Rabu, 25 April 2012

Tempatku Bukan di Sini, seperti Musang yang Hidup di Atas Rumahku …..



By Christie Damayanti

1335329400945546441
wmconnection.blogspot.com

Madio tahun 1980-an, di atap rumahku

Seekor musang membelalakan matanya, mengamatiku sedang termenung di jendala kamarku, suatu malam. Aku terkejut, tetapi aku tidak takut, karena aku memang cinta fauna. Musang itu sepertinya tinggal di atap rumahku, secara tahun 1980-an kompleks tempat tinggalku belum banyak rumah yang  dibangun, dan masih banyak ‘hutan2′ kecil, untuk satwa liar, seperti musang itu. Dan karena mamaku suka dengan flora, beliau selalu menanam pepohonan, termasuk pohon pinang. Dan pohon2 pinang itu, ternyata menjadi makanan si musang.

13353295071127198532
forum.detik.com

Si musang agak lama mengamatiku, begitu juga aku, seorang anak kecil yang juga menaruh perhatian pada si musang. Mereka saling memandang, mereka saling mengamati dan mereka saling ‘tersenyum’ dengan hati …… Sebuah persahabat indah sebagai bagian dari makhluk Tuhan …..

Musang itu mempunya keluarga, dan mereka berkembang biak, sehingga ketika beberapa kali rumahku direnovasi sampai sekang, musang itu kembali lagi untuk tinggal di atap rumahku, setelah renovasi selesai. Mereka tidak mau tinggal di atap rumah yang lain, karena ada ‘hati’ yang terekat kuat, antara si musang dan si empunya rumah, yaitu aku …..

Medio tahun 2010, rumah si musang di atas rumahku

Keluarga musang itu memang sudah beranak pinak, entah sudah sampai keturunan yang keberapa, yang selalu ‘menemuiku’ di jendela kamarku, malam2 dimana si musang membelalakan matanya dan ‘tersenyum’ padaku. Tetapi generasi2 yang berikutnya, si musang tetap ‘mencariku’ di jendala kamarku. 

Dan setelah aku pindah ke bawah ( kamarku dulu di lantai atas ) karena sakit, aku sudah tidak pernah menemuinya lagi, walau aku tahu dan yakin bahwa keluarga musang itu tetap tinggal di atap rumahku ( mereka tinggal di bawah genteng ), karena dengan suara2 sedikit berisik, ketika malam dan gelap tiba. Musang adalah keluarga ‘nocturnal’, keluarga hewan yng hidup dan mencari makan di malam hari, seperti tikus dan burung hantu.

Medio tahun 2012, setelah 2 tahun aku sakit

Kemarin, salah seorang sahabat menyapaku. Sudah lama tidak bertemu. Silvie namanya. Dia tahu sekali, hidupku sejak bekerja di tempat kerjaku. Katanya, bahwa aku memang seorang wanita tegar, kuat dan ’struggle’ untuk memenuhi penghidupanku dan keluargaku, sebagai ’single parent’. Silvie menilaiku sebagai wanita yang sangat mandiri, semua terfokus kepada diriku sendiri dan keluargaku, tidak menoleh kemana2 karena aku memang harus memenuhi standard hidup dan masa depan keluarga dan anak2ku.

Itu benar sekali, Silvie. Aku sangat menghargai dengan pengamatannya tentang aku. Tetapi, ketika 2 tahun aku sakit ini, Silvie melihatku sangt ‘berbeda’ dalam hidupku. Paradigmaku terlihat berbalik 180 derajat, dari hidup yang terfokus untuk diri dan keluarga untuk masa depan dengan mimpi2ku yang belum tercapai, berbalik menjadi aku yang TETAP terfokus untuk keluarga dan anak2ku dalam masa depan kami, TETAPI mulai mengarah ntuk memuliakan Tuhan dalam segala kesempatan …..
Silvie juga mengatakan, bahwa Tuhan mau memakai hidupku untuk bersaksi bahwa Tuhan sangat luar biasa, dan Tuhan mau menjadikan hidupku bermanfaat bagi banyak orang …..

Aku merinding, mendengar kata2nya.

“Sungguhkah, Tuhan? Itukah yang Tuhan mau dalam hidupku?”

Silvie mengaminkan, bahwa aku harus PERCAYA, bahwa itulah yang Tuhan mau dalam hidupku, seorang cacat stroke, yang tidak bisa melalukan sesuatu yang besar dalam arti fisik, tetapi Tuhan membuat aku lebih ‘besar’ dalam nama Tuhan untuk memuliakan nama NYA …..

Aku tercenung … Dan aku semakin yakin, bahwa rencana Tuhan memang sangat luar biasa! DIA membuat aku sakit, tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak, tetapi otak, pikiran dan hatiku tetap utuh, untuk aku hanya bisa berdoa, merenung, dan mendengarkan tentang apapun, terutama mendengarkan apa yang Tuhan mau dalam hidupku …… 

Secara sebelum sakit, aku memang tetap berdoa, tetapi hanya sebagai rutinitas, aku tidak pernah merenung karena kesibukanku dalam pekerjaanku, dan aku tidak pernah mendengarkan, baik mendengarkan sahabat2ku apa lagi mendengarkan suara Tuhan …..

Ketika aku menonoton film di Channel Fox tadi pagi tentang kehidupan ‘racoon’ di taman Central Park di New York ( lihat tulisanku Central Park New York: Kawasan ‘Hutan Kota’ dan Bagian dari Paru-Paru Dunia ), aku teringat pada sahabatku, si musang. Racoon dan keluarganya di Central Park itu, sebenarnya tidak tingal disana, tetapi harusnya mereka tinggal di hutan2 di sekeliling kota New York. Tetapi ternyata mereka ‘terbawa’ oleh seorang pemburu, dan akhirnya pemburu itu melepas si raccoon untuk tinggal di taman Central Park. Jadi, sebenarnya itu bukan ‘tempat hidup’ mereka, karena habitat mereka adalah di hutan, bukan di taman kota …..
1335329670235090633
common.wikipedia.com

Begitu juga dengan sahabatku, si musang  dan keluarganya, yang tinggal di atap rumahku. Itu bukan tempat tinggal mereka. Mereka hanya bertempat tinggal di atap rumahku, dibawah genteng, dan mereka hanya makan buah pinang. Seharusnya, habitat mereka ada di hutan, jauh dari Jakarta …..

Bagaimana dengan kita semua, termasuk dengan aku?

Mungkin tidak ada yang menyadri, bahwa tempat kita bukan di tempat kita yang sekarang ini. Mungkin, sebenarnya tempat kita jauh di tempat kita sekarang berada dan tugas kita juga bukan pekerjaan kita yang sekarang kita lakukan. 

Siapakah kita? Siapakah aku? Tidak gampang kita ‘melihat’ tempat kita ada dimana, kecuali tetap berdoa, merenung dan mendengarkan, apa yang Tuhan mau dalam hidup kita …..

Sebelum aku sakit, aku sangat yakin dan percaya bahwa itulah hidupku! Sebagai mama dan single parent, dan sebagai arsitek dan sebagai dosen, membuat aku sangat berbahagi, dan selalu membagi kebahagiaanku kepada sahabat2ku dengan seringnya bekomunitas bersama.

Tetapi, paradigmaku pun berubah, setelah 2 tahun aku sakit, menjadi seorang yang lebih tegar, seorang cacat stroke yang tidak bisa apa2 secara fisik, dan seorang mama yang tetap mencintai anak2ku. Dan dari seorang wanita yang memfokuskan diri dan keluarga ( dan itu tetap sama saja dengan kehidupn egosentris ) untuk untuk masa depan, menjadi focus tetap kepada keluarga TETAPI terus menjadi garam dan terang dunia serta selalu memuliakan nama Tuhan di setiap kesempatan …..

Mimpi2ku memang masih banyak yang belum aku capai. Dan sekarang, mimpiku hanya untuk kemuliaan nama Tuhan, apapun …..

1 malam ini, hatiku terbuka setelah mendengar kata2 Silvie, bahwa sebenarnya, tempatku bukan disini, Tuhan. Sebenarnya, tugas pelayananku bukan sebagai ‘preman proyek’, walau tetap bisa sebagai arsitek. Aku sangat meyakini, bahwa PASTI Tuhan sedang membentukku untuk menjadi garam dan terang dunia, menjadi alat untuk tetap bisa memuliakan nama Tuhan …..

Tempatku bukan disini, Tuhan ….. Tunjukkan tempatku, Tuhan, tunjukkanlah ….. aku akan segera kesana ……



Tags:

0 Responses to “Tempatku Bukan di Sini, seperti Musang yang Hidup di Atas Rumahku …..”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks