Senin, 27 Mei 2013
[ IDKita Kompasiana ] Mengajak STIE YKPN Yogyakarta untuk Berbagi Demi Bangsa
Senin, 27 Mei 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti

Dokumen Pribadi
Sebelumnya :
Setelah dsari SMA Bopkri-1, tim kami
langsung menuju ke STIE YKPN ( Yayasan Keluarga Pahlawan Negara ),
tempat Valentino menuntut ilmu dan juga tempat beliau mengabdi dalam
keilmuannya setelah sebagai alumi. Kampus ini cantik, nyaman dan modern,
sama dengan penyambutannya yang sangat ramah. Kami dijamu makan siang,
bersama tim STIE YKPN Yogyakarta, oleh Bapak Dr. Doddy Hapsoro.
Begitu aku masuk ke ruangan khusus untuk jamuan makan siang, aku di kejutkan oleh seseorang yang menyapa namaku dengan akrab,
“Heh?? Koq ada yang kenal namaku”, pikirku.
Seorang bapak mengatakan bahwa beliau
mengenalku, aku amati beliau dan tersenyumlah aku! Beliau adalah pak
Wing Wahyu Winarno, salah satu dosen disana dan sahabat dari Valentino.
Kami memang berkenalan dalam komunitas filateli sekitar 1 tahun lalu
ketika aku mendapat anugerah penghargaan pameran ‘Authograph’ pemimpin
dunia se-Asean di Yogyakarta ini dan sering saling sapa di grup filateli
di Facebook. Ya ampun, ketika kita selalu berhubungan antar sesama
manusia dan sesama komunitas, suatu saat kita akan mendapatkan teman
kita di komunitas yang lain. Untukku, sangat menyenangkan …..

Jamuan makan siang sambil persiapan
acara kami di ruang khusus. Pak Doddy Hapsoro sedang ‘mem-bully’
komandan kita, Valentino, hihihi …..
Setelah makan siang, kami diantar ke
sebuah auditorium besar dengan bentuk desain sebagai ruang meeting dalam
1/2 lingkaran. Semua tempat duduk terisi seluruhnya ( sekitar 250
sampai 300 orang ) oleh sebagian mahasiswa dan sebagian lagi dosen2 dan
beberapa guru2 besar mereka!
Wowow ….. Sungguh luar biasa! Ketika kita
maju dengan niat baik kita untuk berdiskusi dan sharing tentang
‘Internet Sehat dan Aman’ dan untuk memotivasi berkreasi dengan menulis,
sambutannya membuat kami sangat excited, terlebih aku.


Persiapan sebelum acara dimulai. Pak
Johan Wahyudi, Valentino dengan pak Teddy Sukardi di mimbar. Aku
diskusi dengan Bapak Doddy dan pak M.Yamin bersama dengan dosen2 yang
lain.
Aku teringat sebelum sakit 3 tahun
lalu. Sebagai dosen S2, aku mengajar mata kuliah umum yang selalu
didengarkan oleh semua jurusan Magister Manajemen. Aku mengajar di
auditorium besar berbentuk 1/2 lingkaran seperti ini, dan sekejap aku
merasakan bahwa ‘aku berada di depan mahasiswa2ku dulu’. Sebersit
kesedihan melandaku, ketika sampai sekarang aku belum mampu untuk
mengajar lagi sebagai dosen karena bicaraku yang belum lancar dan aku
masih dalam keterbatasan …..
Yang menariknya lagi, dari mulai acara
ini sampai akhir, audience cukup serius mengendangarkan diskusi ini.
Nara sumber pertama adalah Bapak Teddy Sukardi, Ketua Umum IKTII (
Ikatan Konsultan Teknologi Informasi Indonesia ) Lalu bapak M. Yamin
dari DNS Nawala. Kemudian mas Iskandar Zulkarnaen yang berbicara tentang
media sosial khususnya untuk memperkenalkan Kompasiana. Dan yang
terakhir adalah aku sebagai motivator untuk menulis.
Masing2 sebagai
pembicara di bidang yang dikuasanya. Dan seperti biasa, aku selalu tanpa
teks, cukup mengalir dari hatiku yang paling dalam, untuk berbicara2
dimanapun dan di audience siapapun. Walau kadang2 aku juga mengalami
error dan ’stuck’ untuk beberapa saat, karena otakku tidak mampu
mengirimkan signal untuk berbicara …..

Ibu Mariam F.Barata membuka acara ini dengan kata2 sambutannya. Dan kami, nara sumber, masih duduk di bawah.

Nara sumber :
Pak Teddy Sukardi, Pak M. Yamin, Mas Isjet, pak Johan Wahyudi dan Aku sendiri dan Valentino sebagai moderator.





Ini pertama kali aku bertemu dengan
pakar IT sehebat pak Teddy Sukardi. Begitu aku merampungkan bicaraku
selama sekitar 20 menit, segera pak Teddy menyalamiku di mimbar dan
berkata,
“Bu Christie, saya salut dengan perjuangan ibu. Pengalaman ibu sungguh luar biasa”
Sebuah kalimat yang sering aku dengar
dari banyak orang ketika aku bersaksi tentang hidupku, dan aku sangat
dan selalu terharu. Tetapi aku merasa sangat dihargai, ketika aku
‘melihat’ pak Teddy sebagai salah satu pakar IT Indonesia, mendengarkan
sharing-ku dari mulai kesaksian sampai menjadi penulis amatir. Aku
sempat berpikir bahwa beliau sangat serius dan fokus dengan dunianya,
tetapi begitu beliau menyalamiku dengan ramah, luluh lah perasaan itu
dan kami langsung menjadi akrab …..
Pak Teddy membagikan ilmunya tentang
Etika Hukum dunia maya. Hubungan manusia di dunia nyata it sama dengan
hubungan manusia di dunia maya. Dari sisi positifnya dan dari sisi
negatifnya. Semua dirangkum dengan ciamik lewat kata2 dan layar Power
Point -nya.
Setelah itu, seperti di SMA Bopkri-1, pak M. Yamin serta mas
Isjet berbagi dalam kata2nya. Semuanya dalam set yang sama. Dan aku
melihat audience cukup antusias dan serius mendengarkan dan melihat
data2 yang ada di layar di belakang kami. Beliau2 semua ternyata mampu
membius audience, dengan balutan kata2 yang kaddang mengandung humor,
sehingga sering gemuruh tertawa mengguncang ruangan ini dan semua dari
kamipun terlihat bersemangat untuk berbagi.

Terakhir, aku bicara dengan konsep yang
sama tanpa teks tetapi Valentino selalu mem-back up semua perkataanku
lewat foto2, web, posting di Youtube, posting di Kompasiana, foto2
tentang surat2 dan buku2ku serta tidak ketinggalan profile dan alamat
dunia mayaku. Dan itu yang membuat banyak orang yang selalu
menghubungiku, entah apapun keperluannya …..
Setelah ke-4 nara sumber memaparkan
masing2 makalahnya dalam diskusi ini, ke-3 sesi pertanyaan dengan
masing-masing 3 - 4 pertanyaan, langsung dilahap oleh audience,
mahasiswa dan dosen. Tanya jawabpun berlangsung dengan baik dan kami
masing2 mendapatkan bahan dan pelajaran baru.
Bahwa IDKita Kompasiana
bersama Kominfo, memang harus melakukan ‘Goes to Campus’ lagi seperti
ini, karena dengan merekalah ( dosen dan mahasiswa, sebagai kaum
intelektual ), kita bisa menjalin kerja sama untuk bersama memerangi
‘internet yang tidak sehat’ dan membentuk masyarakat ( terutama anak2
dan remaja ) yang sadar dan mampu berkreasi dalam teknologi.
Bahwa internet memang adalah masa depan
dunia, termasuk Indonesia. Dan kita harus bisa menjadi patokan untuk
generasi muda di belakang kita yang bertanggung jawab untuk masa depan
bangsa.
Seperti di SMA Bopkri-1, kami juga bertukar kenang2an. Kemen Kominfo membawa plakat untuk STIE YKPN dan aku memberikan buku-ku, juga sebagai kenang2an untuk kampus itu. Dan mereka berganti memberika kenangan dalam bentuk souvenir kampus itu. Terima kasih …..


Pembagian kenang2an dari Kemen
Kominfo, dari aku masing2 kepada STIE YKPN Yogyakarta dan mereka
memberikan masing2 dari kami souvenir cantik!
***
Sangat menarik, ketika IDKita Kompasiana ‘masuk’ ke kampus untuk berkolaborasi dan menjalin kerja sama demi masa depan bangsa. Karena sebelum ini, IDKita memberikan sosialisasi kepada masyarakat umum serta untuk anak2 dan remaja, tetapi kami sadar bahwa kita harus bekerja sama. Kami tidak bisa sendiri.
Dan tanggung jawab inilah yang kami pikul untuk mengembangkan sayap, mencari mitra kerja kaum intelektual Indonesia demi masa depan bangsa.

Mari kita terus berbagi. Semoga IDKita Kompasiana bisa terus memberi berkat bagi semua untuk masa depan bangsa kita ……
Salam IDKita Kompasiana …..
Link tentang kegiatan IDKita Kompasiana :



Tentang Saya:

Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Responses to “[ IDKita Kompasiana ] Mengajak STIE YKPN Yogyakarta untuk Berbagi Demi Bangsa”
Posting Komentar