Rabu, 24 April 2013
Musik Adalah ‘Self-Teraphy’ yang Murah bagi Insan Pascastroke
Rabu, 24 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
ithp.org
Metoda terapi untuk stroke memang
berlainan dan berbeda caranya. Dan yang aku tahu, antara metode yang
satu dengan metode yang lain ( apalagi yang benar2 berlainan ), tidak
bisa dicampur. Mengapa? Karena stroke adalah penyakit otak dan yang
berhubungan dengan pembuluh darah serta syaraf2 otak.
Sehingga jika
metode yang satu dengan metode yang lain di campur, otak akan ‘bingung’
dan lelah, sehingga tidak akan membuat terapi ini lebih baik, bahkan
jika terus menerus menjadikan ‘mundur’ karena otak benar2 ‘bingung’ …..
Misalkan, metode yang aku jalani adalah
metode Jerman ( metode Bobath ). Waktu aku terserang stroke, aku berada
di Amerika, dimana Amerika berfokus kepada Eropa, sehingga sampai
sekarang aku menjalankan terapi metode Bobath. Tetapi jika aku terserang
stroke di Indonesia, kemungkinan besar aku akan menjalani metode tusuk
jarum, karena di Indonesia lebih banyak metode terapi stroke dari China,
antara lain dengan tusuk jarum.
Tetapi ada beberapa metode yang ‘netral’
karena menurut aku, tidak membutuhkan ahli terapist untuk menerapis
insan pasca stroke. Salah satunya adalah terapi musik.
Ketika pertama kali aku terserang stroke
di Amerika, beberapa hari kemudian, ada seorang perempuan tua untuk
‘menghadiahkan’ suara merdu dari sebuah harpa besar. Alunan suara harpa
untukku adalah suara2 malaikat yang sangat indah dan merdu. Sehingga aku
pun terlena untuk ‘pembenahan’ otakku. Kegelisahan otakku semakin
menuurun, sehingga ketika sara harpa itu menghilang ( sekitar 30 menit
), aku sudah sangat tenang ……
Lihat tulisanku Sebuah Kesaksian: Bagaimana Menyikapi dan ‘Berteman’ dengan Stroke Dalam Usia Muda Untuk Menghadapi Masa Depan…( Bagian 1 )
Aku tenang ketika seorang perempuan
memainkan musik harpa di rumah sakit tempat aku di rawat di San
Francisco, dimana aku terserang stroke
Alunan suara musik ternyata mempercepat
pemulihan insan pasca stroke ( menurutku ). Karena dengan bukti hidup
aku sebagai insan pasca stroke, yang selalu rajin mendengarkan musik (
klasik ), pada kenyataannya aku merasa selalu tenang. Apalagi musik2
klasik serta instrumentalia, membuat aku tenang dan bahagia.
Kegelisahan
ku terus menuruh, jika aku mengalami kesenjangan permasalahan,, dan
‘mood’ ku akan menjadi lebih baik dengan musik …..
Mungkin musik bukan hanya untuk
meningkatkan kepercayaan diri bagi insan pasca stroke, tetapi aku sangat
yakin bahwa musik mampu membuat semua orang bahagia, apapun musik yang
di inginkannya. Tetapi menurutku, sebagai insan pasca stroke, aku sangat
merasakan sebuah metode langsung dalam bermusik, mampu untuk aku
bangkit dari keterpurukan.
Tahu tidak? Jangankan insan pasca
stroke, bahkan orang2 normal pun pasti mempunyai gelompang
keterpurukannya masing2 sesuai dengan kehidupannya. Apalagi aku, seorang
perempuan yang harus hidup dengan ½ tubuhnya karena lumpuh. Pasti aku
sering mengalami keterpurukan2 khusus, yang selalu melanda kegelisahan
dalam hari. Tetapi, jika aku terus mengikuti keterprukan2 itu, aku akan
terus terpuruk sampai sangat dalam. Lalu, apa yang aku harus perbuat?
Metode terapi Bobath memang merupakan
metode fisik untuk aku mampu menggerakkan tangan dan kakiku yang lumpuh.
Jika aku sedang gelisah, aku tidak mampu melakukannya, sehingga aku
lebh baik berada dalam kenyamanan dalam kesendirian.
Dalam kesendirian, aku lebih senang
ditemani musik. Dengagn musik2 klasik koleksiku, aku mampu menerapi
diriku sendiri, sebelum aku datang kepada terapist profesional untuk
membantu pemulihan lumpuhku, secara fisik.
Musik memang sudah lama digunakan
sebagai salah satu terapi kesehatan. Seperti yang aku tuliskan diatas,
ketika aku sedang dilanda keterpurukkan, aku sering merasa adanya
perasaan2 negatif, gelisah atau kesedihan dan ketakutan yang melanda.
Tetapi dengan aku mendengarkan musik terus menerus, ternyata aku merasa
bahwa musik dapat meningkatkan pemulihat daya konitif serta mencegah
munculnya perasaan negatif.
Bagi insan pasca stroke, musik
menjadikan ‘leisure teraphy’, sebuah terapi untuk kesenangan diri, dan
dalam bermusik, kesenangan diri membuat aku lebih percaya diri serta
bangkit keterpurukkan. Lihat tulisanku Kesaksianku (Bag 4): Terapi Khusus Stroke: ‘Leisure Therapy’.
Sebagai insan pasca stroke, aku
selalu berusaha untuk ‘menyembuhkan diriku’, salah satunya dengan
bermusik ( dulu, aku memang pemain piano di kalangan terbatas, paling
tidak untuk kesenanganku sendiri ).
Jika jaringan otakku terus tersumbat
atau dengan pecahnya pembuluh darah di otak kiriku, akan mengakibatkan
otakku bisa tidak berfungsi lagi. Bagaimana aku berusaha
mem-fungsikannya kembali? Salah satunya dengan terus menulis dan
bermusik …..
Riset yang aku baca tentang musik, bahwa
musik di tengarai mampu untuk mengaktifkan mekanisme pada otak untuk
memperbaiki dan memperbaharui jaringan syaraf bagi banyak orang,
terutama bagi insan pasca stroke. Dan itu aku rasakan sendiri, bahwa
musik merupakan ’self-teraphy’ yang mampu untuk menjadikan otakku terus
bergerak maju dan berkembang, pasca stroke …..
Dengan konsep2 bermusik yang aku
lakukan, aku terus bisa mendapatkan cara untuk terapi bagi perkembangan
otakku. Bahkan aku sering berkata di komunitas2 insan pasca stroke,
bahwa jika kita tidak bisa terapi karena keterbatasan biaya, kita bisa
menerapi diri dengan hanya mendengarkan musik sambil berusaha untuk
menggerak2an tubuh kita untuk bisa memulai hidup.
Paling tidak, dan aku sudah merasajan
sendiri, bahwa musik adalah alat terapi yang murah dan mudah untuk
menjalankan kehidupan sehari2, karena dengan bermusik, kita akan
merasakan kegembiraan dan kebahagiaan. Dan jika kita mulai gembira dan
bahagia, semuanya akan tidak sia-sia …..
Hati yang bahagia adalah obat …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Musik Adalah ‘Self-Teraphy’ yang Murah bagi Insan Pascastroke”
Posting Komentar