Rabu, 02 Mei 2012
Potensi Wisata Jakarta: Wisata Budaya dan Kota Lama Vs. Wisata ‘Great Sale’?
Rabu, 02 Mei 2012 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
artkimianto.blogspot.com
Seperti yang banyak aku tulis tentang Jakarta, sebenarnya sangat beruntung bahwa Jakarta mempunyai potensi wisata yang banyak, walau, dengan jujur aku katakan bahwa potensi2 wisata itu sekarang masih ‘tidur’. Yang ada adalah, Jakarta mendirikan lagi banyak ‘wisata2′ yang lebih modern, dan sebenarnya TIDAK MENJADIKAN Jakarta menjadi lebih ‘bermakna’ bagi ibu kota negara.
Di banyak artikel tentang Jakarta Kota Tua ( lihat tulisanku Sedikit Pemikiran untuk Jakarta : Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota ( Bagian : 20 ),Sedikit Pemikiran untuk Jakarta : Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota ( Bagian : 21 ), Sedikit Pemikiran untuk Jakarta : Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota ( Bagian : 22 ), Sedikit Pemikiran untuk Jakarta: Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota ( Bagian : 23 ), Sedikit Pemikiran untuk Jakarta : Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota ( Bagian : 24 ), Sedikit Pemikiran untuk Jakarta : Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota ( Bagian : 25 ), Sedikit Pemikiran untuk Jakarta : Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota ( Bagian : 26 ) ), sebenarnya potensi wisata itu justru ada di KOTA BATAVIA LAMA nya.
Banyak sekali komunitas2 yang mulai menggalakkan ‘wisata kota lama’, bukan hanya yang langsung berhubungan dengan wisata-nya, tetapi ada juga yang bekerja sama dengan wisata, seperti komunitas filateli. Di komunitas ini, memang sengaja untuk selalu berdiskusi tentang filateli di Kota Lama, sangat mengasikkan. Atau juga sebuah komunitas ‘heritage’ ( lihat disini http://www.facebook.com/christie.damayanti?ref=profile#!/groups/loveourheritage/).
id.wikipedia.org
baltyra.com
Kota Batavia Lama, Jakarta, yang sebenarnya gedungnya sangat cantik dan menawan …..
yptravel.com
Pemda Jakarta pun sebenarnya mulai menggerakkan wisata Kota Lama Jakarta, tetapi menurut aku, sayang sekali, tidak berjalan dengan semestinya. Gembar gembor wisata Kota Lama Jakarta sudah sering kita dengar, mungkin sejak beberapa tahun lalu. Tetapi, gaungnyapun hanya samar2 terdengar. Pun di Kota Lama Jakarta sekarang ini, belum terlihat banyak perubahan, sebagai daerah wisata yang bisa menarik turis manca negara. Fasilitas2 umum belum terlayani dengan baik. Lalu lintaspun masih dan makin semrawut. Bahkan potensi wisata ‘Pasar Ikan’ yang banyak ingin di kunjungi wisatawan asing, sangat jorok dan bau, serta sama sekali tidak mempunyai fasilitas2 dan layanan publik.
Gedung tua di Batavia Lama, yang tidak di rawat, menjadi tempat ’sarang penjahat’, tempat
gelandangan, tanpa ada yang peduli …..
Pasar Ikan Jakarta, tanpa fasilitas umum dan layanan public.
Berbeda dengan wisata Jakarta modern, yang menurutku lebih banyak untuk ‘berfoya2′ dibandingkan sebagai Jakarta sebagai ‘hati’ dari Indonesia. Wisata2 modren misalnya, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Kebun Biatang Ragunan, atau taman2 cantik disekitar Jakarta. Ini baru HANYA ‘modern’.
Bagaimana dengan wisata Jakarta yang ’super modern?’. Yaitu bertambahnya mall atau kegiatan tentang wisata kuliner modern ( B&F di tempat khusus seperti di Citywalk atau FX ), membuat Jakarta kehilangan potensi budaya nya sebagai kota ketimuran di Indonesia, dan menjadi kota super megapolitan yang terfokus arus globalisasi dan meninggalkan budaya Indonesia.
tamanminiindonesiaindah.org
Dufan dan TMII, merupakan wisata modern, tetapi tetap ‘agak’ meninggalkan budaya Jakarta. TMII sih, masih dalam kreatifitas Indonesia, tetai di Dufan, merupakan tempat bersenang2, yang ada juga di luar Indoneisa ….. artinya, tempat itu merpakan bukan tempat yang spesifik Jakarta ….
Siapa menyalahkan siapa? Tidak salah, memang! Sama sekali tidak salah, jika Jakarta berfokus sebagai kota era globalisasi. Tidak banyak masing2 dari kita, sadar bahwa kita memdidik anak2 kita TIDAK mencintai budaya lokal! Anak2 kita terus diajak ke mall, diajak ke Ancol atau di ajak ke Puncak, tetapi tidak banyak yang mengajak anak2 kita berwisata ke Kota Tua Jakarta.
Wajar! Sangat wajar bila kita pun tidak ingin ke Kota Lama Jakarta karena tempatnya semrawut, macet dan tidak ada yang bisa ‘dilihat!’. Bangunan2 tua di Kota Lama Jakarta sebenarnya banyak yang cantik dan menarik, tetapi pemda tidak merawatnya! Banyak bangunan2 tua yang diterlantarkan tanpa ada yang merawatnya, sehingga menjadi ’sarang penjahat’. Sangat disayangkan!
m.okezone.com
Sekarang, salah satu andalan wisata Jakarta adalah Ancol, yang merupakan wisata yang semua punya di dunia : pantai, taman hiburan, hotel, dll …..
Ketika aku belajar sebagai mahasiswa arsitektur, pertama kali kuliah, kami diminta berjalan2 di Kota Lama Jakarta, membawa alat menggambar, kertas A3, crayon, dan kami harus menggambar banunan2 tua Jakarta serta lingkunganya. Itu kmi selalu diminta setiap hari Senin, seharian. Sorenya, kita asistensi dengan beberapa asisten dosen. Dan jika nilainya hanya B, besoknya harus mengulang lagi, sampai nilainya A. Dan ini, terjadi dalam 1 tahun ( 2 semester, mata kuliah Azas2 Perencanaan dan Perancangan ).
Artinya apa?
Bahwa, kami sebagai mahasiswa arsitektur, jangan nanti menjadi arsitek2 handal HANYA untuk mendesain bangunan dan lingkungan modern, TANPA melestarikan bangunan2 lama …..
beritabatavia.com
Dua mall khusus untuk Food & Beverage, selaku penuh di jam2 sibuk pulang kantor dan makan siang.
Potensi wisata Jakarta, seharusnya tetap seimbang antara wisata budaya, wisata kota tua, wisata kuliner, serta wisata modern, termasuk wisata belanja. Jika setiap pertengahan tahun Jakarta membuka wisata belanja ‘Great Sale’, mengapa tidak ada momen tiap tahun untuk wisata budaya dan kota tua Jakarta?
Jika ‘Great Sale, mal2 akan berdandan cantik untuk ‘mengeluarkan semua potenrinya dalam berjualan, marketing2nya mengeluarkan dana bermilyard2 untuk mendatangkan wisatawan asing ke Jakarta, mengapa pemda atau instansi yang ditunjuk tidak mau memperbaiki fasilitas2 Jakarta serta layanan public yang memadai
mediaindonesia.com
‘Great Sale’, modalnya banyak sekali, tetapi apakah menjadikan Jakaarta lebih bermakna bagi warganya? Dan apakah negara lain melihat Jakjarta sama saja dengan kota2 metopolitan yang lain atau ada yang ‘berbeda?’.
Yang aku mau, bahwa Jakarta harus mempunyai ’sesuatu’ yang spesifik untuk menandakan bahwa Jakarta adalah ibu kota negara Indonesia …..
Jika aku diminta untuk membenahi kota tua Jakarta, sebagai ‘city planning’ tidak susah untuk berkolaborasi dalam menciptakan fasilitas dan layanan public untuk wisata ini. Konsep2 itu sudah aku tuliskan di ats, tinggal menunggu bagi yang berminat untuk mulai berkarya bagi Jakarta kita tercinta kita …..
Masih banyak wisata2 yang ‘tersembunyi’. Banyak sekali. Mngkin ada baiknya, dari beberapa orang yang peduli dengan Jakarta, berdiskusi tentang wisata yang ‘tersembunyi’ itu, secara Jakarta adalah kota tua, yang sudah berumur lebih dari 400 tahun. Dan jika kita sempat membaca atau ke negeri lain, kota2 tua mempunyai banyak wisata ‘tersembunyi’. Aku memang sering berjalan2 dan aku selalu mengumpulkan brsur2 wisata kota tua.
Konsep kota tua di benakku, adalah sebuah kota yang sangat mengasyikkan untuk di telurusi, dan pasti akan banyak cerita, jika kita mau untuk menggalinya …..
Bagaimana Jakarta kita? Potensi wisata apa yang dapat digarap? Pasti banyak sekali …..
Salamku …..

Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Potensi Wisata Jakarta: Wisata Budaya dan Kota Lama Vs. Wisata ‘Great Sale’?”
Posting Komentar