Minggu, 07 April 2013
Pademangan: Sebuah Kecamatan di Jakarta yang Seolah ‘Tersingkirkan’
Minggu, 07 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
www.republika.co.id
Mungin tidak banyak yang pernah ke
daerah Pademangan. Sebuah kecamatan yang terletak berseberangan dengan
Mangga Dua Square, di jalan Gunung Sahari. Lokasi Pademangan sangat
rawan banjir. Hujan sedikit saja pasti banjir, karena aku sangat yakin
bahwa infra-struktur nya sangat amburadul ( tidak pernah ada perbaikan
sejak aku tahu tentang tempat itu, jaman2 SD karena ada teman papa
tinggal disana dan aku beberapa kali papa mengajakku untuk bertandang
kesana ), dan posisi kecamatan tersebut letaknya lebih turun ( sekitar 1
sampai 2 meter ) dari jalan Gunung Sahari dan dari jalan RE
Martadinata, yang kemungkinan adalah karena tidak pernah dipadatkan
tanahnya dan erosi air laut sudah terus mengikis tanah Pademangan …..
Pademangan juga sering banjir bukan
hanya karena hujan saa, tetapi karena pasang air laut, atau disebut juga
rob. Tanah Pademangan, tingginya tidak sama. Jalan aspal tidak ada yang
mulus, karena sering dilanda banjir ( juga rob air laut ) yang membuat
aspal rusak, dan yang tinggal hanya batu2 serta genangan2 air. Dan
banjir rob karena sering tidak berfungsinya pompa penyedotair di Ancol
Barat.
Pademangan merupakan daerah pemukiman
padat. Zonning nya udah jelas, merupakan pemukiman. Walaupu sudah jelas
bahwa Pademangan merupakan pemukiman padat, tidak seharusnya pemda untuk
tidak memikirkan bagaimana pemukiman itu dalam jangka panjangnya,
karena dari tulisanku tentang Jakarta Butuh Peta 3 Dimensi untuk kebijakan Banjir. Karena banyak sekali warga Jakarta tinggal di Pademangan dan sekolah2 disana butuh perlindungan dari banjir …..
Pemandangan sehari2 di Pademangan, ssetiap musim hujan atau setiap pasang air laut ( rob )…..
Bagaimana dengan sungai kecil disana?
Sama sekali tidak bergerak! Aku sering melihat nyamuk2 berterbangan
dari arah kali tersebut. Mungkin ikan2nya sudah mati karena air kali
tersebut sangat kotor dan berbau tidak sedap! Ditambah sampah2 rumah
tangga yang dibuang sembarangan di kali kecil tersebut! Ikan2 saja mati,
bagiamana dengan kehidupan warga disana?
megapolitan.kompas.com
Kali kecil di Pademangan yang tidak berfungsi sama sekali, kecuali untuk membuang sampah …..
***
Pademangan merupaakan perkampugan yang
masuk dalam daftar 350 perbaikan kampung oleh pak Jokowi. Penataan
kampung, yang akan ditata dan di desain sedemikian oleh arsitek2 handal
dan dilengkapi fasilitas2 yang baik dan konsep2 perkotaan yang brilian.
Dengan drainase dan dilengkapi oleh Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) yang
sesuai dengan keadaan dan kebutuhan tata hijau Jakarta.
Dan Pademangan aku melihat
idak ada sedikitpun ruang hijau. Tidak ada tanah penyarapan sama sekali,
bahkan kali kecil untuk drainase saja, tidak bergerak sama sekali!
Bisa di lihat peta Pademangan dibawah
ini, terlihat RTH nya pun sangat kecil, dan aku yakin 10000% bahwa RTH
tersebut sudah dipakai oleh pemukiman …..
Senang sekali ketika aku membaca
referensi tentang kepedulian pemda untuk mendukukng arsitek2 handal dari
dunia pendidikan dalam mendesain kampung2, termasuk Pademangan. Dan aku
yakin bahwa, mereka sudah melakukan riset terpadu untuk perbaikan
kampung tersebut.
Tetapi apakah mereka sudah mendengungkan
atau mengatakan pada pemda bahwa untuk sebuah drainase dalam kebijakan
banjir, kita ( atau lebih tepatnya, Jakarta ) membutuhkan sebuah ‘Peta 3
Dimensi’ nya?
Karena bagaimana untuk
mencari titik2 tertinggi atau titik2 terdalam dalam membiat kebijakan
banjir, jika kita tidak mempunyai peta contur Jakarta? Bagaimana dengan
perhitungan2 titik2 rawan banjir dan seberapa tebalnya tanah Jakarta (
atau khususnya Pademangan yang sudah masuk dalam perbaikan kampung
Jakarta ) harus di urug atau digali untuk anjir tidak melanda lagi? Atau
berapa level tinggi tanah Pademangan, dan kepastian tanah itu tidak
merupakan level rendah jika banjir?
Apalagi dengan adanya ‘kebijakan’ para
deveoper untuk membangun bangunan di atas urugan tanah level banjir
lebih dari sekian meter, tidak akan habis2nya perkampungan padat yang
terus ‘melesak’ ke dalam tanah karena bangunan2 tinggi menjulang keatas
lebih tinggi dari yang seharusnya ……
Ketika aku dari jalan RE Martadinata
untuk ke Gunung Sahari, biasanya aku melewati pemukiman Pademangan,
sebuah jalan potong untuk tidak melewati lampu merah perpotongan antara
jalan Gunung Sahari dan jalan RE Martadinata. Dan untukku, Pademuangan
merupakan pemukiman yang ‘tersisih’kan.
Ketika daerah Bukit duri atau
Kampung Melayu yang sering dilanda banjir, selalu didatangi media untuk
meliputnya, ataupun tentang hal2 lain, peukiman Pademangan memang seakan
tersisih, entar mengapa. Jarang diliput, dan dunia internetpun hanya
‘meliput’ ketika pak Jokowi kesana sekitar akhir tahun lalu dan
pertengahan tahun ini. Bagaimana dengan sebelum pak Jokowi? Seperinya
internetpun tidak ‘menjangkaunya’ ……
Jika kita merenung, Pademangan memang
dikelilingi oleh daerah ‘gemerlap’, seperti Ancol, Mangga Dua, Kemayoran
ataupun Sunter, dan Pademangan serasa terus ‘meresak’ seperti tanah
Pademangan yang ters turun karena erosi air laut lewat bawah tanah …..
Dan memang karena Bukit Duri serta
Kampung Melayu merupakan bagian dari daerah pemukiman ( dikelilingi oleh
pemukiman2 lainnya : Tebet, Matraman, atau Jatinegara ), sehingga kedua
daerah tersebut terlihat ’sama dan sebangun’ dalam ‘terlihat’ oleh
pemda …..
Ketika aku masih kuliah, salah satu
tugas Studio Pemukiman, adalah mendesain pemukiman padat dengagn
konsep2 perkotaan khusus Jakarta. Dan aku ingat konsepku sendiri, bahwa
aku meninggikan tanah Pademangan, sampai setinggi tanah2 di sekitarnya,
membangun drainase serta gorong2 besar dan mengeruk kali disana.
Setelah
itu konsepku adalah membangun rumah susun murah, dengan fasilitas2 yang
baik untuk warga Jakarta, termasuk sekolah2 dari SD sampi SMA, rumah
sakit kecil sendiri, supaya tidak ada warga Pademangn yang ‘diusir’ oleh
rumah sakit mewah disekitarnya ( termasuk puskesmasnya ).
Jalan2 lingkungan yang tidak boleh
dilewati oleh truk2 besar. Walau dalam kenyataanya, Pademangan memang
merupakan ‘jalan pintas’ untuk menghindari lampu merah sesuai cerita di
atas. Jadi, jika memang Pademangan HARUS menjadi jalan pintas, pastikan
untuk kekuatan jalan lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan bobot
truk2 yang melewatinya ( lihat tulisanku Hiiiii… Jalan Itu Berhantu! Ah, Masa’ sih? )……
Bagaimanakah konsep perkotaan bagi
Pademangan yang sudah di desain? Apakah sudah memenuhiperaturan2 dan
kebijakan2, khususnya kebijakan banjir-nya? Semoga perbaikan kampung di
Pademangan merupakan titik awal baagi warga Pademangan untuk bisa lebih
baik ……

Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Pademangan: Sebuah Kecamatan di Jakarta yang Seolah ‘Tersingkirkan’”
Posting Komentar