Kamis, 18 April 2013

Pelukan Papa dalam Tangisku, Pastilah Senyaman Pelukan Yesus…



By Christie Damayanti

136626049833586774

Ketika aku masih susah berjalan dan hanya duduk di kursi roda ….. Sebelum aku mulai bekerja lagi

Sejak dulu, aku adalah seorang anap dan perempuan tomboy, tegar dan kasar. Aku tidak pernah menangis dalam segala hal. Mungkin juga hasil didikan papaku, yang selalu ingin aku sebagai perempuan tegar dalam menjalani hidupku. Sehingga aku dijuluki kasar dan keras.

Ketika aku menikah, sebenarnya aku tetap sebagai perempuan yang sama dengan sebrlum aku menikah. Tetapi bedanya, aku lebih ‘lembut’ dan mampu mengurus 2 anak2ku sejak bayi ( walau tetap dibantu dengan Baby Sitter ).

Setelah aku cerai tahun 2007, aku benar2 lebih dari sekedar perempuan tegar saja. Aku berubah sekali menjadi seorang ‘preman’, single parent yang harus bekerja untuk menghidupi anak2ku secara ex suami tidak memberikan tunjangan untuk pendidikan anak2ku. Dan papa sangat mengkuatirkan aku. Seorang anak perempuan kesayangan papa, menjadi seorang ’singa buas’ dalam mencari penghidupan keluarga, sehingga 
pada akhirya aku terserang stroke karena aku melalaikan kesehatanku sendiri …..

Aku sempat terserang stroke berat dengan 1/2 tubuh lumpuh dan tidak bisa berbicara sama sekali …..

Lalu semuanya berubah …..

Aku tetap tegar dengan segala keterbatasanku. Aku tetap ‘preman’, paling tidak dengan hatiku, bahwa semuanya kecuali fisikku, tidak berubah sama sekali. Bahwa aku memang masih agak susah untuk berbicara, sehingga sering kali aku tidak mampu mengatakan apa yang aku mau. Sehingga beberapa kali, aku marah, stress bahkan tertunduk lesu. Semuanya membuat aku gelisah ….

Atau juga, ketika aku menjadi manusia biasa, secara fisik aku merasa tidak mampu berbuat apa2 dan pertolongan dari orang2 disekelilingku menjadikan aku lebih sensitif dengan hatiku. Bahwa aku sekarang ini benar2 tidk bisa berbuat apa2 secara fisik, dan itu yang membut aku sering merasa sedih. Walau kesedihan itu memang tidak lama, tetapi jika memang hatiku sedang down, maka aku benar2 terpuruk serta semuanya terasa menyedihkan …..

Begitu juga jika karena aku benar2 harus mempunyai teman dalam keseharianku dan sering kali karena mereka tetap mempunyai kesibukan sendiri, atau ketika beberapa orang membuat aku sangat marah, beberapa kali pula aku menangis. Pun menangis karena aku tidak bisa mengeluarkan kata2 dalam keterbatasanku. Menangis bisa jadi benar2 menangis karena merasa tidak mampu berbuat apa2 dan seringkali otakku tidak mampu mengontrol emosiku karena memang sudah cacat. Sehingga aku bisa langsung menjerit2 atau berteriak2 tanpa mampu mengontrol emosiku …..

Disaat inilah, papa menjadi seorang yang sungguh membuat aku tenang. Biasanya, jika aku gelisah atau sedih, papa memelukku. Tanpa berkata apa2, papa langsung memelukku. Pelukannya hangat. Tanpa bicara, papa memelukku sampai aku merasa lebih baik. Lalu papa melepaskan pelukannya, memandangku dalam2 sambil ternyum ….. 

Dan setelah itu papa mengusap2 kepalaku dan aku pasti menjadi lega, tersenyum bahkan tertawa malu …..

Jika aku menangis, baik menangis sambil berteriak2 atau menjerit2, papa berlari mendapatiku, serta merta memelukku dengan erat, sambil berkata,

“Yanti, bapak sayang kamu, sayang sekali. Jika ada yang melukaimu atau menyakitimu, lupakanlah. Bapak akan terus menemanimu. Jangan dengarkan orang lain. Kamu percaya kan, kalau bapak sayang kamu? Ssssstttt ….. diam, sayang ….. Bapak sungguh mencintaimu …..”

Kata2 itu yang terus dan selalu diulang. Bahwa papa sangat mencintaiku, dan beliautidak pernah bertanya, mengapa aku menangis. Dalam diam, papa terus memelukku. Beliau tidak peduli, ada apa tetapi beliau mau bahwa aku harus berbahagia. Dan itulah tujuannya, bahwa papa mau aku jangan bersedih dalam penyumbuhanku …..

Setelah aku tenang, biasanya aku bercerita mengapa aku menangis. Dan jika memang hanya kesalah-pahaman, biasanya papa mengatakan bahwa aku harus bisa tegar, agar aku tidak stress. Tetapi jika benar2 ada masalah dan aku memang menangis karena tidak mampu melakukan apa2, papa akan menasehatiku untuk berusaha mencari solusi. 

Dan dibantu papa, kami sharing dan berdiskusi untuk yang terbaik, aku sudah tenang, dan papa tersenyum bahagia bahwa anak perempuannya terkasih sudah bisa tersenyum lagi …..

***

Seorang papa, adalah sosok lelaki kuat, tegar dan berwibawa. Tidak ragu juga jika seorang papa mungkin justru tidak bisa mejadikan tempat curahan hati putriya, ataupun tempat untuk berbagi tangis. Bahkan banyak temanku, ayahnya justru tidak mau tahu, dan tidak peduli kalau putrinya menangis. Karena menurut seorang lelaki atau juga ayahnya, putrinya seharusnya lebih memilih ibunya untuk berbagi tangis.

Tetapi, papa benar2 papa yang mengasihiku, ‘all-out’. Konsep hidupnya setelah aku sakit adalah untuk terus mendukungku, menemaniku serta mengasihiku dalam pemulihanku. Dan itu benar2 dilakukannya, seturut dengan konsep hidupnya untuk aku …..

Ah, papa …..sungguh luar biasa! Hatinya selembut Yesus. Mulutnya terkunci rapat tetapi hatinya selalu terbuka untuk memelukku sehingga aku merasa tenang …..

Dan dalam dia, sambil tangannya mengusap2 punggungku, aku nyaman dalam pelukannya …..

Pelukan papa, pastilah senyaman pelukan Yesus. Dan pelukan papa setara dengan kasihnya dan juga kasih Yesus …. Aku yakin itu …..

Tags:

0 Responses to “Pelukan Papa dalam Tangisku, Pastilah Senyaman Pelukan Yesus…”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks