Senin, 22 April 2013
Emansipasi Bukan Sebuah ‘Pemberontakan’
Senin, 22 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Tags:
Edukasi ,
sosbud
Dokumen Pribadi
Hari Kartini - 21 April 2013 di Gereja Kristen Jawa Eben Haezer, Pasar Minggu
Hari Minggu tanggal 21 April 2013
kemarin adalah Hari Kartini. Gereja pun ikut merayakannya. Bahwa Tuhan
tidak membeda2kan gender, adalah sesuai dengan Firman Tuhan. Bahwa kita ini adalah MANUSIA. Dan Tuhan mengukurnya dalam sebuah KASIH antar manusia dan kasihnya kepada Tuhannya.
Gerejaku pun demikian. Ketika ibadah
pagi sudah selesai, masih ada 1 acara yang dipersembahkan kepada
jemaatnya. Sebuah refleksi tentang perempuan. Ibu Kartini memang sudah
sejak lama dipanggil Tuhan, dan beliau mewariskan banyak inspirasi pada
keturunan2nya. Bahwa Tuhan tidak membeda2kan umatnya.
Mulai dengan
gender, kaya atau miskin, orang2 cacat, bahkan Tuhan tetap mengasihi
orang2 yang tidak mau menyembah kepada NYA. Penjahat2 pun dikasihinya,
dengan takaran yang hanya dimengerti oleh NYA. Apalagi yang hanya
berhubungan dengan gender ……
Aku tidak mau bicara tentang gender itu
sendiri karena masing2 mempunyai persepsi yang berbeda tentang ini. Aku
ingin bercerita tentang kegiatan perayaan Hari Kartini di Gerejaku, hari
Minggu kemarin. Sangat menarik!
Paduan Suara kaum perempuan manula dan Komisi Wanita GKJ Eben Haezer
Ketika ibadah usai, panitia Hari Kartini
mau kedepan, untuk membacakan sedikit narasi tentang perjuangan Ibu
Kartini. Memang sudah biasa! Cerita tentang kartini, memang sudah biasa,
kan?
Walau sesungguhnya lah kita harus tetap tunduk dan
berdoa, untuk Tuhan membukakan hati kita dalam mengekspresikan
perjuangan Ibu Kartini dalam kehidupan kita sehari2.
Setelah itu, ada sebuah acara yang
sangat menarik! Sebuah ‘fashion show’ untuk kaum perempuan. Bukan, bukan
seperti fashion show di luaran sana, tetapi sebuah ekspresi diri kaum
perempuan yang tetap peduli dengan emansipasi yang TIDAK kebablasan.
Bahwa seorang perempuan adalah tetap seorang perempuan, yang mempunyai
kodrat sebagai seorang perempuan! Bukan perempuan yang ‘menyalahi’
kodratnya, dan tidak mau menyelami hidup sebagai seorang perempuan!
Apalagi Ibu
Kartini adalah seorang perempuan Jawa ( jaman dahulu ). Yang
selalu memakai pakaian adat Jawa dengan kebaya ala Jawa dan kain
panjangnya, untuk pakaian sehari2.
Fashion Show untuk memperingati Hari
Kartini tahun ini di Gerejaku, menamapilkan baju2 wanita Jawa, dari
generasi ke generasi. Baju Jawa dalam hal ini adalah kebaya dengan
beberapa desain menarik.
Konsepnya adalah perempuan seharusnya
mampu untuk ‘menjadi perempuan sesungguhnya’ dengan menampilkan
feminimitas dalam fisik serta pemikiran2nya. Karena emansipasi bukan
merupakan emansipasi yang kebablasan, yang akhirnya bisa membuat
penjajahan, seakan2 perempuan harus di atas lelaki dalam emansipasi! Itu
sama sekali tidak benar!
Seperti yang aku tuliskan di tulisanku di Sebuah Emansipasi Perempuan dalam Kasih Tuhan ….., sebuah emansipasi itu bukanlah sebuah emansipasi yang kebablasan, tetapi merupakan emansipasi dalam kasih kepada Tuhan!
Diawali dengan seorang perempun Jawa
manula, cantik dan melenggang dengan busana perempuan Jawa. Ibu Pudjadi,
sahabat keluarga kami di daerah pelayanan di Tebet. Rambutnya sudah
memutih, tetapi masih mampu untuk terus berkarya! Beliau adalah ahli
memijat refkleksi dan sudah banyak sekali langganan2 besar yang
menikmati pijatannya. Bu Pudjadi memakai kebaya dan kain panjang, benar2
terlihat sesuai dengan waktunya, bahwa inilah perempuan Jawa pada waktu
itu …..
Bu Pudjadi dan 2 orang ibu yang mewakili kaum perempuan manula di Gerejaku
Di ikuti dengan 2 perempuan manula juga,
dengan memakai beberapa desain cantik baju2 khas perempuan Jawa. Kebaya
serta kin panjang. Cantik dengan lenggangan yang membuat kami sangat
respek! Bahwa perempuan2 manula, tetapi tetap mampu berkarya sesuai
dengan bidangnya masing2. Ibu Kartini pasti bangga di Surga sana …..
Setelah itu, setelah perempuan2 manula, 3
orang perempuan karier masuk bergantian untuk memamerkan baju2 Jawa (
daerah asal Kartini ). Peremuan2 karier ini tetap berkarya sebagai
‘tiang keluaarga’. Tetapi pun mereka tidak melupakan kodratnya sebagai
perempuan Indonesia, salah satunya dengan memakai pakaian adat Jawa.
Perwakilan 3 orang perempuan manula,
3 orang perempuan karier dan 3 orang perempuan muda dan remaja,
mewakili Kartini2 Indonesia dalam 3 generasi …..
Perempuan2 karier biasanya memang sudah
‘terdidik’ untuk peduli dengan budaya, salah satunya budaya Jawa (
karena Gerejaku adalah memang Gereja Kristen Jawa ). Tetapi ternyata
kaum perempuan muda dan remaja nya pun, mau dan mampu untuk terus
melestarikan budaya Jawa.
*Wah, Ibu Kartini pasti senyumnya bertambah lebar di surga sana …..
Apa lagi ketika anak2 perempuan kecil,
mewakili Sekolah Minggu ( sekitar umur kelas 1 SD ), mau dan berani
memamerkan busana Jawanya …… lucu sekali ….. Mungkin memang ini karya
orang tuanya, tetapi di lihat dari gaya dan wajahnya, mereka tidak
‘membohongi’ kami. Bahwa mereka bangga dan percaya diri sebagai
perempuan Jawa …..
Anak2 yang mewakili generasi Kartini termuda di Gerejaku
Wah, jika aku sehat, sepertinya aku
tidak akan mampu untuk melenggak lenggok dengan memakai busana Jawa atau
apapun yang ’sempit’ dan memamerkan keluwesan fisik, secara aku memang
tomboy, yang hanya ‘bisa’ memakai celana panjang, hehehe ….
Tetapi
melihat fashion show Hari Minggu kemarin, rasa2nya ‘rasa nasionalisme’ku
bangkit untuk membuktikan bahwa ‘aku tetap perempuan Jawa
yang tetap bisa berkarya sebagai perempuan tomboy, tetapi bisa juga
melestarikan budaya Jawa, salah satunya dengan mengenakan busana Jawa
…..’
Acara memperingati Hari Kartini di Gerejaku, memang hanya sebuah acara kecil. Juga hanya sedikit keinginan Ibu Kartini, karena emansipasi
itu bukan untuk sebuah ‘pemberontakan’ kaum perempuan, tetapi lebih
untuk mencerdaskan kaum perempuan untuk hidup di masa depan yang lebih
baik. Dan Ibu Kartini pasti bangga jika kaum perempuan Indonesia bersama untuk berkarya da;am kasih Tuhan ……
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Emansipasi Bukan Sebuah ‘Pemberontakan’”
Posting Komentar