Artikel Terakhir
Home » Posts filed under bisnis
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 April 2014
Jumat, 25 April 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

Selamat Hari Bumi ……
mei-azzarah.com
Memang sangat menyebalkan dengan orang2
yang tidak mempunyai etika dalam hidup bermasyarakat. Jika kita hidup
dengan baik dan bekerja dengan sebaik2nya untuk Tuhan dan masyarakat,
semuanya akan sesuai dengan yang diharapkan.
Aku ingat ketika aku menikah dulu, akhir
tahun 1994. Waktu itu orang tua kami mengundang sekitar 2000 orang
tamu. Sekitar 1 bulan sebelumnya undangan susah disebarkan. Ada yang
dikirim per-pos, catatan kilat, atau menitipkan teman atau keluarga dan
ada yang dikirim melalui jasa kurir. Tetap dari 2000 undangan yang
tersebar, tanda terima yang masuk sekitar 1500-an. Sisanya, alamat tidak
ada atau sudah pindah dan sudah meninggal, karena networking orang tua
memang cukup besar.
Undangan hampir 100% datang, semua
saudara dari pelosok Indonesia datang bahkan teman2 orang tua dari jaman
sekolah pun ikut mengucapkan selamat. Tetapi ketika beberapa teman
tidak ada, padahal kami sangat mengharapkannya, ternyata mereka menjawab
bahwa,
“Tidak ada undangan, tidak terima”, ketika kami tanyakan.
Usut punya usut, kami datangi jasa kurir
itu dan membawa tanda terima yang ada di kami. Serta bertemu dengan
orang2 yang mengantarnya. Ternyata, kurir itu mengakui bahwa mereka
tidak mwngantar ke alamat rumah2 yang jauh ( Dejabotabek )! Mereka malas
karena jauh dan macet, dan mereka menandatangani tanda terima dengan
asal2an! Dan undangannya mereka buang!
Astaga!
Itu pengalaman ku pertama dengan jasa kurir tahun 1994.
Yang kedua, ketika aku menjadi nasabah
kartu kredit disebuah bank nasional besar, pertama aku mampunyai kartu
kredit sendiri, tahun 1995. Bangga, tentu. Bank itu cukup baik
layanannya, sampai beberapa tahun, dan mulai bermasalah tentang
pengiriman tagihannya.
Pertama kali tanpa tagihan di sekitar
tahun ke-4 sebagai pemegang kartu kredit, aku masih bingung, bagaimana
cara tahu mengapa tidak ada tagihan. Telpon juga susah. Sehingga tagihan
terlambat membayar, beberapa kali, setelah bank itu menelponku.
Aku masih baru di dunia dalam
kenyataannya. Masih hijau. Tetapi ketika bank tersebut marah karena
tagihan sering terlambat dan bank itu selalu menelponku, aku balik
marah! Karena bukan aku tidak mau bayar tagihan, tetapi TIDAK ADA
TAGIHAN! Sehingga, aku memberanikan diri untuk mendatangi bank tersebut
dengan surat protes tentang masalah ini ( karena susah sekali berbicara
kepada layanan publik di telpon )! Aku menulis surat protes kepada
manajer mereka!
Aku disambut manajernya, dan memprotes
keras masalah ini. Yang salah karena tidak ada tagihan, mereka
menelponku sambil marah2 ( seperti debt collector ), dan aku disuruh
membayar bunga! Tetapi setelah beberapa bulan seperti ini, aku marah!
Jadilah, bank tersebut meminta maaf padaku, datang kerumahku untuk
silaturahmi, setelah aku menuliskannya di Surat Pembaca di Suara
Pembaruan dan di Tempo ( waktu itu ).
Hasil investigasinya adalah, masalah
kurir lagi! Kurir2 mereka tidak menyampaikan tagihan karena banyak hal!
Ada yang tidak ada orang dirumah sehingga kurir malas balik lagi jadi
tanda tangan sendiri saja. Ada yang rumahnya jauh, malas macet. Dan itu
adalah rumahku dulu, di Pulo Gebang! Jasa kurir itu diberhentikan oleh
bank tersebut. Dan mereka membujuku untuk mendaftar sebagai nasabah
kartu kredit mereka. Tetapi aku menolaknya! Aku tutup karena trauma.
Begitu juga ketika aku menjadi nasabah
kartu kredit sebuah bank asing yang terkenal. Tapi customernya tidak
ramah, kurirnya bermasalah dan aku tutup kartu kreditku disana. Dan aku
juga tuliskan ke Surat Pembaca. Itu sekitar awal tahun 2000-an.
Bermasalah lagi dengan kurir, yang ke-3 kali nya.
***
Kemarin terjadi lagi. Aku ditelpon dari sebuah bank nasional ( ngakunya )
tetapi memakai nomor pribadi ( nomor handphone ). Katanya, aku tidak
bayar tagihan kartu kredit yang sudah jatuh tempo. Ajku tidak kaget
karena 1 tahun belakangan ini, aku sering tidak menerima tagihan yang
biasanya dikirim lewat kurir. Aku menjadi nasabah kartu kredit di bank
ini, sudah lebih dari 10 tahun. Tidak pernah bermasalah sama sekali dan
aku selalu membayar lunas tagihanku di bulan berikutnya.
Tetapi sekitar 1 tahun belakangan ini
menjadi bermasalah, tetapi aku masih tifak mikir apa2. Jika ditelpon,
aku selalu langsung membayarnya. Tidak ada pikiran2 aneh. Sampai semalam
ketika yang ngakunya dari bank tersebut, ngoto dan marah2 karena aku
belum bayar tagihan, padahal karena tidak ada surat penagihan dan baru
jatuh tempo 1 hari saja!
Setahuku, debt collector akan
menjalankan tugasnya setelah 3 bulan jika kita ‘ngeyel’ dan membangkang
tidak mau membayar. Lah, ini baru 1 hari dan bukan karena tidak mau
membayar!
Serta merta aku ganti ‘menginvestigasinya! Berdasarkan pengalamanku temtang pengiriman tagihan, aku berani balik memarahinya!
Tapi laki2 yang mengaku pegawai bank
tersebut, tidak mau menyebutkan namanya, bahkan memarahiku serta
memotong semua perkataanku, seakan aku adakah terdakwa dengan tidak
bayarnya tagihan kartu kredit. Sampai sekian menit, kata2ku selalu
dipotong, aku menjadi sangat marah!
#Hmmmmm …… belum tahu dia, betapa
pemarahnya aku sebelum sakit, sebagai ‘preman proyek’, dan betapa aku
sekarang bisa lebih kasar jika aku tidak bisa mengedalikan otakku yang
memang sudah cacat karena stroke! Coba saja!
Dan aku semakin marah ( belum keras
apalagi kasar ), ketika dia terus tidak mau menyebutkan nama. Sampai aku
mengancam akan menuntut bank itu serta membeberkan cerita ini di media
masaa, lebih2 ke media sosial di internet! Setelah itu, dia baru
menyebutkan namanya : Aditya. Dan aku langsung menutup telponnya.
Karena semalam aku sedang meeting, aku
belum langsung menelpon bank tersebut. Baru lebih jam 10 malam kemarin,
aku menelpon dan bicara dengan salah satu customernya. Aku dibantu untuk
melapor dan solusinya, tagihanku bulan2 berikutnya, dikirim lewat
email, bukan lewat pengantar surat. Karena hasil investigasinya sesaat
setelah itu mereka menelpon aku.
Ternyata memang 1 tahun ini, tagihanku
‘macet’, karena kurir lagi! Modusnya, sedikit berbeda. Sebenarnya, sama
saja, kurir yang mengantar tagihan ke rumahku, malas atau mungkin di
rumah tidak ada yang membukakan pintu, sehingga si kurir menandatangani
asal2an dan tagihanku dibuang!
Dan masalahnya, tanda terimanya ditanda
tangani oleh pembantuku yang sudah tidak bekerja lagi dirumahku setelah
Lebaran tahun lalu! Begonya, kurir itu menuliskan nama pembantuku,
sehingga dengan mudah ‘membaca modus operandinya!
Ini yang ke-3 kali nya aku bermasalah
dengan kurir pengantar surat! Kurang ajar! Dan dari kurir, berbuntut
menjadi ke instansinya. Sudah 3 bank yang mengeluarkan kartu kredit, aku
‘black-list’ dan aku tidak mau berhubungan lagi dengan bank2 tersebut.
Jika bank nasional pertama yang ‘legowo’
menerima kesalahannya dan meminta maaf serta bersilahturahmi kepadaku,
bank asing yang kedua justru membual aku ill-fill. Pongahnya luar biasa
dan mereka tidak meminta maaf sama sekali walau aku sudah membeberkan
nama bank tersebut di media massa, dengan KTP ku sebagai penanggung
jawab jika terjadi apa2.
Dan bank nasional ketiga ini, sama
saja. Customer service nya memang meminta maaf lewat telpon, untuk
pekerjaan kuririnya tetapi tidak meminta maaf tentang yang mengaku dari
bank tersebut, yang memarahiku! Ya sudahlah! Solusinya memang lebih
baik, tagihannya dikirim lewat email. Semoga tidak ada masalah baru …..
***
Ya, masalah kurir pengantar surat, menjadi momok untukku. Tetapi kurir pengantar barang, aku angkat jempol!
Ketika aku melakukan bisnis kecil2an
untuk jual beli kain2 tenun dari swluruh Indonesia, kurir2 pengantar
barang tersebut akan tetap mengirimkan ke rumahku dan kostumerku, walau
lebih dari jam 10 malam!
Pernah ada kurir menelponku karena dia
sudah berada di depn pintu rumahkku untuk mengantar paket dari Kupang
kam 10.30 malam! Begitu aku turun untuk membukakan pintu dan menerima
paketku, aku bertanya,
“Koq malam sekali? Kan gpp kalau besok pagi?”
Dia menjawab, “Soalnya kostumer
sudah membayar denag paket ‘hari ini sampai’, dan sudah membayar mahal
termasuk asuransinya. Dan kami sudah sepakat untuk saling bekerjasama”
…..
Aku salut dengan komitmen kerjanya! Terima kasih ya ……
Tetapi tidak dengan kurir pengantar
surat lokal. Dari tahun 1994 sampai 2014 ini, sudah 20 tahun sepertinya
tidak ( semoga : belum ) berubah! Komitmen kurir tidak sesuai dengan
etos kerjanya, bahwa surat harus diantar sesuai dengan alamatnya!
Aku tidak tahu, bagaimana training dan
etos kerja mereka. Sebenarnya sama saja kan, sebagai jasa pengantar ( kurir
), baik kurir surat atau kurir paket barang? Entahlah …..
Ada yang mempunyai pengalaman seperti aku? Mari berbagi ……

Selamat Hari Bumi ……
Senin, 21 April 2014
Senin, 21 April 2014
- 0 Comments
By Christie Damayanti

holikaw.alltop.com
Sebuah desain, untukku sebagai arsitek
merupapakan eksistensi diriku, apalagi jika desain tersebut bisa beguna
bagi orang lain. Jika aku mendesain rumah pribadi, pastilah akan berguna
bagi klienku, tetapi mungkin tidak untuk klienku yang lain, karena visi
dan misi serta tujuan mereka berbeda. Tetapi jika desianku dalam
bangunan2 umum benar2 berguna bagi orang banyak, itu merupakan prestasi
tersendiri, apalagi desain bagunan umum tersebut menjadi berkat bagi
banyak orang.
Sebut saja, ketika aku diminta melayani
sebagai arsitek lepas bagi sebuah rumas sakit Kristen swasta dalam
pelayanan. Ketika Tuhan ‘memanggil’ aku untuk sebuah pelayanan,
mendesain dan membangun tanpa pendapatan ( volunteer ), tetapi aku tetap
melakukan yang terbaik bagi orang lain, sejak tahun 1994 sampai tahun
2005.
Mungkin aku bisa sedikit sharing tentang
konsep sebuah desain rumah sakit, dimana sebuah rumah sakit akan lebih
bermakna jika mempunyai standard2 yang jelas.
Merencanakan fasilitas fisik sebuah
rumah sakit secara tepat guna dan efektif, merupakan salah satu cita2ku.
Ya, aku yang dibesarkan dengan banyak penyakit, terutama sekarang ini
sebagai insan pasca stroke, aku menginginkan rumah sakit yang nyaman
dalam membantu pemulihanku.
Perencanaan fisik rumah
sakit yang sesuai dengan tujuanku dan terencana, akan dapat memberikan
kemudahan2 dalam manajemen rumah sakut tersebut, dalam memberikan
pelayanannya.
Dengan semakin tingginya permintaan akan kualitas
pelayanan masyarakan dalam bidang kesehatan dan rumah sakit, maka oihak2
penyedia rumah sakit ( baik pemerintah ataupun swasta ) tidak lagi
mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat umum.
Sehingga kita
sebagai desainer, membutuhkan strategi dan prioritas kebutuhan dalam
perencanaan, perancangan dan pengelolaan serta manajemen dan fasilitas2
rumah sakit.
Untuk mendesain sebuah rumah sakit, ada
tahapan2 sesuai dengan konsepnya. Seperti yang aku lakukan untuk rumah
sakit yang aku desain. Kami membentuk tim desain yang terdiri dari
beberapa arsitek, lalu insinyur sipil yang menghitung beban serta tim
elektrikal dan mekanikal, secara rumah sakit mempunyai fasilitas2 yang
memang harus berhubungan dengan kelistrikan, daya ataupun komunikasi.
Setelah itu kami menghadirkan manajemen rumah sakit tersebut sebagai ‘pemakai’, yaitu dokter2 serta tim manajemen rumah sakit.
Pengertian dan komponen2 rumah sakit
serta tipologi dan tinjauan arsitektural, pelayanan serta klasifikasi
rumah sakit, pun harus dikuasai sbagai arsitek. Karena jika kita hanya
mau mendesain rumah sakit bersalin, tidak harus mempunyai ruang2 khusus
dan detail tentang pasen stroke, walau kemungkinannya memang ada seorang
ibu hamil yang menderita stroke.
Begitu juga jika kita mendesain rumah
sakit kanker, ibu2 hamil tidak akan khusus menuju ke rumah sakait
tersebut, karena tidak akan ada dokter ginologi atau bidan di rumah sait
kanker, walaupun kemungkinannya pun ada, seorang penderita kanker dan
hamil.
Untuk klasifikasi2 rumah sakit harus
dibicarakan oleh pemilik proyek, mau didesain apa rumah sakit tersebut.
Dari pertolongan pertamanya ( emergensi nya ), dokter2nya, fasilitas2
pelayanannya sampai ruang rawat jalan dan rawat inap juga jika ada yang
meninggal, bagaimana fasilitasnya.
Bukan hanya klafisikasi2 jenis2 rumah
sakitnya saja, tetapi juga klasifikasi2 tentang fasilitas2nya. Apakah
fasilitas2 mewah, ataukah fasilitas2 fungsional, atau juga fasilitas2
rumah sakit perkotaan bahkan nasional, atau hanya rumah sakit lingkungan
saja, dan itu tergantung dari dana dan luas lahan, serta ijin rumah
sakit.
Infra-struktur sebuah rumah sakit juga harus mumpuni dan memadahi.
Karena namanya saja rumah sakit, pemakainya adalah masyarakat yang
sakit dan benar2 membutuhkan pertolongan fisik segera. Jika
fasilitas2nya tidak memadahi, tiba2 bisa saja listrik padam sementara
ada yang sedang di operasi atau sedang melahirkan. Dan itu bisa
menjadikan yang sakit menjadi lebih sakit lagi, bahkan meninggal. Karena
itu, sebuah rumah sakit adalah ‘bangunan spesial’, untuk menjadi berkat
untuk sesama …..
***
Menyehatkan masyarakan, sebenarnya bukan
karena adanya sebuah rumah sakit. Tetapi masyarakat sendiri yang harus
memberikan perhatian khusus bagi tubuh dan fisiknya dalam kesehatan
hidupnya, yaitu :
1. Hidup sehat diri, baik dari
fisik maupun pemikiran. Life-stryle bagi orang2 mud jaman sekarang (
termasuk aku ), memberikan sebuah kenyataan bahwa hidup yang tidak sehat
serta life-style yang amburadul akan menghasilkan penyakit yang
berkepanjangan.
Misalnya,
Life-style dengan makanan2 yang tidak
sehat, merokok atau minum minuman keras terus menerus. Juga tidak ada
istirahat atau workoholic serta eforia yang terus menerus akan
mengakibatkan stres yang berkepanjangan, dan bisa mengakibatkan ( salah
satunya ) stroke.
2. Pencegahan masuknya bibit penyakit, akan juga menjadi pengalaman khusus.
Misalnya,
Jika kita mempunyai keturunan bagi
penyakit2 tertentu karena ‘gen’ ( seperti hipertensi, diabetes ), kita
harus tahu untuk bisa mencegah masuknya penyakit2 tersebut dalam tubuh
kita.
3. Jika memang kita sudah sakit, apalagi yang cukup berat, memang sebaiknya berobat ke dokter dan rumah sakit.
4. Dan setelah itu untuk
‘menyembuhkan’ penyakit2 tertentu haruslah melakukan terapi dan
rehabilitasi yang menyluruh, terpadu dan berkesinambungan, seperti aku
sebagai insan pasca stroke.
Sebelum mendesain sebuah rumah sakit
pun, kita harus tahu dahuu tentang kegiatan2 kesehatan keluarga. Karena
sebagai arsitek, aku tidak ingin rumah sakit yang aku desain tidak
mencerminkan ‘bangunan yang menyembuhkan penyakit’, tetapi justru
‘menularkan penyakit baru’. Bukan secara fisik penyakit, tetapi secara
membuat stres karena desain rumah sakit menjadi sebuah ‘horor’ bagi
keuangan.
Oleh karena itu, untuk mendesain sebuah
rumah sakit, kita harus tetap mencari fungsi2 yang tepat untuk
fasilitas2nya. Bukan fasilitas2 yang menjadikan rumah sakit itu terlalu
mewah dan tidak sesuai dengan banyak hal …..
www.oakvillehospitasfoundation.com
www.ptsf.org
www.cleveland.com
Beberapa contoh rumah sakit modern
dengan fasilitas2 yang juga modern, yang sekarang lebih disukai oleh
sebagian konsumen atau masyarakat yang sakit.
Dan sekarang ini, justru konsumen lebih
memilih rumah sakit mewah dan modern tetapi belum tahu ‘apa dan
bagaimana’ fasilitas2 rumah sakit tersebut. Karena jika sebuah rumah
sakit modern dengan penampilan mewah, belum tentu dokter2 dan
manajemennya berpengalaman walau fasilitas2nya super canggih …..
*Lalu, bagaimana dengan masyarakat
marjinal tetapi juga membutuhkan tempat berobat? Apakah rumah sakit
modern selalu mahal? Apakah memang hanya rumah sakit ‘kampung’ yang
hanya boleh dimasuki oleh masyarakat marjinal?
Terlepas dari masalah2 non-fisik dan manajemen rumah sakit tersebut, mungkin bisa aku bagikan di beberapa artikel2ku tentang sebuah kota dengan masyarakat yang sehat untuk membangun negara, dalam sebuah desain rumah sakit yang mumpuni ……
Bersambung ……

Kamis, 03 Januari 2013
Kamis, 03 Januari 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
mulledvine.com
Ketika aku masih sehat, namanya juga
perempuan, wajar jika aku masih mau dianggap cantik secara fisik. Dengan
tinggi hanya 155 cm, aku adalah seorang perempuan mungil dan pendek,
sehingga aku ingin terlihat lebih tinggi, paling tidak bisa mendekati
anakku, Michelle yang sekarang tingginya lebih dari 167 cm padahal
umurnya baru 13 tahun.
Sehingga aku selalu mencari dan membeli sepatu
hak tinggi yang nyaman untuk penampilanku dalam momen2 resmi, bukan
penampilanku dalam keseharianku sebagai pegawai. Jadi jika hanya
bekerja, seperti biasa aku hanya mengenakan sepatu kets atau sneaker,
secara aku memang seorang pekerja lapangan, dan jika berpenampilan resmi
aku memakai sepatu hak tinggi ( sampai 7 cm ) atau wedges setinggi 5
cm. Lumayan kan, tinggiku bertambah 5 cm sampai 7 cm …..
Tetapi ketika setelah aku sakit, bukan
karena tidak boleh, aku tidan bisa memakai sepatu dengan hak sama sekali
( harus rata dan datar ) karena kaki kananku akan selalu ‘terpeleset’
jika aku memakai sepatu atau sandal yang tidak rata, atau yang ada hak.
Sepatu atau sandal yang aku bisa pakaipun, tidak sembarangan. Bukan
karena tidak mau, tetapi tidak bisa atau belum bisa, karena kaki kananku
belum 100% berasa, sehingga jika sepatu atau sandalnya harus mempunyai
‘pegangan’ yang melitang dari sisi kanan ke sisi kiri, sehingga tidak
lepas jika aku melangkah.
Sepatu dengan silang yang harus aku pakai, jika tidak ingin terlepas, dengan kaki kananku yang dalam keterbatasan …..
Tidak banyak toko yang menjual sepatu
atau sandal jenis ini. Dalam kurun waktu 3 tahun sejak aku sakit, aku
mengamati bahwa sepatu2 atau sandal yang bisa aku gunakan untuk
keterbatasan kaki kananku adalah Charles & Keith ( bukan promosi lho
) untuk sepatu2 serta sandal2 resmi untuk acara2 khusus yang tanpa hak,
dan sepatu2 Bata serta Sketchers untuk sepatu kerja dan santai, selain
sepatu kets dalam segala merk. Dan sandal santai enak aku pakai Crocks.
Aku tidak memusingkan mereknya, sungguh,
dari dulu sampai sekarangpun, aku tidak peduli merek. Tetapi, kemarin
ketika aku mrncari sepatu kerja di Bata, mataku tertuju dengan sebuah
label stiker yang mengatakan bahwa,
“Sepatu Bata ini dibuat di China” …..
Agak terkejut, karena setahuku, sepatu
Bata sudah diproduksi di Indonesia. Sepatu Bata memang berasal dari
Cekoslowakia dan sudah hadir di lebih dari 50 negara, termasuk di
Indonesia, PT Sepatu Bata, sejak tahun 1939, dimana di Indonesia
menghasilkan 7 juta pasang sepatu dan sandal setiap tahun. Jadi
Indonesia sudah membuat sepatu dan sandal Bata dari kulit, atau plastik
untuk konsumsi lokal, dan semakin kemari, produk dan desain Sepatu Bata
semakin berkembang, sehingga tidak diragukan lagi, bahwa Sepatu Bata
sudah bisa menyerap permintaan pasar lokal.
Tetapi ketika aku melihat dan membeli
sebuah Sepatu Bata beberapa hari lalu untuk aku pakai sendiri, iseng aku
melepas stiker yang ada di bawah sepatuku dan menemukan kata2 diatas,
lalu aku langsung mencari informasi di internet. Dan benar saja,
ternyata justru Sepatu Bata ingin ‘hengkang’ dari Indonesia karena demo
buruh yang terus menerus …..
Bagaimana ‘nasib’ bangsa Indonesia?
Jangankan tenaga2 kerja Indonesia mampu untuk diserap oleh pasar dunia,
pasar lokalpun tidak mampu dilakoninya. Lalu, apa yang bisa dilakukan
oleh kita?
Beberapa sumber berita mengatakan bahwa
sejak Oktober 2012 lalu, demo buruh Sepatu Bata selalu ‘merecoki’
produksi sepatu2 Bata, sehingga perusahaan berpotensi merugi sampai 6,7
milyard ( sumber Didemo Buruh, Sepatu Bata Pertimbangkan Hengkang dari RI …). Dimana sekitar 3 bulan produksi Sepatu Bata berhenti. Tuntutan buruh pabrik adalah penghapusan sistem kerja outsourcing
dan kontrak di perusahaan. Serikat buruh menginginkan agar perubahan
sistem kerja karyawan di pabrik Bata dalam 1×24 jam. Padahal, manajemen
Sepatu Bata membutuhkan waktu 2-3 bulan untuk mengubah sistem kerja
karyawan.
Dan sangat disayangkan, justru ketika
sebagian lagi buruh yang masih mau bekerja, tidak diijinkan bekerja oleh
buruh2 yang ingin tuntutannya dituruti, dan menintimidasi mereka serta
menteror untuk melarang bekerja lagi. Para demonstran melarang bahan
baku produksi masuk dari luar pabrik serta barang produksi dilarang
keluar pabrik untuk diekspor. Kondisi ini, membuat perusahaan terancam
terkena penalti akibat tidak bisa mengirim barang untuk ekspor.
***
Ketika sebuah negara sebesar
Indonesia dengan tenaga kerja salah satu yang terbanyak di dunia justru
tidak mengerti betapa banyaknya mereka2 yang sangat membutuhkan
pekerjaan, maka mereka sangat menyia2kan untuk bisa menjadikan hidup
mereka lebih baik. Maksudnya, ketika jaman resesi
diseluruh dunia ini, seharusnya mereka berusaha untuk melakukan apa yang
terbaik dengan bekerja untuk keluarga mereka. Bukan hanya menuntut saja
…..
Aku memang tidak mengerti tentang buruh. Aku juga tidak mengerti tentang tuntutan2 mereka, tetapi aku mengerti tentang kebutuhan hidup, aku mengerti tentang prioritas.
Jika buruh tahu bahwa jaman resesi ini
sangat sulit mendapat pekerjaan, mengapa mereka tidak mau bersabar?
Karena jangankan Indonesia, Amerikapun sedang dilanda resesi. Jangankan
buruh, lulusan S1 dan S2 pun susah untuk mendapatkan pekerjaan sesuai
dengan cita2 dan keinginan mereka.
Coba bayangkan dengan cerita ini :
Seorang temanku sejak lulus S1, sampai
sekarang belum mampu mempunyai pekerjaan yang dia inginkan, sehingga dia
bekerja serabutan dan sekarang dia harus cukup puas untuk menjadi
tenaga pengajar les privat, padahal cita2 dan keinginannya adalah
bekerja di sebuah perusahaan besar.
Ada lagi, supir kantorku. Dia lulusan
D3, tetapi tidak dapat pekerjaan sebagai yang dia inginkan. Ketika
kantor tempat aku bekerja mencari supir, dia melamar dan diterima dan di
sampai sekarang bekerja sebagai supir. Dan sebagai supir, dia pintar
serta disayang oleh kami, yang selalu dia antar …..
Jika buruh2 itu menyadari bahwa tidak mudah mendapatkan peerjaan, mereka seharusnya tetap bekerja, mereka harusnya tetap BERSYUKUR bahwa mereka masih bisa bekerja.
Dan aku sangat yakin, bahwa jika mereka bekerja dengan sebaik2nya,
tidak adan yang mustahil bahwa mereka akan dipromosikan di tempat mereka
bekerja …..
Ditambah lagi tentang demo buruh Sepatu
Bata, bahwa manajemen sepertinya para demonstran menuntut dalam 1×24 jam
sistim kerja dirubah, tetapi menejemen butuh waktu antara 2 - 3 bulan.
Sangat wajar, jika Sepatu Bata hengkang dari Indonesia, dan aku sangat
sayangkan, dengan hengkangnya Sepatu Bata, ratusan bahkan ribuan buruh
dan karyawan Sepatu Bata benar2 harus mencari pekerjaan baru lagi, dan
itu sangat tidak mudah ……
Bagaimana dengan buruh yang sebenarnya tetap ingin bekerja? Menurutku, merekalah
yang mempunyai pikiran yang peduli dengan keluaarganya. Mereka yang
tahu dan tetap bersyukur dengan apapun yang ada, dan mereka pasti tetap
yakin bahwa semuanya yang dilakukan adalah pilihan yang terbaik untuk
mereka semua ….. Bukan malah di intimidasi dan tidak boleh bekerja lagi oleh para demontran …..
Aku bukan melarang demo, tetapi
pikirkan matang2. Apa hasil demo? Apa resiko2nya untuk mereka dan
keluarga mereka? Bagaimana kelanjutan hidup mereka? Sebagai bangsa yang
besar, jika kita mau ‘bersaing’ menjadikan bangsa yang besar, karakter
bangsa memang harus dirubah …..
Sepasang sepatu Bata yang aku beli,
mampu membuat aku merenung beberapa hari, bagaimana nasib para buruh
yang sebentar lagi harus mencari pekerjaan baru, dan bagaimana nasib
keluarga mereka …..
Sebuah perenungan yang dalam untuk kita semua …..
Selasa, 01 Januari 2013
Selasa, 01 Januari 2013
- 0 Comments
By Christie Damayanti
123rf.com
Barang diskon???
Dimanapun, siapapun,
terutama kaum perempuan pasti suka barang diskon-an. Khusus barang2
fashion, lho, bukan barang2 diskon makanan. Artinya, sebagian besar dari
kita, justru kaum perempuannya, sama sekali tidak peduli, apakah barang
tersebut merupakan barang atau stok lama, atau barang2 ‘cacat pabrik’,
atau karena sedikit rusak atau barang2 yang sudah hampir habis masa
berlakunya atau out-of date, dan sebagainya.
Dari pengamatanku, barang2 diskon di
indonesia, sebagian besar adalah barang2 lama yang sudah out-of date.
Pun, aku juga mengamatii bahwa barang2 diskon di Indonesia, ( kayaknya )
barangnya di naikkan sekian persen sebelum didiskon, sehingga si
produsen atau tokonya, tidak terlalu ‘rugi2 amat’. Tidak semunnya memang,
tetapi aku sering menemukan barang2 disebuah departemen strore terkemuka
menggelar diskon besar2an, yang seharusnya harga barang2 dan diskonnya
sama dengan departemen stroke yang sama dimanapun.
Tetapi aku menemukan
barang2 yang sama, ternyata harganya berbeda. Dan setelah aku menemakan
pada si pramuniaga, dia mengatakan bahwa harga barang tersebut berbeda
karena departemen strore nya berbeda! Tergantung kebijaksanaan si toko
tersebut! Aaahhh, masa sih ???
Jujur, aku jarang membeli barang2
diskon-an. Aku membeli jika memang aku membutuhkannya dan jika aku
mencari barang fashion, aku mencari yang benar2 bermutu sebagai yang
aku inginkan. Dulu ketika aku masih mahasiswa, apalagi ketika aku
belajar di negeri orang, aku merupakan salah satu pemburu barang
diskon-an. Di Perth ketika musim diskon aku langsung berburu baran2 yang
aku inginkan, setelah terlebih dulu aku sudah survey harga barang2
tersebut, sehingga aku tidak ‘tertipu’ dengan mutu dan kualitas barang2
yang ditawarkannya.
Misalnya, sewaktu aku baru datang dari
Indonesia ke Perth adalah musim semi menuju musim panas. Barang2 musim
semi didiskon besar2an sampai dengan 90% dan benar2 itu harganya! Begitu
juga jika pergantian musim, barang2 musim yang akan ditinggalkan
didiskon besar2an. Sehingga itu adalah ‘makananku’ sebagai mahasiswa dan
perantau negeri orang. Aku berhasil membeli dan membawa banyak barang
diskon dan ketika aku ke Jakarta, aku menjualnya ke teman2ku dengan
harga ‘barang import’.
* ….. hihihihi, aku bisa dapat uang banyak lhooo …..*
Tetapi ketika aku sudah pulang ke Indonesia waktu itu dan aku mulai bekerja dengan gaji masih pas-an, aku
masih ‘pemuja barang diskonan’. Dan ketika aku ‘menemukan’ barang2 diskon
dengan kualitas yang sangat tidak standard dan harga barangnya dinikkan
dahulu sebelu didiskon, aku sangat kecewa. Sehingga setelah itu aku
tidak peduli. Jika aku ingin membeli barang fashion, aku tidak mecari
diskon, papun dan berapapun harganya, jika memang aku suka dan aku
butuhkan, dan sesuai dengan kantongku, aku pasti membelinya …..
Karena aku memang seering bepergian
keluar negeri, aku tetap pemburu barang diskonan fashion disana. Karena
aku tahu bahwa barang2 diskon fashion disana, jika memang
diskon adalah benar2 diturunkan sampai titik serendah2nya! Dan jika si
toko memberi diskon besar dan kualitasnya memang tidak bagus, mereka
akan jujur kepada konsumen, sehingga kita tidak merasa tertipu! Percaya deh!
Jika sebuah barang fashion, misalnya
baju yang didiskon besar, mereka akan menunjukkan ‘kejelekkan’
barangnya. Misalnya, jahitannya agak miring, atau kancingnya tidak rata,
sehingga kita mengerti, barangnya diskon karena apa dan kita bisa
memutuskan jadi mau membeli atau tidak …..
Aku memang perempuan, tetapi aku tidak
‘gila’ diskon. Banyak teman perempuanku bercerita, mereka sering membeli
dan berburu darang obralan. Mereka kalap dan membeli banyak yang
akhirnya tidak terpakai karena terlalu banyak, atau barang2 itu ternyata
benar2 tidak bermutu ….
*Mendingan aku deh, aku mencari barang
yang aku suka, mungkin dengan harga mahal, tetapi aku puas membelinya,
dan biasanya barang2 yang aku beli tidak pernah diskon sampai barang
tersebut habis dipasaran. Sangat puas, barang bermutu serta aku suka
dengan barang itu …..
Mungkin yang bisa aku bagikan tentang barang diskon-an ( menurutku yaaaa ), yaitu :
1. Jangan kalap jika kita melihat barang diskon.
Karena jika kalap, kita akan membeli
banyak walau tidak semua dibutuhkan. Sehingga terakhir kita akan
menyesal karena konsep membeli barang diskon adalah untuk menghemat,
tetapi akhirnya malah boros karena barang2 tersebut bermutu redah dan
tidak kita butuhkan …..
2. Belilah sesuai dengan kebutuhan.
‘Kebutuhan’ bisa juga ‘keinginan’.
Tetapi keinginan ini juga harus dipikirkan masak2 sehingga kita bisa
‘menutup mata’ dengan barang2 yang lain.
3. Jika kita bisa membeli barang
yang kita inginkan dan kita butuhkan, lebih baik tidak usah mencari
baran2 diskon-an. Pertama, kita butuh waktu untuk memilih2 dan memilah2
barang2 yang kita butuhkan. Kedua, apalagi kita sama sekali tidak tahu
harga, sehingga baik diskon atau tidak, toh kita tidak tahu! Nanti kita
akan ‘tertipu’ …..
4. Jika kita memang ingin menunggu
diskon ( misalnya di hari2 tertetu toko2 akan memberi diskon ), kita
harus survey dahulu untuk melihat harga2 barang yang kita inginkan, jadi
jia memang saatnya diskon, kita sudah mengerti harga barang tersebut ….
Di dunia bisnis, yang jelas toko tidak
akan rugi’. Artinya, mereka PASTI tetap untung, bagaimanapun caranya!
Jika memang di diskon, pasti mereka akan menghitunya terlebih dahulu.
Dan pengalamanku bahwa barang dison BELUM TENTU membat kuta berhemat,
bahkan justru membuat kita ‘tekor’ dan boros!
Sekarang, coba kalian ingat2, ketika kalian membeli barang2 diskon, apa yang kalin amati?
Apakah barang yang kalian beli benar2 yang kalian inginkan?
Apakah
barang2 itu merupakan barang dengan kualitas sesuai dengan harganya?
Atau apakah kalian puas dengan barang yang kalian beli, benar2 puas?
Dan masih banyak lagi pertanyaan2 seputar barang2 yng dibeli ……
Dan setelah aku sudah bekerja setelah
sekitar 20 tahun dan membeli barang2 dengan uangku sendiri, aku koq
merasa bahwa aku lebih puas dengan membeli barang2 sesuai yang aku
inginkan dan aku butuhkan, TANPA menunggu diskon adan sama sekali tidak
berburu barang2 diskon-an, KECUALI jika aku lagi berwisata ke luar
negeri, sebuah barang diskon, dengan barang dan kualitas yang aku
inginkan, mampu untuk ‘menarik’ aku memiliah2 dan membeli beberapa
darinya …..
Selamat berburu barang diskon, tetap
berhitung untuk-ruginya membeli barang diskonnya, karena nanti justru
malah bisa menjadi ‘buntung’, bukannya untung …..
Rabu, 16 Mei 2012
Rabu, 16 Mei 2012
- 0 Comments
By Christie Damayanti
orangmudakatolik.net
Karena aku sudah bekerja selama 20 tahun sebagai arsitek, aku mungkin bisa sedikit share tentang karier sebagai pekerja di metropolitan ini. Bukan aku tidak mau berwiraswasta, tetapi lebih kepada bahwa aku ternyata tidak berbakat bisnis. Mengapa? Karena, sangat jujur aku katakan, bahwa bisnis memang kejam. Secara aku dari dulu, bekerja sebagai arsitek di perusahaan2 besar dan suamiku (dulu ) sebelum bercerai, adalah pebisnis handal.
Kami pernah membuka perusahaan konsultan dan kontraktor design arsitektur, dan aku merasakan aroma bisnis yang kental, yang membuat aku benar2 berpaling dan memfokuskan diriku sebagai pekerja saja ……
20 tahun bekerja? Ternyata sudah cukup lama, sehingga beberapa bekas mahasiswaku atau bekas anak2 buahku, ‘mengangkat’ku segabai ‘penasehat’ mereka ( lihat tulisanku ‘Fashionable’ Tidak Tergantung Umur dan Keterbatasan Seseorang ). Dan sempat beberaa saat, aku merenungi hidupku, terutama terfokus dengan pekerjaanku. Bahwa, karier seseorang akan bisa cemerlang, ketika dalam kita berproses, mengikuti alur2 yang telah menjadi ‘pakem’ bagi pekerja2 yang memang ingin berkarier.
Jika kita sering berpindah dari perusahaan2 yang 1 ke perusahaan yang lain kita sudah tahu, bahwa ‘kutu loncat’ seperti itu akan menjadikan persahaan yang selanjutnya agak ‘takut’ untuk menerimannya, karna kita hanya 1 tahun indah perusahaan. Lain lagi jika kita sudah diatas 5 tahun, yang kata banyak orang, bahwa 5 tahun adalah batas seseorang bisa ‘meninggalkan’ sebuah perusahaan dengan nyaman …..
Tetapi jika kita sudah bekerja diatas 5 tahun, justru untukku merupakan pekerja yang loyal dengan ssebuah pekerjaan, juga loyal dengan perusahaan itu. Biasanya, justru bagi persuahaan akan lebih memperhatikan pekerja itu, sebagai ‘aset’ yang bisa dianggap sebagai ‘kepercayaan’ untuk ( mungkin ) membuat implementasi dan pengembangan2 usaha baru.
Sedikit share, bagaimana kita sebagai seorang pekerja membuat peta rencana atau ‘plan’ pekerjaan kita :
Karier awal tahun ke-1
Pertama, kita harus berenalan dengan ssesama pekerja, dari divisi sendiri, sampai dengan divisi2 dan departemen2 yang masih berhubungan pun yang tidak berhubungan. Gunanya, adalah untuk b e r k e n a l a n, yang artinya bisa juga untuk m e m b a n g u n n e t w o r k i n g. Karena dimanapun, membangun networking harus dilakukan dimanapun kita berada.
Setelah sekitar 2 minggu perkenalan, kita berusaha untuk mencari ‘passion’ atau gairah kerja. Karena jika kita hanya langsung bekerja tanpa mengenal lingkungan kerja kita, kita akan ‘tersingkir’, apalagi politik kantor bisa menghambat bagi karier kita, jika kita tidak pandai2 membuat strategi dalam bekerja.
Tetapi, jika kita di perusahaan baru itu, merupakan pindahan kesekian ( jadi bukan frash graduate ), apakah kita mau ‘berbagi’ dengan teman2 baru kita? Yang jelas, dengan pengalamanku, ternyata banyak orang2 yang baru pindah, tetapi tidak mau untuk berbagi, karena mungkin orang itu hanya memikirkan diri sendiri saja …..
Itu sih terserah saja. Mungkin dia hanya ingin boos tahu bahwa dia adalah orang ‘pintar’ dan hanya dia yang bisa bekerja, tetpi jangan salah juga, jika kita tidak mau berbagi, orang2 lama di perusahaan itu justru akan ‘memboikot’ orang baru ini untuk berkarier ….. jadi, mengapa tidak mau berbagi, toh kita semua hanya pekerja, justru berbagi akan memberikan kita sebagai ‘orang baru’ pamornya naik, karena pengalaman2 kita di kantor yang lama bisa di pelajari sebagai tempat pembelajaran. Tetapi juga, jangan lupa, jangan pernah membicarakan keburukan2 perusahaan lama ya, karena jika ketahun, kita akan di cap ‘penghianat’ dan di ‘blacklist’ jika pindah ke perusahaan lain …..
Tahun pertama di perusahaan yang baru, karena kita belum mengenal ‘medan’ sedikit banyak kita akan terbebas untuk lembur, kecuali kita yang menerjunkan diri, seperti pekerja lapngan untukku …..
Karier tahun ke-3
Begitu menginjak tahunke-3, pasti kita sudah merasakan, “Inikah awal karier?”.Sangat wajar, etika tahun ke-3 kita tidak merasakan permasalahan yang berat, sehingga kita bisa bekerja dengan baik dan selalu mencetak deadline2 yang memuaskan. Jika kita merasakan bahwa itu memang awal sebuah karier, mulailah untuk membangun tim yang solid. Pun jika kita bukan level yang tinggi, kita tetap bisa membangun tim yang solid. Antara teman2 kita serta boss kita, akan menjadi tim untuk deadline2 berikutnya.
Juga, mulailah bekerja untuk ‘mencintai pekerjaan kita’, BUKAN sekedar untuk gaji yang tinggi. Karena, di awal2 dalam membuat tim, atasan kita akan melihat, apakah kita bisa bekerja dengan loyal atau apakah kita bekerja semata2 hanya untuk mencari gaji yanng tinggi? Tidak salah sih, tetapi kita tetap harus bekerja dengan ‘hati’ …..
Deadline2 dan tugas2 baru, mulai menumpuk di tahun ke-3, karena kkia sudah mulai ‘dikenal’ sebagai pekerja yang mumpuni. Apalagi jika boss sudah ‘melihat’ pekerjaan kita, kita akan dijejali banyak pekerjaan. Dan jika kita bijaksana, kita harus bisa membatasi ‘jobdesk’ kita, karena di tahun ke-3 ini, kta akan tidak bisa membendung pekerjaan kita JIKA ‘jobdesk’ kita terus semakin berkembang …..
Karier tahun ke-5
“This is my passion”, pasti adalah curahan hati kita! Tahun ke-5, adalah titik ‘kulminasi’ kita mau terus bekerja di perusahaan ini, atau pindah ke perusahaan yang lain. Dan berbalikan dengan, “I am Boring!”. Benar! Aku pernah berpindah dalam 4 perusahaan. Dan masing2 aku merasa bosan di ahkir tahun ke-5. Aoa yang aku cari? Atau apa yang aku inginkan? Hanya bosan saja, kecuali di perusahaan terakhir ini, aku sudah bekerja menuju tahun ke-7. Bagaimana yang lain? Semua bergantung dengan masing2 dari kita …..
Tahun ke-5, semua sudah ‘mengenal’ kita. Dari Boss kita sampai ob, kita sudah mengenalnya, dari yang baik2 saja, sampai yang buruk2nya ….. Kita dan perusahaan sudah mempunyai ‘chemestry’ yang bisa membuat kita merasa di dalam sebuah ‘keluarga’ besar, sebagai komunitas bekerja …..
Promosi2 mulai untuk bisa disimak dengan lebih baik. Tujuannya, adalah kita bekerja sebagi pekerja yang loyal, handal dan berdedikasi. Gaji kitapun naik dengan pesat. Jadi, apakah kita bisa ‘meninggalkan’ perusahaan ini? Berbeda jika kita bekerja dengan lesu dan tanpa adanya gairah dalam bekerja. Pikirkan baik2 …..
Karier tahun ke-7
Apakah kita akan menggantikan posisi si empunya perusahaan? Tidak! Di tahun ke-7 dan seterusnya, kita sudah saatnya bekerja benar2 BUKAN untuk uang, tetapi untuk kemajuan perusahaan serta pengembangan dan perluasan usaha. Bukan hanya itu, kita mulai menciptakan moment2 apik bagi kandidat2 karyawan kecil untuk ‘membina’ keluarga mereka. Misalnya, beasiswa bagi anak2 mereka, bekerja sama dengan lembaga2 pendidikan, atau mencarikan peuang usaha bagi keluarga karyawan2 kecil, misalnya memberi tempat bagi istri mereka unttuk membuka kantin karyawan, dan sebagainya.
Gagasan2 kita, sebagai pekerja yangn sudah lama pasti akan memberikan masukan bagi perusahaan, dan kita sebagai pekerja yang ‘menciptakan’ ide itu, akan menjadi inspirator, sehingga lambat laun, kita ( yang masih sebagai pekerja ) tidak menutup kemungkinan, akan ‘diambil’ oleh si empunya perusahaan untuk membagi ’share’ dalam ide2 tersebut …… menarik bukan?
Di tahun ke-7 ini, banyak orang mengatakan, “Tantangan sudah habis”. Tetapi, untukku, justru kita bisa memulai sebagai ‘penyalur’ berkat bagi banyak orang. Karena, untuk memuliakan nama Tuhan, bukan hannya sebagai pemuka2 agama saja, tetapi dengan bekerja, kita bisa menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Tidak usah muluk2, setidaknya kita bisa menyalurkan berkat bagi lingkungan di sekeliling kita saja …..
Sekarang, apa yang harus dan ingin diraih? Padahal kita sudah memiliki semuanya.
Jadi, jadilah apa yang Tuhan inginkan, sebagai seorang pekerja yang berdedikasi dan seorang manusia yang bermoral demi kemuliaan nama Tuhan ….
Salamku …..

By Christie Damayanti
jawabanpasti.com
Jaman sekarang memang sudah berubah. Ibu Kartini membuat wanita Indonesia, banyak berubah, dari yang positif ( pastinya ) sampai emansipasi yang ‘kebablasan’. Jika dulu wanita benar2 hanya duduk di rumah, mengurusi rumah tangga dan menjaga anak2, sambil menunggu suaminya pulang, sekang wanita Indonesia bisa berkarya, berkarier dan melakukan apapun yang mereka inginkan.
Salah satunya adalah untuk menambah ‘uang saku’ rumah tangga, walaupun wanita hampir semua bekerja untuk membantu suami membiayai rumah tangga, ataupun karena ingin terus berkarya.
Jika sudah bekerja, tetapi wanita ingin mendapat uang saku lebih lagi, bagaimana caranya? Jika aku, sebagai wanita dan berkarier sebagai arsitek, aku dengan gampang untuk mendapatkan proyek2 diluar dari pekerjaanku, misalnya pekerjaan rumah tinggal saudara atau teman, interior toko teman dan sebagainya. Juga ketika aku masih kuliah dengna membantu kakak kelas yang ujian akhir membuat maket / model bangunan ( lihat tulisanku Penghasilanku yang Pertama ). Tetapi yang lain, bagaimana?
Ada beberapa cara, yang aku sudah lakukan, ketika aku masih sekolah dan ketika aku sempat bersekolah di luar negeri atau ketika kami sedang berlibur di rumah adikku di sebuah negara.
Sedikit share, cara untuk menambah ‘uang jajan’, yang aku sudah lakukan :
1. ‘Garage sale’
Aku pernah tinggal di Australia untuk bersekolah. Sebagai mahasiswa, uang sakuku terbatas, dari kedua orang tuaku. Dulu aku tinggal kost dan kehidupanku ditanggung orang tua angkatku. Aku bayar kost termasuk makan 3x sehari. Dan teman kostku, adalah gadis seumuran denganku, dari Thailand, sehingga kami kemanapun hampir selalu bersama. Ke kampus ( kampuspun sama ) bersama, jalan2 bersama dan belanjapun bersama ( lihat tulisanku Jejak Nostalgia: Masa-masa Kuliah di Perantauan ).
Ketika mulai bersekolah, buku2ku lama kelamaan bertambah banyak, sehingga ketika mau kembali ke Indonesia, barang bawaanku berambah banyak, sampai kelebihan bagasi, walaupun sudah bagasi khusus setelah kuliah ( 2x lipat dari baasi normal ). Jadi, ketika sekitar 1 bulan sebelum kami kembali ke Indonesia, kami merencanakan ‘garage sale’. Selain untuk memperingan bagasi, kami bisa menambah uang saku. Dulu, aku memang berangan2 menabung dalam dollar, walau bukan dollar Amerika.
Mulailah, setiap hari Sabtu dan Minggu, kami minta ijin untuk menggelar ‘garage sale’ di depan rumah orang tua angkat / kost kami. Sabtu mulai jam 2 siang sehabis makan siang sampai jam 5 sore, Minggu setelah pulang Gereja jam 2 siang sampai jam 6 sore. Lumayan …… barang2 kami yang ( mungkin ) tidak terpaai lagi di Indonesia, aku jual dengan harga 1/3 sampai ½ dari harga yang aku beli ….. Lumayan, kami bisa mengantongi dollar Australia untuk dibawa pulang …..
2. Membuat makanan dan camilan
Jika aku dan keluargaku sedang berlibur di Amerika dan berakomodasi di rumah adikku di Dallas, biasanya lebih dari 2 bulan, kami, terutama mamaku, selalu membuat makanan2 dan camilan2 untuk teman2 adikku di Gereja, untuk di jual. Bukan hanya itu, kami juga membuat ‘catering’ untuk beberapa teman adikku, yang ternyata hasil penjualannya, bisa ‘membeli’ tiket Jakarta - Dallas - Jakarta besert uang sakunya, lho!
Memang, itu di Amerika, dimana harga jual makanan lumayan mahal. Tetapi, tetap sangat bisa dilakukan. Aku sih belum pernah melakuukannya disini, tetapi sudah banyak teman dan saudara untuk membuat makanan dan camilan, yang memang hanya di sebuah sessi tertentu, yang bisa mendapatkan uang saku lebih. Misalnya, makanan dan kue2 di hari raya atau untuk sebuah pesta tetangga, dan sebagainya.
3. Membuka stand di bazzar2 yang bukan bazzar untuk ‘charity’
Seperti di beberapa kampus atau kantor di manapun, Sering mengadakan bazzar, misalnya untuk mencari dana berkegiatan, atau mempromosikan sesuatu. Kita bisa menjual barang2 dengan menyewa stand, termasuk juga makanan. Dulu sewaktu aku masih kuliah, bersama beberapa teman, kami sering menyewastand unttuk menjual makanan atau untuk berfoto ( ada teman yang bisa mem-foto dan dijual dengan pigura2 yang artistik ). Atau uga pernah menywa stand untuk mejual jasa ’sketsa’ wajah ( ada teman yang bagus untuk sketsa wajah ) serta sketsa2 rumah2 sederhana berikut konsultasinya, sebagai ( dulu ) calon arsitek …..
Lumayan lho hasilnya. Bisa untuk membeli peraltan menggambar arsitektur yang memang mahal …..
Ketika kami berlibur di Amerika, aku juga pernah menyewa stand di ‘Weekend Market’, yang adanya hanya setiap hari Sabtu dan Minggu. Aku sengaja membeli barang2 dari Indonesia ( yang aku pikir, mereka suka, biasanya barang2 khas Indonesia ) dan dijual denan harga yang relatif masih murah untuk Amerika, teatpi sudah lebih dari 2x lipat aku beli di Jakarta ….. Dan, sungguh, aku bisa membelikan barang2 yang memang aku inginkan di Amerika …..
4. Membuat barang2 kerajinan tangan sendiri dan menjual kepada teman2 dekat
Sejak dulu, aku memang selalu tidak bisa diam. Dulu, aku sering membuat barang2 kecil yang disukai teman2ku di sekolah. Waktu SMP dan SMA, aku membuat kartu Valentine dari kertas merah dan pink dengan kata2 yang aku susun sendiri, dijual ke teman2 depat, dan meluas ke seluruh sekolah. Mereka mengatakan aku memang berbakat untuk desain apa saja. Karena bukan hanya kartu, tetapi aku membuat boneka2 kecil dari sabun mandi yang di hias dengan pita2, sehingga membentuk binatang2 lucu, sampai angsa putih yang anggun …..
Sewaktu kuliah, aku membuat stiker2 cantik berwarna warni dengan inisial nama apapun, ada yang bertumpuk2 sehingga 1 stiker dengan 1 nama bisa berwarna beraneka macam dan dijual lewat ‘bursa arsitektur’ di kampusku …..
5. Menjual barang dari internet
Internet adalah teknologi yang sangat bermanfaat, walau beberapa gelintir orang menjadikan ‘internet tidak sehat’. Di internet, kita bisa menjual apa saja, tanpa membuka toko. Dari barang2 kecil, barang2 hobi, mobil sampai rumah, aku sudah pernah melakukannya.
Di salah satu komunitas filateli grup FB ku, banyak teman yang berjualan prangko. Harganya sesuai dengan harga nominal, tetapi yang memang langka atau yang sudah ‘tua’ akan berharga mahal. Dan karena komunitas ini memang murni sebagai pencinta filateli dan kolektor, bukan untuk bisnis, benda2 filatelinya dijual dengan harga yang wajar …..
Begitu juga tentang beberapa orang sepupuku, yang berdagang baju dan asesoris wanita lewat Fbnya, mereka bisa mendatangkan uang lumayan untuk kebutuhannya sendiri. Dan yang terakhir, aku memasarkan rumahku lewat ‘Rumah Kita’ di internt. Banyak yang telpon atau sms. Dan ruamhku terjual dari saudaranya yang aktif di internet, yang memang mencari rumah disekitar rumahku ….. tetapi yang aku tuliskan ini adalah pengalamanku sendiri, sebagai wanita, pekerja dan ‘wiraswasta’ dadakan …..
Yang aku ceritakan diatas, adalah bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang saku lebih dari pekerjaan sehari2 kita. Sebenarnya, masih banyak yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang saku
Untuk mencari uang memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Beberapa cerita diatas, sebenarnya semua orang bisa melakukannya. Apalagi orang tersebut benar2 berniat untuk mendapat uang saku. Masalannya, apakah kita sanggup menjalaninya? Karena, kadang2 kita merasa ‘gengsi’ untuk memasarkan barang2 kita ke teman2, sekedar untuk mencari pendapatan lebih. Kita biasanya, bangga untuk bekerja di perkantoran, tetapi ‘gengsi’ untuk bejualan di beberapa tempat yang aku ceritakan diatas …..
Sekali lagi, tidak ada kata ‘tidak bisa’, tetapi adanya kata ‘malas’ dan ‘gengsi’ untuk menjadikan kegiatan kita bermanfaat bagi keluarga, sesama dan lingkungan kita …..
Salamku …..

Langganan:
Postingan (Atom)