Selasa, 15 Mei 2012
Perkembangan Karakter Anak dalam ‘Golden Periode’
Selasa, 15 Mei 2012 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
blogs.prideangel.com
Sebenarnya, apakah sesuksesan dan keberhasilan seseorang, ditentukan dari pembentukan karakter anak sejak usia dini? Aku tidak tahu dengan pasti, walau memang sudah banyak pakar2 yang ahli di bidang ini sudah menelitinya. Yang jelas, dari anak baru lahir sampai usia 5 tahun, otak anak2 berkembang hingga 80%, sehingga sampai umur anak 5 tahun, disebut juga ‘golden periode’, dimana anak2 seumur itu sangat cepat mennyerap apapun yang mereka lihat atau mereka dengar, sehingga jika orang tua kehilangan periode anak2 mereka tahap ini, sangat menjadi banyak permasalahan untuk masa depan anak2 mereka.
Pada masa tersebut, otak mereka akan menyerap apapun yang terlihat, atau apaoun yang terdengar, juga informasi2 yang sekecil2nya yang ada disekeilingnya. Fisik dan mental anak2 tersebut mulai terbentuk, termasuk spiritualnya. Makanya, jika anak2 dalam periode ini, misalnya, selalu melihat orang tuanya bertengkar atau perceraian orang tuanya, akan menjadikan hati mereka ‘terluka’ yang membuat masa depan mereka ( mungkin ) tidak secerah anak2 yang masa ‘golden time’ nya merasa berbahagia …..
Aku sangat mengerti, ketika aku masih berada di ‘golden periode’ ini ( juga masa2 kecilku sampai aku dewasa ), orang tuaku selalu menanamkan perilaku serta kata2 yang sangat baik. Dan aspek spiritualku memang sangat terasah dari sini. Ketika eyang dari papaku sebagai Pendeta( lihat tulisanku Sedikit Sisa Kenangan Tentang Eyang Probo ….. Aah, Aku Sangat Merindukannya ), dan papaku sebagai anaknya, senantiasa terus menceritakan tentang Tuhan dan bagaimana aku bisa ‘berbicara’ dengan NYA, dengan doa. Buku2 selalu mereka belikan untukku dan adik2ku ……
Aku masih sangat ingat, ketika bagaimana papaku ( lihat tulisanku Kesaksianku : Papaku, Matahariku ) selalu memberikan kedamaian dalam hatiku, sehingga aku terpacu untuk terus berbuat baik kepada siapapun karena papaku yang sangat sabar dan selalu tersenyum yang menjadikan salah satu ‘identitas’ seseorang yang sangat baik …..
Dan sangat terasa, ketika aku seperti sekarang ini, bahwa ‘golden time’ ku benar2 diisi oleh kehidupan yng sangat luar biasa oleh kedua orang tuaku. Itu sangat terbukti! Sebagai wanita, yang sekarang dalam keterbatasan, ternyata aku mampu untuk menghadapi tantangan dalam hidupku, dan aku sangat bersemangat untuk membuat masa depanku menjadi sangat luar biasa ……
Pendidikan karakter anak, memang harus dimulai sejak si anak masih sangat kecil. Sikap kita sebagai orang tua kepada anak, bagaimanapun anak itu tumbuh,kadang2 justru akan bisa ‘menjatuhkan’ si anak. Seperti orang tuaku yang tidak memberikan ‘pressure’ bagi aku dan adik2ku sejak dulu, aku belajar untuk terus tidak sering memberikan ‘pressure’ kepada anak2ku sekarang, walaupun jamannya emang sangat berbeda. Tingkat tekanan yang di terima anak2 memang sangat berlainan, walaupun orang tua berusaha untuk memberikan tingkat tekanan positif ( bukan negatif, misalnya, memarahi anak yang selalu nakal ), sehingga jika besar, anak itu cenderung akan rendah diri, minder, penakut atau tudak berani mengambil resiko …..
Justru sekarang aku merasa ‘kekuatan’ dan ‘kelebihan’ rasa selalu untuk mengambil resiko, yang mungkin juga penanaman rasa percaya diriku dari orang tuaku dulu, berlebihan. Sebenarnya tidak apa2, tetapi dengan keterbatasanku sekarang, sering kali membuat kedua orang tuaku sangat cemas, ketika aku berusaha untuk akan belajar setir sendiri lagi ( lihat tulisanku Mungkinkah Aku Setir Mobil Lagi Walau Aku ‘Cacat Tubuh?’ ) ……
Ketika anak mulai dewasa, karakter2 negatif akan menghambat dalam mewujudkan apa yang menjadi keinginan mereka. Masa depan mereka menjadi terhambat. Bayangkan, jika anak2 berjiwa minder, penakut dan tidak percaya diri, bagaimana mereka bisa menjadi orang2 yang disegani oleh lingkungannya?
Sebaliknya, ketika masa2 ‘golden periode’ berkembang dengan baik, mereka akan menerima masa depan mereka dengan baik. Tetapi, apa benar begitu? Belum tentu!
Aku ingat sekali, ketika aku sebagai anak sekolahan sampai mahasiswa, teman2ku yang memang pintar dan selalu menjadi juara kelas, sepertinya merea lebih ‘memilih’ kepintarannya sebagai masa depan mereka, DIBANDING kesuksesan2 lain yang sebenarnya ada di diri dan lingkungannya.
Misalnya, hampir semua teman2ku yang pintar2 dan sealu menjadi juara kelas, mereka memang melanjutkan pendidikannya sampai S3 atau ke luar negeri ( jika mampu ). Tetapi, mereka memilih untuk bekerja sebagai ‘orang pintar’ ( maksudnya, sebagai peneliti, atau sebagai dosen yang disegani bahkan menjadi profesor ). Itu bagus sekali, tetapi mereka ada di lingkungan yang ‘sempit’ dimana aku dan teman2ku yang biasa2 saja, berada di lingkungan komunutas yang lebih luas …..
Teman2ku yang dlunya selalu nakal, bandel dan memberontak, mereka malah menjadi orang2 terkenal dan sukses, walau ada yang memang tetap baik ( seperti dulu ), tetapi ada juga yang menjadi orang2 yang ‘jahat’ ……
Ternyata, terbukti juga, bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak saja, tetapi ternyata lebih dominan ditentukan oleh kepercayaan dirinya dalam membangun hubungan emosionalnya dengan lingkungannya …….
Sangat jelas dengan pengalamanku 43 tahun dalam kehidupanku, bahwa karakter sangat bisa dibentuk! Tidak sepenuhnya ‘bawaan’ dari lahir karena adanya ‘gen’, tetapi justru pada masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual si anak, mereka akan belajar dan menyerap dari perilaku kedua orang tuanya, serta lingkungannya. Pada masa2 perkembangan karakternya, anak2 menjadi sensitif dan peka karena otak mereka mempelajar dan dilatih untuk pembentukan karakternya, apalagi pembentukan karakter yang positif untuk sukses di masa depannya …..
Semua kata2 diatas, tentu tidak lepas dari hubungan si anak, orang tuanya serta Tuhannya. Walau masih kecil, sedini mungkin si anak harus mempelajari karakter keluarganya, lingkungannya dan berdoa untuk membina hungan baiknya dengan Tuhannya. Jika hubungan kedua orang tuanya tidak baik dengan Tuhannya, sebagian besar si anak, juga mengalami hambatan untuk masa depannya, karena si anak tidak bisa juga membina hubungan baik dengan Tuhannya …..
Untuk perkembangan karakter anak, tumbuhkanlah pemahaman positif sejak dini, misalnya, dengan selalu mengarahkan potensi si anak untuk mampu bereksplorasi dan mengekspresikan dirinya dan berusaha untuk terus memberikan lingkungan yang baik untuk belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Dan jangan pernah lupa, bahwa hubungan spiritual si anak dengan Tuhannya akan menjadikan karakter anak menjadi sangat terarah dan terfokus dalam apa yang Tuhan inginkan dalam si anak bekerja untuk memuliakan nama Tuhan, apapun bentuknya …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “ Perkembangan Karakter Anak dalam ‘Golden Periode’”
Posting Komentar