Senin, 29 April 2013
“Jadul”-nya Cerita Ibu Kartini Bersahabat Pena, Masa sih?
Senin, 29 April 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Dokumen Pribadi
Aku sebagai nara sumber tunggal
dipandu oleh mba Soraya Haque dengan latar belakang website pribadi
tentang balasan suratku kepada Lady Diana ( Princess of Wales ).
Nama Kartini memang sangat
menginspirasi, apalagi untukku. Tidak saja bulan April ini sering
dijadikan sebuah ‘bulan perempuan’ saja, tetapi juga untuk bulan2 yang
lain dan sepanjang hidup kita.
Tingkah polah ibu Kartini pun selalu
dijadikan contoh. Misalnya, budaya Jawa dengan bajunya yang sering di
perlombakan di masa kini. Walau Ibu Kartini akhirnya menyerah dengan
kehendak orang tuanya yang menginginkan dia menjadi istri ke-3 dari
Bupati Rembang, Ibu Kartini telah benar2 mengindspirasi perempuan2
setelahnya untuk lebih maju, ketika beliau ‘menuntut’ haknya sebagai
perempuan muda Indonesia …..
Begitu juga, ketika Ibu Kartini sempat
bersurat2an dengan sahabat2nya di Eropa. Walau surat2 mereka lama sampai
tempat tujuan ( jaman dulu bisa berbulan2 karena hanya lewat kapal laut
dan tidak setiap saat kapal itu berangkat ), tetapi persahabatan mereka
lewat surat mampu mencelikan mata Ibu Kartini untuk mendobrak tatanan
kehidupan perempuan2 muda pada waktu itu untuk bisa belajar, dengan
didirikannya ‘Sekolah Kartini’.
Dan salah satu itu lah yang
menginspirasi beberapa perempuan Indonesia, untuk bersahabat melalui
tulisan2nya lewat surat, salah satunya aku, Kartini muda Indonesia di
abad modern ini …..
Sangat berlebihan, jika aku dijadikan ‘icon’ Kartini sekarang. Tidak! Tetapi tidak berlebihan jika kita menyebut semua perempuan2 Indonesia saat ini adalah ‘Kartini’ Indonesia.
Karena Ibu Kartini lah, salah satu yang membuat aku, kami perempuan
Indonesia, menjadi seperti sekarang ini! Ditambah lagi ibu Dewi Sartika,
Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, dan sebagainya, yang berjuang
melawan penjajah, untuk Indonesia merdeka seperti sekarang ini.
Sosok
Kartini memperjuangkannya lewat pendidikan, mampu merubah alam pikiran
perempuan Indonesia untuk giat bersekolah dalam menjalankan misi
perjuangan Indonesia untuk merdeka …..
Masih dalam rangka memperingati Hari Kartini, Pinisi
Edutainment Park, sebuah area bermain anak2 yang mengedepankan
pendidikan anak2 dalam berkebudayaan dan berkarakter Indonesia,
menelponku untuk menjadi nara sumber sebagai salah satu perempuan muda
Indonesia yang masih memiliki kepekaan untuk bersahabat lewat tulisan
dan surat menyurat.
Tema yang di usung adalah :
“Menjalin Sahabat Pena Lintas Budaya Memperluas Pandangan Dunia”
Sangat menggetarkan hati, bahwa seorang
Kartini dengan umurnya yang masih muda, sudah bisa melihat bahwa
perempuan Indonsia harus maju, seperti sahabat2nya di Eropa!
Aku di pandu dengan mba Aya, bersama mba Ari ( Direktur Pinisi Edutainment Park ) serta 4 orang personil Popzzel.
Aku memang sudah bersurat2an dengan
sahabat2 pena dari dalam dan luar negeri dari SD. Bahkan dari SD pun,
aku sudah ‘bersahabat pena’ dengan banyak orang2 penting di seluruh
dunia! ( Lihat tulisanku Bermula dari Sahabat Pena, Aku ‘Berteman’ dengan Para Pembesar Banyak Negara ).
Sehingga Pinisi melihat bahwa untuk memperingati Hari Kartini tahun
2013, bukan hanya sekedar lomba Kebaya Kartini saja, tetapi lebuh dalam
dari itu. Bahwa justru dengan bersurat2an antara ibu Kartini dengan
sahabat2nya di Eropa, merupakan titik awal ibu Kartini mampu mengajak
teman2nya untuk mengajar dan mendidik anak2 perempuan pada masa itu
untuk bersekolah.
Background yang luar biasa, dibuat oleh Valentino! Terima kasih, hun … Juga beackground ssebagai penulis di Kompasiana …..
Jam 8.30 pagi, hari Jumat tanggal 26
April 2013 kemarin, aku diantar anakku, Michelle, dan Valentino untuk
sharing dengan anak2 serta orang tua mereka sebagai nara sumber tunggal,
yang dipandu oleh mba Soraya Haque di Pinisi Edutainment Park di
Pasaraya Blok M lantai 9. Kali ini adalah perdana aku tidak diantar papa
lagi setelah papa berpulang, dalam acara sebesar ini.
Mba Aya, begitu
kami akrab memanggilnya, mampu memotivasi untuk ingin tahu anak2, orang
tua serta guru2nya untuk ingin mencoba menulis surat. Pertanyaan2 mba
Aya serta beberapa pertanyaan dari audiens, menjadukan aku lebih
bersemangat lagi untuk terus mendukung kegiatan motivasi kepada anak2
dan remaja untuk tidak terus berkutat dengan gagdet serta ke-modern-an
bangsa, yang justru melupakan budaya dan karakter bangsa.
Dengan Pinisi serta salah satu grup band
baru yang mengusung lagu2 anak2 Indonesia, Popzzle, diharapkan bahwa
anak2 Indonesia akan lebih menghargai budaya Indonesia, walau memang
harus dikemas sedemikian untuk mengimbangi jaman abad ke-20 ini.
Sekitar 1 jam, mba Aya memandu aku untuk
bercerita tenang hobi masa kecilku dalam bersahabat pena. Memoriku
melayang sekitar 30 tahun lalu, sewaktu aku ada di tahun 1980-an, ketika
aku baru kelas 4 SD. Dan ketika tahun 1981 Lady Diana menikah dengan
Pangeran Charles, aku sangat ingin bertemu denan dia. Bagaimana caranya?
Dengan perkambangan jaman di era tahun 1980-an, satu2nya cara untuk
berhubungan dengan murah dengan Lady Diana adalah dengan mengirim surat
…..
Dengan tuliusan tangan berbahasa Ingrris
yang sangat sederhana ( maklum, waktu itu aku baru belajar bahasa
Inggris ) , aku menulis surat kepada beliau dan belasannya tentu membuat
aku bersorak2 dan berjimgkrakkan tidak karuan! Sehingga setelah itu aku
benar2 mengembangkan hobiku yang baru untuk terus bersahabat pena
dengan banyak pembesar negara2 di dunia!
Setelah sekitar 2 jam yang diselingi
lagu2 anak2 Indonesia jaman dahulu karangan Ibu Sud dengan pengarang2
lagu anak2 yang lain serta bertanya jawab dengan generasi muda sekarang
tentang makna Ibu Kartini dan bersahabat pena, kami turun panggung,
dengan penutupan berfoto bersama. Dan setelah itu, banyak wartawan
mengerubungiku untuk tanya jawab seputar banyak hal dengan mereka
melihat surat2ku, buku2ku serta keterbatasanku sebagai insan pasca
stroke …..
***
Kebanggaanku adalah bahwa ketika sebuah
hobi yang banyak orang menganggapnya adalah ’sampah’ di tengah2
globalisasi dunia sangat sangat modern ini, ternyata masih ada yang
berminat serta peduli dengan hobi jadul ini. Walau tidak mudah, ketika
hampir semua orang sangat fokus dengan gadget dan ke-moden-an nya, mau
untuk berkutat untuk ‘bersahabat pena’ dengan tulisan2 tangannya.
Wartawan2 yang datang kepadaku untuk
berdiskusi tentang banyak hal. Tetapi yang paling penting adalah mereka
terlihat sangat tertari dengan hobiku ini dan mem-foto 10 buah surat2ku
dari 88 surat balasan dari pembesar2 negara seluruh dunia …..
Aku memamerkan surat balasan Lady Diana
Ya, dengan ke-modern-an dunia sekarang
ini, tidak berlebihan ketika aku menganggap bahwa menulis surat dan
bersahabat pena dengan tulisan tangan akan sangat menyulitkan. Bahkan
mungkin befberapa anak ‘tidak mampu’ menulis tangan karena semuanya di
mampukan ‘menulis’ dengan ‘mengetik’ tuts2 gadget yang super canggih …..
Walau memang tidak gampang, aku tetap
‘ngotot’ bahwa dengan tulisan tangan, akan memberikan sebuah penghargaan
yang tiada tara bagi si penerima surat serta kebanggan bagi si penulis
surat. Dan dengan menulis surat secara tulisan tangan dan di pos kan
lewat kantor pos, akan di simpan sebagai ‘tanda mata’.
Walau
konsepku tetap juga mengikuti jaman sebagai insan yang hidup di jaman
ini. Bahwa semua surat balasan2 surat2 dari pembesar2 negara di seluruh
dunia, aku scan untuk di simpan dalam hardsisc serta ‘memamerkan’nya
lewat web site pribadi di http://christiesuharto.com.
Acara berlangsung dengan sangat meriah.
Sebuah acara yang sarat dengan budaya Indonesia serta ide2 yang lahir
dari Ibu Kartini, salah satu perempuan Indonesia sebagai tonggak sejarah
kaum perempuan Indonesia. Sebuah acara yang benar2 mampu untuk
membangkitkan motivasi bagi kita semua, bahwa semuanya berawal dari
sebuah mimpi serta sebuah titik dalam hidup kita yang terus berkeinginan
untuk mencapai yang lebih baik …..
Mimpi Ibu Kartini sudah membuat
perempuan Indonesia setara dengan lelaki, walau itu bukan berarti
perempuan Indonesia bisa seenaknya melawan kodratnya sebagai perempuan
…..
Terima kasih Ibu Kartini, terima kasih, Tuhanku …..
Tags: Edukasi , hobi , sosbud
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to ““Jadul”-nya Cerita Ibu Kartini Bersahabat Pena, Masa sih?”
Posting Komentar