Senin, 08 April 2013
Ketika Papa Memarahiku…
Senin, 08 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
————————————————————————————————————————
Namanya saja manusia. Namanya saja
anak2. Kami, ketiga anak papa, terutama aku, tetap saja anak2. Sebelum
kami dewasa, kami juga nakal dan bandel, walau tetap dalam koridor
anak2, tidak ‘nakal’ yang membuat orang tuaku kawatir ( mungkin lhooo ).
Aku tidak akan cerita tentang adik2ku.
Mereka justru lebih menurut ‘apa kata papa’, terutama adikku yang
sekarang tinggal di Amerika. Adikku ini benar2 ‘duplikat papa’, baik
pintarnya, kasihnya, perfeksionisme nya bahkan bijaksananya. Tetapi
justru aku, anak perempuan papa satu2an, yang sangat nakal dan bandel.
Sering tidak ‘menurut’ apa kata papa. Bukan karena kenapa2, tetapi
dengan ‘ngotot’ nya aku, dengan sama2 keras kepalanya aku dan papa, dan
dengan sama2 perfeksionis nya aku dan papa, justru masing2 tidak mau
saling ‘mengalah’, untuk beberapa konsep dalam sebuah kegiatan!
Sehingga, walau kami tetap saling mengasihi, diam2 kami juga sering
bertengkar, lhoooo …..
Misalnya, ketika ak masih kecil. Namanya
juga anak2 yang selalu ingin membeli bakso yang lewat di depan rumahku.
Nah, papa yang sangat menjaga kebersihan, melarang aku beli bakso itu.
Tetapi papa selalu membelikan bakso dari restauran. Dulu ada GM dan
Bakso Gang Kelinci. Ah, kan lainnn … Sehingga aku sering diam2 mengambil
uang tabunganku ( dulu aku diajar menabung di celengan babi ) untuk
beli baksa jalanan.
Dan ketika papa tahu, papa memang tidak marah! Aku
ingat sekali, raut wajah papa yang sangat kecewa dan sedih … Papa
memelukku dan beliau berbicara dengan lembut bahwa bukan papa tidak mau
membelikan bakso jalanan itu, tapi kalau bakso yang lewat di depan
rumah, pasti tidak bersih, papa sering melihat mangkoknya di cuci dengan
sembarangan dan memakai air mentah serta sering tidak diganti.
Biasanya, awalnya aku tidak mau memeluk papa sedangkan papa memelukku
erat2. Tetapi jika papa sudah bicara dengan lemah lembut, hatiku
bergetar … Dan kedua tanganku memeluk leher papa erat2 …..
Setelah itu, aku tidak ingin membeli
bakso seperti itu lagi, tapi hanya beberapa hari saja. Selebihnya, sama
saja! Dan berulang lagi … Lagi dan lagi ….. Sampai sekarang … Hihihi,
dasar aku, tomboy dan preman ( proyek ), barangkali yaaaa …..
Misalnya lagi, sekarang setelah aku
dewasa, bahkan dalam beberapa hari sebelum dipanggilnya papa ke Surga.
Aku ‘ngotot’ tidak mau kalau papa membawakan roti sandwich ke mejaku di
lantai 43, ketika papa barusan mengantarku dari ruanganku ( beliau turun
ke mall, membelikan aku roti sandwich, dan mengantarkan roti itu naik
lagi ke lantai 43 ).
Tetapi papa juga ‘ngotot’ tetap beberapa kali
membawakan aku roti itu, sehingga kami sedikit ‘clash’, dan masing2
bersikukuh untuk yang terbaik bagi masing2! Aneh kan? Kami saling
mengasihi, toh kami tetap bersitegang, walau bukan sebuah hal yang
berat. Semuanya bermula dari saling mengasihi dan ingin memberikan yang
terbaik, untuk papa dan untukku ….. Aahhh, papa …..
Seingatku, hanya sekali papa sempat
menepak pantatku, pagi2 sewaktu aku masih kecil. Seingatku, waktu itu
aku benar2 tidak mau ikut ke Gereja, entah karena apa. Mungkin aku masih
mengantuk, atau sakit, entahlah … Yang jelas, aku di bangunkan papa dan
aku menangis ketika papa memaksa aku mandi. Lalu aku berlari turun (
kamar tidurku di lantai atas ), sambil menangis ….. Papa mengejarku
turun, pasti papa takut aku jatuh, tetapi pikiranku, bahwa papa mau
memaksaku, sehingga aku menjerit2 keras.
Papa memegang tanganku, dan aku semakin
keras menjerit dan menangis, dan aku tidak mau diam sampai papa
membentakku! Dan aku semakin keras menjerit. Sekonyong2, papa menepak
pantatku 2x, tetapi ( aku ingat betul! ), justru aku mendapatkan dan
mendengar bahwa papa yang menjerit dan menangis!
“Yantiiiiii …..” ( Nama panggilanku di rumah )
Aku berhenti menangis, dan papa langsung
memelukku sambil memelukku erat! Percayalah! Papa memelukku sesegukkan,
dan aku memeluk leher papa ( papa jongkok karena aku masih kecil ), dan
kami bertangiskan bersama ….
“Yanti, maafkan bapak ya … Maafkan bapak sempat memukulmu. Bapak tidak akan memukulmu lagi. Maafkan …..”
Tuhanku …..
Tragedi itu memberkas di
hatiku. Seorang papa, selalu berwibawa di hadapanku. Papa menangis dan
meminta maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya! Dan wajar jika papa
‘menegurku’ dengan sebuah ‘tepakkan’ di pantatku, bukan? Ya Tuhanku …..
Dan setelah itu, seingatku papa sama
sekali tidak pernah memarahiku! Jika beliau kecewa terhadapku ( walaupun
aku hanya sekedar melakukan sedikit apa yang tidak suka aku lakukan ),
papa hanya sedih, memelukku dan berdoa …… Ya Tuhanku ….. Papaaaa …..
***
Hingga papa dijemput Yesus tanggal 5 Maret 2013 kemarin, papa adaah
sosok yang luar biasa! Setidaknya di depan kami keluarganya, dan
khususnya aku. Papa yang perfeksionis, papa yang ramah, papa yang
pintar, papa yang pengasih dan papa yang tidak pernah marah …..
Dan keluar-biasaan papa ini sejak dulu, sekarang dan selalu terpatri di dalam hati kami.
Papa, kami mengasihimu …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Ketika Papa Memarahiku…”
Posting Komentar