Selasa, 15 Mei 2012

‘Fashionable’ Tidak Tergantung Umur dan Keterbatasan Seseorang




By Christie Damayanti

13370677681949425669
sayappqyu.wordpress.com
Seorang bekas anak buahku di sebuah proyek beberapa tahun lalu, mengajakku ngobrol, di suatu sore. Dia baru berumur 26 tahun, 10 tahun lebih tua dari anakku, Dennis yang tahun ini berulang tahun ke-16. Awalnya, dia sih sebenarnya hanya menanyakan sesuatu,

“Bu Christie, menurut ibu sebaiknya saya mengambil jurusan apa ya untuk saya melanjutkan kuliah S2 saya?”

Pertanyaan sederhana, walau jawabannya tidak sesederhana pertanyaannya …..
Aku sih tidak mau membahas pertanyaannya, juga tidak mau memberikan jawabannya disini. Aku hanya memikirkan tentang keinginannya untuk meminta ‘nasehat’ dariku, sejak kami ngobrol …..

Ex anak buahku, sebut saja Bran, sebenarnya memang ‘meminta’ aku untuk beberapa ‘nasehat’ untuk dia bisa melakukan apa yang aku sudah lakukan seumur hidupku. Laaah ….., siapalah aku? Mengapa aku yang diminta untuk ‘menasehati’nya? Memangnya, dia tidak punya orang tua lagi? Tidak punya saudara2 atau sahabat2?

Sedikit merenung, aku mulai ‘membuka’ hidupku. Aahhh ….. ternyata aku sudah ‘tua’ ya? Ternyata, sudah banyak generasi penerusku yang ingin aku sebagai ‘tetua’ mereka, padahal siapakah aku? Jika seseorang yang memang pakar di bidangnya, pastilah dia memang pantas sebagai tetua, tetapi jika aku? Sangat tidak pantas, seorang wanita separuh baya yang tidak menjadi panutan bagi siapa2 ……

Tahun ini, umurku 3 tahun lebih dari kepala 4. Hmmmmm, memang sudah ’sedikit tua’. Dan Bran berbeda hampir 20 tahun denganku. Dia masih pantas sebagai anakku, jika aku menikah muda, bukan? Ya, ternyata aku memang sudah pantas disebut ‘tetua’.

Berbalik ke masa laluku, sebelum tahun 2007 ketika aku memang harus bisa menghidupi keluargaku sendiri karena papanya anak2 meninggalkanku, aku berubah benar2 sebagai wanita mandiri, tegar dan ’struggle’. Dulu, sewaktu anak2ku masih kecil, awal2 tahun 2000-an, aku memang tetap bekerja, tetapi aku sangat menikmati hidupku sebagai seorang ibu muda, dari 2 anak balita. 

Dari membangunkannya, memandikannya, menyuapinya sampai mengajaknya bermain, aku benar2 menikmatinya. Apalagi, ketika mereka masih bayi. Aku tidur bersama mereka dan tiap 3 jam, mereka menangis untuk minta ASI, apalagi dulu belum banyak ‘pampers / napkins’, sehingga aku selalu mengganti popok mereka ……. Aku tidak pernah ‘overtime’ di pekerjaanku dan pulang kantor selalu ‘tenggo’ ( tepat waktu ). Tidak pernah lembur apalagi pulang pagi. Dan aku sangat menikmatinya …..

Fashion apapun itu, dulu untukku hanya sekedar fasilitas saja. Rambutku sepunggung, selalu memakai rok jika tidak ke kantor ( karena aku memang tetap sebagai pekerja lapangan ), sepatu hak tinggi, berbau wangi ( hihihi ….. memangnya sekarang ga wangi ? ), serta menggandeng 2 anak balita kemana kami pergi, khas ibu2 muda. Handphone hanya untuk pekerjaanku, dan selalu aku matikan jika aku sudah di jalan pulang kantor. Pokoknya, hidupku bermuara di keluargaku. Fokusku adalah keluargaku yaitu suami dan anak2ku.

Ketika tahun 2007 aku pindah ke rumah orang tuaku untuk menjaga anak2ku setelah bercerai, kehidupanku berubah total. Rambutku kupotong seperti pria supaya tidak ‘ribet’, fokusku tetap untuk anak2, tetapi kehidupanku bermuara sekitar pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan saja, karena aku benar2 harus mandiri dan bisa membiayai anak2ku.

Fashion sekarang untukku adalah bukan hanya untuk fasilitas saja, tetapi aku harus memanfaatkannya baik2 untuk memberikan aku semangat dan percaya diri yang tinggi dalam berkegiatan. Aku selalu memakai kemeja dan jins untuk pekerjaanku, ditambah blazer untuk kegiatanku sebagai dosen, dan baju2 nyaman untuk berkomunitas dengan mitra, klien atau teman2. Gadgetku benar2 untuk membuka wawasan lebih baik untuk mencari mitra dan NETWORKING


Dan setelah 1 tahun aku bercerai, teman2ku ( yang sebelumnya tidak tahu bahwa aku ‘ada’ karena aku tidak pernah mau diajak berkomunitas, kecuali dengan keluargaku ), sontak menjadi ‘terkenal’ dikalangan terbatas. Dimana jika ada komunitas tertentu itu berkumpul, aku pasti ada, untuk menggalang networking sebagai orang tua tunggal untuk mencari2 celah untuk tabungan bagi anak2ku.

Dan ketika aku sakit, walau aku dalam keterbatasan, aku tetap tidak segan2 untuk terus mencoba mandiri dan ‘struggle’, walau tetap masih harus ditemani. Memang tidak bisa setiap saat dalam komunitasku yang dulu, tetapi dengan komunitas2ku yang baru, aku tetap tampil dalam percaya diri yang sangat tinggi ….. tetap membangun optimisme untuk meraih mimpi2ku yang belum terlaksana ……

Kembali lagi tentang umur, aku ternyata sudah ‘separuh’ jalan menuju Rumah Tuhan. Ketika aku masih berumur dibawah 40 tahun, dan ketika anak2ku sama sekali belum bisa melakukan kebutuhannya sendiri, aku sangat menikmati perananku sebagai ibu muda. Aku menggendong anak2ku bergantian ( karena mereka maunya dengan aku ), aku menyuapi mereka bersama2 di manapun sebelum aku makan sendiri, atau aku mencarikan semua kebutuhan mereka dengan bahagia.

Tetapi ketika anak2ku sudah bisa melakukan kegiatan untuk kebutuhan mereka sendiri ( mungkin sejak akhir SD ), apalagi aku sudah ‘berganti rupa’ tahun 2007, penampilankupun berubah. Dan sampai sekarang, setelah anak perempuanku sudah lebih tinggi dariku, fashion untukku sekarang, justru membuat aku lebih nyaman, bersama dengan Michelle anakku, membangun percaya diri yang tinggi dalam keterbatasanku ……

Fashion adalah gaya ‘berpakaian’ ( termasuk juga tentang lifestyle, seni ataupun makanan ) yang populer dalam sebuah budaya. Fashion yang dikenakan oleh seseorang, akan mampu mencerminkan siapa si penggunanya.(wikipedia).

Fashion akan membawa ‘pesan’ untuk sebuah gaya hidup suatu komunitas tertentu dan menjadi suatu bagian dari sebuah kehidupan sosial. Fashion juga bisa ‘mengekspresikan’ sebuah identitas tertentu.

Seseorang yang ‘fashionable’ secara tidak langsung mengkonstruksi dirinya sebagai seseorang yang bisa membawakan dirinya dalam sebuah kegiatan atau komunitas tertentu. Dan menurut Malcom Barnard ( sesorang yang berkiprah dalam dunia fashion dan pakar komunikasi ), fashion bisa juga di definisikan sebagai seseorang / sesuatu dalam melakukan dan bertindak tertentu.

Artinya, begitu aku sudah ‘merasa bebas’ sebagai ibu muda ( karena anak2ku sudah bisa melukan kebutuhannya sendiri ) dan ‘bebas’ sebagai istri ( karena aku hidup bersama kedua orang tua dan anak2ku ), aku mulai mencari identitas diri baru. Sehingga, fashion untukku ( termasuk gaya berpakaian, lifestyle, gadget, makanan dan sebagainya ) sekarang benar2 sebagai pemenuhan kebutuhanku dalam membangun percaya diri dan untuk mengekspresikan diri sebagai wanita separuh baya dalam keterbatasan …..

Dari sekedar pertanyaan sederhana, aku bisa ‘berbalik’ dan ‘flashback’ dalam kehidupanku. Ternyata, umur seseorang tidak menjadikan seseorang itu ‘mundur’ dalam kehidupannya ( sering orang berkata, “Aaaahhh ….. sudah tua, buat apa beli2 baju model jaman sekarang?” ). Juga ternyata bagi orang sakit seperti aku, ternyata tidak menyurutkan aku untuk bisa ‘berdandan’ ( ala aku lhoooo ) seperti yang aku mau. Bahkan, banyak sahabat2ku mengatakan bahwa aku sangat ‘fasionable’ ……

Ketika ‘fashion’ dalam sebuah kehidupan, ternyata bukan hanya untuk ‘mempercantik’ kehidupan itu sendiri saja, tetapi lebih untuk menanamkan rasa OPTIMISME dan RASA PERCAYA DIRI, untuk bisa membangun semangat dalam berkehidupan demi masa depan ……

1337009952240685742

Tags:

0 Responses to “ ‘Fashionable’ Tidak Tergantung Umur dan Keterbatasan Seseorang”

Posting Komentar

Subscribe

Berlangganan Artikel Saya

© 2013 Christie Damayanti. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks