Rabu, 01 Mei 2013
Budaya Nasional? Mendingan Juga Gadget atau ‘Modern Dance’
Rabu, 01 Mei 2013 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Dokumentasi Pribadi
Ketika budaya Indonesia sekarang hanya
sebagai pajangan saja di mata kaum muda Indonesia, tidak banyak yang
benar2 nyata yang mencoba mengangkatnya. Memang, pada kenyataannya tidak
mudah. Jangankan budaya dan seni Indonesia secara nasional, hanya
sekedar 1 lagu atau 1 tarian saja, komunitas2 pendidikan tidak banyak
yang mencoba mengangkatnya, dengan mengadakan ekstra kurikuler di
sekolahnya, atau dengan mengadakan ‘pesta budaya’ di sekolahnya,
misalnya …..
Aku ingat, ketika aku SD. Aku bersekolah
di sekolah Kristen PSKD Kwitang 5 Kebayoran Baru. Ekstra kurikulernya
memang tidak ada yang mengangkat budaya lokal. Seperti biasa, hanya olah
raga ( basket, volley dan kasti ), dan beberapa ekstra kurikuler yang
lain ( aku lupa ) dan memang tidak ada mengenai tari2an daerah.
Tetapi ketika kami kelas 4 SD, kepala sekolah kami memberitahukan bahwa
untuk kami bisa lulus ujian SD, muatan lokal di sekolah kami harus bisa
menarikan 1 tarian daerah, dari manapun dan menyanyikan lagu daerah,
juga dari manapun.
Untuk lagu daerah, setelah kelas 4 SD
setiap catur-wulan kami diharuskan untuk menyanyikan 2 lagu daerah yang
di iringi oleh alat musik! Sehingga, setelah pengumuman itu, kami
berlomba mencari guru tari dari luar sekolah untuk belajar menarikan
tarian daerah, tidak terkecuali anak laki2! Itu sekitar awal tahun
1980-an.
Untuk lagu2 daerah, memang kami bisa
membeli buku tentang lagu2 daerah populer di Gramedia, tetapi tidak
mudah menanyikan dan menghafalnya. ‘Cengkok’ nya juga harus di pelajari,
bukan? Dan namanya juga anak2 yang hidup di Jakarta, yang tidak pernah
mengenal budaya lokal, sehingga mereka mempelajari 1 lagu dan 1 tarian
saja tidak gampang, belum lagi ‘cengkok’ dan gerakan2nya untuk dihafal
…..
Termasuk juga aku dan kedua adikku ( 2
orang adikku semuanya laki2 ). Mama mencarikan kami guru nari untuk
kami. Kami memilih tarian Bali. Mama mendapatkan guru tari Bali dari
sepupuku yang memang suka Tari Bali. Namanya pak Made dan istrinya (
namanya lupa ) dan kami belajar di rumah. Bergantian pak Made dan
istrinya mengajarkan kami tari Bali, di rumah kami ( private ). Kalau
tidak salah, mereka juga guru Tari Bali salah seorang Kompasianer, mba
Sita …..
Teman2 kami belajar tari dari banyak
daerah. Ada yang belajar Tari Jawa, Tari Minahasa, Tari Sunda, dan
sebagainya, sehingga ketika ujian lokal tiba, sekolah kami seperti
sebuah ‘pesta rakyat’ dengan beragam baju daerah untuk menari serta
menyanyi ….. Dan aku ‘keterusan’ menari Bali sampai aku lulus SMA (
adik2ku hanya sampai ujian SD )…… Untukku, ini suatu terobosan untuk
mengangkat pamor tarian dan nyanyian daerah, bukan?
Tetapi ternyata hanya sekolah kami yang
seperti itu. Pun hanya sampai kepala sekolahnya selesai bertugas, dan
setelahnya, tidak ada lagi kegiatan seperti itu …..
Memang, masih ada beberapa komunitas
yang terus tanpa mengenal lelah, merjuang melestarikan budaya Indonesia.
Apalagi di kota2 kecil. Seperti yang aku lakukan sewaktu aku di
Yogyakarta, yaitu belajar membatik ( lihat tulisanku ‘Pembatik’ : Apakah Indonesia Akan Kehilangan Banyak Potensi Tradisionil ? dan Wisata Membatik : Seni Tradisional HARUS menjadi ‘Heritage’ Indonesia ). Sebuah tujuan wisata untuk melestarikan budaya nasional ……
***.
Memang sangat tidak gampang, ketika abad
21 yang terfokus dengan teknologi dan informasi seperti ini, kaum muda
mau susah2 mempelajari budaya daerah. Aku sangat mengerti. Bahkan
anak2ku pun sama sekali tidak tertarik, ketika aku mengajaknya untuk
belajar Tari Bali. Anak2ku ‘terpaksa’ belajar nyanyian daerha ketika
sekolahnya memang meminta mereka menyanyikannya dalam mata pelajaran
kesenian. Walau ketika kami di Yogyakarta, mereka tertarik untuk belajar
membatik …..
Di sebuah ajungan komunitas edukasi, ada
Pinisi Edutainment Park yang bertempat di Pasaraya Blok M lantai 9.
Konsepnya adalah seperti Kidzania di Pacific Place. Bedanya adalah
Kidzania merupakan komunitas ‘hobi’ dan cita2, tetapi Pinisi merupakan
kegiatan budaya. Berawal dari masuk ke Kapal Pinisi, kita dibawa
‘berlayar’ ( dengan banyak kegiatan yang seolah2 ‘out-bond’ ) dan
memasuki desa wisata nusantara. Ada kelas musik budaya lokal serta
dengan alat musiunya seperti gamelan Jawa serta Angkluk dari Minahasa.
Atau juga kegiatan menari, dengsn beragam jenis tarian yang diajarkan
oleh guru2 tari dari berbagai daerah Indonesia.
pinisi.co.id
Atau juga kelas membatik, dengan belajar
membatik dalam desain modern, juga ada kelas ppedalangan’ ( atau dalang
) dengan banyak wayang dari Jawa ( Wayang Kulit ) atau dari Sunda (
Wayang Golek ). Semuanya di dukung oleh alat2 modern, seperti TV dan
sounds system, serta internet. Sangat menarik! Mereka belajar sambil
bermain. Dan walau mereka belajar budaya daerah, mereka juga berada di
dunia mereka, gadget.
Kelas Tari, berbentuk studio dengan cermin besar serta disediakan beberapa selendang untuk belajar menari …..
Kelas Batik, lengkap dengan kain dan lilin serta ‘canting’nya …..
Kelas Pedalangan, dengan banyak
jenis wayang nusantara. Semuanya di kemas dengan menarik dan didukung
oleh TV serta sound system yang keren …..
Kelas Angklung
Kelas Gamelan
Kelas Drama dan Vokal
Jika bosan atau selesai membuat
batik, belajar menari atau bermain anglung dan gamelan, mereka pun bisa
‘mementaskan’nya disini, dan yang menonton adalah teman2 mereka atau
guru2 mereka ….. Sangat menarik dan membuat semangat untuk melestarikan
budaya Indonesia …..
Aku memang baru sekali itu kesana,
ketika diminta sebagai nara sumber tentang ‘bersahabat pena’ di acara
Talk Show Hari Kartini ( lihat tulisanku “Jadul”-nya Cerita Ibu Kartini Bersahabat Pena, Masa sih? ).
Dan aku sagnat tertarik untuk melihat2 kelas tersebut sebelum mulai
Talk Show nya. Dengan diantar oleh salah satu petugas disana, aku
berjalan bekeliling dan sedikit mengobrol dengan guru2 masing2 kelas
itu.
Memang tidak lama, tetapi kesan yang aku tangkap bahwa Pinisi
Edutainment Park merupakan salah satu upaya anak bangsa yang ingin ikut
melestarikan budaya bangsa Indonesia, yang semakin lama semakin tergerus
jaman …..
Beberapa penyataan kaum muda lewat
personel Popzzle pada acara Talk Show tanggal 26 April 2013 kemarin itu
mengatakan bahwa, anak2 dan remaja memang akan susah untuk mau
mempelajari lagu2 daerah apalagi tarian2 daerah. Tetapi dengan mengemas lagu2
dan tarian2 daerah dengan berkolaborasi lagu2 dan tarian2 modern,
paling tidak mereka akan mulai mengenalnya.
Dan ketika mereka sudah
mulai tertarik, kita juga harus tanggap untuk mendukung mereka dengan
didikan2 yang sesuai. Misalnya, jika mereka belajar ‘modern pop dance’,
selipkanlah gerakan Tari Bali atau Jaipongan. Lama2 mereka akan suka dan
ketika mereka ingin mempelajarinya lebih lanjut, ajarkanlah gerakan2
tarian2 daerah itu lebih dalam dan lebih banyak, dibandingan dengan
tarian modern yang mereka suka dengan musik daerah yang dicampur dengan
lagu2 modern …..
Dan kemasan2 seperti ini, sekarang sudah
mulai diminati oleh kaum muda Indonesia, seperti kelompok vokal dan
tari Popzzle ini …..
Budaya Indonesia merupakan budaya yang sebenarnya dan seharusnya merupakan ‘harta karun’ dunia.
Artinya, setiap budaya di suatu negara seharusnya selalu dilestarikan
untuk keturunan kita. Ketika kita sudah tidak ada, keturunan2 kita bisa
melihat bagaimana budaya masing2 dapat terus ada. Seperti budaya Inca,
budaya Mesir atau budaya China. Budaya2 tersebut sudah ribuan tahun
lalu, tetapi sampai sekarang masih ada dan terus dilestarikan.
Begitu juga budaya Indonesia. Aku memang
sangat menyenangi budaya2 tradisional Nusantara, juga budaya2 lokal
negara2 lain. Sangat semangat untuk melestarikannya, walau belum tahu
bagaimana harus memulainya. Paling tidak, aku tetap berkepribadian
Bangsa Indonesia, walau hanya sekedar mencintai budaya lokal dan memakai
pakaian nusantara, seperti Batik, sesering mungkin …..
*Jika aku sehat, mungkin aku bisa tetap menarikan Tari Bali di event2 tertentu, bersama mba Sita …..*
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Budaya Nasional? Mendingan Juga Gadget atau ‘Modern Dance’”
Posting Komentar