Rabu, 29 Mei 2013
Peduli dengan Adanya Kebakaran? Sepertinya Tidak ……
Rabu, 29 Mei 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Tags:
Edukasi ,
urban
www.bbc.co.u
Sebenarnya, pagi tadi di kantorku ada
pelatihan kebakaran. Konsepnya adalah untuk melatih warga yang berkantor
di gedung tinggi ( atau semua gedung ) untuk bersiap jia mema g terjadi
kebakaran. Sayang, aku tidak ikut dengan keterbatasanku dan selain itu
tadi aku harus terapi pagi …..
Latihan ketika terjadi kebakaran selalu
ada di semua instansi, apalagi jika di tempat2 umum dan gedung2 tinggi.
Tetapi sepertinya latihan2 seperti ini jarang dilakukan! Ketika aku
bekerja di perusahaan tempat aku bekerja sekarang, dalam 1 tahun
beberapa kali kami berlatih jika ada kebakaran. Tetapi dari beberapa
sumber dan pertanyaan2ku untuk teman2ku, mereka tidak pernah berlatih
jika terjadi kebakaran.
Sebenarnya, berlatih jika ada kebakaran,
sangat sesuai dengan konsep hidup orang banyak. Apalagi, jujur, aku
mmelihat bahwa tidak semua developer yang peduli atau menganggap remeh
tentang kebakaran, apalagi jika di hitung2, memang modal untuk memenuhi
kesiapan tentang kebakaran, tidaklah sedikit. Dari fisik bangunan yang
sangat ketat tentang pencegahan kebakaran, sampai biaya maintenancenya.
Coba bayangkan beberapa fisik desain pada bangunan, yang kesemuanya mempunyai cost dan biaya tersendiri :
1. Tentang tangga kebakaran, harus
minimal berjarak 20 - 25 meter antar tangga kebakaran.
Dan itu ternyata
dinilai pemborosan, alhasil hanya ada 1 tangga kebakaran yang
berfungsi. Sisanya untuk gudang. Tangga kebakaran itu tidak sama dengan
tangga biasa, dengan standard2 yang jelas : pintu khusus, di cat khusus
dan harus kosong dan rapi karena siap jika digunakan ( karena panik ).
Selebihnya karena tidak pernah ada kebakaran, tangga kebakaran hanya
untuk sampah, gudang, merokok atau berpacaran ( karena sering
mendapatkan kegiatan itu disana ).
2. Hydrant, sama saja, masing2
hydrant coverage areanya sekitar R50 meter ( radius 50 meter ) dengan
perhitungan bahwa panjang selang 30 meter dan semprotan airnya sekitar
20 meter. Dan banyak pemilik bangunan tidak peduli dengan ini. Alhasil,
desain bangunan mempunyai hydrant tapi tidak dibangun. Atauoun ada, idak
di maintenance dengan tidak adanya simpanan airnya.
3. Tabung pemadam, pun antar
tabung minimal 20 meter dan diletakkan yang cepat dan gampang dijangkau
orang jika terjadi kebakaran. Tetapi tabung ini pun butuh perawatan
sehingga harus selalu di tera ulang tiap beberapa periodik sekali.
4. Sringkler, jua merupakan yang
harus ada di bangunan. Coverage areanya pun sekitar 20 meter yang banyak
sekali pemilik bangunan tidak peduli dengan keamanan bangunannya.
Banyak ruangan2 kantor atau bangunan2 umum tidak ada springklernya atau
springklr yang ada tidak berfungsi.
fireaidswork.co.uk
Dan sebagainya. Yang kesemuanya harus
dihubungkan dengan sumber air yang baik yang tidak macet. Bayangkan
berapa ribuan meter selang dan pipa yang dibutuhkan dan berapa kubik air
yang harus ada?
Masih banyak yang lain untuk antisipasi
jika terjadi kebakaran di bangunan2 umum. Ditambah lagi dengan adanya (
seharusnya ) latihan untuk kebakaran di gedung2 yang bersifat umum.
Bahwa semua gedung ada divisinya masing2, salah satunya dengan jika
terjadi kebakaran, nilai kerugian, dampak jika terjadi kebakaran,
penanggung jawab penanggulangan bahaya kebakaran serta kesigapan
personelnya. Dasarnya adalah dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah. Bahwa memang kebakaran akan berdampak kerugian materiil dan juga
kehilangaan jiwa.
Di luar negeri, yang aku tahu jika ada
pelatihan jika terjaadi kebakaran jarang yang memberi tahukan. Karena
jika diberi tahu, orang2 merasa tidak takut dan menjadi santai. Bahkan
banya orng yang tidak mengikuti pentahapan2 evakuasi. Mereka memang
memberi tahukan akan latihan2 tersebut di beberapa periodik tertentu,
tetapi tifdak diberitahukan waktuna. Sehingga mereka akan bertanya2,
jika sirine berbunyi kita tidak tahu, apakah benar2 ada kebakaran atau
hanya latihan saja. Dan warga disana mematuhi setiap evakuasi dan setiap
sirine yang dibunyikan. Karena mereka peduli dengan nyawa mereka …..
Berbeda dengan di Jakarta, ujur aku
harus katakan. Bahwa warga Jakarta benar2 tudak peduli dengan nyawa
mereka dan benar2 masing2 acuh tak acuh. Sehingga betapapun pemiilik
bangunan atau si desainer merancangnya, jika mereka cuek saja, pelatihan
kebakaran seperti ini tidak bermanfaat …..
Tadi begitu aku masuk gedung
perkantoranku, sorang satpam bercerita tentang pelatihan kebakaran.
Katanya, tidak banyak orang2 di perkantoranku turun, masih banyak yang
tetap tinggal di lantai atas. Petugaspun banyak yang kebingungan ketika
orang2 tersebut menolak untuk turun, mendingan bekerja saja, atau memang
malas untuk lari2 turun lewat tangga kebakaran.
Ya, jika harus latihan, kita di bimbing
evakuasi untuk tenang dan sabar turun tangga darurat. Lift tidak boleh
digunakan. Bayangkan jika harus turun dari lantai 43 tempatku bekerja,
berdesak2an sampai lantai dasar dan bergerombol sebelum harus naik
kembali lewat lift jika sudah selesai. Butuh waktu dan pengorbanan …..
Sekarang, bagaimana dengan warga
disabled yang bekerja di bangunan2 umum, seperti aku? Aku tidak akan
bisa dan tidak mampu untuk berebutan turun di tangga darurat, apalagi
dari lantai 43. Jika kebakaran itu toh terjadi, semuanya akan panik, dan
aku akan terinjak2 karena semuanya masing2 akan berebut untuk
menyelamatkan diri sendiri. Dengan naik turun 2 lantai saja aku
kepayahan, apalagi 43 lantai?
Apa yang harus aku perbuat? Menunggu
untuk diselamatkan? Panik? Menangis? Tidak! Aku harus bisa berpikir
untuk menyelamatkan diriku sendiri. Walau aku cacat, aku masih mempunyai
otak dan akal. Memang, sepertinya bahkan di seluruh dunia, beum ada
desain dan pemikiran tentang evakuasi penyelamatan warga disabled,
seperti aku. Memang tidak gampang dan aku tertantang untuk memikirkannya
……
Semoga dalam waktu dekat aku bisa
memperoleh sedikit pencerahan untuk membuat evakuasi bagi warga disabled
jika terjadi kebakaran atau bahaya2 yang lainnya, karena warga disabled
dan warga2 yang dalam keterbatasan, memang merupakan warga dengan
ke-khusus-an tersendiri, tetapi kita tetap merupakan warga negara yang
mempunyai hak dan kewajiban …..
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Peduli dengan Adanya Kebakaran? Sepertinya Tidak ……”
Posting Komentar