Senin, 22 April 2013

Sebuah Emansipasi Perempuan dalam Kasih Tuhan…



By Christie Damayanti

13666004251302669800
edidermawan.blogspot.com

Tanggal 21 April kemarin adalah Hari Kartini. Ibu kita Kartini, seorang perempuan Jawa yang peduli dengan nasib bangsanya, apalagi nasib perempuan2 Indonesia yang masih ( dan sampai sekarang di beberapa kasus tertentu, serta sering dilecehkan di banyak kesempatan ) sangat direndahkan oleh kaum pria. Ibu kita Kartini memang menjadi pencerahan bagi kaum perempuan Indonesia, pada waktu itu.

Sekarang, Ibu Kartini pasti tersenyum melihat kaum perempuan Indonesia yang sudah sangat maju dalam banyak hal, terutama dalam bekerja dan berkarya. Perempuan Indonesia sekarang, sangat mampu untuk persamaan dan kesetaraan gender dalam hak dan kewajiban dengan kaum lelaki. Tentu bukan sebuah emansipasi yang kebablasan …..

Aku tidak ingin membahas tentang kesetaraan hak dan kewajiban antara kaum perempuan dan kaum lelaki. Yang jelas bahwa aku adalah keturunan ‘Kartini the Next Generation’, yang sempat dan sudah menikmati perjuangan Ibu Kartini untuk mengekspresian diri. Dan aku akan terus berada di garis depan untuk memperjuangkan persamaan dan kesetaraan hak dan kewajiban antara kaum perempuan dan kaum lelaki, dengan sebuah emansipasi dalam kasih …..

Walau aku sekarang merupakan perempuan ‘cacat’ dan dalam keterbatasa fisik, aku tidak lelah memperjuangkan itu semua. Mungkin fisikku terkendala. Jika sebelum sakit aku benar2 mampu untuk bersama2 dengan kaum lelaki untuk berkarya, sejajar dan bahu membahu untuk membangunan banyak gedung2 bertingkat tinggi, sekarang aku hanya mampu untuk membuat konsep2 dasar kesetaraan gender dalam kehidupan manusia, ataupun juga aku masih sdangat mampu untuk berpikir secara logis dan nasionalis untk memberikn ide2 serta mimpi2 untuk kaum perempuan Indonesia.

Artinya, sebagai arsitek dalam keterbatasan dan hanya bisa duduk di belakang meja, aku berusaha untuk berkarya dalam konsep dan desain. Aku juga hanya memikirkan tentang manajemen perkotaan serta tata letak kehidupan perkotaan. Aku memang cacat secara fisik, tetapi Puji Tuhan otakku masih mampu untuk berkarya. 

Dan sebagai perempuan, aku sudah membaktikan diriku untuk berkarya dalam kesetaraan gender. Bahwa, aku adalah sebagai Kartini the Next Generation, aku adalah Kartini di Abad-20, yang mampu ‘melihat’ peluang2 yang sudah dibukakan Ibu Kartini untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan ( bahkan kaum lelaki ) untuk lebih berkarya!

Tetapi aku juga seorang perempuan, yang tidak melepaskan hak kodrati sebagai kaum perempuan! Aku mempunyai 2 oang anak ABG, aku harus ‘memeluk’ mereka sebagai seorang ibu. Dan aku tetap bisa melakukan hal2 kodrati sebagai seorang perempuan, walau hanya sebatas keterbatasanku sebagai insan pasca stroke …..

Ketika para arsitek ( baik lelaki atau perempuan ) masih berkutat untuk memprsembahkan konsep dan ide2 bangunan2 besar yang super modern demi sebuah ‘prestige’ dan kesombongan hidup, masih ada beberapa arsitek2 muda yang berusaha untuk mendesain bangunan2 humanis demi sebuah kualitas hidup yang hakiki. 

Bukan hanya untuk kaum perempuan saja ( misalnya dengan konsep desain khusus untuk perempuan karir yang setir sendiri dengan mempersembahkan parkir khusus wanita, atau kebutuhan perempuan untuk kenyamanan anak2nya dengan toilet ibu dan anak atau juga untuk sebuah fasilitas ibu2 hamil dan warga manula / tidak terbatas dengan perempuan ), tetapi kami tetap mampu untuk mendesain kesetaraan fasilitas bagi kaum disabled Indonesia, walau mungkin masih jauh dari yang kita inginkan.

Konsep2 ini lebih di usung oleh kaum perempuan. Jika kaum lelaki lebih berkutat dengan ‘kesombongan’ yang menghasilkan sesuatu yang ‘wah’ dan mungkin menjadi landmark ( sama sekali tidak salah koq ), maka perempuan lebih memilih ide dan konsep2 yang humanis serta kepedulian keluarga dan tentang kesetaraan dengan sesama ( tidak memilih gender ). 

Dan aku justru melihat bahwa antara kaum perempuan dan kaum lelaki bisa dan harus bekerja sama dalam kehidupan ini. Dalam berkarya, tidak usahlah selalu memperhatikan gender. Semua sama saja. Faktanya bahwa perempuan dan lelaki mampu untuk berkarya bersama2 dalam menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Biasanya, justru kaum lelaki yang sering mempermasalahkan tentang kesetaraan gender. Dan masih banyak lelaki yang berudaha ‘mematahkan’ perjuangan kaum perempuan untuk bersama berkarya. 

Bagiku sendiri, untuk apa dipermasahkan apakah mereka perempuan atapun lelaki? Jika masing2 tetap mampu untuk berkarya dalam hal apapun, mengapa kita masih mempersalahkannya? Sangat tidak manusiawi jika kesetaraan gender menjadi sebab akan semakin menurunnya tingkat produktifitas dalam berkarya!  

Sebuah fenomena yang bisa membuat hidup lebih menukik turun jika banyak orang hanya mempertahankan ego nya masing2 …..

Perjuangan Ibu Kartini sekarang ini sudah bisa dinikmati oleh semua perempuan Indonesia. Tetapi tetap masih ada yang tidak ‘peka’ dengan perjuangan Ibu Kartini. Bahkan masih banyak kaum lelaki yang memandang perempuan tidak ’selevel’ dengan kaum lelaki. Padahal coba kita lihat di Indonesia! Suami banyak yang meninggalkan istrinya dengan banyak sebab keegoisan mereka dan tidak memenuhi kewajiban mereka untuk anak2 mereka, seperti hidup aku. Lalu siapa yang membiayai anak2? Siapa lagi? Tentulah ibu mereka, seperti aku!  

Kaum perempuan akan berubah menjadi ’singa’ untuk melindungi anak2nya dan memenuhi kebutuhan mereka! Kaum perempuan juga akan berubah menjadi ’srigala’ bahkan mampu menjadi ‘naga’ untuk berjuang sampai titik darah yang terakhir demi anak2 mereka!

Tetapi, sebagai perempuan pun, mereka tetap mempunyai sisi humanis, yang tidak terkuras jaman.  

‘Burung merpati’ merupakan ‘roh’ kehidupan bagi feminitas kaum perempuan. Bahwa perempuan tetap tidak menyalahi kodratnya untuk bisa menjadi ‘tiang keluarga’ bahkan tiang negara! Bahwa antara kaum perempuan dan kaum lelaki harus tetap saling menghormati dan saling menghargai. Karena jika kita saling menghormati dan saling menghargai, berarti ada KASIH Tuhan di tengah2 kita!

Ibu Kartini mampu untuk merubah sejarah bagi kaum perempuan Indonesia. Sekarang, bagaimana dengan kita? Mampukah kita mengasah ‘kepekaan’ untuk terus menjujungi tinggi saling menghormati dan menghargai antara perempuan dan lelaki?

Kasih Tuhan merupakan berkat bagi kita sebagai manusia. Dan Ibu Kartini akan tersenyum bahagia ketika kita bisa bahu membahu untuk berkarya dalam kesetaraan gender. Semangat  Ibu Kartini selalu ada di setiap keluarga, karena memang itulah kodrat sebagai perempuan tiang keluaga.  

Karena seyogya-lah antara perempuan dan lelaki harus saling menghormati dan saling menghargai serta sama di mata Tuhan sebagai manusia …..

Selamat Hari Kartini, Tuhan memberkati Kartini2 muda Indonesia yang akan menjadi ‘tiang negara’ masa depan bangsa …..


Tags:

0 Responses to “Sebuah Emansipasi Perempuan dalam Kasih Tuhan…”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks