Home
» Catatan Harian
» Keterpurukan-ku, Ketika Anakku Hanya Bisa Mendengar Guntur yang Menggelegar!
Jumat, 19 April 2013
Keterpurukan-ku, Ketika Anakku Hanya Bisa Mendengar Guntur yang Menggelegar!
Jumat, 19 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Tags:
Catatan Harian
baby.senseofhearing.com
Aku juga pernah berada di titik nol
dalam bentuk yang lain, ketika anakku yang kedua tidak mampu mendengar!
Ya, Michelle, anakku yang kecil, pernah tidak bisa mendengar selama 3
tahun! Ibu mana yang bisa menerima, bahwa anaknya akan seumur hidup
berada dalam kesunyian? Pastilah ibu itu akan mengalami sebuah proses,
sesuai dengan kehendak Tuhan, sampai dia menjadi kuat untuk menerimanya
dan hidupnya akan selalu untuk anaknya …..
Begitu juga aku. Ketika dokter
mendiagnosa bahwa Michelle kemungkinan tidak bisa mendengar, hidupku
seketika hancur berantakan! Aku sangat terpuruk! Ketika aku baru mulai
tegar setelah mengalami kemungkinan terburuk dalam hidupku ( lihat
tulisanku Pertama Aku Lolos dari Maut, Karena Tuhan Mencintaiku …..), aku
langsung dihadapkan pada sebuah kenyataan buruk mengenai anakkku, yang
secara diagnosa tidak ( atau belum ) mampu untuk mendengar ….. Ya Tuhan
……
Namanya juga anak2. Ketika Michelle di
diagnosa tidak mampu untuk mendengar dia masih berumur sekitar 1 tahun,
dia tidak peduli. Tubuh mungilnya menggeliat di pangkuanku, sambil
berceloteh riang tanpa makna, membuat hatiku miris dan bergetar
menghadapi kenyataan tentang dia!
Waktu dokternya memeriksa untuk
menangkap pendengarannya ( padahal itu memang pemeriksaan rutin setiap
bulan ), dan dokter Michelle mengambil mainan yang bersuara, ternyata
Michelle sama sekali tidak peduli! Dia tetapi serius dengan permainannya
yang lain, yang seharusnya dia tertarik karena mainan berbunyi itu
memutarka lagu anak2 dengan riang …..
Setelah pemeriksaan lebih lanjut,
ternyata bahwa pendengaran kirinya sudah mencapai 90 dB. Artinya, dia
hanya bisa mendengar suara guntur menggelegar di samping telinganya,
sementara telinga kanannya juga tidak begitu baik pendengarannya ……
Aku tersentak! Dengan memengku Michelle
yang tidak mau diam, air mataku terus mengalir ….. terus dan terus ……
semuanya seakan berantakan! Duniaku gelap, sebelum aku mulai memikirkan
secara logika dan mencari solusi. Mataku terus memerah karena air mata
ku terus mengalir. Aku tergugu menangis, sementara Michelle terus
bergerak tidak berhenti serta berceloteh tanpa makna …..
Aku tidak mau membahas permasalahan
sakitnya, tetapi aku mau bercerita bagaimana aku berada di bawah titik
nol, walapun bukan aku yang mengalaminya. Karena jika seorang ibu ( atau
ayah, orang tua ) mempunyai anak dalam keterbatasan, berarti dia pun
akan merasakannya, bahkan mengalaminya, apalagi anak itu benar2 belum
mengerti tentang apapun, seperti Michelle.
Michelle adalah anak prematur 7 bulan,
dengan keterbatasan pendengaran serta penyakit perut ‘kolik’ yang tidak
tahu penyebabnya. Michelle terkandung dalam rahimku dengan 2 buah
benjolan tumor sebesar masing2 5.5 cm. Dan karena dia dikandung bersama
dengan tumor, yang selalu ‘merebut’ makanannya, sehingga dia sudah
’stres’ sejak di dalam kandungan …..
Pu karena dia adalah anak prematur, yang
seharusnya baru sempurna di kandung selama 9 bulan 10 hari, Michelle
terlahir belum sempurna, antara lain belum sempurnanya pendengarannya
serta penyaki ‘kolik’ yang belum tahu sebabnya, yang bisa membuat dia
berteriak2 kesakitan sampai berpeluh karena sakitnya, dan aku hanya bisa
memluknya serta mengusap2 perutnya, jika dia kesakitan dan aku tidak
bisa berbuat apa2 …… karena kolik nya ini sering menyerangnya kapan dan
dimanapun …..
Tidak gampang untuk membujuk Michelle,
yang selalu bergerak, padahal dia butuh tidur untuk menjalankan
terapinya. Tidak gampang juga untuk dia mau minum obat puyer, yang
memang pahit sementara dia lebih memilih bermain di Klinik Tumbuh
Kembang di RSCM, dan aku berusaha dengan berat ketika dia meronta2 untuk
‘mogok minum obat’ dan menutup mulutnya rapat2 …..
Juga tidak gampang ketika suatu saat
‘kolik’ menyerangnya tengah malam dan aku memeluknya untuk kemudian
menuju ke dokternya untuk diberikan obat ‘penenang’ supaya dia bisa
tidur. Dan sangat menguras air mata ketika dia 2x mengalami kejang2 (
step ) selama 15 menit yang mengakibatkan dia harus minum obat syaraf
‘luminal’ selama 1 tahun tidak boleh berhenti …..
Sewaktu Michelle mengalami step yang
cukup panjang karena tengah malam, aku menangis histeris, melihat dia
kejang2 dengan mata mendelik dan papanya berusaha memasukkan sendok ke
mulutnya karena jika dia sampai menggigit lidahnya sendiri, lidahnya
akan rusak. Ya Tuhan …… betapa aku mengalami titik terendah untuk
hidupku, ketika buah hatiku banyak bermasalah dari pertama kali dia
diciptakan oleh Tuhannya …..
Akui tidak tahu, ketika itu aku tetap
selalu berdoa dan bersyukur dengan keadaanku. Aku tidak tahu. Yang
jelas, aku memang sering membaca atau mendengar atau melihat di televisi
bahwa aku masih beruntung dengan keadaan Michelle, ketika masih banyak
anak2 yang sama sekali tidak bisa
mendengar lagi walau sudah diterapi
dan diobati selama hidupnya ……
4 tahun aku tidak bekerja semata2 untuk
mendampingi Michelle dalam pengobtannya. Dan 4 tahun juga aku bisa
merasakan awal2 kehidupannya dengan kesunyian, sebelum dia mampu
mendengar.
Dan ketika Tuhan sudah menunjukkan
waktunya untuk Michelle sembuh serta sudah bisa mendengar, Puji Syukur
kehadirat Tuhan yag Maha Esa, aku terus mengucap syukur. Bahwa Tuhan
menunjukkan janji dan buktinya bahwa DIA adalah Allah yag hidup. Kepada
NYA lah aku terus berserah dan memohon. Masa depan Michelle menjadi luar
biasa, sesuai dengan janjinya, yaitu memberikan masa depan yang cerah
pada semua umatnya, jika kita selalu berserah kepada NYA ……
Puji Tuhan! Hallelluya …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Keterpurukan-ku, Ketika Anakku Hanya Bisa Mendengar Guntur yang Menggelegar!”
Posting Komentar