3.       Membuka tutup pintu keluar masuk tol
4.       Dan sebagainya

Tetapi ketika warga Jakarta tetap belum mau peduli serta kepedulian sosial belum ada di hati mereka, dan tetap hanya ingin kebaikan untuk diri sendiri dan kelompoknya, semuanya tidak akan ada gunanya. Kita tidak bisa ‘berjalan’ sendiri2, kita harus terus bekerjasama, antara warga Jakarta serta pemda DKI Jakarta ……

Sehingga, jika kita tetap dengan keegoisan kita dan tanpa kepedulian sosial dalam kehidupan di kota Jakarta ini, silahkan saja! Seperti ‘ramalan’ dari seseorang beberapa tahun lalu bahwa, tahun 2014 nanti baru keluar dari rumah saja, kemacetn akan siap menghadang, lalu bagaimana?

Ya, jika aku keluar dari kompleks tempat tinggalku, sudah sangat macet, dan itu setiap hari dan setiap saat. Dan ‘ramalan’ itu sudah mulai terbukti ……

Tags: ,

0 Responses to “Dilema ‘Uji Coba’ Buka-Tutup Pintu Tol Jakarta : Dan Ramalan itu Mulai Terbukti”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks