Rabu, 02 Maret 2011
Anak Kucing pun Tidak Kenal Menyerah
Rabu, 02 Maret 2011 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Kemarin, aku berada di suatu klinik
stroke untuk menjalani terapi dengan therapist dari Jerman. Pagi2 aku
sudah datang, hanya untuk ‘menyesuaikan diri’, untuk membuat aku lebih
‘familiar’ untuk menjalani terapi ini. Aku berjalan2 di taman dalam,
membuat beberapa foto dan berfikir untuk tulisanku. Tiba2 aku melihat 2
ekor kucing, warna abu2 dan warna coklat. Pertama aku pikir itu 2 ekor
kucing yg bereda, Tetapi ternyata, itu ibu dan anak : ibunya berwarna
abu2 dan anaknya berwarna coklat. Apa yg membuat aku berpikir bahwa
mereka adalah ibu dan anak? Begini ceritanya :
Ibu dan anak kucing itu berjalan
berendengan. Sepertinya, sedang santai, terlihat si anak kucing hanya
bermain2 dan berlari2 kesana kemari, sedangkan ibunya hanya berjalan dan
bolak balik duduk sambil tiduran.
Si ibu hanya duduk di tanah, sementara si anak bermain.
Tiba2 si ibu berlali memanjat pohon dan langsung ke atas paga dan si anak menyusulnya, lihat dibelakangnya …..
Dan si anakpun berusaha melompat ke
atas pagar, sampai si anak mencari tempat untuk ke atas pagar, tetapi
tetap tdk bisa melompat.
Tiba2 si ibu lari dam naik ke pohon,
cepat sekali ( sampai aku membuat foto agak buram ) dan naik ke atas
pagar. Dan si anak kucingpun mengikutinya sambil berteriak2 ;
‘Miau ….
miau … miau ….”. Sedikit rebut dan aku tersenyum senang.
Begitu sampai setinggi pagar, si ibu
kucing langsung meloncot, dan ….. hup! Sampailah si ibu kucing itu ke
atas pagar. Dan si anak ternyata tidak berani. Dia berteriak2 , mungkin
minta tolong ibunya untuk membantunya. Si ibu Cuma ‘melirik’ sekilas dan
dia langsung menuju genteng rumah, tidak tahu apa yg menarik minatnya.
Si anak kucing kecil itu, naik turun
pohon dan berteriak2 keras dan ibunya sudah tidak terlihat. Sepertinya
anaknya menangis, suaranya memilukan sekali. Di pohon, bolak balik ke
atas kebawah, sampai jika turun, dia turun dengan kepala dibawah ….. Dan
terrakhir, si anak ini duduk di bawah pohon dan memandang ke genteng
tempat ibunya menghilang …..
Setelah beberapa menit, si anak kucing
berlari keluar pagar taman dalam, mencari peluang untuk memanjat pagar
dimana ibunya meloncat. Dia naik turun banyak pohon untuk dapat mencapai
pagar. Tidak kenal lelah, sambil teriak2 kencang, mungkin memanggil
ibunya, untuk cepat turun :
“Mama ….. mama, aku mau ikutttttt ……aku
takut sendiri disini … mamaaaaaa ……”
Si anak kucingpun turun dan hanya duduk termenung, menunggu ibunya menjemputnya …..
Tapi ternyata tetap gagal. Dan memang
pagar itu sedikit jauh dari pohon2 disekelilingnya. Dan mungkin si anak
kucing itu memang masih kecil dan masih takut untuk meloncat …… Dia
tetap duduk dibawah pohon tempat ibunya pertama kali. Aku melihatnya, si
anak kucing itu sedih sekali, suaranya semakin habis dan ibunya belum
juga menjemputnya.
Kira2 10 menit setelah si anak duduk
dibawah pohon, menangis, si ibu pulang. Si anak langsung berteriak2 lagi
dengan gembira. Dan si ibupun turun, juga lewat pohon itu. Si anak
ketihatan senang sekali. Si anak bermanja2 sambil si ibu duduk di bawah
pohon itu. Sampai tiba2 ibunya memanjat pohon itu lagi dan si anak
mengikutinya, sambil tidak lupa berteriak2, mungkin dia ketakutan
ditinggal lagi oelah ibunya.
Ibunya kembali lagi untuk menjemput si anak kucing itu. Dan si anakpun senang sekali.
Si anak kucing bolak balik naik turun pohon untuk mengumpulkan keberanian melompat ke atas pagar.
Dan …… hup ! Si anak kucingpun melompat menemui ibunya …..
Tetapi si ibu sekarang tidak
meninggalkanya. Setelah ibunya meloncat ke pagar, dia menemani dan
mungkin ‘mengaba2′ anaknya untuk mengiuti meloncat ke pagar. Dengan
sabar, ibunya duduk di agar dan anaknya bolak balik turun pohon, mungkin
dia lagi mengambil ‘ancang2′ untuk melompat. Dan setelah beberapa menit
……. Hup ! Si anak kucing itu ternyata bisa melompat dari pohon ke atas
pagar tempat ibunya menunggunya ….. Dan ternyata, si kucing kecil itu
bisa melompat, hanya saja butuh waktu.
Seekor anak kucing kecil itu, ternyata
membuat aku berpikir bahwa hidup kita harus dipeejuangkan dengan
sebaik2nya. Tidak ada kata menyerah, walau banyak masalah. Seperti aku,
dengan keadaan aku ‘pasca stroke’ seperti ini yg masih banyak
kekuranganya dan dengan waktu yang tidak terbatas ‘kapan aku sembu
seperti sediakala’, aku tetap harus memperjuangkanya. Ditambah dengan
berdoa, kita akan bisa melewatinya, seperti si anak kucing kecil itu …..
Salamku …..
Tags: Catatan Harian , sahabat
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Anak Kucing pun Tidak Kenal Menyerah”
Posting Komentar