Senin, 15 April 2013

Papa Sering Meneteskan Air Mata Melihat Aku Melangkah Tertatih



By Christie Damayanti


13660149061645270669
Dokumentasi Pribadi

Aku dan papa, di hari pertama aku terserang stroke, 8 Januari 2010, di San Francisco. Mata papa yang menangis karena gudah dengan keberadaanku, waktu itu ……












 
Setangkup Roti Sandwich Ikan Tuna untuk Papa

Tidak gampang aku berjalan setelah stroke. Serangan stroke mengakibatkan aku lumpuh separuh tubuh sebelah kanan. Walau sudah 3 tahun aku stroke, aku belum diberikan kesembuhan 100%, termasuk cara aku melangkah dan berjalan. Itupun, aku sudah sangat bersyukur, dengan keadaaku seperti sekarang ini …..

Dalam aku melangkah, kaki kananku yang lumpuh, jika aku capai sering aku seret karena berat, sungguh seperti membawa tubuh yang tidak bernyawa. Tetapi pun jika aku ’sehat’, segar dan senang, aku tetap berat untukmelangkahkan kakiku. Kaki kananku sering aku ‘lempar’ ke sebelah luar ( seharusnya kaki kananku aku angkat jika berjalan, bukan dilempar ). 

Setelah itu, telapak kaki kananku, seperti tubuh tidak bernyawa, bergoyang tidak terkontrol. Alhasil, kadang2 aku tidak mampu untuk bisa berjalan sempurna, bahkan sering terjatuh karena goyangan kakiku yang tidak terkontrol, apalagi jika aku sedang gelisah …..

Sebenarnya, aku bisa berjalan sendiri, walau mekanismenya seperti kata2ku diatas, dan sangat lambat karena aku sering merasa takut jatuh . Tetapi jika aku butuh berjalan lebih cepat, aku benar2 harus berpegangan kepada seseorang, dan biasanya atau selalu adalah papa.

Papa memang seorang papa yang gagah. Tetapi beberapa kali aku melihat sinar wajah papa. Berkali-kali aku juga melihat tatapan mata papa. Setetes air mata papa merebak …..  tidak banyak, tetapi akan terlihat pada wajahnya. Emosinya meluap dan wajahnya memerah …..

Biasanya, papa memalingkan wajahnya, menenangkan diri, tetapi sambil terus menggandengku. Dan sering untuk bisa terus berbicara denganku, untuk menenangkan dirinya. Aku tahu, papa sering menangis, melihat aku berjalan tertatih, ketika sebelumnya aku adalah putrinya yang sangat lincah, bugar dan selalu bersemangat….

Ketika setelah beberapa hari aku sudah tenang sepeninggal papa, aku membaca ‘catatan harian papa’, papa ternyata memang menuliskannya untukku. Bahwa papa sering meneteskan air matanya, melihat aku berjalan tertatih-tatih. Dan biasanya, pegangannya pada tanganku dipererat …..

Jika kita sampai rumah dari suatu tempat dan sudah masuk ke carport, biasanya papa turun segera ( sementara aku masih duduk di mobil ), berjalan membuka pintu depan rumah, meletakkan buku di kursi atau meja terdekat, lalu papa kembali lagi untuk menjemputku turun dari mobil. Jika aku sudah lebih dulu turun dari mobil, papa sering hanya memandangku dengan mata yang berkaca. Tetapi lebih sering justru terus menggandengku, berjalan masuk ke rumah …..

Entahlah, apa yang orang lain katakan kepadaku, tentang bergandengan tangan kepada papa. Yang jelas, aku sangat merasa nyaman jika berada di dekat papa. Seperti ketika aku masih secil, dan aku mimpi sampai menangis menjerit2, membuat papa masuk ke kamarku dan menggendongku untuk tidur di kamarnya dengan mama, aku merasa sangat aman dan nyaman, di sisi papa …..

Beberapa orang yang tidak aku kenal, sering melihatr kami dengan ‘aneh’. Seorang bapak2 tua, tinggi dan masih cukup tegap, menggandeng seorang perempuan muda, cacat dan cukup cantik. Pernah tercetus beberapa dari mereka sebuah pertanyaan yang menggelikan,

“Ini istri bapak?”, kata seseorang.

Dan papa dengan bangga menjawab,

“Bukan, ini putri saya terkasih. Namanya Christie, dia kena stroke, tetapi dia tetap semangat untuk menjalani hidup serta tetap percaya bahwa dia akan sembuh”

Sekarang, ketika papa sudah berpulang ke sisi Yesus, mata papa yang selalu bersinar teduh dan sering meneteskan ir matanya melihat aku berjalan tertatih, terbayang2 di pikiranku. Aku ingin terus mengenangnya, walau jika aku melakukan itu, aku pasti menangis. 

Mata renta dan wajah tuanya, tidak menjadi penghalang kasihnya padaku. Senyumnya yang tulus serta hatinya yang lembut, terus mengusikku dalam kasihnya kepadaku. Pun setelah papa berpulang, mata renta itu terus terpatri dalam hatiku.

Papa yang sabar. Papa yang penuh kasih. Papa yang selalu tersenyum walau gemuruh kegelisahan melanda karena keterbatasanku. Seorang papa yang selalu siap menemaniku. Seorang papa yang selalu peduli dengan kebutuhanku. Dan seorang papa yang selalu berusaha untuk membuat aku senang dan bahagia.

“Papa, apakah papa masih menangis melihat aku tertatih berjalan di sisi papa? Jangan lagi, ya pa. 

Papa harus tetap berbahagia disana ya, sampai aku dijemput untuk bertemu dengan papa dan kita nanti pasti selalu berjalan2 lagi disana, seperti dulu di dunia, suatu saat …..”

Pa, aku kangen …..

Tags:

0 Responses to “Papa Sering Meneteskan Air Mata Melihat Aku Melangkah Tertatih”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks