Kamis, 18 April 2013
Pelukan Papa dalam Tangisku, Pastilah Senyaman Pelukan Yesus…
Kamis, 18 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Ketika aku masih susah berjalan dan hanya duduk di kursi roda ….. Sebelum aku mulai bekerja lagi
Sejak dulu, aku adalah seorang anap dan
perempuan tomboy, tegar dan kasar. Aku tidak pernah menangis dalam
segala hal. Mungkin juga hasil didikan papaku, yang selalu ingin aku
sebagai perempuan tegar dalam menjalani hidupku. Sehingga aku dijuluki
kasar dan keras.
Ketika aku menikah, sebenarnya aku tetap
sebagai perempuan yang sama dengan sebrlum aku menikah. Tetapi bedanya,
aku lebih ‘lembut’ dan mampu mengurus 2 anak2ku sejak bayi ( walau
tetap dibantu dengan Baby Sitter ).
Setelah aku cerai tahun 2007, aku benar2
lebih dari sekedar perempuan tegar saja. Aku berubah sekali menjadi
seorang ‘preman’, single parent yang harus bekerja untuk menghidupi
anak2ku secara ex suami tidak memberikan tunjangan untuk pendidikan
anak2ku. Dan papa sangat mengkuatirkan aku. Seorang anak perempuan
kesayangan papa, menjadi seorang ’singa buas’ dalam mencari penghidupan
keluarga, sehingga
pada akhirya aku terserang stroke karena aku
melalaikan kesehatanku sendiri …..
Aku sempat terserang stroke berat dengan 1/2 tubuh lumpuh dan tidak bisa berbicara sama sekali …..
Lalu semuanya berubah …..
Aku tetap tegar dengan segala
keterbatasanku. Aku tetap ‘preman’, paling tidak dengan hatiku, bahwa
semuanya kecuali fisikku, tidak berubah sama sekali. Bahwa aku memang
masih agak susah untuk berbicara, sehingga sering kali aku tidak mampu
mengatakan apa yang aku mau. Sehingga beberapa kali, aku marah, stress
bahkan tertunduk lesu. Semuanya membuat aku gelisah ….
Atau juga, ketika aku menjadi manusia
biasa, secara fisik aku merasa tidak mampu berbuat apa2 dan pertolongan
dari orang2 disekelilingku menjadikan aku lebih sensitif dengan hatiku.
Bahwa aku sekarang ini benar2 tidk bisa berbuat apa2 secara fisik, dan
itu yang membut aku sering merasa sedih. Walau kesedihan itu memang
tidak lama, tetapi jika memang hatiku sedang down, maka aku benar2
terpuruk serta semuanya terasa menyedihkan …..
Begitu juga jika karena aku benar2 harus
mempunyai teman dalam keseharianku dan sering kali karena mereka tetap
mempunyai kesibukan sendiri, atau ketika beberapa orang membuat aku
sangat marah, beberapa kali pula aku menangis. Pun menangis karena aku
tidak bisa mengeluarkan kata2 dalam keterbatasanku. Menangis bisa jadi
benar2 menangis karena merasa tidak mampu berbuat apa2 dan seringkali
otakku tidak mampu mengontrol emosiku karena memang sudah cacat.
Sehingga aku bisa langsung menjerit2 atau berteriak2 tanpa mampu
mengontrol emosiku …..
Disaat inilah, papa menjadi seorang yang
sungguh membuat aku tenang. Biasanya, jika aku gelisah atau sedih, papa
memelukku. Tanpa berkata apa2, papa langsung memelukku. Pelukannya
hangat. Tanpa bicara, papa memelukku sampai aku merasa lebih baik. Lalu
papa melepaskan pelukannya, memandangku dalam2 sambil ternyum …..
Dan
setelah itu papa mengusap2 kepalaku dan aku pasti menjadi lega,
tersenyum bahkan tertawa malu …..
Jika aku menangis, baik menangis sambil
berteriak2 atau menjerit2, papa berlari mendapatiku, serta merta memelukku dengan erat, sambil berkata,
“Yanti, bapak sayang kamu, sayang
sekali. Jika ada yang melukaimu atau menyakitimu, lupakanlah. Bapak akan
terus menemanimu. Jangan dengarkan orang lain. Kamu percaya kan, kalau
bapak sayang kamu? Ssssstttt ….. diam, sayang ….. Bapak sungguh
mencintaimu …..”
Kata2 itu yang terus dan selalu diulang.
Bahwa papa sangat mencintaiku, dan beliautidak pernah bertanya, mengapa
aku menangis. Dalam diam, papa terus memelukku. Beliau tidak peduli,
ada apa tetapi beliau mau bahwa aku harus berbahagia. Dan itulah
tujuannya, bahwa papa mau aku jangan bersedih dalam penyumbuhanku …..
Setelah aku tenang, biasanya aku
bercerita mengapa aku menangis. Dan jika memang hanya kesalah-pahaman,
biasanya papa mengatakan bahwa aku harus bisa tegar, agar aku tidak
stress. Tetapi jika benar2 ada masalah dan aku memang menangis karena
tidak mampu melakukan apa2, papa akan menasehatiku untuk berusaha
mencari solusi.
Dan dibantu papa, kami sharing dan berdiskusi untuk yang
terbaik, aku sudah tenang, dan papa tersenyum bahagia bahwa anak
perempuannya terkasih sudah bisa tersenyum lagi …..
***
Seorang papa, adalah sosok lelaki kuat, tegar dan berwibawa. Tidak ragu
juga jika seorang papa mungkin justru tidak bisa mejadikan tempat
curahan hati putriya, ataupun tempat untuk berbagi tangis. Bahkan banyak
temanku, ayahnya justru tidak mau tahu, dan tidak peduli kalau putrinya
menangis. Karena menurut seorang lelaki atau juga ayahnya, putrinya
seharusnya lebih memilih ibunya untuk berbagi tangis.
Tetapi, papa benar2 papa yang
mengasihiku, ‘all-out’. Konsep hidupnya setelah aku sakit adalah untuk
terus mendukungku, menemaniku serta mengasihiku dalam pemulihanku. Dan
itu benar2 dilakukannya, seturut dengan konsep hidupnya untuk aku …..
Ah, papa …..sungguh luar biasa! Hatinya
selembut Yesus. Mulutnya terkunci rapat tetapi hatinya selalu terbuka
untuk memelukku sehingga aku merasa tenang …..
Dan dalam dia, sambil tangannya mengusap2 punggungku, aku nyaman dalam pelukannya …..
Pelukan papa, pastilah senyaman pelukan Yesus. Dan pelukan papa setara dengan kasihnya dan juga kasih Yesus …. Aku yakin itu …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Pelukan Papa dalam Tangisku, Pastilah Senyaman Pelukan Yesus…”
Posting Komentar