Senin, 08 April 2013

Bahkan Papa Terus Mengantarku untuk Bekerja Dalam Kerentaannya …



By Christie Damayanti


1365409670834187515
Dokumen Pribadi

Ketika papa dengan bangganya, memelukku dalam hasil kerjaku sebagai arsitek. Lihatlah ….. terpancar kebanggaan dan kebahagiaan di wajah papa, ketika papa masih sehat tahun 2009 ……











————————————————————————————————————————-

Seorang papa adalah sosok lelaki yang sangat bersahaja, untuk semuanya. Begitu juga sosok papa dalam hidupku. Seorang lelaki dengan kewibawaan seorang papa, serta seorang lelaki untuk kita bergantung kepadanya, bagi kami sekeluarga, apalagi bagi aku …..

Walau ketika aku terserang stroke berat di San Francisco Amerika Serikat, 8 Januari 2010 dan sekarang menjadi seorang perempuan pasca stroke dengan keterbatasan, dan lumpuhbseparuh tubuh sebelah kanan, papa tetap ‘kuat’ menahan derita sebagai orang tua dengan aku yang lumpuh dan cacat, papa terus setia mendampingiku, dari waktu ke waktu, dari bangun tidur pagi sampai tidur malam …..

Ketika aku mulai bekerja lagi Juni 2010 lalu, dan fungsi mama yang menjadikan aku untuk ‘belajar hidup’, digantikan fungsi papa, sebagai seseorang yang tegar dan kuat untuk mengantarku kemana saja dalam kegiatanku. Jika sejak aku pulang ke tanah air, Februari 2010 sampai Juni 2010, mama adalah seseorang yang  membantu untuk ‘belajar’. Seperti seorang bayi, mama terus membantuku mulai dari memandikan aku, menolong untuk memakai baju, menyuapi aku sampai aku bisa makan sendiri, menuntun aku sampai aku cukup berani berjalan sendiri ataupun menemani aku tidur ……

Dan ketika aku mulai keluar dari ‘kepompong’ku, papalah yang membantuku karena mama memang  juga mempunyai keterbatasan fisiknya. Sehingga sejak pagi, dimana papa selalu olah raga pagi dan beliau lah yang membangunkan aku. Setelah papa pulang jalan kaki pagi, kami makan bersama sapai waktunya kami berjalan menuju kantor kami.

Di mobil, sekitar jam 8.30 pagi, kami menuju ke rumah sakit Cikini, dimana aku diraawat dan swkarang aku menjalankan terapi 3x dalam seminggu. Dalam perjalanan, biasanya papa membuka koran pagi, berdiskusi dengan aku tentang apapun. Apalagi ketika pasangan Jokowi-Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, papa sangat bersemangat untuk membahas ide2nya dengan ku tentang perbaikan Jakarta. Ya ….. papa memang sangat peduli tentang Jakarta, begitu juga aku, anak papa yang benar2 megerti apa yang papa inginkan tentang Jakarta …..

Begitu kami sampai RS Cikini dan mobil berhenti di depan Unit Stroke, papa membuka pintunya, berdiri di depan pintu ku, membuka pintuku dan aku turun sambil berpegangan papa ….. papa menuntunku denga lembut …..

Papa tidak mau aku berpegangan kepada lengan papa. Beliau selalu menurunkan tanganku, dan menggapai telapak tangan kiriku untuk menggandengku,

“Kalau kamu pegang tangan papa, orang melihat kamu memang sakit, tetapi kalau orang melihat kita bergandengan tangan, tidak ada yang mengira bahwa kamu lumpuh”

Ya, papa selalu memberikan semangat dan motivasi untukku, walau ketika aku tetap berpegangan tangan papa, karena aku merasa lebih aman untuk bergelayut dan bermanja2 dengannya, beliau tetapi merapatkan tangannya ke tanganku, menepuk2 tanganku memakai tangan kirinya sambil terus berbicara, diskusi atau hanya sekedar saling tersenyum dalam menebar kasih …..

Di ruang terapi, papa membereskan tempat untuuk, menarik kursiku, menyalakan AC atau menutup jendel. Dan setelah itu, belisu menelpon terapistku untuk bisa dimulai….. Dan papa duduk memperhatikan aku di terapi atau berjalan ke kantor rumah sakit, karena pekerjaan papa sebagai pengawas struktur dalam pembangunan rumah sakit itu ( papa adalah anggota Yayasan RS PGI Cikini pada Tim Proyek ), untuk memulai tugasnya …..

Sekitar 1 jam papa kembali ke tempat terapi untuk menjemput aku ke mobil. Jika aku harus ke toilet, papa pun yang mengantar aku, sampai kami memulai hari2 kami menuju kantor. Kami terus berdiskusi, atau hanya sekedar tertawa2 saling menceritakan tentang hari2 lucu anak2ku, Dennis dan Michelle. Kasih papa yang tulus, terpancar dari mulutnya ….. Ah, papa …..

Ketika sampai di Centarl Park, dan menuju APL Tower, kami diturunkan ke lobby. Seperti sebelumnya, papa siap di depan pintu mobil dan menuntunku untuk berjalan menuju lantai 43. Semua satpam mengenal kami, terutama papa. Mereka sangat meghormati papa dengan kewibawaannya. Aku yang seorang perempuan berumur 43 tahunpun, sama sekali tidak malu, ketika papa menggandeng tanganku dengan lembut dan sayang, ditengah2 kesibukan lalu lalang pekerja2 kantor …..

Kadang2 beberapa orang baru melihat kami dengan heran bahkan sinis, mungkin terpikir bahwa seorang perempuan cacat digandeng seorang lelaki tua, untuk apa? Karena, pernah seseorang menegur kami, dikatakannya bahwa aku adalah ‘istri papa’ yang cacat, untuk apa bekerja? Dan dengan bangga papa mengatakan bahwa,

“Ini anak saya. Dia memang pasca stroke, lumpuh separuh tetapi dia tetap bekerja! Kantor ini dan Central Park ini adalah proyek dia lho!”

Ah papa ….. begitu papa terlihat sangat bangga terhadapku …… Terima kasih papa, bahkan papa tidak pernah menyembunyikan sakitku dan tidak pernah peduli dengan orang2 yang senis kepadaku …..

Sampai lantai 43, di ruanganku papa sedikit membereskan mejaku, menaruh tasku, mengeluarkan gadgetku di meja, membereskan kursi ‘kebesaranku’ dan menuntunku untuk duduk. Setelah aku duduk, papa tersenyum padaku lembut, menepuk2 pipiku, kadang2 menciumku, bertanya dengan  kasih papa benar2  padaku,

“Sudah ya … mau dijemput jam berapa?”

Dan papa berbalik untuk keluar dari ruanganku, sedikit perlahan karena beliau memang sudah tua, tidak setegap beberapa tahun lalu …..

Sering mataku berkaca melihat papa, melihat kerentaan papa, melihat wajah papa yang lelah … dan kasih papa meredam semuanya …..

***

Sekitar jam 18.00 papa menjemput aku lagi. Jika aku sudah melihat papa masuk, mataku lagsung bersinar cerah, dan papa tersenyum padaku. Lalu papa membantuku untuk beberes dan langsung menuju turun untuk sekeda berjalan2 di mall untuk terapi kakiku berjalan, selama 1 jam. Ya, papa dengan kelelahannya, selalu meganjurkan aku untuk terapi berjalan selama 1 jam. Dan seperti di mobil pagi tadi, kami terus berbicara, apa saja yang kami bisa bicarakan ……

Sungguh, papa adalah tangan dan kakiku. Matahariku. Kehangatan dalam hatiku. Sampai begitu kami sudah masuk mobil, sering  papa tertidur karena kelelahan ….. Ah papa …….

Sampai rumah, biasanya kami langsung makan karena sudah terlalu malam. Sering bersama anak2ku dan pasti bersama mamaku. Kadang2 anak2ku terlalu sibuk dengan les-lesnya. Dan jika kami berkumpul semua, papa sempat berdoa bersama dan membacakakan beberapa ayat Alkitab dan memberi perenunan bersama sebelum makan malam. Ya, sejak kecil kami didik dengan Alkitab sebagai dasar kehidupan kami …..

Dan malam itu kami selalu tidur dengan nyaman, karena kami tahu bahwa Tuhan menjaga kami dan Tiang Api Tuhan menjaga rumah ini.

***

Terakhir setiap malam, papa selalu turun lagi sekitar jam 23.00 atau 24.00 hanya sekedar mengecek aku, apakah aku mendapat kesulitan atau hanya sekedar membetulkan selimutku ( aku dan Michelle tidur di lantai bawah setelah aku terserang stroke ) ……

Seorang papa yang sangat mengasihiku, bahkan rela hanya membetulkan selimutku di lantai bawah, di tengah malam ……

Ya Tuhan ku …… papa benar2 merupakan cahaya bagi kami ……

Tags: ,

0 Responses to “Bahkan Papa Terus Mengantarku untuk Bekerja Dalam Kerentaannya …”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks