Jumat, 14 Januari 2011
Ada Artwork di Stasiun MRT di Singapura
Jumat, 14 Januari 2011 by Christie Damayanti
By Christie Damayanti
Pemerintah Singapura sadar, bahwa kenyamanan dalam bertransportasi
sangatlah penting. Disadari kalau transportasi masal ( kereta, bus,
boat, dll ) tidak nyaman, maka warga kota akan kembali ke mobil pribadi
yang dianggap paling nyaman. Itu akan menimbulkan problem padat /
kemacetan dimana2.
Suasana di MRT, menunggu kereta. Masing2 ada
dijalur khusus sehingga masing2 penumpang naik maupun turun kereta,
tidak aling bertabrakkan ( lihat warna2 keramik ini, menandakan konsep
keteraturan ).
Lihatlah konsep disainer. Yang turun, di tengah
dan yg naik dari samping kiri dan kanannya. Dan aku tidak pernah
mendapatkan bahwa warga saling serobot karena mereka memang patuh dan
teratur !!! Luar biasa !!!
Lihat juga dengan denda2 yang pemerintah Singapura
jalankan. Sehingga warga memang sangat patuh, karena hokum Singapura
memang sangat ditegakkan …..
*Kapan ya Indonesia seperti ini, atau setidaknya Jakarta?*
Entance dari jalanan menuju stasiun MRT
MRT di Singapura sudah menjangkau sebagian besar daerah sibuk, dengan
sistim 4 sabuk yang berbeda, kearah barat, timur, utara & selatan.
Kita sebagai turispun merasakan kenyamanan & kemudahan dalam
menggunakan jasa ini. Jalurnya jelas, tanda2nya jelas serta nyaman dan
aman. Saya berkeliling Singapore hingga jam 12 malam tanpa ada rasa
takut sama sekali. Suasananya cozy & tetap ramai hingga dini hari.
Kereta terakhir rata2 jam 12 malam hingga 1 pagi.
Jalur MRT Singapura
Mass Rapid Transit atau MRT adalah
sistem yang membentuk tulang punggung sistim kereta api di Singapura
yang mencakup seluruh kota / Negara. Bagian awal dari MRT, antara Yio
Chu Kang dan Toa Payoh Station, dibuka pada tahun 1987 membangun dirinya
sebagai yang tertua sistem metro-kedua di Asia Tenggara , setela Manila. Jaringan
ini telah berkembang dengan pesat sebagai akibat dari itu tujuan
Singapura mengembangkan jaringan kereta api yang komprehensif sebagai
tulang punggung utama dari sistim transpotasi umum di Singapura.
Stasiun MRT seperti ini, sering kali dimanfaatkan
untuk anak2 SD dan SMP mengerjakan tugannya dari sekolah. Sering juga
aku mendapatkan mereka latihan music : vianika atau suling dan gitar,
sehingga justru dapat ‘menghibur’ calon penumpang. Herannya, antara
mereka aku tidak pernah mendapatkan saling bertengkar …..
Arsitektur dan seni
Selain itu, desainnyapun tidak dibuat asal2an. Sangat memperhatikan
detail, dari plafond, dinding, lantai bahkan mnggunakan special lighting
dan artwork.
Tahap awal konstruksi MRT relatif sedikit perhatian untuk merancang
stasiun, dengan penekanan pada fungsi di atas estetika. Pengecualian
untuk ini adalah Orchard Station, dipilih oleh desainer untuk menjadi
“barang pameran” dari sistem dan awalnya dibangun dengan atap kubah.
Tema Arsitektur menjadi isu yang lebih penting hanya dalam tahap
berikutnya, dan menghasilkan desain seperti sebagai stasiun bentuk
silinder di semua stasiun.
Potongan Seni, di mana saat ini, jarang disorot, mereka terutama terdiri
dari beberapa lukisan atau patung yang mewakili masa lalu Singapura,
dipasang di stasiun utama. Dibuat oleh 19 seniman lokal dan terintegrasi
dalam interior arsitektur stasiun ini, karya seni ini bertujuan untuk
meningkatkan apresiasi seni public di lingkungan lalu lintas yang
tinggi. Sebuah kontes seni diadakan oleh pihak berwenang dalam
penyusunan skema yang sama untuk diterapkan untuk Line Circle mendatang.
Lukisan dinding 1
Lukisan Dinding 2
Lukisan Dinding 3
Beberapa desain artwok pada dinding terminal MRT
Artwork gantung
Hiasan di kolom hampir semua dari mozaik
Selain di dinding2, artwork juga banyak terdapat di plafond (
langit2 ) berbentuk gantungan2 bergambar dan kolom2. Biasanya didesain
bila ada momentum khusus.
Sebagian besar material menggunakan stainless steel. Lantai menggunakan
marmer, dengan pola2 tertentu. Dibeberapa tempat, menggunakan hiasan
keramik, mozaik serta kayu.
Lukisan lantai dari marmer
Lukisan lantai dari marmer
Salah satu pola lantai marmer dengan water jet (
memotong marmer dengan menggunakan mesin karena melengkung, bila
memotong dengan pisau tangan, akan sulit sekali dan tidak rapih )
Tuna netra dan warga disable sangat diperhatikan oleh pemerintah
Singapura. Untuk jalur2 yg memakai kusi roda, dibuat khusus. Tempat
masuknya, bahkan toiletnya.
Pintu khusus untuk disable ada di samping pintu2 normal.
Toilet khusus disable yang sangat diperhatikan
Tanda2 / jalur khusus untuk tuna netra juga sangat jelas, yaitu lantai
dengan penonjolan & setiap persimpangan, terdapat interchange.
Desain untuk mereka benar2 diperhatikan oleh desainer. Keramik2nyapun
dipesan khusus. Setiap desain menunjukkan konsep keteraturan bentuk,
sehingga menjadi standard mereka.
Penonjolan pada lantai sebagai tanda bagi tuna
netra. Mereka dituntun oleh petugan MRT bila belum pernah sendiri. Jika
tuna netra bergegas masuk ke stasiun MRT, biasanya petugas
menghampirinya dan menuntunnya. Tetapi bisa sudah biasa, mereka dengan
senang hati ‘bergerak sendiri’. Hebat ….. !!!
Inilah Singapura. Aku sangat berharap
tentang rencana MRT dan disiplin warga dan pemerintahannya, Indonesia,
atau setidaknya Jakarta bisa seperti ini …..
Tags: Jalan-Jalan , urban
Tentang Saya:
Christie Damayanti. Just a stroke survivor and cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. Follow me on Twitter
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Ada Artwork di Stasiun MRT di Singapura ”
Posting Komentar