Kamis, 24 Februari 2011
Manajemen Fisik Kota Jakarta (20)
Kamis, 24 Februari 2011 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Kota Batavia Lama sebagai ciri khas kota Jakarta serta implementasi penerapannya (1)
Dalam suatu kota, koridor kebuayaan (
koridor kebudayaan = suatu jalur yg menhubungkan tempat2 penting dimana
sepanjang jalur tersebut terdapat hasil2 kegiatan manusia ) berfungsi
sebagai sarana rekreasi atau tempat untuk menarik wisatawan, karena
biasanya koridor kebudayaan tersebut menampilkan suasana yg khas dari
kota tersebut yg tidak terdapat di kota lain.
Kota Batavia Lama memang
menginspirasi banyak wisatawan asing. Tetapi untuk membangun kota
Batavia Lama ini terbentur soal biaya dan siapa yg akan mengurusnya.
Kalau bisa, mungkin ada dinas khusus yg berdiri sendiri, dan bisa mencari donator dari luar negeri.
Karena Belanda dulu menjajah
Indonesia ( Jakarta ), biasanya memang sangat antusias meliat tempat
kakek / nenek buyut-nya hidup di Jakarta. Saya sering mendapati
wisatawan asing, sudah tua, dari Belanda ke rumah sakit Cikini hanya
untuk melihat tempat orang tuanya dilahirkan. Dan mereka mengatakan,
ingin selalu melihat kota Batavia Lama, tetapi mereka kesulitan karena tidak adanya fasilitas2 yg dibutuhkan ( angkutan kota, rumah makan dan toilet yg bersih, pusat2 informasi yg jelas, dan sebagainya ).
Dengan semakin berkembangnya suatu kota,
semakin kompleks pula kebutuhan masyarakatnya. Salah satiny menampilan
suatu bentuk rekreasi yg khas, karena di dalamnya terdapat nilai2
pendidikan. Hal ini merupakan suatu alternative untuk di pertimbangkan
dalam rencana perkembangan kota.
Yg dimaksud dengan koridor kebudayaan
kota Jakarta atau kota Batavia Lama adalah yg menghubungkan Mesjid Luar
Batang - Pasar Ikan sabagia simpul kebudayaan yg pertama dan Taman Sari -
Stasiun Kota sebagai simpul kedua dan sepanjang jalur tersebut terdapat
bangunan2 peninggalan sejarah sejak semula berdirinya kota Jakarta.
Kampung Luar Batang di diami
keluarga nelayan yg hidup dibawah garis kemiskinan. Padahal daerah ini
sebenarnya berpotensi untuk menarik wisatawan asing.
Pasar ikan juga di diami oleh
nelayan2 kecil. Saya memimpikan, daerah ini bisa ‘disulap’ menjadi
seperti di San Francisco ( area Pier ) atau seperti di Monterey Bay (
lihat Pier 39 : Banyak Singa Laut ‘Bergelimpangan’ untuk Berjemur dan Bermalas-malasan… dan Monterey Bay : Tempat ‘Berkolaborasi’ Antara Dunia Pantai dengan Dunia Perkotaan yang Berwawasan Lingkungan ).
Memang itu terlalu ‘bombastis’,
tetapi tidak ada salahnya kan kita bermimpi? Lihat di foto ini, toko2nya
sudah bisa saya bayangkan, dengan banyak cafe2 yg menjual makanan ikan
dan seafood, dan juga bisa ada atraksi untuk Museum Pasar Ikan ini.
Mungkin ada pertujukkan tentang budaya Jakarta, tentu menambah daya tarik wisatawan asing datang ke tempat ini.
Untuk menuju dan keluar dari tempat ini,
terdapat beberaps alternative. Keadaan sekarang terlihat bahwa kondisi
lalu lintas sangat padat dan selalu mengalami peningkatan kapasitas
jalan antara Barat dan Timur yaitu daerah pelabuhan ( Tanjung Priok )
dan Bandara Soekarno Hatta. Serta jalan layang Pasar Pagi yg
menghubungkan Jl. Latumenten di Barat dan Jl. Gunung Sahari di Timur.
Gunung Sahari lama dan sekarang.
Sebenarnya, jika dari dulu ditata dengan baik, mungkin bisa ‘berkembang’
dari waktu itu sampai sekarang dgn baik. Misalnya, Daerah Aliran Sungai
( DAS ) yg mengikuti aturan pemerintah ( dulu maupun sekarang ).
DAS yg sekarang memang sangat sempit, dan itu memang mengakibatkan banjir, karena sebenarnya, DAS untuk menyerap air.
Disamping itu juga jalur Utara - Selatan
dengan peningkatan Jl. Kali Besar dan Pancoran sebagai jalan arteri.
Terhadap transportasi kereta api kemungkinannya akan ada peningkatan
jalur kereta api sejajar dengan pelabuhan. Dan kendaraan yg melewati
jalu ini cukup banyak macamnya, antara lain bis kota, mikrolet, metro
mili, taksi, bajaj dan kereta api.
Tujuan lingkup perencanaan
Secara fisik, kondisi permukaan air
sungai sangat tinngi sehingga meyebabkan daerah ini sering dilanda
banjir. Penggunaan lahansebagian besar untuk dareah perdagangan dan
jasa, fasilitas umum serta pergudangan di sebelah utara. Kegiatan yg
menonjol adalah pergadangan dan jasa disepanjang Kali Besar serta Jl.
Cengkeh dan Pasar Ikan, kegiatan budaya disekitar Taman Fatahillah serta
kegiatan bongkat muat barang di pelabuhan Sunda Kelapa dan pergudangan
di daerah sekitar Pasar Ikan.
Sungai ini ( Kali Besar ) sudah saya
bayangkan,bisa dialiri perahu untuk wisatawan asing. Lihat, sebenarnya,
indah bukan ? ( lihat Mengamati Arsitektur dan Lingkungan di Amsterdam ).
Dengan berperahu, kita bia ‘membayangkan’ bagaimana keadaan tetang Jakarta tempo dulu ( kota Batavia Lama ).
Lali bagaimana dengan yg ini?
Jembatan tua ini benar2 cantik, di buat jaman penjajahan Belanda.
Sayang, jambatan ini tidak bia ‘mengangkat’ citra kota Bavatia Lama.
Jalan2 yg ada di daerah selatan umumnya
dalam keadaan baik tetapi di daerah utara banyak jalan berlubang karena
di daerah ini sering dilalui oleh kendaraan bermuatan berat yg menuju
area pergudangan.
Pembuangan sampah di beberapa tempat
sangat berkesan sembarangan yg berpengaruh terhadap kondisi lingkungan
serta kesehatan dan kebersihan penduduk. Sedangkan jaringan listrik dan
telpon cukup, tetapi pemasangannya sangat semrawut sehingga mengganggu
pandangan tampak depan bangunan.
Bangunan2 tua peninggalan Belanda,
sebenarnya sangat ‘bermutu’ untuk dijadikan obyek turis, tetapi sangat
disayangkan, bangunan2 ini tidak terurus. Dan di depannya banyak
pedagang kaki lima.
Secaran non-fisik, adanya pelabuhan
menimbulkan perkampungan nelayan yg kebanyakan berasal dari Bugis /
Makasar dan kini menjadi Kampung Luar Batang. Di daerah selatan sekitar
daerah Pancoran didominasi penduduk keturunan China.
Daerah Pancoran / Gloria bisa
menjadi tempat wisatawan karena daerah ini memang asik dan menarik,
daerah China Town Jakarta. Tapi jika fasilitasnya tidak disediakan,
bagaimana wisatawan asing tertarik untuk kesana ?
Kondisi perekonomian masyarakat nelayan
pada umumnya adalah menengah kebawah. Kegiatan pergudangan menyebabkan
kawasan ini tidak menyatu dengan daerah lainnya dan menjadikan daerah
ini sekilah seperti daerah mati.
Daerah Jl. Cengkeh Barat dan Timur,
yg mengesankan daerah mati, karena hanya tempat pergudangan dan jasa
angkutan. Terlihat, sama sekali tidak ada pedestrian disana. Dan tidak
ada median yg seharusnya memisahkan antara mobil2. Makanya, jika macet,
akan menambah kemacetan karena sama sekali saling mau menang sendiri.
Kondisi2 seperti ini menjadikan daerah
koridior Jakarta menjadi sangat khas, terutama untuk daerah kebudayaan
Taman Fatahillah yg bisa dikembangkan sebagai arena wisata dengan
situasi yg berbeda dibandingkan daerah lain di Jakarta.
Bagaimana dengan yang ini ?
Sebenarnya, pemda sudah mengupayakan untuk memugar banguna2 ini, tetapi
memang butuh dana yg tidak sedikit. Indah sekali, seperti kota2 di
Eropa.
Lapangan Fatahillah dengan Café Batavia Lama. Menarik bukan ? Apa lagi bila di urus dengan baik, pasti akan lebih baik.
Konsep mengadirkan kota Batavia Lama untuk malam hari ( lihat Sedikit Pemikiran untuk Jakarta: Manajemen Pembangunan terhadap pertumbuhan Fisik Kota (bagian:14)
Saya sudah sedikit meng-konsep untuk
kota Batavia Lama. Sedikit pemikiran tentang Jakarta, mungkin bisa
menambah ’sense of belonging’ dari seluruh warga Jakarta.
Kota Batavia Lama identik dengan
palabuhan Sunda Kelapa, Pasar Ikan serta Museum Fatahillah. Daerah ini
memang sangat khas sebagai kota lama Jakarta yg dapat diperbaiki dan
dikembangkan sejalan dengan perkembangan kota Jakarta di masa2 yg akan
datang, yg akan menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan yg
mempunyai karakter tertentu.
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Manajemen Fisik Kota Jakarta (20)”
Posting Komentar