Kamis, 04 April 2013
Puisi untuk Papa
Kamis, 04 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Bilur-bilur kesedihan terpancar dari raut wajah kedua orang tuaku,
Ketika anak pertama mereka dijemput oleh NYA, hanya 2,5 tahun hidupnya …..
Dan ketika aku lahir 1 tahun kemudian, mereka menyambutku dengan suka cita
Terlebih lagi papa ….. wajahnya bersinar dengan kebahagiaan penuh …..
Aku tumbuh menjadi sosok perempun yang tegar, disiplin dan penuh bahagia,
Papa membuatku demikian rupa, sungguh … aku amat bahagia sebagai anak dari kedua orang tuaku
Sampai ketika ‘Tuhan Mengizinkan Aku Sakit’, papa tetap setia selalu berada disisiku
Dari alam membangunkanku, sampai mataku tertutup dalam istirahatku …..
Tuhan sudah memberikan seorang papa yang luar biasa, dan seorang mama yang juga sangat
luar biasa!
Seorang papa yang sungguh-sungguh mencintai kami
Seorang papa yang teramat sangat mencintaiku, sebagai satu-satunya anak perempuannya
Dan seorang papa yang menjadikan kami, sebagai anak-anak yang bertumbuh dalam nama Tuhan …
Ketika satu demi satu anak-anaknya meninggalkan orang tuaku dalam kemandiriannya sebagai seorang dewasa,
Hanya aku sendiri yang tetap mendampingi papa, tetap mendamping mama
Ketika orang tuaku terpuruk dalam sakitnya karena umurnya yang menua,
Pun aku mendapatkan kesedihan yang luar biasa !
Dalam sakitku, papa selalu setia di sisiku, papa terus menjagaku, dan kasih papa terus mengiringiku
Dia yang juga menemani mama, ketika sakitnya terus membayang-bayanginya
Dan dia juga yang terus menopangku dalam keterbatasanku
Papa adalah matahariku, papa adalah terrang dalam hidupku …..
Sekarang papa sudah berapa dalam Rumah Tuhan …..
Tidak ada lagi kesakitan dalam wajahnya, ketika hari-hari terakhir terucap dengan sendu,
“Bapak cape” …..
Dan tidak ada lagi senandung rinduku untuk papa, yang terus terucap dalam mimpiku …..
Papa …..
Mampukah aku menahan rinduku untuk papa? Mampukah dinginnya hatiku tanpa papa?
Ketika aku terkulai dalam keterbatasanku, papa yang terus menghangatkan hatiku dalam kasihnya
Bagaimana dengan sekarang, papa? Mampukah aku, papa? Mampukah???
Sosok papa terus berjalan dalam tangan Tuhan, ketika aku terus menggapainya …..
Papa … papa … papaaaaaaaaaaaaa …
Dan ketika papa berbalik dalam senyumnya, aku sadar bahwa papa sudah sangat berbahagia,
dalam kasih dan rengkuhan Tuhan ……
Aku tersentak!
Papa sudah berbahagia dalam tangan Yesus ….. ya ….papa sudah sangat berbahagia …..
Aku tidak boleh membayang-bayanginya lagi! Tidak boleh!
“Papa ….. pasti papa sudah berbahagia disana, kan? Bahagia, kan papa ???”
Kini, aku tidak boleh menangis lagi ….. tidak boleh!
Papa akan sangat sedih, ketika melihatku selalu menangis, aku yakin itu!
Tetapi papa, aku tetap boleh kan, jika aku terus berdoa, untuk papa ?
Tetap bisa, kan, jika aku ingin menyambangi papa, membawakan bunga wangi untuk papa ?
Dan aku akan terus merindukannya,
Terus dan terus ….. sampai akupun dijemput Yesus, untuk bertemu dengan papa, suatu saat …..
Papa …… sungguh, aku sangat rindu padamu, sekarang …..
Papa …… sungguh, aku sangat mengasihimu …..
Papa …… engkau adalah cahaya dalam hidupku …… cahaya dalam hidup kami …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Puisi untuk Papa”
Posting Komentar