Jumat, 28 Juni 2013

Pak Didin, Stroke Survivor yang Mulai Bangkit dari Keterpurukannya



By Christie Damayanti

1372394427214253038

Suatu sore hari Kamis terakhir bulan Juni 2013 lalu, aku memang merencanakan untuk bertandang ke seorang insan pasca stroke yang sudah sering kami ‘berbicara’ lewat BBM. Wktu itu pak Didin, seorang pasca stroke sejak Januari 2013, SMS ke Radio Pelita Kasih ( RPK ) 96.3 FM ketika aku siaran di program ‘Weekend Spirit’, hari Sabtu 23 Juni lalu. Pak Didin meminta nomor hp ku dan aku membalasnya lewat SMS setelah siaran program itu selesai.

Pak Didin adalah seorang pasca stroke, yang sampai saat ini masih sangat depresi, dari yang aku baca di SMS - SMS nya. Beliau terus merasa ‘tidak berguna’, putus asa dan sangat tidak percaya diri. Pak Didin sebelum sakit stroke ini, adalah seorang insinyur mesin lulusan Jerman, yang selalu ‘mobile’ dan mengepalai mesin di pabrik2 besar. Beliau sangat aktif dan dalam umur2 senja ini pun masih aktif bekerja. Sehingga ketika pak Didin dilanda stroke berat, yang ternyata juga lumpuh 1/2 tubuh sebelah kanan, seperti aku. Dan beliau seakan merasa benar2 tidak berguna sebagai bapak dari keluarganya serta sebagai manusia ….

Keluarga pak Didin merupakan keluarga bahagia yang takut akan Tuhan. Anak2nya 4 orang. Yang pertama sudah menikah dengan pria dari Inggris dan sudah mempunyai rumah sendiri di Jakarta juga dan bekerja di sebuah majalah besar nasional. Putra yang kedua, laki2 seorang musisi dan sering membuat lagu2 jingle dari banyak perusahaan besar di Indonesia. Anaknya yang ketika perempuan, masih kuliah fashion dan yang keempat juga perempuan dan baru lulus SMA dan keterima di jalur PMDK di Universitas Padjajaran Bandung. Sebuah keluarga harmonis dan aku melihat komunikasi dengan Tuhan sangat aktif dengan pelayanan2 lewat musik di Gerejanya.

Sesaat aku tahu, bahwa Tuhan sedang menyiapkan kesaksian bagi pak Didin lewat sakitnya. Ketika aku melihat beberapa foto2 pelayanan di Gerejanya serta cerita2 lewat mulut pak Didin dan bu Silvi, aku sangat percaya bahwa Tuhan mempunyai misi khusus bagi pak Didin, walau aku tidak tahu, rencana apa yang Tuhan mau lakukan terhadap pak Didin …..

***

Ketika aku sudah sampai ke daerah rumahnya di Rawamangun, aku menelponnya untuk memberitahukannya bahwa kami sudah hampir sampai dan bu Silvi ( istrinya yang dengan setia terus mendampinginya ) menjemput kami ( aku bersama Valentino dan Michelle, anakku ) di luar kompleks. Dan setelah kami bertemu di jalan tempat kami menunggu, barulah kami seturut dengan bu Silvi ke rumah mereka.

Kami sudah duduk di rumah mereka. Aku bersiap bertemu dengan pak Didin. Bu Silvi masuk dan membimbing pak Didin keluar untuk bertemu dengan kami.

Pak Didik berjalan tertatih2, sama dengan aku, di bimbing oleh bu Silvi. Beliau memakai tongkatnya, kelumpuhnya sama dengan aku, sebelah kanan. Tangan kanannya pun bentuknya sama denganku, sedikit bengkok, tidak bisa ( atau belum bisa ) lurus dan melenggang seperti tangan kanan yang normal. Matanya sayu dan sampai didepanku setelah aku berdiri menyambutnya, beliau menangis ……

Tuhanku! Aku melihat beliau seperti papa. Seorang tua dengan tatapan mata yang teduh penuh kasih. Walau tidak ( atau belum ) memancarkan sinar semangat, sungguh, aku yang memang beberapa hari ini sedang sangat kangen dengan papa, aku melihat ’seorang papa’ yang memang bukan papaku, tetapi aku merasakan ’sesuatu’, sebuah kasih yang berbeda …..

Aku menjabat tangannya dengan erat, tangan kirinya, sama dengan tangan kiriku. Aku ingin memeluknya, seperti aku ingin memeluk papaku, tetap mungkin tidak sopan jika aku melakukannya. Pak Didin terus menangis. Air matanya terus mengalir dan mulutnya terus mengucapkan terima kasih bahwa aku mau datang kepadanya. Muka beliau menjadi merah, seperti udang rebus, dan itu menambahkan pancaran kasih ( entah apa namanya ) dan hatiku teduh bersamanya.

13723946021858286381
1372394646686775643
Curahan hati seorang pak Didin yang sangat aku mengerti, sama2 sebagai stroke survivor

Aku membimbing beliau untuk duduk di atas kursi rodanya, dan aku duduk di sebelahnya di sofa. Bu Silvi duduk di depanku, sementara Valentino dan Michelle agak jauh di seberangku. Pak Didin memulai membuka percakapan tentang sedikit keluarganya dan bu Silvi menimpalinya, bercerita tentang anak2nya yang memang membanggakan. Sekali2 pak Didin mengusap air matanya yang terus turun, jika hatinya menurun, merosot dan menukik tajam, yang pastinya karena keadaannya. Dan jika itu terjadi ( aku selalu memandangnya ), aku mengulurkan tanganku untuk mengusap2 kaki kanannya, seperti jika aku sedang bercakap2 dangan papaku sewaktu papa masih ada…..

*hiks … sungguh, aku berusaha menahan air mataku sendiri, ketika aku teringat papa. Tetapi jika aku menangis, kemungkinan besar pak Didin akan bertambah terpuruk, walau beliau tidak akan tahu bahwa aku menangis bukan karena aku melihat keadaan beliau, tetapi karena aku kangen papa …..
 
Aku sering membiarkan pak Didin meluapkan perasaannya sambil menangis, aku tidak memotongnya dan aku terus mengusap2 kaki kanannya. Ya, pak Didin merasa bahwa aku bisa mengerti keadaannya, sementara jika orang lain yang menjenguknya, pak Didin tidak merasakan apa2 di hatinya, hatinya kosong 

….. Dan itu juga yang ditekankan oleh bu Silvi, bahwa jika orang lain datang menjenguknya, beliau hanya dia, menunduk lesu dan tidak mau bicara apapun!

Puji Tuhan! Pak Didin mulai ‘bangkit’ setelah kami bertemu! Terima kasih Tuhan, setidaknya aku masih berguna sebagai berkat bagi orang lain yang memang membutuhkannya, seperti pak Didin, walaupun aku hanya bia datang dan mengunjunginya …..

1372394776951965959
Aku dengan pak Didin dan bu Silvi, istrinya yang selalu mendampinginya setiap saat.

Hampir 1,5 jam bincang2 kami, pak Didin tetap sering mengeluarkan air matanya, walau sangat berbeda sejak pertama bertemu sampai ketika kami pamit pulang. Air mata yang terakhir bahwa kami melihat ada seberkas sinar semangat. Roh Kudus sudah berada di hatinya. Dan aku percaya dan mengamininya, bahwa pak Didin sudah tergerak hatinya bahwa beliau akan terus percaya untuk masa depannya. 

Terus berserah dan bersykur apapun yang terjadi, totaly kepada Tuhan, bahwa ini yang terbaik menurut NYA dan tetap bersyukur dalam segala hal. Dan aku juga mengamini dalam hatiku, bahwa ketika kita masih diberikan keselamatan dan kehidupan walau dalam keterbatasan, aku sangat percaya ada tugas khusus untuk kita, walau entah apa itu. Dan tugas khusus kita ini, bagaimana caranya kita bisa tergerak dalam membuka hati kita dan Tuhan akan menggerakkan hidup kita untuk tugas khusus itu. Dan aku sangat mempercayainya …..

Aku menyerahkan buku ku yang pertama ‘Ketika Tuhan Mengizinkan Aku Sakit’ ( lihat tulisanku ‘Lanching bukuku untuk Tuhan : Ketika Tuhan Mengijinkan Aku Sakit’ ) untuk pak Didin, untuk dibaca sebagai penambah semangat, bahwa ada yang sama dengannya, bahkan aku sudah 3,5 tahun mengalami keterbatasan seperti ini. Tetapi aku bisa, mau berusaha terus untuk bangkit, dan Tuhan menolongku! Dan semoga pak Didin bisa melihat Kasih Tuhan yang akan menolongnya, seperti Tuhan juga sudah dan selalu menolong dan menemaniku dalam hidupku ……

Valentino banyak juga memotivasi pak Didin dengan menceritakan selalu menemaniku sejak aku masih sehat, terserang stroke dan sampai sekarang ini. Bahwa dia juga melihat jatuh bangunnya aku berusaha bangkit dalam keterpurukanku karena serangan stroke sejak 3,5 tahun lalu. Emosi, kemarahan, kesedihan atau energi2 negatif yang sempat juga ‘merasuki’ ku, tetapi dengan kasih Tuhan, keluarga dan Valentino sendiri, yang telah membimbingku sampai sekarang, membuat aku bertahan dan menemikan jalan hidupku yang baru. 

Dan Valentino mengajak pak Didin menulis di Kompasiana dan bergabung dengan kami untuk berbagi berkat dan melayani dengan menulis dan berkomunitas, karena pak Didin merupakan sosok yang luar biasa sebagai ahli mesin walau di ujung senja …..

Kami pamit kepada pak Didin dan bu Silvi, untuk berjumpa lagi karena aku mengajak beliau untuk siaran bersama di RPK 96.3 FM pada program ‘Weekend Spirit’ hari Sabtu tanggal 29 Juni 2013 jam 16.00 - 17.00 dengan tema : ‘Bangkit Dari Keterpurukan’. Semoga pak Didin terus bersemangat dan menjadi berkat bagi orang2 yang masih belum memahami betapa besarnya Kasih Tuhan untuk kita semua …..

Tags: ,

0 Responses to “Pak Didin, Stroke Survivor yang Mulai Bangkit dari Keterpurukannya”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks