Kamis, 26 April 2012

Ketika Si Balki Gagal Ginjal …..



By Christie Damayanti

1335431217809895523
erwinadr.blogspot.com

Balki, anjingku yang terakhir dari 16 ekor anjing yang dulu aku pelihara, tahun 1996 memang sudah cukup tua. Umurnya sudah sekitar 10 tahun, berarti karena perbandingan umur anjing dan manusia adalah berbabnding 7, jadi si Balki sudah berumur 70 tahun, jika setara dengan umur manusia. Sebenarnya, bulunya hitam pekat, tetapi, rambutnya sudah banyak yang memutih, sehingga warna bulunya menjadi belang2. Tubuhnya yang memang kecil, tetap lincah. Mukanya bersih, dan mulutnya terus ‘tersenym’, paling tidak, aku merasa dia selalu menyenyumi aku …..

Suatu hari aku sedang ada di kantor, mamaku menelponku. Beliau mengatakan, bahwa Balki sakit. Tidak mau makan, tidak mau bermain, tetapi dia hanya mau minum, itupun hanya air putih biasa ( bukan susu ) dan hanya mau tidur sehari2an. Padahal, dia biasanya lincah dan energik. Dan setelah aku pulang kantor, aku memang mendapati Balki tidur dan hanya mengerang, ketika aku membelainya ……

Aku sangat sedih, karena biasanya Balki melonjak2 kesenangan jika aku pulang dari pergi dari manapun. Aku duduk didekat pembaringannya, sambil aku mengelus2 kepalanya. Aku juga mulai menyuapinya dengan sop tetelan kesukaannya. Tetapi dia sama sekali tidak mau makan, padahal,dia suka sekali sop tetelan seperti itu. Lalu aku mencoba menyuapi susu, juga kesukaannya. Dan lagi2, Balki melengos ketika aku sedikit memaksa untuk memasuki mulutnya untuk menyuapi susu …..

1335431287834913640
1335431333237519528

Balki ( yang besar ) dengan salah seekor sahabatny, Piko, juga anjing kesanganku.

Aku bertambah sedih. Hari itu, dokter si Balki, seorang dokter hewan di bilangan Otista, tidak praktek. Bagaimana aku bisa membuat Balki mau makan? Karena terlihat dan aku merasakan dengan baik, bahwa tubuhnya sangat lemah, dan nafasnya tinggal satu-satu ….. aaahhh, Balki ….. ada apa denganmu???

Aku mengontak sahabatku, dimana papanya adalah Direktur Kebon Binatang Ragunan, waktu itu, untuk minta tolong. Dia mau membantuku, dan aku bergegas kesana membawa serta si Balki. Dengan di antar supirku, aku menggendong Balki dengan lemah lembut dan menutupi tubuhnya dengan selimut lembut. Sepanjang perjalanan, aku berdendang kecil. Bukan hanya untuk menghibur Balki, tetapi juga untuk menghiburku, ecara aku benar2 pasti hancur jika ditinggal Balki. Balki adalah sahabat terakhirku! 15 ekor anjing yang sebelumnya, aku ‘lepas’ karena memang harus ‘pergi’, dengan cucuran air mata. Ya, mereka semua sudah meninggal …..

Setibanya di KBR ( Kebun Binatang Ragunan ), aku langsung diminta ke Rumah Sakit Hewan, yang berada di sesaat sebelum KBR di sebelah kanan. Cepat2 aku kesana, dan papa temanku sudah menunggu di ruang konsultasi. Banyak hewan2 yang sakit dengan sahabat2nya, mereka yang peduli dengan hewan2 itu. 

Bukan hanya anjing, ada juga kucing ( semua jenis, termasuk anjing dan kucing ‘kampung’ ), kelinci, bunglon bahkan ular. Aku melihat wajah2 cemas dari mereka, termasuk aku. Banyak si hewan yang mengerang …. Dan sahabatnya memeluknya, seperti aku memeluk Balki, sahabat tersayangku.

Tiba2 aku dipanggil ke dalam. Balki sedang dalam perawatan. Dia mengerang, ketika dia melihatku. Biasanya, jika dia mau di vaksinasi, Balki selalu melawan. Bukan hanya Balki, tetapi hampir semua anjingku tidak suka dengan dokter, karena mungkin mereka berpikir, dokter itu hanya menyakiti mereka saja …..

Aku menghampirinya, mengelus2 kepalanya dan mencium wajahnya. Mata Balki bersinar2 ….. Tuhan, aku sangat mencintainya ….. Dia berada di sebuah tempat tidur sekecil tubuhnya, untuk bisa dibawa2. Aku duduk ditepi pembaringannya, sambil mendengarkan dokter tentang penyakitnya. Ternyata, Balki yang karena sudah tua, 1 ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Dia harus cuci darah ….. Aku menangis. Pantesar, kaki Balki agak bengkak, dan terlihat dia sejak kemarin, selalu melingkar di tempat tidurnya karena menahan perutnya yang memang sakit. Aaah, Balki …..

Sahabatku, Balki, tidak peduli dari makhluk bukan manusia, merupakan juga makhluk Tuhan. Aku tetap mengasihinya, aku tetap akan menemaninya. Bayangkan, jika dia tidak mempunyai sahabat, apa yang terjadi? Dia pasti akan terus kesakitan dan dia kan mati. Aku tidak mau! Aku tidak mau dia mati! Sampai tetes darah penghabisan, jika memang Tuhan menghendaki dia mati, aku akan merelakannya. Tetapi jika masih bisa diselamatkan, dia harus tetap hidup!

Aku meminta dokter hewan itu untuk merawatnya dengan baik, apapun taruhannya. Beruntung, tahun 1996, aku sudah bekerja dan tabunganku sudah lumayan. Aku meminta Balki dirawat di Rumah Sakit Hewan itu, dan jika memang harus cuci darah, aku akan membiayainya, tanpa bantuan siapapun. Orang tuaku tidak tahu tentang itu, apa lagi suamiku ( dulu ). Anakku masih terlalu kecil ( masih bayi ) untuk berbagi duka tentang Balki, sehingga aku memang harus menahan diri untuk tidak menangis …..

Setelah itu, Balki dirawat di rumah sakit itu. Setiap hari aku pasti menegoknya, membawakan makanan2 kesukaannya. Dan dia mulai pulih. Sop tetelan kesukaanya, dilahap dengan cepat. Aku juga membawakan es krim kesukaannya. Dan dia sangat senang dengan es krim itu. Buntutnya ‘kopat kapit’ dan dia menggonggong kecil ….. huk … huk … huk …

Mungkin sekitar 1 minggu Balki membaik, dan aku berencana membawanya pulang. Aku bersiap untuk membawa selimut kecilnya, dan keranjang kesukaannya, untuk menggendongnya pulang. Tetapi ketika aku masih ada di kantor, tiba2 impianku menjadi terkoyak …..

“Halo, ini bu Christie? Saya asisten dokter X ….. saya hanya mengabarkan, bahwa anjing ibu, Balki, baru saja meninggal, karena virus yang menyebabkan ginjanya berhenti untuk menjalankan fungsinya …..”

Tuhanku …..

Aku menatap telponku, dengan hati kosong. Air mataku deras mengalir. Temanku yang duduk disebelahku, memelukku karena dia tahu bahwa aku sangat mencintai Balki. Bergegas, aku meinta ijin untuk ke rumah sakit itu, untuk mengambil jenazah Balki. Sepanjang perjalanan, aku menangis, beruntung aku di setiri oleh supirku. 

Aku langsung menuju ruang jenazah hewan, dan Balki sudah di pindah dan di bungkuns dengan selimut yang aku beli setelah dia masuk ke rumah sakit itu. Aku membopongnya. Aku menangis. Rumah sakit itu juga melayani penguburannya, dan kuburannya ada di belakang. Aku menolak. Aku ingin membawa Balki untuk di kubur di belakang rumahku. Dengan gontai, aku membopong jenazah Balki masuk ke mobil …..

*****

Tuhan menciptakan 3 jenis makhluk hidup, yaitu manusia, hewan dan tumbuhan. Tuhan menginginkan antara kita saling mengasihi. Tidak harus terus berpikir, bahwa manusia bisa membuat hewan2 berbahagia, atau membuat tanaman tumbuh subur teratur, tetapi yang DIA inginkan adalah dengan kita sebagai manusia bisa tetapi tidak membunuh hewan atau menebangi pohon dengan seenaknya, itu sudah mengasihi sesama makhluk dan mengasihi lingkungan kita …..

Untukku, hewan adalah sahabat setia untuk manusia. Antar manusia bisa terjadi kesalah pahaman, tetapi hewan tidak akan mengkhianati sahabatnya …..

Salamku …..



Tags:

0 Responses to “Ketika Si Balki Gagal Ginjal …..”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks