Rabu, 03 Juli 2013
“Ah …, Itu Kan Hanya Sirik saja, Jika Tetangga Kita Berhasil” Duh!
Rabu, 03 Juli 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Tags:
Jakarta ,
sosbud ,
urban
energycoacinginstitute.com
Mungkin tidak banyak yang tahu dan mengerti bahwa memasak makanan ( apalagi dalam jumlah besar ), merupakan ‘polusi’.
“POLUSI? Ah, bagaimana bisa polusi, kan makanan untuk dimakan dan sehat untuk kita”.
Mungin itulah yang terjawab dalam hati banyak orang. Bukan begitu?
***
Dari artikelku kemarin tentang Tahukah Kita bahwa Tempat Tinggal Kita Tidak Boleh untuk Berdagang?, ternyata beberapa kompasianer tidak atau belum mengerti, bahwa
sebuah rumah yang sudah mempunyai IMB, TIDAK BIPERKENANKAN UNTUK
MERUBAH IZINNYA UNTUK MEMBUAT TEMPAT BERDAGANG, termasuk restauran. Ada
seorang kompasianer mengatakan, bahwa jika kita tidak bermasalah
tentang ‘kegiatan bisnis’ di rumah2 lingkungan perumahan ( padahal
perumahan itu merupakan perumahan murni ), biarkan saja! Toh, tetap kita
bisa memakai jasanya. Malah yang ada, aku dikatakan ’sirik’ …. hehehe
…..
Untuk aku, ya terserah saja! Masing2 orang mempunyai pemikiran2 sendiri. Tetapi aku
sebagai ‘urban planner’ yang ingin meng-edukasi warga Jakarta untuk
membuat ‘JAKARTA YANG LEBIH BAIK’, aku katakan bahwa ITU MELANGGAR
PERATURAN. Bukan hanya ‘penyelewengan’ tentang sebuah ijin rumah tinggal
menjadi kegiatan bisnis saja, aku akan mengatakan bahwa kegiatan2 agama
pun harus mendpatkan ijin yang seharusnya!
***
Ketika aku mulai belajar tentang desain
arsitektur dan masuk ke mata kuliah ‘fisika bangunan’ dengan tema
‘cerobong asap’ dan exhausfan di sebuah rumah atau bangunan besar
lainnya, pikiranku pun sama, “Ah … ngawur saja” …
Tetapi ketika
dosenku menerangkan apa yang disebut ‘polusi’ seketika itu juga aku
mengerti bahwa kegiatan ‘MEMASAK’ merupakan ‘POLUSI’ dan itulah sebbnya,
mengapa zonning tentang foodcourt dan restauran2 serta cafe,
disendirikan dan mempunyai kerumitan desain tersendiri. Apalagi ‘analisa
dampak lingkungannya’ mempunyai prioritas bagi manajemen bangunan umum,
terutama di mall2 besar.
buildaroo.com
Memasak ‘berat’ seperti ini? Coba
saja jika sudah lama, kita akan terus sesak nafas, kulit hitam legam
karena api besar dan kesehatan tidak terjaga …..
Aku sudah berkecimpung dalam mendesain
dan membangun di banyak mega proyek sejak 20 tahun lebih. Dan jika kita
membangun mall, daerah ‘food & beverage’, termasuk foodcourt,
merupakan tenant makanan ( restauran, cafe atau sekedar foodcourt yang
sederhana ), yang harus diprioritaskan karena ‘polusi’nya harus
dicermati.
Dimulai dengan apa yang dimasak ( apakah
hanya sekedar memanaskan saja atau masak makanan yang ‘berat’ misalnya
terasi dan bumbu2 Indonesia yang sungguh berat ), berapa besar kapasitas
memasaknya dan apakah memasaknya seharian atau hanya sekali2 saja?
Ditambah dengan polusi bau. Belum tentu
orang2 suka bau makanan, apalagi makanan2 khas seperti terasi ( ini yang
sangat atau sering di komplain ), atau teri ( ikan2 kecil yang sebagian
orang akan tergiur dengan baunya dan sebagian lagi akan bersin2 dengagn
menusuknya bau ikan teri ). Juga bau amis ikan atau durian, dan bau itu
termasuk ‘polusi’.
Belum lagi tentang sisa2 material
makanan yang sudah dimasak dan sisa2 makanan yang banyak. Aku pernah
melihat sisa2 material yang sudah selesai dimasak dan sisa2 makanan.
Pertama, baunya akan menyengat jika ditumpuk beberapa saat. Kedua,
berantakan sekali, karena namanya saja ’sisa2′. Ketiga, tidak higienis
untuk sebuah cafe atau restauran karena akan banyak kecoak, tikus bahkan
hewan2 kecil yang akan mencari makanan2 sisa, bahkan di mall!
Suatu saat aku sengaja survey
sendiri di sebuah mall di bilangan Jakarta Pusat, tengah malam, karena
justru aku mau mengamati hasil dari kegiatan ‘memasak’. Semua sudah
tutup, aku hanya ditemani oleh satpam disana untuk mengamati daerah
‘food & baverage’, apa yang harus aku benahi untuk aku mendesain dan
membangun mall di salah satu mega proyek-ku. Mall itu besar dan mewah.
Bau segar tetap dipertahankan oleh manajemen masing2 resto atau cafe
tersebut untuk menganulir bau2 amis sisa2 kegiatan hari itu.
Hmmmm, semua ok! Tetapi ketika aku
berbalik untuk mengamati di daerah yang lain, tiba2 seekor tikus
berlarian ( ada beberapa tikus kecil, atau curut ) keluar dari tempat
sampah, walau aku lihat tempat sampah itu sudah kosong, tetapi mungkin
belum dibersihkan.
Coba bayangkan jika tikus2 itu
keluar pada jam2 sibuk mall. Dipastikan semuanya akan berantakan!
Makanya, untuk kegiatan masak memasak, perlu sekali analisa dampak
lingkungannya.
***
Kembali dengan kegiatan masak memasak.
Berhubungan dengan artikelku kemarin bahwa dengan adanya restauran di
sekeliling rumah kita, yang sebenarnya tidak boleh dijadikan restauran,
analisa dampak lingkungan perumahan kita akan menjadi kacau. Sedianya
hanya untuk perumahan murni saja, tetapi lingungan akan tercemar jika
rumah kita dijadikan restauran. Polusi bertebaran di sekeliling rumah
kita dan itu akan mengganggu kesehatan kita.
Coba baca cerita tentang
sebuah ‘Exhaust Air System’, dibawah ini :
Sering disebut sistim Cerobong Asap
Dapur, Cerobong Pembuangan Udara Kotor, berfungsi sebagai pembuangan
udara kotor untuk menghindari deposit CO2 atau udara kotor lainnya yang
bila dibiarkan akan sangat berbahaya pada lingkungan didalam ruangan
atau disekitar kita.
Udara kotor bisa dihasilkan dari
hasil pembakaran, reactor, proses biokimia, ruang pengecatan, ruang
produksi, tempat macam-macam limbah terutama pada ruangan tertutup.
Exhaust Air System adalah bagian
dari ilmu Tata Udara dan memiliki Standard design tertentu, sesuai
dengan kondisi kebutuhan dan tata letak ruang yang akan di kondisikan
agar ruangan terhindar dari tumpukan gas CO2, zat kimia beracun,
berkembang biaknya bakteri dan lain lain, yang dapat mengganggu
kesehatan.
Bukan hanya sekedar Exhaust-fan nya
saja, tetapi dengan standard desain tertentu, di arsitek akan memberikan
solusi tentang pengaturan udara di daerah dapur mereka dan asap2 yang
pasti akan masuk ke rumah mereka …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to ““Ah …, Itu Kan Hanya Sirik saja, Jika Tetangga Kita Berhasil” Duh!”
Posting Komentar