Senin, 30 April 2012
Gagal Pemeriksaan Otak, Karena Pembuluh Darah Nadi Tanganku Lembut Seperti Jerami
Senin, 30 April 2012 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
vspblog.com
Ketika otakku berdenyut, hatikupun ‘berdenyut’, ketakutan dan kesakitan ….. Karena seringkali ‘dia’ berdenyut, aku sangat tidak tahan. Sering kesakitan, sering ketakutan, karena keadaanku …..
Dulu, ‘dia’ sudah sering berdenyut ( lihat tulisanku Dari Status Facebook-ku: Terlihat Sakit Kepalaku (Mungkin) memang Merupakan Gejala Awal Stroke-ku danEnyahlah, Hai Penyakit!! Jangan Berdenyut Lagi!!! ), dan aku tidak mengindahkannya, karena kupikir itu adalah sesuatu yang biasa, seperti sakit kepala biasa saja. Tetapi, ketika otakku sudah menjadi cacat karena stroke, jujur, aku sangat ketakutan, akan ada apa lagi dengan otakku??
Jam 8 pagi ini, aku sudah di rumah sakit, menuju Radiologi. Dokter memintaku untuk pemeriksaan Angio MRA. Copas dari Wikipedia :
MRA (Magnetic Resonance Angiography ) adalah teknik berdasarkan pada pencitraan resonansi magnetic ( MRI ) untuk pembuluh darah. Dan akan untuk menghasilkan gambar dari arteri untuk mengevaluasi stenosis ( penyempitan abnormal ), okulasi atau aneurisma ( pembuluh dilatasi dinding yang beresiko pecah ). Juka digunakan untuk mengevaluasi artesi pada leher dan otak, aorta dada atau perut, arteri ginjal dan kaki.
cyb3rcrim3.blogspot.com
Alat ini untuk pemeriksaan Angio MRA.Cukup mengerikan, walau tidak semengerikan alat MRI. Tidak ada ’suara2′ keras dan menakutkan, dan durasinya lebih pendek dari MRI.
Aku mulai berdebar, karena aku harus disuntik dengan cairan ‘kontras’ untuk melihat pembuluh darah otakku yang bermasalah. Tetapi masalahnya adalah, pembuluh2 nadiku, di tangan dan kakiku sangat kecil dan lembut. Sehingga, dari dulu sampai sekarang, suster atau dokter selalu kesulitan untuk mengambil darahku atau untuk menginfusku.
Sering kali, mereka menyuntikku berkali2 sampai masuk ke pembuluh darahku, dimananapun, sehingga aku menjadi trauma dengan keadaanku. Apalagi, untuk memberika cairan kontras ke otakku, jarumnya harus besar karena tekanannya juga harus besar untuk cairannya lancar …..
Ketika aku masuk ke salah satu ruang di Radiologi untuk pemeriksaan Angio MRA, dan aku mulai di persiapkan untuk memberikan cairan kontras, beberapa kali, suster tidak bisa mencari pembuluh darah kedua tanganku. Begitu pembuluh daraku ketemu, cepat suster menusukkan jarum besar untuk memasukkan pipa dalam pembuluh darah tangan kiriku. Sakitttt ….. Aku sangat trauma, dan keringatku deras mengalir, walau aku berada di ruang Radiologi ber AC 16 derajat Celsius ……
Tetapi begitu di test, apakah bisa depergunakan, ternyata tanganku bengkak. Cairannya tidak bisa masuk ke dalam pembuluh darah, padahalnya sudah ada pipanya. Kata suster itu, mungkin pipanya ‘keluar jalur’, karena kecilnya pembuluh darah nadiku, yang seperti jerami, sehingga gagalah pemeriksaan itu. Pipa di dalam pembuluh darahku, dilepas, dan ternyata aku tidak bisa dilakukan pemeriksaan Angio MRA …..
Di tangan kananku, sama sekali tidak bisa ditemukan satupun pembuluh darah nadi yang bisa untuk ditusuk dan di tempatkan pipa kecil untuk carian ‘kontras’ untuk pemerikasaan otakku.
Aku di pindah ke ruang Radiologi yang lain. Jika MRA adalah untuk pemeriksaan khusus pembuluh darah otak dengan detail, dan karena aku tidak bisa diperiksa, sehingga dokter memintaku untuk pemeriksaan MRI. Copas dari
Wikipedia :
Pencitraan resonansi magnetik (Magnetic Resonance Imaging, MRI) ialah gambaran potongan cara singkat badan yang diambil dengan menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut. Berbeda dengan “CT scan”, MRI tidak memberikan rasa sakit akibat radiasi karena tidak digunakannya sinar-X dalam proses tersebut.
essentialsomatics.wordpress.com
Alat MRI, buatku sangat mengerikan! Kita berbaring di tempat tidurnya, dengan tempat kepala khusus. Setelah semua siap, telingaku dipasang kapas, dan wajahku di ‘kerangkeng’ seperti gambr tersebut. Dan perlahan, kita didorong otomatis ke dalam ‘terowongan’ untuk pemeriksaan otak kita ……
‘Terowongan’ tersebut, cukup tebal, sehingga kita mungkin ½ tubuh kita bisa masuk di dalamnya. Dan cukup sempit, sehingga wajah kita seakan2 bisa ‘mencium’ langit2′ terowongan …..
Aku sudah 3x pemeriksaan MRI ( yang pertama sewaktu pertama terserang stroke di San Francisco, dan yang lain di Jakarta ), walau aku tetap tidak nyaman dengan pemeriksaan itu. Karena, selain aku trauma dengan banyak pemeriksaan, sejak dulu aku menderita pobhia berada di dalam ruang kecil dan tertutup, serta wajahku ‘tertekan’ oleh sesuatu!
Aku harus berbaring dengan diam, telingaku disumbat dengan kapas, kepalaku diletakkan di sebuah tempat kepala khusus, pas sebesar kepala, dan wajahku di tutup dengan ‘jeruji’ seperti kepala yang dipenjara!
Dadaku bergemuruh! Traumaku itu datang lagi! Dengan sama sekali tidak memakai pakaian ( hanya pakaian rumah sakit ) dan tanpa asesoris sama sekali, aku diselimuti 3 lapis selimut tebal! Aku yakin, bukan karena dinginnya yang membuat tubuhku bergetar hebat (secara aku biasa tidur di kamarku dengan 16 derajat Celsius), tetapi trauma dan pobhia itu yang membuat aku down …..
Aku didorong ke alat MRI itu, perlahan, dan banyak suara2 keras, menusuk telinganku. Aku sangat kedinginan …… bibirku bergetar, tanganku gemetar, dan kepalaku bergoyang …..
Kata si petugas, HANYA 20 menit untuk pemeriksaanku ….. Untukku, 20 menit adalah sangat lama. Aku seperti tidak tahan untu berteriak dan melempat alat2 yang ada di tubuhku dan berlari keluar …..
Aku sangat berusaha untuk menahan diri, berusaha untuk terus ‘mendiamkan’ otakku, untuk tidak ‘menyuruhku berteriak …… Susah, susah sekali …..Sejak aku stroke ini, otakku yang memang sudah cacat, sangat sulit untuk mengkontrok ‘hati’, gerak dan tubuhku untuk berbuat sesuatu. Tetapi, jika aku tidak bisa mengontrol otak cacatku ini, tidak akan aku bissa mengetahui, bagaimana aku bisa untuk lebih baik ??
Ternyata aku tertidur. Dalam kepasrahan, dalam ketakutaku, ternyata aku tertidur …..
Aku bermimpi. Semalam, aku nonton film dengan anak2ku di DVD, tentang ‘Final Destination 5′, sebuah film yang sangat mengerikan. Dengan hanya sedikit sebab, kita bisa mati dengan tubuh yang tidak utuh lagi ….
20 menit, ternyata cukup lama, walau tidak selama aku menyesaikan mimpiku ….. si petugas membangunkan aku. Tubuhku dingin, sangat dingin …..
Aku membereskan diriku, dibantu oleh petugas wanita untuk memakai baju dan asesorisku lagi. Kepalaku berdenyut lagi, mulai stress lagi, karena aku beum minum obat hipertensiku. Ya, untuk pemeriksaan ini, aku diminta puasa sajak jam 8 malam sampai selesai pemeriksaan, hanya boleh minum air putih. Jadi, tadi pagi aku tidak boleh minum obta, yang aku yakin, hipertensiku naik tinggi …..
Papaku menyambutku, ketika aku keluarg dari salah satu ruang di Radiologi. Cepat papa menyiapkan aku untuk minum obat hipertensiku, karena sungguh, aku trauma dengan stroke ku ini, yang dulu tidak aku perhatikan, susah mendengar nasehat dokter, serta selalu lupa minum obat …… Padahal, obat hipertensi itu, merupakan obat yang tidak putus sampai aku dipanggil Tuhan …..
Pemeriksaan Angio MRA ku gagal, dan pemeriksaan MRI ku, baru besok diketahui. Semoga aku tidak apa2, walaupun dokter sangat berhati2, untuk tidak lepas control dengan kemungkinan stroke-ku yang kedua kalinya …..
Setelah aku stroke, aku memang sangat bergantung dengan dokter dan alat2 pemeriksaan yang [mengerikan’ seperti ini. Walau trauma, aku tetap harus bisa mengikuti ‘apa kata dokter’, jika memang aku ingin lebih baik. Semangat dan selalu berserah adalah kunci untukku sekarang …. Dan tersenyum, adalah yang bisa membuat aku tenang dan selalu berharap, bahwa aku akan menjadi lebih baik lagi, di masa2 mendatang …..
Salamku …..

Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Gagal Pemeriksaan Otak, Karena Pembuluh Darah Nadi Tanganku Lembut Seperti Jerami”
Posting Komentar