Minggu, 07 April 2013

Pademangan: Sebuah Kecamatan di Jakarta yang Seolah ‘Tersingkirkan’



By Christie Damayanti

1376471573609977058
www.republika.co.id

Mungin tidak banyak yang pernah ke daerah Pademangan. Sebuah kecamatan yang terletak berseberangan dengan Mangga Dua Square, di jalan Gunung Sahari. Lokasi Pademangan sangat rawan banjir. Hujan sedikit saja pasti banjir, karena aku sangat yakin bahwa infra-struktur nya sangat amburadul ( tidak pernah ada perbaikan sejak aku tahu tentang tempat itu, jaman2 SD karena ada teman papa tinggal disana dan aku beberapa kali papa mengajakku untuk bertandang kesana ), dan posisi kecamatan tersebut letaknya lebih turun ( sekitar 1 sampai 2 meter ) dari jalan Gunung Sahari dan dari jalan RE Martadinata, yang kemungkinan adalah karena tidak pernah dipadatkan tanahnya dan erosi air laut sudah terus mengikis tanah Pademangan …..

Pademangan juga sering banjir bukan hanya karena hujan saa, tetapi karena pasang air laut, atau disebut juga rob. Tanah Pademangan, tingginya tidak sama. Jalan aspal tidak ada yang mulus, karena sering dilanda banjir ( juga rob air laut ) yang membuat aspal rusak, dan yang tinggal hanya batu2 serta genangan2 air. Dan banjir rob karena sering tidak berfungsinya pompa penyedotair di Ancol Barat.

Pademangan merupakan daerah pemukiman padat. Zonning nya udah jelas, merupakan pemukiman. Walaupu sudah jelas bahwa Pademangan merupakan pemukiman padat, tidak seharusnya pemda untuk tidak memikirkan bagaimana pemukiman itu dalam jangka panjangnya, karena dari tulisanku tentang Jakarta Butuh Peta 3 Dimensi untuk kebijakan Banjir. Karena banyak sekali warga Jakarta tinggal di Pademangan dan sekolah2 disana butuh perlindungan dari banjir …..

1376471632275083095
Pemandangan sehari2 di Pademangan, ssetiap musim hujan atau setiap pasang air laut ( rob )…..

Bagaimana dengan sungai kecil disana? Sama sekali tidak bergerak! Aku sering melihat  nyamuk2 berterbangan dari arah kali tersebut. Mungkin ikan2nya sudah mati karena air kali tersebut sangat kotor dan berbau tidak sedap! Ditambah sampah2 rumah tangga yang dibuang sembarangan di kali kecil tersebut! Ikan2 saja mati, bagiamana dengan kehidupan warga disana?

1376471682326680481
megapolitan.kompas.com
Kali kecil di Pademangan yang tidak berfungsi sama sekali, kecuali untuk membuang sampah …..

***
Pademangan merupaakan perkampugan yang masuk dalam daftar 350 perbaikan kampung oleh pak Jokowi. Penataan kampung, yang akan ditata dan di desain sedemikian oleh arsitek2 handal dan dilengkapi fasilitas2 yang baik dan konsep2 perkotaan yang brilian. Dengan drainase dan dilengkapi oleh Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan tata hijau Jakarta.

Dan Pademangan aku melihat idak ada sedikitpun ruang hijau. Tidak ada tanah penyarapan sama sekali, bahkan kali kecil untuk drainase saja, tidak bergerak sama sekali!

Bisa di lihat peta Pademangan dibawah ini, terlihat RTH nya pun sangat kecil, dan aku yakin 10000% bahwa RTH tersebut sudah dipakai oleh pemukiman …..

1376471753814392214

Senang sekali ketika aku membaca referensi tentang kepedulian pemda untuk mendukukng arsitek2 handal dari dunia pendidikan dalam mendesain kampung2, termasuk Pademangan. Dan aku yakin bahwa, mereka sudah melakukan riset terpadu untuk perbaikan kampung tersebut.  

Tetapi apakah mereka sudah mendengungkan atau mengatakan pada pemda bahwa untuk sebuah drainase dalam kebijakan banjir, kita ( atau lebih tepatnya, Jakarta ) membutuhkan sebuah ‘Peta 3 Dimensi’ nya?

Karena bagaimana untuk mencari titik2 tertinggi atau titik2 terdalam dalam membiat kebijakan banjir, jika kita tidak mempunyai peta contur Jakarta? Bagaimana dengan perhitungan2 titik2 rawan banjir dan seberapa tebalnya tanah Jakarta ( atau khususnya Pademangan yang sudah masuk dalam perbaikan kampung Jakarta ) harus di urug atau digali untuk anjir tidak melanda lagi? Atau berapa level tinggi tanah Pademangan, dan kepastian tanah itu tidak merupakan level rendah jika banjir?

Apalagi dengan adanya ‘kebijakan’ para deveoper untuk membangun bangunan di atas urugan tanah level banjir lebih dari sekian meter, tidak akan habis2nya perkampungan padat yang terus ‘melesak’ ke dalam tanah karena bangunan2 tinggi menjulang keatas lebih tinggi dari yang seharusnya ……

Ketika aku dari jalan RE Martadinata untuk ke Gunung Sahari, biasanya aku melewati pemukiman Pademangan, sebuah jalan potong untuk tidak melewati lampu merah perpotongan antara jalan Gunung Sahari dan jalan RE Martadinata. Dan untukku, Pademuangan merupakan pemukiman yang ‘tersisih’kan. 

Ketika daerah Bukit duri atau Kampung Melayu yang sering dilanda banjir, selalu didatangi media untuk meliputnya, ataupun tentang hal2 lain, peukiman Pademangan memang seakan tersisih, entar mengapa. Jarang diliput, dan dunia internetpun hanya ‘meliput’ ketika pak  Jokowi kesana sekitar akhir tahun lalu dan pertengahan tahun ini. Bagaimana dengan sebelum pak Jokowi? Seperinya internetpun tidak ‘menjangkaunya’ ……

Jika kita merenung, Pademangan memang dikelilingi oleh daerah ‘gemerlap’, seperti Ancol, Mangga Dua, Kemayoran ataupun Sunter, dan Pademangan serasa terus ‘meresak’ seperti tanah Pademangan yang ters turun karena erosi air laut lewat bawah tanah …..

Dan memang karena Bukit Duri serta Kampung Melayu merupakan bagian dari daerah pemukiman ( dikelilingi oleh pemukiman2 lainnya : Tebet, Matraman, atau Jatinegara ), sehingga kedua daerah tersebut terlihat ’sama dan sebangun’ dalam ‘terlihat’ oleh pemda …..

Ketika aku masih kuliah, salah satu tugas Studio Pemukiman, adalah mendesain pemukiman padat  dengagn konsep2 perkotaan khusus Jakarta. Dan aku ingat konsepku sendiri, bahwa aku meninggikan tanah Pademangan, sampai setinggi tanah2 di sekitarnya, membangun drainase serta gorong2 besar dan mengeruk kali disana. 

Setelah itu konsepku adalah membangun rumah susun murah, dengan fasilitas2 yang baik untuk warga Jakarta, termasuk sekolah2 dari SD sampi SMA, rumah sakit kecil sendiri, supaya tidak ada warga Pademangn yang ‘diusir’ oleh rumah sakit mewah disekitarnya ( termasuk puskesmasnya ).

Jalan2 lingkungan yang tidak boleh dilewati oleh truk2 besar. Walau dalam kenyataanya, Pademangan memang merupakan ‘jalan pintas’ untuk menghindari lampu merah sesuai cerita di atas. Jadi, jika memang Pademangan HARUS menjadi jalan pintas, pastikan untuk kekuatan jalan lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan bobot truk2 yang melewatinya ( lihat tulisanku Hiiiii… Jalan Itu Berhantu! Ah, Masa’ sih? )……

Bagaimanakah konsep perkotaan bagi Pademangan yang sudah di desain? Apakah sudah memenuhiperaturan2 dan kebijakan2, khususnya kebijakan banjir-nya? Semoga perbaikan kampung di Pademangan merupakan titik awal baagi warga Pademangan untuk bisa lebih baik ……

Tags:

0 Responses to “Pademangan: Sebuah Kecamatan di Jakarta yang Seolah ‘Tersingkirkan’”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks