Selasa, 23 April 2013
Tidak Gampang, Merendahkan Hati untuk Berbagi dalam ‘Kesaksian’…
Selasa, 23 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
celebraterecoverymrcc.blogspot.com
Untuk bersaksi itu ternyata tidak
gampang. Menurut aku, bersaksi adalah menceritakan sebuah kesaksian
hidup kita yang berhubungan dengan Tuhan untuk memberikan arti dan
manfaat bagi kita menjadi lebih baik. Bersaksi juga menurutku bisa
diartikan untuk kita bisa merendahkan hati kita, bergumul dengan Tuhan
serta memberikan arti bagi sesama manusia.
Duh, agak ribet ya?
Karena aku bukan
ahli bahasa, tetapi untukku bersaksi merupakan awal aku merendahkan
hatiku didalam Tuhan, mencoba bercerita yang sebenar2nya serta
memberikan gambaran bahwa Tuhan itu sangat Agung dan luar biasa! Bahwa
apapun yang terjadi, ternyata Tuhan memang benar2 Allah yang hidup!
Banyak orang berpikir bahwa bersaksi
adalah ‘berkotbah’, menceritakan isi Alkitab ( atau Kitab2 yang lain )
dan harus belajar dalam agama kita masing2. Tetapi untukku, bersaksi
adalah untuk menceritakan pengalaman kita dengan Tuhan ( baik pengalaman
yang bahagia atau pengalaman yang buruk ). Bersaksi juga bisa aku
artikan bahwa kehidupan kita sehari2 pun merupakan ‘kesaksian’.
Misalnya, sebagai warga Kristen, aku berusaha untuk melakukan yang
terbaik sesuai dengan ajaran agama Kristen. Tetapi jika aku berbuat
semena2 dengan sesama, berarti orang lain akan menganggap warga Kristen
ya seperti itu, semena2 ……
Maaf, aku tidak akan menulis tentang
agama. Ini hanya sebuah contoh saja. Tetapi aku hanya ingin berkata
bahwa untuk bersaksi dan merendahkan hati berbagi, ternyata itu tidak
gampang ……
***
Ketika pertama kali aku mem-posting
cerita tentang aku stroke awal aku bergabung di Kompasiana November 2010
kemarin, aku ‘maju mundur’ untuk mem-posting. Yang pertama, aku malu!
Ya, benar, aku pernah malu untuk bercerita tentang keadaanku yang
terserang stroke. Seorang perempuan awal 40 tahun, sedang di tengah2
karier tinggi dengan lingkungan yang boleh dikatakan prestisius, tetapi
setelah stroke aku berada di titik minus, sebagai seorang manusia (
menurutku, waktu itu ).
Aku malu!
Wah, bagaimana ya, nanti
teman2ku melihatku? Bagaimana jika orang2 yang membenci aku melihatku?
Pasti mereka akan bertepuk tangan dengan ‘kekalahanku’. Sungguh,
berbagai pikiran berkecamuk di dalam kepalaku. Bagaimana jika aku tidak
diterima di tengah2 masyarakat? Bagaimana dengan kehidupan ku nantinya?
Yang kedua, aku merasa takut! Jika rasa
malu itu lebih menderaku karena aku harus merendahkan hatiku untuk
bercerita tentang hidupku dan sakitku, tetapi rasa takut itu lebih ke
arah ketakutan dengan tidak adanya penerimaan dengan hidupku sebagai
insan pasca stroke di tengah2 komunitasku yang biasa ( pekerjaanku serta
teman2ku ). Paling aku akan ‘masuk’ di komunitas2 baru yang itu pun aku
tidak yakin akan ada penerimaan dengan fisikku yang cacat …..
Untuk merendahkan hatiku dalam bercerita
pun, tidak gampang. Ketika Tuhan memberikan aku sakit stroke ini, aku,
seorang Christie yang sedang di puncak karier dan mampu membuat banyak
orang terkagum2 dengan karyaku secara fisik, aku harus bercerita bahwa
aku sebagai ‘bayi yang baru lahir’ …… itu adalah titik minus untukku!
Bagaimana aku bisa ‘mengejar’ karierku? Bagaimana aku bisa hidup lagi,
secara aku benar2 seperti seorang bayi yang baru lahi ….. belajar minum,
belajar makan, belajar duduk, belajar berjalan, belajar mengucap satu
kata, dan sebagainya ….. Ya, aku benar2 harus belajar hidup untuk
menjadi seseorang ……
GOD !!!
Terlebih ketika aku harus dilayani oleh
semua orang karena fisikku yang lumpuh. Ketika itu aku benar2 tidak bisa
bergerak, tidak bisa berbicara sama sekali. Untuk kegiatan
‘toilleteries’ aku dibantu dengan selang. Untuk makan dan minum, aku
benar2 butuh bantuan. Untuk bergerakpun aku harus minta tolong untuk
miring ke kanan atau ke kiri. Apalagi untuk bicara …..
Aku adalah seorang perfeksionis. Aku
tidak suka dengan tugas2ku yang tidak perfek! Semua harus yang terbaik,
apalagi jika aku memang ditugaskan untuk melakukan hal2 tertentu, dan
yang menugaskan aku harus bisa mengatakan bahwa aku mampu! Ok, itu
sebelum aku stroke.
Tetapi setelah aku stroke, sabelum aku
benar2 mampu mandiri, aku harus tidak boleh berpikir tentang
‘pefeksionisme’. Mengapa? Ada beberapa contoh. Misalnya, kegiatanku
sehari2 di rumah. Karena aku agak susah untuk menyampul buku dengan
sampul plastik untuk buku2 koleksiku, maka aku minta tolong kepada
anakku, dan anakku mau mengejakannya. Kalau aku, untuk menyampul plastik
harus di tekan sampai ujungnya runcing dan cantik sehingga buku yang
sudah disampul menjadi manis …..
Tetapi belum tentu anakku. Sampul
plastiknya tidak ditekan sedemikian, sehingga hasilnya hanya sekedarnya
saja, sebuah buku bersampul plastik yang hanya sekedar ‘tidak kotor’
saja …..
Artinya, aku harus ‘menekan
perfeksionisme’ ku untuk hasil yang aku inginkan. 3 tahun aku berada
dalam posisi ini, membuat aku bisa menyelami, bahwa ada batasan2 dari
diri untuk selalu belajar bersyukur apapun yang terjadi …..
Ini adalah sebagian kecil kesaksianku
tentang belajar untuk terus bersyukur dengan apapun yang ada dan apapun
yang terjadi. Bahwa walau aku tidak mampu untuk menyampul buku2ku karena
keterbatasanku, tetapi anakku mau membantuku walau tidak sesuai dengan
keinginanku. Itu sudah sangat luar biasa! Bayangkan, jika tidak ada yang
mau membantukku untuk menyampul buku. Dan ini patut disyukuri, bukan?
Belum lagi dengan kesaksian di bidang
pekerjaan2ku. Walau aku tidak mampu lagi sebagai arsitek lapangan (
padahal aku ingin sekali membetulkan banyak masalah di lapangan ) dan
aku hanya minta tolong dengan teman2ku untuk melakukannya untukku, aku
tetap patut bersyukur karena teman2ku masih mau membantuku, walau tidak
sesuai dengan keinginanku …..
Ini juga sebuah kesaksian kecil bahwa,
ya, aku sekarang adalah seorang perempuan cacat. Jadi bagaimana aku bisa
berbuat yang ‘perfek?’. Untuk berkegiatan saja aku tidak 100% mampu dan
harus di bantu orang lain, bagaimana aku bisa ‘perfek?’ …..
***
Seorang aku yang memang perfeksionis,
dulu, harus merendahkan hatiku untuk mau ‘bergandengan tangan’ dengan
orang lain yang mau membantuku, padahal aku dulu mampu melakukan
semuanya sendiri! Tetapi ternyata dengan aku berani mulai terbuka dan
becerita tentang keadaanku sekarang, aku bersaksi bahwa ‘inilah hidupku
sekarang’, dan Tuhan sangat luar biasa!
Bahwa dengan keterbatasanku,
ternyata Tuhan membuat teman2 dan sahabat2ku terus mendukungku, terus
menolongku apapun yang aku butuhkan! Tuhan sungguh luar biasa! Inilah
kesaksianku! Sebuah kesaksian manis tentang hubunganku dengan Tuhan yang
sungguh luar biasa!
Sekali lagi, tidak mudah untuk kita mau
merendahkan hati. Tetapi jika sudah pernah bersaksi, sungguh, aku sangat
menikmati hubunganku dengan Tuhan-ku dan aku ingin selalu
mengatakannya, dalam kesaksian2ku, bahwa Tuhan memang sungguh luar
biasa!
Tags: Catatan Harian
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Tidak Gampang, Merendahkan Hati untuk Berbagi dalam ‘Kesaksian’…”
Posting Komentar