Senin, 01 Juli 2013
Terpuruk? Apalagi Sebagai Insan Pascastroke, Sangatlah Manusiawi!
Senin, 01 Juli 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Dokumen Pribadi
Sebelumnya :
http://sosok.kompasiana.com/2013/07/01/dalam-3-hari-saja-pak-didin-insan-pasca-stroke-sudah-sembuh-569933.html
Aku tetap manusia. Ketika banyak orang
mengatakan bahwa aku sangat tegar dengan banyak permasalahan2 yang terus
menerus, tetapi terlihat aku tidak bergeming sama sekali! Dari
perceraian, dan beberapa penyakit berat ( kanker serta patah kaki ).
Siapa bilang?
Aku tetap seorang manusia. Seorang
perempuan denan cacat otak sebelah kiri karena stroke berat, dan lumpuh ½
tubuh sebelah kanan dan suara cadel yang belum sempurna. Dan siapa
bilang aku tidak pernah depresi? Siapa bilang aku tidak pernah putus
asa? Pati pernah lah, secara aku benar2 manusia biasa, bukan malaikat!
Bedanya bahwa, aku tidak depresi lebih dari 1 jam tentang penyakitku,
dan hanya 3 minggu depresi karena kehilangan papa yang dipanggil Tuhan
Yesus ke Rumah Bapa di Surga …..
***
Ketika kanker rahim menyerangku dan 2
orang saudara dan sahabatku meninggal karena penyakit yang sama, aku
frustasi, putus asa dan sangat depresi, di depan dokterku, Dr Eriyono (
lihat buku ke-3 ku : Launching Buku-ku ke-3 : “Ketika Tuhan Masih Memberikan Aku Hidup”, Kesaksian Sebagai Cancer Survivor ).
Aku menangis berjam2 dan hanya ditemani oleh Dr Eriyono, sementara
orang tuaku sedang jauh dan suamiku entah dimana. Dan setelah jam2 itu
berlalu, perasaan depresiku seakan lenyap, berganti dengan semangat yang
membubung untuk meyelamatkan jiwaku karena anak2ku masih sangat kecil (
ketika itu tahun 2003 ).
Dan dengan semangat yang aku yakin
adalah berasal dari Tuhan, aku mampu melewatinya setelah beberapa
observasi dan pengangkatan rahim ( hysterectomy ). Terbukti kan, aku
juga sempat frustasi, putus asa dan depresi? Apalagi beberpa kali maut
berada di sekelilingku karena kanker rahim itu …..
Lalu, ketika patah kaki kiriku yang
membuat aku terpuruk karena besar kakiku seperti kaki gajah berbulan2
dan warna kehitaman serta ketakutan aku tidak bisa berjalan lagi, pun
aku sangat depresi krena orang tuaku jga sedang di luar negeri dan
suamiku juga entah dimana. Ditambah ketika aku mengalami stroke berat,
dan tubuhku benar2 tidak mampu berbuat apa2, dalam hatiku sering
merasakan keterpurukan, karena tidak ada yang mengerti dengan keadaanku,
walau papa dn Valentino berusaha untuk mengerti! Lihat tulisanku Launching Buku Untuk Tuhan : “Ketika Tuhan Mengizinkan Aku Sakit”.
*Terima kasih, papa … terima kasih, Valen …..
Terakhir ketika papa dipanggil Tuhan, ya
….. inilah keterpurukan ku yang paling lama! Secara papa adalah
matahariku, jiwaku dan sebagai pengganti tangan dan kakiku yang lumpuh,
aku benar2 kehilangan papa ( lihat tulisanku Launching buku : “Bapak Mengganti Tangan dan Kakiku yang Lumpuh” ) ……
***
Sekarang, ketika aku berjalan dalam
terang Tuhan dan melayani orang2 di sekelilingku dengan apapun yang aku
punya, Tuhan terus juga berjalan disisiku. Ketika pak Didin mulai
semangat untuk menyambut pemulihannya dari stroke, beliau sempat membuat
sebuah testimony tntang dirinya, seperti yang aku copas dari tulisannya
:
“Saya sudah 5 bulan tinggal
di rumah saja, jarang keluar, merasa depresi, minder, malu, marah, tidak
bisa meerima kenyataan, semua orang nampaknya hanya berbela kasihan
kepada saya menambah pilunya hati, semakin saya merasa tak berguna. Saya
sadar memang saya cacat, tidak berguna dan banyak menyusahkan orang
sebab untuk makan, mandi dan bab saja harus ditolong istri saya.
Tiap
hari selama 5 bulan saya mengalami depresi, sering gundah, resah, tidak
bisa tidur. Istri dan anak2 saya sering jadi sasaran kemarahan saya,
seolah iman saya telah menghilang begitu saja.
Tetapi saya bersyukur
epada Tuhan sebab istri saya selalu menemani dengan setia mengurus saya 24 jam sehari”.
***
Terpuruk! Sebuah kata yang sangat
membuat kita ‘terendahkan’ sedemikian rupa karena sesuatu. Seperti aku,
pernah berada di ‘Titik Nol’ ( lihat tulisanku Ya, Aku Pernah Dibawah Titik Nol ).
Terpuruk merupakan padanan ata yang pas untukku, bahkan bukan hanya
sekali saja! Bahkan bukan hanya di Titik Nol saja, melainkan di Titik
Minus, karena aku sama sekali tidak bisa berbuat apa2! Hanya mendengar,
melihat, tersenyum dan berdoa ……
Tetapi tepuruk tetap bisa dikendalikan!
Dengan selalu bersyukur tehadap semua yang kita dapatkan dan alami di
hidup kita, walau yang terjelek yang Tuhan berikan kepada kita,
keterpurukan akan bisa dikendalikan. Hanya terus bersyukur … bersykur …
dan bersyukur!
Lebay? Mungkin! Tetapi ini yang aku lakukan ketika
permasalaan dan penyakit2 berat melanda tubuhku, bahkan sampai sekarang.
Tetap bersykur, membuat aku langsung bangkit dari keterpurukan, tidak
berlama2 karena jika terlalu lama dalam depresi, semuanya akan
menjadikan kita memendam borok di hati kita dan membuahkan penyakit lain
dan terus menerus, sampai akhirnya menyerah dalam lingkaran roh2 dn
kuasa gelap …..
Manusia memang boleh berencana. Manusia
justru harus bermimpi. Tetapi ketika rencana dan mimpi kita pupus
ditengah jalan karena suatu masalah atau penyakit seperti aku, kita bisa
membuat ‘plan B’, bukan? Rencana dan mimpi baru! Yang mungkin 100%
berbeda dengan rencana2 dan mimpi2 kita yang lama. Tetapi jika kita
bermimp dengan iman, tidak mustahil rencana dan mimpi2 kita terus
berkibar bertolak belakang dari rencana2 dan mimpi2 kita yang lama. Dan
itulah yang Tuhan inginkan!
Karena Tuhan merencanakan masing2 dari
kita dengan sangat detail, dan masing2 dari kita ada di rencana NYA yang
sangat indah! Tetapi karena kita membuat rencana2 yang lain ( sebagai
manusia ), Tuhan akan ‘membenarkan dan meluruskan’ rencana tersebut
sesuai dengan rencana NYA, BUKAN rencna kita, manusia!
Dan jika kita ‘menangkap’ signal Tuhan, dengan kita terus percaya, maka kita langsung akan menyatakan,
“Tuhan, aku siap dengan
rencana2 MU, bukan rencanaku! Siapakan hati dan jiwaku, Tuhan!
Bimbinglah aku dan Rencana MU lah yang anak terjadi!”
Tags: Catatan Harian
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Terpuruk? Apalagi Sebagai Insan Pascastroke, Sangatlah Manusiawi!”
Posting Komentar